Forgive Me

disclaimer : Masashi Kishimoto

pairing : Naruhina dan pairing kanon lainnya

warning : pasaran, typo dimana mana,OCC dll.

Maaf untuk masalah pemilihan karakter kemarin, Authornya udah ngantuk dan posisi mata udah burem gx pake kacamata. Tapi dah diperbaiki kok. Harap maklum Authornya baru buat akun dan baru belajar fanfiction. Biasanya cuma jadi silent rider. Ini chapter 2 dah update.

CHAPTER 2

Sepuluh tahun kemudian

Naruto POV

Saat ini aku berada ditaman. Duduk disebuah kursi kayu putih taman yang catnya masih baru. Sendirian? Oh tentu saja tidak mana bisa orang lumpuh sepertiku pergi sendirian ketaman ini. Aku tadinya bersama Asistentku yang juga sahabatku yang kini tengah pergi bersama kekasihnya. Aku sengaja mengajak mereka keluar, karna asistenku itu terlalu sibuk membantuku sampai tidak ada waktu dengan kekasihnya. Dan saat kekasihnya datang kekantor untuk urusan bisnis aku iseng mengajak mereka mencari angin. Sebenarnya mereka berdua tadinya ingin menemaniku duduk namun aku menyuruh mereka berdua untuk pergi membelikanku minum dan tentu itu modusku agar mereka memiliki waktu berdua. Aku sudah terlalu sering merepotkan mereka. Hidupku sepuluh tahun belakangan ini berubah 180 derajat. Selain karna aku tidak dapat berjalan lagi aku pun tidak dapat bersekolah dan bertemu teman-temanku. Meski beberapa sahabatku masih sering berkunjung. Memang sangat menyakitkan menerima kenyataan jika aku tidak dapat berjalan lagi. Namun aku harus merelakan jika aku tidak dapat berjalan, berlari atau bermain basket yang merupakan olah raga favoritku dulu. Bukan aku sendiri yang sedih dengan keadaanku, keluarga dan sahabat-sahabatku pun sama. Saat mengetahui keadaaku sahabat-sahabatku menangis bahkan Sasuke-teme dan Shikamaru yang kurang ekspresif menangis melihat keadaanku yang hanya bisa duduk dikursi roda dan tentu saja Sakura lah yang menangis paling kencang. Mengingat hal itu selalu membuatku ingin tertawa. Diantara yang lain mememang hanya mereka bertigalah yang sudah kuanggap sahabat layaknya saudaraku sendiri, selain karna kami sudah mengenal sejak kecil karna hubungan bisnis keluarga juga karna hanya mereka bertigalah yang paling mengerti perasaanku. Aku berkata agar mereka tidak sedih, dan tentu saja tidak berhasil. Mereka tetap menangis saat melihat keadaanku yang hanya bisa duduk dikursi roda. Mereka berjanji akan selalu membantuku, dan ku balas dengan anggukan. Kurasa itu cara terbaik untukku agar membuat mereka tidak terlalu sedih karna aku sendiri saat itu begitu bingung melihat mereka yang menangis juga merasa sangat bersalah apalagi kedepannya pasti aku akan merepotkan mereka. Namun aku tidak dapat berbuat banyak. Aku pun mengatakan pada mereka agar merahasiakan keadaanku dari teman-teman yang lain terutama Hinata, aku tidak ingin gadis itu merasa bersalah dan untungnya mereka mengerti. Aku belum siap mereka mengetahui keadaanku. Namun suatu saat aku akan memberitahu mereka itulah fikirku pada saat itu. wajarlah saat itu aku masih berumur 12 tahun dan aku merasa malu pada mereka. Namun rasa malu itu sudah hilang, aku sudah terbiasa dengan keadaanku ini. Bahkan dengan pandangan orang-orang yang akan selalu melirik dan membicarakanku saat aku tampil dipublik. Hidupku selama ini memang agak sulit dan selalu merepotkan orang lain dengan keadaaku. Aku ingin mandiri, namun nyatanya aku tidak bisa. Aku tidak bisa berjalan sepenuhnya? Itu alah aku bisa berjalan dengan serum yang dibuat khusus oleh Baa-san namun aku tidak dapat menggunakan itu setiap saat karna dampaknya yang cukup ekstrim sehabis penggunaan. Penggunaannya saja begitu menyakitkan namun aku mampu berjalan dengan normal selama 24 jam penuh namun setelahnya tubuhku akan lemah dan sudah pasti aku akan masuk rumah sakit terkutuk itu lagi. Baa-san berhasil membuat serum itu 6 tahun yang lalu dan saat melihat hasilnya Baa-san melarangku menggunakannya jika keadaan tidak mendesak. Beberapa kali aku pernah menggunakannya saat terjadi kejadian tidak terduga yang mengharuskanku untuk berjalan. Sejak aku lumpuh aku belajar mengambil alih perusahaan sesuai janjiku dengan Tou-san dan Tou-san mengambil alih perusahaan kakek dijerman. Sebenarnya sebelum keadaanku begini aku sudah memikirkan untuk menyetujui permintaan Tou-san dengan syarat aku masih dapat sekolah dan Iruka ji-san yang mengatur jadwalku. Namun takdir berkehendak lain, aku harus benar-benar keluar dari sekolah dan fokus pada perusahaan padahal Tou-san sudah memintaku untuk sekolah saja meski dengan keadaan begini namun sudah pasti ku tolak. Percuma bukan jika sekolah namun aku tidak dapat bermain bersama teman-temanku seperti biasanya dan hanya bisa melihat mereka dari kejauhan itu pikirku dulu yang masih kanak-kanak. Segala hal yang dipikirkan hanya untuk kesenangan semata. Tou-san selalu menyempatkan pulang 2 bulan sekali karna Kaa-san tidak ingin meninggalkanku padahal masih ada Baa-san yang akan menjagaku namun Kaa-san bersikeras tidak mau meninggalkanku bahkan sampai sekarang. Terkadang aku kasihan pada Tou-san yang harus bolak balik Jerman-Jepang yang sudah psti sangat melelahkan apalagi disana Tou-san hanya sendiri didampingin paman Kakashi sebagai asistennya. Tapi apa mau dikata jika sang Ratu (Kaa-san) sudah membuat keputusan maka tidak akan ada yang bisa melawannya. Aku tetap bahagia dengan kekuranganku karna dengan begitu aku akan melihat dengan jelas kasih sayang orang-orang yang ada disekitarku. Meski terkadang aku merasa tak suka dianggap lemah namun aku tahu itu bentuk kepedulian mereka. Pandangan orang sekitar yang selalu membicarakan dan mengasihaniku sudah kuanggap angin lalu meski awalnya aku sempat sedih juga namun aku mulai terbiasa. Yah seperti yang dilakukan Shikamaru yang merupakan Asisten dan sahabatku yang mau menemaniku ketaman bersama kekasihnya yang dulu merupakan kakak tingkatku yang juga kakak dari sahabatku diSuna – Kazekage Gaara – yang juga sudahku anggap sebagai kakakku. Melihat hubungan mereka yang agak unik – menurutku – selalu menjadi hiburan tersendiri untukku. Mengingat sifat mereka bertolak belakang. Temari-nee tegas dan Shikamaru pemalas. Mereka berdua sudah seperti kakakku sendiri yang selalu menemani dan memperhatikanku layaknya adik kecil mereka.

