Assalamualaikum~
Wah! Saya tak tahu mengapa begitu ingin melanjutkan fict ini dibanding yang lain. maaf~ tapi? Saya sedang ingin saja. HaaHaa. Yang lainnya lanjut kapan-kapan ya. :D
Umh, kita mulai darimana? Oke lah. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih dulu, buat teman yang sempetin baca, apalagi sampe ngasih beberapa kata, sebagai komentar? Saya anggap itu dukungan. TERIMA KASIH. xD
Terus? Saya gatel, kepengen bales koment kalian tapi? Bakalan panjuang banget kan ya? Saya ulas saja, mungkin ini teruntuk kawan yang ngasih review kemaren, saya ucapkan banyak terima kasih. :')
Buat:
[Mrs. Drakyu] [Bella] [Kadera] [demikyu] [Gyurievil] [Eun Byeoooool] [cece] [Blackyuline] [ratnasparkyu] [kkyu32] [syuku] [gaemwon407 minoooozzzz] [Gustin Wu] [haekyu] [kihae dp26 Saeeeee] [dew' yellow zeeeeddd! Panjang bener komentmu! -_-] [choi youmin] [choYeonRin] [Elfishy] [tiaraputri16] [aidenlee] [haelfishy] [laila. ] [Cho sahyo] [nOname] [Nakazawa Ryu] [Forte orange] [arumfishy] [Guest]
Adakah nama kalian? Mungkin untuk pertanyaan kalian di review kemaren? Terjawab di chapter ini. Semoga. Oho. Mau langsung? Silahkannn~
[CHAPTER 2]
Heechul menembus jalanan yang basah karena terus di guyur hujan. Matanya tak diam, melacak tiap sudut tempat yang ia lewati. Tentu saja rasa hawatir, begitu terpancar di wajahnya, sejak Donghae menghubunginya beberapa waktu lalu. Ini adalah hal paling serius yang terjadi di antara permusuhan Donghae dan Kyuhyun selama ini.
Satu yang Heechul sesali saat ini, adalah..
"Kau keterlaluan, Hae! Mengapa membiarkannya berada dalam mobil itu!"
"Aku tak tahu.."
"Mengapa kau begitu membencinya! Dia hanya anak-anak! Sekarang lihat ulahmu!"
"Hyung.."
"Sudahlah! Aku akan menyusulmu kesana! Tunggu aku!"
Seharusnya, kata itu tak terucap. Hujatan itu tak diberikan disaat genting seperti sekarang. Tapi semua sudah terjadi. Hal lain yang membuat Heechul heran? Donghae nampak terdiam menerima umpatannya tersebut. Donghae yang begitu lain. Apa karena ia sudah menyesal dan menghawatirkan Kyuhyun? Nyatanya firasat lain yang terasa buruk, menyentuh hati Heechul. Entah mengapa..
...
"Hyung.." Isakan pelan terdengar, bersamaan dengan guncangan yang Donghae rasakan pada tubuhnya. Iapun tak bisa mengabaikan suara yang ia hafal tersebut.
"Kyu.." Satu katapun terucap dari bibir Donghae dengan sangat pelan dan begitu lirih. Ia sendiri terlihat berusaha menahan rasa sakit pada kepalanya?
Lantas Kyuhyun?
Setelah Donghae akhirnya dapat membuka matanya dengan baik, ia melihat Kyuhyun terisak di sampingnya dengan seragam yang sudah tak ia pakai, namun hanya ia genggam. Juga, "Darah?!" Pekik Donghae saat melihat bercak darah yang lumayan banyak disana. "Kau terluka Kyu?" Tanya Donghae dengan panik.
Namun Kyuhyun menggeleng. Dengan sendu ia menatap Donghae. "Ini darahmu," ucap Kyuhyun.
Oh! Donghae segera menyandarkan tubuhnya pada dinding yang dingin di sampingnya. Ia usap salah satu bagian kepalanya, dimana selain rasa sakit? Rambutnya di bagian tersebut terasa lengket. Jelaslah Donghae tahu, itu darahnya sendiri. Di samping itu? Seakan teringat, ia lantas menatap sekitarnya. Lantai yang terasa kotor dan dingin, berikut dinding yang terlihat kusam dengan kulit yang mengelupas. Lembab! Juga gelap! Selanjutnya ia kembali mengarahkan pandangnya pada Kyuhyun yang berada di sampingnya.
