Chapter 2 :
.
.
.
Disclaimer : Vocaloid (c) Yahama Corp., Crypton Future Media, Internet Co., Power FX, Zero-G, AHS, etc.
Warning : AU, OOC (Oliver eyes isn't bandaged), Loly/Shota Future version (*plak), typo(s), misstypo(s), and many more :*
Happy reading and press review's button to review this (weird) story! Please review, no matter how cruel it is TAT!
.
.
Memang tak mudah mendapatkan izin dari sekolah untuk 'pulang' lebih awal. Apalagi yang minta pulang lebih awal tersebut adalah anak dari kelas terbelakang, kelas 2-D. Contohnya pada hari ini, Oliver mau minta 'pulang' karena ada 'keperluan'.
Setelah acara flashback bersama kakak kembarnya, Yohio, dan beberapa menit acara adu jotos dengan ketua Komite Kedisiplinan Sekolah itu...
(Yah, meskipun pada kenyataan Oliver kebanyakan menghindar karena tidak mood berkelahi...)
...Oliver mendapatkan panggilan dari sahabat karibnya sejak SD, Kaai Yuki, yang merupakan salah satu agen detektif di biro milik ayah dan ibunya.
Makhluk, maksudnya, orang yang menjadi klien mereka kali ini adalah keluarga Kagamine yang putrinya diculik. Putrinya bernama Lenka.
Ah, ada yang terlewat.
Karena keluarga Kagamine itu super kaya (sangat kaya malah sampai punya 4 pulau pribadi yang tersebar di seluruh dunia) dan manusia bernama Lenka yang berjenis kelamin perempuan itu hobi keluyuran, maka panggilan kali adalah panggilan ke-25 untuk Oliver untuk mengurus kasus penculikan dalam rentang waktu 3 bulan terakhir.
Dengan kata lain, Lenka itu sering diculik.
Oliver mengutuk dirinya yang selalu lupa membawa ID card biro-nya, satu-satunya barang yang bisa membuktikan bahwa dia bukan anak SMA biasa, yah, meskipun dia masuk kelas yang tidak biasa.
Oliver juga mengutuk petugas piket kali ini, Al-sensei.
Al-sensei adalah guru olahraga yang sudah lama mengabdi di sekolah ini. Dia tak akan membiarkan satu muridnya pun kabur. Kabur, maka dia akan terus mencarimu.
("Inilah yang seharusnya dilakukan oleh tenaga pendidik, tidak membiarkan satu pun muridnya untuk bolos tanpa alasan yang jelas!" dia pernah berkoar-koar seperti itu ketika upacara penerimaan siswa baru.)
Dan Oliver benar-benar kehabisan akal sekarang untuk mengelabui guru yang satu ini.
"Ayolah, sensei, ini yang terakhir kalinya," mohon Oliver. "Aku kehilangan kacamataku dan Yohio-san merebut kontak lensaku. Sensei pikir sekarang, apa bisa anak terbelakang sepertiku belajar tanpa alat bantu lihat. Bahkan, aku tak bisa melihat tulisan di tanda pengenal sensei saking buramnya,"
-Anak ini licin sekali berbohongnya!
Oliver membiarkan mata kanannya terbuka dan tak sengaja menatap mata Al-sensei.
-Apa-apaan dia menatapku seperti itu dan kenapa dengan matanya?
"Sensei, lihat mataku,"
Meskipun terdengar ambigu, Oliver memasang ekspresi serius.
-Apa yang terjadi dengan matanya?
"Matamu-"
"Mungkin baru sensei dan Avanna-sensei yang mengetahui soal mataku," Oliver memasang lensa kontaknya setelah sebelumnya berbalik. "Aku clairvoyant tipe mind reader. Aku bisa membaca pikiran sensei dengan hanya dengan menatap mata sensei."
Al-sensei menatap Oliver kaget.
"U-uso da!" Al-sensei menggebrak meja piket. "Ma-mana ada yang bisa seperti itu!"
