KARENA CINTA DATANG TANPA PERMISI CHAPTER 2

Characters : Karma Akabane, Okuda Manami, dan chara lainnya

Disclaimer : Ansatsu Kyoushitsu © Yuusei Matsui

Warning : Abal, aneh, kayaknya ada typo, mungkin OOC, cerita ini hanya fiktif belaka, mohon maaf bila ada kesamaan ide.

DON'T LIKE DON'T READ


Ketika tersadar, pria bersurai merah itu yakin dia ada di atas tempat tidur. Kegelapan melingkupi sudut pandangnya. Rasa sakit menjalari sekujur tubuhnya yang kini terasa kaku dan berat.

Karma mengerang, bukan karena rasa sakit yang dideritanya, melainkan untuk tahu apakah dia sadar atau tidak. Karma mengerang sekali lagi dengan lebih keras dan berhasil memaksa diri untuk membuka mata.

Samar-samar, dia melihat siluet jendela bergorden putih dengan cahaya matahari yang menerobos masuk ke dalam ruangan tempatnya berada. Dari ekor matanya, dia bisa menangkap bayangan seseorang yang duduk di sampingnya. Entah siapa, yang jelas, orang itu memegangi tangannya dan berbicara padanya –meski Karma tidak tahu apa yang dibicarakannya.

Dia menyipitkan mata, berusaha melihat.

Orang yang duduk di sampingnya tampak mencondongkan tubuh pada Karma. Mulutnya nampak bergerak-gerak. Sekali lagi, Karma tidak bisa tahu apa yang dikatakan orang itu.

Sekali lagi, Karma mengerang. Bukan karena rasa sakitnya, melainkan untuk mengumpulkan kesadaran yang masih samar. Genggaman orang itu semakin erat padanya. Kali ini, suara halus yang sangat familier di telinganya berhasil dia tangkap. Suara yang memanggil-manggil namanya, menariknya untuk terbangun.

Karma menghela napas berat dan mengerjapkan matanya. Kali ini, dia bisa melihat dengan lebih jelas.

"... Ma ..."

Suara yang familier kembali masuk ke dalam telinganya.

"... Rmaaa ..."

Karma kembali mengerjap, dan memfokuskan dua inderanya bersamaan.

"... Karma ..."

Suara familier, suara Ibunya memanggilnya dengan lembut.

Sekali lagi, Karma mengerjap. Memastikan pemilik suara itu, "Ibu ..." Karma bersuara parau saat mata tembanganya berhasil menangkap gambar sang Ibu.

Nyonya Akabane menghela napas lega, "Yokatta, akhirnya kau sadar juga," hujan ciuman mendarat pada wajah Karma.

Pemilik manik tembaga itu menggeliat pelan, menandakan ketidaknyamanan atas perlakuan yang dia terima, "Di mana aku?" tanyanya sambil berusaha bangun.

"Rumah sakit. Setelah kecelakaan, kau langsung dibawa kemari," tangan Nyonya Akabane menahan putranya untuk bangun, "Maafkan Ibu, seandainya Ibu bisa pulang lebih cepat, kau tidak akan mengalami kejadian ini," ucapnya sambil kembali membaringkan Karma.

Karma butuh beberapa detik untuk memproses jawaban. Kecelakaan? Dia kecelakaan? Kembali pria bersurai merah itu memutar ingatannya. Ah ya, dalam perjalanan kembali, ada sebuah truk sialan yang menabraknya. Padahal lampu pejalan kaki sudah hijau. Entahlah, Karma tidak ingat lagi yang terjadi selanjutnya, malah akibatnya, kepalanya berdenyut hebat.

"Jangan memaksakan diri untuk mengingat dulu," Nyonya Akabane menenangkan putranya tatkala melihat wajah anaknya mengerenyit kesakitan, "Kepalamu terbentur cukup keras. Untungnya kamu tidak gagar otak. Tapi, kamu perlu banyak istirahat."

Karma tidak merespon, dia sedang asyik menikmati rasa sakit di sekujur tubuhnya yang berat, "Berapa lama aku pingsan?"

