Halo minna!
Maaf Yan baru bisa update fic ini sekarang. Kemarin adalah masa hiatus Yan. Ah … Akhirnya masa ujian telah selesai. 'thanks Kami-sama'
Ok lanjut!
Selamat membaca!
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Pairing : SasuNaru, ShikaNaru.
Genre : Romance, Hurt/Comfort
Rate : T.
Warning : Semi-canon, OOC, typo(s), NO YAOI.
DONT LIKE DONT READ!
One Heart © Yanz Namiyukimi-chan
Chapter 2
.
.
Naruto menjerit kaget saat menemukan seorang lelaki yang tidur di sampingnya. Napasnya memburu layaknya habis bangun dari mimpi buruk. Wajahnya menatap horor pada sosok itu.
Matahari masih nampak malu-malu untuk menghiasi langit biru hari ini. Terbukti hanya cahaya cerahnya saja yang menghiasi cakrawala. Nampaknya belum keluar dari singgasananya.
Aroma embun di pagi hari terasa sejuk menyambut hari. Mampu menyegarkan pikiran dan membawa semangat baru. Dan lelaki yang berbaring di samping Naruto, nampak terganggu dengan teriakkan sang gadis.
"Shikamaru!" Naruto setengah meneriaki nama lelaki itu.
"Berisik!"
"Shikamaru, apa yang kau lakukan disini?" tanya Naruto masih memekik tak percaya.
Perlahan Shikamaru memperbaiki posisi tubuhnya. "Hoaaam … Apa kau tidak bisa lihat tadi? Aku sedang tidur," seru Shikamaru menggeliat di depan Naruto.
Wajahnya tampak sayu tanda ia masih mengantuk.
"Maksudku, kenapa kau bisa ada disini?" tanya Naruto sambil cemberut setelah mendengar ucapan lelaki itu.
"Menjagamu," jawab Shikamaru.
"Me-menjagaku?"
"Hn. Karena tubuhku terasa pegal karena terus tidur dalam keadaan duduk, jadi aku memutuskan untuk ikut tidur di atas kasur bersamamu," jelas Shikamaru.
"Sudah berapa lama kau menjagaku?" tanya Naruto sambil menundukkan kepala.
Rambut pirangnya sedikit acak-acakkan karena baru saja bangun tidur. Suaranya juga terdengar serak karena kering. Naruto duduk bersimpuh di atas kasur sedangkan Shikamaru duduk bersila di hadapannya.
Shikamaru hanya mengenakan kaos hitam polos dan celana ninjanya. Kaos itu begitu pas di tubuhnya sehingga mencetak bagian tubuhnya yang kekar.
"Tiga hari," jawab singkatnya.
Entah kenapa tangan Naruto terkepal di atas pahanya seperti menahan sesuatu.
Shikamaru menempelkan dahinya pada dahi Naruto dan tangan kanannya membelai pipi Naruto.
"Apa yang kau rasakan sekarang? Apa kau merasa lebih baik?"
Naruto mengangguk.
"Kenapa?" tanya Shikamaru mendapati Naruto yang hanya terdiam.
"Sasuke."
Suara serak itu kembali keluar. Hanya saja sekarang terdengar lebih pelan.
"Aku tidak berhasil membawa pulang Sasuke."
Kini Shikamaru bisa melihat mata biru itu mulai berair di pelupuk matanya.
"A-aku gagal."
"Aku gagal membawa kembali Sasuke."
"Padahal aku sudah berjanji pada Sakura-chan untuk membawanya kembali."
"Sasuke telah kembali," ucap Shikamaru sukses membuat Naruto menatapnya tak percaya.
Ia menatap bola mata hitam yang ada di hadapannya. Menatapnya dengan lekat mencari bahwa yang baru saja keluar dari bibirnya itu bukanlah sebuah lelucon.
"Kita berhasil membawanya kembali," ucap Shikamaru menyerupai bisikkan.
"Benarkah?" tanya Naruto masih tak percaya.
