Tak Berhenti Lama
Bagian Dua
.
.
Setelah mendapatkan kunci, nyaris setiap hari Fai datang ke apartemen kecil di persimpangan Greenwich Village itu. Bahkan di sela-sela jam kosong kuliahnya, dia akan menelusuri jalan dari kampusnya di Seventh Avenue, menaiki kereta subway hingga ke stasiun Sixth Avenue, kemudian berbelok di Greenwich Village, menaiki tangga menuju lantai tiga di gedung apartemen pertama MacDougal Street dan masuk ke unit kecil yang kini seolah menjadi rumah keduanya. Dia akan mengerjakan tugas atau makan siang di sana. Jika beruntung, dia akan melihat Kurogane dengan terburu-buru masuk ke dalam apartemen, menyapanya dengan kerlingan mata sambil terus berjalan ke kamar mandi, berganti pakaian, mengeluarkan beberapa beda dari saku dan tas dan memasukkan beberapa benda lain, mencomot selembar roti, lalu beranjak pergi lagi hanya dengan sebuah tepukan pelan di kepalanya. Hari Minggu memang satu-satunya hari laki-laki itu tidak terlalu sibuk. Selebihnya, Kurogane seolah tidak pernah berhenti.
Dia tidak pernah memberitahu Yuui tentang Kurogane, bahwa dia akhirnya telah menemukan laki-laki yang berdiam di kepalanya sejak lahir. Yuui tidak pernah bertanya, hanya memandanginya dengan maklum setiap kali Fai mencium pipinya dan pergi dengan gembira. Sejak mereka kecil, Yuui selalu sabar mengatakan kalau, ya, suatu saat mereka akan menemukan seseorang bernama Kurogane itu, dan dia akan selalu di sisi Fai sampai mereka menemukannya, bahkan di saat teman-teman mereka mulai mengejek kebiasaan Fai bercerita soal Kurogane si teman bayangan. Fai tahu harusnya dia mengaku pada Yuui, tapi geliat antusiasmenya menemukan Kurogane selalu membuatnya berada di awang-awang.
Di bulan keenam pertemuannya dengan Kurogane, Yuui mencegatnya sebelum dia berhasil kabur untuk menjalani rutinitas hari Minggunya. Mata biru yang senada dengan miliknya sendiri menatap serius padanya.
"Kamu akan pulang malam ini?" tanya Yuui.
"Ngg… aku..."
"Pulang," desak Yuui. "Ada yang mau kubicarakan."
Tapi hari ini hari Minggu, Fai ingin berkata, tapi akhirnya dia hanya mengangguk dan melepaskan cengkeraman tangan Yuui darinya.
Wajah Kurogane tidak menunjukkan reaksi apa pun saat Fai dengan ragu berkata bahwa dia harus pulang malam itu. Padahal dirinya setengah berharap laki-laki itu akan menahannya dengan keras kepala. Alih-alih, Kurogane hanya mengangguk dan menawari untuk mengantarnya pulang. Fai menolak tawarannya. Minggu itu untuk pertama kalinya mereka hanya bersama untuk makan malam sebelum Fai kembali ke apartemennya di Eight Avenue dengan tubuh yang dingin meski angin malam di musim panas yang lembab menerpanya.
"Ashura sakit, Fai." Yuui mengumumkan begitu Fai memasuki apartemen yang telah setahun mereka tinggali bersama. Fai membeku di ambang pintu ruang tengah. Saudara kembarnya kelihatan kacau di atas sofa, rambut pirangnya yang dipanjangkan hingga sepunggung—berbeda dengan milik Fai yang berakhir dekat tengkuk—tergerai berantakan di sekitarnya.
"Sakit...?" Fai mengulang kata itu. "Sakit apa...?"
"Kanker hati. Stadium akhir. Freya memberitahuku semalam."
Tenggorokannya terasa tercekat. "Kanker. Tapi… tapi dia sehat-sehat saja waktu kita berkunjung liburan kemarin."
Yuui menggeleng. "Freya bilang diagnosis kankernya sudah sejak tahun lalu, tapi Ashura menyembunyikannya karena kita masih berusaha menyesuaikan diri di sini. Dan sekarang kankernya makin ganas."
Fai terduduk di samping Yuui, tidak percaya apa yang baru saja didengarnya. Belum kepalanya selesai mencerna informasi tersebut, Yuui kembali bicara.
"Aku akan pulang ke Lima," ujarnya tegas. "Kamu bisa, kan, tinggal sendirian di sini?"
"Pulang?" seru Fai tidak percaya. "Kuliahmu bagaimana?"
Yuui menggigit kuku ibu jarinya. "Aku akan minta transfer. Di Lima juga ada sekolah kuliner lokal. Ashura butuh seseorang untuk merawatnya. Freya dan Chii masih terlalu muda untuk bisa merawatnya dengan baik, dan mereka berdua sedang persiapan SAT."
"Aku… sendirian di sini?"
Pandangan Yuui sejenak terlihat jenaka. "Kamu mau ikut pulang? Di Lima tidak ada sekolah desain. Lagipula, kamu punya pacar, kan?" Melihat Fai membeku seperti rusa yang terkena pancaran cahaya lampu, Yuui tertawa. "Sudahlah, Fai. Aku tahu kamu punya pacar sekarang. Aku ikut senang. Sudah saatnya kamu melupakan Kurogane yang hanya ada di dalam kepalamu."
