"Aku pulang..."

Kontrakan kosong. Lucas pulang dari kuliah pagi, jadwal selanjutnya masih tiga jam lagi. Lumayan, bisa buat tidur. Segera dia tiduran di sofa depan TV.

Tiba-tiba Lucas kangen mamah.

Orangtuanya Lucas ada di Hongkong. Sedangkan dia ada di Korea. Merantau jauh menyebrangi lautan, hidup mandiri di negeri orang. Ngekos setengah tahun juga tidak terlalu efektif. Untung ada abang-abang temen band, masih untung dia bisa numpang tinggal di kontrakannya Johnny, apalagi ada temennya.

"Hatchi!"

Entah kenapa bodinya agak tidak enak. Kepala pening, dahi anget, perut melilit. Ciri-ciri masuk angin ini. Lucas mulai batuk-batuk. "Uhuk uhuk!" Meringkuk, perutnya mulai konser keroncong.

"Hiks, kangen mamah..."

Sementara itu,

Taeyong kembali ke kontrakan. Jalan pagi rutinnya hampir terlewat gara-gara bangun telat. Untung dia bisa bangun saat mendengar suara Johnny mengomel sambil menyetrika di ruang makan jam 8 tadi.

"Spadaa~"

Krik. Gaada balasan.

Ia membuka pintu depan yang tidak terkunci.

"Lah, kenapa pintunya nggak dikunci? Siapa yang ada di rumah?"

Masuk lebih dalam, Taeyong menemukan Lucas menggelepar di karpet depan TV. "Mamah, perutku suakit.." Menggelundung di karpet sambil memegangi perutnya.

"Woy Lucas! Jangan tepar di lantai!"

.

The Genters

- Bubur Ikan Teri -

nb :

Siap-siap naik kapal Luwoo!

(GS for Jungwoo)

.

Lucas mengerjapkan matanya. Plafon putih dengan lampu gantung berbentuk kuncup bunga tulip ia lihat. Masih di ruang tengah ternyata. Menoleh, ia melihat Taeyong yang duduk pucat.

"Akhirnya lo bangun juga, Cas!"

Segera Lucas bangkit dari tidurnya.

"Gue kenapa, bang?"

"Lo pingsan di karpet depan TV."

Astaga. Baru kali ini selama merantau Lucas sakit parah.

"Gue panik anjir, baru balik jalan pagi kok udah ada lo lagi menggelepar di lantai. Gue pikir lo kejang-kejang," jelas Taeyong. Lucas bergidik.

"Amit-amit."

"Ya udah, sekarang istirahat. Lo mau makan apa, biar gue beli atau buatin."

"Pengen makan bubur ikan teri, bang."

"Yaudah sini gue buatin bubur. Tunggu di kamar apa di depan TV?"

"Di depan TV aja."

Setelahnya Taeyong berlalu ke dapur. Lucas kembali tiduran di sofa, makin mengeratkan diri dengan selimut dari kamarnya. Perutnya udah sakit parah, kelaparan tidak makan 14 jam.

Salah dia juga, sih. Kemarin malam dia makan bibimbap dua setengah porsi, ditambah hotteok dua biji. Minumnya root beer dingin dua kaleng. Perutnya otomatis overload, jadinya tidak makan pagi karena masih penuh. Eh, habis kuliah malah menangis perutnya.

Di sisi tepi dapur, Taeyong berhadapan dengan panci berisi beras dan teri.

"Aduh, gue gak ngerti gimana masak bubur ikan teri."

Segera ia menelepon Jaehyun.

"Halo?"

"Halo, Jae, lo tau resep bubur ikan teri?"

"Hah? Baru kali ini gue denger bubur ikan teri. Buat siapa, Bang?"

"Ini, si Lucas lagi ngidam."

"HAH?! LUCAS HAMIL?!"

"Geblek! Lucas lagi sakit, minta dibikinin bubur, bukannya hamil."

"Gue gatau resepnya, bang. Mending lo tanya Ten nuna, kan dia serumpun sama Lucas."

Badalah.

"Lah kenapa tiba-tiba lo bawa Ten?"

"Tanya aja gapapa lah, bang. Kalo gamau, buka resep di internet lah. Udah yo, gue ada acara."

Asem.

Benar juga ya. Taeyong tidak berpikir sampe ke sana. Segera ia mencari resep bubur ikan teri di internet.

"Resep. Bubur ikan- kok ikan tuna sih. Ikan teri. Nah ketemu."

