Previous

"Terdapat banyak darah diparu-parunya. Jika aku tidak melakukan CRP(*) sekarang wanita ini akan mati." Kata Jongin. Jongin mulai menusukan alat suntik di dada Kyungsoo lalu mengeluarkan udara dari paru-parunya. Luhan sangat khawatir. Disuntikan kedua yang keluar adalah darah.

"Kenapa seperti itu?" tanya Luhan panik.

"Apa dia pernah mengalami kecelakaan?" Tanya Jongin. Luhan tidak menjawabnya. Dia benar-benar ketakutan dengan apa yang dilakukan Jongin.

"Aku bertanya apakah dia pernha mengalami kecelakaan?" ulang Jongin.

"Aku bertanya kenapa seperti itu?!" seru Luhan

"Pernahkan rusuknya terluka karena kecelakaan?" tanya Jongin lagi, terlihat jelas diwajahnya bahwa dia marah.

"Kau bilang kau ibunya, tapi kenapa kau tidak tau apa-apa." Lanjut Jongin. Dia kembali menyuntikan lagi alat suntik itu tepat didada Kyungsoo. Luhan menghentikannya.

"Jika terjadi sesuatu pada Kyungsoo, jika dia mati…." Jongin menepis tangan Luhan.

"Hentikan Kim Jongin! Kau bukan seorang dokter! Hentikan!" teriak Luhan marah. Jongin menatap Luhan tajam. Seandainya pandangan dapat membunuh, detik ini juga dia ingin membunuh Luhan dengan tatapannya.


Episode 2

Tanpa mempedulikan teriakan Luhan, Jongin tetap melanjutkan lagi aksinya untuk menyelamatkan Kyungsoo. Jongin menarik nafasnya lega saat menyelesaikan tugas yang seharusnya tidak dia lakukan lagi.

"Kondisinya akan stabil hingga sepuluh menit kedepan. Dan tugas ku selesai." kata Jongin pada pramugari. Semua yang berada disana menatap Jongin aneh, bukan kah seharusnya dia memberitahu walinya? pikir mereka.

Jongin berjalan sempoyongan, dia mencoba untuk berpegangan pada kursi yang ada disampingnya karena dia merasa tidak bisa menahan lagi berat badannya. Pertemuannya dengan Luhan, cinta pertamanya sukses membuatnya terguncang. Apalagi dengan status wanita itu yang sekarang adalah istri orang lain.

.

.

.

"Apakah wanita itu benar-benar Luhan? Bukankah aku sudah pernah memberitahu mu jika Luhan memang menjadi istrinya presedir DO Corporation, tapi kau tidak mempercayaiku. Bahkan kau memukul ku. Aku memang sudah curiga saat kau masuk penjara. Awalnya saja dia selalu datang setiap hari, tapi beberapa bulan kemudian dia tidak pernah terlihat lagi." Kata Chanyeol terus berceloteh tapi Jongin hanya diam berpura-pura fokus menyetir.

"Ada apa sebenarnya? Aku benar-benar tidak percaya jika kau bisa membunuh. Yah walaupun kau sangat tempramental, tapi kau adalah seorang calon dokter yang siap menyelamatkan orang lain." Lanjut Chanyeol. Kali ini ucapan Chanyeol berhasil membangunkan nafsunya. Kata 'dokter' memang berpotensi sangat besar mengganggu hidup Jongin. Dia sakit saat mengingat cita-citanya hancur gara-gara wanita tak berperasaan itu.

Jongin menghentikan mobilnya. Membuat Chanyeol kaget.

"Kau pikir aku supir mu? kenapa kau selalu duduk dibelakang?" Tanya Jongin kesal. Dan tanpa menunggu jawaban dari Chanyeol, Jongin langsung membuka pintu mobil dan meninggalkan Chanyeol.

"Oke, oke aku duduk didepan. Sekarang kau masuk!" teriak Chanyeol. Namun Jongin tidak memperdulikannya.

"Kau mau kemana? Aku tidak bisa mengendarai mobil!" teriak Chanyeol putus asa. Jongin masih saja berjalan. Dia kesal sangat kesal. Bukan pada Chanyeol, namun pada pertemuannya dengan Luhan hari ini.

