"Hontou otoko no ko tte tanjun na ndakara, mou zenbu shittemasu yo."

Momoi Satsuki

.

.

Semasa dirinya masih berada di Touou Gakuen, Momoi pernah berkata bahwa semua anak laki-laki itu mudah ditebak. Cukup dengan berbekalkan beberapa data dan ia bisa mengolahnya dengan baik, kemudian memperkirakan beberapa kemungkinan yang terjadi ke depannya.

Akan tetapi, hanya ada satu orang yang ia tak bisa prediksi saat itu.

Ya, Kuroko Tetsuya. Baik semasa dirinya masih di Touou Gakuen maupun saat ini, sosok Kuroko Tetsuya selalu berada di luar ekspektasinya.

Termasuk, kenyataan bahwa kini pemuda manis itu telah memiliki kekasih.

.

.

Resolution

.

Kuroko no Basuke Fanfiction

Kuroko no Basuke©Fujimaki Tadatoshi

Resolution©Little Snowdrop

.

Warn: typo(s), alur yang (mungkin) lambat

.

.

Beberapa dress manis dengan aksen pita maupun manik-manik yang dapat menambah sisi feminim bertebaran di permukaan ranjang. Dalam rentang waktu dua sampai tiga detik, beberapa dress lainnya pun kembali dilempar sampai pada akhirnya mendarat menyusul objek di ranjang sebelumnya. Terlihat surai merah muda Momoi bergerak mengikuti pergerakannya yang sibuk menyibak isi lemari pakaiannya.

Hari ini―sesuai yang dijadwalkan―merupakan hari reuni Kiseki no Sedai beserta dirinya. Karena alasan itulah Momoi sudah menyibukkan diri sejak matahari masih mengintip di ufuk timur.

"Satsuki? Sarapan sudah siap, sayang."

Terdengar teriakan sang ibunda dari luar kamar. Mau tak mau Momoi segera mempercepat persiapannya memilih pakaian.

"Iya, Kaasan. Satsuki akan menyusul." teriak Momoi agar dapat didengar oleh ibunya. Sementara itu, dirinya sendiri mulai meraih dua dress lalu membandingkannya dihadapan cermin.

"Ini kah? Atau yang ini kah?"

Diambilnya kembali dress lainnya.

"Atau ini?"

Kurang lebih sepuluh menit setelahnya, ia memilih sebuah dress yang panjangnya mencapai betis berwarna putih pada bagian atas serta bahan transparan berwarna merah muda mulai dari bagian pinggang ke bawah melapisi warna dasarnya―putih.

Usai merasa semua persiapannya telah sempurna, Momoi segera berlari menuju pintu kamar. Akan tetapi ia teringat untuk memberi kabar kepada sang mantan kapten. Diraihnya ponsel yang berada di atas meja nakas lalu dengan cepat ia mengetikan pesan.

"Satsuki?"

Terdengar kembali teriakan lainnya dari sang bunda.

"Iya, Kaasan! Satsuki ke sana sekarang."

Ponsel dilempar ke permukaan ranjang, kedua kaki langsung digerakan berlari keluar dari kamar.

.

.


To: Kapten

Subject: Reuni~!

Kapten, kami akan berkumpul sekitar jam sembilan. Kapten bisa datang tiga puluh menit setelahnya (tunggu sampai kami semua kumpul ya~). Ah, jangan lupa mengirim isyarat kalau Kapten sudah dekat dengan tempatnya ya?


.

.

Taman yang menjadi lokasi reuni dilewati oleh beberapa orang yang berlalu-lalang di sekitar kawasan tersebut. Beberapa di antaranya hanya merupakan pejalan kaki yang kebetulan melewati area taman atau anak kecil yang sedang bermain sampai pasangan kakek-nenek yang tengah menikmati cuaca saat itu.

Langit membentang luas dengan warna biru cerahnya. Sangat mendukung acara reuni yang akan diadakan.

Momoi sesekali merapihkan dress yang dikenakannya dengan jemari tangan. Terkadang, ia menyisir poni serta rambutnya agar tidak berantakan. Ia menjadi orang pertama yang hadir. Perasaannya tak menentu. Ambivalensi.