"Ini dimana Kyu? Apa yang terjadi?" Tanyanya seketika sambil mengguncang tubuh sang adik.
"Hiks.." tangisan adalah balasannya. Kyuhyun menangis.
"Katakan Kyu! Jangan menangis. Kumohon.." desak Donghae tak sabar.
"Mereka memukulmu hingga berdarah!" adu Kyuhyun, tak memenuhi pertanyaan Donghae.
"Kyu.."
"Mereka jahat!" raung Kyuhyun tak sabar. Bahkan untuk pertama kalinya, Donghae, melihat sang adik menangis menyedihkan seperti saat ini. Dan Kyuhyun? Menangis untuknya.
"Baiklah," ungkap Donghae sedikit tenang. Ia lantas mendekap tubuh mungil sang adik dengan erat sambil mengusap rambut Kyuhyun. "Jangan menangis, oke?" bujuk Donghae. "Aku tak apa-apa."
"Aku takut, hyung!" Isak Kyuhyun kemudian.
Ya. Donghae bahkan bisa merasakan tubuh Kyuhyun yang bergetar dalam pelukannya. Dan lagi.. "Kenapa kau lepas kemajamu, huh? Kau bisa masuk angin!"
Kyuhyun lantas teringat. Dengan air mata tergenang di kedua sudut matanya, ia menatap kemeja di tangannya yang tak lagi putih. Kotor dan terdapat bercak darah milik Donghae, sang hyung. "Ini sudah kotor," ucapnya pelan.
Lalu tiba-tiba, Donghae membuka kemejanya lantas memakaikannya pada Kyuhyun. "Pakailah, kau bisa sakit. Ini begitu dingin! Sebentar lagi kita akan pulang."
Kyuhyun kembali menatap Donghae. "Tapi pintunya terkunci, hyung! Mereka mengunci kita disini!"
Donghae kembali ingat. Meski ia tak tahu dimana kini dirinya dan Kyuhyun berada? Ruangan apa itu? Siapa 'mereka' yang Kyuhyun maksud? Namun jelaslah, bahwa mereka tengah dalam sebuah kasus penculikan! Donghae, sudah berada pada usia yang dapat mengertikan hal itu.
"Heechul hyung akan menolong kita. Kau tenang saja," ucap Donghae menenangkan.
"Benarkah?" Tanya Kyuhyun, mendongak pada wajah Donghae, lantas berkedip pelan. Donghae tersenyum dibuatnya, lantas mengacak rambut Kyuhyun.
"Benar!"
"Apa hyung akan menolong mereka juga?" Tutur Kyuhyun kemudian, mengundang satu tanya bagi Donghae.
"Mereka?"
Kyuhyun mengangguk, lalu mengarahkan Donghae agar menatap pada sudut gelap yang lain di ruangan tersebut. Dimana itu, membuat Donghae menatap tak percaya. "Kyu, mereka?"
Kyuhyun menggeleng. "Aku tak tahu. Mereka sudah disini saat kita datang. Ah! Bukan! saat kita diseret kemari. Mereka sudah ada disini!" jelas Kyuhyun kemudian.
Jelas Donghae membuka matanya lebar. Terdapat rasa tak percaya? Takut? Iba? Terlukis di wajahnya saat melihat beberapa orang di sudut gelap lain di ruangan tersebut.
Lampu temaram yang terletak tepat di tengah ruangan itu, hanya mampu menerangi tengah ruangan saja, sehingga? Orang-orang itu, mendekati cahaya, guna menampakkan diri mereka di hadapan Donghae yang masih tak tahu akan kehadiran mereka.
"Kalian?" Tanya Donghae sedikit takut sambil merapatkan tubuhnya pada dinding, juga membawa serta Kyuhyun dengannya. "Siapa kalian?!"
Jelas sekali Donghae takut. Beberapa orang yang terlihat satu ukuran tubuh dengannya itu, mendekat, dengan baju tak layak? Juga, sangat sangat sangat kotor! Bahkan terlihat seperti bukan manusia di mata Donghae. Namun?
"Mereka tidak jahat," ucapan mulut kecil Kyuhyun membuat Donghae kembali mengernyit. "Mereka sama seperti kita, hyung.."
...
