Someone To Love?

Bab I

ParkChanYeol
x
KimJongIn/Kai

Fluff-Romance-lil!Comedy-Friendship.

PG14-

WarningAlert!BxB!BoysLove!CrackCouple!BadSumm!Full(maybe)Typo's.

: :
Saya suka baca review kalian, itu uda jadi kebiasaan setiap ada post ff baru. Tapi soal silent rider saya maklumi, ada faktor dibalik mereka. ^^ untuk semua pembaca, makasih uda mau baca khususnya yg mau meluangkan mengetik review untuk menghibur hari saya :vv . Knp Chankai? Pliss, saya masih mau ngelestariin Chankai/kriskai shipper. Berdempetan ama Hunkai pun gpp. Mencintai bottKai itu surga buat saya :'D selamat membaca.

Happy Reading


"Ya' bagus! Ah, ok."

Seorang pria tinggi, memakai syal dan pakaian tebal sedang berdiri memperagakan pose yang diarahkan oleh seseorang di balik lensa kamera. Para staff disekitarnya, berhenti sejenak melakukan pekerjaan mereka demi mengagumi sang model. Lampu blizt kamera berkedip setiap sang model mengerling pada lensa. Wajah beraut teng dengan senyum penuh kharisma, salah satu tangan menarik syal seolah benar-benar kedinginan.

Sesi pemotretan terhenti sejenak, untuk proses mempermak keringat si model yang terlihat mengganggu. Dua orang wanita segera menghampiri, tak lupa menata rambut serta memoles bedak guna menutupi bagian make up yang hilang.

"Panas. Hyung! Kipas, cepat." walau suara itu pelan, dapat menyentak seseorang yang berdiri di sudut ruang. Orang itu langsung mengibas kertas, mengipasi wajah angkuh di depannya.

Saat pemotretan kembali dimulai, Sang model kini berpose dengan partner seorang gadis kecil berwajah lucu. Dia menggendongnya, lalu tersenyum natural tepat saat Blizt kamera menangkapnya.

"Hari ini Cukup, kita bertemu lusa. Terima kasih atas kerja samanya."

Beberapa staff ikut bertepuk tangan, memberi reward atas pria yang membungkuk berterimakasih. Pria itu langsung melepas syal dan mencopoti kancing mantel yang dipakainya.

"Sial. Panas. Hyung, bisa buat dirimu berguna? Kau tidak bekerja untuk memelototi ku saja. Cepatlah!"

Pria lain namun lebih tua dengan sigap menangkap mantel, syal serta sarung tangan dengan tangan lebar. Dia menatap punggung aktor asuhannya, lalu mendengus melempar benda-benda itu pada Kursi panjang. Kalau saja ini bukan pekerjaan, yah andai saja bukan. Wajah tampan itu pasti akan ditendangnya sekarang. Pria itu menggeleng, seolah sudah mengalami hal sama beberapa kali.

O

O

O

O

Park Chanyeol adalah seorang aktor baru. mengawali karir dengan modelling beberapa cover majalah ternama cabang korea. berwajah tampan, bertubuh cukup sempurna. tinggi berkharisma. dan tentu saja ia sangat mempesona.

hampir setiap hari, dirinya akan menyibukkan diri dengan jadwal acara syuting sampai malam. di layar kaca dan dihadapan fans, dia adalah yang terbaik. selalu tersenyum ramah seolah benar dia orang yang baik. tapi itu semua berbeda dengan kenyataan yang ada, manager lamanya lelalu mengeluh tentang kepribadiannya yang buruk. suka memerintah, sombong, egois, kekanakan, dan tidak berperasaan. Untuk itu agensi nya, pasti mencadangkan satu manager lain sebagai pengganti jika manager Chanyeol mengundurkan diri.

"Shim sanjangnim, saya mengundurkan diri sebagai manager Par—"

"Tidak. Jangan Yoochun Bagaimana dengan Chanyeol?"

Seorang pria paruh baya berdiri penuh wibawa, dia cukup pusing memikirkan salah satu sktor asuhan perusahaannya. Saat ini mereka tidak dapat mencari satu pun manager, untuk itu dia sangat berhenti. Apa jadinya aktor kesayangannya tanpa manager?