Jongin terus berjalan. Dia mengingat saat pertama kali bertemu dengan Luhan.

Flashback

Saat itu Jongin sedang mencuci celana Baekhyun yang masih mengompol padahal umurnya sudah lima tahun. Tiba-tiba Luhan lari kedalam halaman rumah Jongin dengan ketakutan dan dan meminta ditunjukan tempat untuk bersembunyi, sementara Jongin dan Baekhyun hanya bengong melihatnya. Namun Jongin masih bisa menunjuk kedalam rumah, menyuruh Luhan untuk bersembunyi disana, dan gadis itu langsung lari. Tak lama setelah itu seorang laki-laki datang mencari Luhan dan langsung pergi saat tidak menemukannya.

Jongin masuk kedalam rumah lalu mengambil kotak P3K.

"Aku akan menjadi dokter suatu hari nanti." Kata Jongin pada Luhan. Luhan tersenyum lalu memperkenalkan dirinya.

"Aku Xi Luhan." Katanya.

"Yah aku tau. Kau adalah gadis paling cantik dilingkungan ini kan?" kata Jongin polos. Luhan tersenyum tidak menjawabnya.

Setelah perkenalan itu hubungan Jongin dan Luhan berlangsung hingga mereka dewasa. Jongin sudah mencapai setengah dari cita-citanya yaitu menjadi mahasiswa kedokteran dengan beasiswa penuh. Dan dia bangga karena usahanya untuk belajar tidak sia-sia.

"Hasil ujian ku pasti jelek lagi. Dan kau! Kau pasti menjadi yang terbaik." Keluh Luhan yang sedang tertidur menjadikan punggung Jongin sebagai bantalnya. Jongin hanya tersenyum.

"Oh ya apakah kau tidak tertarik pada wanita yang selalu mengejar mu itu? Aku pikir kalau kau menjadi kekasihnya kau pasti memiliki peluang yang sangat besar untuk meraih cita-cita mu, dia anak orang kaya. Walaupun latar belakang keluarga mu tidak cukup bagus, tapi kualitas diri mu sangat luar biasa dan patut untuk dikejar gadis manapun." Luhan memiringkan kepalanya menatap bagian belakang kepala Jongin.

"Apa nuna mau mengejar ku? Jujur sana sebenarnya aku ingin nuna yang mengejar ku. Tapi kalau nuna tidak mau juga tidak apa-apa." Kata Jongin sambil tersenyum polos. Luhan menganggukan kepalanya cepat. Detik ini dia tak akan mungkin menyia-nyiakan kesempatan emas ini.

"Kau milik ku sekarang Kim Jongin!" kata Luhan bahagia.

.

.

.

Jongin tersadar dari bayangan masa lalunya. Mulai saat ini seharusnya dia melupakan semua kenangan indah dengan gadis itu dan menganggap semua itu hanya mimpi buruk. Namun beberapa saat kemudian Jongin sampai ditempat makan pinggir jalan yang selalu didatanginya dengan Luhan. Menghabiskan waktu berdua dengan candaan yang akan membuat kulit perut mereka sakit.

"Cukup! Dia bukan Luhan yang dulu kau kenal. Dia berubah, dan ini adalah akhir dari semuanya!" kata Jongin pada dirinya sendiri.


Sehun menjenguk Kyungsoo dirumah sakit. Raut wajahnya menunjukan kekesalan saat melihat gadis itu sekarang sedang berkutat dengan pekerjaan kantor sambil memakan ayam goreng. Kyungsoo menyadari hal itu namun dia tidak memperdulikannya.

"Berani sekali dia mempercayakan nyawa ku pada orang yang bukan dokter. Nyawa ku hampir melayang gara-gara dokter gadungan itu!" kata Kyungsoo kesal. Sehun menatapnya datar.

"Tapi buktinya kau masih hidup sampai saat ini." Balas Sehun. Kyungsoo mendelik ke arahnya.

"Sepertinya ibu tiri ku dan dokter gadungan itu saling mengenal." Kata Kyungsoo lagi.

