Keempatpuluh peserta yang tersisa menyiapkan diri mereka sendiri-sendiri sebelum jam dinding menunjukkan pukul empat pagi. Ya, karena kemarin mereka telah diberitahu untuk hadir di aula jam 4 pagi, maka tentunya para peserta harus bangun tidur sebelum jam 4. Sekitar jam empat kurang lima menit, empat puluh peserta memasuki ruang aula bersama-sama, tapi tidak ada tanda-tanda kehadiran dua orang juri yang kemarin menemani mereka.
Di aula, empat puluh calon anggota Akatsuki hanya menemukan banyak kompor dan peralatan memasak, serta papan pengumuman yang ditempeli tiga kertas berwarna putih.
.
.
Disclaimer: Naruto adalah milik Masashi Kishimoto, karakter dari fandom lain adalah milik penciptanya masing-masing. Master Chef adalah acara yang aslinya dibuat oleh ... siapa ya? Pokoknya Master Chef bukan punya Fei.
Warning: AR (iyalah), mungkin OOC, mungkin slight yaoi (tapi unsur yaoi tidak akan menjadi unsur utama), ada OC, nyomot beberapa karakter dari beberapa fandom untuk figuran, author tidak mengambil keuntungan. Semoga tidak melanggar guidelines.
.
.
Seleksi Masuk Akatsuki
Chapter 2: Master Chef Akatsuki
by Fei Mei
.
.
40 peserta langsung berusaha membaca tulisan-tulisan yang ada di ketiga kertas yang tertempel di papan pengumuman. Kertas pertama mengatakan bahwa kedua juri hari ini tidak dapat hadir karena suatu hal, maka nanti jam 10 siang akan ada tiga orang juri pengganti khusus hari ini. Ketiga juri pengganti ini akan memimpin jalannya acara hari ini.
Kertas kedua mengatakan bahwa untuk 'pertandingan' hari ini, 40 peserta akan dibagi menjadi delapan kelompok –berarti masing-masing kelompok memiliki lima anggota. Pada kertas itu pula dijabarkan pembagian kedelapan kelompok yang telah ditentukan oleh juri.
Kertas ketiga mengatakan bahwa mereka akan bertanding memasak perkelompok, masing-masing kelompok membuat tiga makanan dan satu minuman, makanan yang dimaksud adalah makanan pembuka, makanan utama, dan makanan penutup. Waktu memasak peserta adalah dari jam lima pagi sampai jam 10 pagi, jadi tiga juri pengganti akan datang bertepatan dengan usainya jam memasak. Jika ada yang memulai masak duluan sebelum jam lima tepat, akan langsung didiskualifikasi –tiga juri pengganti sedang menonton situasi ruang aula lewat kamera CCTV. Makanan yang dibuat bebas, peralatan masak sudah disediakan, bahan-bahan sudah ada di aula, jika bahan yang diinginkan tidak ada di aula maka dipersilakan membelinya di pasar terdekat.
Usai membaca dari papan pengumuman itu, 40 peserta tersebut langsung menghampiri anggota kelompok masing-masing untuk membicarakan makanan dan minuman apa yang akan mereka buat. Bahkan ada yang langsung mengecek bahan makanan apa yang telah disediakan juri disana. Sekitar pukul 4.30, para peserta sudah ada yang mengambil bahan dan peralatan masak lalu diletakkan di station kelompoknya, bahkan beberapa orang ada yang keluar aula karena ingin ke pasar.
Dengan taat, delapan kelompok benar-benar baru mulai aktivitas memasak pada pukul lima tepat. Ada yang memang punya bakat memasak, ada pula yang benar-benar buta dalam hal memasak, tapi ada juga yang ternyata bisa memasak sedikit.
.
.
Kelompok pertama membuat makanan seafood. Ternyata ada satu orang yang tidak senang dengan ide masakan itu kelompoknya. Tetapi mungkin karena hanya dia saja yang tidak setuju, jadi dia harus ikut keinginan mayoritas.
