Disclaimer: I do not own Naruto and anything related to it.
Fic ini tidak ada hubungannya dengan fic saya yang berjudul "Bittersweet Memoir of Haruno Sakura", walaupun sebenarnya kupikir bakal seru jika menggabungkan kedua fic itu menjadi satu cerita utuh.
Ditatapnya langit-langit itu dalam diam.
Kedua iris biru cerahnya menatap langit-langit itu seperti tengah menonton siaran televisi, tenang dan seksama. Padahal tak ada sedikit pun adegan yang tampak pada layar putih itu. Hanya polos dan monoton. Tapi entah mengapa tak dapat dilepaskan pandangan itu olehnya. Seperti kedua matanya, wajahnya pun terpaku, bersandar pada permukaan bantal yang begitu empuk. Begitu pun tubuhnya, yang kini terbaluti oleh sehelai selimut tebal nan hangat.
Suasana yang ditangkap oleh indera pendengarannya terdengar begitu hening. Sunyi senyap. Oh, mungkin samar-samar dapat terdengar suara jangkrik yang memang sering menghiasi malamnya.
Untuk beberapa alasan yang tak diketahuinya, ia tak dapat tidur malam ini. Padahal, ia merasa tubuhnya cukup lelah, akibat berbagai aktivitas yang dilakukannya ketika matahari masih bersinar terik sebagai sang Hokage keenam. Tetapi kelopak matanya terus saja membuka dan tak hentinya menatapi langit-langit kamarnya.
Dang it, ia benar-benar butuh tidur. Besok pagi ada pertemuan penting dengan beberapa daimyo desa tetangga Konoha dan ia tak boleh telat datang ke sana!
Ia coba sekali lagi untuk menutup kelopak matanya. Masih belum terlelap. Ia coba juga untuk bergonta-ganti posisi tidur, mencari kenyamanan yang dapat membuatnya terlelap, tapi tetap tidak bisa. Lalu tak sengaja olehnya tertangkap sesosok tubuh lain yang tengah bergelung memeluk sebuah guling di sampingnya. Tak sadar ia hela napasnya. Sangat kontras dengannya, Sakura tampak sedang tertidur begitu pulas.
Kemudian tertoreh seulas senyuman di wajah tampannya. Ia ciumi kening wanita yang merupakan istri tercintanya itu. Merasa bahagia hanya melihat sang istri tertidur dengan nyamannya.
"Mimpi yang indah, Sakura," ucapnya.
Ia lalu bangkit dari tempat tidur yang ia bagi bersama istrinya. Merasa cukup frustasi mendapati dirinya sendiri masih sangat terjaga, ia segera melangkah menuju dapur, hendak mengambil segelas susu. Ruangan dapur itu masih terlihat begitu gelap ketika dimasukinya karena ia terlalu malas untuk menyalakan lampu. Lagipula, penerangan yang berasal dari dalam kulkas sudah cukup untuk memandunya mencari sebuah gelas dan sekotak susu sapi.
Ia nyaris menelan tegukan terakhir, ketika firasatnya merasakan ada yang sebuah chakra yang datang mendekati halaman rumahnya.
Aneh, pikirnya, siapa yang datang malam-malam begini? Ke kediaman Hokage pula?
Saat tak merasakan sedikit pun ancaman dari chakra tersebut, ia memutuskan untuk diam menunggu. Kedua alis pirangnya sedikit meninggi terutama ketika semakin ia rasakan chakra itu mendekat, semakin familiar pula chakra itu baginya.
Ketika pintu itu terbuka dan sosok seorang bocah lelaki dengan pakaian ninja kumalnya datang dari baliknya, membuat kedua matanya sontak melebar.
Hikaru! Memang Hikaru!
Diperhatikannya dari balik dapur sosok Hikaru yang celingak-celinguk memeriksa keadaan, kemudian melepas sepatu ninjanya dan segera melangkah menuju kamarnya di lantai dua. Dan, hei, apakah itu darah? Yang nakal menempel seperti tanah liat di beberapa sisi pakaiannya yang compang dan pada lembaran perban yang erat membalut lengan kanannya?
Saat sosoknya telah menghilang dari pandangannya, Naruto segera melirik jam dinding yang terpajang di salah satu dinding koridor rumahnya.
Pukul dua lebih empat puluh empat dini hari!
.
.