Ia tertarik sekaligus menantikan hadirnya hari ini. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan bahwa ia ragu serta takut karena hari ini, untuk sekian lamanya, ia akan kembali bertemu dengan Kuroko.

Momoi menarik napas dalam-dalam―berusaha menormalkan detak jantungnya.

Ia tidak boleh terlihat tegang. Ia harus siap. Meski Kuroko sudah memiliki kekasih saat ini, Momoi tidak boleh sampai menunjukan raut wajah yang mengundang rasa prihatin. Ia wanita yang kuat. Ia adalah seorang guru dan guru tidak boleh―

PUK.

Seseorang menepuk bahu Momoi dari belakang. Mau tak mau Momoi berjengit terkejut. Dari ukuran tangannya, ini tangan seorang pria. Beragam spekulasi mulai membanjiri pikiran wanita bersurai gulali tersebut.

'Ini tangan siapa? Jangan-jangan tangan Tetsu-kun. Tetsu-kun kan suka muncul tiba-tiba. Bagaimana ini? Aku belum siap! Hatiku belum siap! Kamisama, tolonglah aku―'

"Momocchi! Hampir saja aku tidak mengenalimu ssu!"

'Eh?'

Tubuh diputar seratus delapan puluh derajat. Yang berada dihadapannya saat ini bukanlah sang pemain bayangan klub basket, akan tetapi mantan model muda yang kini berprofesi sebagai seorang pilot dengan quote terkenalnya saat ini adalah "Biarkan aku menerbangkan hatimu ssu~!" disertai kedipan mata yang dapat mengundang teriakan fangirls-nya dulu.

"Ki..Kichan?!"

"Osu, Momochi!" Sepasang manik amber itu masih memancarkan semangat seperti sebelumnya. "Ohisashiburi ssu! Aku tak menyangka Momocchi yang sampai pertama."

Bersamaan dengan helaan napas lega, Momoi tersenyum mendapati rekan sepergosipannya dulu—selain Takao karena pemuda dengan poni belah tengah itu juga asyik untuk diajak berbincang-bincang—adalah sosok yang menepuk bahunya.

"Ohisashiburi, Kichan." Rasanya sungguh lega, karena Momoi diberikan kesempatan oleh Kamisama untuk mengatur hatinya kembali. "Aku juga tidak menyangka bahwa Kichan yang datang kedua."

"Hidoi ssu! Memangnya Momocchi pikir aku akan telat?! Aku tak mungkin telat pada acara sepenting ini ssu!" protes Kise. Momoi tertawa kecil menanggapinya. Keduanya pun memulai topik pembicaraan umum seperti bertanya soal kabar, pekerjaan, dan sebagainya.

"Baru Satsuki dan Kise kah yang datang?" Suara baritone yang mengekspresikan rasa tak ikhlas terdengar, membuat Momoi maupun Kise refleks menolehkan wajah.

"Aominecchi!"

"Daichan!"

Mantan Ace kebanggaan Kiseki no Sedai itu menggaruk kepalanya malas. "Tsk. Kalau tau begini lebih baik aku berangkat lebih siang." gumam pria itu pelan.

Momoi mendengus kesal dan menjadi orang pertama yang meresponnya.

"Mou, Daichan ini! Lebih baik datang pagi tahu!"

"Sou sou, Momocchi benar! Padahal kita kan mau reuni setelah sekian lama ssu!" tambah Kise.

Perasaan Aomine saat itu campur aduk seperti palet warna yang ditumpahkan beragam variasi warna dari cat yang digunakan untuk melukis. Kedua manusia dihadapannya ini seharusnya bersyukur karena dirinya mau datang―padahal ini hari liburnya yang berharga.

"Kalian berisik. Apa mental kalian tidak berubah selama dua tahun ini, hah?"

"Apanya yang tidak berubah, Daichan?!"

"Aominecchi juga memangnya berubah ssu?"

Sebuah kesalahan besar dilakukan oleh Aomine. Seharusnya ia tidak coba-coba untuk memprotes dua sosok yang memiliki suara cempreng dan hormon berlebih semacam Momoi dan Kise.