"Sudahlah, Kisame, jangan cemberut terus, sebaiknya kau membuat minuman saja," ujar Konan sambil memotong ikan Tuna dengan sadis.
"Hei, kau itu kalau mau memotong ikan tidak boleh dengan bengis begitu! Dasar tidak berperkeikanan!" bentak Kisame, satu-satunya anggota kelompok pertama yang menolak membuat makanan seafood.
.
Kelompok kedua. Entah makanan macam apa yang sedang mereka persiapkan. Berbagai macam daging dan sayuran hijau ada di station mereka. Kelima anggota kelompok ini bekerja dengan tenang, dan tidak ada yang bicara sama sekali, seakan mereka hanya bicara lewat kontak batin.
Sampai suatu ketika Shirato Jin sedang ingin membuang air panas dari sisa merebus sesuatu ke westafel. Sayangnya, ia membuang air rebusan itu tanpa meliha-lihat ke westafel, sehingga ...
"AAARRGHH!" jerit seseorang dari kelompoknya, yaitu Arlong.
Ternyata Arlong sedang mencuci salah satu alat masak yang sedang ia pakai, tapi tiba-tiba Jin menyiram tangannya dengan air panas.
"Kau itu ingin menjadikanku ikan rebus, ya?!" bentak Arlong.
"M-maaf, aku tidak sengaja!" ucap Jin.
.
Kelompok tiga sedang mengakrabkan diri masing-masing. Sambil memasak, kelima anggotanya mengobrol. Mereka membicarakan dari hal A sampai Z, dari hal yang penting seperti bagaimana kondisi makanan yang sedang dimasak masing-masing, sampai hal yang sangat tidak penting seperti warna pakaian dalam.
"Bisakah kau berhenti menanyakan hal seputar pakaian dalam, Pein?" tanya seorang gadis yang sudah merasa kesal dengan Pein.
"Lho, aku kan hanya penasaran, apa salahnya?" tanya Pein sok inosen.
"Dasar mesum," dengus gadis itu.
.
Kelompok empat memasak sambil mengobrol juga. Tetapi obrolan mereka bukanlah obrolan mesum seperti yang dilakukan Pein di kelompok tiga. Kelompok ini malah menceritakan pengalaman masing-masing yang menurut mereka lucu. Suatu ketika, entah saking lucunya atau apa, seorang mantan polisi-detektif yang kini jadi napi yang kabur tiba-tiba tertawa dengan begitu keras.
"HAHAHAHAHAH!" tawanya sambil berguling-guling di lantai sambil memegang perutnya.
"Adachi-san, kau kenapa?" tanya seorang anggotanya pada sang napi yang bernama Adachi Tohru.
"Se-sepertinya virus tawa Y-Yukiko-san sudah menular p-padaku! HAHAHAHA!" ujar Adachi sambil menahan geli.
"Siapa itu Yukiko-san?" tanya anggota yang lain.
"Kenalanku dari k-kota Inaba. HAHAHAH!" Adachi berusaha menjawab.
"Gawat! Sepertinya Adachi-san tidak sengaja memakan Jamur Pembuat Tawa!" seru seorang yang lain sambil menatap horor sekeranjang penuh Jamur Pembuat Tawa.
.
Kelompok lima mungkin memiliki keharmonisan yang sesungguhnya.
"Oh, jadi kamu terpaksa membunuh keluargamu, ya..." ujar Tobi, yang duduk di lantai bersama Itachi, sambil menunggu makanan mereka yang ada di dalam oven.
"Iya, tapi aku tidak tega kalau harus bunuh adikku, dia imut-imut banget, sungguh," ujar Itachi, mulai berlinang air mata.
"Kasihan ... cep, cep, cep," kata Tobi.
Lho kok, jadi sesi curhat?
.
