A/N:
FF ini saduran dari novel maha karya Ilana Tan "Summer in Seoul"
Jadi ini bukan asli punya saya, hanya bikin versi Yunjae nya aja
Semua kejadian dan cerita sesuai dengan isi novel, namun akan terjadi beberapa penambahan dan perubahan yang disesuaikan dengan peran Jung Yunho dan Kim Jaejoong juga kesesuaian cerita
FF by. Jaehan Kim Yunjae
Chapter 1
First impression
"Sekarang aku masih di jalan, Mhm.. baru pulang dari kantor. Aku juga tahu sekarang sudah jam sepuluh… Ya, jam sepuluh lewat delapan belas menit. Terserahlah."
Jaejoong melangkah perlahan. Sebelah tangannya memegang ponsel yang ditempelkan ke telinga, dan tangan yang sebelah lagi mengayun-ayunkan tas tangan kecil merah. Ia menghembuskan napas panjang dengan berlebihan dan mengerutkan kening. Saat ini orang terakhir yang ingin diajaknya bicara adalah Choi Siwon, tapi laki-laki itu malah meneleponnya dan bersikap seperti kekasih yang protektif
"Siwon-ah, sudah dulu ya? Aku lelah sekali" Jaejoong menyela ucapan Siwon dan langsung menutup ponselnya. Sekali lagi ia menghembuskan napas panjang, lalu menatap ponselnya dengan kesal.
Kenapa hari ini muncul banyak masalah yang tidak menyenangkan? Tadi pagi ia sudah bermasalah dengan salah satu klien perusahaan, kemudian diomeli atasannya dan akhirnya harus lembur sampai selarut ini. Jaejoong semakin kesal begitu mengingat apa yang sudah dialaminya sepanjang hari. Tapi ia sudah terlalu lelah untuk marah-marah. Seluruh tulang di tubuhnya terasa sakit dan otaknya sudah tidak bisa disuruh berpikir. Lagi-lagi ia menghembuskan napas panjang.
Ini bukan pertama kalinya Jaejoong harus bekerja sampai selarut ini, tapi hari ini ia sudah memutuskan akan berhenti bekerja untuk perancang busana itu. Pekerjaannya sungguh-sungguh memakan waktu dan tenaga sehingga tidak ada lagi tenaga yang tersisa untuk berkonsentrasi pada kuliahnya di pagi hari. Ia berhenti melangkah dan mendesah
"bisa gila aku" gumamnya pelan
Jaejoong memandang sekelilingnya. Kota Seoul masih belum menunjukkan tanda-tanda mengantuk. Bangunan-bangunan di sepanjang jalan seakan sedang berlomba-lomba menerangi seluruh kota, membujuk orang-orang untuk menikmati indahnya suasana malam musim panas di ibukota Korea Selatan itu. Meskipun sudah bertahun-tahun menetap di Seoul, Jaejoong masih terkagum-kagum pada suasana kota ini. Jam memang sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat, namun jalanan masih dipenuhi pejalan kaki dan mobil-mobil yang berlalu-lalang. Aroma makanan tercium dari restoran Jepang di depan sana, lagu disko terdengar samar-samar dari toko musik disampingnya, suara orang-orang yang berbicara, berteriak, dan tertawa.
Tiba-tiba Jaejoong merasa kepalanya pusing. Lalu pandangannya berhenti pada toko makanan kecil di seberang jalan.
"baiklah" ucapnya setelah cukup merenung dan menentukan apa yang harus dilakukannya
Jaejoong menyeberangi jalan dengan langkah cepat, secepat yang mungkin dilakukan sepasang kaki yang belum beristirahat selama delapan jam terakhir, dan masuk ke toko itu. Setelah memberi salam kepada Paman pemilik toko yang sudah lama dikenalnya, Jaejoong langsung berjalan meuju rak makanan.
"Ne, Jaejoong-ah, ada masalah apa lagi di kantor?" Tanya Paman pemilik toko setelah melihat lima bungkus besar keripik kentang yang diletakkan Jaejoong di meja kasir.
"Ah- tidak ada, aku hanya sedikit stress" balas Jaejoong tersenyum malu lalu membuka tas tangannya dan mencari dompet. Kemana dompet itu?
