.
.
.
DISCLIMER: I DO NOT OWN NARUTO
.
.
.
THIS FIC ORIGINALY MINE
.
.
.
SHADOW OF MAESTRO
WARNING: AU
.
.
.
SUMMARY:
Haruno Sakura, 16 tahun. Seorang murid Konoha High yang cerdas yang sibuk dengan kegiatan di sekolahnya. Hanya segelintir orang yang mengenali gadis itu sebagai seorang Shadow of Maestro. Hanya ayahnya – Direktur Agensi Shining Star – dan beberapa staff ayahnya. Apa gadis itu akan tetap hidup dalam bayang-bayang? / 'Kalau aku boleh memilih, lebih baik aku terlahir normal.' / "Kau memandang dirimu terlalu tinggi, Haruno," balas Sasuke dingin. / AU
.
.
.
_Shadow_of_Maestro_
Sakura berjalan dengan cepat. Ia tidak mau menoleh ke belakangan sama sekali, meski ia tahu bahwa Ino berusaha menyusulnya sambil tertatih-tatih karena heels 8 centinya. Cukup sudah dengan semua yang terjadi hari ini, ia tidak mau mendengar apapun tentang lima orang pria comel yang – argh, Sakura benci mengakui ini – memiliki bakat bermusik yang tidak bisa dipandang sebelah mata.
Ia sudah tahu tentang Rookie 9 bahkan sebelum Ino tahu tentang mereka. Sakura melihat bagaimana perjuangan band itu dari awal terbentuknya sampai sudah mendunia seperti sekarang. Ia sudah mempelajari personilitas seluruh artis pilihannya, dengan kata lain, ia bahkan sudah tahu seluruh kebiasaan kelima pria itu.
Argh, Sakura benar-benar kesal. Tentu saja ia bisa dengan mudah membubarkan band itu. Tidak, bahkan ia bisa dengan mudah membuat band baru pilihannya untuk mengalahkan band itu. Ia bisa. Satu perintah darinya dan ayahnya pasti mengikuti kata-katanya. Ia bisa, tapi ia tidak ingin membuang bakat mereka. Mereka terlalu berharga.
Profesionalitas, Sakura. Ia mengingatkan dirinya sendiri. Benar, ia harus harus Profesional. Masa bodo dengan apa yang mereka lakukan, biarkan mereka berkarya. Dan, berbalik, urus Ino. Ia sahabatmu. Selesai.
Jadi, Sakura berbalik, menghampiri Ino yang sudah duduk di tengah jalan sambil memijat kakinya dengan tampang melas. Beberapa orang melirik Ino yang cantik namun tingkahnya tidak mencerminkan penampilannya. Ugh, ini sangat memalukan. Tapi tetap saja, demi sahabatnya itu, Sakura menghampirinya dan jongkok di depannya.
"Aku minta maaf atas sikapku, juga membuat kakimu lecet," kata Sakura menatap pergelangan kaki Ino. "Dan aku akan memaafkanmu asal tidak membahas lagi soal band itu di depanku," kata Sakura menatap Ino yang ternyata sudah hampir menangis mendengarnya. "Deal?" tanyanya.
"Deal!" kata Ino riang. "Tapi kau harus menggendongku!" kata Ino lagi.
"Tidak. Kamu kan berat," komentar Sakura hendak berdiri.
Tapi ternyata Ino menariknya lagi dan memandangnya dengan puppy-eyes andalannya. Ugh, sungguh ini menyebalkan. Hanya untuk kali ini, Yamanaka! Anggap saja bonus permintaan maafku.
Jadi, Sakura jongkok dan Ino naik ke punggung Sakura. Mereka pergi sampai ke taman terdekat dan menunggu jemputan Ino di sana.
"Kau berat, Pig! Tulangku seperti patah rasanya," omel Sakura merenggangkan badannya.
Ino mendengus. "Jangan merenggangkan badanmu begitu, Forehead! Kau itu perempuan tahu!" protes Ino melihat tingkah sahabatnya itu.
