Marveon: Terima kasih untuk komentarnya. Untuk update, gak diusahain cepat tapi word 'bertambah' bila sekali up
fenixrojo36: Zz(lanjut maksudnya?)
Fahzi Luchifer: Terima kasih atas komentarnya :D
Waka-Sama
Lanjut bung!(wokeh :D)
Klo bisa jangan sampe si naruto nyari misi pada awal2 sekolah,masa baru awal sekolah udah ngambil misi aja?( Tentu :D Ini masih awal lagipula author ingin Naru buat 'teman' dulu di sekolah)
Ntar aja misinya kllo sekarang mending babat aja scene yg ada si sekolah(hehehehehe :D )
lanjuuuut dah bro!(Oke bro :D)
Kuuhaku – San: Saya akan mencoba Kuuhaku-San, tapi gak akan janji kalau ada kesalahan lepas dari mata saya.
Fast update? Semoga waktu luangnya ada.
Kuuhaku – San: Wokeh :D
Hakuryuuko no Randy: Thanks. Btw. Fic ini didapat setelah author membaca manga GOH di webtoon.
Ren Azure Lucifer D Kanedy: Done :D
Dimas Kurosaki: Wokeh :D
Lucifer26: tentu akan dilanjut :D
Avaragas: Yah, author akan mencoba untuk tidak ada typo. Tapi gak akan janji kalau beberapa keselip nanti.
F: Done :D
mrheza26: oke sip
renza kurosaki: wkwkwkwkwkkwk rasakan membaca hal yang berbeda renza kurosaki-san.
Rikudou Pein 007: Done :D
KidsNo TERROR13: Done :D
Kaneki-kun: real life juga penting bro. Tapi karena puasa libur, waktu luang untuk nulis lumayan banyak sih :v
Muhammad Kamil: sip :D
males login: well, saya dapat inspirasi dari manga GOH jadi gak tahu tema fic ini baru atau bukan.
Uzumaki121: silahkan membaca gan :D
: silahkan membaca :D
Nemureru ryu: Terima kasih bro. Tema ini juga dapat setelah saya membaca manga GOH. Banyak fight? Jangan tanya. Ini ada title 'Kami' juga untuk beberapa alasan :v.
Oh. Soal sifat Naru saya buat sedikit 'smart ass' untuk kesenangan tentu saja :v.
Romance? Jujur, Naru di fic ini punya masalah romance dan itu terhubung dengan masa lalunya. Dia akan baik dengan cewek? Yah. Dia akan berlaku sopan bagi cewek yang pantas? Yah. Dia akan mendapat 'romance' di pertengahan cerita? Ya. Tapi, yang menjadi pertanyaannya, apakah cewek itu sanggup menerima 'Naru' yang lain?
Ini review(bukan ini f versi GG)
Oke. Soal storynya seru juga(?)
Tapi oh man. Karakter utama OP? Bosan. Bosan. Dan bosan(OP hm? Pernah baca manga GOH sebelumnya? Beberapa 'kemampuan' karakter utamanya ane ambil dari sana)
Ada banyak fanfiksi di fandom ini yang [selalu] karakter utamanya Narto dengan kekuatan tidak masuk akal(OI! Baru juga chap awal emang ane gak mikirin latar belakang dan alasan Naru kaya gitu. Kalau ngomong juga pake otak sama perasaan, mongrel seperti engkau ini yang bikin author baru langsung drop semangatnya -_-)
Bukan ingin menjelekkan. Tapi mungkin dengan kekuatan dari nol, karakter Narto ini bisa lebih menarik dibaca(Yang mikirin alur, plot, konflik itu ANDA atau SAYA? Pernah dengar kata plotline tidak?)
Nah. Kalau perlu dengan satu jentikan jari bumi kebelah gitu, itu baru seru(Cocoknya humor bang :v, mohon maaf ini fic bukan Narutama version :v)
Mohon maaf bila kata-kata saya menggelikan. Hanya memang fandom ini butuh sesuatu yang baru(Benar, sesuatu yang baru. Aneh dikau, semua orang(author) itu masih ada yang belajar, mau baru kek, mau mainstream kek, bisa saja awalnya bikin ketebak tapi di tengah-tengah PLOT TWIST bermunculan di saat yang tak terduga.)
666-avanger: Done :D
Bagi yang telah memberi saran, komentar menarik, kritik berharga di kolom review. Author ucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya :D
Bagi yang sebaliknya, well, who care by the way.
Untuk adegan fight chap ini, author memilih lagu [Simple Plan - Last One Standing] sebagai musiknya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Chapter 2: Bertemu Teman Lama Dan Membuat Teman Baru.
Kami no Gakuen [Highschool of God]
Summary: Naruto Uzumaki, seseorang yang dilahirkan tanpa kekuatan [Gods] diterima di Kami no Gakuen berbekal latihan fisik dan kecepatan melebihi rata-rata. Dibalik sifat baiknya, tersimpan niat tersembunyi untuk melenyapkan 'mereka' yang telah merusak masa kecilnya.
"Membunuh, atau dibunuh. Aneh menurutku, namun apakah salah jika aku merasa bahagia mendengar kata-kata itu diulang-ulang?"
Disclaimer: Naruto. HS DxD. Beserta karakter anime yang dimasukkan ke dalam fanfic ini, adalah pemilik penciptanya masing-masing.
Chapter II
–
Bertemu Teman Lama Dan Membuat Teman Baru.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
{Story Start}
[Winner: Uzumaki Naruto]
[Field: Off]
Detik demi detik barrier yang menutupi wilayah baku hantam Naruto dan Raiser lenyap dari eksistensi. Cahaya terang putih menyelimuti area pertarungan, menyebabkan Naruto menutup matanya karena ia tak tahan melihat sinar terlalu lama.
Berkedip, Naruto melihat orang-orang yang selalu mengikuti Raiser membawanya ke lorong, tidak lupa mengirim Naruto glare sebelum hilang ditelan kerumunan.
"Hebat juga. Loyalitas mereka patut dipuji," gumam Naruto menganggukkan kepalanya.
Tepuk tangan terdengar di sekeliling remaja manik langit. Naruto mengedarkan pandangan, menatap seluruh orang yang tampak puas menonton kapasitas kemampuannya barusan. Responnya hanya senyum tipis.
XXXXXXX
"Silahkan duduk Naruto-kun."
"Terima kasih Mike-san."
Michael tertawa kecil, melihat orang yang dianggapnya seperti "keponakan" itu dengan senyum tipis.
"Menurutmu bagaimana sekolah ini?"
Naruto memutar kursi putarnya, menyebabkan tubuhnya berputar selama beberapa menit sebelum terhenti dengan tangan diletakkan di bawah dagu.
"Baik jika diukur dari kemampuan. Jelek bila dihitung dari tingkah laku."
"Begitu," gumam Michael. "Oh ya, bagaimana dengan 'penyakit' itu, Naruto-kun? Apa ada berita baik mengenai itu?"
Naruto terdiam, tahu apa itu "penyakit" yang dibicarakan oleh Michael. Dia menggelengkan kepala.
"Ini bukanlah 'penyakit' kau tahu itu kan, Mike-san?" Si pemuda pirang mengadopsi ekspresi khawatir. "Malam nanti, bisa tidak semua pintu asrama sekolah ini dikunci dari luar?"
Michael tersenyum kecut, menganggukkan kepalanya.
"Apa ada hal yang kau butuhkan sebelum pergi ke kamar tidur?"
"Sepertinya tidak ada."
Gendang telinga Michael menangkap bunyi ketukan. Sang pengguna kekuatan [Ahura Mazda] melirik ke asal suara.
"Masuk!"
Pintu terbuka, menampilkan seorang laki-laki yang teramat Naruto kenal. Kedua alis si laki-laki naik, sedangkan bibirnya membentuk sebuah cengiran.
"Baru hari pertama dan kau sudah membuat kerusuhan. Hanya kau Naruto. Hanya kau."
Naruto beranjak dari kursinya, menghampiri si laki-laki dengan tangan diangkat. Mereka berdua melakukan tos. Dengan lengannya merangkul leher si laki-laki.