.
Solicitous
by Yuuto Tamano
.
.
Uzumaki Hikaru jatuh terserembab pada pinggiran sungai cukup jauh dari akademi tempatnya mengenyam pendidikan awal sebagai calon ninja. Aliran air yang setinggi betisnya itu membasahi sepatu ninja dan seluruh bagian celananya. Dasar yang cukup berbatu membuat permukaan telapak tangannya sedikit lecet ketika ia berusaha menahan laju jatuhnya.
Sialan, bocah-bocah itu...
Segera ia layangkan tatapan-sangat-tajam pada empat bocah sialan yang telah mendorongnya.
"Hei, Anak Buangan! Ngapain kau mandi di sungai siang bolong begini! Hahaha!" seru pemimpin bocah-bocah itu, tak lain dan tak bukan adalah Kurama Kenji seorang. Seruan itu direspon dengan tawa cekikikan dari teman-temannya.
Hikaru menggeram kesal. Baru saja beberapa menit lalu ia melesat keluar dari akademi ketika tiba-tiba saja dirinya dicegat oleh Kenji dan tiga orang bocah bawahannya—bullshit jika ia berani bilang 'teman'—lalu dikata-katai sebentar, dan akhirnya didorong tepat di lengannya yang terluka. Entah itu tak disengaja atau mereka memang tahu bahwa lengannya sedang terluka. Yang pasti rasa sakit yang muncul kembali di lengannya itu membuatnya hilang keseimbangan dan terjatuh ke sungai.
Dengan tenangnya, ia lalu bangkit berdiri, sesekali meremas ujung-ujung celananya yang basah terendam air. Sedikit pula ditepuk lengannya untuk diam-diam menghilangkan rasa perih, jaga-jaga jika mereka memang tak tahu tentang sedikit kelemahannya itu.
Kedua mata hitamnya yang tajam sempat sejenak menyipit, sebelum ia melangkah pergi menjauh dari tempat itu.
"Hei, kau—" seorang bocah berambut panjang diikat hendak mengonfrontasi Hikaru, namun terhenti ketika Kenji menahannya.
"KAGEBUNSHIN NO JUTSU!" teriak sang bocah lelaki dari klan Kurama itu dan seribu buah klon dirinya muncul melingkari sang Uzumaki, yang sedikit membelalakan kedua matanya karena kaget. "Bagaimana, heh? Hebat bukan?" serunya kemudian dengan bangga, "seribu klonku ini juga bukan sekedar bayangan, lho, tapi seluruhnya adalah bayangan yang solid dan sempurna! Aku jamin kau yang lemah tak akan bisa melakukannya!"
Ketiga bawahannya pun bersorak penuh bangga mendukung sang pemimpin mereka. Semakin yakinlah mereka bahwa Kenji memang seorang prodigi di akademi, karena tak ada seorang pun murid di akademi yang berhasil menciptakan bayangan sebanyak itu, solid pula.
Sementara sang Uzumaki hanya menyeringai, "Show off, heh?"
Sekejap saja ia mengeluarkan beberapa kunai yang agak basah itu dan ia lesatkan pada klon-klon kenji. Tiga orang klon itu menghilang dengan bunyi 'poof' dan ratusan sisanya segera menyerbu Hikaru yang seorang diri.
Ia pun membuat beberapa klon dirinya, yang membantu menghalau serangan itu. Semakin lama semakin terdengar suara 'poof', 'poof', 'poof' ketika satu persatu klon-klon Kenji maupun Hikaru sedikit demi sedikit menghilang dari keberadaan.
Kenji dan ketiga bawahannya yang hanya memerhatikan dari jauh pun lama-lama merasa risih melihat Hikaru yang berhasil melawan sampai sejauh itu. Nampaknya Kenji terlalu meremehkan si Anak Buangan itu. Niat awalnya hanyalah menggertak Hikaru saja, sampai dia memohon-mohon karena takut dan mengakui bahwa dirinya memang yang paling hebat di akademi. Namun, siapa yang menduga bahwa Hikaru akan melawan seperti itu? Siapa yang mengira bahwa si lemah Hikaru mampu bertahan sampai sejauh ini?
Damn you, damn you.