"Sebenarnya seorang terapist atau psikiater bisa melakukan hal seperti tapi metode yang mereka pakai sebelumnya harus membawa sang pasien dalam keadaan super relax, menjadikan kemampuan 'baca pikiran' tersebut seperti aksi hipnotis," jelas Oliver. "Sementara mataku berbeda, aku hanya perlu menatap dan sejurus kemudian pikiran orang yang kutatap akan terdengar di dalam kepalaku."
Al-sensei menatap muridnya yang satu ini tidak percaya.
"Lalu, kenapa kau menyebut dirimu sebagai agen detektif?" tanya Al-sensei.
"Karena aku memang seorang agen detektif," jawab Oliver santai. "Tapi aku tak pernah menyebarkannya pada siapapun. Baru pada sensei seorang."
"Bocah SMA sepertimu?"
"Semua orang kelebihan dan kekurangan masing-masing, 'kan?" Oliver menaikkan satu alisnya. "Aku memiliki jumlah kekurangan yang sangat banyak dan terkadang aku menganggap kemampuan clairvoyance-ku adalah kekurangan juga."
"Padahal kemampuanmu adalah kemampuan yang belum tentu dimiliki orang lain,"
"Tepat sekali," Oliver menepukkan kedua tangannya. "Aku hanya akan menganggap mata dan kemampuanku sebagai kelebihan ketika aku berhasil menyelamatkan sesuatu. Di saat seperti itu, aku akan berterima kasih pada Kami-sama. Tapi jika mata dan kemampuanku hanya dipakai untuk (tak sengaja) membaca pikiran orang lain, aku hanya menganggap mata dan kekuatanku sebagai kekurangan, tidak, maksudku, sebagai kecacatan yang harusnya dialami orang beruntung di luar sana."
Oliver menundukkan kepalanya ketika dia menjelaskan perihal sudut pandangnya dalam menilai mata dan kemampuannya. Tinjunya terkepal ketika dia menekan kata 'beruntung'. Dia menggigit bibir bawahnya ketika selesai menjelaskan dan bahunya sedikit bergetar.
-Apa yang dirasakannya? Dia marah.. atau.. sedih?
Oliver mengacak rambutnya ketika matanya lagi-lagi bertemu dengan mata Al-sensei. "Aku tidak marah atau sedih. Aku hanya, yah, sensei tahu, 'kan? Aku merasa sedikitt frustasi."
Al-sensei mengeluarkan selembar kertas dan mencatat sesuatu disana.
"Pergilah. Aku akan membuat surat izin untukmu,"
Oliver kaget dengan perlakuan gurunya yang satu itu. "A-arigatou, sensei!"
"Hm-mh, cepat pergi dan selesaikan urusanmu! Kalau sempat, kau kembali lagi ke sini dan lanjutkan pelajaranmu."
"Ha-ha'i! Arigatou, sensei!"
Oliver berlari menuju gerbang dan ketika dia sudah keluar dari lingkungan sekolahnya, dia menelepon Yuki lagi.
"Bagaimana kasusnya? Apa ada perkembangan?" tanya Oliver.
'Be-belum. Aku masih mengurus surat izinku. Sebaiknya kau ke kantor terlebih dahulu. Jaa!'
Yuki memutus panggilan secara sepihak.
.
.
.
Saat lari-lari kencang menuju biro seperti ini, Oliver selalu ingat, bagaimana caranya dia bisa masuk ke biro detektif delapan tahun yang lalu.
.
.
.
.
(Flashback)
.
.
.
Setelah kejadian belanjaan yang acak-acakan yang mengakibatkan pergelangan tangan kanan Oliver patah, Oliver sekarang mendapat satu 'hadiah' dari ibu tercintanya...
... tidak akan mendapatkan makanan sesuap pun.
