Disclaimer: I do not own Bleach
*and let us pray for Japan
Note: Brunch adalah singkatan dari Breakfast and Lunch. Makan pagi dan siang digabung menjadi satu, namun ada beberapa orang yang masih makan siang setelah makan brunch.
2
"Ini apartemen kita..." Ichigo meletakkan koper Rukia di atas lantai foyer.
Ia kemudian masuk ke dalam ruang tamunya yang tidak terlalu luas, namun juga tidak terlalu sempit. Lantai kayunya memberikan kesan hangat, membuatnya tenang.
Ia memandang jendela besarnya sejenak, ingin menikmati keindahan kota Tokyo di musim dingin. Panggil dia aneh, tapi musim dingin terlihat lebih indah baginya. Musim ini mengingatkannya pada Rukia. Ya, orang yang berdiri di sampingnya saat ini.
Inilah jerih payahnya selama bertahun-tahun untuk membeli apartemen mewah di pusat Tokyo... Ia tidak pernah menyangka ia akan tinggal satu atap dengan Rukia di tempat ini... berpura-pura menjadi suaminya.
Terus terang, Rukia yang baru keluar dari rumah sakit, membuatnya agak khawatir. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada gadis itu?
"Sebelum menikah, dimana aku tinggal?" Pertanyaan Rukia memang memecahkan keheningan yang ada, tapi...
Apa yang harus Ichigo katakan? Yang sebenarnya? Kalau sebenarnya Rukia tinggal di istana ala Jepang? Apakah Rukia akan percaya kalau setengah lahan rumahnya dapat membeli satu pulau di Karibia?
"Sebelum kita menikah, kau tinggal bersama kakekmu."
Kata 'menikah' terasa aneh diucapkannya.
"Ini, pertama kalinya aku kesini?" Tanya Rukia.
"Sebenarnya kau sudah sering kesini, soalnya ini rumahku," jawab Ichigo.
Rukia hanya terdiam.
"Kita sudah saling mengenal sejak SMA. Kau ingat? Kemudian kau dan aku sama-sama pergi ke Universitas Tokyo. Kau mengambil dua jurusan sekaligus, double major; bisnis dan musik. Setelah bekerja, aku membeli apartemen ini."
"Maafkan aku, aku tidak ingat apa-apa," katanya.
Ichigo hanya tersenyum pahit. Ada sebagian dari dirinya yang berharap Rukia dapat mengingatnya. Sedikit saja kenangan akan dirinya.
"Ini adalah, dapur?" Wajah Rukia terlihat begitu kagum melihat dapur Ichigo yang lengkap. Dapur Ichigo bahkan lebih besar dari ruang tamunya sendiri.
"Ya, ini adalah dapurku. Kau lapar?" Ichigo ikut melangkah masuk ke dapur.
Rukia memandangnya dengan bingung. Lelaki, memasak?
"Hei, kau tidak akan kuberikan makanan instan. Lagi pula itu tidak baik untuk kesehatanmu," ujar Ichigo sembari mengambil langkah cepat ke arah kulkasnya.
"Kau bisa memasak?" Akhirnya gadis itu harus menanyakannya.
Ichigo ingin tertawa, tapi ia juga merasa sedikit sedih, orang yang paling percaya dengan kemampuannya, bisa berbicara begitu kepadanya.
"Ya, aku bisa memasak," katanya, "sebenarnya aku bekerja di hotel Ritz-Carlton, aku adalah sous-chef restoran Perancis di sana."
"Sous-chef?"
"Ya, di dalam sebuah restoran, apalagi yang punya nama. Pasti dibutuhkan chef-chef berbakat di masing-masing bidang. Ada yang menangani main course, dessert, pastry, salad, soup, dan masih banyak lagi. Mereka disebut chef de partie dan demi-chef de partie. Sous-chef adalah chef yang mengontrol tempat saat kepala chef tidak ada dan yang mengatur kerja chef de partie," terang Ichigo sambil mengeluarkan beberapa bahan makanan dari kulkas.
