Disclaimer: Pastinya Naruto itu punyanya Mas Masashi KIshimoto.
Bagian 2: Activer Level Zero
Hello! Perkenalkan namaku Namikaze Naruto. Seorang Activer Zero atau biasa disebut tanpa memiliki gen psyco accel di dalam diriku. Baru pindah dari ibukota Tokyo dan tujuan kepindahan ku adalah Yokohama, sebuah kota di prefektur Kanagawa, tempat aku dulu dilahirkan. Sungguh aneh memang, aku harus pindah di tempat yang berjarak hanya lima menit jika aku naik kereta api dari rumahku sebelumnya. Namun keputusan orang tuaku, Keluarga kecil Namikaze adalah mutlak, semutlak pendapat-pendapat dari ibuku, Namikaze Kushina, sang Habanero Berdarah.
Sekolah? Tidak, itu masih belum saatnya. Maksudku, mengingat aku baru saja lulus dari SMP Minato, sebuah SMP yang berada di daerah pelabuhan Tokyo. Rencananya aku akan memilih untuk bersekolah di Sekolah Akademi. Aku juga tak menaruh minat pada SMA Activer yang saat ini sering dibicarakan olah murid-murid yang baru saja lulus dari dari SMP mereka masing-masing, dan tak luput juga dari pembicaraan para kawan-kawanku satu kelas waktu itu. Namanya juga Esper Zero, jika aku mendaftar di SMA Activer manapun pasti jejak hidupku tak akan bisa berjalan lebih baik, atau kata "bunuh diri" akan lebih cocok untuk di garis bawahi.
"Whaa~! Antriannya panjang."
Aku setengah berteriak saat ku datang ke Sekolah Akademi tuk pergi mendaftar menjadi siswa baru. Namun antrian ini terlihat mengulari halaman Sekolah Akademi.
Yah, maklum saja. Tak hanya para Activer Zero saja yang mendaftar kemari, juga para pemilik Activer pun mendaftar dengan Antusias. Wah, tampaknya persaingan makin ketat dan kompleks.
Namanya adalah Sekolah Akademi Nasional Haida. Sekolah yang menitikberatkan pada teknik tata pemerintahan. Sesuai jurusannya, aku memang berencana untuk menjadi pegawai negeri dan hidup normal. Tak kurang apapun dan tak lebih dari apapun.
"Na-naruto-kun?!"
Sepertinya ada sebuah suara melengking tengah menyapaku, dan dari getaran bunyi suara itu nampaknya seseorangsedang berjalan tergesa-gesa kearahku. Lalu ku toleh wajah ini ke asal suara tersebut.
"Eh? K-ka-kau kan...?!"
Berhenti di depan ku, seorang gadis sebaya dengan diriku tengah tersenyum lebar dan kemudian berkata "Apa kabar?" padaku. Aku pun menjawabnya dengan suara agak tersendat-sendat, yaitu "Baik-baik saja". Setelah itu kami pun terdiam membisu.
"Hi-hinata-san kenapa kau ada disini?"
Dia tak menjawab.
"Ah ! Apa kau juga akan mendaftar di Akademi Haida?" aku melanjutkan.
"Bukan, bukan begitu. Sebenarnya aku aku tengah mengantarkan temanku tuk mendaftar."
"Jadi ngomong-ngomong, kau akan mendaftar dimana?"
Mendaengar kata-kataku ini. Hinata menyilangkan tangannya ke belakang dan sedikit memiringkan kepalanya seraya tersenyum tulus.
"Tentu saja, aku akan mendaftar di SMA 1 untuk menjadi Activer terhebat!"
Mataku pun memandang Hinata dengan tatapan kosong. Dan sedikit menunduk hingga rambut pirang ini menutupi bagian mataku.
"Menjadi Activer terhebat, kah?" kemudian aku lansung tersenyum ceria.
"Bagus! Itu impian yang sangat bagus."
Rasanya aku telah mengalami Deja Vu saat kalimat terakhir dari Hinata kudengar melalui kedua telingaku. Namun bedanya diakhir Deja Vu ku, seseorang akan meninju perutku hingga aku membulatkan kedua mataku dan berkata "Ohhok~!" setelah seseorang itu selesai melakukan tinju kerasnya, ah, serasa nostalgia.
"Sakura. Ah! Seharusnya aku memanggilnya dengan sebutan Haruno-san."
Aku tersenyum, menghibur diriku sendiri. Sial! Kenapa aku terlahir sebagai seorang Activer Zero. Aku juga ingin menjadi pengguna Activer. Dan juga menjadi lebih berguna.
Sepertinya aku mendengar seseorang tengah memanggil Hinata-san. Suaranya juga melengking seperti kepunyaanya Hinata-san. Sambil mengikuti arah lirikan mata milik Hinata-san, aku mendapati seseorang...ah tidak! Tapi beberapa orang gadis tengah berlarikecil ke arah kami berdua.
