One Piece © Eiichiro Oda
Undercover Rockstar © Viero D. Eclipse
Pairing: Ace x Luffy (AceLu), Slight Zoro x Sanji (ZoSan)
Genre: Romance/Humor/Drama
Rated: T
Warning: AU, Shounen Ai (BoyxBoy Love!)
Don't like? Don't read!
-Chapter 1-
Weird Surrounding
.
Ada sebuah keadaan asing bernama lingkungan baru. Dan dalam keadaan itu selalu terlahir sebuah usaha penyesuaian diri bernamakan... adaptasi.
.
"LUFFY! KEMARIIIII!"
Pagi menggema dan pertempuran dimulai.
Sebongkah teriakan itu sungguh mampu membuat segenap penghuni kelas jurusan ilmu kelautan mengalami tuli untuk sementara. Suara itu begitu memekakkan telinga. Dua figur manusia kini sudah tampak berlarian, saling mengejar satu sama lain. Yang bergender laki-laki tampak kelaparan. Sedang yang gadis hanya bisa emosi dan menodongkan puluhan poster yang sudah digulung rapi. Panorama itu sungguh mirip seperti gambaran perang dunia.
"Hieee! Aku mau daging! Kumpulan poster-poster itu tak akan membuatku kenyang!"
"BAKA! SIAPA JUGA YANG MENYURUHMU UNTUK MEMAKAN POSTER-POSTERKU INI, HAH? JANGAN LARI, LUFFY!" Nami tampak begitu garang. Dengan gesitnya, gadis itu menghentakkan kedua kakinya untuk berlari mengejar korbannya. Luffy tetap persisten untuk mengelak keinginan mahasiswi setengah predator itu. Sudah hampir dua jam ia dipaksa untuk menatap kumpulan poster-poster nista Black Spade dan ia pun harus merelakan kedua telinganya menjadi panas karena terus-terusan dihantam oleh ceramah Nami. Ia lapar. Dan ia ingin makan sekarang.
Persetan Black Spade, Meat is FOR LIFE!
"LUUUUUFFY!"
"Hu-Huwaaa! Zo-Zoro, Toloooong!" jemari dengan kilatan kuku tajam itu hampir saja meraih punggung Luffy. Pemuda bermata obsidian itu semakin bertampang horor. Nyawanya terancam bahaya. Ia lapar dan Nami mengincarnya. Ia ingin daging dan Nami memberinya... poster-poster Black Spade?
What the hell is wrong with her?
"Sudahlah, Nami. Percuma kau memaksa Luffy seperti itu." pernyataan Zoro sepertinya tidak digubris sedikitpun oleh Nami. Gadis itu tetap mengejar Luffy hingga keluar kelas.
"TUNGGU LUFFY! JANGAN LARI! AKU BELUM MENJELASKAN KEHEBATAN MARCO PADAMU!"
"Aku tak peduli dengan Mar- siapa tadi? Mario?"
"Marco!"
"Mar- Apa?"
"Marco!
"Pablo?"
"MARCO, BAKA! MARCOOOO!"
"AH, SUDAHLAH! MAU BARCO ATAU SIAPAPUN, AKU TAK PEDULI, NAMI! AKU AKAN TETAP SETIA PADA DAGING SAMPAI MATI!"
"Ya ampun..." sebulir keringat mengalir di pelipis Zoro. Usopp yang tengah duduk di belakang bangku pemuda berambut hijau itu hanya dapat menggeleng miris.
"Sebaiknya kita berdoa, Zoro. Agar Luffy bisa kembali dengan selamat tanpa kurang satu apapun." Usopp mendramatisir. Tapi apa yang dikatakan oleh pemuda berhidung panjang itu ada benarnya juga. Tak ada yang bisa Zoro ucapkan selain hanya kata...
"Amin."
Luffy terus melangkahkan kakinya untuk keluar dari pekarangan kampus. Ia sadar bahwa secara tak langsung, ia sudah cabut dari kampusnya itu. Namun, ia tak peduli. Saat ini, hanya ada dua tujuan yang hendak ia capai.
Lari dari Nami dan juga...
Menuju... Restoran Baratie.
Untuk tujuan kedua, jangan pernah salahkan dia. Tidak, Luffy tidaklah salah. Salahkan perutnya yang meronta-ronta kelaparan. Nafsu makannya telah mengalahkan kinerja nalarnya sendiri.
Dan jangan lupakan Nami yang tetap setia mengejarnya hingga ke ujung dunia sekalipun. Bukan untuk Luffy. Tapi demi Black Spade tentunya. Ia akan melakukan apa saja agar fanbase Black Spade semakin besar. Tak peduli jika anggota yang direkrut adalah pemuda lugu macam Luffy. Kualitas bukanlah tujuan utama. Yang terpenting bagi Nami adalah kuantitas. Ya, meskipun Luffy tak akan pernah menyukai band ini, tapi setidaknya pemuda itu haruslah tahu secara mendalam mengenai Black Spade.
