18 Years
.
by
GalaxyandOrbit
.
genre: family, romance, hurt/comfort
.
warning: typo, gaje, sekali lagi, multichap fic tanpa plot
.
disclaimer: Kurobasu is belongs to Fujimaki Tadatoshi-sensei
"Ehm..." erangan kecil itu keluar dari mulut pemuda mungil itu. Mata berwarna biru muda bagaikan langit musim panas itu terbuka lalu mengedipkan matanya berkali-kali hingga kesadarannya kembali walau tidak banyak. Matanya menelusuri tempat itu. Semuanya putih, ada televisi di depannya tak jauh dari tempat tidur di mana dia berada. Dia menoleh ke kiri, ada jendela. Ke kanan, itu... Pemuda dengan rambut merah waktu itu... Eh? Kenapa dia berada di sini? Kapan dia berada di sampingku? Dan dia sedang tertidur di atas kursi di samping tempat tidurnya. Dia mengangkat tangan kanannya, mencoba untuk membangunkan pemuda itu.
Crik
Ah, sejak kapan ada jarum infus di pergelangan tangan kanannya? Tak mengindahkan tentang jarum infus itu, pemuda mungil ini pun melanjutkan niatnya untuk membangunkan pemuda dengan rambut merah itu. "Ano..." siapa namanya? Kalau tidak salah Akashi, bukan? "A-akashi-kun..." Mencoba memberanikan diri untuk memanggil namanya, kalaupun salah, Kuroko tak mempusingkan hal itu. "Hm...?" Pemuda berambut merah itu mengerjapkan matanya berkali-kali, mencoba memfokuskan pandangannya lalu yang dilihat di hadapannya adalah pemuda mungil yang jatuh dari tangga. Setidaknya itulah yang dia pikirkan saat itu.
"Tet...suya..."
DEG
Eh? Dia memanggil namaku? Tetapi kenapa dadaku terasa panas? Hei, dia hanya memanggil namaku! Aku tak ingin seperti karakter utama di komik-komik anak gadis yang jatuh cinta pada pandangan pertama! "Hei, aku memanggilmu." Panggilan itu membuat Kuroko buyar dari lamunannya. Pemuda mungil itu menoleh hingga matanya dengan mata pemuda yang berada di hadapannya itu bertemu. Matanya... Berbeda warna, kanan berwarna merah dan kiri berwarna emas. "Ano, Akashi -" "panggil aku Seijuurou." Heh? Memanggilnya langsung dengan nama kecilnya? Akashi yang tampaknya bisa membaca ekspresi di wajah Kuroko, langsung menghela nafas sebentar dan menatap tajam manik biru muda milik Kuroko. Pemuda mungil itu menelan ludahnya. Itu... Tatapan yang sama seperti saat itu. Kuroko bisa merasakan ketakutan menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Panggil aku Seijuurou dan ini perintah." Perintah? Apa maksudnya? Aku bukanlah anak buahnya atau sejenisnya. Pipi kanan pemuda mungil itu disentuh oleh tangan besar milik Akashi. "Karena kau adalah adikku." Cukup, hal ini cukup membuat dirinya berdebar-debar hanya karena semua perkataan dan sentuhannya. Eh? Sentuhan?
PLAK!
Menyadari apa yang telah dilakukannya, Kuroko hanya memandang telapak tangan kirinya tak percaya. "Jangan... Sentuh aku..." Bukan! Itu bukanlah hal yang ingin dikatakannya. Dia sama sekali tak merasa seperti itu. Tetapi kenapa sepertinya apa yang dipikirkannya menolak untuk mengutarakannya kepada seseorang di depannya? Ada apa dengannya? Dia tak pernah merasa seperti ini. Tangannya pun bergegar dan dirinya bisa merasa matanya berair. "Ma-maaf... Aku tak bermaksud -" Tubuh kecil itu terbawa dalam dekapan hangat di dalam tubuh kekar milik Akashi. "Aku tahu, jangan panik. ." Entah kenapa, saat itu juga dirinya merasa semua apa yang dirasakan bebannya hilang begitu saja. "Aku di sini untukmu." Tahan! Dalam hati Kuroko berteriak untuk terus menahan air matanya yang hampir tumpah. "Menangislah, jika kau memang mau." Maaf, kalau aku bersikap seperti seseorang yang cengeng saat ini... "Ukh..." Air mata tumpah satu-persatu di bahu Akashi yang tampaknya tak menghiraukan bajunya basah.
Pelukan itu terlepas begitu Akashi menyeka air mata Kuroko dengan kedua jempolnya dan membingkai pipi berwarna pucat itu. "Aku bersumpah untuk tak pernah melepaskanmu, Tetsuya juga meninggalkanmu. Aku akan menjagamu."
Kata-kata itu bagaikan sebuah kata ajaib baginya, pun merasa dirinya sudah terlindungi dari apapun.
"Apakah kau menyetujuiku sebagai kakakmu?" Kakak? Ah, iya. Keluarganya 'kan akan bersatu kembali. Kenapa dia bisa lupa? Tanpa pikir panjang Kuroko menganggukkan kepalanya. Akashi tersenyum lembut. Kuroko bahkan bisa merasakan bahwa pipinya memerah.