"sebentar Paman, aku yakin sekali sudah memasukkan dompetnya tadi.." Jaejoong mengaduk-ngaduk isi tas tangannya, lalu menumpahkan seluruh isinya ke meja kasir. Kini selain lima bungkus keripik kentang, disana ada sisir kecil, buku kecil yang agak lusuh, ballpoint yang tutupnya sudah hilang, kunci, payung lipat, tiga keping uang logam, sapu tangan merah, ponsel, dua lembar struk belanja yang sudah kusam, bungkus permen kosong, jepitan rambut dan tak lupa cermin kecil.
"Kenapa tidak ada?" Jaejoong bergumam sendiri sambil terus mencari. Ketinggalan di rumah? Berarti seharian ini ia tidak menyadari bahwa ia tidak membawa dompet?
Tiba-tiba ia mendengar dering ponsel. Jaejoong melirik ponselnya yang tergeletak di meja kasir. Oh, bukan ponselnya yang berbunyi.
"Kau sudah sampai di rumah? Ya… sebentar lagi aku kesana"
Jaejoong menoleh ke arah suara bernada rendah itu. Suara itu milik pria bersetelan putih yang berdiri dibelakangnya. Rupanya bunyi tadi adalah bunyi ponsel pria tersebut. Sekarang Jaejoong melihat orang itu menutup ponsel dan memasukkannya ke saku celana panjangnya. Sebelah tangannya memegang keranjang kecil berisi lima kaleng soju. Pria berkacamata itu masih muda, mungkin usianya sekitar pertengahan dua puluhan, wajahnya tampan dan penampilannya rapi sekali seperti seorang yang mempunyai kedudukkan penting di sebuah perusahaan besar.
Pria itu memandang Jaejoong, lalu tersenyum ramah. Baru pertama kali Jaejoong melihat senyum yang begitu menarik. Senyum itu membuat rasa lelahnya seakan menguap tak berbekas. Senyum itu sangat menawan, sangat… Jaejoong menggeleng untuk menjernihkan pikirannya dan kembali memusatkan perhatiannya pada barang-barangnya yang berserakkan di atas meja kasir.
Tiba-tiba Jaejoong merasa tangannya ditepuk-tepuk. Ia mengangkat wajahnya dan melihat Paman pemilik toko sedang tersenyum kepadanya
"Jaejoong-ah, bagaimana kalau tuan itu membayar belanjanya duluan?" Tanya Paman pemilik toko
"Oh, ya maaf" jawab Jaejoong memandang Paman pemilik toko, lalu berpaling ke arah pria yang berdiri dibelakangnya. Jaejoong menyingkir ke samping dan pria itu melangkah maju
"Berapa?" Tanya pria itu sambil meletakkan keranjang yang dipegangnya di meja kasir. Tiba-tiba terdengar suara ponsel lagi.
Kepala Jaejoong mulai terasa seperti ditusuk-tusuk. Ia sudah sangat lelah dan sekarang bunyi ponsel pria itu nyaris membuatnya lepas kendali. Pria itu mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan meliriknya sekilas. Lalu ia meletakkan ponsel itu di meja dan merogoh saku yang sebelah lagi. Ia mengeluarkan ponsel yang berbeda, ternyata ponsel yang kedua itulah yang sedang berbunyi nyaring.
Astaga, cepat jawab teleponnya! Satu ponsel saja sudah bikin pusing, kenapa harus punya dua? Pikir Jaejoong sambil memijat-mijat pelipisnya. Pria itu membayar belanjaannya sambil tetap berbicara di ponsel, lalu berjalan ke pintu. Tiba-tiba ia berbalik dan mengambil ponsel satu lagi yang tadi diletakkan di meja kasir.
"Maaf" ucapnya sambil tersenyum kepada Paman pemilik toko dan Jaejoong. Lagi-lagi senyum itu, senyum yang bisa menghangatkan hati yang beku sekalipun.
Tunggu, kata-kata apa itu tadi? Jaejoong memejamkan matanya kuat-kuat dan ketika ia membuka mata kembali, pria itu sudah berjalan keluar dan masuk ke mobil sedan putih yang di parkir di depan toko.