"Aku tidak tau." Jawab Sehun seadanya. Kyungsoo mendelik lagi. Tiba-tiba ponselnya bergetar sesaat setelah mendengar suara diseberang telpon raut wajah Kyungsoo berubah kesal.

"Kau ikuti dia." Kata Kyungsoo kemudian menutup telponnya.

"Kenapa?" tanya Sehun khawatir.

"Ibu tiri ku baru saja mengambil uang sebesar 1 milyar won. Dan aku menyuruh anak buah ku untuk mengikutinya." Jawab Kyungsoo.


Anak buah Kyungsoo masih mengikuti Luhan. Sekarang wanita itu sedang memandangi rumah Jongin dengan beberapa bingkisan ditangannya. Belum sempat Luhan membuka pagar rumah Jongin, dia melihat Chanyeol sedang berbicara dengan sepasang suami istri. Dia memperhatikan setiap hal yang sedang terjadi di rumah Jongin.

"Kemana laki-laki itu? Suruh dia keluar untuk menemui ku!" kata si suami pada Chanyeol.

"Dia tidak ada disini!" Jawab Chanyeol sambil berteriak juga. Dia kesal pada laki-laki yang mengaku memiliki masalah dengan Jongin. Dia mengatakan jika Jongin menggoda istrinya.

"Jongin tidak mungkin mengganggu istri orang lain! dia mempunyai prinsip!" kata Chanyeol. Laki-laki itu berdecak kesal.

"Apa mungkin seorang gigolo mempunyai sebuah prinsip? Cih!" Chanyeol diam.

"Apakah jika aku bercerai Jongin akan mau bersama ku?" tanya Istrinya. Chanyeol dan suaminya menatapnya tak percaya.

"Kalau begitu mari kita bercerai!" kata sang istri sambil menarik tangan suaminya meninggalkan rumah Jongin untuk menguruh surat perceraian mereka.

Luhan memberanikan diri untuk membuka pagar rumah Jongin.

"Apakah wanita itu menyukai Jongin? Apa yang terjadi pada Jongin sekarang?" tanyanya saat sudah berada disamping Chanyeol. Chanyeol kaget saat melihat Luhan.


Jongin membawa Baekyun ke rumah sakit karena memang hari ini adalah jawal rutin Baekhyun untuk memeriksa kesehatannya. Jongin menarik nafas lega saat mendengar dokter berbicara bahwa kondisi Baekhyun baik-baik saja, walaupun penyakitnya belum sembuh total.

"Aku sudah tidak sakit. Jadi bolehkah aku kembali seperti gadis normal lainnya?" tanya Baekhyun. Jongin menatapnya kemudian menggelengkan kepalanya.

"Dokter mengatakan kau baik-baik saja. Tapi dia tidak mengatakan kalau penyakit mu sudah sembuh. Aneurisma ini harus dihadapi dengan santai. Jangan banyak pikiran dan kau harus banyak istirahat." Kata Jongin. Baekhyun menatapnya kesal.

"Aku tidak boleh melakukan kegiatan apapun. Tidak boleh sekolah juga! Apa ini yang dinamakan hidup? Aku ingin mati saja kalau begitu!" kata Baekhyun kesal.

"Ini salah oppa karena dulu meninggalkan aku demi Luhan eonni! Jika aku mati oppa lah yang harus disalahkan." Tambahnya. Setelah itu pergi meninggalkan Jongin yang terdiam bagaikan patung. Perkataan Baekhyun membuatnya kembali mengingat kebodohan terfatal yang sudah dia lakukan.

Jongin mengemudikan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata tapi Baekhyun tidak mempedulikannya. Dia masih kesal karena kakaknya tidak pernah bisa mengerti apa yang benar-benar diinginkannya Selama ini.

Kebebasan…

"Cepat gendong aku! Aku sangat lelah!" teriak Baekhyun saat Jongin sudah menghentikan mobilnya. Jarak dari tempat parkir mobil ke rumah Jongin lumayan jauh dan memang mobil tidak bisa melewati jalanan itu.