"Kamu tidak sadar hampir seharian," jawab Ibunya, "Ibu panggil dokter dulu. Tunggu sebentar, ya?"

Tunggu sebentar, ya? Memangnya dengan keadaan begitu, dia bisa kemana?

Begitu Ibunya meninggalkannya, Karma mengamat-amati dirinya sendiri. Perban membalut pergelangan sampai siku tangan kanannya, terlihat beberapa baret kecil pada punggung dan telapak tangan yang sama. Tangan kirinya lebam-lebam dengan hiasan selang infus yang menancap pada punggung tangannya plus baret-baret yang serupa tangan kanannya.

Karma meraba wajahnya, sebuah selang kecil terhubung dengan hidungnya melintas di wajahnya, membantunya bernapas. Di kepalanya, perban melilit mesra dahinya dengan bantalan kapas pada pelipis kanannya. Bau obat dan betadine menguar dari sekujur tubuhnya, menggantikan bau pappermint yang biasa menempel padanya.

Ya ampun, hanya dalam sehari image-nya dari berandalan keren kelas wahid berubah menjadi pasien menyedihkan kelas super.

Karma terkekeh pelan, sebelum rasa sakit menyerang rahangnya.

"Aduh, sakit juga," rintihnya, mengelus pelan rahangnya.

CKLEK

Pintu terbuka, seorang dokter dan suster masuk ke dalam, di belakang mereka, Nyonya Akabane mengekor. Dokter paruh baya itu tersenyum melihat Karma. Tangan besarnya mengelus-elus puncak kepala Karma, "Kau sudah sadar?" tanyanya basa-basi.

Dokter, anak umur 5 tahun juga tahu kalau objek di depanmu ini sudah sadar.

Karma hanya mengangguk pelan, mengabaikan hasratnya untuk menantang balik sang dokter.

"Syukurlah. Bagaimana perasaanmu? Ada yang sakit?" tanyanya kembali.

Dokter, namanya juga orang habis kecelakaan. Pasti bagian tubuhnya ada yang sakit.

"Seluruh tubuhku," jawab Karma serak.

Dokter tersebut mengangguk, "Aku akan memeriksa kondisimu sekarang."

Dokter itu mulai memeriksa kondisi tubuh Karma. Sementara suster ajudannya memeriksa tekanan darah dan suhu tubuh anak itu. Karma diam saja, walau sejujurnya dia tidak menyukainya. Saat dia memalingkan wajah ke arah jendela, tangan dokter itu menggamit wajahnya untuk memeriksa refleks bola matanya dengan senter kecil. Saat sinar dari senter itu menusuk pupilnya, Karma mendecih dalam hati. Kembali dia memalingkan wajahnya saat dokter membuka bajunya untuk memeriksa detak jantungnya. Saat dokter itu menyelimutinya kembali, tangan kiri Karma menarik lepas alat bantu napas di hidungnya.

"Karma–"

"Aku tidak apa-apa, Bu. Aku bisa bernapas sendiri," potong Karma.

Dokter itu tersenyum, "Aku mengerti," ucapnya kemudian merogoh sakunya, "Ini, ada seorang anak perempuan yang membawamu kemari. Barangnya terjatuh di ambulans. Dari seragamnya, dia siswi SMP Kunugigaoka, mungkin kau kenal," dokter itu menyerahkan sebuah dompet berwarna merah muda.

Karma menerima dan membuka dompet itu, yang pertama dilihatnya adalah kartu pelajar dengan foto yang amat dikenalinya. Karma tersenyum miring, "Ano onna ga."

Setelah selesai, sang dokter berjas putih itu membawa Nyonya Akabane keluar ruangan, dan menekuri catatannya, "Seperti yang sudah saya konfirmasi sebelumnya, tidak ada cedera fatal pada putra Anda."

Nyonya Akabane menghela napas lega, "Bagaimana keadaannya?"

"Kondisinya stabil. Refleks bola matanya juga bagus. Seperti hasil CT-Scan semalam, benturan pada kepalanya tidak berakibat gagar otak. Tapi, untuk amannya, jika nanti dia merasa mual atau kesemutan, segera panggil saya," jelasnya, "Hanya saja, sampai sekarang, saya agak bingung dengan luka pada tangan kanannya."

