Alunan musik itu kembali terdengar dan mereka kembali menari, menari tanpa terkendali seolah-olah tubuh mereka takut kehilangan kesenangannya. Menghancurkan segala penghalang demi mendapatkan kepuasan hasrat yang tak tertahan.

Naruto " Masashi Kishimoto

Genre: Drama/ Western

Rated: T+

Pair: Sasuke. U/ Hinata.H

Typo(s), OOC.

I Hope You Like

Karena saya males edit jadi harap dimaklumi jika banyaknya typo :)

Let It Go" Presented by Yume Guran


"Kurasa, sekarang aku tahu alasan mengapa kau selalu menolak lamaranku."

Hinata terdiam, sekelebat pemikirannya di penuhi oleh ucapan Sasuke beberapa waktu lalu. Telapak tangannya berkeringat dan dadanya terasa berat.

Kembali ia menarik nafas dalam-dalam guna menenangkan diri. Tiba-tiba pintu terbuka dan menampilkan Jullie yang menunduk hormat padanya.

"Mevrouw, saatnya turun untuk makan malam." Ucapnya yang di tanggapi anggukan kepala oleh Hinata.

Langkah kakinya memantulkan suara khas sepatu high heels-nya. Setelah menuruni anak tangga, tentu Hinata langsung menuju kearah pintu tempat di mana makan malam itu diadakan.

Cklek

Para maid membukakan pintu untuknya dan membungkuk sopan. Hinata kembali berjalan memasuki daerah yang sedari tadi membuatnya gugup setengah hidup.

"Terlambat 3 menit, sungguh memalukan Hinata Hyuuga." Suara dingin Ibunya sukses membuat Hinata meneguk ludahnya sendiri.

"Maafkan atas keterlambatan saya." Hinata menunduk sebagai tanda permintaan maafnya. Mikoto Uchiha yang melihatnya hanya tersenyum maklum.

"Tidak apa-apa, seorang perempuan tentu memiliki masalah tersendiri ketika bersiap-siap." Hinata tersenyum manis mendengarnya, selaras kemudian mata beningnya bergulir menatap laki-laki berambut raven yang sedari tadi tidak menatapnya sama sekali.

Hati Hinata segera di rundungi kekecewaan.

Kakinya kembali melangkah dan menduduki tempat yang berseberangan dengan Sasuke. Sasuke sendiri masih terlihat enggan untuk menatapnya. Sikap pria itu mendadak sangat dingin semenjak kejadian di kamar tadi.

"Baiklah, mari kita mulai." Mereka memulai makan malam ini dengan khidmat. Semuanya tampak sibuk menikmati hidangan masing-masing. Berbeda dengan Hinata yang matanya terlihat gelisah. Sasuke bahkan benar-benar mengacuhkannya.

Sekitar 20 menit, kedua keluarga itu menyelesaikan makanannya. Piring-piring dan gelas bekas mereka makan mulai diangkut oleh para pelayan. Menyisakan meja yang tadi sempat tertata banyak macam makanan kini hanya menyisakan wine dan buah.

"Langsung pada intinya, kuharap di pertemuan kali ini kita bisa menyepakati hari dan tanggal untuk Hinata dan Sasuke." Suara Hiashi sukses memecahkan keheningan diantara mereka. Hinata sendiri terlihat sangat terkejut saat mendengar perkataan Hiashi.

"Ah, kau benar Hiashi. Aku harap pertemuan hari ini tidak sia-sia." Balas Fugaku dengan suara datarnya. Hinata menatap Ibunya meminta penjelasan, tanpa ia sadari bahwa kelereng hitam milik Sasuke mengawasi gerak-geriknya semenjak usai makan tadi.

Onyx itu memancarkan kesenduan saat mengetahui bahwasan Hinata kali ini kembali menolak lamarannya. Meski tidak mengatakannya, Sasuke tahu dari sikap Hinata sekarang ini, ia masih enggan untuk menikah dengan Sasuke.

Tangan itu terkepal erat, matanya perlahan menutup. Mencoba menenangkan pikirannya.

Setelah merasa cukup, obsidiannya kembali tampil dengan sorot dingin.

"Kita harus menentukannya lewat kalen –"

"Ayah, Tuan Hiashi…." Ucapan Hiashi terpotong oleh panggilan Sasuke.