"Ayah Jongin meninggal karena serangan jantung dan Baekhyun sakit. Setiap kali Baekhyun ke dokter Jongin harus mengeluarkan uang ratusan won." Kata Chanyeol. Luhan terdiam bagaikan patung saat mendengarnya.

"Awalnya Jongin ingin menjual tubuhnya, namun jika uang itu didapatkannya pun tidak akan cukup untuk melunasi semua hutang keluarganya. Di Korea sepertinya mantan narapidan tak akan mendapatkan pekerjaan yang layak. Dan dengan cara kotor itulah Jongin bisa menutup semua hutang dan biaya rumah sakit Baekhyun. Tapi Jongin tidak pernah meniduri wanita-wanita itu, dia hanya menipu mereka dan mendapatkan uang yang banyak….

Baekhyun adalah segalanya untuk Jongin. Jika tidak ada gadis itu dari dulu Jongin sudah mengakhiri hidupnya. Sekarang dia akan melakukan apapun untuk Bekhyun. Dan aku tak mengerti mengapa Tuhan begitu kejam padanya." Luhan termenung mendengar cerita Chanyeol.

"Kenapa dia tidak pindah ke rumah yang lebih layak?" tanya Luhan dengan sekuat tenaga setelah melihat kondisi rumah Jongin yang sudah tua. Chanyeol terdiam sejenak. Haruskah dia jujur pada Luhan?

"Karena mu." Kata Chanyeol akhirnya.

"Jika kami pergi kau tidak akan bisa menemukan kami disini. Aku sudah mengatakan pada Jongin bahwa kau sudah menikah dan tak akan mungkin kembali kesini lagi. Tapi dia tidak mempercayainya. Maka aku dan Baekhyun dengan berat hati menemaninya untuk tetap menunggu mu setiap hari." Kalimat terakhir dari Chanyeol membuat hati Luhan berdenyut sakit. Dia meninggalkan rumah Jongin dengan perasaan yang amat sangat bersalah.

.

.

.

Chanyeol mengangkat Baekhyun yang tertidur digendongan Jongin dan langsung membawanya ke kamar.

"Tadi Luhan kesini. Dia membawa bingkisan dan ini." Kata Chanyeol sambil menyerahkan amplop coklat pada Jongin. Jongin membuka amplop itu dan rahangnya langsung mengeras saat melihat cek sebesar 1 milyar won.

Jongin berlari keluar rumah tanpa mengatakan sepatah kata pun pada Chanyeol. Dia berharap Luhan masih ada disekitar sini. Jongin meremas kuat amplop yang ada digenggamannya itu. tiba-tiba kejadian enam tahun yang lalu terputar begitu saja dihadapannya. Perkataan Luhan yang akan membalas semua pengorbanannya terdengar ditelinga Jongin.

"Jika uang ini adalah balasan dari pengorbanan ku, dengan senang hati aku akan menolaknya." Kata Jongin pada dirinya sendiri.


Kyungsoo menunggu Luhan dihalaman rumahnya yang luas. Dan tersenyum saat melihat mobil Luhan memasuki garasi.

"Hai bisa kita bicara sebentar?" tanya Kyungsoo seramah mungkin. Sementara Luhan hanya mengangguk pasrah walaupun sebenarnya dia bingung kenapa anak tirinya ini bisa berubah ramah padanya tiba-tiba seperti ini.

"gomawo karena telah menyelamatkan nyawa ku saat dipesawat itu." kata Kyungsoo lembut.

"Bukan aku yang menolong mu. Tapi seorang dokter." Jawab Luhan. Kyungsoo tersenyum sinis.

"Dia bukan seorang dokter." Kata Kyungsoo singkat.

"Dia memang bukan dokter tapi dia berhasil menyelamatkan nyawa mu." Kyungsoo tersenyum lagi saat mendengar perkataan Luhan itu.

"Apakah kau bertemu dengan orang hebat itu dan memberikannya uang 1 milyar won?" tanya Kyungsoo. Tubuh Luhan menegang saat mendengar pertanyaan itu.