"Hm," tanggap Shikamaru kemudian mengecup pipi Naruto yang sudah basah oleh air mata.
Rasa asin pertama kali ia rasakan saat ia mengecupnya.
"Jangan lagi membuatku cemas."
Perlahan Shikamaru menjauhkan wajahnya.
"Melihatmu terbaring tak berdaya membuatku benar-benar cemas," ucap Shikamaru menelungkup kedua tangannya menghapus jejak air mata di wajah Naruto.
"Maafkan aku. Aku telah membuatmu cemas."
Naruto menyentuh kedua tangan Shikamaru dengan kedua tangannya. Perlahan Naruto menjauhkan kedua tangan Shikamaru dari pipinya dan tetap memegang kedua tangan itu dengan erat.
"Aku janji tidak akan melakukannya lagi."
Naruto tersenyum lembut. Shikamaru membalas senyum lembut itu. Perlahan ia mendekatkan wajahnya pada Naruto. Ia sedikit memiringkan kepalanya dan matanya menyipit.
Naruto yang membaca gelagat Shikamaru ikut memejamkan matanya. Didongakannya sedikit kepalanya agar memudahkan keinginan Shikamaru yang ingin menciumnya.
Akhirnya dua bibir itu saling bersentuhan. Bertautan lembut melepas kerinduan masing-masing yang telah lama terpendam. Tidak ada yang ingin mendominasi, hanya membalas lumatan-lumatan kecil yang terjadi di antara mereka. Merasakan kehadiran masing-masing dan melepaskan hasrat yang ada.
Kedua tangan yang tadinya saling bertautan erat, kini terlepas. Shikamaru menuntun kedua tangan Naruto untuk mengalungkan tangannya di lehernya.
Gadis berambut pirang itu tidak protes sama sekali. Hanya mengikuti keinginan pria yang sedang menciumnya penuh posesif. Sekarang Shikamaru bisa memeluk gadisnya itu dengan bebas. Ia melingkarkan tangannya di pinggang Naruto membuat tubuh mereka semakin dekat.
Tanpa sadar, kini Naruto telah berbaring di atas kasurnya dengan Shikamaru yang masih menciumnya dari atas tubuhnya.
Oksigen dalam tubuh mereka mulai menipis. Shikamaru yang sudah merasakannya memberikan kecupan terakhir di bibir sang gadis yang berada di bawahnya.
Tapi, ia tidak berhenti begitu saja. Kecupan itu turun ke bawah mengecup dagu Naruto kemudian lehernya.
"Nggh …"
Kecupan-kecupan itu terus diberikan Shikamaru pada Naruto. Sebuah kecupan-kecupan lembut yang menyentuh titik sensitif Naruto.
Disibakkannya helaian rambut pirang itu, sehingga Shikamaru bisa lebih leluasa menyentuh setiap lekuk leher Naruto.
"Ngh … Shikamaru berhenti!"
Bukannya berhenti, Shikamaru malah semakin gencar menyentuhnya.
"Berhenti, Shikamaru! Uuh … Bagaimana kalau ada yang datang?" Naruto berusaha mendorong tubuh Shikamaru dari atas tubuhnya. Sadar akan situasi mereka berada. Ini bisa gawat jika tidak dihentikan.
"Tenang saja ini masih pagi," ucapnya santai dan kembali melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda.
Kembali Shikamaru membenamkan wajahnya di lekuk leher Naruto. Wangi yang menguar keluar dari tubuh Naruto membuatnya mabuk kepayang. Ia menyukai wangi itu.
"Justru karena itu, bodoh! Ini sudah pagi. Nanti ada orang yang masuk kemari."
Tapi apa yang Shikamaru lakukan? Dia berperilaku seolah tidak peduli.
"SHIKAMARUUU!"
Teriakan Naruto bergema di lorong rumah sakit.
Entah keberuntungan bagi mereka —atau Shikamaru— tidak terdapat seorang pun yang berada di lorong itu. Sepertinya tidak akan ada yang mengganggu kegiatan mereka yang memang tak pantas untuk ditonton itu.