Memang, biasanya Oliver tidak mendapatkan makan, tapi hanya di malam hari. Ibunya masih dengan (terpaksa) menyediakan bento untuknya sebelumnya. Tapi kini dia tak mendapatkan makanan sesuap pun dari rumahnya sendiri.
Seminggu kemudian, tangan kanannya sudah pulih dan dia baru saja mengakhiri kegiatannya menjadi pesuruh rumah tangga di rumahnya sendiri.
Oliver berjalan lesu menuju kamarnya setelah merapikan gudang yang kemarin diberantakkan Yohio untuk mencari roda sepeda cadangannya dan membersihkan kamar mandi.
Oliver lagi-lagi menghempaskan dirinya di futon. Dia menghela nafas dan hampir lupa jika bajunya basah.
-Bagus, padahal bajuku yang lain masih di laundry!-
Oliver membuka kausnya dan melemparnya asal ke sudut kamar. Dia membuka sebuah kotak kardus yang berisi pakaiannya dan menarik sebuah jaket bertudung berwarna hitam yang kelewat kebesaran untuk ukuran badannya. Dia melihat kardus tersebut lagi, tidak ada pakaian lagi di dalamnya kecuali sebuah celana pendek yang sudah robek.
'Kenapa juga tadi harus kepeleset terus nyungsep ke bathtub? Menyusahkan saja!' pikirnya sambil memakai jaket tersebut.
Ketika dia sudah merestletingkan jaketnya tersebut, dia berbaring di futonnya dan dia mengeluarkan tangannya dari lengan jaket untuk menutup luka diperutnya agar tak bersentuhan dengan barang seperti bahan jaketnya yang agak kasar.
Sekejap kemudian, dia tertidur pulas.
.
.
.
.
"OLIVER-SIALAN! BANGUN!" Lola menggedor pintu kamar Oliver brutal. Oliver belum bangun juga karena dia terlalu pulas.
Lola menendang pintu tersebut sampai engsel copotnya dan pintu jatuh menimpa kaki Oliver.
Oliver menjerit kesakitan, debar jantungnya terasa sampai ke dadanya karena kaget ditambah impuls rasa sakit yang menjalar.
Dia menggerakkan kakinya untuk menyingkirkan pintu tersebut. Di depannya, Lola berdiri berkacak pinggang.
Dia mengeluarkan tangannya dari dalam jaket (ingat dia tak memasukkan tangannya ke dalam lengan jaket?). Dia sengaja mengusap-ngusap matanya seolah-olah dia sedang berusaha menghilangkan kotoran di sekitar matanya. Dengan mengusap mata kanannya sekaligus menutupi mata kanannya agar dia bisa memenuhi tata krama 'menatap orang yang dijadikan lawan bicara' padahal dia menghindari dan menghindari dia membaca pikiran ibunya.
"Ada apa, Kaa-san?" tanya Oliver sambil menguap.
"Jangan tanya 'ada apa?'! Kau tahu 'kan sekarang jam berapa?!"
Oliver melirik weker berbentuk monster-nya.
"Jam 10 malam?" balas Oliver dengan nada ragu.
"Apa kau tahu apa yang kurang dalam rumah ini?" tanya Lola lagi kini dia duduk supaya bisa menunduk dan menatap Oliver. "Apa aku harus mengajarimu bagaimana caranya tatakrama berbicara? Lepaskan tanganmu dari matamu!"
-Bocah tolol ini melupakan Yohio!
Oliver baru ingat jika dia seharusnya menjemput Yohio yang dititipkan di rumah bibinya yang tinggal di kaki bukit selepas pulang sekolah.
Oliver menelan ludahnya ragu.
"Kalau begitu ambil sepedamu dan bawa jaket ini lalu jemput Yohio sekarang!" Lola meraih tudung jaket Oliver sekuat tenaga sampai jaket itu terlepas dari tubuh Oliver.
Lola membulatkan matanya. Nafasnya tercekat.