"Tidak ada aturan kalau perempuan tidak boleh merenggangkan badan," jawab Sakura santai. Ia tahu maksud Ino apa. Ino bukan bicara soal peraturan, tapi ia bicara soal sikap ketidakwanitaan Sakura di depan banyak orang.
"Kau tahu bukan itu yang kubicarakan, Forehead," kata Ino mendengus.
"Kebiasaan lama sulit di ubah, Pig." Sakura beralasan.
Ino memutar bola matanya. Alasan yang sangat masuk akal. Benar-benar membuat orang tidak bisa lagi berkomentar. Ino baru saja mau memulai pokok pembicaraan baru tetapi ternyata mobil jemputannya sudah datang.
Sakura memapah Ino ke mobilnya dan berpisah dengan sahabatnya yang cerewet itu. Lalu ia pergi dari taman itu. Ia memutuskan untuk mendekam di apartemennya yang nyaman daripada ke perpustakaan ataupun restoran untuk makan. Ia hanya ingin menghindari dari pertemuan dengan orang lain. Orang yang mengenalnya dan menambah sakit kepalanya. Ia butuh menenangkan diri.
Sakura berjalan dengan pikirannya yang bercabang-cabang. Begitu banyak deadline dan tanggung jawab yang perlu di hadapinya. Tentu, ia bisa melakukan semua itu. Ia hanya lelah, ia menyukai waktunya sendiri. Hanya diam di dalam apartemennya yang nyaman, menonton koleksi DVDnya, membaca novel-novel sastra asing, melampiaskan hasratnya pada musik, melakukan percobaan macam-macam, dan sesekali mendengar ocehan Ino. Itu sudah cukup baginya, tak ada aturan yang mengikatnya. Di dunianya tidak aturan. Ia bebas. Karena ia bayangan.
…Setidaknya itulah yang definisinya tentang bayangan. Saat ini.
Sakura sampai di pintu apartemennya dan baru sadar bahwa ada seorang pria yang sudah tampak bosan menunggunya. Sakura mengenali rambut nanas hitam dan mata hitam pria itu. Pria itu bersandar di samping pintu apartemennya entah sudah berapa lama.
"Kau cukup lama, Haruno," kata pria itu menguap.
Sakura menghela nafas mendengarnya. Ia tidak heran mendapati pimpinan Rookie 9 itu ada di depan apartemennya. Ia tidak perlu terkejut, seakan ia sudah bisa menebak dengan tepat tindakan pria di hadapannya itu.
"Nara," sapa Sakura sekedarnya sambil menekan kode pintu apartemennya.
"Kau tidak tampak terkejut." Shikamaru berkomentar. Berdiri di belakang gadis pink itu, seakan tidak sabar ingin masuk ke apartemen gadis itu.
Sakura hanya mengangkat bahu namun tak menjawab. Kau pikir saja sendiri, batin Sakura. Sakura masuk ke apartemennya dan Shikamaru mengikutinya. Pria itu langsung menuju ruang tamu dan duduk di sofa empuk berwarna putih itu. Sakura tidak perlu repot-repot berkomentar, ia hanya meletakan tasnya di sofa dan pergi ke dapur.
"Kopi? Teh? Cokelat?" tanya Sakura dari dapur. Ah, dia sudah pasti pilih kopi, kenapa aku bertanya?
"Kopi saja," jawab Shikamaru mengedarkan pandangannya ke seluruh apartemen itu.
Tuh, kan, benar.
Apartemen itu luas. Terlalu luas untuk di tinggali satu orang. Di dominasi oleh warna putih gading, karpet yang mengalasi berwarna cokelat muda, ada 3 kamar yang ukurannya cukup besar. Sepanjang sisi apartemen itu, adalah kaca transparan yang menyuguhkan pemandangan kota Tokyo yang cukup indah sore hari itu. Terlihat sebuah piano berwarna putih gading. Ah, Haruno bisa bermain musik sepertinya. Menarik. Seakan apartemen itu di design khusus oleh pemiliknya, seleranya begitu tinggi. Shikamaru yakin harga apartemen ini sangat mahal, mungkin apartemen termahal di seluruh gedung apartemen elit ini. Ia tak pernah tahu Haruno anak orang kaya.