"Basara! Perisai daging tersayangku! Aku senang kau masih hidup."
Toujou Basara melirik kering Naruto.
"Aku agak lupa kalau caramu berbicara bisa memancing emosi seseorang."
Naruto berseri, "Itu anugerah. Apa kau bawa rokok?"
"Tolong jangan merokok di ruanganku. Lakukan saja di kamar tidur masing-masing," kata Michael terkekeh canggung.
"Tou-san yang pegang, bukan aku," jawab Basara.
"Sial, padahal mulutku butuh benda penghilang frustrasi itu untuk simpanan," gerutu Naruto, meletakkan kedua lengannya di belakang kepala. "Nah, apa yang membawamu kemari, Basara?"
Untuk beberapa alasan Basara memiliki ekspresi jijik di wajahnya.
"Hiruzen-sensei meminta kehadiranmu di ruang BP, orang tua Astaroth menuntut hukuman atas kekerasan yang kau lakukan pada anak mereka."
Sebelah alis Naruto terangkat mendengar informasi itu.
XXXXXXX
Dalam lorong Kami no Gakuen, Naruto dan Basara berjalan seraya mengabaikan tatapan aneh dan ambigu dari semua murid. Kedua remaja beda warna rambut itu sedang mengobrol satu sama lain. Mereka membahas kegiatan apa saja yang mereka lakukan ketika hari terakhir liburan. Perlahan pemilik nama kedua mengelus pelipisnya.
"Kau mematahkan tulang hasta pria itu hanya karena masalah kecil?"
"Aku tidak sengaja, oke?" jawab Naruto, tangan ditaruh di belakang leher. "Lagipula, siapa suruh main nyelonong antrian es krim saat tenggorokanku benar-benar kering?"
"Kau berkeinginan menyelesaikan semua masalah dengan cara damai, tapi diakhir kekerasan yang mengambil alih." Basara menghela nafas. "Ini perasaanku saja atau kebanyakan niatmu itu 90% gagal dan sisanya terkadang?"
"Yah, dan ini datang dari pencuri pakaian dalam wanita. Kagum aku."
"Ap–hey! Sudah kubilang beberapa kali kalau waktu itu adalah murni kecelakaan!"
"Yang benar? Tapi melihat dari sikap Jin-san..."
"Kau tidak punya ruang untuk bicara maniak gulat!"
"Meh. Mana ada orang Jepang yang tidak suka sumo?"
Selagi asik berbicara, seorang gadis berambut cokelat panjang melangkah ke arah mereka. Kedua iris yang berwarna senada dengan rambutnya itu dihalangi sebuah kaca mata. Dia kelihatan sedang membawa tumpukan buku melebihi tingginya. Secara tak sengaja, Basara dan si gadis bertabrakan dengan kumpulan bukunya berjatuhan di lantai dua detik berikutnya.
""Ittai!""
Naruto bersiul, menatap minat kejadian yang baru saja terjadi didepannya. Hanya saja, ada satu hal yang terasa kurang menurutnya.
'Kenapa mereka tidak berciuman?! Seperti di film-film Disney begitu? Kenapa?!' Pikir Naruto dengan kedutan di dahi.
Sialan, padahal dia butuh bahan komedi saat ini.
Basara meringis, begitu pun dengan sang gadis. Menyadari perbuatannya, dia buru-buru menyusun seluruh buku sesuai ketebalannya. Sang putra Toujou Jin membantu si gadis berdiri, lalu mengembalikan tumpukan buku ke orang yang bersangkutan. Dia sempat membaca Hyoudou Sayaka di name tag miliknya.
"Maafkan aku. Apa kau baik-baik saja?"
"Aku baik. Terima kasih telah bertanya," kata si gadis dengan senyuman, sebelum bola matanya membulat. "Ya ampun, aku bisa ketinggalan rapat bila disini terus!"
Basara merasa detak jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Dia bahkan hanya bisa diam memandang punggung si gadis yang semakin lama tidak kelihatan. Ia melirik Naruto yang senyam-senyum aneh padanya.
"Jangan berpikir macam-macam," katanya dengan nada terdengar mengancam, disamping rona merah muda kecil di pipinya.
Naruto mengangkat pundak.
"Kuakui, dia terlihat seperti female counterpart kau Basara. Untungnya warna matanya bukan hijau."
"Yeah, aku sadar akan hal itu," ujar Basara kering.
"Kau Uzumaki Naruto-san benar?"
Mereka menengok ke belakang, melihat seorang gadis bersurai hitam sebahu memakai kaca mata. Di sisinya, seorang perempuan hampir berpenampilan sama dengan si gadis berdiri sambil bersidekap dada.
Raut wajah Naruto berubah menjadi serius.
"Ya."
Sang gadis mengangguk.
"Sona Sitri, wakil ketua osis sekaligus anggota [Red Fraction] ingin meminta–"
Naruto menyelanya.
"Aku tahu apa tujuanmu menemuiku. Terus terang, aku malah mengharapkan kau dari semua orang datang kepadaku."
Perempuan yang di sisi Sona memicing mata.
"Jaga nada bicaramu pada Sona-sama [Ordinary] sekali lagi berbicara seperti itu kau kuakan–"
Perkataannya tenggelam menuju kerongkongan ketika aura hijau menggores pipinya hingga mengeluarkan darah. Dia beralih pada Basara, yang menatap balik dengan tangan diturunkan, ekspresi datar menyambutnya.
"Wanita atau tidak, aku takkan segan membuatmu menyesal karena telah menghina sahabatku dengan julukan rendah semacam itu."
"Kau–"
"Tsubaki hentikan."
Sona menahan Tsubaki agar ia tidak melakukan hal memalukan di depan umum. Menghembuskan nafas, pandangannya beralih kepada Basara.
"Apa hal tadi benar-benar dibutuhkan?"
Basara mendengus, "Kalian sadar 'kan kalau lulusan Kami no Gakuen itu akan berhadapan dengan bahaya setiap harinya? Jika hanya luka kecil kemudian main lapor saja, lalu untuk apa masuk ke dalam sekolah ini kalau pada akhirnya seperti itu?"
Sona tidak menjawab, tapi ekspresinya mengeras menandakan ia marah pada pernyataan Basara. Sekalipun kata-katanya tidak ada yang salah.
Naruto menepuk tangan, tersenyum tipis kepada Sona.
"Baik Shidou. Bisa tidak kita bicaranya empat mata saja?"
Sona mengerutkan kening. "Shidou? Siapa itu Shidou?"
Basara menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, menahan keinginan untuk tertawa terbahak-bahak di tempat. Oh, ini pasti akan sangat menggelikan, begitulah di pikirannya.
Naruto berkedip, "Oh maaf. Shana maksudku."
"Namaku Sona, bukan Shana," kata Sona sedikit kesal, menyadari siapa yang baru saja dipanggil oleh si pemuda pirang.
Naruto menaikkan alisnya, melirik ke arah Basara.
"Kau tahu kenapa dia marah?"
Basara mengangkat bahu.
"Mungkin karena kau salah mengucapkan namanya?"
"Eh, aku panggil namanya dengan benar kok." Naruto berseri sembari menunjuk Sona. "Sena kan?"
'Berani sekali [Ordinary] ini melakukan lelucon menggunakan nama Sona-sama.' Pikir Tsubaki geram.
"Baik kalau itu maumu Uzumaki-san," ucap Sona, yang memutuskan profesional dan acuh tak acuh dengan kalimat Uzumaki muda sebelumnya.
Basara melihat Naruto dan Sona memilih jarak yang agak jauh darinya dan Tsubaki. Di sisi lain, dia menyadari Tsubaki memandang tajam kepadanya.
"Kita selesaikan perselisihan ini dengan [Duel] jika ada kesempatan," gumam Basara.
"Dan kau akan kukalahkan dengan cara paling hina," balas Tsubaki sengit.
Merasa cukup jauh, Naruto berbalik untuk menghadap Sona. Dia mengeluarkan sebuah dompet tema rubah dari sakunya, kemudian mengambil beberapa lembar yen dari sana.