Gelak tawa terdengar, dari luar ruangannya, di malam yang Donghae rasa, semakin membuat ruangan tempatnya menjadi sangat gelap. Ia bergerak dari posisinya semula, dengan kaki yang terasa pegal, karena Kyuhyun yang tertidur di kedua pahanya sejak adik kecil itu, mengeluh mengantuk dan memilih tertidur di pangkuannya.
Satu pandangan Donghae berikan, pada sosok lain di ruangan tersebut yang belum tertidur juga. Sosok baru yang baru di kenalnya dalam waktu kurang dari 24 jam itu. Seorang anak laki-laki, dengan usia satu tahun di bawahnya.
"Kau belum tidur?" Dengan pelan Donghae bertanya, yang di balas dengan gelengan pelan pula. Lalu, "Kenapa? Ini sudah malam, Ryeowookie" satu nama baru bahkan terlontar dari mulut Donghae.
"Aku selalu tak bisa tidur, hyung. Aku ingin pulang.."
Donghae terdiam. Selanjutnya ia memutar bola matanya pada Kyuhyun, lalu mengusap kepala Kyuhyun dengan sayang. Ia tengah menerawang bahwa, mungkin saja sang adik merasakan hal yang sama dengan teman barunya tersebut.
"Akupun ingin pulang. Apa, kau tahu sesuatu tentang mereka?" Tanya Donghae kemudian. "Maksudku, mereka yang menyekap kita?"
Ryeowook kembali memberikan sebuah gelengan singkat.
"Sudah berapa lama kau disini bersama yang lainnya, eoh?" Donghae melontarkan pertanyaan lain, seolah rasa ingin tahunya saat ini, lebih besar melebihi apapun.
"Entahlah hyung. Mungkin sudah berminggu lamanya," jelas Ryeoowok dengan wajah sendunya sambil menatap Donghae. "Aku tak tahu, kenapa mereka tiba-tiba membawaku kemari. Menyekapku disini, padahal.."
"Kenapa?" Tanya Donghae tak sabar saat Ryeowook malah menggantungkan ucapannya, memancing kembali rasa tak sabar bagi Donghae.
"Mereka baik hyung. Memberi kami makanan yang enak, meski tak pernah membiarkan kami keluar dari sini."
Donghae mendesah. Tak ada pencerahan yang dapat ia lihat. Otaknya bahkan sudah berfikir terlalu keras, bahkan sempat berfikir mungkin saja, sang penculik adalah musuh sang hyung? Keluarganya? Ataukah seseorang yang menginginkan uang keluarganya? Pemerasan?
Dan suara Ryeowook kembali menyentuh pendengaran Donghae di menit berikutnya. "Sebenarnya, mereka pernah bilang bahwa, kita akan mereka bebaskan jika sudah waktunya."
"Huh?"
"Aku tak tahu maksud mereka, hyung. Tapi itu benar! Kemarin, mereka membawa salah satu dari kami."
"Lantas mengapa mereka menyekap kita?" Tanya Donghae sambil menutup matanya erat, hingga "Oh!" Ia berjengit seketika, sambil berucap "apa kita akan dijual oleh mereka?"
"Hyung!" Ryeowookpun menggerutu akan lontaran Donghae yang terdengar seenaknya, dan juga mengerikan.
"Lalu apa?"
"Aku tak tahu," rutuk Ryeowook kemudian, untuk selanjutnya, keduanya kembali termakan suasana yang senyap. Hening. Hingga Donghae, mengeluarkan satu bungkus permen karet, dari saku kemeja miliknya yang tengah dipakai Kyuhyun.
"Ini untukmu," ucap Donghae sambil tersenyum.
"Terima kasih," balas Ryeowook sambil menyimpan permen tersebut dalam sakunya.
"Kenapa disimpan?"
"Kumakan nanti," sanggah Ryeowook lalu, ia kembali berujar "mereka bilang, dua hari lagi, mereka akan mengantarku pulang" dengan senyum terkembang.
"Benarkah?"
"Hmm!" Angguk Ryeowook semangat.
"Aku tetap tak mengerti," tukas Donghae, "mereka.." ucap Donghae tertahan, saat dirasanya Kyuhyun menggeliat dalam tidurnya.
"Ugh!" Kyuhyun tampak gelisah. Donghae dapat merasakan hal itu. ia lantas membenarkan posisi kepala Kyuhyun, berfikir bahwa, Kyuhyun merasa tak nyaman dengan posisinya semula. Tapi apa?