Prinsip Nami; Tak boleh ada satupun eksistensi manusia yang tidak mengetahui tentang Black Spade. Titik.
Sungguh malang. Kenapa harus Luffy yang mengalami situasi neraka ini?
"LUUUUFFY! APA BURUKNYA MENJADI PENGGEMAR BLACK SPADE, HAH? AKU HANYA INGIN MEMBERI CAHAYA KESELAMATAN PADAMUU!"
Cahaya keselamatan katanya? Haha... What the hell?
Luffy hanya dapat bertampang aneh. Sudah hampir seminggu gadis itu berusaha meracuni otak Luffy dengan Black Spade. Setiap lima jam sekali, Luffy dipaksa untuk memandangi poster-poster Black Spade milik Nami diiringi dengan penghayatan diri. Hah, siapa yang tahan dengan perlakuan konyol seperti itu? Luffy bahkan tak diijinkan untuk pergi ke cafetaria saat jam makan siang sudah berdentang. Ia harus meneriakkan kalimat "I love Black Spade" selama seratus kali barulah ia diijinkan untuk makan di cafetaria. Dan yang terburuk adalah, Luffy sudah tak sempat lagi untuk memakan sesuatu karena jam makan siangnya telah habis.
Baiklah...
Ada yang bilang bahwa menjadi mahasiswa adalah sebuah garis untuk masuk dalah kehidupan yang bebas tanpa peraturan. Pemuda bermata obsidian itu bisa saja cabut ke cafetaria secara diam-diam. Namun, Universitas Mugiwara adalah sebuah universitas dengan peraturan yang ketat. Universitas itu berbeda dari universitas lainnya. Beberapa peraturan masihlah berlaku di sana. Kampusnya itu sungguh tak ada bedanya dengan sekolah menengah atas. Dan Luffy haruslah mematuhi hal itu jika ia tak ingin mendapat hukuman. Sungguh sebuah universitas yang merepotkan.
Ditambah lagi dengan combo penyiksaan Nami. Lengkap sudah semua distopia ini.
Ia sungguh tak menyangka bahwa siksaan Nami bisa lebih mengerikan dari program pelatihan yang diberikan kakeknya. Ini benar-benar mimpi buruk!
Grrooowl!
"Huwaaa... Aku lapaar!" Luffy berusaha untuk bertahan. Sedikit lagi. Hanya tinggal beberapa jengkal saja ia akan tiba di Restoran Baratie. Nyawanya seakan berada di ujung tanduk. Lapar berarti sekarat. Dan ia hanya ingin daging. Sungguh, Tuhan! Yang ia inginkan saat ini hanyalah daging, tak ada yang lain.
Dan sialnya, keberuntungan tak berpihak pada sang Meat-Lover itu.
KRAAAKK!
"KENA KAU!"
"AAAKKKHHH! LEPASKAN AKU, NAMI!" Luffy menggelepar bagaikan ikan. Nami berhasil mencengkram kemeja yang ia pakai. Kedua tangan Luffy melambai-lambai ke depan. Restoran Baratiesudah ada di depan mata.
"Hahaha... tak akan kuijinkan kau makan sebelum mengucapkan kata kuncinya. Kau tahu apa maksudku 'kan, Luffy?" mahasiswi berambut oranye itu menyeringai licik.
"Kata kunci?" Luffy terdiam sejenak untuk berpikir. Tak membutuhkan waktu lama sebelum pada akhirnya ia menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Nami tersenyum melihat itu.
"Baiklah, katakan dengan sangat keras! Kata kuncinya adalah..."
...
...
"SANJIIIIEEE! DAGIIIIIING!"
Gubraak!
"BAKAYAROOO!"
"Jadi ini tempatnya?"
"Benar. Selamat datang di East Blue. Kota dengan hamparan laut yang begitu lembut."
Dua figur pria tampak berdiri di depan sebuah apartemen. Sebuah taksi yang mereka tumpangi sudah berjalan pergi meninggalkan mereka. Hembusan angin tampak menggeraikan helai rambut milik keduanya. Pemuda dengan mata obsidian berserpih kelabu tampak mengamati nama apartemen yang akan ia singgahi itu dengan seksama.
"Apartemen... Beauty Dadan?" sungguh aneh. Kedua alisnya mulai bertaut serius. Pemuda berambut merah lantas terkekeh dan menggaruk belakang kepalanya.
"Ah, nama tidaklah penting, Ace. Aku sudah menyurvey tempat ini sebelumnya. Fasilitas apartemen ini cukup bagus dan hanya disinilah, kau bisa singgah dengan aman dan nyaman."