"Hei, Kenji-kun... apa ini tidak terlalu berlebihan?" ujar bocah bertubuh bulat di sebelahnya, merasa gusar, "bagaimana kalau Konohamaru-sensei tahu tentang ini? Sensei bilang 'kan sesama calon shinobi Konoha kita tidak boleh—"
"Diam, Gendut. Kaupikir aku tidak mempertimbangkan tentang itu semua, hah?"
"Tapi, Kenji-kun..."
"Aku bilang diam!"
Anak lelaki yang masih ada hubungan kerabat dengan klan Akimichi itu pun mengeratkan mulutnya. Namun, matanya melirik-lirik kedua temannya yang lain. Raut cemas yang tergambar di wajah mereka berdua pun mengonfirmasi ketakutan mereka.
Dari sudut matanya, Kenji menangkap ekspresi bawahan-bawahannya itu.
Sementara itu Hikaru masih berusaha bertahan dengan senjata-senjata ninja dan klon miliknya sendiri. Akan tetapi, semakin lama semakin ia merasa bahwa klon-klon Kenji itu seperti yang tak ada habisnya. Sambil menahan serangan beberapa klonnya, dalam benaknya Hikaru mengutuk, mengutuk, dan mengutuk. Situasi ini membuktikan pada dirinya bahwa Kurama Kenji memang seorang calon ninja yang hebat. Dengan seribu klon ini, anak itu pasti akan dengan mudah lolos ujian genin, tanpa berkedip barang sedikit pun.
Ia mengakui, apa yang dikatakan Kenji mengenai dirinya yang tak bisa membuat klon sebanyak ini memang sangat, sangat benar adanya. Bahkan setelah Kakashi-sensei mulai membantunya berlatih sejak dua hari lalu, bahkan sepuluh klon solid saja masih susah payah ia lakukan, jangan katakan seribu, itu bagaikan mimpi di siang bolong saja. Lagi-lagi ia mengutuk, mengutuk, dan mengutuk.
Apakah dirinya memang benar selemah ini dan Kenji sekuat itu? Dan ia ingat bahwa klan Kenji, Kurama, adalah klan yang spesialis di bidang genjutsu. Apakah Kenji saat ini sudah dapat menguasai teknik genjutsu milik keluarganya? Sebenarnya sekuat apakah bocah dengan google di dahinya itu?
Bahkan ayahnya saja belum pernah mengajarkannya jurus rasengan, meski sudah beberapa kali ia meminta. Ayahnya bilang, ia masih terlalu muda, menjadi genin saja pun belum.
"Argh—" Hikaru mengerang kesakitan ketika salah seorang klon Kenji berhasil menendang perutnya, membuatnya terhempas ke tanah.
Lagi-lagi ia sempat terdistraksi.
Ia mengeratkan kedua matanya ketika mendapati beberapa klon Kenji hendak menyerangnya, siap dengan apapun rasa sakit yang akan diterimanya. Tendangan atau pukulan... apapun boleh. Ini salahnya karena sempat lengah di tengah sebuah pertarungan—
Akan tetapi, rasa sakit itu tak pernah diterimanya, dan saat itu pulalah ia baru sadar betapa hening situasi di sekelilingnya. Bahkan langkah kaki sedikit pun sama sekali tak terdengar. Dengan kesadaran itu, ia kembali membuka matanya.
Kosong—itulah yang ia lihat.
"Hei, Anak Buangan," panggil sebuah suara dari belakangnya. Ia pun melihat Kurama Kenji dan ketiga bawahannya datang mendekatinya. "Kau sudah lihat 'kan betapa kuatnya aku? Kau sudah sadar 'kan bahwa apapun yang kaulakukan, kau tak akan pernah bisa mengalahkanku?"
Hikaru hanya diam.
"Aku anggap diammu yang arogan itu sebagai 'ya'," lanjutnya kemudian sebelum ia pun berbalik dan melangkah pergi dari tempat itu, "dan jangan lupa katakan itu pada ayahmu!"
Sebelah alis Hikaru meninggi ketika mendengar pernyataan itu. Kedua iris hitam legamnya hanya memerhatikan keempat punggung itu pergi menjauh.
Sungguh... apa-apaan itu?
Sambil menyibakkan pakaiannya dari butiran-butiran debu dan tanah yang menempel, Hikaru segera bangkit berdiri dari posisinya. Tanpa menolehkan wajahnya kembali, ia pun melesat menuju tempat yang saat ini sangat, sangat... pokoknya ia harus segera tiba di tempat itu. Secepat mungkin. Setidaknya sebelum rasa amarah dan frustasi yang saat ini ia rasakan meledakkan dirinya.
