My Heart
Disclaimer by Masashi Kishimoto
Story by Nia Umezawa
Selamat membaca semuanya! Maaf jika terdapat typo(s), gaje, abal, jelek, garing dan lain sebagainya. Harap maklum ya!
Silahkan membaca semuanya! Aku harap kalian suka.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Sedang apa kau di situ?"
Deg!
Sakura membeku di tempat. Jantungnya seakan jatuh dari tempatnya ketika mendengar suara itu, suara yang sangat ia kenal. Ia menelan ludahnya dengan bersusah payah, dan memejamkan matanya erat-erat sebelum ia membukanya kembali dan menatap pemuda itu.
"H-hai, S-sasuke." Sapa Sakura sambil senyum paksa dengan tergagap. "S-sejak kapan k-kau ada di situ?"
Sasuke menatap datar kearah gadis berambut merah muda panjang itu. Ia melihat apa yang berada di tangan gadis itu. "Hn. apa yang kau bawa itu?" Tanyanya.
Sakura menunjuk ke surat berwarna merah di tangannya itu. "I-ini... aku ingin melihatnya saja. A-aku lihat di lokermu banyak sekali surat, maka dari itu aku ingin membacanya karena penasaran." Jawab Sakura sekenanya.
"Hn? Jadi... kau juga yang selama ini mengirim surat itu ke dalam lokerku, eh?" Sakura mematung mendengar ucapan Sasuke. sasuke menyeringai sambil memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya. "Tak ku sangka, ya. Ternyata seorang Haruno Sakura mengirim sebuah surat secara diam-diam seperti ini,"
Sakura merasakan bahwa wajahnya memerah. Buru-buru ia menggeleng dan meletakkan kembali surat yang ia pegang tadi ke loker Sasuke dan menutupnya dengan buru-buru. "T-tidak, aku tidak seperti itu! Untuk apa aku melakukan hal bodoh seperti itu. Lagipula, kenapa kau percaya diri sekali?"
Sasuke mengangkat bahunya acuh. "Lalu..."
"A-apa?"
"Kenapa surat itu ada di tanganmu?"
"Aku sudah bilang sebelumnya padamu, Sasuke! aku hanya penasaran dengan isi lokermu, dan aku hanya penasaran dengan isi surat yang tak henti-hentinya mengisi sebagian dari lokermu! Kebetulan aku mengambilnya, dan... dan... a-aku... mmm..." Sakura nampak kebingungan dengan apa yang hendak ia ucapkan selanjutnya. Hal itu membuat Sasuke melebarnkan seringaiannya.
"Aku apa, hm?"
Sakura menatap sebal kearah Sasuke. "Kau memang menyebalkan, ya! Dasar pantat ayam!" Sakura membalikkan badannya dan berjalan menjauhi Sasuke dengan terburu-buru. Ia tidak mau Sasuke tau rona merah di wajahnya itu.
"Aku percaya," Sakura berhenti ketika mendengar ucapan Sasuke. "Terimakasih, ya, bekal makanannya, Pinky." Dan Sakura yakin, bahwa wajahnya kini berubah semerah tomat. Padahal, ia ingin mengatakan bahwa Mikoto menitipkan itu padanya. Namun entah mengapa, kakinya malah bergerak untuk berlari pergi.
'Dasar ayam itu! Shaannaroo!'
Sedangkan Sasuke menyeringai melihat Sakura dari belakang. Ia menatap bekal makanan yang diberikan Sakura lalu ia mengambilnya dan membukanya. Ternyata isinya nasi goreng yang hampir sebagian berisi tomat, seperti kesukaannya.
.
.
.
.
.
.
.
Sakura menatap Hinata dengan bingung ketika kotak bekal makanan yang Hinata bawa sama sekali tidak ia sentuh. "Hinata, kenapa bekal makananmu tidak kau makan? Tidak lapar, ya?"
Hinata menatap Sakura. "Tidak kok, S-sakura-chan."
"Lalu kenapa tidak kau makan dari tadi? Lihatlah, bekal makananku sebentar lagi akan segera habis," Sahut Ino.