End Naruto POV

Bugh

"Auchk... sakit." Suara fenim mengusik lamunan Naruto dan membuatnya mengalihkan pandangan pada gadis malang yang sepertinya baru saja terjatuh.

"Kau baik-baik saja?" tanyanya agak khawatir saat melihat gadis itu masih saja mengelus siku dan lututnya yang tampaknya lecet dan mengeluarkan sedikit darah akibat gesekan kerikil yang ada dijalan. Menyadari ada yang menanyakan keadaannya gadis itu menolehkan kepalanya kesekitar untuk mencari siapa yang menanyakan keadaannya. Dibelakang dan didepan tidak ada orang, kiri dan kanan pun terlihat tidak ada yang mendekat dan menanyakan keadaannya. Teman-temannya pun masih agak jauh, dan hanya ada anak-anak yang bermain. Dan seorang lelaki tampan yang duduk tidak jauh darinya. Apa dia yang menayakan keadaannya tadi? Lalu kenapa dia tidak bangun dan membantunya berdiri. Sedangkan disisi Naruto ia terkejut melihat gadis itu. Mata gadis itulah yang mengingatnya pada seseorang. Mata khas yang hanya dimiliki oleh keturunan Hyuga. Secara tak sadar bibirnya tertarik membentuk senyum tulus. Sudah lama dia tidak melihat wanita itu. Rambutnya yang dulu pendek sekarang sudah panjang, badannya pun terlihat sangat indah. Parasnya terlihat sangat cantik dan terlihat lebih dewasa. Saphire dan amethys bertemu. Mereka berpadangan sangat lama seakan ingin menyelami dalamnya pesona mata satu sama lain. Cukup lama mereka saling menatap dan berakhir saat gadis itu mengakhiri pandangannya dengan menundukkan wajahnya.

