.

.

.

.

.

.

.

.

"Astaga...aku bersumpah tidak akan pernah bertukar shift dengan tiang listrik park itu lagi, apa-apaan dengan kencan dimalam jumat seperti ini, apakah ia berniat kencan dengan salah satu setan penghuni sungai Han!!??"

Sumpah serapah terus keluar dari mulut kecil pemuda yang juga bertubuh kecil.

Sementara seorang rekan kerjanya hanya menatap bosan sembari meneruskan pekerjaannya mengepel lantai.

"Namanya Baekhyun kalau mau tahu, dan dia bukan setan penghuni sungai Han yang kau maksud Yoongi"

"Ya...terserah bihun atau siapapun it-"

"Baekhyun Yoongi sayang..."

Yoongi menghentikan aktivitasnya mengelap meja dan menatap sinis rekan kerjanya

"Apa? Kau sipit jika begitu"

"Astaga Kihyun, bisakah sekali saja kau membelaku dan bukan si tiang listrik idiot itu?? Kau tahu aku selalu jadi korban disini" Ucapnya sedih kemudian mengerucutkan bibirnya.

"Hahaha, carilah pacar kalau begitu dan kau bisa membalas si tiang listrik park".

"Huh? Kau tau aku tidak punya waktu untuk hal-hal tidak penting seperti itu, aku punya Taehyung dengan perut besarnya yang jauh lebih membutuhkanku dibanding siapapun". Yoongi mengelap meja itu lebih keras.

"Lalu kenapa kau tidak membiarkan Taehyung bekerja? Ia bahkan sudah cukup umur untuk melamar sebagai pekerja paruh waktu disini". Yoongi berhenti dari aktifitas mengelap mejanya.

"Tidak...aku tidak akan mengizinkannya". Kemudian beranjak meninggalkan meja itu menuju wastafel.

"Hei Yoon..-"

"Aku sudah selesai, aku pulang". Segera ia meninggalkan restoran kecil tersebut dengan menenteng dua kotak sisa ayam hari itu.

"Yak!!...Yoon!?..aish...kenapa dia selalu sensitif setiap kali aku mengungkit adiknya itu?". Kemudian ia melanjutkan pekerjaannya.

"Kakimu bengkak lagi?" Taehyung menyentuh pelan kedua kaki Yoongi yang berbaring disisinya.

"Masalah kecil"

"Tidak hyung...ini yang ke tiga kalinya dalam minggu ini". Taehyung beranjak duduk dan memijat kedua kaki kakaknya.

"Hmm.." Yoongi hanya bergumam pelan.

"Jelaskan". Ujar Taehyung singkat.

"Tidak ada...hmm, restauran ramai sejak pagi...jadi..-"

"Hyung..."Taehyung menekankan intonasinya, membuat Yoongi menghela napasnya malas.

"Motor itu mogok lagi...jadi aku harus mengantar ayam-ayam itu dengan berjalan kaki.."Jawab Yoongi pelan.

"Sudah kukatakan, jangan memaksakan diri hyung...aku bisa bekerja jadi kau tidak perl...-"

"Tidak! Dan aku tidak akan pernah mengijinkanmu bekerja". Mutlak Yoongi segera menarik selimutnya, mengabaikan Taehyung yang menatapnya sedih, ia merasa bersalah. Bagaimana bisa ia menjadi beban bagi hyung mungilnya ini? Andai saja ia bisa bekerja membantu Yoongi.

Ah...andai saja...

"Jimin kau tidak berminat mencoba?" Hoseok menyodorkan seonggok paha ayam ke hadapan Jimin, sementara ia hanya berdehem ringan dan fokus pada game ditangannya.

"Ayolah...aku tau kau akan suka ini".

"Diamlah seok, aku hampir mendapatkan 3 bintang jika aku tidak melakukan kesalahan". Jimin menghindari tangan Hoseok yang terus menyodorkan sepotong paha ayam dan menghalangi game di ponselnya.

"Ini aaaam..."Hoseok memaksa menyuapi Jimin dengan ayam ditangannya yang sontak membuat permainan ditangannya game over.

"Yaaak!!! Sial..."