Sakura datang dengan cemilan dua cangkir berisi kopi dan cokelat panas. Ia duduk nyaman di salahsatu sofa singlenya.
"Lama juga kita tidak berjumpa, Haruno. Sudah berapa tahun? 8 tahun?" tanya Shikamaru memperhatikan gadis pink itu.
"Terakhir kita bertemu adalah kelulusanmu waktu SD, Nara-senpai," kata Sakura menekankan kata 'senpai'.
"Yeah, itu benar, kouhai." Balas Shikamaru. "Kau sedikit berubah. Aku terkejut kau akan cocok dengan gadis Yamanaka itu," komentarnya.
"Ino anaknya baik, sih," jawab Sakura. Shikamaru bisa menangkap nada memuji dan lembut ketika Sakura mengucapkannya. "Kau juga sedikit berubah. Ah, kecuali di bagian sikap malasmu. Seakan kau sudah terlahir untuk memiliki sikap itu selamanya."
Shikamaru tersenyum tipis. "Aku tidak menyangkal itu," jawab Shikamaru. Jeda sejenak. "Aku cukup senang bisa bertemu kembali denganmu," kata Shikamaru. Ia mengatakannya dengan datar tapi kata-kata itu tulus dari hatinya.
Bagi Shikamaru, Haruno Sakura bukanlah gadis pada umunya. Sejak mengenal gadis itu ketika mereka masih SD, gadis itu sudah membuatnya penasaran. Gadis itu sangat pendiam, namun begitu ia bicara orang akan tertegun. Yeah, ia banyak diam karena anak-anak pada umumnya takkan mengerti pembicaraannya. Terlalu berat, khas orang cerdas. Bahkan novel-novel yang di bacanya adalah novel sastra asing. Begitu aneh namun menarik. Haruno Sakura seakan berasal dari dunia yang berbeda, ia selalu sendirian. Dan Shikamaru berpikir bahwa gadis itu akan terus seperti itu. Jika ada orang yang bisa hidup dalam dunia gadis itu, ia berharap dirinyalah orangnya.
"Aku juga," jawab Sakura. Kalau aku tidak bertemu denganmu di audisi itu, bakatmu akan tersia-siakan. Rookie 9 takkan sempurna tanpa pemimpin sepertimu, pikir Sakura.
Sakura sama sekali bahwa kata-kata singkat itu membawa pengaruh untuk pria pemalas di depannya ini. Shikamaru tersenyum.
"Dan, Nara, jangan khawatir. Aku takkan membatalkan jadwal manggung Rookie 9 di Konoha High." Sakura berkata lagi sambil mengecap cokelatnya.
Shikamaru menatap Sakura mencoba mencari kebohongan. Tapi gadis itu begitu santai. Shikamaru masih mempertanyakan apa yang membuat gadis itu berpikir seperti itu dalam tatapannya.
"Aku profesional, Nara." Sakura menjelaskan dengan tenang.
"Anak SMA pada umumnya tidak akan begitu," komentarnya. Shikamaru bisa melihat mata emerald itu menggelap. Seakan kehilangan sinar yang di pancarkannya. Begitu… mati. "Yeah, walau aku tahu kau bukan anak SMA pada umumnya," lanjutnya lagi. Ada perasaan mengganjal yang di dirinya begitu menatap mata emerald yang hampa itu. Hei, Haruno, apa kata-kataku salah?
"Yeah, semua orang juga bilang begitu." Sakura berkata dengan hampa. Shikamaru ragu apakah gadis itu menyadari apa yang di katakannya.
Phone cell Shikamaru berdering. Sepertinya pria itu memang harus sudah kembali ke basecamp mereka. Sakura mengerti tanda itu dan mempersilahkan pria itu untuk pergi.