Lola melihat, badan Oliver yang sangat kurus sampai-sampai tulang rusuknya tercetak di dadanya. Kulitnya pucat dengan lebam-lebam dan luka gores acak yang mengerikan. Di perutnya ada satu garis besar yang melintang berwarna keunguan. Di punggungnya yang kecil dan pucat dimana tulang belikatnya tercetak ke atas jika dia menggerakkannya, ada satu luka yang memanjang sampai ke pinggang yang masih ditempeli kasa steril dan plester. Kasa itu sudah terlihat menguning.
"Kenapa kau tidak pakai ba-baju?" tanya Lola.
Oliver tidak menatap ibunya karena dia sibuk mencari baju yang mungkin masih bisa dipakainya. Dia menyerah karena bajunya kebanyakan sangat kotor dan basah.
"Kaa-san kembalikan jaket itu." Oliver meminta balik jaketnya sambil menutupi luka di perutnya dengan sebelah tangannya.
-Luka-lukanya itu.. perbuatanku?
"Punggungmu kenapa?" tanya Lola sambil menjatuhkan jaket itu
Oliver memandang ibunya ragu. Oliver mengambil jaket itu dan segera memakainya sebelum dia tambah kedinginan.
"Itu luka karena aku terjatuh dari atap waktu mengambil helikopter mainan Yohio. Aku kena kawat berduri yang jadi pembatas pagar."
Oliver menggosok pipinya dan telapak kakinya yang dingin bagai es. Ini musim dingin dan dia merutuk dirinya karena barusan dia tidur tanpa selimut dan kakinya yang tertutup celana berkontakan dengan dinginnya lantai.
Ah, dia ingat dia harus menjemput Yohio.
"Kaa-san, mana jaket buat Yohio? Dia selalu mengenakan dua jaket, 'kan?" tanya Oliver sambil menarik tudung jaketnya agar dia bisa menutupi kepalanya.
"Sudah duduk saja atau kembali tidur, aku yang akan menjemputnya." Lola berucap datar, meskipun begitu Oliver sempat mendengar suara ibunya sempat bergetar.
"Eh?"
"Ti-tidurlah ke-kembali!" Lola membiarkan matanya bertatapan dengan Oliver.
-Kenapa aku tak pernah tahu jika tiap kali aku menyiksanya itu akan menghasilkan luka yang cukup parah?
Oliver mendengar suara pikiran ibunya.
-Eh, dia memiliki hati juga?-
"Bi-biar aku saja yang jemput," Oliver berucap ragu. Dia mengetahui pikiran ibunya dan dia merasa tersentuh. Ibunya masih memiliki hati untuknya dan itu membuat Oliver bahagia. "Hoaamm, lagi pula aku sudah tidur.. Aku saja yang jemput."
Lola menjewer kedua telinga Oliver.
Tapi Oliver tak merasakan hawa penyiksaan yang biasanya melekat di diri wanita berumur 35 tahun itu.
-Kaa-san menjewerku nggak pakai tenaga!-
Oliver menatap ibunya.
-Aku bersalah! Seharusnya aku tak perlu menyiksanya seperti itu! Tapi tidak!
Oliver menautkan alisnya bingung. Jika Lola tidak mau menyiksa Oliver, lantas apa dasarnya Lola menyiksa Oliver hingga saat ini?
"Aku yang jemput. Tidurlah kembali!" Lola mengangkat pintu tersebut. "Di gudang masih ada futon. Kau boleh menggunakannya. Di kamar mandi, ada kotak P3K. Balut lukamu apalagi yang diperut, jangan sampai i-infeksi-" suara Lola terdengar bergetar kembali.
Oliver meraba perutnya.
Luka di perut itu, luka paling baru yang dia dapatkan. Luka itu di dapat kemarin karena dia tak sengaja memukul Yohio dan Lola segera membalasnya dengan mencambuk perutnya.
"Ka-Kaa-san?"
Lola berlari keluar dari kamar tersebut.
