Jika wanita dewasa pada abad modern ini berbicara tentang harga diri. Tanyakan pada mereka, dimana letaknya? Karena sampai sekarang Huang Zitao masih belum mengetahui apa itu harga diri yang begitu diagungkan. Untuk apa harga diri jika dirimu dengan sukarela membuka paha demi setumpuk emas berkilau. Ia bukan gadis suci, otaknya sudah menghapus apa itu harga diri. semenjak malam itu, dimana ia menangis untuk terakhir kalinya.

Sekarang Huang Zitao adalah wanita yang berbeda.


Mr. Wu

Medusa Kim Siska

Mature content

GS

Isi fanfic ini terlalu frontal, jadi dibutuhkan kesadaran bagi yang berada dibawah umur.

No edit. Maaf kalau berantakan.

Warning! Mohon untuk membaca A/N di bagian akhir cerita.


Zitao sepenuhnya sadar, hidup yang ia jalani saat ini tidak lebih bagaikan benalu perusak. Tertawa saat mereka mengumpat kotor padanya, meringis penuh iba dikala kemenangankan menjadi ia ratu segalanya.

Ia buta.

Hatinya buta.

Segala keindahan dunia ini hanya menjadi pelengkap kesengsaraan, berjalan tanpa arah menjadikan ia wanita berhati dingin dan keras.

Ia kosong.

Hatinya kosong.

Disaat semua masuk kedalam genggamannya, ia akan berteriak penuh kebanggaan. Akan tetapi, Zitao masih merasakan kekosongan itu. perjalanan membosankan yang semua orang sebut sebagai hidup baginya hanyalah sebuah sandiwara. Karena ia menolak, menolak apa yang sudah Tuhan gariskan padanya.

.

.

Wajah Zitao memerah menahan amarah yang sebentar lagi akan meledak, ia menyaksikan sendiri tanaman mawarnya dikencingi oleh tetangga barunya itu. ia menggulung bajunya hingga sampai ke bahu dan berjalan cepat.

"Berhenti disana! Pria jorok."

Pria tersebut berbalik dengan bodohnya tanpa membereskan bagian celana yang masih terbuka. Bahkan air kencingnya masih belum berhenti mengalir.

"Oh hai tetangga." Sapanya kelewatan ramah tanpa memperdulikan tatapan Zitao yang hampir pingsan sebentar lagi. "kulihat tanamanmu kehausan dan aku berinisiatif memberikan mereka makanan." Setelah air kencingnya habis, pria itu menggerak-gerakan penisnya memastikan sudah tidak ada yang akan keluar lagi.

"Kau gila." Ucap Zitao terbata disela rasa kagetnya, ia membuang pandangan ke tempat lain tidak ingin melihat sesuatu yang menjijikan itu.

"Kita tidak berkenalan tadi pagi, perkenalkan namaku Kevin. Tapi teman-temanku memanggil Kris." Ia mengulurkan tangan dan ditepis kasar oleh Zitao.

"Kalau sampai mawarku mati. Tunggu saja, aku akan mematahkan penismu itu." Ancam Zitao tidak main-main, Kris terkekeh sambil menggosok celananya dengan pelan.

"Coba saja kalau kau bisa." Tantang Kris semakin memperkeruh suasana.

Kris dan Zitao masih saling melemparkan pandangan penuh dengan tantangan tanpa memperdulikan dua orang pria yang datang dan memperhatikan mereka sedari tadi . Salah satu diantaranya ingin menyapa tetapi terbungkam dengan gerakan wanita berambut panjang yang sedang mencengkram penis Kris dengan kuat dan meremasnya.

"Ohh." Yang berkulit pucat merintih ngilu melihat pemandangan itu. namun, rintihannya masih belum seberapa dengan lengkingan keras Kris yang menghancurkan gendang telinga.

Setelah puas melihat lawannya kesakitan Zitao melepaskan tangannya dan mengelap dengan sapu tangan beserta tampang jijik yang kentara.

"Baru seperti itu saja sudah merintih seperti wanita. Memalukan sekali." Membuang sapu tangan tepat diwajah Kris, tubuh indah Zitao melenggang masuk ke dalam apartemen.