"Kau kelihatan begitu mencintai pekerjaanmu..."
"Ya, aku memang menyukai pekerjaan ini," jawab Ichigo, "dulu ada seorang teman yang mendukungku, bahkan ketika aku sudah mau menyerah, ia tetap berdiri disampingku. Aku ingin membalas budiku padanya."
Rukia terdiam, temannya itu, ia memiliki perasaan kalau, kalau itu adalah dia.
Tapi, tidak ada ingatan yang kembali.
"Ah, sembari menunggu aku menyiapkan hidangan makan siang, kamarmu ada di seberang pintu kamarku. Lihat dua pintu besar disana? Kamarmu ada di pintu yang kanan," tunjuk Ichigo.
"Kamar kita terpisah?" Tanya Rukia.
Ichigo hanya tersenyum, "bagaimanapun juga ingatanmu masih belum pulih, tidur satu kamar dengan orang asing pasti berat bagimu."
Ruangan itu menjadi hening. Seakan-akan lawan bicara Ichigo itu sudah kehabisan kata-kata, seakan-akan ada perasaan janggal dan lega yang bercampur menjadi satu. Janggal karena secara logis suami isteri tidak mungkin pisah ranjang, dan lega karena ia tidak ingin mengikuti logika.
"Terima kasih," ucapnya tulus.
Rukia yang melangkah masuk ke kamar membuat Ichigo semakin takut. Ichigo takut ia akan melukai gadis itu. Bagaimana jika gadis itu tahu pernikahan ini adalah sebuah kebohogan? Ichigo mungkin tidak akan tahu apa yang harus ia lakukan nantinya.
Tapi sekarang adalah sekarang. Besok adalah besok.
Sekarang yang ia tahu hanyalah satu hal; ia akan mewujudkan impian Rukia, sama seperti Rukia mewujudkan impiannya. Jika gadis itu tidak ada, yang menjadi sous-chef Ritz-Carlton hari ini, mungkin bukanlah dirinya.
Jika lawannya adalah Kuchiki Byakuya sekali pun, ia akan menghadapinya.
"Folks, we have begun our descent to Tokyo Japan, where the current weather is 8 C, and we will be in the gate in about twenty minutes, We'd like the flight attendants to prepare the cabin for arrival and we want to thank you for flying with us today."
"Bagaimana penerbangan anda Ukitake-sama?" Tanya salah seorang pramugari sembari merapihkan brunch* pria itu.
"Ah, baik sekali," jawab Ukitake ramah, "sudah lama saya tidak berpergian dengan pesawat."
Pramugari itu mengangguk kemudian menunduk, "Kalau begitu, semoga aktivitas anda di Jepang berjalan dengan lancar."
"Ya," balas Ukitake sambil tersenyum hangat, "terima kasih."
Setelah pramugari itu menyapa penumpang yang lain, Kiyone dan Sentaro yang sejak tadi hanya diam jadi mulai ribut.
"Apakah begini cara kerja pramugari sekarang?" Keluh Kiyone, "berani sekali berbicara dengan Ukitake-sama. Dia pikir dia siapa?"
"Ah, Kiyone! Dia itu sedang menjalankan tugasnya! Ini baru namanya pelayanan yang bagus! Ini kan first class!" Balas Sentaro.
"Tahu apa kau Sentaro?" Pekik Kiyone, "kau kan baru pertama kali ini dapat first class!"
Sebelum Sentaro sempat menyambar lagi, Ukitake sudah batuk-batuk.
"Sudahlah," katanya, "kita nikmati saja apa yang ada."
"Ukitake-sama!" Mereka berdua mulai khawatir.
"Sentaro, Kiyone, aku tidak apa-apa," lanjut Ukitake, "Ah, ya, setelah sampai ke Jepang, apa ada jadwal tersendiri yang sudah disiapkan untukku?"