Kelompok enam sedang kewalahan menghadapi seorang Deidara. Ternyata bagi Deidara, mencicipi makanan yang ia buat sekali itu sama sekali tidak cukup. Apalagi mulutnya ada tiga, jadilah masing-masing mulut akan mencicipi. Ya mending kalau hanya seujung sendok, lah dia kalau mencicipi makanan itu bisa satu sendok penuh permulut! Sungguh, dia membuat porsi makanan yang ia buat sendiri itu berkurang banyak.
"Deidara," panggil Orochimaru, mewakili anggota kelompok enam yang lain. "Masakan bagianmu itu adalah makanan utama loh, kalau yang disajikan hanya sedikit lalu kelompok kita kalah, maka kamu akan jadi makanan utama untuk Nagini."
"Hah? Nagini?" tanya Kakuzu.
"Nagini itu saudara jauhnya Manda," jawab Orochimaru kalem, sambil mengasah golok.
.
Kelompok tujuh secara tidak langsung mirip dengan kelompok pertama. Di kelompok pertama ada Kisame yang menolak untuk membuat makanan laut, sedangkan di kelompok tujuh ada Zetsu yang menolak untuk membuat makanan vegetarian.
"Kalian itu benar-benar tidak berperiketumbuhan!" omel Zetsu hitam.
"Padahal kalau tidak ada tumbuhan, bumi akan panas sekali!" kata Zetsu putih.
"Maaf Zetsu-san, tapi empat lawan satu, kami berempat setuju untuk membuat makanan vegetarian, sedangkan hanya kau sendiri yang tidak setuju," ucap salah satu anggotanya.
"Hei, sendiri?" tanya Zetsu putih.
"Kami ini berdua! Two in one!" kata Zetsu hitam.
.
Kelompok delapan adalah kelompok 'harem', dimana anggotanya adalah empat orang perempuan dan satu orang laki-laki. Laki-laki yang 'beruntung' itu adalah Sasori. Tidak hanya satu-satunya berjenis kelamin pria, tetapi Sasori juga satu-satunya orang di kelompok itu yang memasak. Lho, keempat gadis yang ada di kelompok itu mengerjakan apa?
"Kyaaa Sasori-san, ayo melihat ke mari!" kata gadis pertama.
"Sasori-kun, biarkan aku memotretmu!" kata gadis kedua sambil mencoba memotret Sasoi dengan kamera ponselnya.
"Sasori-sama keren sekaliii!" seru gadis ketiga.
"Sa! So! Ri!" seru gadis keempat sambil mengangkat kertas karton bertuliskan 'Sasori Love'.
Ya, keempat gadis di kelompok delapan malah sibuk ber-fangirling, membiarkan Sasori kewalahan masak seorang diri.
.
.
Akhirnya jam dinding menunjukkan pukul 10 tepat. 40 peserta yang nyaris 100% tidak benar-benar bisa memasak itu telah menyelesaikan tiga makanan ditambah satu minuman. Dan sesuai dengan apa yang tertulis di kertas yang ditempelkan di papan pengumuman, tepat pada pukul 10 itu pintu aula terbuka, dan terlihatlah tiga orang juri yang dimaksud.
"Saya adalah Chef Kobaran Api, dan saya akan mencicipi makanan pembuka," kata juri pertama. Ia adalah seorang pria, yang tampaknya paling tua di antara ketiga juri pengganti, dan ia membawa tongkat di sebelah kanannya untuk membantunya berjalan. Entah kenapa namanya 'Kobaran Api', mungkin ibunya begitu berkoba-kobar saat hamil.
"Saya adalah Chef Hey Arnold, dan saya akan mencicipi makanan utama," kata juri pertama. Ia adalah seorang pemuda tampan, yang sepertinya umurnya baru sekitar 25 tahun. Kulitnya putih bersih dan senyumnya mengembang. Entah kenapa namanya bisa Hey Arnold, mungkin ibunya dulu suka menonton acara kartun berjudul Hey Arnold saat hamil.