"Aku rasa kita tidak perlu membahas ini lagi," Hinata yang mendengarnya langsung menatap Sasuke.

"Ada apa, Sasuke? Apa kau ingin segera menikahi Hinata secepatnya? Jadi kita tidak perlu membahas hal ini lagi, karena akan memakan waktu yang lama. Begitukah, anakku?" Kali ini Mikoto mengatakannya dengan nada menggoda.

Sasuke membalas tatapan Hinata dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Bukan." Seluruh orang diruangan itu nampak terkejut mendengar ucapan si bungsu Uchiha.

Hinata sendiri terbelalak, telapak tangannya semakin basah oleh keringat.

"Sebaikanya kita akhiri saja sampai sini," Fugaku menggebrak meja dan menatap Sasuke nyalang.

"Apa maksudmu, Sasuke Uchiha!" Suara Fugaku menggelegar dalam ruangan itu.

"Kita tidak perlu melanjutkannya, batalkan dan buang jauh-jauh pemikiran kalian tentang pernikahan ini." Sasuke berdiri dari tempat duduknya.

"Saya mohon undur diri." Setelah mengatakan itu Sasuke beranjak dari tempatnya. Namun sebelum benar-benar pergi ia menatap Hinata seolah-olah mengatakan 'Bukankah ini yang kau inginkan?' Sasuke tersenyum sinis melihat ekspresi Hinata yang syok.

Manik pearlnya berair. Ia bahkan tidak mengerti semua ini –tidak ia mencoba untuk tidak mengerti apapun.

Ada apa dengan Sasuke? Pikirannya terus di penuhi tentang Sasuke.

"Maafkan atas kelancangan anak saya Hiashi." Mikoto ikut berdiri dan menuduk sebelum pergi, menyusul Sasuke yang sudah pergi sedari tadi.

Fugaku terlihat marah besar, rahangnya mengeras.

"Tidak apa-apa Fugaku, kita bisa membahas hal ini di lain waktu." Setelah memberi tatapan maaf, Fugaku keluar dari ruang makan itu.

Hening.

Ketiga orang di sana terdiam untuk waktu yang cukup lama. Hiashi yang merasa tidak ada keperluan apa-apa lagi segera keluar meninggalkan Ibu dan anak itu berdua.

"Menangis, eh?" Ucapan Ibunya membuat Hinata mendongak menatap sang Ibu yang juga menatapnya dengan tajam.

"Kurasa, semua ini karena salahmu Hinata. Kita sudah sering sekali membahas hal ini dan selalu berujung penolakanmu dengan alasan 'belum siap'mu itu. Nampaknya si bocah Uchiha itu mengerti akan situasi ini dan menarik kesimpulan bahwa kali ini akan sama seperti sebelum-sebelumnya." Ibunya berdiri dan memeluk Hinata dari belakang.

"Bagaimana, Hinata? Rasanya ketika dirimu di tolak terang-terangan seperti itu?" Matanya membola mendengar ucapan Ibunya.

"Kau terlalu munafik sehingga kemunafikanmu itulah yang menjerumusimu." Ibunya melepaskan dekapan sepihak itu dan mulai berjalan kearah pintu keluar.

"Renungilah semua kesalahan yang kau perbuat waktu lalu dan pikirkan rasa sakit yang di tanggung oleh Sasuke selama ini." Blam, tubuh Ibunya menghilang di balik pintu besar itu.

Kini Hinata benar-benar sendiri. Matanya terus menerus menerjunkan air mata tanpa henti.

Pikirannya terus memutar kejadian yang barusan terjadi. Apa ia sudah terlalu kelewatan?

Hinata tidak bermaksud untuk melukai Sasuke. Ia hanya takut salah mengambil keputusan yang akan di sesalinya di masa mendatang. Hinata tidak menginginkan hal itu terjadi, namun tanpa Hinata sadari sifat antipatinya itu malah membuat Sasuke terluka.

Ia sungguh bodoh. Masih meragukan Sasuke yang telah berkorban banyak untuknya selama ini.

Hinata menangis dengan kencang.

Bagaimana ini? Ia sudah terlanjur menyakiti Sasuke. Apakah kalau ia meminta maaf sekarang mampu menyelasaikan semuanya? Hinata tahu jawabannya adalah tidak.