"Aku sudah lama menyuruh orang untuk mengikutimu. Aku ingin balas dendam dan mencari apa kelemahan mu. Setelah itu menendang mu keluar dari rumah ini." Kata Kyungsoo santai.

"Aku memberinya uang karena telah menyelamatkan nyawa mu." Kata Luhan. Kyungsoo tertawa kering.

"Kau memberinya uang karena telah menyelamatkan nyawa ku. Atau karena dia berusaha untuk membunuh ku?" tanya Kyungsoo sinis. Luhan kebingungan mencari alasan. Dia tidak mungkin mengatakan bahwa dia mengenal Jongin.

"Aku memberinya uang karena dia tau kalau dulu kau pernah memakai narkoba saat di Amerika. Dia mengancam ku, dan jika aku tidak memberinya uang dia akan menyebarkan aib mu itu." kata Luhan berusaha untuk terlihat tenang. Kyungoo diam.

"Harusnya kau lebih hati-hati. Jika ayah mu tau masalah itu kau pasti tidak akan mewarisi perusahannya." Lanjut Luhan.

Kyungsoo kembali mengingat kejadian di Amerika saat itu. narkoba yang dia simpan bukan miliknya, tapi milik mantan kekasihnya.

"Aku akan melakukan apapun untuk mu. Bahkan ayah ku akan membantu perusahaan ayah mu yang sekarang sedang dalam masalah."

Kyungsoo bahkan masih mengingat perkataan mantan kekasihnya itu saat meminta tolong menyembunyikan barang haram itu, atau dalam kata lain 'menjebaknya'.

.

.

.

Kyungsoo terdiam dikamarnya setelah mendengar perkataan Luhan tadi. Dia jadi mengingat kembali mantan kekasihnya itu. kyungsoo membuka ponselnya lalu menekan beberapa angka yang masih sangat dia ingat. Nomor mantan kekasihnya yang sudah memiliki keluarga. Namun Kyungsoo tidak peduli.

"Dulu aku menolong mu karena aku mencintai mu bukan karena ayah mu yang akan membantu perusahaan ayah ku." Kata Kyungsoo dingin, namun tak ada jawaban dari seberang. Kyungsoo kesal.

"Brengsek!" setelah kata itu keluar Kyungsoo langsung menutup telponnya. Ponsel Kyungsoo terus berdering, dan itu telpon dari mantan kekasihnya. Kyungsoo kesal lalu melemparkan ponselnya kedalam aquarium.


Hujan turun sangat deras. Jongin mengemudiakan mobilnya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Telpon dari Chanyeol.

"Aku akan pulang ke rumah karena urusan mendadak, kau tak perlu menghubungi ku dulu." Kata Chanyeol. Jongin mengiyakannya.

"Kalau kau berniat mengembalikan uang itu pada Luhan aku sarankan kau mengambil sepuluh persennya." Kata Chanyeol sambil tertawa. Jongin tau bahwa Chanyeol sedang bersama pacar barunya saat ini.

"Urus saja kekasih baru mu itu. Aku bisa mengurus urusan ku sendiri." Kata Jongin kemudian menutup telponnya.


Kyungsoo dan keluarganya sedang makan malam. Makan malam bisnis karena yang hadir tidak hanya anggota keluarga tapi ada juga Sehun dan Kris, pengacara sekaligus orang kepercayaan ayah Kyungsoo. Kyungsoo menatap ayahnya dan Kris yang meninggalkan ruang makan. Sementara Luhan hanya diam tidak mengeluarkan suara.

"Apa kau sudah menghubungi polisi? Aku benar-benar ingin menuntut dokter gadungan itu karena telah memeras ibu tiri ku." Kata Kyungsoo sambil melirik ke arah Luhan.

"AKu sudah melaporkannya tapi polisi meminta keterangan dari korban." Jawab Sehun sambil menatap Luhan. Luhan menggenggam sendok kuat-kut.