Banyak juga resep bubur ikan teri. Taeyong membuka satu resep yang mendapat rating 5.

Resep bubur ikan teri terenak sejagad raya!

2 cup beras

1 liter santan

garam

bla

bla

bla

"Pakai santan? Apa enak?" Mau tidak mau Taeyong memasak beras yang sudah dicuci.

"Masukkan beras yang dicuci ke panci, terus direbus pake santen."

"Terinya diapain anjir."

Tumis teri kering tanpa minyak hingga garing dan renyah. Taburkan di atas bubur dengan potongan daun bawang dan kerupuk udang.

Menunggu lima belas menit, Taeyong kembali ke sofa depan sambil membawa nampan. Semangkuk bubur dan segelas teh hangat menggoda hidung Lucas yang masih berselimut di depan TV.

"Nih, coba makan." Sesuap bubur dengan topping tumisikan teri masuk ke mulut Lucas.

Hoek.

Berasnya dimasak pakai santan, padahal Lucas benci sama yang namanya kelapa, apalagi santan.

"Lah kenapa dimuntahin, pinter?"

"Gue gak mau makan bubur yang begini, hyung. Nggak enak."

Plak.

"Aduh." Pucuk kepala Lucas digeplak sayang.

"Orang sakit gausah banyak protes. Makan sekarang, minum obat, terus tidur. Nanti sebelum berangkat ke kampus gue bangunin. Kurang baik apa coba?"

Sakit malah diomelin.

Lucas cuma mewek.

"Bang, gue nggak bisa makan santen."

"Makan."

Seketika Lucas menciut. Baru kali ini dia melihat tatapan tajam Taeyong. Perlahan ia memakan bubur yang dibuat.

Rasa dari lemak santan membuat lidah Lucas mati rasa. Dia memang sama sekali nggak bisa makan santan!

Mulutnya tidak dapat menahan rasa mual. Segera Lucas lari ke kamar mandi.

"HOEEEKK."

Taeyong bingung. Ia menyusul ke kamar mandi dan mengetok pintu. "Cas, lo aman?" Hanya dijawab suara muntahan yang makin parah. Makin paniklah si rambut pink. Dibukanya pintu kamar mandi, dan menemukan si bongsor duduk nelangsa bertumpu kloset.

"Woi jangan tepar di kamar mandi. Kuy periksa ke dokter." Digeretnya tangan Lucas keluar dari kamar mandi. Maknae yang sering tertawa ini mukanya udah pucet parah. Kantung matanya makin tebel, tambah mirip dengan kodok.

"Nggak mau ke dokter, takut disuntik..."

Taeyong lupa, si maknae memang fobia sama jarum suntik.

"Ya udah ya udah. Lo tidur dulu di depan tv. Istirahat, nanti sesudah bangun lo harus makan sama minum obat." Dijawab dengan anggukan lemah.

Lucas udah pasang posisi pewe di depan TV, ditemani Taeyong yang memasang plester penurun demam di dahinya. Udah lemes dia, muntah-muntah sampai pahit mulutnya. Perutnya tambah perih, Taeyong sampe kasihan lihat kondisinya. Gak lama kemudian, dia tidur.

"Wih, wangi apa nih?"

Yuta kembali dari kampus, disambut dengan aroma bubur teri dan Lucas yang tertidur di ruang tengah.

"Lah, si maknae tidur di depan TV." Ia mematikan TV berchannel Nick. "Weh, tumben si Lucas tepar. Padahal nanti dia masuk siang," katanya pada Taeyong yang sedang mencuci mangkok.

"Itu, dia masuk angin. Minta dimasakin bubur, tapi malah gak dimakan."

"Coba gue icip." Yuta berjalan ke dapur, berhenti di meja pantry. Sepanci bubur yang masih mengepul uapnya, bentuknya juga menggoda. Segera ia mengambil satu sendok.

Hm.

Pantes, wong rasanya begini. Bubur bersantan tapi ada rasa asin yang keasinan di dalamnya.

"Gak heran kalau dia gak makan, Yong. Rasanya aja begini."

.

Akhirnya Lucas tidak jadi masuk kelas selanjutnya. Perutnya terlalu sakit, nongkrong di kamar mandi nggak segera keluar BAB-nya. Ditambah lagi demam, makin uring-uringan si bongsor. Yuta yang melihatnya merasa kasihan.

"Cas, lo sakit parah ya?"

Dibalas gumaman.

"Udah, bobok aja di kamar. Gue mau garap tugas di depan TV. Di kamar bisa ngglundung di kasur."