"Kyu.." Donghae memanggil nama Kyuhyun sambil menepuk pelan pipi Kyuhyun. Dapat Donghae rasa, keringat Kyuhyun yang terasa membasahi telapak tangannya. "Kau kenapa?" Tanya Donghae panik, sambil terus mengusap wajah Kyuhyun yang terasa dalam suhu yang tinggi.
"Dia kenapa hyung?" Ryeowookpun ikut membaur, mendekati Donghae dan Kyuhyun.
"Dia sakit! Dia sakit Ryeowookie! Bagaimana ini!" Raung Donghae, panik melihat keadaan sang adik, untuk kemudian, ia dekap tubuh Kyuhyun dengan sangat erat sambil terus memanggil "Kyuhyunie!"
...
"Akh!"
Heechul meringis saat tiba-tiba ia menabrak seseorang yang tak sengaja berpapasan dengannya.
"Maaf.." Ucapnya sambil sedikit membungkukkan tubuhnya, mengingat dalam hal ini, dirinya yang menabrak. Selain, ia sangat sadar ialah yang tak berhati-hati, atau lebih tepatnya sedang dalam keadaan yang kacau.
"Tak apa," Balas orang tersebut, hingga berlalu dari Heechul dan memasuki gerbang kumuh yang tinggi, dan entah mengantar orang tersebut pada rumah seperti apa? Karena nyatanya gerbang yang terlalu tinggi itu, menutup semuanya, disamping, untuk apa pula Heechul memikirkan hal tersebut? Maka ia kembali berjalan lunglai dimana mobil miliknya, berada tak jauh darinya.
Selang beberapa menit, Heechul telah kembali berada dalam mobilnya. Ia antukkan kepalanya pada stir mobilnya. Menutup sebagian mukanya yang keruh itu. Dan dengan suara tertahan, ia bergumam "dimana kalian?" dalam lirihnya.
...
Sementara itu, masih di tempat yang sama, Donghae tak bisa menyembunyikan wajahnya yang begitu cemas kala mendapati sang adik terisak dalam dekapannya. Anak seusia Kyuhyun, menangis serta merengek di kala sakit, adalah hal wajar. Selain itu, "demamnya tinggi!" Ucap Donghae begitu saja.
"Hiks," Kyuhyun terus menggeliat tak nyaman dalam tidurnya. Ia begitu menggigil, dengan wajah yang sudah seputih kertas.
"Ia kedinginan.." keluh Donghae sambil terus menggosok kedua telapak tangan Kyuhyun. Padahal, kemeja miliknya yang besar itu, sudah menutup sebagian tubuh Kyuhyun. Juga, Ryeowook yang rela memberikan jaket lusuhnya, sama sekali tak memperbaiki keadaan.
"Kita tunggu hingga pagi, hyung. Mereka akan datang membawa makanan." Ucap Ryeowook, mencoba menenangkan Donghae, yang nyatanya? Sama sekali tak dapat menenangkan dirinya sendiri.
"Tapi Kyuhyun tak bisa menunggu, Ryeowookie!" Raung Donghae.
"Pulang! Hiks.." Selain itu, isakan Kyunyun terdengar lirih dan berhasil mengorek sedikit demi sedikit rasa tenang di hati Donghae. "Hyung.."
Donghae menahan nafasnya, untuk selanjutnya, ia berbisik pelan di telinga Kyuhyun, "kau ingin ku gendong, Kyu?".
Kyuhyun membuka matanya dan mencoba meraih wajah Donghae dengan kedua bola matanya yang terasa panas itu. Ia pandang Donghae lama, dan berakhir dengan satu anggukan di kepalanya.
Donghae tersenyum di antara cemasnya. Dibantu Ryeowook, ia menggendong Kyuhyun di punggungnya, lantas berjalan-jalan, bermaksud mengayun tubuh Kyuhyun dalam gendongannya, di dalam ruangan sempit itu.
"Beberapa jam lagi, pagi tiba. Mereka akan datang. Mintalah bantuan mereka."
"Aku bahkan tak yakin, bisa meminta bantuan pada penjahat seperti mereka!" cecar Donghae, lalu melirik Ryeowook yang tengah mengamati jam di tangannya. Entahlah, Donghae baru menyadari, terdapat jam tangan di tangan Ryeowook. "Memangnya ini jam berapa?" tanyanya.
"Ini jam dua pagi.."