"Tapi, Shanks... Beauty Dadan? Apa maksudnya ini?" Ace sungguh skeptis. Memang, segala penanganan Shanks sebagai seorang manajer sungguh tak usah diragukan lagi kinerjanya. Tapi kali ini...
Entah mengapa, Ace memiliki firasat buruk.
"Yang kudengar, pemilik kompleks apartemen ini adalah seorang wanita bernama Dadan. Sudahlah. Hal itu tak perlu kau pikirkan. Sebaiknya kita segera masuk untuk menata barang-barangmu di sana." tak punya pilihan lain, akhirnya Ace mengesampingkan keraguannya dan lekas berjalan masuk ke dalam apartemen itu. Ia memasang masker pada wajahnya dan menutupi setengah parasnya dengan sebuah topi agar eksistensinya sebagai vokalis Black Spade dapat disembunyikan dari khalayak umum. Jubah hitam yang membalut tubuhnya tampak tergerai. Penampilannya sungguh terlihat mencolok.
Masuk ke dalam ruang resepsionis.
Seorang wanita berambut hitam tampak menyambut mereka dengan santun.
"Selamat datang dalam apartemen Beauty Dadan. Saya Makino. Resepsionis di sini." sebuah senyum lembut terpapar di paras gadis manis itu. Shanks secara refleks juga ikut mengulum senyum. Gadis itu benar-benar manis sekali di matanya.
"Ah, aku Shanks. Aku adalah orang yang memesan satu kamar apartemen tiga hari yang lalu dengan nama Portgas D. Ace."
"Portgas... Ah, iya. Saya ingat sekarang. Jadi Anda Portgas D. Ace? Mari, saya antarkan ke kamar Anda. Kamar apartemen Anda berada di lantai sepuluh dengan nomer 125." kedua pria itu mengangguk dan lekas berjalan menuju lift.
"Nami-chwaaaan! Kau semakin cantik saja hari ini~"
"Terima kasih atas pujiannya, Sanji-kun."
Seorang juru masak utama Restoran Baratie yakni Sanji, kini sudah tampak terduduk di samping Nami dengan kedua mata berbinar berbentuk "love-love". Pemuda berambut pirang itu memang sudah dikenal sebagai seorang pecinta wanita. Ia adalah putra dari Zeff, pemilik Restoran Baratie. Dan Nami selalu saja menjadi figur gadis idamannya.
"Luffy, cepat katakan padaku, apa makanan favorit dari Shuraiya?" Nami tampak menginterogasi dengan cukup ketat. Ia menatap Luffy dengan cukup serius. Pemuda bermata obsidian itu masihlah terlihat sedang mengunyah makanannya.
"Amfu yakin nyia suka denyan daging!"
"Jangan bicara jika mulutmu masih penuh dengan makanan, Luffy! Jawabanmu salah! Shuraiya tidak terlalu maniak dengan daging!" gadis berambut oranye itu mulai sewot. Jemarinya tergertak di atas meja makan. Sudah hampir satu jam ia menjelaskan pada Luffy mengenai biodata masing-masing personil Black Spade. Kini, sebuah tes untuk mengetahui apakah Luffy paham atau tidak dengan segenap penjelasannya telah dimulai. Dan seperti yang ia duga. Luffy tak bisa menjawab satu pun pertanyaannya dengan jawaban yang benar.
'Graah! Anak itu! Apa susahnya mengingat beberapa informasi tentang Black Spade, hah?'
Nami benar-benar frustasi.
"Nami-chaaaan! Apa kau ingin tambah lagi minumannya? Untukmu, akan selalu gratis di restoran ini~" Sanji kembali memulai aksinya. Ia terus saja berusaha mendekati Nami. Mahasiswi itu tampak menghela napas pasrah dan menolak dengan cukup halus.
"Tidak usah, Sanji-kun. Terima kasih."
"Benar, tidak mau apa-apa?" Sanji semakin mendekat. Dan belum sempat Nami bereaksi, seseorang tampak mengintervensi momen itu.
"Menyingkirlah darinya, Koki Mesum!"
"Apa maksudmu, Marimo biadab?" Sanji tersinggung. Lipatan sewot mulai terbentuk di keningnya saat ia tahu, siapa orang yang sudah memanggilnya seperti itu. Hah, siapa lagi jika bukan Roronoa Zoro, mahasiswa dengan warna rambut yang aneh.
Ia adalah musuh bebuyutan Sanji.
"Sudahlah, kalian jangan bertengkar!" Usopp tampak menghela napasnya. Ia sudah berdiri di belakang Zoro.
"Kalian cabuff dari nyampus nya?" tanya Luffy, dengan mulut yang penuh dengan makanan. Nami kembali sewot dan lekas mendaratkan pukulan tepat di kepala pemuda bermata obsidian itu.
"Jangan bicara saat mulutmu masih penuh dengan makanan, Luffy!"