"Tolong bilang pada ibumu aku tidak sengaja memecahkan kaca rumahnya seminggu lalu. Lalu ini uang ganti ruginya. Kumohon jangan beritahu polisi tentang ini yah? Ya? Ya? Ya? Ya?"
Sona tidak tahu harus bereaksi seperti apa ketika mendengar perkataannya. Jadi yang dimaksud lelaki di hadapannya tadi adalah ini?
"Aku memanggilmu bukan untuk membahas masalah pribadimu, Uzumaki-san."
Naruto mengedipkan mata, "Eh? Oh? Tunggu sebentar, kau kan anak tetanggaku benar?"
"Menurutmu?" tanya Sona mempertahankan ekspresi datarnya, meskipun dalam hatinya ia sangat ingin membunuh Naruto dan membuang mayatnya ke kawanan serigala detik itu juga.
"Habis nama anaknya Sona. Mirip sekali dengan namamu Shaga." Kata Naruto dengan cengiran.
Sang gadis bersurai hitam sebahu mengelus pelan dadanya.
'Tenang Sona. Tenang. Tahan emosimu. Kau jangan terbawa permainannya.'
Sona memandang Naruto sambil memperbaiki letak kaca matanya.
"Uzumaki-san, kenapa di [Account Book] punyamu nama [Gods] milikmu tidak ditulis?"
Naruto mengangkat bahu.
"Sederhananya; aku tidak dilahirkan dengan itu. Fantastis, bukan?"
Sona terperanjat mendengar jawabannya.
"K... kau bercanda bukan?"
Dari semua kemungkinan yang diprediksi kepalanya, Sona tidak menduga yang satu ini. Tidak memiliki [Gods] sama saja dengan tak mempunyai identitas. Di Kami no Gakuen, kebanyakan murid yang dilahirkan dengan [Gods] tertinggi dari suatu mitologi, maka melonjaklah reputasinya. Bukan hanya itu saja, [Fraction] lain seperti [Blue Fraction] [Yellow Fraction] [Green Fraction] dan terakhir [Red Fraction] akan merekrut orang itu disamping latar belakang dan wataknya. Bahkan orang tersebut mampu menjadi populer tanpa harus bersusah payah.
'Jika benar begitu, lantas bagaimana caranya Uzumaki-san mengalahkan Raiser Phenex bila ia tak punya [Gods] dalam tubuhnya?' Pikir Sona heran.
"Apa sudah selesai?" tanya Naruto.
Sona terbangun dari alam benaknya.
"Ya, hanya itu saja yang ingin kutanyakan padamu Uzumaki-san."
Naruto mengangguk. Melangkah mendekati Basara kemudian keduanya berjalan ke arah ruang BP.
XXXXXXX
Naruto menemukan dirinya berada dalam ruangan yang mampu memuat lebih dari lima orang. Dengan nyaman ia menduduki kursi sambil membaca komik milik Basara di samping tatapan marah Mr. Astaroth serta raut cemas Mrs. Astaroth.
"Naruto-kun, tolong jawab dengan jujur. Apa benar kalau kau yang mematahkan tulang hidung Astaroth-kun?" tanya Hiruzen menghadap si remaja kuning jabrik.
Naruto mengganti halaman.
"Ya. Itu aku yang lakukan."
"Dengar apa yang dikatakan bocah ini Hiruzen-sensei?" kata Mr. Astaroth, jelas sekali senang dengan "kepolosan" Naruto. "Tunggu apa lagi? Cepat keluarkan dia dari Kami no Gakuen. Dan masukkan putra kami sebagai penggantinya. Diodora jauh lebih berbakat dan pantas dibanding bocah miskin ini."
Perlu diketahui, setiap kali ada ancaman. Namikaze Minato aka [Aether] dan Namikaze (Uzumaki) Kushina aka [Nyx] selalu menggunakan penyamaran setiap kali beraksi. Bagi dunia, mereka tidak lebih daripada sekedar orang normal pada umumnya. Hanya rekan-rekan sesama Defender mereka yang tahu identitas asli mereka. Meski begitu, tidak ada yang tahu pasti alasan sebenarnya mereka menyembunyikan diri dibalik alter-ego.
"Astaroth-kun terlambat datang ke sekolah. Mohon maaf, tapi anak kalian harus menunggu satu tahun lagi untuk bisa masuk ke Kami no Gakuen," tutur Hiruzen sejelas-jelasnya.
Mr. Astaroth dan Mrs. Astaroth terlihat tidak senang dengan berita ini. Pemilik nama pertama mengalihkan pandangan pada Naruto dan menggeram.
"Ini semua salah kau bocah! Jika kau tidak –"
"Kalau boleh Hiruzen-sensei. Boleh kuminta beberapa permenmu?" tanya Naruto.
"–melakukan tindakan kasar pada anak berbakatku pasti dia akan–"
Hiruzen mencondongkan sebuah mangkuk berisi kumpulan bola kecil warna-warni pada Naruto.
"Silahkan ambil Naruto-kun."
"Terima kasih."
"–menjadi Defender terhebat sepanjang masa! Tapi gara-gara kau semuanya jadi–"
Naruto merasakan perutnya teraduk dan warna mukanya berganti jadi hijau.
"Toilet dimana, Hiruzen-sensei?"
"Belok saja ke kiri dari sini."
"–berantakan. Jadi sebagai balasannya kau harus kena hukuman seberat-beratnya bocah!"
"..."
Bunyi air toilet terdengar dengan jelas. Naruto kembali duduk dan menengok Mr. Astaroth yang ngos-ngosan seperti sehabis lari seratus meter. Dia memasang senyuman lebar.
"Hati dan kepalamu sudah terasa dingin, Mister?"
Mr. Astaroth kebingungan dengan pertanyaan yang dilontarkan Naruto. Meski begitu dia tetap menjawab.
"Y-Ya. Tapi kenapa kau menanyakan hal itu?"
Naruto melirik Hiruzen.
"Hiruzen-sensei. Tahu nomor kamera CCTV di bus Ibiki-san?"
Hiruzen melebarkan matanya. Menekan tombol keyboard di sampingnya lalu memunculkan video di monitor komputernya. Mr. Astaroth dan Mrs. Astaroth yang penasaran pun ikut melihat. Betapa terkejutnya mereka menonton aksi "anak berbakat" yang tak lain dan tidak bukan adalah putra mereka.
Karena tidak tertarik menonton sesuatu yang menjadikannya sebagai aktor dadakan, Naruto memutuskan meneruskan lagi baca komiknya.
"Sudah tahu kebenarannya?" tanyanya disela-sela membaca.
"Lebih dari itu Naruto-kun. Alat yang digunakan Astaroth-kun pada Asia-chan bukanlah benda sembarangan."
Hiruzen mengatakan itu dengan ekspresi datar yang paling langka. Sementara itu, Mr. Astaroth dan Mrs. Astaroth kembali duduk dengan raut muka horror serta kecewa berat.
Alis Naruto terangkat.
"Alat apa memang?"
"[Python Gas] salah satu dari [Twelve Sinister Item] yang memiliki kemampuan 'menidurkan' siapapun 'selamanya'."
Naruto bersiul. "Wow, benarkah? Pasti mahal benda sehebat itu."
"Tepat sekali."
Sang pengguna kekuatan [Ra] memandang Mr. Astaroth dan Mrs. Astaroth dengan lengan ditaruh dibawah dagu.
"Setelah melihat rekaman cctv, aku tarik kata-kataku barusan. Diodora Astaroth takkan pernah diijinkan masuk ke dalam Kami no Gakuen. Suka atau tidak suka, tindakannya telah melanggar batas. Kasus ini akan kubawa ke pengadilan karena sudah termasuk dalam tindakan kriminal. Paham kenapa aku menyatakan pernyataan ini Mr dan Mrs. Astaroth?"
Kedua orang yang dimaksud menganggukkan kepalanya, terlalu malu untuk mengatakan apa-apa.
Naruto berseri, bangkit dari tempat duduk lalu menghampiri pintu keluar. Tangannya perlahan meraih kenop pintu.
