THORN DAISY
Story©Ivyluppin
Warning : Gore, Rape, Yaoi, BL, Dirty talk, M-preg, and many kinda…
Main pair: Krisoo & Kaisoo.
Hint everyoneXKyungsoo for slight!
.
.
Bab 2
.
.
Lebih banyak waktu…
Ada harapan dalam diri Kyungsoo bahwa ia memiliki lebih banyak waktu untuk berada di Seoul, lebih banyak harapan untuk pembatalan kesepakatan. Meski dirinya sendiri mengatakan 'iya' untuk menjadi pertukaran damai namun ia tetap saja tidak bisa menerima sepenuhnya.
Terkadang ia berpikir seperti ini 'aku mengorbankan diriku dan orang lain akan bahagia, tapi setelahnya apakah akan ada seseorang yang memikirkan tentang kebahagiaanku?' atau seperti ini 'aku berjuang menjadi hunter untuk kebebasan rasku, tapi saat kebebasan itu ada di hadapanku. Aku takut, karena kebebasan itu bukan untukku juga.'
Bagi Kyungsoo, ia lebih berharap mati di medan perang dibandingkan menjadi tawanan. Pikiran dan spekulasinya mengatakan, menjadi tawanan artinya seperti hewan ternak yang dikuliti. Kyungsoo membayangkan bahwa para vampire akan membuatnya tampak sebagai pecundang. Dan lebih dari itu Kyungsoo tak dapat membayangkan.
"Hah..hah..haah.."
Deru nafas dan tetes keringat menggema di aula. Kibasan pedang perak dan keletihan bercampur menjadi satu.
"Syaratnya adalah kau, Kyungsoo. Wu Yifan memintamu sebagai syarat."
Suara itu lagi, ingatan mengenai kata-kata Daesung bergema di kepalanya. Kyungsoo mengeratkan genggaman tangannya pada pedang da menypitkan matanya. Benci pada ingatan yang sama.
"Cih.." ia berdecak
Syaatttt
Kibasan pedangnya semakin keras. Lantai kayu itu telah basah dengan tetesan keringat miliknya.
"Lihat saja. Sekali aku melihatnya, Wu Yifan akan langsung kutebas." Ujarnya dengan suara menggerutu.
Suara langkah kaki terdengar dari pintu. Kyungsoo menghentikan latihannya dan melihat ke asal suara. Changmin berdiri di sana dengan senyumannya.
"Sudah selesai?" tanya Changmin.
"Ada apa?" Kyungsoo menyisir rambutnya ke belakang.
"Bisa temani aku ke Shindong?"
"Pedangmu tumpul lagi?"
"Tidak, aku baru saja membuat yang baru sejak sebulan yang lalu dan hari ini Shindong telah menyelesaikan bagian finishingnya. Pedang baruku selesai hari ini."
Kyungsoo menyarungkan pedangnya dan tersenyum "Wah, itu bagus. Bertarunglah denganku setelah ini."
Meletakkan pedang di atas penyangga kayu. Kyungsoo melihat Changmin yang menunggu di ambang pintu dengan sekotak korek api di tangannya.
"Jadi, apa setelah pergaulanmu dengan Taeyang dan hunter selatan kau memutuskan menjadi perokok?" Kyungsoo bertanya dengan nada meremehkan sambil berjalan dan membasuh keringat di dahi dan lehernya.
"Haha…yang benar saja, korek ini untuk Shindong." Senyum itu, Changmin tersenyum di antara cahaya senja yang keemasan. Membuat Kyungsoo berhenti melangkah dan tercenung.
'Sialan' Kyungsoo melemparkan handuk kecilnya pada wajah Changmin menutupi rasa canggung dalam dirinya sendiri sedangkan Changmin justru terkekeh.
"Aromamu seperti bayi saja, kau berkeringat seperti balita kecil adikku sayang." Ujar Changmin sambil mengacak rambut Kyungsoo.
Dengan kesal Kyungsoo menyingkirkan tangan Changmin dari rambutnya, kesal karena panggilan Changmin untuknya seolah dia adalah bayi kecil atau sesuatu yang menggambarkan dia orang yang lemah. Tapi yang lebih membuat Kyungsoo kesal adalah panggilan adik yang dilemparkan Changmin untuknya. Entah mengapa dia sedikit kecewa. Tidak bisakah lebih dari itu?
.
.
.
"Waah! Lihat ini, kau membuatnya dengan begitu baik Shindong." Pekik Kyungsoo dengan mata berbinar saat seorang laki-laki paruh baya memperlihatkan pada mereka pedang perak dengan ukiran naga sepanjang pedang itu, seperti ada naga yang merayap di antara perak murni tersebut.
"Ini lebih dari sebuah empati, Changmin..kupikir aku harus membuat yang terbaik untuk hunter terhebat kota ini." ujar Shindong.
"Yah! Kau seharusnya juga membantuku membuat pedang baru. Bagaimana pun juga aku adalah hunter terhebat setelah Changmin-hyung." Ujar Kyungsoo tak terima. Wajahnya langsung memerah menahan kesal.
"Lihat siapa yang sedang marah, uri little daisy hahaha…" tawa Shindong yang menggelegar membuat Kyungsoo mengeratkan kepalan tangannya.
Di samping kanannya Changmin melihat kekesalan tumbuh lebih cepat pada diri Kyungsoo langsung saja berusaha mencairkan suasana tersebut.
"Mungkin kau melupakan sesuatu Shindong ahjusshi. Boleh aku meminta inti perak yang sudah ku tempa menjadi belati waktu itu?" ujar Changmin.