Malas memikirkan kenapa ibunya bertindak aneh seperti itu, Oliver hanya mengedikkan bahunya dan membaringkan diri di atas futon lalu tertidur kembali.
.
.
.
Lola merasa bersalah setelah tak sengaja melihat luka-luka di badan anak keduanya itu.
'Aku pengirim darah clairvoyant itu,' pikir Lola sambil menyetir mobil. Di sebelahnya Yohio tertidur.
Sesampainya di rumah, Lola memarkirkan mobil di garasi, menggendong Yohio dan membaringkan di tempat tidurnya.
Lola berjalan menuju kamar mandi dan membuka lemari kecil di sana. Kotak P3K masih terletak di sana.
Lola mengambil kotak tersebut dan pergi ke kamar Oliver.
Oliver masih tertidur pulas, tidak terganggu sama sekali. Wajahnya pucat dan pipinya merah. Apa dia sakit?
Dengan ragu Lola menyentuh kening Oliver dan merasakan dingin di permukaan jarinya.
"Ka-KAA-SAN!" Oliver berteriak tanpa sadar sambil beringsut difutonnya.
"Lepas jaketmu!"
"Eh?"
"BUKA!"
Oliver melepas jaketnya dan segera menutup luka pecutnya yang besar.
Lola memutar badan Oliver kasar dan melepas plester di punggung Oliver. Oliver meringis ketika plester itu dicabut, perih karena rambut-rambut halus di punggungnya terangkat dengan plester itu.
"Sudah berapa lama ini tak diganti?" tanya Lola sambil membuka tutup botol alkohol 70% dan membasahi beberapa lembar kapas lalu mengusapnya agak lembut ke punggung Oliver.
"I-iitttaii.. itai! Ugh.. kira-kira 3 hari yang lalu," Oliver meringis ketika cairan dingin yang ada dalam kapas itu menyentuh punggungnya.
"Kalau sampai infeksi bagaimana?!" Lola menekan sedikir kapasnya dan Oliver meringis tambah kencang.
Oliver tidak bisa melihat mata Lola. Ingin sekali dia menatap wanita yang selama ini dianggapnya sebagai ibu. Meskipun dia kasar, terkadang dia bisa bertindak baik seperti ini.
"Aku tahu kau bisa membaca pikiranku," ucap Lola sambil melilit perban ke punggung Oliver. "Aku adalah clairvoyant yang gagal."
"Gagal?"
"Kau ingat bibimu? Ann?"
Oliver mengangguk.
"Dia adalah adikku yang 100 persen menurunkan darah clairvoyant kakekmu,"
"Lalu?"
"Yah, karena aku tidak hanya memiliki 40 persen darah clairvoyant tersebut, aku diabaikan ayah dan ibuku."
"Kakek dan nenek mengabaikan Kaa-san?"
-Jadi, aku ini pelampiasan masa kecilnya?!-
"Begitulah..." Lola menjawab ambigu dengan lesu.
-Tunggu, jika Kaa-san punya 40% darah clairvoyant berarti dia bisa 'membaca' juga?-
"Sejak saat itu, aku membenci clairvoyant," lanjut Lola. "Aku tidak pernah menyangka jika kau mendapatkan lagi darah clairvoyant itu, bahkan sampai 100 persen."
Lola menempel ujung perban dengan pleseter dan membalik badan Oliver lembut.
"Jadi-" Oliver menelan kembali kalimatnya. Dia mengalihkan perhatiannya pada perban yang melingkari dada bawahnya.
-Apa kau membenciku?-
"Aku bisa mendengarmu," Lola menyentil jidat Oliver. "Gelombangku denganmu gelombangmu sama, jadi mudah bagiku untuk mendengarkan isi pikiran seseorang dengan gelombang yang sama denganku. Apalagi jika kita sedang dalam emosi yang stabil."
"Jadi?"