"Makanlah, itu enak...lihat, bahkan Seokjin hampir menghabiskan ayam kita.." Hoseok menggelengkan kepalanya kala menatap Seokjin yang lahap menghabiskan potongan daging ditangannya dengan pipi menggembung.

"Yak! Seokjin hyung...kau mengambil jatahku!!" Protes Jimin setelah menyadari jatahnya telah dilahap namja itu.

"Kuphikr khau thidk mha"

"Telan dulu hyung..." Namjoon menyodorkan segelas air pada hyung kesayangannya itu.

"Kupikir kau tidak mau ayam itu, kau hanya peduli pada game itu!" Seru Seokjin melakukan pembelaan setelah meneguk air minumnya.

"Hanya karena aku main game bukan berarti aku tidak mau ayam itu! Yak..bahkan itu ayam dari restoranmu sendiri, seharusnya kau sudah bosan memakannya!". Jimin memprotes.

"Aku membuka restoran itu karena aku suka makan, aku mencintai makanan dan aku tidak akan bosan untuk makan!" Seokjin melanjutkan mengunyah ayam ditangannya.

"Yak!! Namjoon hyung, astaga bawa pulang pacar gendutmu ini!! Aku bahkan belum makan siang.."

"SIAPA YANG KAU BILANG GENDUT!?.."

"Yak..ya!! Astaga, bisakah kalian makan dengan tenang? Jim...ini makan bagianku, aku sudah kenyang". Ujar Namjoon sembari menyodorkan kotak ayam miliknya ke depan Jimin.

"Hm?...sepertinya aku pernah melihat ini.."Jimin mengambil kotak ayam milik Namjoon.

"Tentu saja itu dari restoranku". Timpal Seokjin setelah mengunyah ayam terakhirnya.

"Bukan...aku tau kau punya restoran ayam, tapi ini pertama kalinya aku memakan ayam dari restoranmu hyung" Jimin masih membolak balikan kotak ayamnya.

"Ya...ya...aku tau kau bukan tipe manusia pemakan makanan murah seperti ini, bisa-bisa perutmu mual karena ayam ini tidak se-steril makanan di restoran mewah langgananmu". Cibir Seokjin malas.

"Kau berlebihan hyung, aku selalu makan disana hanya karena restoran itulah yang terdekat di apartemenku...tapi sungguh aku merasa pernah melihat ini".

"Apa kau sejenis mahluk kuno yang belum pernah melihat satu set menu pesan antar?...oh maaf aku lupa itu bukan makanan dengan standar restoran...aku yakin kau meragukan jasa pesan antar yang tidak bisa menjaga ke-sterilan makanan itu".

"Ah...jadi itu". Jimin bergumam pelan.

"Apa?"

"Ah!..itu dia...sipendek berwajah pucat dan galak, hyung! Bagaimana bisa kau mempekerjakan manusia yang tidak manusiawi seperti itu?" Jimin berdecak malas.

"Huh? Siapa maksudmu?". Seokjin menyandarkan tubuhnya pada bahu Namjoon setelah puas menghabiskan jatah Jimin.

"Namja pucat, galak, bermata kecil...tubuhnya juga kecil...pendek, ah dia seperti hantu ngomong-ngomong".

"Kau panggil pegawaiku hantu? Benar-benar...-"

"Yak! Namjoon hyung tolong jinakkan pacarmu ini". Jimin menangkis lemparan bantal yang dilemparkan Seokjin.

"Nikmatilah selagi bisa Jim...siapa lagi yang berani melemparimu dengan bantal selain Seokjin hahaha". Namjoon malah menertawai tingkah kekasih manisnya itu. Ayolah, Jimin itu namja yang ditakuti banyak orang, dan Namjoon baru mengetahui bahwa Seokjin bisa menjadi fobia tersendiri bagi Jimin...lihat saja bagaimana ia tidak memberi ampun pada namja bantet itu?

"HYUUNG...astaga pegawai dan bos sama saja galaknya..-Yak! JANGAN LEMPAR GELAS ITU!"

TBC

akhirnya bisa dilanjut lagi, walaupun alurnya agak lambat hehe

Oiya btw, CONGRATS BTS AND ARMY buat RIAA nya ayo ancurin rekor2 lainnya lagi

We purple u