.
.
"Yosh, aku sudah siap!" seru Naruto semangat.
Sekarang gadis pirang itu tampak segar. Rambut pirangnya dikuncir dua, masih lepek karena basah.
Shikamaru hanya menggelengkan kepalanya melihat kekasihnya seperti itu.
"Apa kau yakin ingin menjenguk Uchiha itu?" tanya Shikamaru. "Kau baru saja sadar hari ini."
"Aku baik-baik saja, Shikamaru. Aku sudah merasa sehat, kok."
Naruto menekuk kedua tangannya ke samping sambil mengepal kedua telapak tangannya.
Shikamaru hanya bisa menghela napas. Ia sudah memberi pengertian agar Naruto tidak dulu menjenguk lelaki bermarga Uchiha itu. Tapi, keras kepala kekasihnya itu selalu membuatnya tertunduk pasrah mengikuti kemauan gadis berambut pirang itu.
"Bagaimana jika Sakura atau Hokage-sama datang kemari saat kau tidak ada di sini? Pasti kabar kesadaranmu sudah sampai pada mereka," ucap Shikamaru berharap Naruto mengurungkan niatnya.
"Lagipula yang aku dengar dia masih belum sadar. Jadi percuma saja jika kau datang ingin menemuinya," kali ini ucapan Shikamaru diiringi rasa tidak suka saat mengatakan 'dia'.
Ya, walaupun Naruto mengucapkan bahwa Sasuke adalah sahabatnya dan menganggapnya sudah seperti saudaranya sendiri, tetap saja ada perasaan tidak suka saat Naruto yang begitu perhatian pada lelaki itu. Ditambah lagi, bagaimana perjuangan Naruto selama ini yang berusaha membawa kembali Sasuke ke Konoha.
Tak banyak orang-orang menyuruhnya agar gadis itu berhenti melakukan pengejaran terhadap Sasuke. Tapi, tak ada satu orang pun yang mampu mengurungkan niatnya.
Sebagai seorang kekasih ia juga memiliki sikap posesif terhadap sesuatu yang ia miliki. Walaupun ia memiliki sikap tenang dan cuek, jika melihat kekasihnya lebih mementingkan pria lain tentu saja ada perasaan panas di dalam hatinya.
"Maka dari itu kita tidak boleh sampai ketahuan," seru Naruto memasang wajah nakal.
Naruto tahu sikap Sakura dan Baachan-nya itu, mereka selalu memaksa dirinya untuk istirahat jika ia terluka parah walaupun dirinya sudah merasa lebih baik.
Naruto segera menarik tangan Shikamaru yang sepertinya enggan untuk ikut dengannya menjenguk Sasuke.
"Dan untuk Sasuke yang sudah sadar atau belum. Aku tidak peduli. Aku 'kan hanya ingin melihat kondisinya saja."
Seperti Shikamaru memang benar-benar tidak bisa menolak kali ini.
Perlahan Naruto membuka pintu kamar dan menyembulkan kepalanya melihat keadaan sekitar. Setelah sekiranya aman, ia keluar sambil menyeret Shikamaru menuju tempat Sasuke berada.
.
.
Sasuke duduk di atas kasurnya. Memandang keluar jendela yang tepat berada di sampingnya yang menampakkan pemandangan desa Konoha. Dalam hati kecilnya terselip rasa rindu saat melihat pemandangan desa tersebut. Desa yang merupakan desa kelahirannya. Tentu saja desa itu telah banyak meninggalkan kenangan baginya.
Sasuke tersenyum miris mengingat tragedi yang terjadi pada keluarganya. Tragedi tentang pembantaian klan Uchiha. Mirisnya, klannya dibantai oleh kakaknya sendiri, Uchiha Itachi. Kakak yang begitu ia kagumi dan juga ia sayangi.
Dua tahun dia mengejar Itachi untuk membunuhnya. Meluapkan hasrat dendam yang ditanam oleh kakaknya sendiri.