"Memangnya kenapa?"

"Menurut keterangan ambulans yang membawanya, dia terkapar di jalan. Wajar saja jika luka yang didapat adalah luka baret atau semacamnya. Tapi, lukanya adalah luka robek dengan lebam di sekelilingnya. Menurut, pengamatan, kemungkinan sesaat sebelum terbentur, putra Anda memakai tangannya untuk melindungi kepalanya."

Nyonya Akabane hanya bisa manggut-manggut.

"Putra Anda sangat hebat dan kuat. Dengan benturan sekeras itu, wajar saja bila ada kelainan pada otaknya. Tapi nyatanya, dia berhasil terhindar dari kemungkinan yang buruk. Lalu, Anda bisa melihat sendiri, putra Anda tidak perlu bantuan untuk bernapas. Selain harus banyak beristirahat karena luka-lukanya dan mendapat nutrisi yang cukup, dia akan baik-baik saja," ujar sang dokter, "Dengan kondisinya, tidak lama lagi dia bisa kembali pulang. Baiklah, saya permisi dulu."

Nyonya Akabane membungkuk pada dokter sebelum kembali masuk ke ruangan anaknya.

Yah, anak berandalan yang terlatih dengan berkelahi, sekaligus anak SMP yang dididik untuk membunuh objek gurita dengan kecepatan Mach 20, wajar saja kalau Karma bisa menghindari kemungkinan buruk yang bisa saja menghadang niatnya untuk hidup.


- KARENA CINTA DATANG TANPA PERMISI -


Kelas 3-E SMP Kunugigaoka.

Bitch-sensei tengah mengajarkan teknik merayu dengan Bahasa Inggris. Ya, merayu. Karena semua yang tertulis di papan tulis adalah kata-kata yang, ehem, berbau vulgar untuk ukuran anak SMP. Memang, mereka niatnya mempelajari questions tense, yaitu pola untuk bertanya tanpa kata tanya. Hanya saja, yah, kata-kata yang dipakainya tidak sesuai untuk anak SMP. Tetap saja, tidak ada seorangpun yang mengeluh atau protes dengan ajaran Bitch-sensei. Kendati mereka sudah tahu cara ajar guru tersebut.

Meski cara ajar dan reaksi siswa yang sama dengan biasanya, suasana kelas lain dari biasa. Satu bangku di samping Itona yang dikuasai oleh siswa yang hobi menaikkan kakinya ke atas meja kini kosong melompong. Walaupun tahu, Karma suka membolos, kali ini perasaan lain itu menggelayuti hati mereka. Dalam sudut terkecil hati mereka semua, mereka bertanya-tanya, bagaimana keadaan si rambut merah itu? Nagisa saja, yang biasanya fokus, kadang-kadang melirik ke bangku Karma.

Begitu pula dengan Okuda.

Orang yang sudah melihat sendiri bagaimana keaan pemilik mata tembaga itu. Bagaimana keadaannya sekarang? Sudah sadar atau belum? Berapa lama kiranya dia absen dari sekolah? Sambil memikirkan hal tersebut, Okuda memandang buku catatan di hadapannya. Dua buku catatan yang ada di hadapannya.

Bagi seorang pelajar, wajar saja punya lebih dari satu buku catatan. Mungkin, ada guru yang meminta siswanya untuk memisahkan buku untuk PR, catatan, dan tugas. Ada juga guru yang tidak ambil pusing berapa buku yang mau dipakai. Mungkin, ada siswa yang keranjingan mencatat sampai ke detail-detailnya. Tapi, jika melihat gurunya adalah Bitch-sensei, pastinya dia termasuk guru yang tidak ambil pusing berapa buku yang dimiliki siswa tersebut. Kalau melihat Okuda, mungkin kita bisa mengambil kesimpulan bahwa kedua buku itu memang miliknya. Sebagai salah satu siswa yang tergolong pintar, wajar saja jika dia mencatat dan memperhatikan dengan tekun.

Tapi, nyatanya tidak.