::::::
Ketika dirinya tiba di Distrik Berhantu itu, betapa Hikaru tak terkejut mendapati sosok pria dengan helai-helai rambut keperakan dan nyaris seluruh wajah, kecuali mata kanannya, tertutup kain.
"Kakashi-sensei," sahutnya, "tumben sekali tepat waktu."
Hatake Kakashi hanya mengangguk malas—dan berani Hikaru bersumpah bahwa pria itu kini tengah menyeringai—sambil berjongkok untuk menyejajarkan pandangannya dengan anak itu. Meski sedikit sikap itu tak pernah disukai muridnya, ia tahu itu, karena Hikaru pernah berkata agar ia berhenti melakukannya karena dirinya bukanlah lagi seorang anak kecil. Betapa senangnya ia menjahili si anak sulung Uzumaki itu.
Namun Hikaru saat itu lebih memilih untuk mengabaikan perilaku sang guru, kemudian berkata—atau lebih tepatnya memerintah, "hari ini aku ingin bisa membuat seribu kagebunshin."
Kakashi hanya terus menye—tersenyum.
"Hari ini kita akan berbincang-bincang, Hikaru-kun," jawabnya santai, "hanya itu latihan kita hari ini."
Hikaru membelalakan kedua matanya. Ia tak percaya mendengar apa yang ia pikir telah Kakashi katakan padanya.
"Apa kaubilang? Apa kau sudah gila, Kakashi?"
Pria itu menggelengkan wajahnya, "Ckckck, benar-benar tidak sopan sekali terhadap orang yang lebih tua. Sungguh, apa yang telah Naruto dan Sakura ajarkan padamu—"
"Jangan bercanda!" potong Hikaru, "lagipula bagaimana bisa menjadi lebih kuat hanya dengan berbincang-bincang!"
Kakashi hanya diam dan terus tersenyum.
Melihat respon sang guru yang seperti itu, mau tak mau membuat darah Hikaru yang telah panas seketika ia tiba di tempat ini, semakin saja terasa mendidih. Ia pun lalu mengambil beberapa kunai yang masih tersisa di kantong ninjanya, pertarungan dengan klon-klon Kenji tadi benar-benar menghabiskan persediaan senjatanya untuk hari ini.
"Cih, kalau begitu aku akan latihan sendiri, percuma aku punya guru seperti—"
"Aku melihat pertarunganmu tadi, Hikaru-kun," sergah Kakashi tiba-tiba sambil menahan lengan kiri—ia sangat berhati-hati memastikan bahwa itu memang benar-benar lengan Hikaru yang sebelah kiri, bukan kanan—Hikaru, mau tak mau menghentikan pergerakan bocah itu, "dan kalau boleh kukatakan, yang tadi itu sangat lumayan untuk dua orang calon genin seperti kau dan bocah bergoogle itu."
Hikaru menatap tajam Kakashi, secara tersirat memintanya untuk melepaskan genggaman pria itu padanya, yang dipenuhinya dengan senang hati.
"Kau lelah. Aku yang sudah puluhan tahun menjadi shinobi ini dapat melihat kelelahan itu dari raut wajah dan gerak-gerik tubuhmu. Selain itu, kau juga sedang dihinggapi amarah. Kau pikir latihanmu akan efektif jika kondisi fisik dan mentalmu seperti itu? Jangankan seribu bayangan, sepuluh bayangan pun kau tak akan sanggup."
Seberapapun ngilunya pernyataan itu, Hikaru tetap mengakui kebenarannya.
Dengan berat hati dan penuh keterpaksaan, ia lalu mengambil posisi duduk pada tanah berumput di bawah pohon besar tak jauh dari tempatnya dan Kakashi tadi berada. Disandarkan punggungnya itu pada batang pohon yang terasa kokoh dan saat itu barulah ia menyadari betapa lelah dirinya saat ini. Pertarungan tadi itu memang benar-benar menguras habis fisiknya. Bayangkan saja, satu melawan seribu? Dan Kenji sialan itu berpikir bahwa ia adalah seseorang yang lemah.