"Tunggu, Anak Muda!"
Naruto berbalik dan menghadap Mr. Astaroth. Mr. Astaroth memandang Naruto dengan rasa bersalah, mengingat kata-katanya yang terlalu kasar kepada remaja pirang didepannya. Kelihatan sekali dia terpukul menyadari anak yang dibangga-banggakannya ternyata memiliki sifat berkebalikan dengan imajinasinya.
"Anak muda, soal yang barusan, aku... aku meminta maaf."
Naruto membentuk "O" lewat mulutnya, ia tersenyum simpul.
"Emosi membutakan kebenaran."
Mr. Astaroth tertegun mendengar kata-kata Naruto. Entah mengapa, dia melihat bayangan seorang pria berotot dan bersurai putih acak-acakan tengah berdiri di belakang si lelaki iris biru dengan senyum yang hampir mirip.
"Naruto-kun, darimana kau bisa tahu kalau ada kamera cctv di tiap bus?"
Melewatkan tatapan kosong Mr. Astaroth, Naruto mengalihkan pandangan pada Hiruzen.
"Simpel, kubaca isi semua brosur. Dari informasi penting, umum, sampai ke yang kecil kulihat berulang-ulang."
Hiruzen mengangguk, menatap rekaman video sekali lagi sebelum kembali menatap Naruto.
"Terima kasih karena telah menjaga Takamiya-san pada waktu itu Naruto-kun."
Naruto mengangguk, membungkukkan badan kemudian keluar dari ruangan.
XXXXXXX
"339... 340... 341... 342!"
Naruto mengangkat wajah dari peta digital di ponselnya, mengamati angka "342" tertulis di atas sebuah pintu bercat cokelat tua. Meraih kenop itu, ia mulai mendorong pintu dan sebuah kapak terbang menyambut matanya.
Naruto menggeser tubuhnya, membiarkan senjata berat itu meluncur melewatinya. Dia menatap seorang remaja bersurai merah, dengan sepasang mata unik tampak panik sebelum menghembuskan nafas. Tidak salah lagi mengandung kelegaan. Auranya tenang tapi sorot matanya selalu mengatakan "waspada" setiap detik.
Di sebelahnya, seorang gadis berambut pirang keemasan yang helainya melewati pundak. Mata hijaunya mengandung kesenangan tapi dengan ketenangan yang tersembunyi. Udara di sekelilingnya, semuanya berbicara tentang seorang pejuang yang kuat dan berhasil mempertahankan impian masa kecilnya. Singkatnya, aura gadis ini menjerit "Kaisar" hanya dengan kehadirannya.
"Shirou! Lihat apa yang kau perbuat!"
"Mana kutahu kalau dia tiba-tiba datang ketika aku sedang menguji kreasiku, Nero?"
"Cepat minta maaf!"
"Ahem!"
Kedua remaja itu beralih pada Naruto, sejenak melupakan perselisihan mereka.
"Apa benar kalau ini kamar nomor 342?" tanya Naruto.
"Ya. Itu benar," kata si lelaki bersurai merah dengan nada canggung, "oh ya, soal yang tadi aku minta maaf. Aku tidak sengaja. Sungguh."
Naruto mengangguk. Memasuki ruangan kemudian menaruh tasnya di kasur dekat pintu. Dia menengok si lelaki dan si gadis sebelum memasang cengiran.
"Namaku Uzumaki Naruto. Tahun pertama. Salam kenal."
Si lelaki dan si gadis membalas dengan senyumannya masing-masing.
"Emiya Shirou. Tahun pertama. Salam kenal Naruto."
"Umu, nama gadis cantik ini adalah Nero Claudius. Tahun pertama. Salam kenal Naruto!"
Naruto tersenyum tipis melihat sikap Nero. Menarik ritsleting tas, Naruto mengeluarkan barang-barang yang dibawanya dari rumah. Pakaian dia letakkan dalam lemari, sementara benda elektronik dimasukkan ke laci samping kasur.
"Kalian sudah lama disini?" tanya Naruto.
"Baru saja," kata Shirou, menepuk pelan pundak Nero, "Nero, mana [Support Bracelet] yang Nagi-senpai berikan padamu tadi? Kalau ingatanku tidak salah dia menitipkan semuanya padamu."
"Ah! Benar juga!"
Nero merogoh gelang hitam yang terdapat layar persegi panjang di sisi itu. Dia lalu melempar gelang itu kepada Naruto.
"Tangkap."
Naruto berbalik untuk menangkap gelang itu. Mengamati sejenak alat berwarna eksotis itu kemudian memilih lengan kanannya sebagai tempat pengikatan gelang.
Nero mengedarkan pandangan, menautkan alis karena menyadari ada sesuatu yang aneh. Dia mengalihkan pandangan pada Naruto dan Shirou.
"Eto... bukannya satu tim itu beranggotakan empat anggota. Tapi kenapa hanya ada tiga orang disini?"
Shirou dan Naruto membagi lirikan, mengangkat bahu satu sama lain. Jangankan Nero, mereka pun sama bingungnya saat ini.
Bip!
Perhatian mereka bertiga teralihkan oleh [Support Bracelet] yang membunyikan suara. Menekan gelang, ketiganya bingung ketika melihat banyaknya nama asing yang tertera di layar itu.
Kurogane Ikki(still fight)
Rossweisse(survive)
Hyoudou Issei(still fight)
Hyoudou Sayaka(survive)
Yuuto Kiba(still fight)
Tobiichi Origami(survive)
Valerie Tepes(still fight)
Takamiya Mio(survive)
Yamai Yuzuru(survive)
Kirihara Shizuya(survive)
Euclid Lucifuge(still fight)
Nero Claudius(loser/not yet join)
Uchiha Miyuki(survive)
Uchiha Sasuke(still fight)
Sairaorg Bael(still fight)
Emiya Shirou(loser/not yet join)
Izayoi Miku(survive)
Sylvia Lyyeneheym(survive)
Uzumaki Naruto(first survive/wanted)
Toujou Basara(survive)
Kuroko Tetsuya(survive)
Tamamo-no-Mae(survive)
Kusanagi Godou(survive)
Senju Akira(still fight)
Shirou mengedipkan mata beberapa saat. Perasaan bingung merambat ke pikirannya.
Nero tidak jauh beda dari Shirou, hanya perasaan kesalnya melebihi perasaan bingungnya.
"Aku tidak paham hal yang satu ini," ungkap Naruto, secara tidak langsung mengutarakan pertanyaan dua orang selain dirinya dalam kamar.
Bip!
[Hello Emiya. Claudius. Kalian pasti dengar suaraku sekarang bukan? Karena aku tidak suka berlama-lama, langsung saja ke intinya. Pecundang. Itulah kata yang pas untuk kau berdua. Selagi rekan kalian sedang bertarung untuk memperebutkan keanggotaan [Fraction] kalian enak-enakan bersembunyi layaknya tikus. Oh ya, jangan bilang Nagi adalah orang terakhir kali yang bertatap muka dengan kalian. Jika benar aku tidak kaget kenapa kau berdua absen dari tes [Accept Member] yang masih berlangsung sampai saat ini. Kalau kalian masih ingin bersembunyi, jangan salahkan aku kalau besok kau berdua akan diincar [Fraction] lain untuk dijadikan samsak. Satu lagi, beritahu Uzumaki kalau dia berada dalam daftar teratas sebagai orang yang diperebutkan oleh [Fraction] jadi–huh? Apa? Ada yang sudah sekarat? Mana, mana. Coba kulihat.]
Bip!
BLAM!
Shirou dan Nero refleks menoleh ke pintu yang didobrak paksa. Melirik ke sisi lain, mereka melihat Naruto tidak lagi berada di atas kasurnya. Menandakan kalau dia telah berlari menuju tempat yang mereka juga pikirkan.
XXXXXXX
Kengerian.
Kekacauan.
Kerusakan.
Tiga kata itu yang menggambarkan situasi halaman sekolah. Serangan demi serangan baik dari elemen, fisik, senjata jarak dekat maupun jarak jauh, semua itu ditunjukkan dengan niat menampilkan siapa pengguna [Gods] terkuat dari jajaran murid.