Satu buku memang miliknya pribadi. Buku Bahasa Inggris punyanya sendiri. Yang satu lagi ... buku kosong yang dia ambil dari persediaannya di rumah. Untuk apa? Entahlah, yang melakukannya sendiri juga bingung dengan apa yang dia lakukan. Mencatatkannya untuk Karma? Entahlah. Dia juga bingung dengan opsi yang dia buat.

"Bagaimana, sudah mengerti anak-anak?" tanya Bitch-sensei.

"Ha'i, wakatta, sensei!" koor seluruh siswa menandakan mereka telah mengerti.

"Baiklah, jadikan halaman berikutnya PR. Kumpulkan di meja sensei sebelum bel masuk lusa. Ja, kita akhiri pelajaran hari ini."

BRAK!

Pintu geser terbuka dengan kencang, mengagetkan seisi kelas.

"Kau pikir, apa yang kau lakukan?! Dasar Gurita!" maki Bitch-sensei.

"Minasan! Aku membawa kabar bagus untuk kalian!" jerit Koro-sensei tanpa menghiraukan makian dari Bitch-sensei.

Kesal karena tidak diperhatikan, Bitch-sensei mengeluarkan pisau karet dan mulai menyerang, "Beraninya kau tidak memperdulikanku, tako!"

Tangan tersebut ditangkap oleh tentakel lembut milik Koro-sensei dan menahannya, "Minasan, barusan sensei mendapat telepon dari Akabane-san, Ibunya Karma. Dia mengatakan kalau Karma telah sadar dan tidak mendapat cedera yang begitu mengkhawatirkan!" jelas Koro-sensei menggebu-gebu.

"HOOOOH!" teriakan lega anak-anak sekelas memenuhi ruangan.

Termasuk Okuda Manami yang mengehela napas dengan lega. Tersenyum kecil karena temannya baik-baik saja.

"Kita akan mengunjunginya, nanti. Bagaimana?!" usul Maehara.

Anak-anak manggut-manggut, "Yah, boleh juga. Aku juga ingin tahu keadaannya," Terasaka menyeletuk dari belakang.

Sementara anak-anak sibuk mengatur rencana mereka untuk mengunjungi Karma. Bitch-sensei dan Koro-sensei sibuk berkelahi di depan kelas, dengan gelengan Karasuma-sensei yang memperhatikan di ambang pintu.

Kelas yang ramai.


- KARENA CINTA DATANG TANPA PERMISI -


Ting Tong Ting Tong

Bel pertanda waktu sekolah usai telah berdentang. Anak-anak bersorak gembira. Beberapa di antara mereka langsung melesat pulang, beberapa lainnya asyik nongkrong dan sisanya bermain bulu tangkis maut seperti biasanya. Sementara itu, Okuda sibuk mengaduk-aduk tasnya. Wajahnya terlihat risau dan bingung. Sesekali tangannya digunakan untuk meraba saku dan laci mejanya.

"Ada apa, Okuda-san?" tanya Ritsu yang daritadi memperhatikan.

"Dompetku. Dompetku tidak ada," jawab Okuda.

"Eeeh? Jangan-jangan ketinggalan di rumah?" ucap Ritsu lagi.

Okuda menggeleng, "Tidak, aku tidak pernah megeluarkan dompet dari tas sekolahku. Setelah menerima uang saku, aku baru memasukkannya ke dompet saat jam istirahat pertama. Aduh, bagaimana ini?"

"Mungkin saja tertinggal. Atau terjatuh dari tasmu saat kau menyiapkan buku sekolah," ucap Chiba yang sedang asyik bermain catur dengan Okajima, "Hei, itu curang!"

Terjatuh. Mungkin saja. Tapi, dimana?

"Benar juga, hari ini kau sibuk mencatat terus, Okuda-san. Jadi, kau belum mengambil dompetmu, ya?" tebak Ritsu.

Okuda hanya mengangguk.

"Tenanglah, Okuda-san. Dompetmu pasti ketemu. Kalaupun terjatuh, pasti ada yang mengembalikannya untukmu," hibur Kayano.