Pria lain yang bernama Yoochun membanting diri ke sofa, mendengus keras. Dia tak percaya, akan dipaksa memonitoring anak badung itu lagi. Cukup dengan kata sumpah serapah seenak udel itu bocah, dia tidak bisa menghargai dirinya yang bahkan sudah bau tanah. Menyuruh ini-itu tanpa unggah ungguh bahasa yang benar, apa orang tua nya tidak sadar jika anak mereka sekarang sangat kurang ajar. Senyum kesana sedetik kemudian bentak kesini.

"Changmin, aku sudah tua. Kau tahu jika anak itu seenaknya juga banyak tingkah malah menjadikanku jadi managernya."

"Tapi kau manager terbaik kami, hyung." ujar Changmin itu putus asa.

Ya, bagaimana tidak putus asa. Mereka menghabiskan kumpulan manager terbaik dari yang terbaik mereka. Bahkan menjamin gaji tinggi untuk yang mau menjadi manager Chanyeol. Sayang tidak sampai dua bulan, diatas mejanya pasti tergeletak surat pengunduran diri.

"Tidak, Changmin. Aku mengundurkan diri."

Yoochun berdiri dengan gusar, berjalan dengan titik marah hingga membanting pintu. Tinggal Changmin, CEO sekaligus pemilik dari agensi itu memijat pelipisnya. Dia memejamkan mata nya, dia bisa stres jija terlalu lama seperti ini. Park Chanyeol sedang dalam puncak. Tanpa manager.. Bocah itu mungkin saja kesulitan dan akhirnya Agensi terkena dampaknya.

"YURA!"

Dari luar ruangan, wanita tinggi memasuki ruangan terburu mendengar teriakan pimpinan. Dia menunduk takut menyadari temperamen pimpinan memang terlihat tinggi. Changmin mengetukkan jarinya sebentar, dia berpikir akan memerintah apa.

"Panggil Taemin."

Yura—Sang sekertaris mengangguk, lalu berlari keluar ruangan mencari seseorang bernama Taemin. Apapun masalah si pimpinan, jangan sampai membuaf kesalahan. Yura tidak ingin mati muda sekarang.


"Ahjumma? Ini berapa?"

Seorang pria dengan mantel birunya, dia menggenggam satu apel merah besar ditangannya. Menunjukkannya pada sang penjual.

"Duapuluh yen."

"Apa?! Lima yen saja."

"Jangan menawar!" ucap sang ahjumma, mengalihkan pandangan jengah karen setiap anak ini kesini. Kerjaannya hanya menawar harga atau jika tidak menghutang.

"Aa, kalau begitu.. Catat di bon-ku yaa?!"

"Yak! Jongin!"

Pria yang dipanggil Jongin itu berlari menggigit apelnya seraya melambai pada sang penjual langganannya yang terlihat kesal. Dia tertawa menginggit apelnya lagi, manisnya apel memang terbaik. Musim dingin akan datang sebentar lagi, tapi penyimpanan bahan makanannya sudah menipis. Dia mengingatnya jadi menghela nafas lesu. Tidak mungkin jika hanya mengandalkan teman seapartemen nya. Dia yang pengangguran juga tidak dapat mencari solusi. Ah sial.

Membuka pintu Jongin mendapatu Taemin berjalan mondar mandir dengan wajah gelisah. Dia bertanya kenapa, namun tanpa sebab sahabatnya itu memekik menyerukan namanya beberapa kali. Apa dia waras? Katakan padaku dia tidak sakit.

Taemin menatapnya berbinar, Jongin bergidik membuang muka. Apa itu tadi? Menjijikkan. Darimana temannya ini menemukan tatapan itu. Aegyeo heh? Dia tidak terpengaruh. Dilihat dari gelagat Taemin, Jongin menebak jika anak ini kurang waras.

"Jongin! Kau harus membantuku?"

"Hah?"

Wajah konyol Jongin tidak dapat membuat Taemin tertawa tapi malah membuat temannya semakin keras mengguncang bahunya. Dia menepisnya, lalu memelototi Taemin aneh. Ya aneh. Biasanya anak ini akan mengomelinya tanpa pernah mengucapkan namanya semanis tadi. Apa? Ada apa? Anak ini kejeduk apa tadi pagi? Atau mungkin makanannya teracuni hewan pengerat?