Di salah satu sudut terlihat, Kurogane Ikki dan Euclid Lucifuge sedang jual beli serangan. Ikki memotong tiap serangan angin yang dilancarkan Euclid menggunakan katana berbaja hitam di tangannya. Sementara Euclid, dia selalu menyerang Ikki dengan serangan berelemen udara yang kelihatan kuat. Mereka nampak takkan jatuh untuk waktu lama dan terus mencoba mengambil alih ritme pertarungan.
Tak jauh dari mereka berdua, Uchiha Sasuke mengalirkan petir hitam disela-sela jari jemarinya, kemudian mengepalkan lengan dan menghantam itu ke tinju milik Sairaorg Bael. Bunyi memekakkan telinga terdengar ketika keduanya melakukan proses yang sama hanya kali ini kaki yang terlibat.
Di sisi Utara, Yuuto Kiba mengayunkan pedang hitam kearah Hyoudou Issei yang ditahan olehnya menggunakan sebuah perisai emas. Issei mendorong perisainya hingga ke tahap Kiba hampir kehilangan keseimbangan jika ia tidak melompat untuk menjaga jarak dengannya.
Terletak di arah Selatan, di dalam kawah tidak terlalu lebar dan tidak terlalu kecil Senju Akira memandang datar Valerie Tepes. Tidak seperti yang lain, pertarungan mereka lebih cepat selesai karena salah satunya tidak menyukai kekerasan serta tak percaya diri untuk menggunakan [Gods] dalam melawan musuhnya.
"Sepertinya kemampuan [Hecate] telah menurun drastis saat kau yang menggunakannya Tepes," kata Akira, "aku kecewa sebenarnya. Seorang dewi yang mampu menyamai [Isis] dari segi jumlah mantra dan energi sihir menjadi selemah ini."
Kondisi Valerie bisa dibilang jauh dari kata baik. Darah segar merembes dari sobekan bajunya, dagunya tak henti-henti menjatuhkan keringat dalam jumlah banyak. Memaksakan berdiri namun badannya bergetar karena dilanda kelelahan.
Apa ini akhirnya? Begitulah yang ada dipikiran Valerie. Dia tidak menyangka saja perjalanannya akan berakhir di tempat yang dikaguminya semasa kecil. Dingin memang, tapi mau bagaimana lagi. Tidak ada tempat bagi [Hecate] yang identitas aslinya bukan [Goddess] melainkan [Titaness].
Tidak ingin menunggu lama, Akira mengacungkan tongkat melengkung putih menyerupai bumerang pada Valerie. Alih-alih melempar itu, dia menyodorkannya ke udara. Kemudian ia mulai menulis. Yah. Menulis. Dimanapun bumerang melakukan kontak, garis biru bersinar membentuk suatu huruf kuno.
"Burn," ujarnya pelan.
Valerie melihat huruf-huruf kuno itu menyebar, mulai mengisi posisi empat arah mata angin. Itu mengelilinginya beberapa saat sebelum menyemburkan api hijau kearahnya. Pasrah. Dia hanya memejamkan mata. Menunggu rasa sakit merasuki tubuhnya.
Beberapa menit berlalu, sang gadis bermata ruby merasakan keanehan. Entah mengapa dia merasa dirinya belum mati atau bahkan terluka, yang ia rasakan hanya tangan seseorang menangkapnya dan memeluknya dengan kuat. Dia menengadah dan tertegun pada sepasang kristal safir yang menatapnya lurus. Matanya melebar menyadari orang yang menolongnya tersenyum.
"Sudah puas tidurnya, Aurora?"
"S... siapa kau?"
"Penjelasan nanti. Pegangan!"
Valerie hampir menjerit saat Naruto melompat dari satu tanah ke tanah lainnya. Menengok ke belakang, Valerie bisa melihat tangan astral kuning berusaha meraih mereka namun gagal karena Naruto terus menghindar.
Senju Akira belum pernah merasa semarah ini sebelumnya. Baru saja dia berpikir bahwa dia selesai menyelesaikan persyaratan [Accept Member] tahu-tahu Uzumaki[Ordinary] Narutodatang dan menghancurkan jerih payahnya. Dengan sisa tenaganya, ia memanggil [Gods Art] miliknya yang berupa wujud astral dari [Horus]. Sebab kehilangan banyak tenaga, ia mau tidak mau hanya bisa mempertahankan bagian tangan astralnya saja.
Akira memperintahkan [Left Hand] dan [Right Hand] untuk menjangkau kaki Naruto. Namun setiap kali usahanya hampir berhasil, entah kenapa Naruto dapat berhasil lolos dari area jangkauannya.
"Kau yang pertama menyelesaikan persyaratan, Uzumaki. Kenapa kau berani masuk lagi jika urusanmu sudah selesai?" tanya Akira datar.
Menginjak tanah dengan aman, Naruto perlahan menurunkan Valerie dari pelukannya. Menengok ke arah Akira, ia mengangkat bahu.
"'sekarat' bukan kata favoritku."
Akira menaikkan alisnya, "Apa kau idiot? Jangan bilang kau tidak menyadari posisimu di daftar saat ini?"
Setelah mengatakan itu, Sairaorg Bael, Yuuto Kiba, Kurogane Ikki, Uchiha Sasuke, Euclid Lucifuge dan Hyoudou Issei tiba-tiba menghentikan pertarungan. Bersamaan mereka melirik Naruto dengan ekspresi berbeda-beda.
Naruto mendesah kesal, ia menatap Valerie.
"Sejak kapan ada hari 'menghajar Naruto bersama'?"
Valerie berkedip. "Sejak... sekarang?"
Naruto mengangguk. "Ah, pantas kalau begitu."
Tepat sebelum ada yang menyerang si pemuda pirang, ratusan pedang berbagai era mencuat dari balik rumput. Mengitari daerah rawan serang sekaligus menghalangi jalur bagi siapapun yang berniat menyakitinya.
"Kau ini Naruto. Kenapa meninggalkan kami di belakang?"
"Umu! Kau nekat sekali Naruto."
Nero dan Shirou datang di sebelah Naruto. Si pemilik nama kedua menyipitkan mata ketika melihat getaran kecil di [Sword Wall] ciptaannya.
"jangan pernah salahkan naluri," jawab Naruto.
Shirou melirik Naruto, "Kurashiki memaksa kita bertarung sama lain. Tapi, dari semua orang kelihatannya hanya kau seorang yang diberi tanda 'wanted' olehnya."
Naruto mengusap dagunya.
"Bisa saja karena aku mengalahkan seorang pengguna [Gods] makanya ia melakukan hal ini. Maksudku, aku seorang [Ordinary] jadi harga dirinya mungkin sedikit tergores menyadari aku yang biasa saja menang menghadapi Phenex-san."
Shirou mengangguk, menyetujui logika itu.
BOOM
Mereka berempat menyaksikan Sairaorg Bael menghancurkan [Sword Wall] menggunakan sikutnya. Melihat itu, Shirou melempar kedua lengannya ke depan sambil memejamkan mata. Gambaran palu ditarik lalu dibanting ke suatu perapian lewat di benaknya.
Merasa curiga dengan aksi Shirou, Sasuke mempercepat laju larinya seraya menarik katana dari saya. Detik demi detik aliran listrik menyelimuti sisi bilah pedang, lalu ia tancap katana itu ke tanah.
"One of breakdown gods, lord of lightning, obey my order and paralyzed anyone who I considered foe."
Simbol [Raijin] memunculkan diri di atas rumput, listrik turun dari langit dan menyambar apapun yang ada di bumi, termasuk mengenai para murid kecuali pemanggilnya.
Dengan cepat Nero menarik lengan Valerie dan mengelak dari serangan bersamanya. Sementara itu, seberkas cahaya biru kehijauan berkumpul di kedua lengan Shirou yang terbuka. Dia bersama Naruto melompat kesana-kemari, berusaha tidak terkena sambaran statis dari [Gods] milik Sasuke.