Okuda mengangguk. Di mana dompetnya? Bisa gawat kalau hilang. Selain uang tabungannya selama seminggu lalu –yang belum sempat dikeluarkannya, ada kartu pelajarnya yang penting. Meski tiket kereta selalu ada pada saku tasnya, dia akan tetap kesulitan jika sewaktu-waktu sekolah memerlukan kartu pelajar.

Dasar hari apes bagi Okuda.

"Hhhh ... Kucari lagi di rumah, deh. Minna, aku duluan," Okuda bangkit dan menuju pintu.

"Ja~" ucap yang lainnya.

Kembali Okuda melangkahkan kakinya dengan malas. Semalas kemarin. Hari ini, Koro-sensei mau menonton pertandingan Baseball langsung di Amerika, jadi, setelah pelajaran usai, dia langsung terbang menuju tempat pertandingan Baseball.

Wajah tirusnya makin murung tatkala mencari tahu mengenai perihal barang hilang di stasiun. Saat dia melihatnya, tidak satupun barang yang hilang itu miliknya. Mungkin dia harus memikirkan membuat kartu pelajar baru. Pemikiran konyol sebenarnya, mengingat tinggal beberapa bulan lagi dia akan segera meninggalkan bangku SMP.

Jika bumi tidak hancur, tentunya.

Saat melewati penjual bunga, Okuda mengamatinya sejenak. Tanpa pikir panjang, dia membeli sebuket bunga, lalu melangkahkan kakinya. Kembali saat berhenti pada sebuah bangunan, dia terlihat mematung. Sesekali memandang bunga yang dibawanya. Okuda menghela napas berat, memutuskan untuk melangkah.

Setelah mencari tahu kamar yang dituju di depan resepsionis, Okuda kembali melangkahkan kakinya. Kembali, saat tiba di depan sebuah kamar dengan nama yang tertera tidak asing baginya Okuda mematung. Setelah ragu-ragu sejenak, Okuda membuka pintu dengan pelan.

Menjenguk teman sekelas, tidak buruk juga, bukan?

Di dalam, tidak nampak seorang yang lain, selain Karma yang berbaring di ranjangnya. Perlahan, Okuda mendekat. Wajah Karma yang sedang tertidur sangat lain dari biasanya. Polos, seperti anak-anak.

Karma-kun tidurnya pulas juga.

Pertanyaan menggaung dalam benak Okuda. Dia memutuskan untuk tidak mengganggu Karma dan meletakkan buket bunga di meja samping ranjang Karma dengan perlahan.

"Rupanya kau, Okuda-san."

Sebuah suara familier memenuhi telinga Okuda. Segera sang pemilik surai ungu itu menoleh dan mendapati Karma yang masih berbaring di ranjang dengan mata terbuka.

"Eh, a-aku, etto. Ku-kupikir Karma-kun belum sadar, d-dan ..." kata-katanya berhenti, salah tingkah.

Karma menyibakkan selimut dan bangkit perlahan kemudian berusaha duduk, menatap Okuda dengan bingung. Selain Ibunya sendiri, tumben-tumbenan ada yang mau menengoknya. Nagisa dan Sugino saja tidak menampakkan batang hidungnya.

Hening.

"K-kau sudah sadar, Karma-kun?" pertanyaan bodoh yang meluncur dari mulut Okuda untuk mencairkan suasana.

Melihat Karma yang kini duduk, sudah jelas tidak bisa dipungkiri lagi bahwa sang pemilik iris tembaga itu sudah sadar.

"Memangnya kau berharap aku pingsan berapa lama, Okuda-san?"

Okuda menunduk kikuk.

"Bercanda. Yah, aku sadar tadi pagi."

"O-Oh," Okuda mengangkat kepalanya, "Jadi, bagaimana keadaanmu?"

"Hmm, tidak begitu baik. Yah, mungkin besok aku sudah merasa lebih segar," ucap Karma sambil memegang kepalanya yang dililit perban, "Jadi, apa yang membawamu datang kemari, Okuda-san?"

Kembali Okuda terlihat kikuk, "T-tidak ada. A-aku hanya mampir," Okuda memainkan jarinya, " Ano ... teman-teman sekelas, khawatir padamu."