Hinata POV

Tuhan siapa dia? Apa dia yang menyakan keadaanku tadi? Namun kenapa dia tidak menghampiriku dan membantuku berdiri? Kenapa dia hanya duduk saja namun kurasa tatapannya menyiratkan kekhawatiran. Saphirenya seakan mengingatkanku pada seseorang. Seseorang yang dulu sangat berharga bagiku, yang pernah menyelamatkan hidupku namun langsung menghilang saat aku sadar. Apakah dia orang itu?

End Hinata POV

"Kau baik-baik saja?" tanya Naruto kembali saat Hinata hanya diam dan menundukkan kepalanya. Hinata mencoba mendongkakkan kepalanya dan sebelum sempat menjawab ada seseorang yang menghampirinya dan segera menolongnya berdiri.

"Ya ampun Hinata-chan kenapa bisa jatuh? Kau tak apa? Maafkan aku ya?" tanya gadis yang memiliki mahkota yang sewarna bunga yang identik dengan musim semi dengan khawatir.

"Aku tak apa Sakura-chan hanya sedikit lecet aku kurang hati-hati tadi." Ucap Hinata dengan suara lembut dan menampikan senyum lembutnya untuk menenangkan sang sahabat yang terlihat sangat khawatir. Padahal iya kan yang ceroboh yang memilih berlari menghindari godaan teman-temannya.

"Syuk..."

"Hai. Lama tak bertemu?" sebelum Sakura dapat menyelesaikan kata-katanya sebuah suara baritone memotongnya. Segera saja Sakura mencari sumber suara tersebut dan menemukan seseorang yang sangat dikenalnya. Seakan lupa dengan tujuan awalnya segera saja Sakura menghampirinya dan memeluk Naruto erat dengan senyum yang memperlihatkan kebahagiaan dan kerinduan yang terpancar dari raut wajah dan matanya.

"Sedang apa kau disini?" tanya Sakura namun ia masih memuluk Naruto yang menunjukan betapa ia sangat merindukan Naruto, dan Naruto pun membalas pelukan itu. Ya hanya pelukan biasa, pelukan antar sahabat dan adik-kakak semata. Wajar saja Sakura begitu terakhir Sakura bertemu 3 bulan yang lalu sebelum Naruto pergi keParis karna bisnis. Hinata yang melihatnya menjadi bingung dan entah kenapa kurang suka melihat Sakura memeluk lelaki yang baru dilihatnya itu. Seakan seharusnya ialah yang melakukan itu. Ah apa yang ia pikirkan,dia baru melihat lelaki itu, tau namanya saja belum batin Hinata.

"Aku hanya sekedar cari angin. Saku-chan bisa kau lepaskan. Teme akan marah jika kau memeluku." Ucap Naruto yang mulai melepaskan pelukannya.

"Aku akan menghajarmu jika kau berani merebutnya." Ucap Sasuke dengan suara datar khasnya yang baru saja datang bersama Ino, Sai, Kiba, dan Tamaki. Sakura yang mendengar suara dari kekasihnya perlahan melepaskan pelukannya dari Naruto dan memandang Sasuke dengan cemberut yang justru terlihat sangat imut. Sedangkan Sasuke hanya terkekeh kecil.

"Ck, Ayolah Teme. Aku tidak akan merebutnya." Ucap Naruto sebal. Naruto mengamati orang-orang yang datang bersama Sasuke dan setelah cukup lama dia akhirnya mengenali mereka juga yang memandangnya. Dia melihat teman-temannya yang sepertinya tidak mengenalinya. Senyum tulus ia berikan kepada mereka yang memandangnya heran dan seperti orang asing.

"Hn." Tanggap Sasuke dengan trademark seorang Uchiha sejati namun terlihat senyum kecil diwajahnya yang jarang diperlihatkan. Dan itu membuat bingung teman-temannya, bagaimana bisa Sasuke seekspresif ini. Wajar mereka heran melihat Sasuke yang bisa sedikit ekspresif dibandingkan biasanya – kecuali bersama Sakura. Karna biasanya Uchiha bungsu itu hanya akan menunjukkan ekspresinya pada orang-orang terdekatnya saja, dengan mereka saja Sasuke jarang namun pada orang itu dia bisa menunjukkan ekspresinya seringan itu.