"Kuberitahu kau satu hal lagi," Lola mengangkat jari telunjuknya. "Yohio menginginkan kemampuanmu,"
"Kemampuanku? Maksud Kaa-san, dia ingin jadi CLAIRVOYANT?!" Oliver kelepasan berteriak. Lola tiba-tiba membekap mulutnya. "Berisik! Untung dia sama kerbaunya denganmu jika tidur. Diam, oke? Aku akan melanjutkan ceritaku."
Oliver mengangguk.
"Dia tidak tahu resiko jadi clairvoyant," Lola memakai Oliver jaket. "Ledakan emosi, sakit hati, dan belasan perasaan menyakitkan lainnya. Bukankah itu membuatmu, kau tahu, bingung, 'kan?"
Oliver mengangguk lagi.
"Aku hanya ingin menjauhkanmu dengannya, supaya dia melupakan ambisinya menjadi clairvoyant. Aku terpaksa menunjukkan rasa ketidaksukaanku pada clairvoyant dengan cara... menyiksa.. mu."
Oliver sekarang tahu alasan mengapa dia diperlakukan agak tidak manusiawi. Sambil menghelas nafas, Oliver tersenyum tipis.
"Sebenarnya, Kaa-san sudah lama ingin membicarakan ini denganmu.. Tapi..." Lola memutuskan kalimatnya dan mendekap Oliver sambil berlutut, mensejajarkan dirinya dengan Oliver. Bahu Lola bergetar dan Oliver merasakan bahunya agak basah, "maafkan aku... Maafkan aku! Maafkan aku! Aku.. aku.. hanya.. ingin-"
"Kaa-san," Oliver memotong ucapan Lola dan menatap Lola, berusaha tak membacanya. "Apa Kaa-san membenciku?"
Lola menggeleng pelan.
"Baiklah, aku mengerti," Oliver berucap dan membalas pelukan Lola. "Semua ini untuk kebaikan kita semua, 'kan?"
Lola semakin terisak di bahu kecil Oliver. Meskipun kurus dan kecil, Lola merasa Oliver adalah makhluk yang paling nyaman untuk dipeluk.
Bagi Oliver, dipeluk seperti ini membuatnya semakin nyaman saja. Dia menaruh dagunya di atas bahu Lola sementara Lola membenamkan wajahnya di bahu kecilnya. Kehangatan tubuh Lola menjalari tubuhnya. Sensasi hangat menguar di dadanya..
Uhhh, dia ingin menangis sekarang.
Setelah beberapa menit terisak, Lola melepas pelukannya dan menatap putra keduanya tersebut. Matanya yang sembabnya kini berbinar.
"Kau adalah clairvoyant, Oliver." Lola berdiri dan berjalan keluar dari kamar Oliver. "Aku akan berusaha menjadi ibu untukmu, aku menyesal telah menanamkan kebencian yang salah. Hei, jangan sampai Yohio tahu soal ini, 'ya?"
Oliver mengangguk.
"Oh ya, keluarga Kaai tengah membangun sebuah biro yang menangani masalah via psychometry dan supernatural," Lola menatap Oliver kembali. "Kau akan kudaftarkan ke sana. Bagaimana?"
"Akan kupikirkan. Arigatou, Kaa-san!"
"Ha'i, ha'i." Lola tersenyum lebar. "Oyasuminasai."
"Oyasuminasai."
Setelah Lola menuruni tangga untuk masuk ke kamarnya, Oliver mencubit pipinya.
"Sugoii," Oliver masuk ke dalam futonnya heboh. "Ini bukan mimpi! Arigatou, Kami-sama!"
Untuk pertama kalinya, Oliver tidur pulas karena senang.
.
.
.
(End of flashback)
.
.
.
Oliver berlari menuju kantor bironya dengan sekuat tenaga. Pikirannya dipenuhi dengan kemungkinan-kemungkinan siapa yang kini menculik Lenka.
Ponselnya tiba-tiba berdering. Masih meneruskan larinya, dia mengangkat panggilan tersebut.
"Moshi-"
'OLIVERRR! HAAH... KAGAMINE-SAMAMELAPORKANSESUATU.. HAAH!'