"Kau jangan pernah takut pada orang seperti itu. dia akan lebih memeras mu kalau kau tidak melakukan perlawanan, oke?" kata Kyungsoo tajam sambil tersenyum sinis pada Luhan. Senyum kesukaannya. Senyum yang bisa membuat lawannya diam membeku. Namun Luhan masih bungkam. Perasaannya berkecamuk. Kali ini dia akan menggiring Jongin kedalam tahanan lagi. Dan itu akan menimbulkan dampak yang lebih besar pada Jongin. Mungkin Jongin akan semakin membencinya.


Jongin berdiri didepan gerbang rumah Kyungsoo. Bahkan dia melihat gadis itu dan Sehun pergi tapi dia tidak memperduliknnya. Niatnya datang kesini adalah untuk mengembalikan uang yang ada ditangannya pada Xi Luhan. Cukup lama Jongin diam sampai akhirnya dia hanya menyimpan amplop itu di kotak surat.

Ponsel Jongin berbunyi. Baekhyun menelponnya panik karena ada polisi yang datang ke rumah mereka untuk mencari Jongin. Jongin cepat-cepat masuk kedalam mobilnya lalu mengemudikannya dengan cepat.

Jongin sampai dirumahnya. Dia bertanya kenapa polisi mencarinya. Sepertinya dia tidak melakukan kejahatan apapun.

"Wanita bernama Xi Luhan menuntut Kim Jongin atas kasus pemerasan uang sebesar 1 milyar won." Jawab polisi. Jongin diam termenung.

"Oppa ku orang baik! Dia tidak akan mungkin melakukan hal semacam itu!" teriak Baekhyun. Tapi polisi tidak menanggapinya. Dia menggiring Jongin pergi. Baekhyun mengejarnya ditengah hujan yang deras. Jongin mengambil payung hitam yang dibawa polisis lalu menyerahkannya pada Baekhyun, namun dia menepis payung itu kasar.

"Oppa tidak bersalah kenapa harus dibawa pergi!" teriak Baekhyun. Jongin menenangkannya dan menyuruh Baekhyun untuk pulang.

"Pulanglah. Kata dokter kau tidak boleh kehujanan. Keringkan tubuh mu ganti baju lalu minum obat." Kata Jongin penuh kesabaran.

"Aku tidak mau! Lebih baik aku mati!"

"Kalau begitu mati saja!" Teriak Jongin hilang kesabaran. Baekhyun terus menangis menyaksikan punggung Jongin menjauh meninggalkannya sendirian ditengah hujan deras dengan petir yang menggelegar.


Luhan sampai di kantor polisi bersama Kris. Tapi Luhan enggan untuk turun dari mobil. Dia tak akan sanggup melihat wajah Jongin dan melihat sorot matanya yang pasti akan menunjukan kebencian.

"Ayo turun." Kata Kris. Kemudian Luhan mengangguk dan dengan sekuat tenaga dia menahan semuanya.

Di ruang pemeriksaan Luhan dihadapkan langsung dengan Jongin yang hanya diam menatapnya tajam dan Luhan dengan penuh ketakutan juga menatap Jongin dalam diam.

"Apa benar Kim Jongin mengancam anda untuk uang sebesar 1 milyar won?" tanya penyelidik. Luhan diam tidak tau akan menjawab apa. Rentetan pertanyaan yang diajukan sang penyelidik tidak satupun yang dijawab olehnya. Sampai pada akhirnya Kris meminta Luhan untuk berkata jujur. Dan Luhan mengiyakan semua pertanyaan itu. sedangkan Jongin yang sebelumnya mengelak bahwa dirinya tidak bersalah sekarang hanya diam. Otaknya terus bertanya 'haruskah dia kembali terjerumus ke lubang yang sama untuk kedua kalinya karena gadis dihadapnnya ini?'

"Aku dan nuna saat ini adalah dua orang yang berbeda. Sebenarnya tanpa nuna melakukan ini pun aku sudah berniat untuk melupakan mu dan melepaskan mu dengan suami mu sekarang." Kata Jongin dalam hati.

.

.

.

Luhan berjalan gontai menuju kamarnya. Dia benar-benar merasa bersalah untuk kedua kalinya pada Jongin.

"Nyonya ada kiriman surat." Kata pembantu rumah ini. Luhan mengerutkan kening saat pembantunya menyerahkan amplop berwarna coklat yang dia yakini berisikan cek yang dia berikan pada Jongin.