Karma mengerenyit bingung, "Mereka? Khawatir padaku? Mustahil."

"Itu benar."

"Oh."

Keheningan bercinta dengan ruangan.

"Okuda-san," panggilan Karma membuat Okuda mendongak, "Kau yang membawaku kemari, bukan? Terima kasih."

Sadar akan kebingungan yang melapisi wajah Okuda, Karma tertawa garing lalu membuka laci pada meja di samping ranjangnya. Sebuah dompet merah muda terulur di tangannya. Dompet feminim yang mustahil merupakan milik Karma.

"Ini milikmu bukan? Dokter yang menanganiku berkata 'ada seorang anak perempuan yang membawamu kemari. Barangnya terjatuh di ambulans. Dari seragamnya, dia siswi SMP Kunugigaoka, mungkin kau kenal.' Tak kusangka, itu kau Okuda-san."

Okuda mengambil dompet itu. Ah, rupanya dompetnya ada pada Karma. Pantas saja meski dia telah mencari kemana-mana dompet itu tidak kunjung ketemu.

"Tenang saja, aku tidak mengambil apapun dari dalam sana," ucap Karma, "Lain kali, hati-hati dengan barangmu."

"A-arigatou, Karma-kun."

Kembali hening bercinta dengan ruangan.

"Karma-kun, aku pulang dulu," Okuda bangkit dari tempat duduknya, "Semoga cepat sembuh."

Karma mengangguk.

Okuda berbalik arah dan menuju pintu, meninggalkan Karma kembali sendirian dalam ruangan yang sepi.

Di luar ruangan, Okuda mengatur napasnya. Berduaan saja dengan Karma membuatnya gugup. Namun, entah mengapa dia merasakan secuil perasaan gugup yang lain. Perasaan gugup yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya.

Cinta?

Okuda menampar pipi kuat-kuat sebelum melangkah pulang. Persetan dengan perasaan aneh itu, yang penting temannya baik-baik saja, dan yang penting lagi, dompetnya sudah ketemu.

Di dalam ruangan, Karma menatap bunga di samping tempat tidurnya dengan perasaan bingung. Mawar merah, semerah warna rambutnya. Baginya, Okuda Manami adalah orang yang tidak terlalu menonjol. Lugu dan suka gugup. Tapi juga unik. Hanya dia siswi SMP yang mampu membuat racun mematikan dan memberikannya terang-terangan pada Koro-sensei waktu itu.

Jelas Karma tahu, karena dia duduk di seberang belakangnya. Akibat itu juga, kadang kala Karma memperhatikannya diam-diam. Tapi, mereka tidak pernah dekat, kenapa gadis berkepang dua itu mau saja repot datang mengunjunginya? Karma sendiri tidak tahu.

Tunggu dulu.

Mawar merah? Bahasa bunganya Cinta Sejati.

Cinta?

Karma menggelengkan kepalanya sebelum memutuskan kembali berbaring.


- BERSAMBUNG -


A/N : Hore! Akhirnya jadi juga #Sujudsyukur. Hehehe~ lumayan susah juga nih nyari referensinya. Maklum, dalam cerita romance saya memang sangat pemula. Hehehe~ Ah, adegan KarManami-nya nggak banyak ya? Iya, maaf. Ini 'kan masih permulaan. Apakah cinta mereka akan tumbuh setelah pertemuan itu? Entahlah. Kita lihat saja nanti. Hahahaha~ Ohya, adegan Karma yang di RS itu saya copas dari kisah nyata yang teman saya alami. Dia tabrak lari dengan truk yang pengemudinya ngantuk (bukan mabuk lho ya ^^V). Keadaanya sama dengan Karma, cuman, nggak seberuntung Karma. Kalo Karma nggak sadar hampir seharian, kalo temen saya dua hari dua malam. Emang, sama-sama nggak gagar otak, tapi temen saya kaki kirinya retak karena kejepit. Saya nggak ambil bagian itu. Kasihan si Karma. Hehehe~ Oke, saya menunggu kritik dan saran readers sekalian

Salam

Adnida Kia Rahid