"Hari ini kau bisa libur."

Hah?

Apa yang barusan bosku katakan?

Aku ini masih tidur ya?

"Apa yang kau tunggu? Kemasi barangmu—"

"Anda memecat saya, pak?!" sektika itu yang bisa kusimpulkan.

Bosku malah tertawa setelah itu. Dan aku hanya bisa bernafas—terdiam di kursi sembari membayangkan aku akan berakhir di dalam kardus karena tak sanggup membayar uang sewa flatku.

"Astaga, nona Haechan. Aku bilang kalau kau bisa libur hari ini. Free day, kau tahu itu 'kan?"

Aku menggeleng bodoh. "Saya tahu. Tapi Anda benar-benar tidak memecatku 'kan pak?" Aku memastikan lagi—rasanya masih tidak mungkin kalau sekedar hari libur, pasti aku dipecat 'kan?

"Ya Tuhan, astaga bocah ini." Bosku masih saja tertawa. Dimana sik letak kelucuannya? Ini itu masalah pekerjaan lhoh?—sumber penghasilan untuk kehidupanku yang ternyata sedikit bermanfaat ini.

"Pak, saya masih punya satu adik yang harus kubiayai sekolahnya. Dan beberapa kucing liar yang suka menumpang di rumah saya. Anda tidak bisa memecat saya begitu saja. Saya mohon ya pak dipertimbangkan kembali."

Bosku memandangku tak habis pikir. Kemudian menghela nafas sembari menahan kesal. "Demi Tuhan, nona Haechan. Ini hanya hari libur. Kau sudah bekerja keras selama ini. Kau mendapatkan cuti selama seharian ini. Lagipula pekerjaanmu hari ini juga tidak terlalu banyak. Aku akan mengalihkannya ke anak magang, agar mereka bisa belajar sekalian. Jadi sekarang kau paham?"

Aku menggeleng kembali.

Aku masih menolak untuk percaya! Ini pasti pemecatan dengan cara terlewat halus!

"Astaga!" Bosku memijat pelipisnya kesal. "Temui saja direktur dan meminta penjelasannya."

Direktur yang memecatku?

"Ambil hari liburmu. Bersenang-senanglah dan kembalilah besok untuk bekerja sebelum aku berubah pikiran.—Dan keluarlah dari ruanganku sekarang juga!"

Sebenarnya aku masih menolak untuk percaya. Tapi jika direktur yang memang memutuskan, aku bisa apa?

Aku keluar dari ruangan bos dengan lesu. Aku sepertinya tidak akan bisa makan untuk hari ini. Seleraku untuk hidup menghilang begitu saja.

Aku benar mendapat hari libur tidak sih? Rasa-rasanya aku memang dipecat.

Aku terpaksa mengemasi tasku, lantas kemudian menatap barang-barang yang ada di bilikku. Harus kukemas atau kubiarkan?

Rasanya antara setengah libur dan setengah dipecat.

"Kau mau kemana?"

Aku menoleh dan mendapat Jaemin bertanya padaku penasaran.

"Hari libur." Jawabku singkat, dan lantas meninggalkannya begitu saja. Moodku tidak mendukung. Yang ada tambah buruk saja dengan membicarakannya. Peduli amat kalau dia bertanya-tanya atau tersinggung, toh mungkin aku memang dipecat sebenarnya.

Mau bosku bilang itu adalah hari libur atau apalah itu, aku tetap tidak bisa menikmatinya. Jadi aku hanya mengarahkan kakiku ke flat.

"Meooong..."

Norris—kucing peliharaanku—menyambutku di depan pintu sembari menggoyangkan ekornya dengan anggun.

Aku tersenyum kecut. "Aku dapat hari libur, Norris." Ujarku sembari mengelus kepalanya dan membawanya ke kamar—bercinta dengan Norris seharian ini mungkin solusi terbaik.

"Oh? Astaga! Kau membawa mereka kemari, Norris?"

Kutuduhkan dugaanku pada kucing oranye yang ada ditanganku.

"Meooong..."

Aku melepaskannya, membiarkannya dia menghampiri tiga kucing liar berwarna hitam, putih dan abu-abu yang sudah bertengger manis di meja dan sofa.

"Lewat mana kalian hah?!"

Aku bersumpah sudah menutup semua jendela tadi sebelum berangkat bekerja.

"Oh terserah saja." Aku sudah tidak mau ambil pusing lagi. Mereka mau melakukan apa terserah mereka. Aku tidak mau peduli. Aku mau tidur saja untuk membunuh waktu.

Tidak peduli dengan kaos kaki yang masih menempel, apalagi baju kerja, aku langsung mendaratkan tubuhku ke kasur kecilku.

Oh aku benar-benar akan kehilangan pekerjaanku 'kan?

Aku menerawang langit-langit kamar, dan kemudian aku tidak tahu lagi setelah itu apa yang terjadi. Aku tertidur.

Dan...

"Aku bersumpah aku akan mendobrak pintu ini, Haechan!"

Heh?

Aku bersumpah tidak bisa menangkap jelas suara yang tengah berteriak di balik pintu kamar yang terus diketuk tidak bertempo dan tidak beraturan—menyiksa telinga dan menyadarkanku dari alam mimpi tentunya.

"Aku hitung dari tiga—"

"Apa yang kau lakukan?" Itu pertanyaanku ketika melihat Mark bersiap akan menendang pintu kamarku.

"Oh sialan!"

Ia masuk ke dalam kamarku dan membawa tasku tadi keluar.

"Kau ini kenapa?!" tanyaku tidak mengerti sama sekali.

"Kita pergi." Dia menarikku cepat-cepat.

"Kemana?"

"Jeju."

Kakiku berhenti mendadak sebelum kami mencapai pintu flat. "Kau bilang Jeju?"

"Iya. Dan jangan banyak bertanya. Ayo pergi!"

Dia menarikku lagi tapi aku tidak mau mengikutinya. "Maksudmu apa? Jangan bercanda, Mark."

"Astaga, Haechan! Ayo pergi!"

"Katakan padaku untuk apa?" aku akan keras kepala.

Mark tampak sudah sangat lelah dan tertekan. "Ayo ke Jeju dan merayakan hari ulang tahunmu yang terlewat kemarin."

Aku membisu. Benar-benar tidak percaya dia akan melakukan ini. Ternyata dia sebaik ini. Aku ingin menangis saja kalau begini.

"Kalau begitu aku akan mengambil beberapa baju."

Dia menarikku jauh lebih kencang.

"Tidak ada waktu. Penerbangan setengah jam lagi. Kita masih check in dan lain-lain."

"Tapi aku memakai baju kerja, Mark—"

"—Aku tidak peduli kau mau pakai baju apa! Ayo pergi, Haechan!"

Aku mencebik. Kenapa sih mendadak sekali begini? Jadi aku hanya menurut dan berangkat ke Jeju hanya memakai baju kerjaku dan sandal rumah yang tidak elit dengan tas di tangan kekasihku.

Liburan macam apa ini?

"Jangan buat usahaku merayu kakakku untuk meliburkanmu sia-sia begitu saja."

?!

Oh rasanya kepalaku terbentur endorfin yang begitu menyenangkan.

Kedua sudut bibirku tertarik lebar dan jari-jariku mengencangkan genggaman kami.

"Ayo berlari, Mark!"

.

.

.

Markhyuck Summer Party 2019 Project

Date: 7th June

Prompt theme: Free Day

Day 2