Naruto melirik sekitar, berniat mengecek keadaan rekannya tapi ia malah melihat Sairaorg meluncurkan tinju menuju mukanya, menghantamnya di hidung. Naruto terhempas hingga terjatuh ke tanah. Melihat kesempatan, Sasuke mencabut katana lalu menancapkan itu lagi ke tanah, listrik bertekanan tinggi jatuh ke tempat si remaja iris safir.
"Naruto!"
Melihat temannya dikeroyok, Shirou melesat menghampiri Naruto sambil melemparkan pedang hitam pendek bermotif tempurung merah dan pedang putih pendek bertema gelombang kearah Sasuke.
[Trace: on]
Kedua benda serupa tercipta di sepasang tangan Shirou. Dia melemparkan Kanshou dan Bakuya, pedang putih dan hitam melengkung itu berputar saat mereka mengalihkan perhatian Kiba dan Issei. Membuat pasangan lain, Shirou juga melemparnya pada Ikki dan Euclid. Dia melanjutkan taktik ini karena senjata yang direplikanya merupakan salah satu hal yang ditakuti pengguna [Gods] tertentu. Sebagai [Vulcan] ia memiliki keuntungan jika menyangkut senjata.
Sairaorg merunduk di bawah sepasang Kanshou, terpaksa menjauhi Naruto ketika replika lain hampir menggores kulit dan tengkuk lehernya. Meskipun [Gods] miliknya ialah [Hercules] ia tahu seberapa sakit tebasan marriage twin sword itu.
Naruto mengerutkan kening, mencoba menggerakkan kaki dan tangannya namun entah kenapa tak bisa. Mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi pada dirinya, dia berkedip saat mengingat serangan listrik Sasuke.
'Jadi ini yang dimaksud oleh Au-san. Bahwa elemen tertentu mampu menghentikan pergerakan petarung fisik tanpa harus mengeluarkan usaha banyak.' Pikir Naruto.
Dia melebarkan mata melihat Shirou bertarung dengan empat orang. Kelihatan sekali ia mengandalkan keterampilan [Vulcan] untuk mengatasi perbedaan jumlahnya dengan mereka.
"Kau baik-baik saja, Naruto?"
Menengok ke asal suara, Valerie dan Nero datang menyambut penglihatannya.
"Kaku," jawab Naruto dengan senyuman.
Mendengar hal itu, Valerie berlari ke sisi Naruto dan meletakkan tangannya di punggung si pemuda pirang.
"Wielder of magic, show me the best spell to heal any injuries who my ally has."
Naruto terperangah merasakan hawa sejuk menerpa tubuhnya. Simbol [Hecate] berputar di punggungnya, aura biru indigo menguar dari sana, perlahan itu membalut ujung rambut hingga ujung kuku kakinya. Dia mengembangkan cengiran ketika merasakan tangan dan kakinya kembali bisa digerakkan.
Bangkit, Naruto menegakkan badan sebelum beralih pada Valerie.
"Meski aku belum tahu namamu, aku sangat berterima kasih atas pertolonganmu."
Valerie tersenyum, mengangguk cepat.
Naruto memusatkan perhatiannya pada Nero.
"Jadi, kau berniat diam disini atau ingin mengambil bagian dalam misi 'Penyelamatan Shirou'?"
Pertanyaannya terjawab saat Nero melesat menuju Ikki dan Issei, tangan diangkat seolah memegang langit.
"Oh, lady of war, give me a weapon who can slay my enemy nor protect my comrade."
Simbol [Bellona] tampak di punggung lengan Nero, simbol itu perlahan berputar kemudian mengeluarkan gagang suatu senjata. Tangannya yang lain meraih gagang itu, menarik dan memperlihatkan sebuah pedang bergerigi dengan warna serba hitam dan merah.
Memilih yang terdekat, Nero memutuskan melawan Issei terlebih dahulu. Issei yang menyadari lawannya perempuan, seketika melenyapkan senjatanya.
"Kau kemanakan senjatamu?" tanya Nero bingung.
Menghembuskan napas, Issei menegakkan badan bak prajurit yang sebentar lagi akan mati di medan perang.
"Aku akan mengalah. Tapi dengan satu syarat," kata Issei bernada sangat serius.
Alis si gadis pirang naik sebelah.
"Syaratnya?"
"...Tolong mainkan oppaimu dihadapanku."
Pada umumnya gadis normal manapun akan marah mendengar syarat semacam itu. Tapi karena Nero yang ditanyakan. Maka dia hanya menyeringai penuh percaya diri dan meletakkan tangan bebasnya di pinggulnya, seolah-olah sedang berpose.
"Oh, itu saja? Mudah sekali syaratmu."
Dengan gerakan dramatis Nero memainkan globe heaven miliknya. Melirik Issei sejenak, tawa merdu lepas ketika melihat si remaja rambut cokelat pingsan dengan senyum mesum di mukanya.
"Umu! Sudah kuduga keseksian adalah anugerah terbaik yang diberikan para dewi kepada wanita!"
Menoleh kearah Ikki, Nero mengacungkan pedangnya.
"Wahai lelaki bejat! Apa kau ingin menghadapiku layaknya ksatria atau jatuh dalam nafsu seperti bocah mesum di sampingmu itu?"
Ikki tersenyum canggung, namun raut mukanya tampak serius. Katana baja hitam digenggamannya dia hunus ke depan. Menandakan ia memilih pilihan pertama.
Nero dan Ikki saling pandang satu sama lain. Bersamaan keduanya melesat dan membentur bilah pedang masing-masing, sehingga menimbulkan percikan api dalam tiap gesekan.
"Kau?"
Tahu apa yang dibicarakan Naruto, Valerie menggeleng.
"Aku lebih suka jadi support."
Naruto mengangguk, mengambil ancang-ancang sebelum melesat ke arah Kiba yang berada di belakang Shirou. Kiba tampak mencoba menusuk Shirou menggunakan pedang perunggu bermata dua. Tidak ingin temannya terluka, Naruto menendang Kiba tepat di bagian tumit, membunyikan erangan pelan dari orang yang terkena serangan.
Tidak mau kalah, Kiba berputar dengan pedang diayunkan ke posisi penyebab rasa sakitnya. Naruto bergeser untuk menghindari serangan, terhenti di belakang punggung lawan kemudian memukul pelan tengkuk lehernya, menyebabkan Kiba pingsan seketika.
Tidak berhenti sampai disitu, Naruto melompat dan berdiri di tengah-tengah ayunan Kanshou Shirou dan katana Sasuke. Tak seperti Shirou yang langsung menghentikan pergerakannya, Sasuke terus melanjutkan ayunan menyebabkan Naruto mengacungkan sepatunya hingga ujung pedangnya terhenti karena ditahan.
"Uzumaki Naruto. Kebetulan sekali aku bisa menghabisimu sebelum yang lain," kata Sasuke datar.
Naruto kaget melihat penampilan Sasuke, atau lebih tepatnya, gaya rambutnya.
"Ya ampun kasihan sekali kau Bung. Beritahu aku nama peternakmu biar aku beri pelajaran padanya. Tega-teganya dia membuangmu ke kepala orang ini."
Shirou tahu betul untuk tidak tertawa di saat-saat serius seperti sekarang ini, tapi mau bagaimana lagi, apa yang dikatakan Naruto memicu tawa lepas dari bibirnya.
Kedutan terbentuk di dahi Sasuke.
"Kalau yang kau maksud adalah gaya rambutku maka aku akan–"
"–menendangmu di leher!"
Sasuke tak memiliki waktu untuk mengelak dari terjangan kaki kiri Naruto pada lehernya. Getaran keras mengalir ke sekujur tubuhnya membuatnya mundur secara tidak sadar.
"Naruto, switch!"
Teriakan Shirou masuk tanpa hambatan menuju telinga Naruto. Mereka berdua berganti posisi seketika. Tidak ingin membuang stamina lebih banyak, Shirou menghilangkan [Fake Weapon] yang bergentayangan di udara.