Sasuke pastilah benar-benar membencinya, terlihat dari tatapan pria itu tadi. Begitu dingin dan tak berperasaan. Sangat berbeda dengan tatapan yang dulu selalu ia berikan untuk Hinata.

Hinata kembali menyalahkan dirinya.

Ia harus bagaimana? Hinata kau sungguh wanita jahat, pikirnya.

Masih dengan isak tangis yang kentara, tiba-tiba Jullie Hansont masuk keruangan itu dan menemukan nona mudanya dalam keadaan yang sangat tidak baik.

"Mevrouw! Apa anda baik-baik saja?" Jullie mengusap punggung Hinata dengan pelan.

"Saya antar kekamar anda, anda harus beristirahat." Setelah mengatakan itu Jullie langsung menuntun Hinata menuju kekamarnya.

Di tempat Sasuke terlihat sang bungsu Uchiha juga tidak kalah buruknya dengan keadaan Hinata. Wajahnya babak belur karena di hantam Fugaku. Sudut bibirnya terlihat pecah, pandangannya kosong dengan tangan yang terkepal erat. Mengingat tatapan Hinata tadi, benar-benar membuatnya sakit.

Ia sempat berharap bahwa Hinata akan menghentikan ucapannya. Tetapi kenyataannya Hinata malah diam seolah menerima semua ucapan Sasuke tanpa keberatan.

'Cih, bodohnya aku terlalu berharap.' Tangannya yang sempat terkepal kini mencengkram baju bagian depannya dengan erat. Hatinya terasa ngilu membuatnya benar-benar tak tahan.

Tiba-tiba ia terkekeh pelan, Sasuke benar-benar kehilangan akal sehatnya. Ia yang terlalu memuja Hinata kini bagai barang tidak berguna yang di buang pemiliknya.

Mau bagaimanapun, itu semua telah terjadi. Nasi telah menjadi bubur dan semua ucapannya tadi tidak mungkin ia tarik semudah itu.

"Hubungi Karin dan suruh ia bersiap di kamarku, sekarang!" Titah Sasuke dalam perjalanan pulang mereka ke mansion Uchiha.

"Baik, Tuan Sasuke." Jawab pelayan pribadinya. Sasuke mencoba merileks'kan tubuhnya.

Mungkin bersenang-senang dengan Karin akan mengurangi sedikit bebannya. Ya, semoga saja.

To be continued


Gomen ne, minna #sujud

Ini termasuk update cepetkan ya? *kedipkedip* Bagi saya loh ya wkwkwk

Maaf telah membuat kalian semua menunggu lama, sungguh fict ini sebenernya mau saya discontinued karena tiba-tiba kehilangan feel untuk melanjutkannya.

Untuk chapter ini sengaja saya pendekin biar lebih greget, hehe. Untuk Chap selanjutnya saya jamin akan sangat panjang, jadi bersiap-siaplah :))

Gue suka banget Sasuke disini. Buat dia lebih possessive. Saya gak bisa jamin ya :)) Apa Hinata punya perasaan terhadap Naruto? Kita liat aja nanti Kenapa Hinata belum menjawab lamaran Sasu? Apa chapter ini sudah menjelaskan semuanya? Saya harap iya wkwkw. Btw ini TBC kan? Iya. Terlalu pendek, jadi kurang begitu paham sama ceritanya Apa sekarang sudah mengerti sama jalan ceritanya? Kalau belum tggu chap selanjutnya ya ^^ Satu hal yang kurang tak ada tanda tbc atau end. Apa ini akan dilanjut atau Cuma sampai disini? Sebenarnya itu bawaan saya dari dulu yang tidak pernah memberi tanda tbc. Ini dilanjut . Ini latarnya tahun2 noni2 atau latar masa kini? Bisa di bilang ini masih tahun noni-noni, namun sudah hampir memasuki jaman modern :)

Ok, special thank buat Guest(1), Aika Hanami Souen, Nurul851, Eternal Dream Chowz, Guest(2), Mitsuki ota, , aindri961, siiuchild, aili165, Haruka Hime-chan, Luluk Minam Cullen, ikathak, reza Juliana RJN. Maaf jikalau ada kesalahan dalam penulisan nama.

Lalu terima kasih untuk para silent reader dan para flamer atau sebangsa(t)nya yang telah repot-repot ngereview fic ini dan ngePM saya, saya bener-bener menghargai itu :))

Sip, akhir kata rnr?

Thank you!