Karena Jaejoong tetap tidak bisa menemukan dompetnya, Paman pemilik toko mengijinkannya memabayar besok. Jaejoong mengumpulkan kembali barang-barangnya yang berserakkan di meja kasir sambil berkali-kali membungkukkan badan dalam-dalam sebagai tanda terima kasih sekaligus permintaan maaf.
"Sekarang saatnya pulang" ucapnya setelah keluar dari toko itu dan membuka sebungkus keripik kentang yang dibelinya, namun saat itu juga ponselnya berbunyi dan ia mengutuk hari dimana ponsel diciptakan. Sebenarnya Jaejoong tidak ingin menjawab ponselnya karena merasa harus menghemat tenaga untuk perjalanan pulang, tapi benda itu terus saja menjerit minta diangkat. Akhirnya Jaejoong menyerah dan mengaduk-aduk tas tangannya dengan kesal untuk mencari ponselnya sebelum ia sendiri yang akan menjerit di tengah jalan malam itu.
"Haaloo!" Jaejoong ingin marah, tapi suaranya malah terdengar putus asa. Tidak terdengar jawaban dari ujung sana. Orang itu bisu atau apa?
"Halo? Siapa ini? Silahkan bicara… Halo? HALOO?" Jaejoong sedikit berteriak dan baru saja akan memutus hubungan ketika terdengar suara seorang pria yang ragu-ragu di seberang sana.
"Maaf.. bukankah ini ponsel Yunho?" Siapa lagi orang ini
"Anda salah sambung. Ini ponsel Kim Jaejoong" ujar Jaejoong ketus dan langsung menutup flap ponselnya dengan keras
"tidak bisakah kaubiarkan aku tenang sedikit?" Jaejoong menatap ponselnya sambil menggigit bibir bawahnya
Jaejoong baru akan mencabut baterai ponselnya ketika ia merasa harus menghubungi Ummanya untuk memberitahu ia akan segera sampai di rumah. Walaupun Jaejoong tinggal di Seoul dan orangtuanya di Chungnam, mereka sering menelepon dan mengecek keberadaannya. Tadi Ummanya malah sudah empat menelepon untuk menanyakan kenapa Jaejoong belum sampai di rumah juga.
Jaejoong membuka ponselnya kembali dan menekan angka satu yang akan langsung terhubung ke rumah orangtuanya di Chungnam, tapi ia heran ketika melihat tulisan yang tertera di layar ponselnya setelah ia menekan angka itu. Bukan tulisan 'Rumah' yang tertera seperti biasa, tapi nama Park Yoochun. Jaejoong cepat-cepat memutus hubungan dan tertegun.
Jaejoong memperhatikan ponsel yang dipegangnya. Memang itu ponsel miliknya, setidaknya bentuk dan warnanya sama persis dengan ponsel miliknya. Ia membuka daftar telepon di ponselnya dan tercengang melihat nama-nama yang tidak dikenalnya. Otaknya yang sudah lelah dipaksa berpikir. Tadi di toko itu, semua barangnya berserakan di meja kasir, termasuk ponselnya. Ketika ponsel milik pria yang berdiri dibelakangnya tadi berbunyi untuk pertama kali, ia mengira ponselnya sendiri yang berbunyi karena dering ponsel mereka sama
Kemudian ponsel kedua pria itu berbunyi. Pria itu meletakkan ponselnya yang pertama di meja kasir dan mengeluarkan ponsel kedua. Jadi, di meja kasir ada ponsel pria itu dan ponselnya. Jaejoong teringat bentuk ponsel pria itu yang diletakkan di meja memang sama dengan dengan bentuk ponselnya. Sebelum keluar dari toko, pria itu berbalik untuk mengambil ponsel pertamanya yang tertinggal di meja. Sekarang Jaejoong memegang ponsel dengan dengan daftar nama yang tidak dikenalnya.