Bahkan Donghae tak dapat melihat ke arah luar, karena tak ada jendela sedikitpun disana. "Masih terlalu malam," rutuknya pelan. Bagaimana bisa ia bersikap biasa sementara, nafas Kyuhyun saja, terasa sangat memburu, menyentuh kulit lehernya.
Dengan satu gerakan, Donghae membenarkan posisi Kyuhyun dalam gendongannya. "Kyuhyunie, kau dengar hyung?" Tanya Donghae yang yakin, bahwa Kyuhyun, bahkan tak bisa tertidur dengan tenang.
"Ngghh.." satu jawaban Kyuhyun berikan dengan sebuah rintihan tertahan. Bahkan peluh yang ada, semakin banyak membasahi kain yang melekat di tubuhnya.
"Kau harus bertahan, Kyu. Kau akan menurut padaku, bukan?" ungkap Donghae sambil menahan tangisnya. Pertahanannya runtuh, melihat keadaan sang adik yang terlihat begitu menderita.
"Hmm," jawab Kyuhyun seadanya. Ia sungguh terlihat lemas, bahkan tak sanggup berpegangan erat pada leher Donghae, hingga tangannya hanya terkulai disana, di kedua bahu Donghae, bersamaan dengan kepala yang tertidur nyaman di salah satu bahu Donghae tersebut.
"Kita akan pulang.." Ucap Donghae lagi, dengan suara yang bergetar.
"Iya, hyung.."
Kala itu, akhirnya Ryeowook kalah oleh rasa kantuknya. Ia tertidur sementara Donghae masih sibuk menahan tangisnya. "Maafkan hyung, ya?"
"Ya.." semakin pelan suara yang keluar dari mulut Kyuhyun, akhirnya membuat Donghae menangis.
"Kau berjanji, akan membelikanku permen karet yang banyak, bukan?"
"Hm.."
"Hyung akan memaafkanmu, setelah kita pulang, dan kau sembuh," tutur Donghae, sambil berusaha menarik tangisnya, juga kembali membenarkan posisi Kyuhyun di punggungnya.
"Benarkah?"
Donghae semakin kehilangan katanya. Ia hanya dapat mengangguk dengan air mata yang akhirnya keluar. Ia terisak pilu pada akhirnya..
"Kau tak membenciku lagi?"
Donghae kembali hanya mengangguk.
"Sebut namaku, hyung.."
Satu lirikan Donghae berikan pada Kyuhyun, yang tengah tersenyum di antara sakitnya. Tersenyum di antara wajah pucat, juga gumpalan keringat yang mengganggu kadar manis di wajahnya.
"Kyuhyunie.." Panggil Donghae dengan serak. "Kyuhyunie.." terus dan terus, dipanggilnya nama adik kecilnya tersebut, hingga dapat dirasanya, dengkuran halus dari mulut Kyuhyun, yang setidaknya, membuat hatinya tenang.
...
Pagipun tiba..
"Kemarin sore, dia menelponku dan mengatakan dia ada di jalan ini. Tapi setelah saya kemari, ia tak ada. Mungkin ia juga mencari adik kami." Terang Heechul tak sabar saat tak sengaja, ia bertemu dengan petugas kepolisian yang melewati tempatnya berada. Setelah itu, ia mengeluarkan satu lembar fhoto dari balik mantelnya. "Ini fhoto mereka. Saya yakin mereka hilang meski ini, belum 24 jam. Kuharap kalian dapat membantuku!"
Kedua polisi yang mendapat laporan mendadak dari Heechul itupun, segera mengamati fhoto yang ditunjukkan oleh Heechul. "Kami akan berusaha."
"Kumohon!" Desak Heechul penuh harap.
"Tenanglah, kami akan membantumu."
...
"Adik saya demam.."
Donghae mengadu, kala seorang pria dewasa datang sambil membawa makanan pagi ke ruangan tersebut.
Satu tatapan Donghae dapatkan dari laki-laki tersebut, tanpa jawaban, jika saja Donghae tak kembali berkata dan mengatakan "bisakah kalian mengobatinya? Kumohon.."
Pria tersebut hanya mengangguk tak jelas, untuk selanjutnya, ia menghubungi seseorang dengan segera.
Beberapa menit Donghae amati, dan pria itu, kembali menatapnya sambil berucap "biarkan aku membawa adikmu." Donghae mengernyit seketika sambil mendekap kuat tubuh Kyuhyun. "Tidak apa-apa. Tak akan terjadi apapun pada adikmu, percayalah.."
