The Great Detective L Lawliet

Aloha! Hai ini chapter ke-2nya lagi bersemangat buat padahal lagi banyak tryout sambai blenger nanti waktu UN. Tak menyangka bakal ada yang review, seneng banget... Oke silahkan membaca...

Disclainer: DN punyanya duo TO

TGD Kiyoshiro Yumemizu punyanya Kei Enue & Kaoru Hayamine

Warning: OOCness, OOSness, dan typo kalau ada tolong direview biar bisa diperbaiki...

Menuju Lokasi

Kalian tentu mengenal banyak detektif terkenal, apakah kalian mengenal detektif yang satu ini? Detektif ini adalah L Lawliet, detektif yang dapat diandalkan dalam kasus yang kurang masuk akal oleh para polisi bahkan oleh jajaran FBI.

Aku Mello adalah anak pertama dari 3 saudara kembar, Matt adalah anak kedua yang sangat hobi main olahraga bahkan gamenya pun ia mainkan walaupun memang banyakan main game. Near adalah anak termuda dari kami 3 saudara kembar, ia hobi memainkan boneka dari gundam sampai barbie pun ia mainkan kadang ia terlihat memeluk teddy bear, kadang pula memainkan hulknya yang berpelukan dengan barbie. Sedangkan aku pecinta coklat yang nggak takut kena diabetes akut.

Sekarang kami akan mengikuti syuting mengenai cerita berhantu yang berada di sebuah pulau... Dan sekarang adalah tepatnya kami akan pergi ke pulau tersebut.

"Matt aku gak usah ikut ya...," kataku memohon sangat kepada Matt karena aku lebih memilih tinggal bersama coklatku daripada bersama dengan orang yang tidak kukenal.

"Tidak bisa! Mama bilang pendapatan untuk syuting kita sudah berubah menjadi coklat yang kamu embat itu," kata Matt lagi asik bermain game consolenya.

"Betul Mello gak boleh bilang nggak bisa tuh si Profesor aja seneng-seneng gaje plus sampe pakai pakaian punyanya si Sherlock Holmest," kata Near juga lagi mengemas benda yang bakal dia bawa.

"Kok tumben kamu bantuin Matt, aku kan lebih tua dari dia jadi aku dong yang dibantu," kataku memohon dengan inoncent.

Saat Mello lagi nangis inoncent si Matt ama Near sedang beresin baju ama perlengkapan lain buat minggat ke pulau tak berpenghuni tersebut.

"Ayo pergi!" kata Matt dan Near sambil menarik Mello yang menyeret semua persediaan coklat untuk setahun. Si Near lagi bawa sekoper penuh mainan bahkan teddy bearnya yang besar ikut pula ia bawa.

Sesampainya di pelabuhan pribadi milik Light Company, disana terdapat orang lain ada yang menutupi semua mukanya pake kacamata ama masker trus pake jaket musim dingin. Ada artis tenar Mizuyana Tenichi dan aktor tenar Teriyaki Zabo, penata rias yang suka bawa harisen, penata cahaya yang badannya kuntet tapi punya butler keren, penata musik yang ternyata orang asing bernama Gazel juga kami menaiki sebuah kapal speed boat.

"Ini kapal berapa harganya," kata Matt seperti berusaha untuk membeli kapal tersebut.

"Mmm, cuma 200 juta yen kok," kata Light dengan mantap dan jelas.

"Cuma?" kata trio kembar dalam hati.

"Berapa ya bila dalam bentuk yen," kata Profesor saking id**tnya.

"Ya sudah kita masuk ke kapal," katanya dengan tenang.

"Siapa yang mengemudikan boat ini? Saya saja, ada kok surat ijinnya," kata Profesor dengan sangat tenang padahal kami membayangkan bagaimana bila dia yang ngendarain seram.

"TIdak perlu cemas orang yang disebelah sanalah yang akan mengemudikannya," kata Light tenang menujuk orang yang berpakaian serba aneh tersebut."Yasudahlah ayo masuk."

Di dalam kapal Near asik memainkan kapal padahal kapal itu bergoyang dan membuat 1/2 dari penghuninya mabuk laut yap kecuali Matt dia jua asik memainkan game consolenya tak kenal waktu. Yap Mello juga nggak yah berarti trio kembar tersebut gak ada yang muntah apapun ketakutan akan air laut, cuman si Mello selalu nggak sabar. (Sedangkan sang Profesor sedang asik makan cake + minum gula teh (gulanya banyakan) sambil duduk (baca: jongkok) dengan tenangnya.

"Sudah sampai blum," tanya Mello.

"Blum," kata Matt masih asik memainkang game consolenya.

(5 menit kemudian)

"Sudah sampai blum," tanya Mello lagi.

"Blum," kata Matt masih tetap asik dengan game consolenya.

(5 menit kemudian)

"Sudah sampai blum," tanya Mello ke-2 kalinya.

"Blum," kata Matt masih tetap asik memainkang game consolenya.

(5 menit kemudian)

"Sudah sampai blum," tanya Mello ke-3kalinya.

"Blum," kata Matt mulai bosan menjawab.

(5 menit kemudian)

"Sudah sampai blum," tanya Mello.