"Kau sendiri?" tanya Sasuke kurang yakin.

"Tentu saja tidak. Kau seperti tidak tau saja." Jawab Naruto santai.

"Ne Sasuke. Siapa dia?" tanya Ino heran. Sebelum Sasuke sempat menjawab Naruto sudah keburu memotong ucapannya. Dan Sasuke mendengus sebal melihat tingkah sahabatnya ini yang tidak sabaran.

"Lama tak bertemu Ino, Sai, Hinata, Kiba dan em...?"

"Tamaki. Dia kekasih kiba." Koreksi Sakura yang melihat Naruto kebingungan mengingat Tamaki baru menjadi kekasih kiba selama 9 bulan.

"Ah ya. Maafkan aku. Salam kenal Tamaki-san" Ucap Naruto dengan senyum lebarnya.

"Kau mengenal kami?" tanya Sai heran, dia memang merasa tidak asing dengan wajah orang yang ditemuinya ini. Tapi dia lupa pernah bertemu dimana, seperti seseorang dari masa lalunya yang menghilang sepertinya.

"Tentu saja dia mengenal kalian. Ini minumanmu." Ucap Shikamaru dengan nada malas yang baru datang bersama Temari dan ia pun segera menyerahkan minuman yang tadi diminta Naruto.

"Arigato." Ucap Naruto yang segera membuka kaleng berisi orange jus kesukaannya karna dia haus.

"Shika? Kau mengenalnya.?" Tanya Kiba heran.

"Astaga kalian tidak mengenalnya?" ucap Temari menunjuk Naruto dan menggelengkan kepalanya melihat mereka tidak ada yang mengenalinya.

"Ais kalian ini. Masak tidak menggingatku. Aku Naruto. Namikaze Naruto." Ucap Naruto dengan agak kesal memandangi mereka yang merasa asing dengannya setelah menandaskan 1 kaleng Orange jus.

"HAH?" itulah respon yang mereka berikan. Mereka tidak menyangka jika ini Naruto, teman mereka yang dulu menghilang. Benar ini dia? Begitulah kira-kira isi pemikiran mereka. Wajar saja mereka tak mengenali Naruto, sekarang penampilan Naruto terlihat sangat rapi dan gagah tidak seperti dulu yang berantakan dan terkesan seperti preman. Rambutnya pub dipangkas rapi, baju kantor dengan kemeja biru muda dan jas hitamnya membuatnya terlihat semakin tampan.

'Naruto-kun' batin Hinata senang dan malu seperti kebiasaanya dulu. Dia menundukkan wajahnya, tidak sanggup memandang Naruto yang semakin tampan dan terlihat gagah.

"Ini benar kau Naruto?" tanya Kiba tak percaya dan segera mendekat untuk memastikan. Memang jika diperhatikan dia mirip Naruto temannya sewaktu kecil namun terlihat lebih dewasa. Mata Saphire hangat, rambut pirang cerah, senyumnya, keceriannya dan jangan lupakan tiga pasang goresan seperti kumis kucing yang merupakan tanda lahirnya.

"Oh ayolah Inazuka Kiba. Kau masak tidak mengenaliku?" Ucap Naruto dengan mengerucurkan bibirnya. Dan saat benar-benar yakin jika orang yang ada dihadapannya benar-benar Naruto segera saja Kiba memeluk Naruto sepintas dan menyampaikan unek-uneknya tentang betapa kejamnya Naruto tidak memberinya kabar dan hanya ditanggapi Naruto dengan tawa renyah. Yang lainnya mendekat dan ikut memeluk Naruto bahkan Ino yang terakhir mendekatinya menangis karna sangat rindu, hanya Hinata yang mendekat dan meyalami Naruto dengan malu-malu sambil menundukkan wajahnya dan tentu Naruto menyambut itu dengan senyum lima jarinya.

"Hiks.. Hiks...Ka-kau kemana saja baka? Kamu tidak tahu kami merasa sangat kehilangmu. Hiks..." Ucap Ino sambil sesenggukan, Sai yang ada didekatnya segera memeluk Ino untuk merendam tangisnya.

"Banyak hal yang terjadi Ino. Ngomong-ngomong kalian akan kemana?" tanya Naruto dengan santai dan mencoba mencari topik baru, betapa beruntungnya ia hari ini bertemu dengan teman-teman lamanya.

"Kami akan kecafe diseberang taman. Mau ikut?" tawar Sakura dengan ceria. Naruto berfikir sejenak, mengingat-ngingat apakah dia ada janji pertemuan dengan klien atau tidak.