"A-a, Nara." Sakura memanggil. Shikamaru menengok, tumben gadis ini duluan yang memulai pembicaraan. "Kalau anak SMA saja bisa bersikap profesional, aku berharap anggotamu juga bisa bersikap profesional. Terlebih, Uchiha. Kurasa kau harus mendisiplinkannya."
Shikamaru mengerutkan kening. Biasanya ia tidak menerima kritik orang lain, tapi kata-kata gadis itu sepenuhnya benar. Ia tidak tahu Haruno Sakura bisa mengkritik, setahunya gadis itu terlalu cuek dengan keadaan sekitarnya.
Detik berikutnya, Shikamaru menyadari sesuatu yang lebih penting. "Darimana kau tahu aku pemimpin Rookie 9? Biasanya orang yang pertama kali melihat kami berpikir bahwa Sasuke pemimpinnya," kata Shikamaru menyelidiki.
Sakura terdiam sesaat. Lalu tersenyum tipis. "Seorang kepala tidak akan bisa di tutupi oleh anggota tubuh lainnya, Nara. Bahkan oleh tangan kanan sekalipun," kata Sakura tenang. Dan, yeah, tentu saja aku tahu. Akulah yang menjadikanmu kepala dari Rookie 9. Meskipun si Uchiha sombong nan menyebalkan itu sering mendominasi, pikir Sakura.
Shikamaru terkejut dengan jawab gadis itu. Lalu ia tersenyum. Gadis itu takkan menjawab seperti orang kebanyakan. Karena gadis itu memang bukan seperti orang kebanyakan. Gadis itu… berbeda. Jawaban itu benar-benar hanya sekali di dengar dan hanya berasal dari gadis itu.
Shikamaru tersenyum. "Aku berharap kita bisa bekerja sama dengan baik ke depannya, Haruno," kata Shikamaru lalu pergi.
Percayalah, selama ini kita sudah bekerja sama tanpa kau sadari. Aku akui itu tidak mengecewakan, Nara. Kinerjamu sangat bagus meskipun kau pemalas, batin Sakura masuk kembali ke apartemennya.
_Shadow_of_Maestro_
Sakura menginjakan kaki di sekolahnya. Ia benci sekolah. Tidak, ia benci teman sekelasnya. Ia benci teman sekelasnya karena sering kali menghina Ino dan kebodohannya namun di satu sisi iri dengan bentuk tubuhnya yang menawan. Argh, ia benci semua orang yang membenci Ino. Ino anak yang baik – walau cerewet – bagaimana bisa ada orang yang membencinya? Selama Sakura mengenal gadis itu, gadis itu tak pernah mengecewakannya. Ia memiliki bentuk tubuh yang sempurna tapi tak pernah menghina gadis lain yang tidak secantik dirinya. Itu yang membuat Sakura betah berteman dengan Ino. Ia bukan orang yang sombong seperti kebanyakan orang, meski keras kepala dan sering memaksa. Tapi Sakura tidak keberatan menghadapi sikap seperti itu.
Sakura merasakan bahwa ada yang berbeda dengan Konoha High pagi itu. Hampir semua siswi sudah mengerumuni area pintu masuk Konoha High seakan menantikan kedatangan seseorang. Hei, memang ada apa hari ini? Argh, Sakura hanya ingin segera ke kelasnya namun tidak ingin bertemu teman sekelasnya. Intinya, ia benci keributan. Argh, apakah yang namanya sekolah harus menyebalkan seperti ini? Sakura dengan cepat meninggalkan kerumunan itu dan menuju rak sepatunya.
"Kau terlihat agak pucat, Haruno," komentar seorang pria berambut halus berwarna cokelat dan dikuncir satu. Mata mutiaranya menangkap dengan sempurna figur gadis pink emerald itu. "Pagi, Haruno. Kurang tidur?" sapanya ramah.
Sakura mendengus mendengarnya. "Kau tahu jelas apa yang menyita waktu tidurku, Ketua OSIS Hyuuga," balas Sakura tidak mau beramah tamah pada ketua OSIS yang merupakan salah satu jejeran idola di Konoha High.