"Dan saya adalah Chef Yuk Mari, saya akan mencicipi makanan penutup kalian," kata juri ketiga. Ia adalah satu-satunya juri perempuan dari ketiga juri pengganti. Rambutnya panjang dan digerai, kulitnya putih, dan ia mengenakan gaun. Entah kenapa namanya bisa Yuk Mari, mungkin dulu itu adalah kata-kata yang sering diucapkan oleh ibunya sewaktu hamil.
"Nah, kami akan mencicipi setiap makanan dan minuman yang kalian buat," kata Chef Hey Arnold. "Jadi setiap kelompok akan membawakan hasil masakannya pada kami secara berurutan."
"Hanya akan ada 25 peserta yang akan lolos dalam pertandingan ini," kata Chef Yuk Mari. "Tetapi tidak berarti satu kelompok anggotanya akan gugur semua. 15 orang yang gugur bisa saja dari kelompok yang berbeda-beda. Kami telah menyaksikan bagaimana kalian bekerja di dalam kelompok. Maka yang menjadi penilaian kami adalah hasil makanan dan minuman, serta sikap kalian selama dalam kelompok."
"Karena empat yang harus dicicipi, sedangkan kami hanya bertiga, maka kami mengajak seorang Chef lagi untuk menjadi juri," kata Chef Kobaran Api. "Ia adalah Chef Juni!"
Pintu aula kembali terbuka dan masuklah seorang laki-laki berwajah sangar dan seluruh pergelangan tangannya penuh dengan tato. Tapi kenapa wajah sangar begitu bisa bernama Juni? Mungkin ia lahir di bulan Juni.
"Oh, aku tahu! Mereka pasti dari acara Master Chef Konoha!" kata Kisame.
"Oh ya, aku baru sadar," kata Itachi. "Kok kau bisa tahu? Memangnya di laut bisa nonton televisi?"
"Bisa dong!" ujar Arlong yang sama-sama berasal dari laut bersama dengan Kisame.
"Baiklah, kelompok pertama bisa silakan maju ke depan," kata Chef Kobaran Api.
.
Makanan seafood buatan kelompok satu terlihat begitu indah. Dari makanan pembuka, utama, sampai penutup semuanya tertata begitu rapi. Masalahnya hanya satu, yaitu masakannya. Keempat juri menelan ludah saat melihat Kisame mempersembahkan minuman buatannya yang berwarna merah darah segar. Walau terlhat mencurigakan, keempat juri tetap harus mencicipi, kemudian memberi komentar.
"Makanan pembuka ini enak," kata Chef Kobaran Api.
"Makanan utamanya juga enak," kata Chef Hey Arnold.
"Makanan penutupnya kebanyakan gula," kata Chef Yuk Mari.
"Kok komentarnya singkat begitu, sih?" tanya Konan.
"Karena waktu kami terbatas," jawab Chef Yuk Mari.
Kini mereka menunggu komentar Chef Juni yang kebagian mencicipi minuman.
"Minumannya enak, walau warnanya agak mengerikan," kata Chef Juni. "Kalau boleh tahu, ini dibuatnya dari apa?"
"Dari darah para hewan laut yang dipakai untuk makanan utama, Chef!" jawab Kisame bangga.
Seketika itu juga Chef Juni langsung muntah.
.
Makanan dari kelompok kedua tidak kalah indah. Dan ketiga juri yang bertugas mencicipi makanan pun berkata makanannya enak. Sekarang tinggal tunggu Chef Juni mencicipi minumannya. Sepertinya Chef yang bertato ini masih agak trauma akan minuman buatan Kisame.
"Minuman ini dibuat dari apa?" tanya Chef Juni, takut muntah lagi.
Anggota kelompok dua yang bertugas membuat minuman pun menyebutkan nama buah, Chef Juni mengangguk lega dan mulai minum.
"Enak," kata Chef Juni singkat, lalu mengusir kelima anggota kelompok dua.
.
Kelompok tiga kini maju sambil membawa hasil karya mereka. Keempat juri langsung menyantap apa yang telah terhidang di hadapan mereka. Eh, ternyata tidak semua juri mencicipi, ada seorang juri yang tidak ikut makan, yakni Chef Hey Arnold.