"Bohong!" Tukas Donghae.
"Tsk. Lantas apa maumu bocah?!" ucap pria itu sambil memberikan satu dorongan pada kepala Donghae dengan tangannya yang terkepal.
"Biarkan aku ikut dan melihat!"
"Dasar sial!" Rutuk sang pria, lantas menjambak rambut Donghae dan menyeret Donghae menjauh dari Kyuhyun, dan membuat Donghae meringis dibuatnya. "Kau pikir aku bodoh? Hah?!" Teriaknya tepat di wajah Donghae. "Kau pikir aku tak tahu, kau dan adikmu ini sedang mencoba untuk kabur dari kami?!"
Donghae menatap ke arah pria tersebut dengan tatapan benci. Tak ada rasa takut, meski, genggaman tangan sang pria pada rambutnya semakin menguat, menyisakan rasa yang begitu sakit, membuatnya menjerit tertahan.
"Hey! Lepaskan dia, Joongie-ya! Lihat! Adiknya benar-benar sakit."
Donghae mengamati, seseorang baru yang datang dengan dengan tenangnya dan baru saja menyentuh tubuh Kyuhyun. Hingga rambutnya terlepas, Donghae mencoba merangkak, ke arah Kyuhyun yang sudah terlihat menahan tangisnya. Maka, "jangan menangis, Kyu.." bisik Donghae setelahnya.
"Kau boleh ikut dan melihat. Kami akan benar-benar mengobati adikmu."
Tak jelas itu siapa, namun? Kali ini terdengar lebih lembut di telinga Donghae. Terdengar nyaman, membuat Donghae tanpa segan, bertanya, "siapa namamu, hyung?"
"Hanya panggil hyungsaja, itu sudah cukup." Jawab orang tersebut sambil mengusap kepala Donghae. "Ayo ikut denganku.." Ajaknya, hingga Donghae bangkit serta membawa Kyuhyun, diikuti dua orang dewasa tersebut.
Sementara itu, "Donghae hyung.."
Donghae mendengar suara Ryeowook yang memanggil namanya. Maka ia kembali menoleh. Setelahnya, dilihatnya Ryeowook yang membuka jam tangan miliknya, lantas menyerahkannya pada Donghae. "Ini.."
"Hey.." Donghae akan menyela jika saja tangan Ryeowook tak mencegahnya dan berkata "ambilah! Aku takut, aku sudah mereka bawa saat kau datang kemari lagi. Aku takut, kita tak bisa bertemu lagi."
Donghae menatap Ryeowook lama, lalu mengangguk. Namun, "kita akan keluar dari sini bersama" bisik Donghae di telinga Ryeowook.
Satu senyuman Ryeowook berikan untuk Donghae. Ia lantas mengangguk pasti. "Semoga saja!"
...
Donghae tertegun saat kakinya pertama kali keluar dari ruangan yang sudah satu hari itu menyekapnya. Ia disuguhi sebuah lorong panjang, dimana ada begitu banyak pintu di sepanjang lorong tersebut. Terlalu luas, hingga ia berfikir 'akan kemana jika aku lari nanti!' karena nyatanya, tak terlihat seberkas cahayapun dari lorong tersebut yang menampakkan sisi luar tempat tersebut.
Lalu, "Jangan banyak melamun! Cepatlah jika tak ingin tertinggal.." suara bentakan, langsung membahana, mengusik fikiran Donghae.
Satu lagi yang membuat Donghae tertegun adalah, saat dirinya di arahkan pada satu ruangan, dengan banyak alat medis. Bahkan ada beberapa bangsal kosong disana, juga ada banyak alat operasi.
"Apa ini rumah sakit? Apa kalian dokter?" jelas Donghae bertanya, sementara Kyuhyun sudah di baringkan di salah satu bangsal, yang tak bisa dikatakan bersih, dengan kasur dan juga selimut yang agak kusam, juga sisi besinya yang berkarat. Digenggamnya tangan Kyuhyun dengan erat, sementara dua orang tadi memeriksa kondisi Kyuhyun.
"Kenapa kalian menculik kami?" Tanya Donghae lagi, meski tak ada jawaban sedikitpun. "Kenapa kami dibawa kemari, hyung? Katakan!" Desak Donghae. Namun..