"Kita tidak ada janji hari ini. Kau free jika ingin ikut mereka." Seakan membaca pikiran Naruto, Shikamaru berbicara dengan nada malas khasnya dan disambut antusiame dari yang lain. Bahkan Sakura dan Ino ikut merayunya.

"Ayolah Naruto." Bujuk Ino dengan puppy ayesnya dan tentu Naruto tak kuasa menolak dengan segala paksaan yang diberikan teman-temannya. Dari dulupun ia akan selalu kalah jika ditatap seperti itu oleh Ino maupun Sakura. Dia benar-benar lemah dengan tatapan wanita. Diam-diam Hinata sangat senang Naruto ikut berkumpul dengan mereka. Akhirnya setelah sepuluh tahun tidak bertemu dia dapat melihat penolong dan cinta pertamanya.

"Shika tolong." Shikamaru yang sudah mengerti segara saja mengambil kursi roda yang telah dilipat sebelumnya dibawah kursi taman dan dengan sigap Sasuke membantu Naruto untuk duduk dikorsi roda, meski itu tidak perlu karna Naruto sudah belajar untuk duduk sendiri dikorsi roda. Namun ia tidak menolak kebaikan sahabatnya itu. Melihat Naruto duduk dikorsi roda membuat orang-orang yang tak tahu tentang keadaan Naruto bertanya-tanya apa yang terjadi dengan Naruto. Dia terlihat tidak sakit, sangat sehat malah namun kenapa harus duduk dikorsi roda.

"Na-naruto... kau...?" tanya Ino sulit untuk melanjutkan, dia takut menyinggung perasaan temannya itu.

"Tidak usah gugup dan merasa bersalah begitu Ino. Aku memang lumpuh karna sempat mengalami kecelakaan mobil beberapa tahun yang lalu karna kecerobohanku." Bohong Naruto, mengingat disini ada Hinata ia tidak ingin gadis itu merasa bersalah melihat keadaannya yang terlihat cukup menyedihkan. Dia juga tak mau teman-temannya menyalahkan Hinata jika mereka tahu kebenarannya. Hinata yang melihat Naruto lumpuh entah mengapa merasa bersalah, entah mengapa dia yakin jika Naruto berbohong tentang penyebab kelumpuhannya. Dia menjadi mengingat kenangan pahit 10 tahun yang lalu saat Naruto harus terluka parah untuk menolongnya. Waktu itu dia ingin menjenguk Naruto namun Ayahnya melarangnya dan berkata Naruto baik-baik saja dan hanya butuh istirahat. Saat sudah 1 bulan dia kembali kesekolah Naruto tidak kunjung masuk dan tiba-tiba Kurenai-sensei mengatakan Naruto pindah. Saat itu dia sangat sedih dan tak tahu harus berbuat apa. Mencoba mencari informasi tentang Naruto dari teman-temannya pun tak ada tahu bahkan Sakura pun bungkam saat ditanya dimana Naruto sekarang dan hanya mengatakan jika Naruto pernah memberinya kabar jika dia baik-baik saja. Dan ia pindah keluar negri bersama orang tuanya karna harus mengurus bisnis kakeknya yang terbengkalai.

"Ayo." Ajak Naruto yang sudah mendorong kursi rodanya dengan tangannya sendiri namun dia merasakan ada yang membantu mendorong kursi rodanya.

"Hn. Biarku bantu." Ucap Sasuke datar, senyum tulus Naruto berikan untuk sahabat terbaiknya itu meski sifat mereka bertolakan. Mereka pun berjalan dengan santai dan sesekali obrolan ringan tentang aktivitas mereka sekarang dan tentu Naruto yang paling aktif bertanya mengingat dia memang orang yang sangat cerewet dari dulu. Mereka pun berjanji akan mengajak Naruto untuk berkumpul kembali dengan mereka jika ia senggang. Mengingat dia sudah menjadi CEO diperusahaan Ayahnya yang membuat ia tidak terlalu mempunyai waktu banyak yang kosong. Begitu pula teman-temannya yang sudah sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Dan dengan semangat Naruto menyetujui hal itu. Tentu dia butuh waktu-waktu seperti itu untuk hiburannya.

TBC

Terimakasih atas segala koreksi yang diberikan para reader dan senpai sekalian. Mohon bimbingannya untuk kedepannya. Makasih juga yang udah ngefav dan folow. Update gx tentu tergantung keadaan.

Salam Dewi