Shindong menghapus air mata di sudut matanya sambil memegangi perutnya yang menjadi kram. Lantas ia masuk ke dalam namun tidak lama kemudian ia keluar membawa sebuah bungkus kecil.
"Nah" katanya "Aku nyaris melupakan ini, kau tahu, ini belati terbaik yang pernah ditempa seseorang. Aku menyelesaikan finishingnya lebih lama dibandingkan belati pada umumnya."
Changmin mengambil bungkusan tersebut dan membukanya di depan Kyungsoo. Dan dengan mata berbinar Kyungsoo memandang belati itu dengan penuh ketakjuban. Indah, tajam, benar-benar memukau.
"Kau boleh memilikinya, aku membuatnya untukmu Kyungsoo."
"Apa?"
"Aku tahu belati pemberian kakek sudah lama tumpul. Kupikir kau butuh yang baru, Soo."
Perlahan ia menyungingkan senyum pada Changmin. Ini sebuah hadiah yang berharga, dan Kyungsoo berjanji akan menjaganya seumur hidup.
.
.
.
Hari nyaris menjelang senja saat Kyungsoo selesai dengan latihan pedangnya di aula bersama Minseok dan seorang hunter baru keponakan Jin Suk Go, pemilik satu-satunya bioskop di kota. Usai menundukkan badan satu sama lain petanda hormat, Minseok mengejar Kyungsoo yang dengan cepat keluar aula.
"Tuan Kyungsoo, kau tahu, nanti malam akan ada pesta di rumah Cheng Hui, anak perempuannya akan menikah lusa. Seseorang harus membantunya mencicipi makanan." Minseok menyenggol bahu Kyungsoo.
"Dan?" Kyungsoo melirik Minseok dari balik bahunya.
"Apalagi? Kita akan kesana untuk pesta. Ayahmu pasti mengijinkan dan kupikir hyungmu akan datang mengingat ini pernikahan teman satu batalion dengannya." ujar Minseok sambil berjalan mundur di depan Kyungsoo.
"Lihat langkahmu, dude. Seseorang akan terganggu dengan cara jalanmu. Berjalanlah yang normal." suaranya kesal, meski bagi Minseok atau semua orang yang mengenal Kyungso, suara Kyungsoo memang seperti itu. Dan sedikit tempramen.
"Yah! Tuan, seharusnya anda menjawab iya atau tida-"
"Berhenti memanggilku tuan, kau membuat telingaku sakit Minseok."
"Tapi memang-"
BRAAKK
"Lihat jalanmu bocah!" bentak seorang pria paruh baya dengan topi dan jenggot tebal yang menutupi seperempat mukanya.
Dan benar saja, seseorang menabrak Minseok saat pemuda itu terus berjalan mundur ke depan. Minseok sudah melemparkan umpatan dan Kyungsoo mengutuk Minseok dengan tawa menggelitik di sekitar perutnya.
"See, seseorang terganggu karena prilakumu." cibir Kyungsoo.
Meski tak mengatakan bahwa ia sebal dengan cibiran Kyungsoo, wajah Minseok tetap saja terbaca.
"Seseorang! Kami butuh bantuan ke penjuru selatan kota." seorang pria berteriak dari ujung gerbang. Langkahnya tertatih karena lelah.
Dengan alis berkerut Kyungsoo memandang laki-laki itu. Namun sekejab saat dia hendak menghampiri dan bertanya perihal 'bantuan ke penjuru selatan kota' suara dalam dari seorang pria terdengar.
"Batalion 3 sudah berangkat dan kau Kyungsoo. Masuk ke dalam. Ayahmu memanggilmu." pria yang merupakan salah satu dati pamannya bernama TOP itu memandang Kyungsoo dengan tenang, ia membenarkan topinya lalu memandang pria malang yang kehabisan separuh nafanya untuk berlari.
"Ada apa di selatan kota?" tanya Kyungsoo curiga.
"Sesuatu yang sama sekali bukan urusanmu, masuklah! Kau membuat ayahmu menunggu, bocah." ujar TOP.
"Oh tidak. Anda harus segera kesana Tuan. Seorang pureblood berada di antara penyerangan ini." ujar pria tadi.
"Penyerangan? TOP kau menyuruhku masuk disaat ada penyerangan di selatan kota? Yang benar saja." Kyungsoo mengeratkan pegangan pada pedangnya dan saat ia mulai berjalan menjauh menuju gerbang, tangannya ditahan.
"Itu bukan urusanmu." ujar TOP dingin.
Kyungsoo menampik tangan TOP "Bertahun-tahun aku berlatih untuk hari ini dan saat aku memiliki kesempatan kau melarangku?"
"Ayahmu-"
"Aku bisa menemuinya nanti."
"Tuan, pureblood itu-."
"Shut yer fuckin' mouth." TOP menyentak pria tersebut.
"Maaf, tapi pureblood itu sangat kuat. Tuan Changmin bahkan kewalahan mengatasinya. Saya hanya diperintahkan untuk mencari bantuan lebih banyak." Ujarnya lagi.
Saat mendengar nama Changmin disebut, Kyungsoo meradang. Kakaknya kewalahan? Dan apa katanya? Seorang pureblood?
Pada umumnya penyerangan yang dilakukan oleh vampire hanya terdiri dari tingkatan Anbruch dan Alter. Pureblood adalah tingkatan tertinggi yang terkesan lebih tertutup, mereka bukan sosok yang suka ikut campur dalam sebuah perkara, mereka lebih suka mengamati dan mengendalikan dari jauh. Jadi saat mendengar ada pureblood yang ikut dalam sebuah penyerangan, ini aneh sekaligus berbahaya.