"Wanita itu benar-benar luar biasa." Kris menoleh mengikuti arah suara.

"Apa panggilan yang cocok untuknya Chanyeol?" tanya pria berkulit pucat.

"Wanita penghancur… Kurasa itu cocok untuknya Sehun " Chanyeol berpikir keras untuk mencari kata yang tepat untuk melengkapinnya.

"Hmmm ada yang kurang." Ucap Sehun sambil mengetukkan jari di dagunya. "wanita penghancur penis!" pekiknya dengan tiba-tiba. Jawaban menggelikan Sehun langsung disambut dengan kebahagian oleh Chanyeol.

"Enyahlah kalian berdua!" Keduannya terdiam mendengar kata-kata Kris yang sinis, masih dengan tampannya yang nakal, Sehun mendekati Kris. "tapi dia berhasil membuatmu horny." Kris segera mengalihkan pandangannya ke bawah, ia menemukan gundukan besar yang kesakitan disana.

"Ini memalukan." Masih dengan merintih ngilu, Kris berjalan pelan menuju apartemennya.

"Haruskah kita menambahkan 'Kris' dibagian belakang nama wanita itu." kepala Kris terasa panas dan sebentar lagi akan meleleh saat kedua manusia idiot itu masih membahas perihal nama panggilan untuk tetangganya.

"shut up!"

.

.

"Ahh semoga pria itu tidak ada mengandung penyakit berbahaya." Zitao menggosok tangannya dengan sabun sepelan mungkin. bahkan, bagian yang terkecil. Sejenak ia terdiam lalu menghidupkan kran air. "Apa yang sudah aku lakukan? Ini benar-benar sudah keluar dari karakterku." Harum madu memenuhi kamar mandi kecil Zitao, ia segera mengeringkan tangan dengan handuk dan membaringkan diri di kasur.

"Gadis kecil sepertimu sampai matipun tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan. kau dan ibumu sama saja. Gen seorang pelacur akan tetap seperti itu."

Tao memejamkan mata, untuk mengingat semuanya. Ia perlu membuka luka lama untuk sebuah tenaga yang baru.

"Ibu." Lirih suaranya terdengar, terlalu menyayat hati syarat akan kepedihan.

"Tetap ingat itu Zitao. Setiap goresan luka lamamu akan menambah kekuatan yang baru, tidak perduli seperih apapun. Jika itu berguna untuk dapat membawamu bangkit berdiri, maka ingatlah."

Mata Zitao terbuka, ia memandang kosong ke langit-langit kamar yang gelap. "aku akan mengingatnya ibu. Tapi aku tidak akan sepertimu."

Aku tidak akan mati dalam kesengsaraan.

.

.

Uap panas terlihat dari cangkir kopi Zitao. Wanita tersebut memandang hampa kepadatan kota Vancouver. Ia menyesap kopinya pelan untuk melawan dinginnya angin malam, ingatan itu kembali teringat.

"Zitao. Apa kau ingin bermain bersamaku."

Berhenti bodoh!

"Aku berjanji, permainannya tidak akan lama."

Jangan, kumohon!

"Ayo cepat nanti ibu akan datang dan memarahi kita bermain."

Tubuh Zitao bergetar menahan perasaan muak dan hina. Nafasnya tidak beraturan, ia mengigit bibirnya untuk menahan suara.

"Ooii tetangga." Zitao mengalihkan tatapannya ke balkon sebelah dan menemukan pria yang tadi ia remas penisnya dengan keras.

"Maukah kau berbagi kopi dengan tetanggamu yang sedang kesakitan ini." Kris menunjuk penisnya seakan-akan menunjukkan kalau bagian itu benar-benar kesakitan.

Zitao tersenyum remeh. "oh ya. Kurasa itu baik untuknya, penismu harus diajari sopan santun."

Kris merasa sedikit tertarik dan mencoba memancing Zitao lagi. "tapi aku tidak bisa kemana – mana saat ini, ia merasa kesakitan saat terkena bahan ketat seperti celana jeans dan memerah. Pasti bentuknya jelek sekali kalau pasangan kencanku melihatnya." Kris mengelus penisnya dari luar celana. Zitao menutup mulut menahan tawa.