Dan begitu terkejut dirinya setelah ia berhasil membunuh Uchiha Itachi. Ia mendapat kabar bahwa ternyata di balik alasan kakaknya melakukan pembantaian pada klannya adalah sebagai pembaktiannya pada Konoha. Karena saat itu klan Uchiha diduga merencanakan sesuatu pemberontakan dan beniat menyerang Konoha.
Uchiha Itachi, dialah yang saat itu mendapat misi khusus yang diberikan oleh sang Hokage ketiga beratas namakan demi kepentingan Konoha.
Dan setelah pembataian itu, Itachi pergi meninggalkan Konoha seperti yang diperintahkan dan dianggap sebagai pengkhianat.
Perasaan menyesal setelah mengetahui kenapa kakaknya melakukan hal itu. Kakaknya yang rela membantai seluruh keluarganya sebagai tanda kecintaannya pada Konoha sehingga ia menyanggupi misi khusus diberikan padanya.
Marah?
Tentu saja ia marah. Ia begitu marah apalagi setelah mengetahui siapa di balik semua kejadian ini. Danzo, salah satu tetua desa Konoha yang ternyata adalah seorang yang picik. Ia memanfaatkan kakaknya untuk menyingkirkan klannya.
Dan saat ia bersumpah untuk membunuh tua bangka itu dengan tangannya sendiri. Ia akan mengejar ke manapun orang itu yang saat ini menghilang entah ke mana setelah diketahui niat busuknya yang ingin menguasai Konoha.
Cklek!
Sasuke menoleh saat pintu ruang rawatnya dibuka oleh seseorang.
"Sasuke-kun. Apa sekarang perasaamu lebih baik?" tanya orang itu yang ternyata adalah Sakura.
"Hn."
"Err … Sasuke-kun. Aku ikut ke kamar kecil, ya? Hehe … Aku sudah kebelet buang air kecil," seru Sakura canggung.
Sasuke menaikan sebelah alisnya melihat tingkah Sakura. "Hn," seru Sasuke pada akhirnya.
Tanpa menunggu lagi Sakura langsung melesat ke dalam kamar mandi yang ada di sana.
Segera ia menutup pintu itu membuat Sasuke menggelengkan kepalanya.
Di dalam kamar mandi, Sakura sibuk mengatur napas yang memburu sambil bersandar pada pintu yang berada di belakangnya. Ia memegang dadanya berdetak kencang.
Sebenarnya alasannya mendatangi kamar Sasuke bukan karena ingin buang air kecil atau sebagainya. Tapi melainkan ingin menemui lelaki yang dirawat di kamar itu. Entah kenapa perasaan rindu ini begitu menggebu-gebu. Padahal tadi pagi ia sudah datang menemui Sasuke. Tapi setiap bertemu pandang dengan lelaki bermata onyx itu membuatnya tanpa sadar menahan napas, dan jantungnya selalu berdetak kencang.
"Tenangkan dirimu, Sakura! Tenangkan dirimu!" ucapnya sambil menarik napas berkali-kali agar perasaan gugupnya hilang.
.
.
"Dobe?" seru Sasuke melihat ada kepala berambut pirang menyembul di balik pintu kamarnya.
Sasuke mengernyit melihat sosok yang ia lihat. Sosok itu begitu familiar tapi sekaligus asing di otaknya. Mungkin itu karena rambut pirang panjang yang ia lihat. Ia cukup ragu memanggil sosok itu dengan sebutan 'Dobe' tapi, sosok itu benar-benar mirip dengan anak lelaki hiperaktif teman setimnya waktu ia masih genin dulu.
"Sasuke? Ternyata kau sudah sadar?" ucap Naruto dengan wajah sumringah.
Kemudian ia masuk berjalan mendekati Sakuke diikuti Shikamaru yang ada di belakangnya.
"Syukurlah," Naruto tersenyum lega melihat Sasuke sepertinya baik-baik saja.
"Tapi apa yang dia dikatakan tadi, Shikamaru?" tanya Naruto pada Shikamaru. Naruto merasa menangkap sesuatu lewat pendengarannya sebelum ia masuk ke ruangan itu.