Perbatasan selatan adalah hutan neraka yang alurnya berakhir di kaki lembah Shang An. Itu adalah tempat yang tidak pernah dipikir akan diserang sebab tempat tersebut memiliki medan yang sulit. Penyerangan vampire ke kota Seoul telah terjadi beberapa kali. Namun tidak satupun memilih titik selatan.
Kyungsoo menyingkirkan tangan TOP yang menahannya. Ia memandang mata paman angkatnya itu dengan tajam. Ia tahu sekarang, sesuatu yang coba dilakukan pria itu.
"Hanya karena tawaran itu kau, bahkan semua orang berusaha menjauhkanku dari vampire. Keringatku selama ini hanya akan jadi sampah kau tahu? Berhenti bersikap sok melindungi. Aku tidak selemah yang selama ini kalian pikirkan." Teriak Kyungsoo sambil dengan geram.
TOP menyipitkan matanya, memandang sosok Kyungsoo yang berlari menjauh menuju gerbang. Bocah itu benar, setiap orang disini, termasuk dirinya diam-diam membuat Kyungsoo menjauh dari pertarungan. Meski Kangin tampak menyetujui penawaran Yi Fan tapi tidak ada sesuatu yang bisa menutupi gurat keberatan pada pria paruh baya itu.
"Dasar keras kepala." Gerutu TOP.
"Temui Ji Yong, dia akan tahu apa yang harus dilakukan." Ujar TOP pada Minseok sambil melirik pria di antara mereka setelahnya ia berlari menyusul Kyungsoo. Bagaimana pun kata 'pureblood' harus dijauhkan darinya.
.
.
.
Batas selatan kota adalah hutan dan sebuah padang daisy dengan pagar di beberapa sisi. Saat musim semi bunga daisy putih dan kuning memenuhi rerumputan seperti karpet kembang. Dengan langit cerah dan awan-awan kembang gula yang melayang di atas. Angin membawa aroma bunga hingga ke tepi kota. Setidaknya itulah gambaran batas selatan kota di benak masing-masing orang.
Namun saat Kyungsoo menginjakkan kakinya di sana. Hal pertama yang diciumnya adalah darah. Aroma yang kuat dan sedikit membuat mabuk. Meski bunga daisy yang cantik tidak berbunga saat ini, namun tumbuhan itu mati terinjak bersama bercak darah.
Tempat itu terlihat ricuh. Kyungsoo melihat anggota hunter berjubah putih menggotong beberapa pasukan yang terluka sedangkan yang berjubah hitam berlari menuju luar pagar dan di kejauhan ia mendengar suara benda keras.
Langkah membawanya semakin jauh menuju luar pembatas, masuk ke arah hutan. Dan saat ia sampai disebuah tanah kosong tanpa pohon. Sinar matahari yang kemuning menerangi tempat itu bagai nyala senter yang membakar. Mata Kyungsoo dihadapkan pada pemandangan mengerikan. Mayat para hunter yang mati mengenaskan serta abu-abu di sekitar. Suara besi yang didengarnya tadi adalah representatif dari pedang yang berbenturan. Begitu nyaring.
"Hyung.." suara Kyungsoo menjadi bisikan pelan saat ia melihat sosok yang teramat familiar berada di depannya.
Diantara pertarungan itu ia melihat kakaknya berada di antara monster-monster penghisap darah. Ya, Shim Changmin bertarung dengan keringat yang mengucur, rambutnya kecoklatannya menjadi lepek dan nafasnya memburu. Suara pedang peraknya nyaring menghantam pedang lain yang bersinar terang di bawah pantulan matahari.
"Mulai kelelahan, human?" ujar lawan Changmin. Seorang vampire dengan tatapan mata meremehkan.
Ini adalah pertama kali dalam hidup Kyungsoo ia melihat dengan langsung bagaimanakah sosok seorang vampire. Yang seringkali ia lihat hanya abu dari tubuh mereka yang mati. Dan sisa pakaian mereka yang tertinggal. Namun untuk rupa, jujur saja Kyungsoo tak percaya saat Ji Yong mengatakan padanya jika rupa vampire sama seperti mereka meski aura dan balutan fisik yang dimilikinya luar biasa memukau. Kyungsoo pikir Ji Yong sedang bercanda saat ia mengatakan hal tersebut sebagaimana semua candaannya pada Kyungsoo selama ini. Namun saat untuk pertama kalinya ia melihat mereka. Kyungsoo setuju, vampire tidak berbeda dengan manusia. Mereka memiliki fisik seperti dirinya meski ada aura yang dirasakan berbeda. Sesuatu yang menekan dan menakutkan.
Vampire yang dilihatnya memakai kemeja polos warna hitam, rambutnya hitam namun matanya bersinar merah seperti darah. Wajahnya putih, lebih pada warna pucat meski ketika pandangan Kyungsoo mengamati bagaimana wajah itu dan berhenti di dahinya. Kyungsoo pikir mereka memiliki wajah mengkilat seperti plastik. Tubuhnya tegap dan semampai, dan bagaimana kemeja itu membalut tubuh atletisnya membuat Kyungsoo berpikir 'Apakah mereka menjalani latihan sulit sebagaimana para hunter berlatih?'
"Seht dein schwach Körper, Mensch!" ujar vampire tersebut dengan nada mencemooh. Meski Kyungsoo tidak tahu apa yang pria itu ucapkan, namun itu pastilah kata-kata cibiran atau sesuatu semacam itu.