"Pas sekali, aku juga membawa beberapa roti melon, lunchbox, dan jus segar yang tadi baru saja kubeli di supermarket," ucap Kakashi ketika pria itu juga telah mengambil posisi duduk di sebelah Hikaru, "nah, sekarang kita mulai latihan kita sambil menghabiskan semua makanan ini!"
Hikaru tidak bergeming. Yeah, whatever.
"Jadi, saat tadi aku berkata bahwa aku melihat pertarunganmu tadi itu, aku memang benar-benar melihatnya—" melihat tak ada respon dari sang bocah, ia kembali berkata, "—maksudku, aku memerhatikan dengan seksama bagaimana gaya bertarungmu."
Dan hal itu berhasil menarik perhatian Hikaru, membuat Kakashi kembali menyeringai melihat tatapan tersirat si sulung Uzumaki yang memerintahnya untuk menjelaskan apa yang baru saja ia katakan.
"Kau seorang petarung yang gigih dan lihai,"—dan mengingatkan Kakashi akan seseorang tapi tentu saja tak akan ia katakan—"kau punya tubuh yang lentur dan reflekmu cukup cepat untuk menghalau setiap serangan yang ditujukan padamu. Selain itu, kau juga tahu kapan harus menyerang dan kapan tidak. Kau tipe petarung yang membaca situasi terlebih dahulu sebelum memutuskan apa yang berikutnya akan kaulakukan, berbeda dengan tipe petarung spontan seperti ayahmu itu."
Entah apa yang Hikaru rasakan saat mendengar penjabaran itu. "Benarkah...?" ucapnya, yang lebih terdengar seperti sebuah sindiran daripada pertanyaan.
"Ya. Intinya, Hikaru-kun itu tipe seorang ninja yang berpikir. Cepat dan taktis. Tipe petarung yang seperti itu banyak kelebihannya, tapi di saat yang sama juga bisa menjadi sebuah kelemahan. Heck, kau harus ingat bahwa di dunia ini tidak akan pernah ada shinobi yang sempurna. Bahkan, akan sering sekali nantinya kautemukan pertarungan-pertarungan yang membutuhkan spontanitas dan improvisasi."
Kakashi terdiam sejenak, tidak tahu bagaimana akan mengatakan ini.
"Kau tahu alasan mengapa tidak pernah ada misi yang dijalankan secara tunggal di desa ini? Semuanya dijalankan berdasarkan kerjasama tim. Dari mulai genin, kalian akan dilatih untuk bekerjasama dalam sebuah tim. Kau tahu mengapa? Hal itu untuk menyeimbangkan tipe petarung sepertimu, dengan tipe petarung lain yang lebih spontan. Seperti bocah bernama Kurama Kenji itu."
Kakashi tak heran melihat tatapan tajam yang dilayangkan Hikaru padanya ketika nama Kurama Kenji itu disebutnya. Sepertinya, kedua bocah itu memang saling membenci satu sama lain.
"Maksudmu, aku dan si sialan itu adalah sebuah tim yang bagus begitu? Kau pasti bercanda."
Pria itu mengangguk dan hanya direspon sang bocah dengan sebuah erangan.
"Kau benar-benar tak senang padanya?"
Hikaru menatapnya seperti ia baru saja tumbuh kepala dua. "Bagaimana tidak? Dia sudah mengantagoniskanku sejak hari pertama. Dia punya obsesi yang tidak sehat terhadap ayahku."
"Terhadap Naruto? Naruto yang itu? Aku heran bagaimana ada orang yang bisa mengidolakan pria seperti dia," hal itu membuat sang pria keperakan tertawa geli, "tapi mungkin lain lagi ceritanya kalau kau sudah berhasil menjadi seorang Hokage. Oh ya, ngomong-ngomong tentang Naruto, apa kau tahu bahwa dulu ketika masih seumuranmu, dia juga dimusuhi oleh seluruh isi Konoha?"
Fakta itu, Hikaru sama sekali tidak mengetahuinya. Dari wajahnya tersirat pertanyaan, 'apa kau serius?'
"Benar, karena Kyuubi yang disegel di dalam tubuhnya, semua orang—kecuali beberapa—membenci Naruto dan menjauhinya. Semua itu berhenti ketika dia telah menjadi genin, tentu saja," pria itu tersenyum ketika berbagai nostalgia terlintas di dalam benaknya. "Melihatmu yang seperti ini membuatku jadi teringat Naruto dulu. Sungguh, like father like son."