"Dobe," jawab Shikamaru.
"Bisa kau ulangi?"
"Dobe."
"…"
"…"
"APA? DASAR TEME SIALAN! BERANINYA KAU MEMANGGILKU DOBE!" teriakkan Naruto melengking sambil menunjuk-nunjuk Sasuke yang seenaknya telah memanggilnya Dobe. Lelaki Uchiha itu ternyata masih kurang ajar seperti sebelumnya.
'Ck, dasar bodoh.'
"Hn."
"Huh, dasar. Ternyata dia tidak berubah," dengus kesal Naruto.
Kebiasaannya mengatai 'Dobe' dan 'Hn' -nya itu, ternyata masih melekat di pria tampan yang berambut seperti pantat ayam itu.
"Kenapa ribut sekali?" seru Sakura setelah melakukan ritual penenangan diri di dalam kamar mandi.
"Sa-Sakura-chan?" Naruto menatap ngeri sosok Sakura yang datang dari pintu lain.
"Naruto?" Tidak bisa menutupi perasaannya, Sakura menatap bingung keberadaan Naruto di kamar Sasuke.
'Kyaaa … Kenapa harus bertemu dengan Sakura-chan di sini, sih? Bisa mati aku!' seru batin Naruto panik.
"Hehe … Ohayou Sakura-chan," seru Naruto agak gugup.
"Naruto kenapa kau ada di sini? Bukannya kau—"
"Hampir siang seperti ini kau sebut pagi, Dobe?" cemooh Sasuke pada Naruto, memotong ucapan Sakura.
"Diam kau, Teme! Kau ini menyebalkan sekali. Dasar monster pantat ayam!"
Twitch!
"Apa kau bilang?" Sasuke mulai tersulut, ia merasa terhina.
"Monster pantat ayam."
"Wanita jadi-jadian."
"Apa kau bilang? Jangan sembarangan kau, Teme!"
"Eh… Apa kau tidak lihat dengan penampilanmu yang sekarang?"
"Heh?" mendengar ucapan Sasuke, sontak membuat Naruto melihat penampilannya sendiri.
"Apa karena tidak ada wanita yang menyukaimu, jadi kau memutuskan menjadi perempuan menggunakan jutsu-mu?"
"Jangan sembarang, Teme! Memangnya siapa yang mau seperti ini?"
"Naruto?"
Sakura memandang Naruto dengan raut wajah khawatir. Memandang wajah Naruto yang jelas-jelas menahan emosinya.
"Bukan maumu? Lalu?" tanya Sasuke tak peduli.
Sekarang ia yakin jika gadis berambut pirang yang ada di depan matanya memang Naruto. Ya, Naruto yang sedang menggunakan jutsu perubahannya.
Tapi, sepengetahuannya, Naruto tak pernah berkeliaran dalam wujud perempuan seperti itu.
Naruto merutuki kebodohannya dalam hati. Selama ini Naruto selalu muncul di hadapan Sasuke dalam wujud laki-laki. Ya, bukan perempuan seperti saat ini. Dan itulah kebodohannya. Sasuke belum tahu sebenarnya jika ia adalah seorang perempuan. Ia juga baru mengetahuinya satu tahun yang lalu.
Diam-diam Naruto menghela napas, mencoba mengontrol emosinya. Ia masih ingat bagaimana ia menemukan dirinya sendiri dengan wujud wanita.
Kaget? Syok?
Tentu saja. Dirinya yang lahir dengan laki-laki tulen, tiba-tiba saja di hari itu ia berubah menjadi seorang wanita setelah bangun dari tidurnya.
Wanita dengan sosok berambut pirang panjang sepinggang. Dan yang paling menjijikan adalah benda menonjol di dadanya. Membuatnya tidak bisa menahan teriaknya melihat perubahan yang terjadi pada dirinya.