"Hinata-chan! Hinata-chan!"
Mereka melambaikan tangannya pada sosok Hinata. Seragam mereka juga sama persis dengan yang dikenakan gadis bermata violet pucat ini. Ah! Pasti mereka adalah para teman-teman Hinata-san.
"Me-mereka siapa?"
Jariku menunjuk kearah mereka. Tapi, ah!, tanganku mulai bergetar. Sial! Disaat seperti ini! Tidak-tidak,aku bukan fobia gadis muda.
"Ah, mereka semua adalah teman-teman sekelasku. Yah, setidaknya hingga seminggu yang lalu sebelum hari kelulusan. Dan sekarang mereka adalah temanku, tidak lebih nya begitu."
Hinata mengatakannya sambil masih tetap memandang mereka yang sudah berada di depan bola mata shapire ku dan dan juga Hinata. Dari pengelihatan normal ku ini, Hinata nampak tersenyum dengan memasang wajah ceria saat salah satu dari mereka tengah mengelus-elus ranbutnya Hm, terlihat mereka tertawa bersama.
Sepertinya kehadiranku disin terlihat menggangu 'reuni' mereka. Kurasa aku harus pergi dari sini. Lagipula aku harus segera bergabung dengan antrian pendaftar yang sepertiny sudah mulai sedikit.
Namun disaat aku akan membelakangi para gadis di hadapan ku ini dan kemudian berencana nampak memegang telapak tangan kiri ku, bermaksud untuk menghentikan pergerakanku.
"H-hei! Kau mau kemana?"
"Aku? Tentu saja aku akan bergabung dengan para pendaftar lainnya di antrian di sana"
Aku pun menunjuk ke arah para pendaftar di sebelah ku. Namun saat aku tengah menggunakan jari telunjukku untuk menunjuk ke arah samping dari sisi leher ku, para gadis a.k.a teman-teman Hinata menatapku dengan andangan penasaran. Dan setelah itu mereka berbisik-bisik. Aku yang tak sadar telah menatap mereka pun hanya bisa menghela nafas.
"Naa... Hinata-chan?"
Hinata menoleh ke arah teman-temannya seraya masih memegang telapak tangan kiriku dengan kedua belah telapak tangannya dan berkata "Ada apa? Pada mereka.
"Apa pria keren itu...pa-pacarmu?!"
Wah, ternyata aku terlihat keren oleh tatapan mereka. Tapi, tunggu...!
A-a-a-apa!? Woi-woi, kenapa kalian berasumsi seperti itu! Kata-kata kalian sungguh keterlaluan!
Aku menanggapinya dengan salah tingkah. Lalu mata ini melirik ke arah yang ditanya, Hinata. Perlahan tapi pasti, aku mulai penasaran dengan apa yang akan di katakannya.
Hinata pun mulai membuka bibirnya yang nampaknya mulai bergetar, pipinya mulai memerah hingga menutupi seluruh wajahnya dengan warna merah tomat. Di ikuti juga dengan kedua tanggannya yang juga ikut bergetar. Kelopak matanya mulai berair. Hei! Apakah kau tidak terlalu berlebihan, Hinata-san?!
"Ti-ti-tidak! Hu-hubungan kami hanya sebatas Sahabat!"
Para gadis itu hanya ber'oh'ria saamendengar penjelasan singkat dari Hinata. Kemudian mereka mulai menatap Hinata dengan pandangan nakal.
"Hee...?! benarkah itu?"
Dan sesaat kemudian Hinata pingsan dengan tidak terhormat. Aku yang mengetahuinya pun langsung menahannya dan segera memapahnya ke bawah sepasang pohon yang rindang di dekat kami.
Saat aku menidurkannya di bawah pohon, para gadis yang notabene adalah teman-teman Hinata pun membantunya memberi minyak gosok pada Hinata. Karena mereka terlihat akan membuka kacing bajunya aku segera membalikkan badan. Menunggu mereka menggosokkan minyak pada sahabatku itu dengan raut muka merah milik ku.
Sambil mereka menggosok minyak pada Hinata, aku mendengar mereka sempat bergumam pelan sembari memasang senyuman tulus.
"Hinata-chan, kurasa kau belum mampu untuk mengakuinya. Benar malu-malu kucing."
To Be Continued...?
...
Balik-balik-balik! Aku balik lagi! Tapi maaf soalnya ini masih belum masuk di cerita inti, mungkin kalo di chapter depan udah mulai ke cerita sesungguhnya *nah ini cerita apaan dong? cerita hantau?* Tentu saja bukan!
REVIEW!
VVV
VV
V