BRAK.
Satu gebrakan membuat Donghae terhenyak seketika. Dan lagi "Jangan banyak bertanya, bocah! Kau tak berhak bertanya!" satu bentakan membuat Donghae merenggut, lalu terdiam dan hanya memandangi Kyuhyun.
Di sela-sela kegiatan mereka, para penjahat itu, nampak berdikusi dengan nyaman di depan Donghae.
"Sudah ada persiapan? Siapa yang akan pulang hari ini?"
"Seharusnya tak ada. Tapi, mengingat, kau datang hari ini, bukan besok, jadi, jadwal yang pulang hari esok, kita pindahkan menjadi hari ini."
Donghae mengerjap tak mengerti dengan percakapan dua orang dewasa tersebut. Maka ia menyerah dan memilih mengamati Kyuhyun yang ternyata sudah tertidur setelah mendapat satu suntikan dari hyung, yang enggan menyebutkan namanya tersebut.
Selang beberapa menit, "kau akan menunggunya disini?" Donghae mengangkat wajahnya saat mendengar salah satu di antara mereka bertanya padanya. Dan Donghae? tentu saja hanya mengangguk.
"Tapi ingat! Jangan mencoba kabur kemanapun, karena, ada banyak penjaga disini." Jelas pria yang tadi menjambak rambutnya dengan sangat kejam diiringi banyak gonggongan anjing di luar, yang entah di luar mana.
Donghae mangangguk takut karena, tak ada lagi yang bisa ia lakukan.
"Tunggu adikmu dengan baik jika kau ingin dia selamat."
Deg.
Donghae semakin takut mendengarnya hingga ia, hanya dapat mengangguk patuh. Beberapa jam setelah kedua orang tadi pergi meninggalkan Donghae dan Kyuhyun yang masih tertidur, Donghae tak melakukan apapun dan hanya memandang Kyuhyun, hingga ia merasakan tangan Kyuhyun yang tengah di genggamnya bergerak.
"Kyu.." Panggil Donghae yang disambut baik oleh Kyuhyun yang tersenyum ke arah Donghae.
"Apa kau sudah merasa baikan?" Tanya Donghae sambil menyentuh kening Kyuhyun. "Sepertinya panasmu turun," ucapnya lantas membantu Kyuhyun agar terduduk. "Dengar.." ucapnya lagi.
"Apa?"
"Kita akan keluar dari sini. Kau bisa berjalan, Kyu?" Tanya Donghae kemudian.
Kyuhyun mengangguk kecil, sambil berusaha turun dari ranjang, dimana di atas mereka, terdapat lampu operasi yang menambah suasana menjadi mengerikan, padahal Kyuhyun tak habis melakukan operasi apapun. Jelas saja itu membuktikan, bahwa keduanya tengah berada di ruang operasi.
"Ini dimana, hyung? Aku takut," adu Kyuhyun.
"Akupun tak tahu. Kita akan keluar, tapi.." ucap Donghae tertahan sambil menoleh ke arah sekitarnya. "Kau tunggu dulu, hyung akan pastikan keadaannya aman. Tunggu sebentar," lanjut Donghae sambil berlalu, menuju pintu keluar ruangan tersebut.
Tap.
Tap.
Dengan perlahan, Donghae mengendap dan mengintip di balik pintu yang ia buka sedikit. Matanya mencoba memutar, melihat ke arah sekitarnya. Apa yang ia dapat?
Lorong yang gelap menjadi saksi, dinding dan juga lantaipun menjadi saksi bisu atas semuanya. Waktu yang berjalan terasa lambat, datang menghampiri Donghae, kala ia mendengar suara gesekan dua benda, dimana, satu ranjang dorong, berjalan, atas dorongan dua orang yang kembali asing di mata Donghae.
Ranjang itu bergerak perlahan, melewati pintunya berada. Matanya membulat mencoba mencari tahu, apa yang berada di atas ranjang berjalan tersebut, yang hanya tertutup kain putih tipis saja.
Semua orang tahu, bahwa mayatlah yang biasanya berada dalam keadaan seperti itu. Namun Donghae belum sepenuhnya yakin, hingga matanya terbuka lebar, saat..
Pluk..