"Cuma perasaan saya saja atau memang kamu menaruh aksesori di hidangan utama ini," kata Chef Hey Arnold. Lalu dengan bantuan sendok dan garpu, ia mengangkat aksesori yang dimaksud.
"Loh, itu bukannya anting Pein?" tanya seorang anggota kelompok tiga.
"Iya, sengaja aku kasih anting satu di situ, untuk mempercantik, sekalian untuk kenang-kenangan bagi juri," ujar Pein sambil senyum centil.
"Kenang-kenangan dudulmu!" bentak seorang anggota kelompok yang lain sambil memukul kepala Pein.
"... saya gak mau mencicipi, ini pasti sudah terkontaminasi dengan kotoran telinga kamu lewat anting ini," ujar Chef Hey Arnold.
.
Sekarang gilirang kelompok keempat. Juri bingung karena mereka kelompok ini hanya membawa maju dua makanan dan minuman saja. Bukankah harusnya ada tiga makanan yang disajikan? Tidak hanya soal makanan saja yang membuat para juri bingung, tetapi jumlah anggota yang maju juga membuat mereka bertanya-tanya.
"Kenapa kalian hanya berempat?" tanya Chef Juni.
"Anggota kelima kami keracunan, Chef, dia tidak sengaja makan Jamur Pembuat Tawa, jadi ia dilarikan ke ruang perawatan," jawab seorang anggota.
"Lalu, makanan utamanya mana?" tanya Chef Hey Arnold yang menyadari bahwa hanya ia yang tidak disuguhkan apa pun di hadapannya.
"Jamur Pembuat Tawa itu ternyata dimasak dalam makanan utama, Chef, anggota kami yang bernama Adachi yang sekarang sedang dirawat itu mencicipinya, makanya kami bisa tahu itu bukan jamur biasa. Lalu kami langsung buang masakan jamur itu," terang anggota yang lain.
Keempat juri menggangguk. Kemudian Chef Juni mendorong gelas minuman yang isinya belum ia coba sama sekali.
"Saya tidak berani minum, takutnya kalian ada pakai bahan berbahaya lainnya secara tidak sadar," kata Chef Juni.
Chef Kobaran Api dan Chef Yuk Mari yang mendengar perkataan Chef Juni ikut mendorong hidangan mereka menjauh, sependapat dengan perkataan sang Chef bertato.
.
Kelompok kelima membawa maju hidangan mereka. Hidangan mereka lengkap, tetapi makanan utama yang dibuat bersama-sama oleh Tobi dan Itachi berwarna hitam karena gosong, terlalu lama di dalam oven. Sepertinya ini tanda-tanda Chef Hey Arnold tidak akan mencicipi lagi.
"Ini daging apa sih, hitam begini?" tanya Chef Hey Arnold, sambil mencoba menusuk daging itu pakai pisau.
"Daging kambing, chef," jawab Tobi.
"Kenapa harus dipanggang dalam oven? Kenapa tidak dibakar biasa saja?" tanya Chef Hey Arnold lagi, masih berusaha menusuk daging itu.
"Karena kalau dibakar itu sudah terlalu mainstream, Chef!" jawab Itachi bersemangat.
"Sudahlah, saya tidak bisa coba makanan ini, ditusuk-tusuk saja tidak bisa," kata Chef Hey Arnold menyerah. "Kenapa bisa begini, sih, makanannya?"
"Mereka keasyikan berpelukan, Chef, sesi curhat mereka kepanjangan ternyata," jawab seorang anggota kelompok lain.
.
Selanjutnya adalah kelompok keenam. Lagi-lagi keempat juri bingung karena ada lagi kelompok yang hanya menyajikan dua makanan dan minuman. Lagi-lagi Chey Hey Arnlod tidak mendapat hidangan apa-apa. Ya, tidak ada makanan utama yang dihidangkan oleh kelompok ini.