Hikaru hanya menatap Kakashi dalam diam. Untuk sebuah alasan yang sangat, sangat ia pahami, ia merasa sangat lega. Senang. Rasa senang yang sama dengan rasa senang ketika berhasil mencapai sesuatu yang selama ini mustahil terjangkau. Rasa senang yang menghasilkan rasa puas dan bangga. Padahal hanya beberapa kalimat dari Kakashi itu saja, sudah dapat membuatnya merasakan perasaan seperti ini. Ini yang pertama kali untuknya. Mungkin, ia memang butuh sebuah pengakuan dari orang lain.
Ujung-ujung bibirnya tak dapat berhenti terangkat.
"Kenapa denganmu, Hikaru-kun?" tanya Kakashi yang mengamati perubahan raut wajah anak di sampingnya itu.
"Tidak, sensei. Tidak apa-apa."
Kakashi balas tersenyum, meskipun ia tak mengerti apa yang dipikirkan si bocah Uzumaki itu sampai-sampai di wajahnya terukir sebuah senyuman—bukan seringai seperti yang biasa bocah itu lakukan—begitu.
It was scary, really. Dan ia pun perlu mengganti topik pembicaraan.
"Ujian genin sebentar lagi ya?" ucapnya. "Kudengar sistem ujian tahun ini juga akan sama seperti sistem baru yang diterapkan tahun lalu. Para sensei akan mengetes pengetahuan umum kalian tentang dunia shinobi secara lisan lalu menguji kemampuan kalian sedikit melebihi batas maksimal terakhir yang sensei miliki di catatan mereka. Benar bukan?"
Hikaru mengangguk, membuat Kakashi menggelengkan wajahnya heran.
"Sulit sekali ujian genin generasi sekarang ini. Tapi kurasa hal itu wajar mengingat semakin kesini-kesini, kemampuan para murid akademi jauh lebih meningkat dari generasi-generasi sebelumnya. Aku heran faktor apa yang menyebabkannya hingga bisa seperti itu..."
"Kebanyakan dari kami rajin latihan mandiri," tanggap Hikaru, "dan jika kau terus berlatih untuk menjadi dirimu yang lebih baik maka ujian genin seperti itu akan mudah dilewati."
Pria dengan rambut keperakannya itu hanya memerhatikan Hikaru sedikit termangu. "...mungkin kau benar. Anak zaman sekarang memang rajin latihan sendiri. Seperti yang kaulakukan setiap malam di tempat ini. Tapi kurasa kasusmu itu merupakan sebuah pengecualian, Hikaru-kun. Kalau boleh aku bertanya sesuatu..."
Ketika Kakashi tak melanjutkan kalimatnya, Hikaru menatap gurunya itu dengan kedua alis terangkat, hendak memberinya izin tersirat bahwa ia boleh menanyakan apapun yang ingin ia ketahui.
"Hikaru-kun, kau—" Kakashi memulai, "—apa alasanmu berlatih mati-matian seperti ini?"
"Apakah itu butuh alasan?" balas anak itu cepat, "Aku hanya ingin menjadi lebih kuat dari siapapun. Itu saja."
Sungguh Kakashi merasa tak terkejut dengan jawaban Hikaru karena sebelumnya sedikit banyak ia memang telah memperkirakan alasan apa yang kira-kira dimiliki anak itu ketika pertama kali menemukannya berlatih sendirian tempo lalu. Heck, bahkan jika kau menanyakan pertanyaan yang sama pada semua orang yang rajin berlatih—apapun itu profesinya—semua orang juga akan menjawab jawaban yang sama—bahwa mereka ingin menjadi lebih kuat dari sebelumnya atau menjadi lebih kuat dari siapapun. Itu memang merupakan normalitas belaka.
Akan tetapi, pikirnya lagi, menjadi lebih kuat yang seperti apakah yang diinginkan Hikaru? Apakah alasan di balik semua keinginan untuk menjadi lebih kuat itu? Dan berdasarkan pengalaman-pengalamannya melatih dan bertemu banyak sekali shinobi di luar sana, hanya ada dua alasan yang dapat menyertainya; yaitu alasan yang baik dan alasan yang buruk.