"Lintah rendah, aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan bodoh." Ujar Changmin dengan matanya yang menatap tajam pada lawan bicaranya.
Kyungsoo bisa melihat bagaimana geramnya si Vampire saat mendengar kata-kata hyungnya. Sejenak mata merahnya berkilat. Lalu kuku-kuku jarinya memanjang. Ada rasa khwatir dalam dirinya, terlebih rasa takut akan keselamatan kakaknya.
"Bloodyhell, kantung darah menyedihkan." Lalu dalam kecepatan di luar kemampuan manusia normal, ia bergerak menyerang Changmin dari samping, menghantamnya dengan telak lalu sebelum Changmin terjatuh di tanah, ia kembali diserang dengan cepat. Sebuah gerakan yang tak tertangkap mata.
Serangan di sampingnya, sebuah pukulan keras di kepala kiri Changmin "Bagaimana hunter sampah ini berani menghinaku?" dan suara itu mengalir seperti angin di telinga Changmin.
Hantaman di perutnya "Bagaimana kantung darah berharap melampaui kami?"
Tendangan di tulang rusuknya "Dan bagaimana kau bisa bermimpi mengalahkanku?"
Lalu sebelum vampire itu melepaskan serangan terakhirnya yakni menembuskan tangan berkuku tajamnya pada dada Changmin. Kyungsoo berlari dengan cepat dan melukainya pipi vampire itu dengan pedang peraknya.
Gerakan vampire itu berhenti. Sedikit terkejut dengan luka kecil yang ia dapat. Ia mengelap bekas luka itu dan mendapati darahnya disana.
Dengan mata tidak percaya dia melihat darah di tangannya. Meski luka di pipinya tersebut cepat menutup, ia masih berdiam untuk sesaat. Memandang ke depan menatap Kyungsoo yang tengah memegang bahu Changmin dengan wajah khawatir.
"Kau…melukaiku?" ujarnya sedikit tidak percaya "Seumur hidup, hanya dua orang yang bisa melukaiku. Pertama adalah Jung Hwan dan yang kedua adalah Lee Sean. Dan kau…setelah ratusan tahun seseorang membuatku mengeluarkan darah lagi."
"Beraninya kau melukai Changmin hyung, lintah sialan, mati kau." Geram Kyungsoo, ia maju dan menyerang. Mengerahkan semua kemampuannya dalam bermain pedang selama ini. Namun vampire di depannya hanya menghindar dengan muka meremehkan.
"Menyenangkan sekali bermain dengan bocah manusia." Ujar vampire tersebut. Mendengarnya Kyungsoo menjadi geram hingga cara menyerangnya lebih cepat "Tapi aku tidak berada dalam mood yang baik saat ini, jadi mari kita akhiri saja."
Sekejab vampire itu bergerak dengan cepat. Memukul perut Kyungsoo lalu menendang tangan Kyungsoo hingga pedangnya terlempar jatuh. Dengan terkejut Kyungsoo melihat pedangnya dengan nyeri di perutnya, ia melihat vampire di depannya yang menyeringai.
"Ciou, kiddo." Ujarnya, namun saat vampire tersebut hendak merobek dada Kyungsoo dengan kukunya yang tajam. Seseorang memeluknya dengan erat dari depan.
Mata Kyungsoo melotot tak percaya.
"Gwenchana?" sebuah suara terdengar berbisik di telinganya.
"Hyung…" ujar Kyungsoo tercekat sambil melihat wajah Changmin yang begitu dekat dengannya.
"Jangan sampai terluka, adikku Kyungsoo.." Dengan tersenyum Changmin menjawab "..hyung menyayangimu sayang, maaf…" lalu tiba-tiba darah mengalir keluar dari mulut Changmin "..maaf." lalu perlahan tubuh yang lebih tinggi darinya kehilangan kekuatannya dan jatuh ke tanah.
Dengan nanar Kyungsoo memandang kakaknya yang tergeletak, melihat perlahan-lahan bagaimana bola mata Changmin mulai kehilangan sinarnya. Rasanya tubuh Kyungsoo begitu beku dan dingin lalu saat ia berhasil mendapatkan kekuatannya. Kyungsoo berteriak histeris.
"Changmin hyung!"
Lalu tubuhnya jatuh berlutut di samping tubuh Changmin yang mengalirkan darah dari punggungnya. Tubuh Kyungsoo gemetaran, takut untuk semua kenyataan mengerikan ini.
Saat Kyungsoo masih meratapi kematian Changmin, vampire di hadapannya mendekat ke arahnya.
"Hey, hunter lemah itu sudah mati. Kau membuang tenaga saja untuk menangis." Katanya. Lalu dengan tiba-tiba vampire itu menjambak rambut Kyungsoo dan memaksanya untuk berdiri. Kyungsoo meronta kesakitan, ia memegang tangan sang Vampire yang menjambak rambutnya sambil memandang mata merah di hadapannya dengan air mata yang masih mengalir.
"Hukuman karena telah membuat darahku keluar adalah dengan memberikan darahmu padaku, aku haus sekali." Lalu perlahan kepala Kyungsoo di arahkan ke samping. Bahunya yang sempit di cengkram serta kain pakaiannya dirobek sebatas bahu, memperlihatkan leher Kyungsoo yang begitu menggoda.
Vampire itu mendekatkan kepalanya, menjilat pangkal leher Kyungsoo "Kau punya aroma yang unik." Bisik vampire itu.