"bukankah itu bagus untukmu. Setidaknya kau mengurangi populasi manusia dibumi." Zitao membalas dengan sinis kembali, masih dengan tatapan mengintimidasi ke arah Kris.

"ohh itu menyakitiku. Tapi perlu kuluruskan, aku selalu melakukan pengaman saat melakukan sex. Jadi bisa dikatakan aku bersih." Balas Kris kali ini dengan sombong, ia membusungkan dada untuk kata-katanya barusan.

Hanya gelengan kepala yang dapat Zitao berikan. Sepertinya tetangganya itu menjadi bodoh karena terlalu banyak melakukan sex. Apa ia seorang maniak?

"Sebenarnya aku tidak tertarik mengenai dirimu, jerk. Namun, kenapa kau selalu menggangguku?" tanya Zitao kali ini.

Terlihat senyum yang lebar setelah Zitao menyelesaikan kalimatnya. "sebenarnya aku tertarik dengan dirimu semenjak pagi tadi, persis setelah kau menendang kardus-kardusku." Ia berhenti sejenak untuk mengambil nafas. "dan aku ingin mengajakmu melakukan malam yang panas berdua."

"Apa imbalan untukku?"

"Och … baru kali ini ada yang meminta bayaran untuk bercinta denganku. Okey, aku memiliki beberapa lembar uang, cukup untukmu membeli beberapa pakaian bermerek." Kris menaik-turunkan alisnya dengan mata berbinar.

Zitao mendengus remeh dan mengetatkan selimut yang sedari tadi membungkus tubuhnya. "maaf tapi aku tidak tertarik, kebutuhanku lebih dari itu semua." Sambil berlalu pergi, Zitao meniupkan ciuman manis untuk meruntuhkan paras sombong Kris.

"Kurasa dia wanita yang sulit ditaklukkan." Mengusap rambutnya ke belakang, Kris menatap kembali balkon Zitao yang sudah kosong. "tunggu saja nanti Huang Zitao." Kris menggenggam lembut sapu tangan Zitao yang ia lemparkan setelah insiden tadi siang. Disana tertulis nama pemiliknya.

.

.

Kehidupan tenang Zitao yang dahulu kini sudah tiada. Setiap hari ia selalu dikesalkan oleh tetangga gilanya itu, tiada hari hari tanpa mengganggu otaknya. Dimulai dari membuka mata hingga ia mencoba untuk terlelap. Kris selalu mencoba mengganggunya, entah itu untuk mengucapkan selamat pagi hingga suara desahan yang keras di samping dinding tempat tidurnya.

Harusnya ia menyadari rasa bencinya pada tetangganya itu. akan tetapi, entah mengapa ia merasakan sedikit kehangatan, seakan-akan pria itu menghiburnya dengan semua celoteh aneh dan frontal yang ia keluarkan.

Pagi yang cerah bagi Zitao menjadi awal baik untuk Kris menggoda gadis Cina tersebut. Ia berdandan setampan mungkin dengan memangku helm motor menunggu kedatangan Zitao. Beberapa menit berlalu, akhirnya sosok yang ia tunggu keluar.

"Morning 'buty'."

Zitao menoleh dengan kening berkerut. "buty? "

"Itu singkatan dari 'beauty'." Kris menampilkan senyum lebar.

"Kenapa ditelingaku terdengar seperti 'butt'?" wajah Zitao berubah masam setelah melihat ekspresi Kris yang menahan tawa.

"Kau lebih suka yang 'butt'?" menghembuskan nafasnya keras karena kekesalannya tersulut pada suasana pagi yang cerah. Maka Zitao memberikan jari tengahnya tepat di wajah Kris. "fuck you jerk!"

"Sure, beb! In your hole."

Terlalu malas meladeni tetangganya itu, Zitao melangkah secepat mungkin meninggalkan Kris yang masih memasang wajah penuh kemenangan.

"Oii tetangga!"

Zitao mempercepat langkahnya dan ia mendengar suara langkah kaki yang ia yakini pria pirang itu. "mau ku antar." Ia berbalik dan melihat Kris mengangkat helmnya, Zitao menimbang-nimbang sebentar lalu mengiyakan dengan wajah angkuh.