Satu bungkus permen karet jatuh ke lantai, dari tangan pucat yang terkulai, berasal dari balik selimut putih nan tipis di atas ranjang itu. Donghae sangat yakin akan keberadaan permen karet tersebut. Hanya dirinya dan Kyuhyun yang memiliknya, dan juga? Satu orang yang baru ia beri permen tersebut tadi malam.
"Ryeowook.." gumam Donghae.
Di antara detik yang terasa melambat itu, bahkan Kyuhyun saja, tengah bersantai di atas ranjangnya sambil mengayunkan kedua kakinya juga mengamati Donghae yang tengah memunggunginya.
Sementara itu, Donghae tengah memutar otaknya..
"Mereka bilang, aku akan pulang dua hari lagi.."
"Seharusnya tak ada. Tapi, mengingat, kau datang hari ini, bukan besok, jadi, jadwal yang pulang hari esok, kita pindahkan menjadi hari ini."
Donghae dapat mengingat semuanya. Mungkinkah? Hingga Donghae berfikir, apa maksud dari kata 'pulang' di tempat asing tersebut? ia menjadi semakin tak sabar, hingga dengan satu kebodohan, yang mungkin tak akan bisa ia maafkan oleh dirinya sendiri, ia mendobrak pintu yang sejak tadi diintipnya tersebut.
"RYEOWOOKIE!" Teriaknya, membuat ranjang yang tengah di dorong itu, terhenti saat baru saja akan melewati sebuah pintu. Perlahan Donghae berjalan, lantas memungut permen karet yang terjatuh di sekitar kakinya. Dengan nafas memburu ia menatap orang yang tengah mendorong ranjang, yang Donghae fikir, Ryeowooklah yang terbaring disana itu. "Apa yang kalian lakukan padanya!" Raung Donghae dengan tangis tertahan. "Kalian pembunuh!" Teriak Donghae keras.
Di sisi lain, Kyuhyun turun dari ranjangnya dan bermaksud melihat apa yang terjadi pada Donghae? Namun, belum sempat ia dapat meraih sang hyung, tubuh mungilnya terangkat, membuatnya menjerit ketakutan. "HYUNG!" teriaknya, membuat Donghae menoleh padanya.
Belum reda akan amarahnya, Donghae kembali dibuat terkejut saat salah satu orang yang tadi sempat merawat Kyuhyun, telah menyekap tubuh mungil Kyuhyun. Juga, "merepotkan!" adalah satu bisikan kecil di telinganya, dan berakhir dengan satu bekapan pada mulutnya, yang perlahan, mengambil alih kesadarannya.
Donghae tak tahu, sejak kapan di belakangnya ada orang lain? Yang jelas, yang terakhir kali dapat ia ingat adalah, jeritan Kyuhyun yang bahkan, pernah di dengarnya beberapa waktu lalu.
"Jangan! Donge hyung...!"
TBC
Nah? Sebenernya, tadinya cerita ini mau saya buat oneshot saja, tapi? Lihatlah, ini panjang bukan? -_- bahkan tak bisa saya selesaikan dalam 2 chapter saja. Maaaffffff! Y.Y chapter depan saja endnya ya? Satu lagi, ini masuk chrime gak sih? :D
Apalagi yang ingin kalian ketahui? Aih! Salam kenal dulu ya, buat nama yang sebenarnya baru aku baca di chapter kemaren. :')
Juga? Adakah yang ingin baca preview chapter depan? Saya beri sedikit. :D
"Bahkan anak-anak pengemis di jalan ini menghilang sejak beberapa bulan yang lalu, diikuti dengan banyak kasus penculikan setelahnya! Kamipun tengah menyelidiki kasus ini.."
"Itu adalah gerbang, dimana di dalamnya terdapat rumah sakit kosong yang sudah tak terpakai.."
Di bawah hujan yang dingin itu, Heechul bahkan tak pernah menyangka dengan apa yang ia lihat, apa yang berada dalam mobil yang baru saja tumpah, tertabrak olehnya. Karena? Di balik garasi belakang yang terbuka itu? terdapat tas besar, dalam keadaan yang terbuka setengahnya. Seorang anak, ah! Bukan! Tubuh seorang anak, dengan ukuran sama, seperti milik salah satu adiknya, meringkuk di dalam sana, dalam kondisi mengenaskan dan terlihat tak bernyawa. Dengan bergetar, Heechul mencoba menyibak tas tersebut, berusaha mencari wajah sang mayat. Hingga, dengan lirih ia bergumam "Donghae.."
...