"Oh! Iya! Maafkan saya Ukitake-sama!"
Dengan gerakan yang cepat, Kiyone mengeluarkan iPadnya.
"13.00 ada makan siang dengan direktur Zaraki. 14.45 anda harus periksa tekanan darah. 15.00..."
Kiyone berhenti.
"15.00," lanjutnya lagi, "Ada pertemuan dengan Kuchiki-sama."
"Ah," Ukitake hanya menatap jendela pesawat, "Kuchiki Byakuya... Sudah lama tidak bertemu dengannya.
"Appetizer nya, Cream Brulee," Ichigo meletakan piring yang pertama, kemudian dengan hentakan lembut piring kedua, ia berkata, "main coursenya, Spaghetti Carbonara." Piring ketiga mengakhiri hidangannya dan ia pun berkata, "dan dessert nya Vegetable salad."
"Vegetable salad sebagai hidangan penutup?"
Rukia hanya dapat memandang lelaki itu dengan bingung. Vegetable salad... walau dokter mendiagnosi dirinya amnesia, tapi ia masih tahu betul vegetable salad dimakan terlebih dulu.
"Bagaimana ya, salad ini adalah salad favoritmu. Kau selalu berpikir vegetable salad lebih baik dimakan terakhir. Dressing favoritmu juga ada disini; mayonaise. Tapi karena orang-orang mulai menyebut itu aneh, kau jadi berpura-pura menyukai Ambrosia, salad yang memang dimakan sebagai hidangan penutup, padahal kau paling tidak suka dengan fruit salad yang terlalu manis."
"Bagaimana kau bisa tahu semua ini?" Rukia memandangnya dengan tatapan bingung, kemudian melihat orang itu duduk di sampingnya, Rukia hanya bisa menerima fakta bahwa, hei, orang ini kenal terlalu baik dengannya— orang ini adalah suaminya.
Kenapa ia selalu melupakan hal penting ini? Rukia, ia telah menikah, dengan orang ini, Kurosaki Ichigo.
"Makanlah, karena sekarang sedang ada dirumah, kau tidak usah malu-malu memakai sumpit," kata Ichigo.
Rukia memandang hidangan yang disiapkan Ichigo. Kemudian disebelah piring ia melihat sumpit ditengah hidangan ala barat.
"Apa aku tidak bisa memakai garpu?" Tanya Rukia. Rasa percaya dirinya tiba-tiba hilang. Ia sudah lulus kuliah begini, tidak bisa memakai garpu?
"Kau hanya menjaga imagemu saat pesta-pesta penting, tapi kau bilang sumpit adalah yang paling mudah untuk dipakai. Kau bilang, makan dengan sumpit terasa seperti makan di rumahmu sendiri," Ichigo kemudian berdiri, membuka laci kecil di dapurnya dan mengeluarkan garpu.
"Nah, coba bandingkan dengan ini," ia kembali menuju meja makan, kemudian Rukia pun mengambil garpu itu dengan hati-hati.
Dicobanya spaghetti itu dengan garpu dulu, kemudian dengan sumpit.
Ichigo kembali duduk di sampingnya, kemudian ada suatu hal yang luar biasa terjadi.
Rukia, untuk pertama kalinya setelah amnesia...
Rukia tersenyum.
"Kau benar," kata Rukia, "Rasanya seperti kembali ke rumah."
Tidak ada yang bisa membuat kediaman Kuchiki lebih tegang dari ini. Byakuya bisa bertaruh, kalau ada satu jarum saja yang jatuh ke atas lantai… ia pasti bisa mendengar gemanya. Ruang keluarganya memang selalu hening, tapi kali ini keheningan yang ada sedikit berbeda…
"Byakuya," suara kakeknya bergema.