"Hah, kami sudah menduga bahwa kau akan cabut kemari. Aku dan Usopp terpaksa cabut karena ingin memastikan keadaanmu saja," Zoro menjelaskan dengan nada yang sangat datar. Ia pun lekas terduduk di samping Luffy seraya melipat kedua tangannya. Sebuah seringai sinis lantas terpapar pada parasnya, "Dan aku juga sudah menduga bahwa si mesum ini pasti akan berusaha menggoda Nami."
"Apa! Tutup mulutmu, Marimo biadab! Segala perlakuanku itu bukan urusanmu! Lagipula, mengapa kau kemari segala? Mengotori lantai restoranku saja!" Sanji emosi. Zoro yang kini merasa tersinggung lekas menggebrak meja makan Luffy dengan kerasnya.
"Mengotori lantai restoranmu? Kau pikir aku ini apa, Alis keriting! Jaga ucapanmu!"
"Jaga ucapanku? Kau sendiri yang mulai duluan dengan mengataiku mesum! Cih! Lihatlah dirimu! Warna rambut aneh, penampilan tak jelas! Restoran Baratie mendadak jelek saat kau masuk kemari! Restoranku tak menerima kedatangan preman pasar sepertimu!"
"APA? PREMAN PASAR? AKU BUKAN PREMAN PASAR, ALIS ABNORMAL!"
"DAN ALISKU INI MASIH NORMAL, RUMPUT LAUT GILA!"
"PIRANG MESUM!"
"HIJAU NORAK!"
"PLAYBOY JAHANAM!"
"JABLAY LAKNAT!"
"AAARRGGHH! KALIAN BERISIK! SUDAH DIAAM!"
BRAAAK!
Meja telah digebrak Nami dengan cukup keras. Kedua pemuda itu memutuskan untuk bungkam dan tak ingin membuat Nami lebih emosi lagi. Mahasiswi itu akan sangat menyeramkan jika terlalu marah. Sanji dan Zoro saling melempar pandangan ke samping dan mendecih kesal. Usopp menggelengkan kepalanya dengan pelan. Meski sudah menginjak umur yang dibilang dewasa, tingkah mereka sungguh seperti anak kecil saja. Diliriknya Luffy dan Ia pun memutuskan untuk mencairkan suasana.
"Nee, Luffy?"
"Hmm?"
"Sebentar lagi akan ada jatah libur tiga hari. Pak Dosen Smoker sudah memberikan setumpuk tugas pada kita semua. Aku berencana untuk mengerjakan tugas di tempatmu bersama Zoro. Kudengar, sekarang kau sudah tinggal di apartemen. Apa benar begitu?" tema pembicaraan berubah 180 derajat. Luffy terdiam sejenak. Ia lekas mengunyah semua makanan di mulutnya dan menjawab dengan tegas.
"Iya. Ojii-chan memutuskan untuk mengusirku dari rumah dan menyuruhku untuk tinggal di apartemen sendiri. Ia ingin agar aku lebih mandiri. Tapi tetap saja seminggu sekali, ia pasti akan berkunjung ke apartemenku dan memberiku sekardus buku-buku kelautan..." aura suram melanda Luffy. Ia baru ingat bahwa sekarang adalah hari selasa.
Jadwal kakeknya untuk berkunjung.
'Ah, sebaiknya aku pulang agak malam saja. Semoga kakek tidak menunggu kedatanganku,' pikir Luffy dalam hati. Sekujur tubuhnya mendadak merinding setiap kali ia ingat dengan perlakuan kakeknya. Ia sungguh tidak mood untuk menerima 'tinju cinta' hari ini. Tidak. Ia tak akan pernah menginginkan hal itu.
Hanya orang gila yang menginginkan itu.
Dan Luffy masih waras.
Pada akhirnya, Usopp menganggukkan kepala. "Baiklah, kalau begitu saat libur nanti, aku dan Zoro akan berkunjung ke apartemenmu, Luffy-"
"Aku ikut!" Nami buka suara dan mengangkat tangannya. Luffy melotot horor melihat itu. O'oh... jangan-jangan gadis itu hendak...
"Aku ikut agar aku bisa mendoktrin Luffy mengenai Black Spade. Hohohoho!" jleeb. Sungguh menohok. Pernyataan itu bagai sebuah tombak tajam yang menembus tepat di jantung Luffy. Sepertinya ia tak akan bisa keluar dari neraka semudah itu.
"Sebentar. Sebelum itu, alamat apartemenmu dimana, Luffy? Kau tinggal di apartemen mana?" tanya Zoro serius. Dan Luffy pun memaparkan cengiran khasnya.
"Aku tinggal di apartemen Beauty Dadan lantai sepuluh dengan nomer 126."
"Bagaimana menurutmu? Apartemen ini tidak terlalu buruk 'kan, Ace?"