Otaknya mulai bisa mencerna apa yang sedang terjadi. Artinya… artinya… orang itu telah mengambil ponsel yang salah. Pria tadi mengambil ponselnya. Jaejoong memukul-mukul dadanya dan mengerang putus asa
"Bagaimana ini? Aduh, bisa gila aku. Gila" ia melihat ke kanan dan ke kiri. Mobil pria itu sudah tidak tampak. Jaejoong merasa tubuhnya nyaris ambruk ke tanah. Rasanya ingin menangis saja. Kemana ia harus mencari orang itu?
Tiba-tiba ide muncul di otaknya yang sudah hampir lumpuh. Ponselnya ada pada pria itu, bukan? Berarti Jaejoong bisa menelepon ke ponselnya dan pria itu akan menjawab. Sebersit tenaga muncul kembali. Ia menghubungi ponselnya dengan ponsel pria tadi yang sedang dipegangnya. Jaejoong berjalan mondar-mandir di tepi jalan dengan gelisah sambil menunggu hubungannya tersambung
"Cepat angkat… cepat.. tolong… ce-Halo?" ucapnya tidak sabar
"Oh, Chun. Kenapa lama sekali?"
Park Yoochun tersenyum meminta maaf kepada laki-laki bertumbuh tinggi yang membukakan pintu, lalu melangkah masuk ke rumah yang sudah sering didatanginya
"Maaf, jalanan agak macet" katanya sambil berjalan ke ruang tengah yang cukup luas
"Yunho-ah, ada makanan ringan, aku sudah beli minuman"
"Chun, kau sudah dengar gosipnya?" Tanya Yunho mengikuti Yoochun ke ruang tengah tanpa menghiraukan pertanyaan temannya itu. Yoochun menatap temannya yang menghempaskan diri ke sofa, wajahnya menunjukkan kekhawatiran
"Dari mana asal gosip itu?" Tanya Yunho, seakan-akan bertanya pada diri sendiri sedangkan Yoochun hanya tersenyum kecil dan mengulurkan sekaleng soju pada Yunho
"Aku dibilang gay" tawanya
"Kenapa mereka bisa berpikir seperti itu? Memangnya sikapku seperti wanita? Atau aku terlalu dekat dengan pria? Katakan padaku Chun, atau jangan-jangan selama ini kau juga berpikir seperti mereka?"
"Kau tahu aku tidak pernah berpikir seperti itu" ujarnya tenang dan duduk di kursi di hadapan Yunho dan meneguk soju dalam genggamannya
"Masalahnya, tabloid dan majalah memang suka mencari berita, kau juga tahu mereka sering menulis artikel yang tidak-tidak. Kau tanya padaku kenapa mereka bisa berpikir kau gay? Mungkin karena selama ini kau tidak pernah terlihat dekat dengan wanita manapun di depan publik"
"kalau begitu terserah meraka mau berpikir apa, kalau kita tidak menanggapinya, gosip itu tentu akan mereda sendiri" ucap Yunho mengangkat bahunya
"dua minggu lagi album baru mu akan diluncurkan, aku takut rumor ini bisa mempengaruhi penjualan album mu nantinya. Satu gosip bisa menimbulkan gosip-gosip lain, bahkan masalah lama juga bisa diungkit-ungkit. Produsermu tidak akan senang. Ditambah lagi, bagaimana dengan para penggemarmu? Apa yang akan mereka pikirkan? Kau bisa kehilangan pasar" balas Yoochun menggelengkan kepalanya
"Lalu bagaimana?" Tanya Yunho menatap langit-langit ruangan itu
"untuk masalah gosip gay itu, kurasa sudah saatnya bagimu untuk memperkenalkan seseorang kepada publik" balas Yoochun meneguk kembali soju ditangannya
"Apa?" kaget Yunho menatap Yoochun tajam
"sederhana saja, kenapa kau tidak mulai pacaran?" usul Yoochun
"Apa?"