"Iya, membantuku. Kau mau kan? Pasti mau. Jangan menolak." Jongin kini mengernyit saat lengannya digelayuti Taemin. Benar-benar.. Apa dia sedang ber Aegyeo? Padanya? Taemin jangan bercanda.

Jongin mengarahkan telunjuknya mendorong dahi Taemin menjauh dari tubuhnya. Dia mundur satu langkah, mengamati apa benar ini Taemin yang kemarin? Atau klonning Taemin dari planet lain.

"Bantu apa?"

Baru dua kata yang diucapkan Jongin, tapi pekikkan bahagia Taemin membuatnya menutup telinga. Lubang telingnya berdenging akibat suara cempreng tidak ada bagus-bagusnya.

"Ya!" Taemin meringis setelahnya tertawa. Jongin kembali mundur ke langkah kedua, Tuhan jangan kau bilang padaku jika sahabatku telah ditukar dengan orang gila yang kebetulan stres karena wajahnya mirip Taemin.

"Tae, Kau ini gila. Katakan saja bantu apa?" Kesabaran Jongin sudah melewati ubun permirsa. Dia tak tahan melihat temannya menjadi gila, kalau dia ketularan bagaimana?

"Kumohon, jadilah manager aktor di perusahaanku. Kau tahu Park Chanyeol?"

"Huh? Chanyi—Siapa?!"

Sepertinya Jongin tidak salah mendengar, dia mengingatnya sebagai nama familiar. Oh tunggu bukan kah itu nama yang didengarnya tempo hari? Saat di depan caffe bean Chungdam-dong. Jongin menyipit mencoba mengingat detail kejadian kemarin.

.

.

.

.

Jongin berjalan dengan dua tangan menyaku sok keren di celana. Dia menatap kerumunan didepan cafe penasaran. Mungkin karena akhir tahun makanya banyak pengunjung, tapi pasalnya kenapa juga kerumunan ini hampir semuanya memakai seragam sekolah dan perempuan. Apa ada artis disini? Idol? Oh siapa? Super Junior?

"Hai—aa iya terimakasih. Kalian harus sekolah sekarang. Sampai jumpa."

Jongin mengintip dibalik celah para siswi, mendapati seorang pria mungkin satu tahun lebih tua darinya sedang tersenyum sok tampan ditengah. Namun fokus Jongin malah tertuju pada satu orang pria paruh baya tidak jauh dibelakangnya. Kedua tangan pria itu penuh membawa dua tas besar juga plastik berisi tiga cuo kopi. Jongin mencoba berjalan melewati kerumunan, menghampiri Pria tadi.

"Paman, kau kesulitan? Biar kubantu." tanpa mendengr ucapan pria itu Jongin menyambar dua tas itu dan menyisakan plastik tiga kopi di tanganya pria tadi. Dia berdiri di sampingnya tanpa rasa lelah, Jongin kuat kok. Setiap harikan dia olah raga. Berlari—yaa, berlari dari kejaran hutang maksudnya.

"Paman menunggu siapa?" tanya Jongin pelan. Wajahnya tidak mengulas senyum. Tapi matanya memang berbakat membuat orang lain terhibur buktinya paman itu tertawa kecil.

"Aktor asuhan agensi tempatku bekerja, aku seorang manager."

Jongin mengangguk-angguk tidak perduli. Tapi aneh juga melihat satu manager ini, biasanya jadi manager tak kan sesulit paman ini kelihatannya. Dia pun bertanya lagi.

"Aktor siapa? Didepan itu? Aku tidak mengenalnya."

Paman itu terlihat terkejut mamun segera ditutupi dengan senyum.

"Park Chanyeol."

Jongin dan paman yang tidak diketahui namanya itu berbicara cukup panjang lebar. Mereka berbicara sambil menunggu kerumunan siswa itu pergi. Menubggu sekitar dua puluh menit, Akhirnya kerumunan itu bubar dengan siswa-siswi yang berlari menutupi wajah mereka yang memerah. Sial sekali mereka, dasar remaja.

"Paman! Jangan menyiput. Cepat kita terlambat tahu."