"Berisik aja lu," kata Matt sekarang sudah bosan menjawab pertanyaan mello.

"Kan gue bosen duduk mulu di dalam kapal," kata Mello menatap Matt dengan puppy eyesnya.

(a: gue juga begitu kalau bosen ditengah perjalanan, atau bilang bosen sampai semuanya ikut bosen)

"Bosen telpon aja 14055, anda puas kami senang," kata Matt mulai ngawur karena sebal.

Semua orang yang dari tadi mendengar percakapan duo id**t itu hanya diam kecuali Near dan Profesor sedang asik dengan dunianya. Sampai Light mulai berpidato yang menyebabkan semua mata melihat kepadanya (emang miss universe).

"Kau tahu katanya pulau yang dengan mudahnya aku dapatkan itu memiliki legenda loh... Aku sudah mensearchnya di G**gle ( jangan dicari)," kata Light penuh dengan semangat membara.

"Legenda apa itu? Seru tidak?" tanya si artis Mizuyana Tenichi mulai merasa senang karena betul ia bosan di dalam kapal tersebut maklum sering naik pesawat.

"Yap legenda itu adalah 2 orang kakak beradik yang tinggal di sebuah pulau yang memiliki legenda mengenai siapapun yang memiliki tanduk diatas kepalanya akan beruntung," kata Light memulai ceritanya.

Suasana memanas bahkan yang tadinya terbengong-bengong mulai menatap sang presdir muda tersebut. Light tentunya yang diperhatikan oleh sang Profesor mukanya memerah seperti bertemu pandang dengan gadis yang ia cintai atau...

"Ayo lanjutkan!" kata Mello bersemangat karena mulai ada hal yang menarik.

"Ternyata si kakak memiliki sebuah tanduk yang memang sulit didapatkan oleh orang pulau tersebut yang menyebabkan ia diperebutkan sampai adanya pertumpahan darah untuk mendapatkan si kakak...," kata Light mulai menegangkan suasana yang emang udah tegang.

"Wew cerita yang menarik," kata Profesor mulai bergumandang.

"Makasih, mau dilanjutkan?" kata si Light tersipu-sipu yang menyebabkan trio kembar tersebut iseng tapi karena penasaran akhir ceritanya merekapun hening sejenak (a: emang lagi upacara). "Sang kakak yang merasa bersalah akan kejadian tersebutpun membuat cara agar warga pulau tersebut tidak sampailah terjadi perang saudara untuk merebutkan dirinya. Dengan sedih ia menjtuhkan diri ke jurang agar tidak ada satupun yang memperebutkan dirinya kembali...," kata Light.

"Bagaimana perasaan adiknya," tanya si Near.

"Woi ini juga mau dijelaskan," kata Light dalam hati sambil menenangkan diri.

"What are you talk about?" tanya si Gazel eh yang lain baru inget kalau Gazel gak bisa bahasa Jepang.

"About the legend of the island which we shall come," kata Near dengan tenangnya, yang lain bengong gaje si Gazel ngangguk-nggaguk."Lanjut Light," katanya dingin.

"Si adik tentu sedih telah kehilangan seorang kakak yang selalu melindunginya, apalagi ia adalah satu-satunya yang menyayangi dirinya maka si adik menyusul mati di jurang tersebut, sampai terdapat 2 buah pulau yang sama persis, yang hanya membedakannya hanya adanya 1 gunung disalah satu pulau tersebut," si Light menyelesaikan ceritanya."Sepertinya kita sekarang sudah sampai," kata si Light,"selamat datang di pulau kami ini."

Pulau hanya daratan aneh dengan sebuah gunung yang menjulang sangat tinggi di sebuah pulau bersalju. Disana terdapat rumah besar yang terlihat indah.

"Wah tadi nama pulau ini Kimake kan? Kok nggak pulau tak berpenghuni atau yang seram-seram gitu," kata Profesor ala detektif.

"Woi ini aja udah serem!" kata trio kembar kompak.

"Kalau udah begini kapal yang ditumpangi kita semua akan meledak dengan indahnya," kata si Profesor masih kumat ala detekttif sampai hal itu benar-benar terjadi...

"Tuan Light tidak apa-apa," tanya Near melihat ledakan kapal seharga 200 juta yen tersebut.

"Wah indahnya melihat ledakan seharga 200 juta yen," kata si Light bangga padahal yang lainnya kalau kehilangan barang elektronik aja nangis gaje.

"Selamat datang di Pulau Kimake," kata seorang tua yang berpakaian ala pelayan.

"Wah tiba-tiba sekali,"kata Matt kaget ngeliat penampakan hantu orang tua *digeplak Watari*.

"Oh dia pelayan di rumah ini, panggil saja ia Watari," kata Light tenang.

Bagaimana mereka akan menghadapi syuting sedangkan kemungkinan terbesar tak ada kendaraan untuk memulangkan mereka penasaran... Tunggu aja chapter berikutnya...

Bila ada salh typo tolong beritahu karena emang saya tuh males ngedit hwahahahahahahahahaha tentu pake review.

Au revoir

(lagi-lagi bahasa prancis)