"yang penting jangan berpacaran dengan artis, bisa jadi skandal, terlalu beresiko. Kita juga tidak bisa segera membuat pengumuman resmi kepada wartawan bahwa kau sedang menjalin hubungan dengan seseorang karena mereka pasti curiga dan akan menduga itu hanya sandiwara untuk mengelak dari gosip gay"
Yoochun mengerutkan kening dan tenggelam dalam pikirannya… Akhirnya ia menoleh dan mendapati Yunho sedang menunggu hasil renungannya
"baiklah" ucapnya sambil tersenyum
"kita misalkan saja bahwa sebenarnya kau punya kekasih tapi kekasihmu tidak bersedia diekspos, jadi kau terpaksa merahasiakan hubungan kalian. Dengan begitu, tidak ada yang tahu siapa orang itu dan tidak ada yang pernah melihatnya"
"tidak ada yang pernah melihat dan tidak ada yang tahu. Apa untungnya begitu? Orang-orang tidak akan percaya pada sekedar kata-kata belaka" bingung Yunho mendengar penjelasan temannya itu
"tapi kita bisa memberikan bukti"
"bukti apa?"
"foto dirimu bersama orang itu"
"orang yang mana?"
"orang yang menjadi kekasihmu"
"kekasih yang mana?"
Semua bisa diatur kalau memang kau mau"
"maksudnya?"
"kita cari seseorang yang tidak dikenal siapa pun dan memintanya menjadi kekasihmu selama beberapa saat. Kau hanya perlu memamerkannya di depan wartawan, beres, bukan?" senyum Yoochun
"Bagaimana kalau wartawan mulai menyelidiki asal-usul orang itu? Lagi pula dimana kita cari orang yang bersedia dan bisa dipercaya untuk diajak bekerja sama? Masa dipilih sembarangan?" Tanya Yunho lagi sedang Yoochun meneguk sojunya lagi menatap tamannya yang tampak cemas mempertimbangkan usulnya yang sulit ditebak itu sambil menggigit bibir bawahnya
"orang seperti apa yang akan kita pilih? Boleh aku pilih sendiri? Atau kita pilih saja orang pertama yang berjalan melewati pintu itu?" ucap Yunho akhirnya setelah beberapa saat dan mendesah yang dibalas dengan tawa renyah dari Yoochun
"Chun, ada apa?"
"astaga Yunho, aku hanya bercanda, kenapa kau serius begitu?" ucapnya mendorong pelan bahu Yunho
"Apa?"
"Aku hanya bercanda soal usul tadi. Sudahlah, tidak usah dipikirkan, pasti ada jalan keluarnya" Yoochun menggeleng-gelengkan kepalanya pelan
"Ah, pusing! Aku mau keluar jalan-jalan sebentar. Chun, kau mau ikut?" dengus Yunho tertwa kecil
"Oke" balas Yoochun
"Oh ya Chun, ponselku sudah diperbaiki belum?" kembali Yunho memainkan kaleng soju yang sedang dipegangnya
Yoochun mengeluarkan ponsel dan megulurkannya kepada Yunho, lalu ia teringat pada telepon yang diterimanya dalam perjalanan ke rumah Yunho tadi. Seseorang yang mengaku bernama Kim Jaejoong itu berkata ponsel mereka tertukar. Karena ia sendiri tidak bisa mengambilnya, Yoochun meminta orang itu datang ke rumah Jung Yunho. Mungkin permintaannya agak keterlaluan karena hal itu bukan salah orang itu, tapi apa boleh buat, Yunho sedang uring-uringan dan hal itu membuatnya tidak suka menunggu lama. Ia baru akan menceritakan hal ini pada Yunho ketika bel pintu depan berbunyi.
"Siapa yang datang malam-malam begini?" heran Yunho
Jaejoong benar-benar tidak mengerti kenapa hari ini ia sial sekali. Mungkin begitu sampai di rumah ia harus cepat-cepat mandi air hangat untuk membuang semua rasa penatnya. Sekarang ia berdiri di depan pintu rumah besar warna putih. Pria yang katanya bernama Park Yoochun menyuruhnya kemari untuk mengambil ponselnya yang tertukar. Jaejoong merasa sangat jengkel, kenapa ia harus datang, bukankah orang itu yang deluan mengambil ponsel yang salah? Ia bahkan sampai harus meminjam uang dari Paman pemilik toko supaya bisa naik bus, ditambah harus berjalan kaki untuk sampai di kawasan perumahan elite ini.