Di ruang kerja ayahnya Kyungsoo di marahi habis-habisan karena telah mengubah status buruh yang awalnya kontrak menjadi permanen.

"Menurut ku ini wajar. Kalau ayah menganggap keputusan ku memberatkan perusahaan ayah salah besar! Perusahaan mampu menanggung pengeluaran ini!" kata Kyungsoo. Ayahnya menatap Kyungsoo geram. Dia melempar asbak keramik ke dinding dan pecahannya mengenai pipi Kyungsoo hingga berdarah.

"Kau masih menjadi gadis kecil yang bodoh! Sampai kapan aku harus menunggu mu menjadi wanita yang pantas untuk meneruskan perusahaan ku. Aku masih punya ibu Minju dan Minju. Jika kau tidak bisa menjadi dewasa maka pergilah! Seperti dulu ibumu melarikan diri." Kyungsoo terdiam bagaikan patung. Pecahan asbak yang mengenai pipinya tadi memang sakit tapi tidak sebanding dengan sakit hati saat mendengar kalimat yang tajam dari ayahnya itu. Kyungsoo pergi meninggalkan ayaahnya penuh kemarahan. Dan tanpa disadari Luhan mendengar semua pembicaraan mereka.

.

.

.

Luhan menemui Kyungsoo yang berada dibalkon kamarnya. Tapi tidak mengatakan apapun.

"Katanya kasus pemerasan itu dibatalkan karena tidak cukup bukti. Tapi aku akan tetap mengajukan tuntutan karena uang 1 milyar won itu hilang. Dan itu bukan nomilan uang yang sedikit." Kata Kyungsoo.

"Uangnya ada ditangan ku." Kata Luhan datar. Kyungsoo menatapnya tak percaya.

"Wae?" tanya Kyungsoo singkat.

"Karena dia gagal menjalankan tugasnya untuk membunuh anak tiri ku." Jawab Luhan tajam. Kyungsoo tersenyum ke arahnya namun tidak berkata apa-apa.

"Ingatlah kasus narkoba mu. Jika rahasia itu terbongkar aku yakin para pemegang saham tidak akan menyetujui mu menjadi pewaris perusahan. Saat ini saja mereka sudah tidak menyukai mu apalagi jika nanti aib itu terbongkar…." Luhan diam sejenak.

"Aku berterima kasih karena kasus mu itu aku dan Minju jadi mempunyai kesempatan yang sangat besar untuk mendapatkan DO corporation." Lanjutnya.

"Kenapa tidak sekarang saja kau memberitahu mereka." Kata Kyungsoo datar. Luhan tertawa hambar.

"Jika permainan dimulai dan diakhiri dalam waktu bersamaan pasti tidak akan menyenangkan. Aku akan menunggu mu menjadi wanita hebat yang bisa melawan ku. Tapi aku yakin sehebat apapun, kau pasti tidak akan bisa mengalahkan aku. Jadi jangan paksa aku untuk membocorkan rahasia mu dalam waktu dekat ini." Jawab Luhan. Kyungsoo menatapnya geram.

"Aku sudah siap!" katanya yakin. Luhan tertawa lagi. Namun kali ini tawanya terdengar sangat kering. Dia tidak mengerti mengapa jantungnya berdetak saat Kyungsoo mulai mengibarkan bendera perang. Anak tirinya yang selama ini hanya memancing peperangan akhirnya berhasil memulai perang yang sesungguhnya.


Pagi ini Jongin dibebaskan. Dalam hati dia tertawa puas karena Luhan tidak bisa menahannya lebih lama lagi dipenjara. Jongin sampai dirumahnya, dia mencari Baekhyun kemana-mana namun dia tidak menemukan adiknya itu.

"Kau mencari Baekhyun?" tanya seorang wanita tetangganya Jongin. Jongin hanya menganggukan kepalanya sebagai jawaban.