Detik berikutnya, terdengar jeritan histeris dari siswi yang di luar gedung ini. Otomatis, Sakura menutup rapat-rapat telinganya. Argh, kenapa pagi ini begitu berisik.
"Kau tidak seharusnya berkomentar begitu, Sakura-chan. Neji sedang memperhatikanmu, tuh," goda seorang cowok berambut cokelat agak berantak dengan tatto segitiga merah terbalik di bawah matanya. Ah, Sakura heran kenapa Konoha High memperbolehkan itu.
"Pagi, Inuzuka," sapa Sakura datar mengganti sepatunya.
"Pagi, Sakura-chan," balas Kiba riang. "Ah, mereka sudah datang rupanya," kata Kiba menatap keluar gedung.
Sakura mengerutkan kening menatap wakil ketua OSIS itu. Inuzuka Kiba tersenyum lebar mendapat tatapan bingung Sakura.
"Kau tidak tahu, Sakura? Rookie 9 datang ke sekolah kita untuk melihat-lihat, kau tahu, untuk persiapan konser mereka di Festival Sekolah." Kiba menjelaskan dengan senyum lebarnya.
APA?! Argh, tahu begitu ia takkan memberitahukan Nara soal konser festival secepat itu, setidaknya itu akan menjauhkannya dari Rookie 9 untuk sementara. Argh, ia benci ini. Sakura menghirup udara sebanyak-banyaknya, menenangkan dirinya.
"Hanya untuk konser tidak perlu melihat-lihat sekolah," protes Sakura sebal.
"Ah, kurasa itu memang perlu, Haruno. Kami bisa menyesuaikan perform kami nantinya," jawab seseorang pria di pintu gedung sekolah.
Argh, tanpa melihatpun Sakura sudah tahu siapa yang bicara dengan nada yang menyebalkan itu. Kiba menarik Sakura dan merangkulnya, mengajaknya membungkukkan badan memberi salam hormat.
"Selamat datang di Konoha, Rookie 9!" sapa Kiba riang. "Dan maafkan Sakura-chan yang dingin ini. Dia memang kaku kalau dengan orang lain," kata Kiba mencubit-cubit pipi Sakura.
Sakura hanya mendengus tanpa melakukan perlawanan. Ia sudah terlalu biasa menghadapi sikap Kiba yang over itu. Melakukan perlawanan malah membuatnya semakin gemas dan malah membuang-buang tenaga.
Rookie 9 menatap betapa pria itu begitu akrab dengan gadis pink bermata emerald itu. Mereka masih bisa mendengar jeritan histeris dari para siswi diluar yang mengaggumi mereka, namun mata mereka hanya tertuju pada gadis itu.
Neji berdehem membuat pikiran kelima pria tampan itu kembali ke alam nyata. "Aku Hyuuga Neji, Ketua OSIS Konoha High," kata Neji memperkenalkan diri.
"Aku Inuzuka Kiba, Wakil Ketua OSIS!" sapanya riang. "Dan cewek menggemaskan ini Haruno Sakura, Sekretaris OSIS. Oh, iya! Ia juga ketua klub EO yang mengatur semua acara di Konoha High!" kata Kiba membanggakan seperti ayah membanggakan anak perempuannya.
Sakura melirik sebal pada sang wakil ketua OSIS. Tidak bisakah Inuzuka lebih tenang sedikit?
"Aku Uzumaki Naruto!" Naruto memperkenalkan dengan semangat yang sama seperti Kiba. Ah, khas orang polos.
"Danzou Sai," kata Sai kalem dengan senyum palsu andalannya.
"Nara Shikamaru," Shikamaru memperkenalkan.
"Uchiha Sasuke," kata Sasuke menyeringai pada Sakura.
"Sabaku Gaara."
"Salam kenal!" Kiba kembali berkoar. "Kami akan memberikan kalian tour seputar Konoha High!"
"Kami?" tanya Sakura mengerutkan kening. Sasuke menyeringai melihatnya. Gaara tak bisa menghentikan senyum kecilnya. "Maksudmu, kau, Hyuuga, dan aku?" tanyanya tampak tolol.