Tanpa banyak protes Lucas menggeret selimutnya ke kamar duo maknae.

"Kami pulang."

Jaehyun dan Johnny masuk ke ruang tengah, melihat duo sesepuh duduk lemas di sofa.

"Kita jadi latihan di studio seberang?" tanya Jaehyun.

"Aduh, kita hari ini gak bisa latihan. Lucas tepar. Demam plus sembelit, ditambah muntah-muntah," jelas Taeyong. "Dia baru bisa tidur sekarang. Kasihan dia, lemes parah."

Jaehyun melotot. "Jangan jangan Lucas ha-"

"Jae, mana ada cowok hamil." Johnny memotong perkataan Jaehyun. "Ya kali ada cowok bisa hamil, bisanya sih menghamili."

"Ih bego lu bang." Jaehyun menoyor bahu si jangkung. (Dia nggak tahu kondisi hati Johnny pas noyor bahunya, macam berflower.)

"Yah, jadi gimana dong. Gaada yang nggebuk drum, gue masih agak susah ngikutin temponya."

"Kita latihan sendiri aja di sini gapapa. Besok atau lusa, kalo Lucas udah sembuh, baru kita latihan di studio." Dan berakhirlah mereka ke kamar masing-masing.

.

Hari kedua Lucas sakit.

Uring-uringan di kamar, masakan Taeyong sama Jaehyun dia abaikan. Jelas membuat dua chef kontrakan bingung bukan main. Orang si bongsor itu dasarnya tukang makan, dua kali menolak makanan otomatis menjadi hal ajaib.

"Udah begitu masih mual-mual, diajak ke rumah sakit nggak mau. Ini anak maunya apa coba.."

"Makanya itu, bang, gue curiga. Jangan-jangan Lucas beneran ha-"

"Lambe tolong dikondisikan." Dua jari Taeyong mengepit bibir Jaehyun. "Mana ada cowok hamil. Ini realita, bukan cerita m-preg."

"Lambenya Mas Jaehyun kenapa digituin, mas? Nanti monyong lho."

Dua cogan tersebut menoleh ke sumber suara.

"Eh, Jungwu."

"Halo halo." Kim Jungwoo, anak gadis dari ibu Kim pemilik warkop dekat kontrakan. Anak polos yang saking polosnya seolah minta digembol bawa pulang. Pesona kalemnya tidak dinyana lagi, anak pak RT sebelah saja naksir berat sama mbak satu ini.

"Ini nasi telur sama nasi gorengnya." Dua piring ditaruh di hadapan dua cogan penikmat warkop. "Eh Wu, sini bentar."

Jungwoo duduk manis di depan Jaehyun. "Kenapa?"

"Kan di sini jualan bubur kacang ijo, kamu bisa masak bubur ikan teri?" buka Taeyong.

"Bubur ikan teri?" Jungwoo baru mendengar bubur jenis ini. "Itu bubur biasa, kan? Cuma dikasih teri asin buat topping-nya?"

Jaehyun menggeleng. "Bukan, bukan sesimpel itu. Gue udah bikin model begitu, tapi yang makan nggak mau. Malah dikeluarin lagi dari mulutnya."

"Emang yang makan siapa?"

"Itu, si Lucas, yang sering minum kopi hitam di sini," jelas Taeyong. "Yang tinggi, rantauan Hongkong, mukanya kayak kodok."

Oh. Jungwoo ingat. Si pelanggan yang sering nongkrong di warkop sambil nyesep kopi hitam pelan-pelan. Cuma pesen kopi satu tapi kelarnya dua jam. Mana lagi makan pisang molen satu biji, sok-sokan pakai pisau garpu.

"Yang sering ngutang itu?"

Jaehyun ngakak.

"Iya yang itu. Dia sakit perut sama masuk angin, tapi nggak mau makan selain bubur. Kita udah bikin bubur tapi malah nggak dimakan. Jadi, tolong ya, Wu, bantu kita masak bubur ikan teri."

Taeyong udah harap-harap cemas menunggu jawaban Jungwoo.

.

Lucas sendirian di kontrakan.

Kondisinya udah membaik, udah bisa BAB, cuma agak keras. Dia masih merasa ngilu di pantatnya sesudah mengeluarkan BAB tadi siang. Masih agak hangat juga suhu tubuhnya.

Para abang yang lain memang kuliah sampai sore, makanya Lucas sendirian di rumah.

Tok tok tok.