"Bagaimana tidak akan segera habis jika kau makan sebanyak itu sangat rakus, Pig." Cibir Sakura sambil melahap salad.
Ino mendelik kearah Sakura. "Ini tidak banyak, kok. Hanya sedikit. Aku juga memakannya dengan pelan-pelan," Bantah Ino.
Hinata sedikit tersenyum melihat Ino dan Sakura kembali berdebat. "A-aku sudah merasa kenyang. S-sebenarnya, ini khusus aku buatkan untuk N-naruto-kun." kata Hinata.
"Eh?"
"I-iya. Tadinya aku ingin memberikannya, tapi aku melihat N-naruto-kun bersama dengan Sasuke-san, Shikamaru-san dan Sai-san sedang membicarakan sesuatu di halaman belakang. Aku tidak mau mengganggu mereka,"
Sakura dan Ino mengangguk. "Kurasa sebaiknya kau berikan bekal itu padanya secepatnya, Hinata. Kau tau, semenjak Naruto mengharumkan nama sekolah dengan memasukkan bola di menit terakhir waktu pertandingan basket melawan Oto kemarin, dia menjadi sangat terkenal. Semacam artis mendadak." Kata Sakura. Hinata diam dan nampak memikirkan perkataan Sakura.
"Benar, seperti apa yang dilakukan oleh Sakura tadi." Celetuk Ino. Sakura menatap kaget kerah Ino. "Apa? Kau pikir aku tidak tau aksimu memberikan bekal makanan kepada Sasuke-kun?" Lanjut Ino. Sakura mendengus.
"Ba-baiklah, aku akan memberikannya kepada Naruto-kun sekarang. Sebelum bel masuk berbunyi," Hinata berdiri dan berpamitan untuk memberikan bekalnya untuk Naruto. Sayup-sayup ia mendengar Ino menggoda Sakura. Ia tersenyum sambil menoleh. Ia bersyukur memiliki sahabat seperti mereka.
Hinata berjalan menuju halaman belakang sekolah. Di sana masih ada Naruto, Sasuke, Shikamaru dan Sai. Ia memegang erat kotak bekalnya dan mengambil nafas dalam-dalam, lalu melangkah menuju mereka bertiga.
.
.
.
.
.
.
.
"Haaahh... rasanya aku tidak ingin menjadi terkenal seperti ini. Aku bosan dan lelah jika aku harus dikejar-kejar para siswi!" Gerutu Naruto.
"Itu akibatnya jika kau telah menjadi terkenal." Kata Sai sambil memasang senyumannya.
"Bukankah kau yang menginginkan hal itu, Naruto?" Kata Shikamaru. "Dulu kau bilang jika kau ingin menjadi terkenal dan mengalahkan Sasuke. Kau sudah terkenal sekarang,"
Naruto tersenyum lebar. "Benar! Aku sekarang telah menjadi terkenal seperti Sasuke-teme sekarang. Tapi... rasanya lelah juga," Sesal Naruto di akhir kalimatnya.
Sasuke mendengus. "Hn. Itu karma untukmu, Dobe. Dulu kau sering meledekku, sekarang rasakan itu." Ledek Sasuke.
"Ya, aku juga sedikit menyesal karena telah meledekmu, Teme."
"Tapi... bukankah enak menjadi terkenal seperti ini?"
Naruto menoleh kearah Sai. "Apa maksudmu, Sai?"
Sai menoleh kearah Naruto sambil tersenyum seperti biasa. "Terkadang menjadi terkenal itu menyenangkan. Banyak orang yang memperhatikanmu, dan peduli padamu. Contohnya, kau tidak perlu repot-repot membawa makanan sendiri atau mengeluarkan uang untuk makan. Mereka dengan sendirinya memberikanmu bekal," Jelas Sai. Naruto mengangguk dan kembali mengingat ketika hampir setiap hari ada seorang siswi yang memberikannya bekal.
"Benar juga, ya. Bicara soal bekal... aku jadi lapar,"
"S-sasuke-senpai," Sasuke yang menoleh ke sampingnya. "Ini. aku membuatkannya untukmu, terimalah." Sasuke menatap bekal yang diberika siswi itu dengan datar. Tak lama kemudian iamenerimanya, dan gadis itu langsung berbalik dan berlari sambil memekik girang kearah teman-temannya yang bersembunyi di balik tembok.