Naruto juga masih ingat bagaimana ekspresi sang Hokage saat dia tiba-tiba datang ke kantornya dengan wujud perempuan. Dengan wajah kalemnya, tidak! tidak! 'Sangat kalem', setelah dihujami pertanyaan oleh Naruto dengan santainya ia mengatakan :
"Kau memang seorang wanita, Naruto."
Saat itu Naruto tidak bisa tidak pingsan di tempat.
Wanita berambut pirang yang memiliki gelar Hokage itu mengatakan, bahwa segel Kyuubi yang berada di dalam tubuhnya itu mulai melemah dan itu juga berpengaruh terhadap jutsu yang terpasang pada tubuhnya selama ini. Ternyata Ayah Naruto tidak hanya menyegel Kyuubi pada tubuhnya, tapi juga melakukan jutsu yang mampu menyembunyikan identitasnya sebagai perempuan.
Minato sang Hokage keempat sengaja melakukannya agar Naruto bisa hidup layaknya seperti seorang lelaki. Pantang menyerah, selalu berusaha, tegar, dan kuat. Keadaannya sebagai seorang lelaki akan memaksanya untuk hidup layaknya seorang lelaki. Minato tahu, jika Naruto menjalani hidupnya sebagai perempuan entah bagaimana nanti nasib putrinya itu. Karena ia tahu bahwa kehidupan di dunia ini begitu kejam.
Setidaknya dengan mengubah putrinya menjadi laki-laki, putrinya akan hidup tegar dan kuat seperti seorang laki-laki yang menghadapi nasibnya sepedih apapun.
Karena seorang lelaki yang kuat tidak akan menangis, tidak pernah putus asa, itulah sebabnya kenapa seorang lelaki akan tampak lebih kuat dibandingkan dengan seorang perempuan.
Inilah yang hanya bisa Minato lakukan untuk melindungi putrinya di akhir hayatnya.
"Err … I-itu … Itu …"
'Kyaaa … Kami-sama. Kenapa kau hadapkan aku pada hal sulit seperti ini? Aku belum siap menjelaskannya pada Sasuke,' batin Naruto.
TBC
Chapter dua telah selesai~ *teriak girang*
Maaf update lama, karena waktu publish fic ini Yan lagi Semi-Hiatus. Yeiiii... Akhirnya UN selesai juga. Oh Kami-sama semoga aku lulus dan juga semua anak-anak kelas 12 di indonesia juga lulus. *amin...*
Siap-siap buat adik-adik yang kelas 3 untuk UN. Semoga UNnya lancar dan dapat nilai yang memuaskan.
Senpai-senpai atau readers sekalian yang memang ahli dalam bidang sastra. Tolong koreksi kembali fic saya. Yan mengaku kalau saya ini masih amatiran... *hiks... Hiks*
Thanks special's for : bryella, Hatake-sama, Ren-Mi3 NoVantA, Yusei'Uzumaki'Fudo, femnaru, Chiuzuka Arahime, Aoi no Kaze, Meichan, Dallet no Hebi, kyoko ai chan, naru3, ObichaNara Joshena, Sparky-Cloud, baka nesia chan, Lady Spain, Misyel, zaivenee.
Re buat yang gak login :
bryella : Iya. Thanks udah review maaf tidak bisa update cepat.
femnaru : haha … Yan juga sama suka femnaru. Yosh saya sudah update, tapi maaf lama.
Chiuzuka Arahime : Iya makasih. Yan udah perbaiki kok.
Mie chan : salam kenal juga Mei chan! Oh … itu masih rahasia tapi di chap ini udah mulai ketahuan kan? Makasih dah suka ficnya.
Dallet no Hebi : Iya Yan juga ngebayanginnya gitu. Narunya immuuuttt banget. Makasih udah RnR. Salam kenal juga.
naru3 : Tenang aja ini SasuNaru kok. Thanks udah RnR.
ObichanNara Joshena : haha … makasih. Thanks udah RnR. Maaf tidak bisa update kilat.
baka nesia chan : Iya nih udah update.
thanks kalian semua udah mau RnR fic Yan ini.
Review Please …