[Trace: on]
Shirou melemparkan Kanshou di atas bahu Sasuke selagi ia menangkis ayunan katana remaja rambut bebek menggunakan Bakuya. Percikan api melayang ke segala arah saat pedang putih bertabrakan dengan senjata musuh, aksi tebas dan menyabet dilancarkan tanpa jeda ditiap detiknya.
Sasuke kebingungan, tidak paham dengan cara bertempur Shirou yang sangat tidak logis–bahkan bisa menyebabkan kematian–meninggalkan apa yang tampak sebagai celah yang disengaja dalam gaya bertarungnya.
"Kau akan terbunuh bila bertarung seperti itu terus." Sasuke mengingatkan.
Shirou tersenyum tipis. "Apa yang membuatmu berpikir itu belum?"
Dia lalu melemparkan pedang putihnya ke arah keturunan Uchiha. Sasuke dengan mudah menangkis senjata itu dengan ujung pedangnya dan melesat ke depan. Tanpa memedulikan dirinya yang tanpa senjata, Shirou membiarkan Sasuke melukainya. Kebetulan pada saat itu Kanshou dan Bakuya memilih untuk kembali ke pemegangnya. Kedua pedang berlawanan warna itu terbang di udara, berputar layaknya baling-baling helikopter. Kedua senjata indah itu menyerang bahu Sasuke, menggores dan meninggalkan luka yang cukup dalam. Sasuke mendesis sementara Shirou menangkap Bakuya dan Kanshou dengan senyuman.
"Sepadan dengan luka baru ini."
Naruto menyipitkan mata saat kepalan tangan Sairaorg meluncur mulus dalam penglihatannya. Mengumpulkan tenaga di satu titik, Naruto langsung membalasnya dengan tinju miliknya. Namun, entah mengapa Sairaorg tersenyum tipis melihat aksinya. Sebelum benturan terjadi di antara kedua belah pihak, Naruto merasa angin menampar tinjunya hingga berganti haluan, membuat pukulan Sairaorg tertanam sempurna di pipinya. Tanpa disadari oleh si pemuda pirang, Sairaorg dengan cepat mencabut sehelai rambut kuningnya.
Di sisi lain tubuh Naruto terbang tanpa beban di udara, terhempas jauh dengan pantat mencium tanah pertama. Dia berkali-kali berguling sebentar sebelum terhenti ketika punggungnya menabrak sebuah batu besar. Naruto berkedip, mengelus pipinya yang telah berganti warna.
"Lihat sekelilingmu, Uzumaki!"
Manik biru ombaknya memandang Euclid yang melompat setelah menginjak bahu Sairaorg. Euclid mengayunkan kakinya dan pusaran tornado mulai terbentuk di hadapannya. Tornado itu menyerap apapun yang ada di sekitarnya, Naruto pun ikut terserap ke dalamnya. Beberapa menit kemudian, bentuk nyata dari persatuan angin itu memuntahkan Naruto dan mengirimnya ke tanah, membuat kawah setelah tabrakan terjadi.
Euclid mendarat, ia menatap Sairaorg.
"Apa menurutmu Uzumaki akan selamat dari serangan kombinasi kita?"
"Aku takkan kaget kalau ia bisa," balas Sairaorg tenang.
Euclid menautkan alisnya, "Oh? Baru kali ini aku mendengar keraguan dari nada bicaramu [Hercules]."
Sairaorg tidak menjawab, sorot matanya tertuju pada tempat dimana Naruto terjatuh barusan. Dia melebarkan mata ketika sonic boom menggetarkan udara serta tanah, dan tahu-tahu Naruto berdiri di tengah mereka dengan kaki menyentuh perut Euclid sedangkan tangan diarahkan ke hidung Sairaorg.
Acuh tak acuh dengan dua tubuh yang terhempas ke berlawanan arah, Naruto memegang perutnya seraya bernafas berat.
'Au-san ternyata benar, menerima serangan lalu membalasnya tiga kali lipat tidak terlalu disarankan untuk pertarungan jangka lama.' Pikir Naruto.
Bip!
[Baik. Karena waktu telah habis dan juga Tsunade-sensei mengancam akan memotong kemaluanku bila ditambah waktunya. Maka kuumumkan event [Accept Member] kuhentikan sampai sini. Bagi nama yang masih bertahan, selamat karena berhasil membuktikan diri sebagai pengguna [Gods] yang layak. Tentunya, kalian akan mendapat hadiah menarik dan perawatan medis jika salah satu dari kalian ada yang terluka atau sekarat. Jaa ne!]
Bip!
Naruto terdiam ketika mendengar informasi terbaru itu. Mengangkat bahu, dia lalu berlari ke arah Shirou, Nero dan Valerie yang telah berkumpul duluan.
XXXXXXX
"Kupikir kita tidak akan ada kelas untuk hari ini?"
"Seseorang yang menjadi wali kita akan mengumumkan sesuatu, selebihnya kembali ke asrama."
"Bagaimana dengan badanmu Naruto? Apa terasa kaku lagi?"
Naruto menggelengkan kepala saat Valerie menanyakan keadaannya.
"Aku merasa baik sekarang. Terima kasih atas bantuanmu tadi, Aurora."
Valerie mengerutkan kening. "Sudah kubilang namaku Valerie, bukan Aurora."
Naruto terkekeh. "Yah habis, kau mirip sekali dengannya kalau sedang tidur."
"Itu mengingatkanku. Siapa Aurora, Naruto?" tanya Shirou.
Naruto menatap Shirou dengan sorot mata mengandung ketidakpercayaan.
"Candaanmu tidak lucu Shiryu."
"Aku tidak bercanda dan namaku Shirou," kata serta koreksi si remaja rambut merah.
Nero memiliki tatapan nakal saat memandang si remaja iris safir.
"Apa jangan-jangan Aurora itu... adalah simpananmu, Naruto?"
Naruto memaksakan tertawa garing.
"Kalian pernah menonton serial Disney tidak sih?"
"Baru dengar/Tidak tertarik/Aku tidak tahu apa itu Disney." Kata ketiganya bersamaan.
Naruto memalingkan wajah, kumpulan awan hitam muncul di background.
Lima menit berlalu, keempat remaja itu memasuki suatu ruangan. Ruangan ini bercat kombinasi hitam-putih. Mereka melihat kira-kira dua orang selain mereka telah sampai di sana. Setelah mendapat tempat, Naruto, Nero, Shirou dan Valerie duduk dengan nyaman.
"Naruto!"
Basara melambaikan tangan seraya memanggil nama si remaja manik samudera. Mejanya merupakan yang terdekat dengan meja guru.
Naruto balas melambai. Melihat temannya sendirian tanpa ada yang menemani, dia memutuskan menghampirinya sesudah memberitahukan niatnya kepada timnya.
"Rupanya anggota keempat timmu adalah [Hecate] hm?" Basara mengelus dagunya. "Sejujurnya, aku tidak tahu harus merasa kesal atau cemas terhadap situasimu."
"Dua-duanya," kata Naruto, menyadari sesuatu yang kurang dan bertanya, "jadi, mana timmu?"
"Mereka masih berada di ruang kesehatan terakhir kali kuingat."
Naruto mengangguk, mengedarkan pandangan sebelum terhenti ketika dirinya menatap seorang remaja bersurai biru dengan tampilan wajah seperti baby-face.
"Basara, kau tahu siapa dia?"
"Hm? Oh dia. Namanya Kuroko Tetsuya, pengguna [Gods: Hades]."
Naruto melihat Kuroko duduk agak jauh dari yang lainnya. Alisnya naik sebab bingung dengan tingkahnya.
"Teman-temannya?"
Basara meringis. "Kau tahu bukan latar belakang [Hades] itu apa?"
Naruto menggaruk dagunya.
"Jadi, dia dijauhi hanya karena [Gods] miliknya adalah [Hades] begitu?"
Basara mengangguk.
"Ya."
Naruto mengerutkan kening, menggelengkan kepala.
"Basara, waktunya kita menjalankan siasat 'tidak peduli latar belakang terpenting hatinya bersih dan bisa dipercaya'."
Basara nyengir.
"Siap, komandan."