Terlalu asyik berdebat―sekaligus membully Aomine secara tak langsung, ketiganya tidak menyadari ada langkah kaki yang mendekat. Sepasang manik yang dimiliki sosok itu mengunci pemandangan di mana Kise dan Momoi meneriakan protes mereka pada Aomine. Sebuah lengkungan tipis―hampir kasat mata―terpatri di parasnya.

"Masih pagi dan kalian sudah bersemangat sekali." ujarnya menarik atensi tiga orang yang tengah beradu argumen. "Ohisashiburi desu, Aomine-kun, Kise-kun, Momoi-san."

DEG.

Momoi tidak pernah merasakan sesuatu yang lebih tak menyenangkan dari ini. Mengapa di saat seperti ini dia harus muncul? Kedatangan Kise dan Aomine tadi berhasil mengalihkan kondisi hatinya sejenak. Tetapi, kalau seperti ini jadinya—

"Oh, Tetsu ka?"

"KUROKOCCHI OHISASHIBURI SSU!"

Momoi tidak bisa lagi langsung berlari dan menerjang Kuroko seperti yang Kise lakukan. Ia tidak bisa melakukannya karena saat ini—

—Kuroko telah memiliki kekasih.

.

.

Pemuda yang pernah menjadi cinta bertepuk sebelah tangan selama sepuluh tahun lamanya itu telah banyak berubah. Meski langsung dikelilingi oleh Aomine dan Kise, Momoi bisa melihat bagaimana punggung itu semakin tegap terlihat, bagaimana paras yang tampan bercampur imut itu kini berubah didominasi oleh sisi maskulin, tinggi badannya pun sudah berubah meski mungkin masih yang terendah diantara yang lain.

Netra merah muda Momoi mengikuti pergerakan yang dilakukan Kuroko. Mulai dari menyapa balik Aomine dan Kise, senyum tipis pemuda itu mendengar ucapan mereka, sampai pada akhirnya iris babyblue itu bertemu dengan merah mudanya. Momoi menahan napas.

"Momoi-san, ohisashiburi."

Bahkan suaranya masih menenangkan seperti dulu.

"Ohisashiburi... Tetsu-kun." Pandangan dialihkan menatap jalan sejenak. "Genki..?"

Kuroko tersenyum mendengar respon Momoi. "Hai, genki desu. Momoi-san wa?"

Dihadapkan dengan pilihan antara menjawab jujur atau tidak membuat Momoi menjadi dilema. Ia bisa saja berbohong, tetapi Tetsu-kun-nya itu memiliki observasi yang baik. Lebih baik ia memilih kata yang bersayap.

"Hum! Baik. Terlebih ini reuni kita setelah sekian lama kan?"

Paras manisnya dilekati senyuman palsu. Walau Momoi tahu bahwa Kuroko akan menyadarinya, akan tetapi Momoi yakin pemuda itu tak akan bertanya lebih lanjut.

"Dari yang kudengar, Momoi-san pergi mengajar di sebuah pulau."

Kamisama masih menyayanginya, Kuroko mengerti dan memilih tidak melanjutkan topik tersebut lebih lanjut.

"Ah iya, Momocchi tau? Aominecchi sempat khawatir loh saat mendengar berita itu!" sahut Kise yang masuk dalam pembicaraan.

"Heh, siapa yang khawatir? Satsuki kan selama ini dengan orangtuanya terus, yang ada nanti dia merengek tanpa henti di pulau itu."

"Bilang saja kalau Aominecchi khawatir pada Momocchi ssu."

"Diam kau, Kise."

Selingan dari pihak Aomine dan Kise cukup membantu Momoi mencairkan suasana hatinya yang canggung di awal. Ia merasakan rasa nyeri di dadanya setiap kali bertemu pandang dengan Kuroko, tetapi ia harus bisa mengesampingkan masalah pribadinya.

Mengalihkan pandang dari Aomine dan Kise yang kini berdebat, Momoi mencoba memandang Kuroko.

"Iya, Tetsu-kun. Di pulau itu masyarakatnya masih tradisional. Menyenangkan sekali bisa memiliki pengalaman mengajar di sana."