Jaejoong kembali menghembuskan napas. Sudahlah, tidak apa-apa, hal terpenting sekarang adalah mendapatkan ponselnya kembali, setelah ini ia bakal bisa bergegas pulang. Hari sudah semakin larut dan ia sudah menguap empat kali dalam limat belas menit ini. Pintu terbuka dan Jaejoong mengenali wajah pria yang membuka pintu itu. Ia pria yang ada di toko tadi, walaupun agak sulit, Jaejoong memaksa seulas senyum sopan. Pipinya terasa agak kaku, tapi ia berharap senyumnya terlihat normal.
"Apa kabar? Saya Kim Jaejoong yang tadi menelepon. Saya ingin mengembalikan ponsel Anda. Ini" Jaejoong mengulurkan tangannya yang memegang ponsel orang itu
"Oh, terima kasih banyak" kata pria itu ramah
"Saya benar-benar minta maaf karena sudah merepotkan. Silakan masuk, ponsel Anda ada di dalam" tambahnya
Sebenarnya Jaejoong tahu ia tidak boleh masuk ke rumah orang tak dikenal sembarangan, apalagi jam selarut ini. Tapi otaknya sudah tidak bisa berfungsi lagi sebagaimana mestinya dan ia hanya ingin cepat-cepat menyelesaikan masalah supaya bisa pulang ke rumah dan tidur. Lagi pula orang itu kelihatan sangat baik.
Jaejoong melangkah masuk dan membiarkan dirinya dibawa ke ruang duduk luas dengan perabotan mewah. Di sofa panjang yang mendominasi ruang tamu itu duduk seorang laki-laki yang sedang berbicara di telepon. Wajahnya tampan, potongan rambutnya bagus dan rapi, walaupun Jaejoong pribadi tidak terlalu suka dengan warna rambut yang agak kecoklatan. Ia merasa pernah melihat laki-laki itu entah dimana.
"Mungkin Anda salah sambung" Jaejoong mendengar pria itu berkata di ponselnya
"tidak ada yang namanya Kim Jaejoong atau Hero disini"
Jaejoong menatap Yoochun dengan pandangan bertanya sambil menunjk kearah ponsel yang sedang dipegang laki-laki tampan di sofa itu
"Ya, itu ponsel Anda" ucap Yoochun tersenyum kecil
"Maaf, Kim JeongSu ssi, saya benar-benar tidak mengenal Anda. Saya juga tidak kenal Kim Jaejoong, bagaimana saya bisa meminta dia menjawab telepon Anda? Anda salah sambung" kesal Yunho tanpa menyadari kedatanagn Jaejoong dan mengerutkan keningnya
"Orang aneh" tambahnya menutup flap ponselnya dengan keras
"Yun.. ponsel itu milik orang ini" ucap Yoochun menunjuk kearah Jaejoong dan Yunho berpaling ke arah Jaejoong. Ketika mata mereka bertemu, baru Jaejoong sadar siapa orang itu.
Yunho agak bingung mendegar penjelasan Yoochun, pandagannya berpindah-pindah dari sang manajer ke pria yang berdiri di hadapannya, lalu kembali ke manajer lagi. Secara sekilas, ia mengamati orang asing yang sekarang ada di ruang tamunya itu; pria tinggi dengan perawakan yang cukup tegap namun tetap lebih pendek dan kecil dari tubuhnya, dengan rambut hitam pendek yang sangat sesuai dengan bentuk wajahnya dan tangannya menjinjing kantong plastik besar serta tas tangan. Raut wajahnya terlihat kusam dan lelah, kulitnya yang memang sudah putih terlihat sangat pucat. Pria itu diam tak bersuara sementara Yoochun menjelaskan apa yang sudah terjadi
"Oh, jadi ini ponsel Anda?" Tanya Yunho sambil bangkit dari sofa lalu mengulurkan ponsel yang sedang dipegangnya
"itu.. tadi-siapa namanya, maaf saya lupa- menelepon mencari Kim Jaejoong atau Hero. Anda sendiri Kim Jaejoong atau Hero?"