"Ini tidak adil, ttebayo! Aku yang merasa lapar, kenapa Teme yang mendapatkan bekal makanannya? Hei, Teme. Bukankah kau bilang jika Sakura-chan memberikanmu-"
"Hn, ini. Ambillah jika kau mau. Aku tidak lapar," Potong Sasuke sambil menyerahkan bekal makanan tadi.
Naruto tersenyum senang. "Terimakasih, Teme! kau memang sahabat terbaikku!" Ketika Naruto hendak menerimanya, seseorang memanggilnya.
"N-naruto-kun..."
Semua menoleh kearah yang sama, dimana seorang gadis yang nampak malu-malu memberikan sebuah bekal makanan yang di dorong oleh dua temannya untuk memberikan bekal itu kepada Naruto.
"I-ini!" Gadis itu memberikan bekal makanannya dengan membungkuk. "A-aku memberikannya untukmu, N-naruto-kun. aku yang telah membuatkannya khusus untukmu!"
kata gadis itu dengan cepat.
Naruto menerimanya dengan senyuman yang mengembang di wajahnya. "Terimakasih, ya! Lain kali kau tidak usah repot-repot membawanya untukku. Apa kau juga sudah makan?"
Gadis itu menunduk malu. "S-sudah. Aku membuat itu khusus untukmu,"
"Kalau begitu, terimakasih banyak ya! Kelihatannya ini enak!" gadis itu mengangguk dengan cepat lalu berlari kearah temannya dengan senang. "Hei, lihatlah! Aku mendapat bagianku sendiri! Sudahlah, Teme. Itu untukmu saja, atau berikan kepada yang lain. Aku mendapatkan bagianku yang sepertinya tidak kalah enak denganmu!" Kata Naruto semangat dan menolak pemberian dari Sasuke.
Semua yang berada di sana sweatdrop seketika.
"Hoamm... kau ini Naruto, memalukan saja." Kata Shikamaru. Matanya menyipit ketika melihat siluet yang sepertinya ia kenal. "Bukankah itu Hinata, ya?" Semua menatap kearah yang ditunjukkan oleh Shikamaru. "Kenapa dia berbalik lagi?"
.
.
.
.
.
.
.
Pelajaran hampir dimulai, dan Hinata belum juga kembali sejak berpamitan ingin memberikan kotak bekal makanannya kepada Naruto tadi. Sedangkan Naruto sendiri sudah berada di kelas bersama dengan yang lainnya. Hal itu membuat Sakura dan Ino khawatir kepada Hinata.
Sakura kemudian berjalan menuju bangku Naruto. "Naruto, apa kau tau dimana Hinata?" Tanya Sakura.
Naruto menoleh dan menggeleng. "Tidak, Sakura-chan. Memangnya kemana Hinata-chan? Apa kau tidak bersama dengannya waktu istirahat tadi?"
"Jadi... Hinata tidak memberikannya kepadamu tadi?" Naruto menatap bingung kearah Sakura.
"Memangnya apa yang akan Hinata-chan berikan padaku? Ulang tahunku juga masih lama," Kata Naruto polos. Sakura mengerutkan alisnya mendengar perkataan Naruto. Sakura berpikir jika Hinata tidak memberikan bekalnya kepada Naruto karena Naruto sendiri tidak tau. Lalu kemana sahabat indigonya itu?
"Sakura-chan? Ada apa kau bertanya seperti itu?" Tanya Naruto dan membuat Sakura kembali tersadar.
Sakura mengerjap kaget. Ia kemudian menggeleng. "Tidak ada apa-apa, kok. Aku hanya ingin bertanya saja, karena sampai sekarang Hinata belum juga kembali kedalam kelas."