Naruto, misalnya, merupakan salah satu contoh alasan yang baik. Ia terus berlatih dan berlatih demi menjadi lebih kuat agar cita-citanya sebagai Hokage dapat tercapai dan juga alasan lainnya yang lebih mulia.
Yaitu untuk melindungi teman-temannya dan Konoha.
Sedangkan untuk alasan yang buruk... intinya banyak pula shinobi-shinobi di luar sana yang memiliki alasan untuk menjadi lebih kuat yang merugikan banyak pihak.
Oleh karena itulah, malam itu Kakashi menawarkan dirinya untuk menjadi guru Hikaru. Ia ingin mengetahui lebih dalam seperti apa seorang Uzumaki Hikaru itu yang sebenarnya? Apa yang anak itu inginkan? Apa yang anak itu cari? Dan ketika di akhirnya, ia mendapati Hikaru terjerumus pada alasan-alasan yang dianggapnya tidak baik, ia akan dengan mudah dapat mengarahkan kembali anak itu pada kebenaran, pada jalan lurus yang terbaik bagi dirinya dan semua pihak yang terlibat dengannya.
Ia hanya tidak ingin gagal lagi untuk yang kedua kalinya.
"Dan kenapa tempat ini?" tanya Kakashi kembali, "Kenapa kau memilih tempat ini sebagai tempat latihanmu?"
"Kenapa tidak tempat ini?" Hikaru malah bertanya balik pada sang guru, "Kenapa harus tempat lain ketika aku sudah menemukan tempat yang sempurna untuk menjadi arena latihan? Distrik ini luas, tenang, dan tidak terjamah, cocok bagiku yang mencari ketenangan dan keprivasian saat berlatih."
Pria itu lalu terdiam. Disandarkan punggungnya lebih nyaman pada batang pohon di belakangnya. Sebelah matanya melirik ke kiri dan kanan memerhatikan seperti apa suasana di sekitarnya. Jalan berkerikil, tanaman-tanaman yang liar merambat ke berbagai arah, struktur-struktur kayu yang rapuh, dan boneka-boneka serta sasaran latihan di beberapa tempat—jelas yang terakhir itu adalah sebuah intervensi dari Hikaru seorang.
"Apa kau tahu dulunya tempat apa ini, Hikaru-kun?" tanyanya kemudian.
Hikaru menggeleng pelan, rasa penasaran menyelimuti pandangan kedua iris mata hitam legamnya.
"Tempat ini dulunya adalah sebuah kompleks perumahan milik sebuah klan yang sangat berpengaruh di Konoha. Namun, sejak tragedi pembantaian yang terjadi pada klan tersebut lebih dari dua puluh tahun yang lalu, sudah tidak ada lagi seorang pun yang tinggal di sini. Lama kelamaan, tempat ini ditinggalkan begitu saja. Bahkan, kalau kau ingat sejarah, ketika Konoha sempat pernah diserbu dan hampir dihancurkan oleh musuh, hanya tempat ini saja yang tak dibangun kembali. Warga Konoha seperti yang telah melupakan tempat ini," jelas sang guru, sebelum ia menatap Hikaru tepat di kedua matanya.
Mendapati bocah itu hanya terdiam, ia kembali melanjutkan penjelasannya, "Kau adalah orang pertama yang kutahu mendatangi kembali tempat ini, Hikaru-kun. Bahkan kurasa kau satu-satunya orang yang kepikiran untuk menjadikan tempat ini sebagai arena berlatih privatmu."
Sambil berusaha mencerna baik-baik apa yang dikatakan Kakashi, bocah Uzumaki itu larut dalam pemikirannya. Klan yang dibantai? Ia tak pernah tahu sebelumnya bahwa Konoha, desa tempatnya lahir dan dibesarkan, memiliki kisah seperti itu. Klan apakah itu? Apakah merupakan klan yang lebih besar dari klan Hyuuga, pemilik kekkei genkai mata byakugan? Mendengar cerita Kakashi dan mengetahui seberapa luas distrik ini, sepertinya klan yang dimaksud adalah keluarga yang lebih besar dari Hyuuga.
Akan tetapi, kenapa ia tak pernah mendengar ada klan yang seperti itu? Pembantaian pula? Ia tak habis pikir, bukankah kejadian besar seperti itu seharusnya tercatat pada kisah sejarah Konoha yang diajarkan di akademi? Atau setidaknya disebutkan saja, hingga ia tahu meskipun tak paham. Lagipula, kenapa klan sebesar itu dibantai?