"dua-duanya nama saya" jawab Jaejoong tersenyum samar dan ponsel itu kembali berbunyi yang membuat Yunho tersentak kaget
"silakan dijawab" ucapnya cepat menyerahkan ponsel itu pada Jaejoong
"Halo" Jaejoong menerima ponsel itu dan langsung menjawab panggilannya
Detik berikutnya Yunho dan Yoochun sedikit tertegun mendengar Jaejoong berbicara dengan logat yang sedikit aneh di telinga mereka. Yunho menoleh kearah manajernya untuk bertanya yang hanya dibalas dengan gelengan kepala dari Yoochun. Percakapan itu tidak berlangsung lama. Setelah menutup teleponnya Jaejoong memandang Yoochun dan Yunho bergantian dengan sikap serba salah.
"Eumm.. terima kasih banyak, saya pulang dulu" ucapnya sambil tersenyum
"Tunggu, kalau boleh tahu tadi kau menggunakan logat mana?" sela Yoochun
"aku berasal dari Chungnam" jawab Jaejoong langsung
"Oh, begitu" Yoochun tersenyum dan mengangguk-angguk Karena sepertinya Jaejoong tidak ingin membicarakannya lebih lanjut
"Saya permisi" ujar Jaejoong sambil beranjak ke pintu
"sebentar" selanya lagi menahan Jaejoong dan memandang Yunho sekilas
"Anda tidak datang dengan mobil, bukan? Tadi saya lihat tidak ada mobil diluar. Begini saja, kebetulan kami juga mau keluar, bagaimana kalau Anda kami antar? Saya merasa tidak enak karena Anda harus mengantar ponsel itu kemari" sesalnya
"tidak usah, saya bisa naik bus" balas Jaejoong menggoyang-goyangkan tangan kanannya
"kami bisa mengantar Anda ke halte bus, anggap saja sebagai tanda terima kasih sekaligus tanda permintaan maaf dari kami" lanjut Yunho yang tidak yakin pria itu bisa pulang sendiri dengan keadaan seperti itu
Jaejoong memandang mereka berdua bergantian dengan matanya yang besar, raut wajahya tampak bimbang. Sepertinya otaknya sedang berputar, mencari cara untuk menolak tawaran itu. Yunho bisa memahaminya...
"tidak usah khawatir, kami tidak akan macam-macam. Percayalah" ucap Yunho tersenyum padanya walaupun sebenarnya ucapannya tidak terlalu membuat Jaejoong yakin
"Oh, bukan. Saya tidak bermaksud begitu" kembali Jaejoong menggoyang-goyangkan tangan kanannya
"Ayo, biar kami antar sampai halte bus" sela Yunho meraih kunci mobil manajernya yang terletak di meja.
"Chun, kita pakai mobil mu saja, ya?" tambahnya menatap Yoochun
Sepanjang perjalanan Jaejoong lebih banyak diam, bila diajak bicara, ia hanya menjawab seperlunya. Yunho melirik manajernya yang sedang menyetir dan melirik ke kaca spion untuk mencuri pandang ke kursi belakang. Pria itu duduk bersandar dan memandang ke luar jendela dengan tatapan kosong. Yunho ingin tahu apa yang membuat pria itu terlihat begitu lelah
"Saya turun di depan sana saja" ucap Jaejoong tiba-tiba
"disini saja?yakin tidak mau kami antar sampai di rumah?" Tanya Yunho sedikit membalikkan tubuhnya menatap pria itu
"benar, kami tidak keberatan" tambah Yoochun
"tidak usah, berhenti disini saja" senyum Jaejoong penuh keterpaksaan
"Terima kasih" ucap Jaejoong setelah Yoochun menepikan mobilnya dan dia keluar dari mobil itu
"Selamat malam" tambah Jaejoong membukuk memberi salam
"Kim Jaejoong sii, ada yang ingin saya tanyakan. Apakah Anda mengenal teman saya ini?" Tanya Yoochun yang menurunkan kaca mobilnya dan menunjuk kearah Yunho
"Orang ini? Jung Yunho bukan? Jung Yunho yang penyanyi itu?" angguk Jaejoong mengerjapkan matanya
"lagu Anda… lagu Anda.. bagus" tambahnya
-TBC-