Naruto mengangguk namun sedetik kemudian ia ingat sesuatu. "Ah! Tadi Shikamaru sempat melihat bayangan Hinata-chan sedang berbalik kembali. Katanya setelah melihatku menerima bekal makanan dari adik kelas, Sakura-chan. Aku sendiri tidak tau kenapa Hinata-chan berbalik kembali." Kata Naruto sambil menggaruk kepalanya bingung.
Sakura paham sekarang. Ia kemudian berterimakasih kepada Naruto dan buru-buru kembali ketempatnya ketika matanya tak sengaja menangkap pemilik sepasang onyx sedang menatapnya sambil menyeringai.
"Forehead, bagaimana? Apa dia tau dimana Hinata?" Tanya Ino.
Sakura menggeleng pelan. "Tidak. Dia sama sekali tidak tau." Ino menyerngitkan dahinya.
"Lho? Tapi-"
"Nah, itu Hinata-chan!" Kata Naruto sambil menunjuk kearah pintu. Gara-gara Naruto, semua menatap Hinata yang baru saja memasuki pintu kelas dan menjadi pusat perhatian. "Hinata-chan, darimana saja? Kenapa baru datang? Untung saja Kurenai-sensei belum datang,"
Pipi Hinata bersemu merah mendengar ucapan Naruto. "A-aku m-merasa tidak enak badan, j-jadi aku k-ke UKS. M-maaf membuatmu khawatir, N-naruto-kun." jawab Hinata dengan terbata dengan senyum samar yang tercetak di wajah cantiknya.
"Oh. Tadi Sakura-chan mencarimu, makanya aku bertanya kepadamu."
Perlahan senyum samar Hinata hilang. Ia langsung berjalan dengan tertunduk ke kursinya dan duduk di sana. Sakura merutuki sifat polos dan bodoh Naruto yang tidak pernah peka. Ingin rasanya Sakura berteriak kencang di depan wajah Naruto.
"Ppsstt... apa Hinata memberikan bento nya, Sakura?" Bisik Ino. Sakura menggeleng. "Lalu kenapa ia terlihat tidak membawa apa-apa? Dimana kotak bekalnya?" Sakura baru sadar jika Hinata kembali dengan tangan kosong berkat ucapan Ino. Naruto bilang jika ia tidak menerima apapun dari Hinata tadi, yang berarti Hinata tidak memberikan bekalnya kepada Naruto. Seharusnya Hinata membawa kembali kotak bekal makanannya kembali, 'kan?
Sakura memilih untuk mengangkat bahunya ketika Kurenai mulai memasuki kelas. Mungkin saja kotak bekal Hinata diberikan kepada Neji atau tertinggal di UKS saat Hinata berada di sana tadi.
.
.
.
.
.
.
.
Hinata berjalan dengan pelan dan menunduk sambil menenteng tasnya. Entah apa yang sedang dipikirkan olehnya saat ini. Yang jelas, sejak tadi Hinata selalu saja diam sambil menunduk.
"Hinata?"
Hinata mendongak dan melihat Tenten sedang berjalan berlawanan arah dengannya. Kemudian Tenten berjalan sedikit tergesa kearahnya.
"Kenapa sendirian? Di mana Sakura dan Ino?" Tanyanya heran. Biasanya Sakura dan Ino selalu bersama dengan Hinata.
"M-mereka sedang ada rapat OSIS, T-tenten-chan." Jawab Hinata.
Tenten mengangguk. Tenten adalah teman Hinata, Sakura juga Ino. Mereka terpisah kelas sejak memasuki kelas XI. Hinata, Sakura dan Ino berada di kelas IX-A IPA, sedangkan Tenten berada di kelas IX-B IPA. Tapi mereka berempat masih behubungan dengan baik.
"Apa kau ingin pulang sendirian?"
Hinata menggeleng. "Tidak, a-aku akan menunggu Neji-nii . Kami akan pulang bersama." Jawab Hinata.
Tenten menghela nafasnya. "Berarti kau harus menunggu sedikit lama, Hinata." kata Tenten.
"M-menunggu sedikit lama? K-kenapa?"
"Neji sedang ada rapat dengan klub judo. Rapatnya baru saja dimulai tiga puluh menit yang lalu." Jawab Tenten. Hinata mendesah. Padahal ia ingin cepat-cepat pulang dan tidur. Ia lelah hari ini. "Kau ingin cepat-cepat pulang, ya?"