"Kenapa klan itu dibantai, Kakashi-sensei?" tanyanya kemudian yang tak dapat membendung rasa keingintahuannya.
Kakashi terdiam sejenak. Ia lalu menghela napasnya dan melirik ke kiri dan ke kanan. Kemudian, ditempelkannya jari telunjuk kanan miliknya pada bibirnya yang tertutupi kain topeng. "Kau tahu, sebenarnya ini adalah salah satu rahasia besar Konoha. Tapi karena kau adalah muridku, aku akan menceritakannya. Hanya saja, jangan katakan pada siapapun bahwa aku menceritakan ini padamu ya, terutama pada kedua orangtuamu. Jadi anggap saja kalau kau tak pernah tahu apa-apa. Apa kau mengerti?"
Rahasia besar Konoha? Hikaru mau tak mau mengernyitkan kedua alisnya. Meskipun ia tak begitu mengerti, ia tetap menganggukan wajahnya.
"Baiklah," lanjut pria keperakan itu kemudian, "alasan kenapa pembantaian itu terjadi adalah karena keberadaan sebuah kutukan yang dimiliki klan tersebut dari generasi ke generasi. Kutukan itu, 'the curse of hate'."
"The curse of hate?"
"Ya, sesuai namanya, kutukan kebencian, artinya dalam diri setiap anggota yang terikat hubungan darah satu sama lain di dalam klan tersebut terdapat rasa benci dan dendam. Ketika seseorang dari klan itu telah terjatuh begitu dalam pada kedua rasa tersebut, ia akan melakukan berbagai cara apapun untuk memuaskan rasa benci dan membalaskan dendamnya, yang pasti berujung pada kematian.
"Dulu sekali, pemimpin klan itu, memiliki rasa benci yang sangat besar terhadap Hokage pertama Konoha yang pernah mengalahkannya. Rasa benci itu pun berkembang menjadi rasa benci pada Konoha dan dia akan melakukan cara apapun untuk menghancurkan desa ini.
"Ketika pemimpin itu meninggal, kebenciannya ternyata telah menganak pinak pada setiap cabang anggota keluarganya, meskipun tiga generasi telah berlalu. Masing-masing anggota klan adalah klan yang sangat loyal pada klannya sendiri. Oleh karena itu, wajar bila kesetiaan mereka pada Konoha patut dipertanyakan. Sampai-sampai salah seorang Hokage Konoha harus menarik janji kesetiaan terhadap desa pada pemimpin klan saat itu.
"Namun, ada pihak lain dari Konoha yang masih ragu akan janji itu dan masih merasa takut bahwa suatu saat nanti, klan besar itu akan mengambil alih Konoha. Meskipun pada saat itu tidak pernah ada tanda-tanda akan adanya kudeta—bahkan, kau tahu, Konoha pun sering memanfaatkan kekuatan klan itu untuk menjamin keberhasilan misi dan anak-anak mereka juga menjalani kehidupan yang sama sepertimu di akademi—rasa ketakutan itu tidak juga hilang. Pada akhirnya, pihak itu pun mengutus seseorang untuk membantai habis keluarga itu. Cukup sampai di sini saja ceritaku."
Hikaru hanya diam termangu mendengar setiap kata demi kata yang dilontarkan sang guru. Ia tak tahu lagi apakah harus percaya atau tidak, yang pasti ia begitu terkesima. Ia tak pernah tahu ada kejadian seperti itu di desa ini dan ingin mendengar lagi lebih banyak apa yang terjadi setelah itu. Apa yang terjadi pada klan itu kemudian? Apakah klan itu musnah begitu saja?
"Apakah kalau begitu... klan itu sudah tak ada lagi? Tidak adakah seorang pun anggota klan itu yang masih hidup hingga saat ini?" tanyanya.
Kakashi hanya tersenyum. "Entahlah. Mungkin iya mungkin tidak. Kita takkan pernah tahu."
Untuk suatu alasan, kalimat itu terdengar begitu ambigu di telinga Hikaru.
"Nah," sahut Kakashi kemudian, "sekarang kita akan membahas mengenai konsentrasimu yang buruk itu..."
to be continued
Sebenarnya Hikaru itu tidak pendiam-pendiam amat.