Jongin mengikuti arah paman itu berlari, mereka menyebrang menghampiri mobil mini van hitam yang terparkir di samping trotoar. Jongin kembali membantu paman itu menata tas-tas itu beserta isinya dalam bagasi. Dia diam-diam mengutuk aktor asuhan paman disampingnya. Bagaimana mungkin dia berucap kasar begitu. Dia yakin yang namanya Park Chanyeol tadi hanya bersandiwara di depan fansnya. Sialan, memang dasarnya artis.

"Paaamaan, mana kopi ku?" Entah kenapa Jongin memutar bola matanya mendengar rengekan menyebalkan dari dalam mobil.

Sebelum paman itu membawakan pesanan Chanyeol, Jongin menyambarnya terlebih dulu. Lalu memberinya langsung pada orang seenaknya itu. Aaat memberikan kopi, dia dapat memastikan alis si Park menukik tanda marah. Tanpa diduga, cup kopi itu di banting ke aspal mengotori sepatu keta putih Jongin.

"Ya!"

"Kenapa kau yang datang?! Mana Yoochun Hyung?!"

"Kau tidak punya kaki? Setidaknya kau bisa mengambilnya sendiri!" Jongin mengejeknya sedikit, sangat sedikit.

Pemuda tan itu tidak terlalu memperdulikan sepatunya yang jadi kotor tiba-tiba. Dia lebih tertarik membuat aktor kekanakan ini menutup mulut karena lidahnya keseleo.

"Jaga sopan santunmu! Kau tidak mengenalku?"

Jongin tertawa acuh, menggeleng tanpa dosa. Dia memang tidak mengenal siapa Park Chanyeol.

"Tidak. Ada kepentingan apa untuk kau ku kenal?"

Yoochun mendekat melerai dua anak manusia yang sedang beradu mulut. Beruntung tak ada pejalan kaki disini, bisa gawat jika mereka melihat sifat asli Chanyeol. Dia menarik Jongin ke belakang mobil.

"Baiklah, sudahlah tidak apa. Terima kasih ya. Oh, ini ambil? Untuk uang jajan."

Di tangan Jongin ada lima ribu won, dia menatap uang dan paman itu bergantian. Jongin menggeleng mengembalikannya, mengulas senyum.

"Tidak usah paman. Oh aku pergi dulu. Sampai jumpa."

Jongin melambai berjalan menjauh, Yoochun menatap uang di tangannya. Dia tersenyum membalas lambaian bocah yang baru saja membantunya.

"Anak baik."gumamnya pelan.

"Hyuung!"

"Iya-iya.. Sebentar."

.

.

.

.

"Ya, Park Chanyeol. Ayolah Jongin, sekali saja jadilah teman yang berguna ya-ya?"

Jongin melangkah melewati Taemin, dia membuka kulkas meminum sebotol air es. Dia mengacuhkan kicauan Taemin. Jongin tidak mau bertemu lagi dengan orang seperti itu. Yang benar saja cari yang lain sana.

"Tidak."

"Jongiiin, hanya dua bulan. Ok? Ayolah. Kau pasti butuh uang. Jangan mengelak, kau pengangguran."

Jongin memang butuh uang sekarang tapi jika satu-satunya jalan adalah pekerjaan itu dia tidak—

"Tenang saja, perusahaan menjamin kau mendapat gaji tinggi. Berapapun yang kau minta. Bagaimana?"

Byurrr

"Ya!"

Jongin tidak bisa menahan keterkejutannya dengan itu. Dia tanpa sengaja menyembur taemin hingga wajah temannya basah kuyub. Aduh apa benar?

"Serius? Kau berbohong."

Taemin menlap wajahnya jengah, dia memukul kepala Jongin kesal lalu tak lama mengangguk semangat. Dia kembali menatap Jongin berbinar.

"tidaak. tapi Kau mau kan?"

"Tentu saja. Mungkin nanti aku bisa kaya."

"Terlalu cepat dari umurmu nak. Tidak mungkin."

"Taemin!"

"Jongiiin!"

.

.

.

RnR?

.

.


TBC


Hihi haha huhu, chap satu up. Bagaimana menurut kalian? Chanyeol gk pantea buat jadi sombong menurutku wajah nya manis banget tauuu. Aduh jongin mah juga manis. tau ah mau bicara apa bingung. Hehe

Thanks for your reading.^^