"Iya. Aku lelah sekali, Tenten-chan." Jawab Hinata pelan.
"Kenapa tidak menggunakan kendaraan umum saja jika kau ingin cepat-cepat pulang?" Tanya Tenten.
Hinata menggeleng. "Tidak, Tenten-chan. A-aku tidak terbiasa pulang sendiri menggunakan k-kendaraan umum. B-biasanya ji-jika naik kendaraan u-umum, aku selalu bersama d-dengan S-sakura-chan dan Ino-chan."
Tenten mengangguk. "Jadi... kau mau menunggu Neji sampai selesai, ya?"
"Hu'um. Ti-tidak ada pilihan lain, T-tenten-chan."
Tenten menepuk bahu Hinata pelan. "Kalau begitu, hati-hati ya. Atau kau ingin pulang bersamaku?" Tawar Tenten.
Hinata menggeleng. "Tidak usah, Tenten-chan. Rumah kita kan, berlawanan arah."
Tenten meringis ketika baru ingat jika rumah mereka memang berlawanan arah. "Kalau begitu, hati-hati ya! Aku pamit, Hinata."
"I-iya. K-kau juga hati-hati."
"Ya. Jaa!"
"Jaa!"
Hinata menghela nafasnya. Ia kembali berjalan pelan menuju parkiran sekolah. Tidak masalah jika ia harus menunggu Neji sedikit lebih lama.
Tiba-tiba saja pikiran Hinata kembali melayang di mana saat dirinya hendak menuju UKS. Saat itu ia tidak sengaja menabrak seseorang. Ia jadi kembali teringat orang tersebut.
Flashback
Hinata berjalan dengan gontai dan lesu menuju ruang UKS, tiba-tiba tubunya lemas dan pusing. Ia menatap nanar kearah kotak bekal makanan yang hendak diberikannya kepada Naruto, namun ia terlambat. Naruto sudah menerima bekal dari siswi lain dan nampaknya Naruto juga senang. Padahal, ia sudah susah payah membuatkan bekal makanan untuk Naruto.
Karena berjalan sambil menunduk, Hinata tidak tau jika ada seseorang di depannya. Alhasil Hinata menabrak orang tersebut dan bekal makanannya terjatuh dan beberapa map yang dibawa orang tersebut jatuh. Hinata merasa de javu dengan hal ini.
"A-ah! M-maafkan aku." Ucap Hinata sambil mengambil kotak makannya dan juga map-map yang tercecer.
"Tidak apa-apa, kok. Aku juga minta maaf karena tidak melihat saat berjalan." Ucap orang tersebut.
"I-iya."
Hinata dan orang tersebut diam selama mengambil map-map yang tercecer. Mata Hinata tak sengaja membaca tulisan di map tersebut. "A-apa anda murid baru?" tanya Hinata.
Orang itu menatap Hinata sejenak, kemudian ia tersenyum. "Ya begitulah. Aku baru pindah ke sini." Jawab orang tersebut. Hinata mengangguk dan kembali diam.
"I-ini,"
Orang itu menerima map yang diberikan Hinata sambil tersenyum. "Terimakasih. Dan maaf soal menabrakmu hingga kotak makananmu terjatuh," Kata orang tersebut.
"Tidak apa-apa. M-makannya masih bagus, hanya terjatuh saja." Jawab Hinata. "Lagipula aku yang salah."
Orang itu mengangguk. "Baiklah. Mmm... apa aku boleh meminta bantuanmu?"
"Ba-bantuan apa?"
"Aku tidak tau di mana letak ruang kepala sekolah. Apa kau mau mengantarku ke sana?" Tanya orang tersebut. Hinata nampak berpikir sejenak. Bukannya Hinata tidak mau, tapi ini sudah mendekati jam pelajaran ketiga. Ruangan kepala sekolah juga sedikit jauh dari sini.