"Mana makanan utamanya?" tanya Chef Hey Arnold yang mulai kesal.
"I-itu ... " ujar Deidara gugup. "Kan kalau memasak itu harus dicoba dulu, nah, saya kebanyakan cobanya, tanpa sadar habis deh masakannya. Apalagi kan, mulut saya ada tiga, ketiganya harus mencicipi dong."
Keempat juri langsung sweatdrop.
.
Kelompok ketujuh maju ke depan. Masing-masing menghidangkan hidangan di depan juri. Chef Juni agak merinding ketika Zetsu meletakan minuman di hadapannya. Jelas saja, ia masih mengingat betul kejadian kelompok pertama, dimana tema mereka adalah masakan seafood, kemudian minumannya adalah darah para hewan laut. Kelompok ketujuh ini membuat makanan vegetarian, jangan-jangan Zetsu membuat minuman yang aneh dari tumbuhan.
"Ini terbuat dari apa?" tanya Chef Juni hati-hati.
"Akar tumbuhan. Kan daun-daunnya sudah dipakai di hidangan pembuka dan utama, biar tidak ada yang dibuang-buang, saya membuat jus saja. Alami, lho, soalnya akarnya tidak dicuci, masih ada tanahnya," jawab Zetsu (sangat) bangga.
"Kamu mau bunuh saya, ya?" tanya Chef Juni, yang sepertinya akan muntah lagi.
.
Akhirnya giliran kelompok terakhir, kelompok delapan. Baru saja Sasori ingin maju, tiba-tiba Chef Yuk Mari bilang ia tidak usah maju.
"Khusus untuk kelompok delapan, kalian tidak usah maju," kata Chef Yuk Mari.
"Karena hanya laki-laki itu saja yang kerja," kata Chef Kobaran Api sambil menunjuk Sasori. "Makahanya dia saja dari kelompok delapan yang lolos ke babak selanjutnya. Empat orang anggotanya langsung kami nyatakan gugur."
Saat itu para peserta baru ingat kalau ruangan aula itu ada CCTV, mungkin daritadi keempat juri menonton bagaimana situasi aula sebelum masuk ruangan itu. Lalu dengan berat hari, keempat gadis dari kelompok delapan keluar dari aula.
"Total orang yang akan keluar hari ini ada 15 orang. Karena sudah ada empat orang yang keluar, maka tinggal 11 lagi," kata Chef Hey Arnold.
"Kami akan berdeliberasi sebentar," kata Chef Juni.
Kemudian keempat Chef itu berdiskusi, membiarkan 36 peserta yang masih di aula iu gugup dan berkeringat dingin. Setelah itu para juri kembali menghadap ke peserta dan menyebutkan 11 nama yang gugur dalam seleksi ini.
"11 nama yang sudah disebutkan silakan keluar dari ruangan ini," kata Chef Yuk Mari setelah menyebut 11 nama. "Sisanya tetap di tempat. Karena setelah makan siang, kalian akan langsung menghadapi babak berikutnya. Bukan kami lagi yang akan menjadi juri."
Lalu, siapa lagi yang akan menjadi juri? Seleksi macam apa yang akan diadakan di babak berikutnya?
.
.
~TBC~
.
.
A/N: Halo, maaf lama update nya. Fei dari awal memang udah kepikiran chapter dua mau bikin lomba masak gara-gara di salah satu fanfict oneshot Fei di fandom Persona Series itu ada lomba masaknya, menampilkan tiga orang chef yang namanya Fei buat ancur juga, tapi males gitu ngetiknya #plak. Lalu kemarin grandfinal JMCI 2, jadi semagat nulis deh #plaklagi.
Btw ada yang mau rikues siapa yang jadi jurinya? Kalo mau rikues real person, sebisa mungkin yang lagi booming (?) ya, biar Fei tahu orangnya (emang bisa kenalan?). dan real person pasti namanya diplesetin dan akan OOC, seperti Kobaran Api, Hey Arnold, Yuk Mari, dan Juni.
Review?