Suara itu pernah membuatnya takut, tapi Byakuya sudah besar sekarang. Ia tidak takut lagi mendengar suara itu. Setidaknya itu yang selalu ia tanamkan di benaknya.
"Apakah kabar yang kudengar adalah benar?" lanjut kakeknya.
Byakuya tahu betul apa yang sedang ditanyakan kakeknya. Tidak mungkin pertanyaan itu menyimpang dari pernikahan Rukia dengan Kurosaki Ichigo. Pernikahan kedua orang itu terlalu janggal. Ichigo menikahi Rukia. Tanpa kabar, tanpa permohonan. Apalagi ini diketahui setelah Rukia Amnesia.
Pernikahan Byakuya dengan Hisana tidak disetujui dengan mudah... Pernikahan Rukia dengan Ichigo... Byakuya tidak dapat membayangkannya.
"Byakuya," kakeknya memanggil namanya sekali lagi.
Kuchiki Byakuya dapat merasakan keringat turun dari pelipisnya. Kakeknya tidak mengulang namanya. Jika namanya sampai diulang seperti itu… hanya ada satu alasan pasti. Kakeknya butuh jawaban, sekarang juga.
"Benar," ada ketegangan dalam suara Byakuya, namun harga dirinya menutupinya dengan sempurna.
"Begitukah?"
"Tidak ditemukan kepalsuan di dalam surat nikah mereka," jawab Byakuya.
Kurosaki Ichigo benar-benar sudah menang sekarang. Tidak pernah sekalipun Byakuya merasakan ketegangan seperti ini seumur hidupnya. Tidak pernah satu kalipun.
"Kau boleh meninggalkan ruangan, Byakuya."
Kata-kata 'boleh' terdengar seperti perintah. Byakuya benar-benar sudah tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan.
Langkahnya berat dan tangannya kaku saat membuka pintu. Ketika ia keluar, ia merasakan perasaan yang benar-benar asing. Rasanya seperti merasakan bagaimana rasanya diinjak-injak untuk pertama kalinya.
"Kudengar Kurosaki Ichigo adalah seorang sous-chef, apakah itu benar?" suara kakeknya tiba-tiba terdengar balik pintu.
Dengan kata-kata itu saja Byakuya tahu, sesuatu yang buruk akan terjadi.
I still don't know when to update the next chapter… There are a lot of expectations running through my head and I can't describe it by words. I really wanted to.
A/N: Pertama-tama saya ingin meminta maaf waktu ingin dipublish waktu itu ada error di account saya sehingga tiba-tiba tidak bisa dipublish. Error type 2 katanya. Saya kurang mengerti haha. Kemudian karena ada banyak hal yang tiba-tiba harus muncul, saya jadi harus menunda ini semua supaya tidak mengganggu.
Oh ya, salam kenal juga bagi yang menulis salam kenal di kotak review *bow*
Saya lupa menulisnya, tapi inspirasi cerita ini dari, "Fade To Black." dan salah satu inspirasi lain adalah setelah menonton Kim Tak Gu, hehe. Walau Tak Gu adalah seorang baker dan bukan chef, saya membayangkan kalau Ichigo yang menjadi chef professional.
Untuk kritik dan saran. Saya benar-benar berterimakasih, saya benar-benar tertolong dalam menulis chapter 2 ini. *bow* saya sudah mencoba meminimalisirkan pemakaian paragraf yang terlalu banyak, tapi saya memang senang dengan paragraf yang kalimatnya sedikit dan mudah dibaca. Apakah seperti ini sudah cukup? Hehe. Waktu pemisahan POV antara Ichigo dan Byakuya saya memisahkannya dengan bintang *** tapi saya tidak tahu kenapa tidak keluar jadi saya ganti saja dengan horizontal ruler, saya harap tidak aneh hehe…
Oh ya, kalau ada yang tidak jelas atau harus dikritik, atau mau memberikan pendapat silahkan masukan ke kotak review ya :)
*bow*
See you on the next chapter...