Lalu tanpa basa-basi ia menghempaskan taringnya menembus permukaan kulit leher Kyungsoo.
"AAARRGGHHHKK." Teriak Kyungsoo. Dengan refleks ia mencengkram bahu dan lengan sang Vampire.
Ia bisa mendengar dengan jelas suara tegukan darahnya. Rasa panas dan nyeri di lehernya serta sakit pada rambutnya yang dijambak. Badannya menjadi gemetar, air matanya masih mengalir.
"Tuan Jongin, kita harus mundur. Lord Yi Fan murka mendengar penyerangan ini." ujar Chen sambil sedikit membungkuk.
Vampire yang ternyata bernama Jongin tersebut membuka matanya perlahan, memperlihatkan mata merahnya yang menyala. Perlahan ia melepaskan taringnya pada Kyungsoo yang sekarang sudah tidak sadarkan diri.
Jongin berdecak tak suka saat keinginannya untuk menghisap habis darah pemuda mungil di hadapannya harus diurungkan.
"So ein Mist. Si Brengsek itu benar-benar merepotkan." Ujar Jongin dengan kesal.
Lalu ia melirik pada Kyungsoo yang tidak sadarkan diri dan bersandar di dadanya "Darahnya berbeda, begitu nikmat. Pemuda yang lezat." Ujarnya sambil menjilat darah yang mengalir turun dari bekas taring di leher Kyungsoo.
Ia menarik Kyungsoo, melihat wajah pemuda itu dengan seksama lalu menyeringai.
"Ini pertama kalinya aku merasakan darah yang luar biasa seperti ini. Human, jika kau bisa bertahan hidup, aku berjanji akan kembali untuk menuntaskan dahagaku ini." Ujar Jongin sambil berbisik di telinga Kyungsoo.
Lalu Jongin menjatuhkan Kyungsoo tepat di atas mayat Changmin. Tubuh Kyungsoo menjadi memucat karena kehabisan banyak darah.
.
.
.
Hari itu saat Kyungsoo tersadar dari tidurnya. Kepalanya dilanda pusing yang parah. Wajahnya masih pucat dan Kyungsoo yakin itu setelah menyadari bahwa matanya sangat berat untuk membuka dan semua persendiannya kelu. Ada nyeri di lehernya dan ada sakit di area perutnya, sesuatu seperti memar.
"Kyungsoo, my dear." Pekik pelan seseorang membuat sebuah lirikan di mata Kyungsoo.
Itu Ji Yong, pamannya. Seseorang yang baginya menyebalkan, namun orang itu kini begitu ia butuhkan. Ia ingin mengatakan sesuatu padanya tapi badanya terasa begitu sakit.
"Hy..ung..min..y..ung." tangan Kyungsoo berusaha menggapai Ji Yong. Bertanya pada pria itu dimana kakaknya.
Ia sangat khawatir. Kyungsoo tiba-tiba merasa begitu cemas sekarang. Semalam ia bermimpi buruk, sesuatu menimpa kakaknya dan membunuh sepertiga pasukan hunter mereka. Sebuah penyerangan yang dilakukan oleh vampire, itu mimpi mengerikan bagi Kyungsoo dan sekarang ia sangat ingin tahu bahwa semuanya baik-baik saja. Bahwa keadaannya yang begitu lemas di ranjang hanya karena demam berdarah yang pernah ia alami saat berumur 7 tahun kembali ia alami.
"..hyu..ngg.." suaranya parau dan Kyungsoo melihat sedikit demi sedikit wajah Ji Yong terlihat lebih jelas namun karena itulah ia bisa melihat wajah Ji Yong yang menatapnya nanar.
"Kyungsoo. Selamat sore, kau sudah bangun? Kami mengkhawatirkanmu, dear." Ujarnya. Dengan sebuah senyum Ji Yong mengelus rambut Kyungsoo. Menyingkirkan poninya yang lepek menutupi dahin.
"..min..Cha..ngminn..m..na?" ujar Kyungsoo.
Perlu waktu lama bagi Ji Yong untuk memilih kata-kata apa yang harus ia katakan pada Kyungsoo. Beberapa orang di belakangnya juga tidak bisa mengatakan apapun, Mereka kehilangan semua kata-katanya.
"Ji..Yong.." panggil Kyungsoo.
Saat Ji Yong hendak menjawab, seseorang maju dan berbisik di telinganya "Tuanku, mereka akan melakukannya sekarang." Setelahnya Ji Yong mengerutkan dahinya dan menampilkan wajah yang jauh lebih sendu.
"..Min..hyuung..m..na?" Kyungsoo masih bertanya dan bertanya seolah itu adalah mantra, mengabaikan perih di tenggorokan.
Wajah pamannya menatap Ji Yong. Terdiam lama lalu mengarahkan pandangannya ke depan. Di sebuah jendela di samping ranjang Kyungsoo. Memperhatikan sesuatu, sebuah asap yang membumbung ke angkasa. Seperti sebuah jiwa yang kembali pada semesta.
Bibir Ji Yong membuka dan hanya sebuah kata yang terucap "Maaf.."
Kyungsoo bisa mendengar kalimat pendek dari Ji Yong. Mimik mukanya terasa kaku, sesuatu yang buruk merambat di benaknya melalui serangkaian getar di sepanjang tulang belakangnya. Sebuah kata-kata, ingatan. Segala hal yang Kyungsoo harap hanya mimpi dan masih terus ia harapkan demikian.