Ibu aku takut. Wanita disana kembali membawa kayu yang membuatku terluka. Aku bersembunyi dibawah tempat tidur berharap agar tidak ditemukan lagi. Ia mendekati tempatku bersembunyi, bau bir menyeruak memenuhi kamar. Aku mual dan ketakutan, tubuhku kaku karena tatapannya.

Ia menemukanku ibu.

Tolong aku!

"Ibu!" dengan nafas terengah, Zitao menggeleng untuk mengumpulkan kembali kesadarannya karena terbangun dengan tiba-tiba. Bulir keringat mengalir dari pelipisnya, mimpi buruk bukanlah masalah yang ia khawatirkan. Namun, semua mimpi buruk Zitao adalah kilasan dari masa lalu.

Dimana saat itu ia tidak berdaya, hanya bisa menangis dan selalu mengalah.

"Gadis naïf." Gumamnya pada diri sendiri. Ia berdiri menuju kulkas dan mengeluarkan beberapa kaleng bir.

Malam yang pekat disertai hembusan angin yang menyayat kulit tidak membuat Zitao bergeming sedikitpun dari balkon kamar. Ia butuh hembusan angin untuk meredamkan emosinya, semua kekacauan dari masa lalu yang terlalu membayangi membuat kepalanya sakit. Oleh karena itu, Zitao sangat benci mimpi.

Ia bukanlah manusia yang membutuhkan mimpi, karena mimpi baginya hanya memori yang akan membuatnya kembali melemah.

Brak!

Zitao terkejut dan menatap kesamping lebih tepatnya ke arah balkon tetangganya -si pengganggu- yang tadi menimbulkan suara seperti benturan. Akan tetapi, ia menemukan tetangga pirangnya itu tengah mengeluarkan beberapa alat untuk berburu. Sambil mengenyit aneh, Zitao berusaha menebak apa yang tetangganya itu lakukan di tengah malam seperti ini.

"Malam yang indah bukan?" ia berbicara pada Zitao tanpa menoleh sedikitpun.

"Kurasa matamu buta. Malam ini mendung, bodoh." Balas Zitao ketus tapi ia masih belum bisa menghilangkan rasa sisi balkon paling kanan, ia berjalan pelan. "apa yang akan kau lakukan dengan alat berburu itu?"

Sudut bibir Kris terangkat membentuk senyuman walau tidak membentuk cekungan pada matanya. "aku ingin berburu wanita." Ucapnya jahil.

Kedua mata Zitao terbuka lebar. "kau gila! Mana ada wanita yang mau dikejar oleh seorang pria yang membawa senjata. Kurasa otakmu sekarang sudah jatuh ke perut. Apa kau seorang psycho?" sambil menggosok kedua bahunya yang merinding, ia tertegun saat pandangan Kris berubah menjadi hangat.

"Selama hampir seminggu mengenalmu, baru kali ini kau berbicara sebanyak itu."

Zitao tertegun, senyum tetangganya itu terlihat sangat indah. Jantungnya berdebar, ia merasakan parasaan itu lagi.

Perasaan ingin dicintai.

Namun, cinta akan membuatmu lemah.

Seakan terbang tinggi dan dijatuhkan kembali ke bumi, Zitao segera masuk ke kamarnya dan menutup pintu balkon. Meninggalkan Kris yang masih ingin berbicara banyak padanya.

Bersandar pada pintu balkon, Zitao menyentuh dadanya yang terasa berbeda. "apa itu tadi?"


Malam ini Zitao sudah berdandan cantik. Memakai gaun berwarna hitam selutut dengan punggung yang terbuka, make up serba gelap hingga perhiasan yang mahal.

Zitao menatap kalung berlian yang diberikan James di kencan terakhir mereka. Batas yang Zitao berikan pada korbannya hanya 1 minggu. Setelah itu, pria tersebut akan Zitao ia sudah tidak lagi memiliki gudang uang, maka saatnya untuk mencari yang lebih lagi.