Kuroko tahu bahwa senyum yang kali ini Momoi tunjukan merupakan senyuman asli dari hati wanita berparas manis sekaligus cantik tersebut—tidak seperti senyum sebelumnya yang terlihat jelas dipaksakan. Baru saja topik pembicaraan tersebut hendak dilanjutkan, tiga orang yang belum hadir menunjukan eksistensinya.

Akashi, Midorima, dan Murasakibara. Sama seperti ketiga orang sebelumnya, Momoi melihat banyak yang berubah pada ketiga pria tampan tersebut—baik secara fisik maupun kharisma mereka.

Acara saling sapa kembali dilakukan untuk ke sekian kalinya. Momoi sebagai satu-satunya wanita di sana merasa pangling melihat banyaknya hal yang berubah dari diri teman-teman masa SMP-nya itu.

Drrt.. Drrrt...

Merasa ada getaran dari tas kecil yang dibawanya, Momoi segera memeriksa dan mendapati sebuah panggilan masuk di ponselnya. Ketika mendapati sebuah nama yang tertera di layar, lengkungan senyum kembali menghiasi parasnya meski sebelumnya ia sudah banyak tersenyum sejak datang di reuni sederhana ini.

Menyentuh ikon berwarna hijau, Momoi menyelipkan ponsel diantara telinga dan rambut sewarna sakuranya.

"Moshi moshi?"

Perkataannya itu menarik beberapa atensi seperti Kise, Midorima, dan Akashi—kebetulan ketiganya yang berada didekat Momoi—karena intonasi yang digunakan wanita itu kelewat riang.

"—oke kalau begitu, langsung keluar saja ya. Hum hum, wakatta. Hai, mattemasu."

Pip.

Usai memutuskan panggilan, manik merah muda dihadapkan dengan tiga pasang manik lainnya berwarna merah, kuning, dan hijau seperti pelangi—yang mengingatkan Momoi pada sosok 'tamu' reuni ini.

"Ah," Momoi merasa canggung karena ditatapi seperti itu. Apa tindakannya barusan sebegitu menarik perhatian kah?

"Minna, sebenarnya kita memiliki seseorang yang menjadi tamu spesial hari ini."

Netra merah muda menatap satu per satu manik berbeda warna enam pria dihadapannya. Untuk kesekian kalinya, senyuman manis pun menghiasi wajah Momoi ketika menyampaikan hal tersebut.

"Eh? Tamu spesial ssu?"

Kise mengernyitkan keningnya.

"Siapa yang akan datang, Momoi?"

Mewakili pertanyaan kelima orang sisanya, Akashi mengajukan diri untuk bertanya. Akan tetapi ketika Momoi membalasnya dengan kekehan pelan, mau tak mau mereka benar-benar clueless pada sosok yang akan bergabung dengan reuni.

"Haaai~ Seseorang yang ada di sana bisa ke sini sekaraaang~!" teriak Momoi. Tangannya dilambaikan pada sosok yang berjalan mendekati perkumpulan Kiseki no Sedai dari arah belakang.

Ketika jarak antara pria tersebut serta perkumpulan Kiseki no Sedai plus Momoi berjarak sekitar satu meter, sang tamu spesial acara reuni tersebut mengangkat tangannya.

"Yo, bocah pelangi. Sepertinya kalian sudah tumbuh ya."

Jeda selama beberapa detik. Mungkin melihat sosok kapten sebelum Akashi di Teikou itu kembali merupakan hal yang tidak pernah mereka duga. Karena yaa dalam pemikiran mereka semua, eksistensi seorang Nijimura Shuuzou berada di Los Angeles, bukan di Jepang.

"Nijimura-san.."

"Nijimura-senpai.."

"Kapteeen!"

Kise berlari dan hendak menerjang Nijimura yang muncul dengan santainya. Sayangnya, sebelum ia berhasil menubrukan diri pada sosok yang satu tahun lebih tua darinya itu, Nijimura menggeser posisi. Ia tidak mungkin membiarkan seorang pria—sekalipun itu mantan kouhai-nya—berlari dan menerjang dirinya di tengah taman seperti ini.

"Kise, ingat umurmu!" komentar Nijimura setelah menghindar. "Dan sebenarnya aku ingin bilang sejak bertemu dengan Momoi lagi, kalian bisa berhenti memanggilku 'Kapten'. Itu sudah berlalu."