"Ya, Haruno. Termasuk, kau." Sasuke menjawab dengan menyeringai.
"Aku tidak bertanya padamu, Mr. Chickenbutt!" geram Sakura.
Wajah Sasuke langsung berubah datar mendengar nickname yang diberikan gadis itu. Ia menggeram tertahan. Kiba langsung memaksa Sakura membungkuk dan meminta maaf.
"Ahahahaha, maafkan gadis menggemaskan ini, ya. Ia memang sering kelepasan bicara," kata Kiba mencubit-cubit pipi Sakura – lagi –.
"Well, maaf saja, aku tidak akan ikut memberikan mereka tour. Aku datang ke sini untuk sekolah, bukan bolos demi menemani band yang punya banyak waktu luang seperti mereka," kata Sakura sebal.
"Aku memaksamu, Haruno," kata Neji datar.
"Kau tidak bisa memaksaku untuk bolos, Ketua OSIS. Itu melanggar peraturan," jawab Sakura tidak mau kalah.
Terdengar desisan marah dari para siswi yang mendengar itu. Banyak bisik-bisik yang melecehakan Sakura terdengar jelas oleh kedelapan orang itu. Bisik-bisik seperti,
"Haruno lagi, ia terlalu jual mahal."
"Ia sangat sombong mentang-mentang anak Penelitian Medis!"
"Dasar gadis tidak tahu di untung!"
"Ia pasti hanya ingin menarik perhatian!"
"Tidak tahu diri!"
Cukup sudah! Sakura muak dengan hal yang seperti ini. Mendengar gadis-gadis itu bicara seenaknya tanpa menggunakan otak membuat darah Sakura mendidih. Tanpa kata, Sakura berbalik meninggalkan lokasi itu. Kiba langsung mengejarnya tanpa memperdulikan tamu mereka.
"Sakura-chan!" panggil Kiba menarik siku gadis pink itu, menghentikan langkah gadis itu. Sakura berbalik dan mendapat tatapan cemas dan juga bersalah di wajah pria Inuzuka itu. "Aku minta maaf," kata Kiba.
"Kenapa? Bukan kau yang mengatakannya," jawab Sakura ringan, seakan hal itu tidak berpengaruh dalam dirinya. Sangat sempurna, Sakura! Kiba tidak akan pernah tahu bahwa mendengar hal-hal seperti itu membuat Sakura mau muntah rasanya.
Kiba semakin merasa bersalah mendengar respon Sakura. Hei, Inuzuka Kiba, kau seharusnya jangan terlalu polos dan baik hati begitu.
"Tidak apa-apa, Inuzuka. Well, kalau kau tidak keberatan, aku tidak bisa memberikan mereka tour. Jadi–"
"Tidak apa-apa, Sakura-chan!" potong Kiba tersenyum. "Selamat belajar!" kata Kiba menepuk-nepuk kepala Sakura dan kembali ke rak sepatu.
Sakura langsung berbalik dan mengambil phonecellnya. Ia mencari nomor Kiba dan mengirimkan pesan pada cowok itu.
From: Sakura-chan
Biar saja Ino yang menggantikanku.
Kiba tersenyum membaca pesan itu. Benar-benar khas Sakura-chan yang dikenalnya. Begitu singkat, padat, jelas, dan tanpa bertele-tele. Kiba sampai di rak sepatu dengan senyum mataharinya. "Maaf, ya, lama. Sakura-chan tidak bisa mengantar tour, jadi sebagai gantinya Ino-chan yang akan memberikan tour bersama kita," kata Kiba riang.
Kecewa? Ya, sudah pasti. Tapi, karena mereka profesional dan dilihat oleh para fans mereka, mereka tidak menunjukannya. Tidak hanya itu, siswi-siswi yang mendengarnyapun berbisik-bisik. Banyak yang mengatakan, lebih baik Yamanaka daripada Haruno. Ada juga yang tidak terima dan mengatakan dirinya akan lebih baik daripada kedua gadis itu.