Mereka berjalan menuju meja Kuroko. Merasa diperhatikan Kuroko menengadah dari balik sport book-nya. Ia menatap diam Naruto dan Basara.
"Apa ada yang bisa kubantu?"
Basara tersenyum, "Boleh kami berkenalan?"
Ekspresi Kuroko tidak berubah, meskipun kebingungan melanda dirinya.
"Apa kalian yakin? Jika belum tahu, [Gods] milikku adalah [Hades]."
Naruto menaikkan alisnya. "Lalu? Memangnya kau akan menyerang kami kalau kami tahu [Gods] kau adalah [Hades]?"
Kuroko menggeleng. Sebagai [Hades] dia terbiasa ditakuti dan tidak disukai oleh orang-orang sekitarnya semenjak kecil. Kuroko sama sekali tak peduli akan hal itu, selama aktivitasnya tidak diganggu ia akan baik-baik saja selalu.
Naruto mengulurkan lengannya pada Kuroko, ia tersenyum simpul.
"Namaku Naruto. Uzumaki Naruto."
Kuroko menyambut ulurannya.
"Kuroko Tetsuya."
Basara memperkenalkan diri.
"Toujou Basara."
"Kuroko Tetsuya."
Pintu kelas terbuka tiba-tiba, Azazel terlihat memasuki ruangan dan menempati kursi guru. Dua menit terlewat masuklah Kusanagi Godou, Kurogane Ikki dan Hyoudou Issei. Mereka bertiga duduk di sekitar kursi Toujou Basara. Tidak lama kemudian Uchiha Miyuki, Tamamo-no-Mae dan Hyoudou Sayaka, ketiganya mendekati tempat Kuroko Tetsuya.
Setelah mengucapkan salam perpisahan pada Kuroko, Naruto dan Basara pergi ke meja tim mereka. Kuroko tersenyum tipis, mengalihkan pandangan ke depan sebelum keningnya mengerut.
'Tindakanmu bukan kepalsuan Naruto-kun. Tapi, kenapa aku merasakan kebencian, kesedihan, kegilaan, kekhawatiran dan kegelapan tersembunyi di sekelilingmu?'
Azazel menghitung semua murid yang sudah masuk. Dia menganggukkan kepala lalu mulutnya terbuka lagi.
"[Quest] tidak mirip dengan [Mission] yang membutuhkan 1 orang saja. Seperti yang kalian ketahui [Quest] hanya bisa dijalankan oleh tim yang terdiri atas 4 orang. Karena pembentukan tim telah dibuat berdasarkan kriteria tertentu, maka hal terakhir yang kalian perlukan adalah sebuah nama yang dapat dikenal masyarakat luas. Nama tidak boleh keluar dari simbol, hewan mistis, dan domain para dewa. Waktu kalian 5 menit."
Naruto, Shirou, Valerie serta Nero mendekatkan bangku masing-masing.
Dengan senyum percaya diri, Nero memilih bicara pertama.
"Bagaimana dengan Blood Troy? Kedengaran menakjubkan di telinga."
"...Neon, nama itu sebetulnya tidak jelek. Tapi sepertinya itu lebih cocok jadi judul film daripada nama tim," kata Naruto kering.
Nero cemberut, beralih pada Valerie.
"Bagaimana denganmu, Valerie?"
Valerie terperanjat. "Eh? Aku? Entahlah. Aku tidak tahu apakah nama tim yang kuajukan bagus."
"Kita sedang berdiskusi, jadi setiap pendapat akan didengar tidak peduli seaneh atau segila apa pun itu," ujar Shirou seraya menatap Naruto dengan senyuman, "ya 'kan Naruto?"
Si pemuda pirang terkekeh kering.
"Pendapatmu tentangku rendah sekali, Bung."
"Dan ini datang dari seseorang yang dengan mudah bercanda di tengah-tengah pertempuran."
"Ouch! Pukulan rendah Shiryu. Pukulan rendah."
"...Namaku Shirou."
"Maaf Shino."
Nero terkikik melihat ekspresi derita Shirou. Jarang sekali dia melihat "keajaiban" yang satu ini.
Valerie perlahan mengangguk. Menghembuskan nafas lalu berujar.
"Darkest Nemea."
Shirou mengusap dagunya beberapa saat.
"Sekali lagi itu bukan nama yang buruk. Tapi, Nemea adalah singa yang ditaklukkan [Hercules] di [Twelve of Labors] pada mitologi Yunani. Bukan tidak mungkin tim lain telah menggunakan nama itu mengingat seberapa terkenalnya kisah [Hercules] di mata anak-anak."
Naruto berseri, "Berarti kita hanya harus menggunakan sesuatu yang langka bukan? Bagaimana dengan White Imoogi?"
Nero menaikkan alisnya penasaran, "Kenapa Imoogi, Naruto?"
Naruto mengangkat bahu. "Mitologi Korea juga menarik untuk dibahas. Dan kenapa Imoogi? Ayolah, kisah seekor ular yang berusaha melampaui batasannya, dan tepat di bagian paling akhir menjadi seekor naga yang perkasa. Bukankah itu menarik? Apalagi Imoogi sama seperti kita, dimulai dari mengumpulkan pengalaman di Kami no Gakuen, dan setelah keluar kita akan jadi Defender yang dikenang sejarah. Terasa ada kaitannya benar? Soal White, pasti Shiori bisa menjelaskan."
Shirou terkekeh kering.
"...Sebenarnya salahku apa, Naruto?"
"Rambutmu seorang yang beda warna."
Nero menarik helai rambut pirangnya, Valerie dan Naruto juga melakukan hal yang sama. Masing-masing menaruh itu ke meja. Shirou mengelus pelipisnya.
'Untuk beberapa alasan aku merasa seperti baru saja dibully oleh mereka.' Batin Shirou.
Menghela napas, otak si remaja surai merah berputar memikirkan arti 'White' yang dibicarakan Naruto. Sesuatu merasuki benaknya seketika.
"'White' yang kau maksud 'Netral' begitu?"
Respon Naruto hanyalah cengiran lebar.
XXXXXXX
Azazel membaca hasil diskusi tiga tim yang mulai besok akan berada dalam naungannya. Sudut bibirnya terangkat ketika membaca nama-nama itu.
"White Imoogi. Black Cerberus. Navy Hydra. Generasi sekarang benar-benar mempunyai selera menarik bila menyangkut imajinasi."
.
.
.
.
.
XXXXX
T-B-C
XXXXX
.
.
.
.
.
A/N: Hello pembaca semua! Akhirnya author bisa UPDATE dengan word yang bertambah dari chap sebelumnya.
Soal nama timnya, maaf jika agak jelek *garuk-garuk kepala seraya cengengesan*.
Oke, hanya itu yang author bisa sampaikan. Seperti biasa, silahkan nikmati preview di bawah ini.
Selanjutnya di Kami no Gakuen [Highschool of God]
XXXXXXX
Sedikit demi sedikit Rossweisse merasa staminanya melepaskan diri dari tubuhnya. Kedua iris menyerupai warna bulannya berhadapan dengan sepasang iris merah gelap sempurna.
"Maukah kau menyanyi untukku lagi, Hime-chan?"
XXXXXXX
Miku menggertakkan giginya, memandang Naruto dengan kebencian murni di matanya.
"Baik! Kau menang. Apa yang kau mau dariku?"
Naruto berseri.
"Ajari aku cara memanah."
XXXXXXX
"Kau sedang baca apa?"
Shirou menengok Naruto dari balik buku tebal bersampul cokelat.
"Oh, ini hanya catatan peninggalan sensei-ku. Dia menitipkan ini padaku sebelum maut menjemputnya. Oh ya Naruto, ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu."
"Apa itu?"
"Sejak kapan kau punya tato di pundak?
XXXXXXX
"Bagaimana jika aku menolak?"
Bukannya marah mendengar perkataan Naruto, Shizuya hanya menyeringai dan meletakkan jari telunjuknya di dahi pemuda pirang.
"Menurutmu berapa harga otak manusia, Uzumaki-kun?"
[This chapter is just Repaired]