Dengan bangga, Shanks menunjukkan rekomendasinya. Ace tampak memperhatikan keadaan kamar barunya. Sebuah kamar bernuansa elegan dengan beberapa furniture elit itu tak luput dari perhatiannya. Satu buah ranjang king size juga sudah tersedia lengkap dengan bedcovernya. Sebuah AC, televisi flat 29 Inch, Satu set DVD player beserta sound systemnya ditambah dengan satu buah kamar mandi lengkap dengan bathtub. Hamparan dindingnya juga dihiasi dengan beberapa lukisan bernuansa cokelat. Dan tepat di jendela dekat ranjang, panorama laut bisa dilihat dengan begitu jelas.
Ini sungguh sempurna.
"Apartemen ini... lumayan juga. Aku suka."
"Hahaha... baguslah. Aku yakin tempat ini tidaklah terlalu buruk untuk disinggahi sampai konser kalian digelar. Saat ini, Marco dan yang lainnya sedang berlibur ke tempat pilihan mereka masing-masing. Mungkin setelah urusan mereka selesai, mereka akan singgah di sini bersamamu. Setelah ini, aku hendak mengurus fiksasi persiapan konser, dana hasil penjualan tiket dan beberapa pihak sponsor. Aku harap, kau tak keberatan singgah di sini sendiri sampai Marco dan yang lainnya selesai, Ace."
Sang rockstar itupun menghela napasnya. Dilepasnya masker dan topi yang sudah menutupi parasnya itu. "Iya, aku tak keberatan tinggal di sini sendiri sampai urusan kalian selesai. Aku juga butuh waktu untuk sendiri."
"Oke. Seluruh fasilitas transportasi seperti limo, supir dan para bodyguard juga sudah kusiapkan di sini. Kau hanya tinggal menghubungi mereka saja." Shanks kembali memastikan semuanya. Semua fasilitas dan kebutuhan Ace haruslah tersedia dengan lengkap tanpa kurang satu apapun juga. Ia memang seorang manajer yang cukup perfeksionis. Sifatnya itu benar-benar menguntungkan bagi Ace.
"Aku mengerti, Shanks," vokalis band Black Spade itupun lekas melangkahkan kedua kakinya menuju kamar mandi. "Sebaiknya sekarang ini... aku segera mandi dan beristirahat. Perjalanan dengan pesawat kemari ternyata cukup melelahkan juga." lanjutnya singkat. Manajernya itu memberi respon anggukkan kepala.
Dan tepat di saat ia hendak membuka pintu...
Suara dentuman mulai terdengar dengan cukup keras dari arah luar.
Tap! Tap! Tap!
"Su-Suara apa itu?" kedua alis Ace bertaut serius. Shanks terdiam sejenak untuk turut mendengarkan suara dentuman itu dengan seksama. Dan kepanikan pun lekas mengguyur benaknya dengan instan. Suara dentuman itu semakin mendekat dan entah mengapa, lantai apartemennya pun juga turut bergetar.
TAP! TAP! TAP!
"Ke-Kenapa suara dentuman itu mendekat kemari, Shanks? Suara apa itu sebenarnya!" Ace mulai panik. Rasionalisasi. Hanya itu yang dapat dilakukan oleh Shanks.
"Ah, jangan khawatir, Ace. Mungkin ini adalah bagian dari... fenomena alam?"
"Apa?"
BLAAAAAAMMMM!
Dalam hitungan detik, sebuah suara hantaman yang cukup keras pun membahana di penjuru lorong apartemen. Pintu kamar Ace pun mendadak ambruk dan hancur akibat pukulan seseorang. Seorang pria tua bertubuh kekar kini sudah berdiri tepat di depan kamar apartemen Ace. Vokalis Black Spade dan manajernya itu hanya dapat mematung dengan raut syok. Mulut menganga dan jangan lupakan pandangan mata mereka yang melotot itu.
What the hell is this!
"LUUUFFY! KAKEK SUDAH DATAAAANG!" pria itu menjerit dengan begitu kerasnya, tak sadar jika ia telah membuat sebuah kesalahan. "Uhh... Luffy?"
"Jadi ini yang kau sebut sebagai... fenomena alam, Shanks?" Ace hanya dapat berkata secara sarkastik. Keadaan pintu kamarnya benar-benar mengenaskan. Sebulir keringat mengalir di samping kening Shanks.
"Ah, sepertinya ada kesalahan di sini."
"MONKEY D. GAAAARRRPPP! APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN PADA PINTU APARTEMENKU, HAH! KENAPA KAU MERUSAKNYA LAGI, BRENGSEK!" jeritan kemarahan itu hampir saja membuat Ace dan Shanks mendapat serangan jantung. Dan sebuah pemandangan horor pun melengkapi pandangan keduanya di saat figur wanita bertubuh besar, berambut keriting dan berwajah seram kini sudah turut berdiri di samping Garp. Sosok dua orang itu lebih mengerikan daripada monster manapun yang ada di dunia ini.