Sasuke mendengus mendengar bisik-bisik seperti ini. Sungguh, inilah yang ia benci dari wanita. Tidak bisa menjaga mulutnya. Ia sampai heran kenapa Haruno masih betah berada di sekolah ini dengan keadaan siswi norak seperti ini.
"Mungkin kita bisa ke ruang OSIS dulu sambil menunggu Yamanaka," kata Neji berdehem. "Ikuti aku."
Rookie 9 mengikuti Sang ketua OSIS dan wakilnya itu. Mereka pergi ke ruang OSIS dan bel masuk berbunyi, dimana seluruh siswa-siswi harus sudah memasuki kelas mereka masing-masing. Ah, mereka suka ini. Tidak berisik. Dan tak lama Ino datang ke ruang OSIS. Mereka berbincang-bincang terlebih dahulu. Menjelaskan prestasi sekolah dan kegiatan-kegiatan di sekolah ini yang sangat beragam.
"Wah, hebat juga! Jadi Haruno yang mengatur seluruh acara di sekolah ini?" tanya Naruto kagum.
"Yep, dengan 3 orang yang bisa dibilang tangan kanan Sakura di klub EO, semua acara di Konoha High akan berjalan lancar!" kata Ino dengan semangat membanggakan kinerja sahabatnya itu.
"Mereka bisa dibilang 4 pilar Profesional EO kebanggaan Konoha High," kata Kiba sama semangatnya dengan Ino.
"3 orang lagi siapa?" tanya Gaara. Cukup berhasil menutupi nada penasarannya.
"Akasuna Sasori, Iwa Deidara, dan Uchiha Obito," kata Neji tenang.
"Uchiha?" tanya Naruto dan Sai menatap Sasuke.
Sasuke hanya diam dengan tampang datarnya. Aku lupa Tobi juga sekolah di sini, pikir Sasuke. "Dia sepupuku."
Naruto mengangguk-angguk mengerti.
"Ah, ngomong-ngomong. Aku sempat dengar sesuatu tentang kelas Penelitian," kata Sai tertarik.
"Penelitian Medis maksudmu?" tanya Kiba. "Oh, kelasnya Sakura-chan!"
"Penelitian Medis adalah kelas khusus. Hanya satu kelas di setiap tingkat. Pelajarannya setingkat dengan mahasiswa kedokteran. Malah cukup berat. Kelas itu membahas masalah-masalah dan kasus-kasus Medis terkini," kata Neji menjelaskan.
"Kelas itu juga sangat sibuk, bahkan mereka hampir setiap bulan harus ke luar negeri untuk menyelidiki kasus-kasus di sana. Tidak heran kalau banyak anak-anak Penelitian Medis cenderung anti sosial dan sibuk dengan pelajaran mereka sendiri," tambah Kiba. "Dan err, cenderung sombong," bisiknya dengan misterius.
Ino menepuk kepala Kiba. "Tapi Sakura tidak begitu! Dia jauh berbeda dengan anak-anak itu!" bela Ino
"Aku tidak bilang Sakura-chan begitu!" Kiba membela diri.
Neji hanya menghela nafas melihat tingkah kedua temannya itu. Ia berdehem membuat pertengkaran kecil antara Kiba dan Ino terhenti. Seakan baru sadar bahwa mereka ada tamu. Keduanya hanya nyengir.
*_*_*_*TBC*_*_*_*
AUTHOR'S NOTE:
Terima kasih untuk: Mako-chan, Fii-chan, Clarice Clark
Tanpa kalian, apalah arti fic ini :)
Tidak banyak yang ingin author katakan, hanya jika berkenan untuk mereview :)
Balasan Review:
Mako-chan: Makasih reviewnya, Mako^^ ini sudah di update :)
Fii-chan: Makasih reviewnya^^ maaf, ya, kalo agal lama :"
Clarice Clark: Makasih reviewnya^^ maaf, ya, kalau tidak seperti Sakura yang Masashi-sensei bikin. hehehe
God bless us and our family^^