Kerlingan ditujukan ke sosok Momoi yang berdiri paling jauh dari dirinya.

"Maa, tapi aku sudah terbiasa memanggil seperti itu." respon Momoi.

Pemuda dengan surai paling gelap diantara kumpulan warna-warni pelangi itu menghela napas. Mungkin ia bisa membiarkan Momoi tetap memanggilnya seperti itu sebagai perlakuan khusus kepada mantan kouhai yang paling waras diantara kouhai lainnya yang memiliki sering membuat masalah—Akashi adalah pengecualian di sini.

"Nijimura-san," panggil Akashi. Ia mengulurkan tangannya. "Lama tidak berjumpa. Senang melihat Nijimura-san di Jepang lagi."

"Oh, Akashi." Uluran tangan dibalas dan keduanya berjabat tangan. "Ya, senang juga bisa melihat kalian lagi."

Tema reuni pun berubah yang awalnya adalah reuni dengan teman-teman sebaya menjadi reuni antara senpai dan kouhai. Momoi berjalan menjauh dari perkumpulan warna-warni yang melepas rindu pada satu-satunya kakak kelas yang berhasil mengurus mereka berenam di waktu yang bersamaan. Ia duduk di bangku taman yang berjarak tidak begitu jauh dan mengulum senyum tipis.

'Reuni berjalan dengan lancar sepertinya..' batin Momoi. Tangannya mengeluarkan ponsel flip miliknya dan membuka aplikasi kamera. Ia hendak merekam momen pertemuan ini secara diam-diam—sebagai kenang-kenangan pribadi. Ia tidak tahu lagi bukan, kapan reuni seperti ini bisa kembali dilakukan.

Sebelum menekan tombol shutter untuk mengambil gambar, ia menghitung jumlah orang yang tertangkap oleh lensa kameranya.

Satu.. dua.. tiga.. empat.. lima.. enam.

"Eh? Kok hanya enam orang?" gumam Momoi bingung. Ia kembali menilik warna-warna yang ada.

Merah.. Hijau.. Hitam.. Kuning.. Biru tua.. Ungu...

Warna biru muda yang sejak dulu selalu bisa menenangkan dirinya menghilang. Pupil mata Momoi melebar. Tanpa disadari, ia telah menahan napas usai mengetahui bahwa warna yang menghilang adalah biru muda.

"Momoi-san?"

Momoi menolehkan wajahnya dan mendapati sosok Kuroko Tetsuya—hatsukoi sepihaknya—berdiri tak jauh dari dirinya.

"Tetsu-kun.."

Sakura bertemu dengan langit musim semi. Di antara gemuruh detak jantung yang tak normal, Momoi kembali mendengar suara yang ia rindukan.

"—bisa kita bicara sebentar?"

.

.

to be continued

.

.

Terima kasih kepada para pembaca Resolution, terima kasih juga kepada yang sudah berkenan meninggalkan jejak. Senang rasanya bisa berkontribusi dalam kapal minor ini ( ^-^)/

[[balasan review]]

Guest: yoroshiku ne~ terima kasih sudah mampir di sini.. ditunggu juga ya nijimomo versi guest-san XD maaf kalau belum ada hint nijimomo-nya. Kapal ini memang sepi, tapi saya bahagia bisa jadi penumpangnya (meski telat). Tetap dukung Resolution ya~ ( ^-^)

Kim HyeNi: tak OS, daarin.. soalnya yaaa dapet idenya panjang~ makasih ya udah mau mampir~ XD

nyan: nih ya udah apdet, aku gak tega biarin kamu maso. Jangan salahin aku kalau kamu ikut ngeship ini. Mereka emang manis kok XD bukan modus itu.. ampun kamu jangan salah paham sama niatnya Momoi. Soal kekasih Kuroko mungkin tidak akan sesuai dugaanmu *ketawa jahat*

Terima kasih juga kepada: Asahina Yuuhi, Myosotis sylvatica, Rusa Aneh, dan sweetalien.

Little Snowdrop pamit undur diri, sampai bertemu di chapter berikutnya~

.

.

Little Snowdrop

21/03/2016