"Dadan? Ah, maafkan aku. Aku harus menghancurkan pintunya agar cucuku bisa melihat betapa kerennya aku! Bwahahahaha!" semua mulai bertampang aneh mendengar itu. Dan Ace pun tampak semakin pucat.
"Ja-Jadi wanita itu bernama... Dadan? Dia pemilik apartemen ini?" ia melirik ke arah Shanks. Manajernya juga memaparkan ekspresi horor yang sama.
"Aku bi-bisa mencarikanmu apartemen yang lain, Ace."
"Tenang sedikit, Dadan," Garp pun lantas menyibakkan pandangannya ke arah penghuni kamar yang ia hancurkan pintunya itu. Dahinya berkerut saat ia tak mendapati sosok cucunya. Dua figur pemuda dengan wajah tanpa dosa kini menjadi pemandangannya. "Ah, maaf. Kalian berdua siapa? Dimana cucuku Luffy?"
"LUFFY? KAU SALAH KAMAR, GARP! KAMAR CUCUMU ADA DI SEBELAH! KAU SUDAH MENGHANCURKAN KAMAR PENGHUNI APARTEMEN BARUKU! BERANINYA KAU, HAH! CITRA APARTEMENKU BISA RUSAK GARA-GARA KAU!" amarah Dadan semakin memuncak. Garp, Ace bahkan Shanks mulai bertampang horor melihat itu.
"Ah, te-tenanglah, Dadan. Aku pasti akan mengganti kerugianmu!" Garp menggaruk belakang kepalanya. Ia pun mulai bergegas menuju kamar sebelah dan bersiap-siap untuk menghancurkan pintunya. "LUUUFFY, KAKEK MASUK YAAA!"
"HE-HEI! APA-APAAN KAU INI, HAH! KAU INGIN MENGHANCURKAN PINTU KAMAR APARTEMENKU LAGI? AKAN KUBUNUH KAU, GARP!"
Secara tak terduga, di tangan kanan Dadan sudah terdapat sebilah pisau pemotong daging. Pisau itu benar-benar mengancam garis nyawa Garp. Pria tua itu mulai pucat.
"Ah, Ma-Maaf. Aku tak bermaksud untuk menghancurkan pintu lagi. Ini refleks. Percayalah. Hehehe..." sebulir keringat mengalir di samping kening Ace dan Shanks. Ini semua sangat aneh. Sang vokalis Black Spade itu benar-benar memiliki firasat buruk.
"Shanks, sebaiknya kita segera pergi dari sini. Aku berubah pikiran. Apartemen ini mengerikan." yang dikatakan Ace itu ada benarnya juga. Shanks tak punya pilihan lain.
"Uhh... Ba-Baiklah. Ayo kita cari apartemen lain-"
"Eits! Tunggu sebentar! Kalian mau kemana?"
DEG!
Shanks dan Ace berparas horor. Mereka mematung untuk sesaat. Dadan telah melingkarkan kedua lengannya di leher mereka. Ini sungguh buruk.
"Ah, se-sebaiknya kami mencari apartemen yang lain, Dadan-san. Kami tidak-"
"Apa? Jadi kalian ingin pindah?" Dadan mulai panik. Ia pun langsung menikam Garp dengan tatapan pembunuh. "INI SEMUA SALAHMU, KAKEK TUA! LIHATLAH! PENGHUNI APARTEMEN BARUKU HENDAK KABUR! KAU BENAR-BENAR SUDAH MEMBUAT CITRA APARTEMENKU MENJADI JELEK! DASAR JAHANAM!"
BWOOOSSH!
Kobaran api menjadi sebuah latar background di belakang Dadan. Pisau pemotong daging itu semakin tampak berkilau saja di mata Garp. Seakan menyiratkan bahwa pisau itu tertawa dan haus akan darah. Pria tua itu menulan ludah.
Sebaiknya, ia segera menyingkir dari Dadan.
"Ah, maaf. Aku baru ingat kalau aku ada urusan. Tolong, sampaikan salamku pada Luffy, Dadan! Aku akan memberi uang ganti rugi untuk kerusakan pintu apartemenmu besok. Sampai jumpa!"
"OII, GARP! TUNGGUUU! JANGAN LARI, PENGECUT!" terlambat. Garp sudah tak tampak di hamparan indra penglihatan Dadan. Kini, wanita itu kembali menatap ke arah dua pemuda yang sudah ia jerat dengan lengannya. Menatap raut pucat di paras Ace dan Shanks membuat Dadan ingin tertawa.