"Mana? Hyungg?" perlahan air matanya turun di antara rasa was-was dan takutnya. Ia tidak suka Ji Yong yang diam dan seakan merahasiakan sesuatu. Andai tubuhnya bisa digerakkan, ia ingin menghajar Ji Yong dan meminta penjelasan yang gamblang. Dimana kakaknya? Dimana Changmin Hyungnya sekarang?
"..Kyungsoo…Changmin sudah pergi..jauh." ujar Ji Yong kemudian.
"Kemana?" suara Kyungsoo perlahan lebih jelas.
"Ketempat..Yunho." ujarnya kemudian.
Perlu waktu untuk mencerna hingga detik-detik dimana ia mengerti. Kyungsoo menggelengkan kepalanya tidak percaya. Ia menahan air mata meski bendungannya pecah di sudut matanya.
"…Lihatlah ke jendela Kyungsoo. Lihat kesana dan kau bisa berdoa sepanjang perjalanan Changmin menuju langit." Mata Ji Yong berusaha terlihat teduh dan tenang meski ia pun menahan pedih di hatinya.
Kyungsoo memperhatikan jendela dan saat ia menyadari apa yang ditangkap matanya di sana ia menangis. Itu adalah asap yang membumbung ke langit. Dan asap itu adalah prosesi kremasi Changmin. Tangis Kyungsoo menjadi-jadi sepanjang asap itu mengepul hingga membuat dadanya sesak. Tangannya hendak menggapai asap itu meski untuk menyentuh kaca ia tak sanggup.
"Hyungg ah…Changmin hyung...aarghh..hiks..hyung.." dan seperti itulah suara yang bisa ia keluarkan. Menangis dengan air mata yang menjalar seperti urat daun. Terkadang tangisannya disertai batuk hingga Ji Yong dan Minseok -yang baru saja datang ke kamarnya- terlihat tersayat melihat Kyungsoo. Ia menangis dengan nafas tersengal dan batuk yang menyiksa.
"Seseorang harus membuatnya tenang, aku akan panggil dokter." Ujar Minseok.
Tak lama kemudian dokter tiba di kamar Kyungsoo dan menyuntikkan obat penenang di selang infusnya. Dan perlahan Kyungsoo didera kantuk yang sangat. Dan sebelum ia kehilangan kesadarannya ia berkata pilu di dalam hatinya.
'Waktu, kenapa kau biarkan hyung ku pergi? Hyung jangan pergi. Kau adalah rumah bagiku, lalu kemanakah aku pulang setelah ini?..'
Di dalam mimpi, Kyungsoo mengingat obrolan masa kecilnya bersama Changmin.
"Hyung, kemana seseorang pergi saat meninggal?" tanya Kyungsoo.
"Ke langit, soo." Jawab Changmin.
"Langit?" Kyungsoo menengadahkan wajahnya ke atas. Melihat langit biru yang berbentang luas di atas dunia.
"Iya. Langit, sebagaimana yang lainnya. Jika suatu saat nanti aku pergi ke langit. Jangan menangis ya." Ujar Changmin.
Kyungsoo terdiam sesaat lalu setelahnya ia memperlihatkan cengiran kekanakannya "Tidak akan sebab aku akan mencari tangga dan menarikmu kembali ke bumi."
Changmin hanya tersenyum lebar sambil mengacak rambut Kyungsoo gemas "Kau sangat lucu Kyungsoo."
.
.
Tiga Bulan Kemudian.
Malam itu langit menghamparkan bintang dan rasi yang berjumlah jutaan. Langit begitu cerah dan udara seperti semilir angin yang terasa sejuk. Kyungsoo melamunkan sesuatu sambil terus menatap langit. Tangannya terjulur, ingin meraih sesuatu dalam udara kosong.
"Ya, aku begitu lucu…seseorang tidak bisa menarik jiwa yang pergi ke langit. Bahkan jika aku menggunakan seribu tangga untuk memanjat kesana." Ujarnya sambil meringis "Tiga bulan dan kau pasti menertawakanku karena aku masih menangis. Kenapa kau tidak pernah puas membuatku terlihat lemah, hyung?" air matanya turun dan dia merasa begitu kesepian.
Malam panjang dan hari-hari berlangsung seolah tidak ada apapun yang terjadi. Orang-orang membisu mengenai kematian Changmin seolah-olah itu dibuat untuk menutupi kesedihan mereka karena kehilangan Changmin.
"Aku pergi ke aula, dulu, saat senja kau akan datang dan menjemputku dengan handuk kecil. Tapi setelahnya aku harus membawa handukku sendiri dan melewatkan makan malam karena seseorang tidak ada yang menjemputku lagi."
"Aku pergi ke taman rumah, dulu, diam-diam kau akan memberiku soju dan kita minum sama-sama. Sekarang, Daesung lah yang membawakannya untukku." ia tersenyum getir sambil menggigit bibirnya menahan lebih banyak air mata "Cih..setidaknya Daesung tidak meminum jatahku seperti dirimu, hyung."
"Dan kemarin aku pergi ke kamarmu. Dulu, kau akan marah jika aku masuk kesana. Itu teritorimu, aku hanya boleh masuk jika ada kau disana. Sekarang, aku bersumpah tidak akan pernah pergi kesana lagi. Sebab tidak ada kau disana." Air matanya tidak berhenti mengalir, banyak fragmen kenangannya bersama Changmin yang muncul di dalam kepalanya.
"Aku tidak mau mengakuinya, tapi jujur saja…aku merindukanmu." Ujarnya dalam bisikan.