"Kemarin dia kehujanan dan pingsan saat mengejar mu. Aku membawanya ke rumah sakit." Kata tetangganya. Jongin berlari pergi meninggalkan tetangganya. Tak perlu bertanya dirumah sakit mana Baekhyun dirawat karena Jongin yakin tetangganya itu akan membawa Baekhyun ke rumah sakit didekat situ.

.

.

.

Baekhyun tertidur diruang ICU. Jongin menatapnya penuh rasa bersalah. Baru saja kemarin dokter berkata bahwa Baekhyun baik-baik saja dan sekarang Jongin harus melihatnya tertidur lemah diatas ranjang rumah sakit.

Jongin mengingat ucapannya kemarin pada Baekhyun saat dia menyuruh Baekhyun mati, dan perkataan Baekhyun yang menuduhnya lebih memilih Luhan dibandingkan dirinya, jika dia mati maka itu adalah kesalahan Jongin.

Jongin menggenggam tangan Baekhyun sambil menatapnya penuh rasa dendam. Dia dendam pada Luhn yang selalu membuatnya berada dalam suatu pilihan dan Bekhyunlah yang selalu menjadi korbannya.


Kyungsoo mengendarai motor balapnya yang selama ini dia simpan. Hobinya memang sangat unik mengendarai motor sekencang mungkin untuk menghilangkan stress. Namun beberapa tahun ini dia sibuk pada pekerjaan sehingga melupakan hobinya itu.

Kecepatan motor Kyungsoo tambahkan tidak takut dengan sesuatu yang buruk yang mungkin akan menimpanya.

Tiba-tiba seorang pengendara motor seperti Kyungsoo muncul menyalip motor Kyungsoo sehingga Kyungsoo berada dibelakangnya. Kyungsoo menambahkan kecepatannya lagi untuk menyusul motor itu, dan terjadilah aksi usul-menyusul seperti diarena balapan. Hanya berbeda, karena pengendara motor itu tidak memperdulikan keselamatan diri mereka sendiri.

Keduanya penuh ambisi, penuh semangat untuk bertarung seperti menjadikan 'balapan tidak terencana' ini sebagai ajang latihan untuk mental mereka yang akan menghadapi sebuah perang.

Motor Kyungsoo berada dibelakang motor lawannya. Tiba-toba motor didepan Kyungsoo terjatuh karena menabrak pohon yang tumbang. Kyungsoo tersenyum sinis. Kemenangan ada didepan matanya. Dan dia akan menyaksikan kekalahan Luhan suatu hari nanti.

Motor Kyungsoo terus terpacu. Sampai pada akhirnya dia ingin berhenti namun remnya blong. Wajah Kyungsoo panik. Kyungsoo dan motornya jatuh jurang tapi beruntung Kyungsoo masih bisa meraih akar pohon mati yang dapat menyelamatkan nyawanya untuk beberapa menit kedepan.

Kyungsoo mencoba menahan berat badannya. Waktu seolah bergerak lambat.

Satu…

Kyungsoo merasakan jantungnya tidak lagi berdetak. Angin bertiup kencang membuat dirinya merasakan kesejukan yang membuatnya nyaman namun menakutkan.

Dua…

Kyungsoo menutup matanya. Dalam hati dia berdoa akan ada yang menyelamatkannya. Karena jujur dia tidak akan ikhlas jika mati saat ini. Itu akan membuat ibu tirinya menang sebelum berperang.

Tiga…

Tangan seseorang menggenggam tangan Kyungsoo erat sebelum Kyungsoo benar-benar jatuh kedalam jurang. Mata Kyungsoo terbuka sepenuhnya. Ada malaikat yang menolongnya…

Dan malaikat itu adalah…

.

.

.

.

.

Kim Jongin.

-continue.


THANKS FOR REVIEW GUYS.

KALIAN BISA BUKA DI ( KAISOOSTORYS. BLOGSPOT. COM) UNTUK KELANJUTAN KISAHNYA.

DI SANA BAKALAN LEBIH DULU UPDATE HEHE.

DAN GA ADA PASSWORD APA-APA semuanya bebas baca. dan bisa kasih komentar juga say hai.

SORRY FOR TYPO IN THIS CHAPTER.

I LOVE YOU.