"Hahaha! Kalian tak usah takut denganku. Aku tak akan mengijinkan kalian pindah dari sini. Aku tahu bahwa kalian bukan penghuni tetap di apartemen ini. Tapi meskipun begitu, biarkan aku yang menunjukkan pelayanan terbaik dari apartemenku ini. Aku akan memberikan kamar yang baru, selagi pintu di kamar ini diperbaiki. Ah... kalian berdua singgah bersama atau..."
"Uhh... kami tidak singgah bersama. Yang hendak menyewa satu kamar apartemen di sini adalah Ace, bukan saya." Shanks menjelaskan dengan hati-hati. Ace terkekeh pelan dan mulai mengangguk dengan rasa cemas.
"Salam kenal, Dadan-san. Saya... Portgas D. Ace."
"Ace...?" sebelah alis Dadan meninggi. Diperhatikannya Ace dengan seksama. Vokalis Black Spade itu mulai pucat.
Sial! Ia tidak memakai masker saat ini.
'Se-Sepertinya ia mulai menyadari siapa aku sebenarnya. Ini gawat...' Ace mulai keringat dingin. Ekspresi yang tergambar di paras Dadan semakin tampak mencurigakan saja.
"Ah, begitu. Sebaiknya kau pindah di kamar yang baru, Portgas D. Ace. Aku tak akan membiarkan tamu spesial sepertimu merasakan kekecewaan dengan pelayanan apartemenku ini." gema tawa menggelegar dari mulut Dadan. Ace semakin bertampang horor. Wanita itu benar-benar sudah tahu tentang identitasnya.
Sepertinya ia tak akan bisa keluar dari apartemen nista itu dalam waktu dekat.
"Sial! Aku baru ingat jika hampir semua kamar di apartemen ini sudah ada penghuninya. Kamar kosong di sini hanyalah kamar 125. Dan pria tua gila itu sudah menghancurkan pintu kamarmu." Dadan mendadak dilematis. Dengan sigap, Shanks mengintervensi.
"Uhh... A-Anda tak perlu repot-repot, Dadan-san. Saya bisa mencarikan Ace apartemen yang lain-"
"TIDAK! PORTGAS D. ACE HARUSLAH TETAP SINGGAH DI SINI SAMPAI JANGKA WAKTU YANG IA TENTUKAN SUDAH HABIS!" keputusan mutlak. Pernyataan keras itu hampir saja membuat telinga Shanks dan Ace mengalami pendarahan. Mereka hanya bisa pasrah dan memutuskan untuk diam. Setelah sejenak berpikir, nalar Dadan pun pada akhirnya menemukan sebuah pemecahan. "Hmm... Sebaiknya kau singgah sementara waktu di kamar 126, Portgas. Setidaknya sampai pintu kamarmu selesai diperbaiki..."
"Kamar 126?" dahi Ace berkerut. Bukankah kamar sebelahnya itu berpenghuni? "Ta-Tapi kamar ini ada penghuninya 'kan?"
"Luffy? Hah, jangan khawatir. Cucu dari pria tua gila tadi pasti akan bersedia untuk mengijinkanmu singgah beberapa hari di kamarnya. Lagipula, semua ini terjadi karena kesalahan kakeknya. Kau tak usah khawatir. Sebaiknya kau segera masuk ke dalam kamarnya dan jelaskan padanya saat ia pulang dari kampusnya nanti. Dia hanyalah seorang mahasiswa yang hidup sendiri di kamar apartemennya," Dadan pun lekas menuju kamar Luffy. Ia mengeluarkan kunci cadangan dan mulai membuka pintu kamar itu. "Silahkan masuk, Portgas. Aku berjanji, pintu kamarmu akan segera diperbaiki secepatnya."
"Ah, te-terima kasih, Dadan-san." Ace tak bisa menafikkan perasaan canggungnya. Pada akhirnya wanita pemilik apartemen itu pun berlalu pergi meninggalkannya. Sang vokalis Black Spademenghela napas pasrah dan menyandarkan punggungnya di hamparan dinding. Shanks menikamnya dengan tatapan miris.
"Maaf. Semuanya jadi berantakan gara-gara aku, Ace. Andai saja aku tahu jika jadinya akan seperti ini..."
"Sudahlah, tak apa-apa, Shanks. Ini semua bukan sepenuhnya kesalahanmu. Aku tinggal di sini sampai konser akan digelar saja 'kan? Aku tak akan selamanya tinggal di tempat aneh ini. Jadi... tak perlu khawatir padaku. Aku bisa menangani ini." pemuda bermata obsidian memalingkan pandangannya ke samping.
Shanks sudah tak dapat mengubah keyakinan sang rockstar itu.
"Baiklah. Aku percaya padamu, Ace. Sekarang, aku akan pergi dulu. Jika kau butuh apa-apa, hubungi aku, mengerti?"