Yuki berteriak ketika sambungannya tersambung.
"HAH?!" Oliver tidak paham dengan apa yang diucapkan Yuki. "Oi, ngomongnya pelan-pelan! Berhenti berlari dan jelaskan padaku."
Ada bunyi decitan sepatu yang heboh terdengar di speaker ponsel Oliver.
"Kagamine-sama, melaporkan kalau penculik meninggalkan pesan lagi," Yuki berucap setelah nafasnya menenang. "Kali ini ulah seseorang berinisal Hanabi. Mereka meminta tebusan, yah, seperti biasa, 10.000.000 yen. Kurasa makhluk bernama Hanabi ini masih merupakan komplotan dari karyawan Kagamine-san yang dipecat."
"Hhh," Oliver berhenti berlari. "Kasus keduapuluh sekian dalam bulan ini, apa si Kagamine-sama itu tidak bisa menyewa pengawal pribadi?"
'Kita pengawal pribadinya, baka.' Yuki menyahut. 'Kita sudah disewa.'
"Maksudku, pengawal pribadi untuk sehari-hari. Gahhh, tasku ketinggalan!" Oliver merutuki kebodohannya lagi dan lagi.
'Aku ada di perempatan,'
"-OLIVER!"
Yuki berteriak dari seberang jalan sambil melambaikan sebelah tangannya. Setelah tengok kiri dan tengok kanan, dia berlari untuk menyebrangi jalan.
Kaai Yuki, gadis berambut hitam berponi dengan berkuncir dua rendah. Gadis yang memiliki penampilan seperti bocah SMP ini adalah mata-mata di biro yang dimiliki ayahnya. Jadi, jangan main-main.
"Oliver!" Yuki berhenti dan memegang kedua lututnya. "Ayo ke markas, Kiyo-nii sudah menunggu."
.
.
.
Hiyama Kiyoteru adalah kakak tiri Yuki yang juga berprofesi sebagai kepala Divisi Kasus Kriminal di biro yang dimiliki keluarganya. Lelaki jangkung berkacamata berambut coklat yang selalu dipanggil 'Kiyo-nii' oleh Yuki ini juga berprofesi sebagai salah satu guru magang pelajaran matematika di sekolah Oliver.
Ah, soal marganya yang berbeda dengan Yuki itu karena Kiyoteru tidak mau melepaskan marga ayahnya yang sudah meninggal saat dia berusia 12 tahun.
"Kau kabur lagi, 'ya?" sambut Kiyoteru sambil mengetik di laptopnya saat Oliver masuk dan mau mengucap salam.
"Eh, Kiyo-sensei kenapa bertanya lagi? Aku 'kan rajin kabur tiap mata pelajaran Avanna-sensei." Oliver nyengir. Yuki kicep. Kiyoteru facepalm.
"Makanya kau masuk kelas anak buangan juga karena kau malas."
"Aku bukan malas tapi sibuk seperti saat ini," Oliver menggeleng. "Ah, manusia bernama Hanabi itu sudah kau temukan?"
"Agen detektifnya, 'kan, kau dan Yuki. Aku cuma koordinator,"
"Buh, enak banget kerjaannya," Yuki menggembungkan pipinya. "Sudahlah, coba cari Ryuto di ruang database. Kurasa dia menemukan sesuatu." Kiyoteru menurunkan perintah yang langsung disambut anggukan oleh kedua remaja yang sudah dianggap sebagai adiknya itu.
"Pergi dulu, Kapten Pedobear.." Oliver melambaikan tangannya sambil melenggang keluar dari ruangan Kiyoteru. Yuki tertawa terbahak dan Kiyoteru sebisa mungkin menahan dirinya agar tak melemparkan laptopnya kepada Oliver.
"Dasar bocah gila!" teriak Kiyoteru OOC.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
Mind To Review?
.
.
.
Shintaro Arisa, out!