Sebuah pesta ulang tahun perusahaan periklanan terbesar di kota Vancouver tengah diadakan, sebuah moment yang tepat untuk wanita-wanita seperrti Zitao. Begitu banyak pria berkantong tebal yang akan diundang ke sana. Bukankah ini kesempatan yang tidak boleh dibiarkan?

Sebelumnya Zitao tidak pernah mendatangi pesta seorang tanpa Brine. Akan tetapi, sepertinya malam ini pengecualian. Wanita keturunan Eropa tersebut tidak dapat menemani Zitao berburu karena ayahnya juga ikut dalam undangan.

"Wow! Mau kemana dengan penampilan seperti itu buty?"

Berbalik dengan malas Zitao menatap ke arah Kris yang menahan pergelangan tangannya. Ia berusaha melepaskan cengkraman tersebut tapi Kris masih bertahan.

"lepas!" kali ini Zitao berteriak.

"jawab dulu kau mau kemana?"

"aku ingin mencari uang. Puas! Sekarang cepat lepaskan aku." Akhirnya Kris melepaskan tangan Zitao tanpa berkata sedikitpun dan membiarkan wanita tersebut berlalu meninggalkan gedung apartemen.

.

.

"Ahh .. aroma uang sangat kentara." Ucap Zitao pada pintu masuk, ia bersyukur dalam hati karena Brine mau memberikannya undangan pesta tersebut. Zitao segera menuju meja saji dan mengambil wine sambil menunggu seseorang mendatanginya.

Beberapa menit telah berlalu dan Zitao berpikir sebentar lagi ia akan menjadi manusia berlumut karena tidak mendapatkan buruan.

"Menyebalkan." Sambil melipat tangan di dada, Zitao memperhatikan sekelilingnya. Berharap dapat melakukan kontak mata dengan pria yang mampu ia taklukkan. Namun, fokusnya tertuju pada seorang pria tinggi berjas putih. Merasa familiar dengan sosok tersebut Zitao mencoba mengingat dimana ia pernah bertemu dengannya.

"Wajahnya mirip sekali dengan tetanggaku. Tapi pria itu tidak pirang." Merasa kurang yakin dengan pemikirannya, Zitao mendekat untuk memastikan lagi.

Garis mata, senyuman, gesture, tinggi dan oh Tuhan … bibir itu bahkan sangat-sangat mirip. Hanya warna rambut yang membedakan pria tersebut dengan Kris. Ia berambut hitam sedangkan Kris pirang keemasan.

"Apa yang bisa kubantu nona?"

Zitao terkejut saat mendengar suaranya. Rupanya karena terlalu serius mengamati ia melupakan posisi janggal yang telah ia perbuat, jarak tubuhnya dengan pria yang mirip dengan Kris itu hanya beberapa senti.

"Ingg siapa namamu tuan?" Zitao melanggar aturan yang telah ia buat tentang pria yang harus bertanya terlebih dahulu. Namun, rasa penasaran sudah membuatnya melupakan itu semua.

Memperlihatkan senyumnya, pria itu meletakkan tangan di dada dan membungkuk sopan.

" Namaku Wufan."

TBC

FB : Medusa Kim Siska

A/N : Yuhuu … Medusa back ^^ #tebar menyan. Kemarin aku sangat-sangat terharu dengan respon kalian terhadap cerita ini #bow. Adakah yang sadar kalau cara penulisan aku berbeda, hal ini dikarenakan ada salah seorang reader yang bilang cara penulisan aku terlalu bertele-tele. Pedas dan hot #hehehe tapi aku tetap menghargai. Dimohon agar memberikan coment lagi ya (tentang cara penulisan aku yang baru) … aku tunggu loh ya ^^

Big thanks

I Dandelion96 I LVenge I CarllyLuckerKC I Celindazifan I Firdha858 I JungSooHee I ruixi1 I aldif. 63 I Skymoebius I KrisTaoTao I Luph Chanbaek Kristao I BabyZi I Aiko Michishige I zizi'd exo I princess huang I kev I pantao I Xyln I yanu januarti I Dewi YJKTS I AmeChan95 I Lucciaputri I Jisane Kotao I hztao I annisakkamjong I Rich L. Khalifa I

Serta yang memfollow & favorit