"Aku mengerti," Ace menganggukkan kepala. Dan pada akhirnya, manajernya itu mulai pamit dan lekas pergi meninggalkannya.
Dan sekarang...
Tinggallah sang vokalis itu sendiri... di kamar orang lain.
Ace sungguh tak nyaman dengan semua ini. Ia hanya ingin menghabiskan liburannya dengan tenang dan pada akhirnya semua kekacauan ini melandanya dalam sekejap mata. Ia sungguh pasrah. Mimpi apa ia semalam sampai-sampai harus mengalami semua ini?
'Mungkinkah ini adalah bentuk karma karena aku selalu mengejek rambut Marco?'
Kalimat itu mendadak terjerit dari dalam intuisi Ace. Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat. Tidak. Tidak mungkin ini karma. Semua ini terjadi hanya karena faktor kebetulan. Ya. Kebetulan saja keberuntungan tak berpihak padanya.
Dan entah mengapa, Ace bisa merasakan bahwa saat ini, Marco mulai tertawa nista di Las Vegas.
Sudahlah. Hentikan gambaran aneh itu.
Kembali ke pokok permasalahan. Sekarang, Ace haruslah menunggu beberapa hari sampai pintu kamarnya diperbaiki. Sang Rockstar itu mulai memperhatikan keadaan kamar 126 itu. Kamar itu hampir mirip dengan kamarnya yang tadi. Bedanya, kamar itu tampak dipadati dengan kumpulan buku-buku pelajaran. Kedua alis Ace bertaut serius.
"Kalau tidak salah, penghuni kamar ini adalah seorang mahasiswa bernama Luffy 'kan? Cucu dari orang yang sudah menghancurkan pintu kamarku tadi?" persepsi negatif mulai menghantam nalar Ace. Ia mulai berpikiran yang tidak-tidak.
'Jangan-jangan dia sama seramnya dengan kakeknya tadi? Atau mungkin, dia juga memiliki tubuh besar seperti kakeknya dan yang terburuk... dia memiliki hobi menghancurkan pintu?' paras tampan Ace pucat pasi seketika memikirkan probabilitas terburuk itu. Bagaimana ia akan menjelaskan semua ini pada anak itu nantinya? Bagaimana kalau anak itu tak terima dan malah mengusir Ace?
Sungguh dilema.
Apapun yang terjadi...
Pemuda bermata obsidian berserpih kelabu itu... tak akan lari lagi dari kenyataan.
TBC
A/N: Terima kasih untuk semua yang sudah menyempatkan waktunya untuk meninggalkan review! ^^ Untuk balasan reviewnya, saya persilahkan Bung Marco dan Bapak Garp untuk berbicara! xD #Jleeb
Marco + Garp: Why us? =="
Angelic Heaven
Marco: Yup! Anda benar~ Mereka pada akhirnya bertemu dengan tidak elitnya... =="
Garp: Jangan lupa tinggalkan review lagi! Kalau tidak... #NgasahGolok
Demon D. Dino
Marco: Kenapa Ace disuruh lebih keren lagi? Kenapa gue enggak? TT^TT #Dibogem
Garp: Nanas Sekseh masih di Las Vegas. Kemunculannya masih... lama.
Marco: Huweee! TTATT #OOC
ReadR
Garp: Untuk mengapa settingannya mahasiswa, karena hal itu sangat mempengaruhi plot nantinya.
Marco: Dan Universitas Mugiwara adalah satu-satunya Universitas dengan peraturan ketat di East Blue. So? Jangan heran jika jam makan siang mendadak ada belnya! XD
via-SasuNaru
Garp: Ya. Author akan mengusahakan untuk updet lebih cepat lagi. Arigato reviewnya~
Kai
Marco: Yes! This story is about an artist Ace! And Me, Sexy pineapple! :'D #Crying
Garp: Just ignore that pineapple head and thank you for reading this fic! ^^
Muthiamomogi
Garp: Yup! Setelah mengalami pertempuran panjang antara kubu MinaNaru dan AceLu, ide fic ini dimenangkan oleh AceLu =="
Marco: Dan... SanJo? Bukannya dimana-mana, si Sanji itu uke ya? 0.o"
Sanji: Tutup mulutmu, Nanas! #BawaGergajiMesin
Marco: oops... O_o"
Domisaurus
Garp: #NyodorinOrok# Ayo kita makan orok bareng! Bwahahaha! #Jleeb
Marco: Mbah Surip? 0.o Maksudnya si Shuraiya?
Shuraiya: HEI!
Garp: Thanks reviewnya!
Popuyund
Marco: Yup! Jackpot untuk Anda! Selain terinspirasi dari A7X, nih author gaje juga terinspirasi dari lagu Thousand Foot Krutch yang judulnya Move!
Garp: Terima kasih reviewnya!
See you all in the next chapter! Jangan lupa untuk Review!~ xD
Ja Ne~