Akashi menempelkan dahinya dengan dahi Kuroko. Merasa bahwa dia mencoba bertukar pikiran dengan adiknya yang akhirnya bertemu kembali setelah delapan belas tahun lamanya tak bertemu.
Suara ketukan pintu terdengar. Akashi segera beranjak dari tempatnya. "Tunggu sebentar, Tetsuya." Dan membuka pintu. Akashi Hiiromi dan Kuroko Tetsuna. "Otou-san, Okaa-san." Panggil Akashi dingin maupun tatapan matanya. "Tetsuya... Sudah bangun? Dan kenapa pipi kananmu terlihat merah? Seperti bekas tamparan," Akashi tersenyum kecil. "Bukan apa-apa, Otou-san." Ujarnya sambil mengelus pelan pipinya yang bekas tamparan itu. "Sei-chan, Tecchan?" Tanya sang ibu dengan raut wajah khawatir. Merasa mengerti dengan maksud ibunya, dia mengangguk. Sang ibu pun menghela nafas lega dan berjalan masuk ke dalam kamar Kuroko.
"Tecchan..."
"Okaa-san?"
Air mata berlinang di pelupuk mata sang ibu. Menahan semua emosinya yang hampir meluap ketika melihat bahwa putra bungsunya baik-baik saja. "Okaa-san... Ada apa?" Tanpa menjawab pertanyaan Kuroko, perempuan paruh baya itu langsung memeluk Kuroko erat. "Syukurlah... Okaa-san telah lama menunggu Tecchan untuk bangun!" Tangisnya pelan dalam pelukannya. Lama menunggu? "Aku... Sudah berapa lama tidak terbangun, Okaa-san?" Tanya Kuroko memberanikan diri. Pelukan di sekitar lehernya pun mengendur dan Kuroko bisa melihat dengan jelas raut wajah sedih dari sang ibu yang membuatnya menyesal telah mempertanyakan hal seperti itu.
"Okaa-san," suara dengan nada dingin itu mengalihkan pandangan Kuroko dari ibunya ke arah Akashi. "Sei-chan?" Ibunya sekarang memandang putra sulungnya. "Jangan sekarang," ujarnya seraya menggelengkan kepalanya pelan. "...ya, kau benar. Tecchan, mulai lusa kita pulang. Beristirahatlah, jangan terlalu lelah ya, Okaa-san akan kembali bekerja." Ujar perempuan paruh baya itu seraya mencium dahi Kuroko. "Sampai jumpa, Tecchan, jangan memaksakan diri."
Suara pintu ditutup. Kuroko menundukkan kepalanya. Ayahnya bahkan tidak masuk ke ruangannya. Yah, paling tidak Okaa-san melihat keadaanku. "Merasa lebih baik, Tetsuya?" tanya Akashi sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Kuroko mengangguk pelan. "Setidaknya Okaa-san telah tahu keadaanku," jawab Kuroko pelan seraya tersenyum kecil.
Akashi yang sedari tadi hanya memandangi Kuroko, hanya menghela nafasnya. "Ada apa, Sei...juurou-kun? Kau barusan menghela nafas." Ternyata Kuroko masih harus terbiasa dengan cara memanggil Akashi dengan sebutan 'Seijuurou-kun', semoga saja tidak mengambil waktu terlalu lama. Akashi menggelengkan kepalanya. "Tidak ada, Tetsuya. Istirahatlah, sekarang sudah malam, kau tak boleh terlalu lelah," Kuroko menggembungkan sebelah pipinya.
"Aku tahu, Akashi-kun."
"Seijuurou, Tetsuya."
"Seijuurou-kun."
"Nah, sekarang tidurlah. Selamat malam, Tetsuya." Ujar Akashi seraya mengusap pelan puncak kepala Kuroko. Tanpa sepengetahuan Akashi, Kuroko tersenyum kecil. Setidaknya dia sempat berpikir bahwa Akashi tak akan melihat senyuman kecilnya itu. "Selamat malam, Seijuurou-kun."
Akashi berjalan menuju jendela yang cukup besar itu. Dia tertawa kecil bahwa dengan polosnya Kuroko berpikir dia tak melihat senyum kecil dari Kuroko itu. Karena dia memotret kesempatan sekali seumur hidup itu dalam ponselnya.
To be Continued
Yaaahhhhh akhirnya sempat juga publish! Paling tidak saya sempat ngepublish /apamaksudnya saya masih di kelas 8 tetapi pelajaran sekolah memang menyebalkan terkadang, ditambah sorenya saya harus ini-itu lagi /stopcurcolnya
Oke, saya dalam masa semi-hiatus tetapi saya berusaha untuk terus update secepatnya deh xD
Dan satu lagi, gomen kalo chap ini agak gaje ato... Apalah itu pokoknya aneh, saya minta maaf dan harap maklum, ini tanpa plot -_-;
Salam,
GalaxyandOrbit