Melihat Hinata terdiam orang itu tersenyum maklum. "Tak apa jika kau tidak mau. Mungkin aku bisa kesana sendiri,"
Hinata menggeleng. "Baiklah, akan a-aku antarkan. Ka-kau bisa tersesat jika ke sana sendirian." Kata Hinata.
Orang itu tertawa sebentar. "Kau ini ada-ada saja. Terimakasih, ya. Maaf merepotkanmu Hyuuga-san." Ucap orang tersebut sambil membaca nametag Hinata.
Hinata mengangguk. "Tak apa. Ayo,"
Selama diperjalanan, mereka berdua saling terdiam. Tak ada yang ingin membukan suara. Sampai orang tersebut membuka suaranya.
"Maaf, Hyuuga-san. Kenapa menatap kotak makanan itu terus? Kulihat makanannya masih utuh. Apa kau tidak memakannya?" Tanya orang tersebut.
Hinata menoleh kearahnya. "Ini m-memang bukan untukku. A-aku m-membuatnya untuk se-seorang," Jawab Hinata sambil menerawang. "Tapi... dia sudah menerima bekal dari yang lain." Bisik Hinata.
"Hm?"
"S-sudahlah. Oh ya, ruangan kepala sekolahnya sudah hampir dekat." Kata Hinata mencoba mengalihkan pembicaraan.
Tiba-tiba saja hal memalukan terjadi. Perut orang itu berbunyi dan mengagetkan mereka berdua. Hinata menoleh kearah orang itu, sedangkan orang itu memalingkan wajahnya karena malu.
Hinata terkekeh geli. "A-apa kau lapar?" Tanya Hinata sambil terkekeh. Orang itu tidak menjawabnya. Ia hanya mengelus leher belakangnya dengan kikuk. Hinata kemudian menyodorkan bekalnya.
"I-ini. Ambillah,"
Orang itu menoleh dan menatap bingung. "Tidak usah repot-repot, Hyuuga-san. Itu kan untuk seseorang. Lagipula aku bisa makan nanti," Tolak orang itu.
Hinata tersenyum sambil terkekeh. "Tidak apa-apa, kok. A-ambil saja. Ba-bagaimana jika p-perutmu k-kembali berbunyi saat di de-depan kepala sekolah?" Canda Hinata.
Wajah orang itu kembali memerah. "B-baiklah. Terimakasih, Hyuuga-san." Ucap orang itu sambil menerima bekal dari Hinata.
Hinata mengangguk. "Nah, itu r-ruangannya." Tunjuk Hinata pada sebuah ruangan berpintu putih bertuliskan 'Ruang Kepala Sekolah'.
"Kalau begitu, terimakasih ya. Maaf merepotkanmu." Ucap orang itu.
"I-iya. Tidak apa-apa. K-kalau begitu, a-aku pamit. Yoroshiku," Setelah mengucapkan itu, Hinata berbalik berjalan menuju UKS.
Flashback end
Sayangnya, Hinata lupa nama orang itu.
"Hinata-chan!" Panggil Naruto dari belakang. Hinata menoleh dan mendapati Naruto sedang berlari kearahnya.
"N-naruto -kun?"
"Hinata-chan! Kau mau pulang?" Tanya Naruto.
Hinata mengangguk. "I-iya."
"Lho? Biasanya kau pulang bersama Sakura-chan dan Ino, kan? Di mana mereka?" Tanya Naruto sambil celingukan mencari Sakura dan Ino.
"Me-mereka sedang a-ada rapat, N-naruto-kun ." jawab Hinata.
Naruto mengangguk. "Jadi... kau pulang bersama siapa?"
"A-aku akan pu-pulang bersama dengan Neji-nii."
"Bukankah hari ini klub judo juga mengadakan rapat, ya?" Kata Naruto.
"I-iya, aku akan menunggunya di parkiran."
Naruto kembali mengangguk. "Apa kau mau pulang bersama denganku, Hinata-chan? Aku juga pulang sendirian." Tawar Naruto.
Wajah Hinata memerah. Mendadak Hinata menjadi gugup. "A-aa... i-itu... a-ano... apa kau tidak pulang bersama d-dengan S-sasuke-san?"