Kyungsoo melirikkan matanya dan menemuman seseorang berdiri di bawah, menengadah menatapnya. Lewat ekor matanya ia mendapati papa nya berdiri disana. Laki-laki paruh baya itu melambaikan tangannya. Meminta Kyungsoo untuk turun dan mendekat.
"Waeyo?"
Saat ia menginjakkan kakinya di tanah kembali. Ia melihat wajah Kangin dengan kerutan di dahi. Pria itu sedang melamun ah tidak, itu lebih seperti merenung. Spekulasi Kyungsoo mengatakan jika papanya memikirkan sesuatu yang berat. Dan kurang lebihnya dia tahu apa yang pria itu sedang pikirkan kini.
"Berhentilah berpikir mengenai tawaran itu. Kau akan memberikanku pada mereka dan sekarang aku tidak keberatan untuk itu." ujar Kyungsoo.
Kangin menatap Kyungsoo, terdiam untuk beberapa lama lalu langkah membuatnya berjalan pelan ke depan "Setelah Changmin tidak ada, bagaimana mungkin aku bisa melepaskan harta terakhirku pada mereka?"
"Kau akan kehilangan lebih banyak jika tidak segera menyerahkanku. Selalu ada tumbal untuk masa depan dan peperangan kita telah sampai pada titik jenuh. Aku tahu semua diam-diam para hunter merasa muak pada semua hal ini." ujar Kyungsoo.
"Kita telah berjuang lama dan-"
"Jangan berbicara seolah kau tidak rel aku pergi. Bagaimanapun jika aku pergi ke Wu Yi Fan. Setidaknya aku bisa menyelamatkan orang kita yang tersisa dan lebih baiknya lagi aku bisa mencari kelemahan mereka dari dalam..." ujar Kyungsoo dengan nada ketus.
"Pureblood itu menginginkan sesuatu darimu Kyungsoo."
"Aku tahu." tanggap Kyungsoo cepat.
"Dan sesuatu itu tidak baik."
"Aku akan berusaha agar pureblood bernama Wu Yi Fan itu tidak akan mendapatkan apapun dariku."
Kangin menatap Kyungsoo diantara cahaya bulan yang remang. Ia memperhatikan putra angkatnya dengan seksama. Sesuatu yang selama ini tidak pernah disadarinya. Sesuatu mengenai Kyungsoo nya.
"Kau sudah besar sekarang. Dan aku tidak tahu bahwa putra kecilku tumbuh menjadi pemuda pemberani sepertimu." wajah Kangin perlahan meneduh.
"Ya, tentu saja sebab selama ini aku luput dari perhatianmu. Changmin hyung menghalangi pandanganmu untukku. Dan aku seperti anak kecil dalam bayanganmu." sindir Kyungsoo.
Obrolan antara anak dan ayah itu tak pernah terlintas dalam benak Kyungsoo sebelumnya. Mereka jarang berbicara 4 mata seperti ini. Segala obrolan hanya dimulai di meja makan dan akan berakhir di sana juga setelah suapan terakhir selesai. Tapi untuk pertama kalinya dalam kurun waktu beberapa tahun ini, Kangin menemuinya dan mengajaknya berbicara. Kyungsoo pernah berpikir jika pria itu mungkin sudah setengah lupa memiliki dirinya sebagai putra. Semua orang memuji Changmin dan begitulah Kangin sendiri.
Kyungsoo terkadang merasa diabaikan karena semua orang menganggapnya lemah hanya karena tubuhnya yang kecil.
"Aku tidak memintamu menjadi tumbal atau menjadi pengganti Changmin. Perang akan terus bergulir dan setelah mereka membunuh Changmin bagaimana bisa aku menyerahkanmu kepada mereka?" ujar Kangin dengan batuk di akhir kalimatnya.
"Mengingat pria penyakitan sepertimu adalah pemimpin Seoul. Kupikir aku sangat menyesali kematian kakakku hingga mendalam. Tapi setelah kau mengatakan untuk berperang bahkan setelah aku memutuskan untuk pergi pada Wu Yi Fan, aku bersyukur karena kau mengingatkanku bahwa kau masih seorang Jung." Ujar Kyungsoo setengah menyindir.
Kangin terkikik. Inilah yang membuat Kyungsoo begitu berbeda, anak bungsunya tak pernah peduli perasaan orang saat berbicara. Kyungsoo begitu apa adanya. Tapi karena itulah Kyungsoo bertahan hidup dengan hinaan atas tubuhnya yang kecil, bahkan setelah Kangin menyadari bahwa betapa pilih kasihnya dia selama ini.
"Anakku, mari kita masuk. Angin malam tidak baik." ujar Kangin kemudian.
Dalam hati Kyungsoo mendengus. Angin malam tidak pernah menyakitinya, namun itu bagi papanya yang penyakitan, angin malam mungkin bisa membunuh pria itu.
Langkah membawa mereka menjauhi aula. Namun sesuatu menyadarkan Kyungsoo, sesuatu seperti kehadiran seseorang yang begitu tiba-tiba.
Kyungsoo melirik ke arah Kangin dan tampaknya pria itu pun juga merasakan kehadiran seseorang.
"Kupikir ini terlalu malam untuk menerima tamu." Ujar Kangin "Seseorang harusnya datang kembali besok jika ingin bertamu." Tambahnya kemudian.
Di sebelah kiri tubuh Kangin. Kyungsoo mengeratkan pegangannya pada pedang di tangan kanannya saat perlahan-lahan seseorang berjalan dari kegelapan menuju pada mereka. Seorang pria jangkung dengan senyum di bibirnya.