Lucas bangkit dari sofa. Membuka pintu, ia disuguhi rantang stainless steel.

"Halo."

"Eh, mbak Uwu."

"Ini, bubur ikan teri." Jungwoo menyerahkan rantang bubur ke Lucas. Segera Lucas mengulurkan tangan menerima rantang beraroma wangi.

"Masuk dulu, mbak." Mereka masuk ke ruang depan TV. Jungwoo agak mengerinyit melihat sampah tisu lembab di sekeliling karpet. Segera ia duduk di sofa yang bersih dari bekas tisu umbel.

"Kata Jaehyun kamu nggak bisa makan selain bubur," tanya Jungwoo. Lucas mengangguk. "Iya, mbak, rasanya kalau belum makan bubur pas sakit itu bukan pertanda sakit. Apalagi kalau makan bubur ikan terinya mama."

"Coba dulu, makan buburku. Maaf kalau nggak sesuai ekspektasimu ya." Jungwoo membuka rantang. Wangi harum bubur bercampur dengan teri membuat perut Lucas keroncongan. Apalagi itu membuat produksi air liur meningkat drastis.

Dia ngiler.

Jungwoo mencampur daun bawang, ikan teri asin kecil, dan potongan cakue sedikit. "Mau pakai kecap ikan?" Lucas menggeleng. Anak Bu Warkop Kim itu mengaduk bubur dengan berbagai topping. Mangkok itu ia serahkan ke si bungsu Wong. "Selamat makan. Yang banyak ya, mumpung masih hangat."

Sesendok masuk.

Sekecap, dua kecap, Lucas mengerjapkan matanya.

Rasa ini! Lucas tidak menyangka rasa ini akan hampir di indera pengecapnya.

"Ya ampun.."

Persis! Ini persis!

Keseimbangan rasio air dan beras, menghasilkan bubur yang pulen, tidak encer tidak padat. Butiran nasi yang lembut menyapa lidah Lucas. Ia telan segera.

Rasa kaldu ini! Dashima dan teri besar, ada sedikit sari lobak, juga tambahan kecap ikan dan minyak wijen. Ini sama persis dengan masakan Mama Wong! Segera Lucas memakan buburnya sampai habis.

"Makasih mbak... hiks..."

"Lah kenapa kamu nangis?!"

.

omake

"Udah makan Cas?"

"Udah bang, makan di burjo."

Taeyong terheran-heran. Anak ini biasa makan di rumah, sekarang 2 hari sekali makan di burjo dekat rumah. Apalagi mukanya tambah sumringah sesudah dari burjo.

"Semenjak dimasakin bubur sama Jungwoo, Lucas jadi sering main ke warkop. Gue curiga." Yuta muncul dari halaman belakang, berbisik di samping Taeyong.

"Hampir jantungan anjir. Bikin kaget aja." Si rambut pink terkaget.

"Jangan-jangan si Lucas..."

"Kagak, dia cuma makan aja." Johnny muncul dari kamar mandi, berbisik di antara duo sesepuh. Taeyong hampir jantungan yang kedua kali.

"Makan tapi sambil ngelirik-lirik Jungwoo ya sama aja dong Badrun." Yuta menggeleng keras. "Pedekate di depan bu Kim sama aja memperpendek sisa usia dalam hidup."

"Ye tapi kan si Lucas mukanya tebel macam badak. Mana dia tahu kalo Bu Kim ngelirik dia sadis..."

Mereka bertiga brainstorming bersama, mengabaikan tatapan si maknae yang risih dilihatin trio sesepuh.

"Kenapa bang? Ada cemong kopi di mukaku?"

.

note

halo.

ada yg kangen ff ini? /G

Di sini line 95-96 sekelas, 97-98 sekelas juga. jd jangan bingung ke depannya yow.

Makasih yg udah kasih 18 fav, 21 follow, 9 review. tak kusangka ada yg mau baca dan memberi hati buat ff abal ini. ku cinta kalian :'D

Spesial thankyou buat: JohnD-J, blinkcloud, fyty, Takamizu, weirdodorks, guest, captainssss, park.chenle, candlelight2, review kalian bikin saya senyum" sendiri. Baca riviu kalian jd memotivasi saya buat bikin lanjutan ff ini.

Btw, apa kalian ngerasa salty kalo pake istilah lokal? Macam mas, mbak, bang, dsb? Kritik dan saran diterima, dengan bahasa yg tepat, biar cucok ;)

last, fav, follow, n review plz :D