Naruto mendengus kesal. "Sasuke-teme itu seenaknya menghilang di depanku. Sudah kucari kemana-mana tidak ada! Katanya dia mau pulang bersamaku, tapi malah menghilang. Dasar baka Teme!" Gerutu Naruto kesal. Hinata tersenyum geli mendengar gerutuan Naruto.
"Jadi bagaimana, Hinata-chan? Apa kau mau pulang bersama denganku?" Tanya Naruto.
Hinata tersentak. Wajahnya bertambah merah. "Aa... ta-tapi... a-aku... err... bagaimana de-dengan Neji-nii? A-aku sudah bilang jika aku akan pulang bersamanya,"
Naruto mengibaskan tangannya di depan wajahnya. "Biarkan saja dia. Daripada kau lelah menunggunya di sini, lebih baik kau pulang saja bersamaku." Kata Naruto. "Bagaimana? Pulang bersama denganku, ya?"
Hinata merasa dirinya akan pingsan karena 'paksaan' Naruto.
BRUK
"Lho? Hinata-chan?" Naruto bingung melihat Hinata yang tiba-tiba saja pingsan. Ia mengguncang-guncangkan tubuh Hinata, berharap gadis indigo itu membuka matanya.
"Hei, kau kenapa, Hinata-chan? Ayo bangun, jangan membuatku panik seperti ini. Hei!" Naruto mengguncang-guncangkan tubuh Hinata. Ia heran melihat wajah Hinata yang memerah dan badannya yang sedikit panas.
"Na-ru-to..." Tubuh Naruto menegang ketika mendengar suara berbahaya dari belakangnya. "Apa yang kau lakukan dengan sepupuku, hah?"
GLUK
"N-neji?" Mata Neji menatap tajam kearah Naruto sekolah meminta penjelasan kepada Naruto.
"Apa yang kau lakukan dengan sepupuku, hah? Kenapa dia pingsang?"
'Gawat!'
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Hai hai haiiii... Nia kembali lagi! *huuuuu!* *ditimpuk tomat busuk* Hehehehe... maafnya, baru muncul setelah lama nelantarin Fic gaje ini. Maaf sekali lagi semua, Nia saat itu nggak ada kuota modem *alasan!* beneran! Tapi selama itu aku juga nulis lanjutannya kok. Maaf ya, kalau chapter ini tambah geje sama jelek.
Oh ya, makasih yang udah me-review, membaca, menjadikan fic aneh ini favorit dan nge-follow. Maaf sekali lagi ya, jika Nia mengecewakan. Mungkin juga saya akan update lagi sekitar bulan Mei, soalnya saya sudah mulai sibuk nih. Lagi UAMBN, dilanjutin Ujian Praktek, terus TO II, sama UN nantinya. Mohon doanya ya, supaya cepat-cepat selesai sama mendapat nilai yang memuaskan. Amiiin...
sq : makasih udah review ya. Gimana? Chapter ini udah pajang belum? Hehehe... soalnya udah mentok di sini :D *plaakk*
Rinda Kuchiki : ini udah di pairing, Rinda-san. maaf ya, yang kemarin belum di pairing. Soalnya lupa, hehehe...
Sasuhina69 : Ini sudah di pairing, Sasuhina-san. Maaf ya, yang kemarin belum di pairing. Soalnya lupa, hehehe...
onyx dark blue : Ini sudah di pairing, onyx-san. maaf yang kemarin belum di pairing. Soalnya lupa, hehehe...
Harumi Tsubaki : Salam kenal juga, Harumi-san. Hehehe... makasih ya, udah bilang fic nya bagus padahal biasa-biasa aja :D . Saya juga suka lebay kok, tapi sekarang nggak jadi nangis kan? Kan udah di lanjut, :D sebelumnya maaf udah telat ngelanjutin fic ini. Ya... masalah itu lah, hehehe...
Terimakasih yang sudah me-review sama ngasih support nya ya! Semoga terhibur dan nggak ngecewain. Saran dan infonya di tunggu ya. Kalau soal flame sama kritik pedas jangan dulu ya, saya belum siap. Soalnya lagi baper sekarang.
Nia Umezawa, 11 April 2016