"Anyeong." Ujarnya. Perlahan sinar rembulan menerangi wajahnya yang seperti pahatan seniman terbaik dunia.
"Siapa kau?" tanya Kangin.
Kyungsoo memperhatikan pria jangkung yang tak pernah lepas tersenyum ke arah mereka dengan penuh kewaspadaaan. Ia tahu sesuatu yang berbahaya saat merasakan aura pria itu di hadapan mereka.
Wajah yang tampan, telinga yang lebar, mata yang ramah, senyum di bibir. Sungguh luar biasa menawan dengan rambut hitam bercampur emas serta kemeja putih. Tapi saat perlahan mata pria itu terlihat. Kyungsoo mengerti bahwa yang ada di hadapannya adalah seorang vampire.
"Yang mana yang bernama Do Kyungsoo di sini?" tanya pemuda itu dengan senyuman.
"Apa urusanmu dengannya?" tanya Kyungsoo dengan tajam.
Pria itu menyisir rambutnya ke belakang "Mmmh, sebenarnya itu tidak penting kujawab tapi yah baiklah." Lalu ia tersenyum sambil menatap Kyungsoo "Nama Chanyeol. Aku diutus Tuan Yi Fan menjemput pemuda bernama Do Kyungsoo…jadi dimana yang bernama Do Kyungsoo itu sekarang?"
Sejenak wajah Kyungsoo menegang. Ia melirik Kangin kembali dan mendapati ayahnya menatap geram pada vampire bernama Chanyeol tersebut.
"Katakan pada Wu Yi Fan..kami tidak menerima tawarannya. Pulanglah!" ujar Kangin dengan nada membentak.
"Aku datang dengan baik-baik Jung Kangin-sshi. Kuharap kau tak menyulut apapun. Seseorang bisa terbunuh di sini."
Tangan Kangin menggenggam. Ia menggeram kesal dengan nada santai milik Chanyeol yang sangat menyebalkan.
"Aku akan membunuhnya." Ujar Kyungsoo pada Kangin dengan suara berbisik.
Kangin menatap Kyungsoo "Kyungsoo, kau harus berhati-hati." Mengejutkan saat tahu bahwa ayahnya mengijinkannya tapi ia merasa tersanjung untuk itu.
"Wah! Jadi Kyungsoo adalah kau? Jauh dari ekspektasiku, kau mungil dan lihat wajah polos itu? " ujar Chanyeol yang justru menyulut amarah Kyungsoo.
Serangan pertama kali dilakukan dari kubu Kyungsoo. Ia menyerang dengan pedang peraknya. Sedangkan Chanyeol dengan santai nampak menghindar. Pria vampire itu menatapnya dengan tampang mengejek seolah semua gerakan Kyungsoo sia-sia dan konyol. Chanyeol bisa membaca gerakan Kyungsoo. Meski demikian ia mengakui jika Kyungsoo lincah dan memiliki teknik berpedang yang bagus.
"Aku tak sabar melihat ekspresi Tuan Yi Fan saat ia tahu bocah yang diinginkannya sangat menantang seperti dirimu…benar-benar menarik." Ujar Chanyeol.
Pertarungan itu menghabiskan tenaga Kyungsoo dan saat Kyungsoo lengah Chanyeol menyerangnya. Hampir membuat Kyungsoo terluka sebelum Kangin maju dan menyelamatkan Kyungsoo. Ayahnya lah yang sekarang sedang bertarung dengan Chanyeol. Tapi entah mengapa, Chanyeol tidak lagi terlihat sedang main-main. Dalam sekejab ia bisa melukai ayahnya. Dan untuk sesuatu yang tidak terduga, dalam kelemahan Kangin, Chanyeol menyeran pemimpin asosiasi hunter itu tepat di titik vitalnya. Membuat Kyungsoo membelalakkan matanya dan berteriak. Namun sebelum tubuhnya berhasil mendekat ke tubuh Kangin yang bersimba darah di tanah. Chanyeol muncul di belakangnya dan menghantam tengkuknya. Membuatnya kehilangan kesadaran.
Dan hal terakhir yang ia lihat sebelum segalanya menggelap adalah tatapan kosong Kangin padanya.
.
.
.
-tbc-
Ok, sorry banget karena ini adalah hanya repost chap 2 karena alisku mengkerut banget saat banyak yang mengeluh typo di chapter 2 sebelumnya dan membuat feelnya kurang ngena. Jadi aku perbaiki deh. Kalau masih tetep ada typo, namanya juga manusia haha…
Karena kesalahanku yang malas baca ulang jadinya typo kemarin bener-bener menganggu banget dan jujur aja aku juga ngerasa gitu. So 5 hari setelah aku repost chap 2 ini, aku bakal post chap 3, is that cool?
Ini lebih cepat karena pertama penebusan kesalahanku dan kedua karena temenku akhirnya balik ke Rumania lagi…yeeaahh! jadi aku lebih punya waktu luang.
Buat fic Pray in Abyss, please sabar. Aku lagi nyari mood buat ketik chap 5 nya. Karena jujur aja, pemilihan diksi di fic itu lebih hati-hati daripada di fic ini.
Ok gitu aja deh, makasih ya guys. Review tetep ditunggu buat spirit's booster ku karena aku males nulis fanfic kalau yang review dikit, mending ngerjain tugas kuliah kan hahaha dan biar prioritas ngelanjutin fanfic tinggi di daftar aktivitasku yang sumpah, padet banget njiirrr. OMG!
Yah gitu ajalah. Jaa ne~
-with love Ivyluppin-