Fai memandangi wajah kembarannya yang selalu terlihat lebih dewasa dibanding dirinya.
"Apa kamu juga terganggu setiap kali aku bicara soal Kurogane?" tanyanya kemudian.
"Bukan begitu. Hanya saja, makin lama melihatmu, aku makin kasihan." Yuui menepuk bahunya. "Berbahagialah bersama pacarmu dan lupakan Kurogane."
Fai tersenyum tipis. Tapi pacarku seorang Kurogane, Yuui.
.
.
.
"Ashura?"
Fai mengangguk di antara gerakan naik-turun perut Kurogane yang menempel pipinya, tangan Kurogane yang besar bertengger nyaman di atas kepalanya, sesekali mengusap rambutnya. Gemuruh Broadway di malam hari terdengar tumpul dari luar jendela dan mata Fai memandang ke arah televisi yang tengah menyiarkan beberapa kebijakan buruh baru tanpa benar-benar memerhatikan.
"Ayahku."
"Kamu panggil ayahmu pakai namanya?" tanya Kurogane dengan nada heran.
Fai tertawa pelan sebelum membalik tubuhnya menghadap laki-laki itu, hangat tubuh dan sikap Kurogane yang rileks terasa meninabobokan.
"Ayah angkat. Aku dan Yuui diadopsi olehnya sejak kami berusia empat tahun."
"Waktu kalian pertama datang ke Amerika dari Perancis."
"Ya. Ashura pengusaha asal India yang punya terlalu banyak uang dan terlalu mencintai mantan pasangannya untuk bisa menikah dan punya keturunan sendiri. Jadi dia mengambilku dan Yuui saat kunjungan bisnisnya ke Perancis, lalu sepasang anak kembar lagi, kali ini asli Amerika, tiga tahun setelahnya. Aku tidak pernah tahu siapa orangtua asliku, tapi selama bisa bersama dengan Yuui, itu saja sudah cukup."
Kurogane mendengarkan tanpa bereaksi, hanya mendengarkan dan menatapnya dengan mata merah yang tajam. Entah bagaimana, Fai merasa tenang dengan minimnya ekspresi yang dipancarkan oleh laki-laki itu. Menurutnya itu jauh lebih baik daripada ekspresi simpati atau belas kasihan yang terasa jauh. Dipejamkannya matanya ketika ibu jari Kurogane menelusur pipinya.
"Saudaramu akan pulang ke Lima buat mengurus ayah kalian?"
Fai mengangguk lagi. "Ashura butuh seseorang untuk mengurusnya. Kankernya sudah stadium terakhir dan dia akan semakin sulit untuk bergerak. Yuui yang paling tua di antara semua anak angkatnya, jadi dia yang pergi."
"Dia kakakmu?" Nada suara Kurogane kembali terdengar heran.
"Kami tidak pernah tahu siapa yang jadi kakak di antara kami, tapi Yuui selalu lebih dewasa daripada aku, jadi kurasa peran kakak-adik itu terjadi secara otomatis."
"Heh. Bakal aneh kalau kamu yang jadi kakak." Kurogane mendengus, lalu menghindar dari hantaman tinju main-main Fai. "Kamu nggak ikut pulang?"
"Kuro-wan ingin aku ikut pulang? Ke Lima, bersama Yuui?"
Kurogane tidak menjawab, seolah berkata, "itu keputusanmu."
Fai kemudian menggeleng. "Yuui menyuruhku tinggal di sini, untuk berjaga-jaga. Mungkin akan ada saatnya Ashura harus dibawa ke sini, ke New York. Lima bukan tempat dengan sarana kesehatan sebagus New York. Kalau pengobatan Ashura tidak berhasil di sana, Yuui ingin segera membawanya ke sini."
Alis Kurogane merengut, seolah memikirkan sesuatu, tapi beberapa saat kemudian dia bicara. "Mau tinggal di sini selama kembaranmu di Lima?" Wajah Fai pasti terlihat aneh karena Kurogane segera menambahkan dengan canggung, "Maksudnya, kamu selalu bergantung sama kembaranmu. Kalau dia pergi, makanmu gimana?"
"Aah? Kuro-koi mengajakku tinggal serumah karena mengkhawatirkanku?" Fai tersenyum meledek.
Tangan besar itu mengacak rambutnya. "Siapa yang nggak khawatir kalau lihat anak kurus yang tahan nggak makan seharian kalau sudah serius menggambar?"
Fai tertawa. "Terima kasih, Kuro-ai, tapi aku perlu mengurus apartemen kami kalau sewaktu-waktu Yuui memutuskan membawa Ashura ke New York. Tapi jangan khawatir, aku pasti masih akan main ke sini setiap hari supaya guguk kesayanganku tidak kesepian dan menderita karena kangen."
Geraman kasar terdengar sebelum tubuh Fai seluruhnya tertekan di atas kasur dengan berat dan kehangatan yang familiar. Kurogane selalu melakukannya setiap kali dia merasa Fai terlalu cerewet, padahal justru karena alasan itulah Fai memutuskan untuk terus menggodanya.
.
.
.
Kekosongan baru terasa ketika sosok Yuui benar-benar tidak ada lagi di apartemen mereka. Waktu kembarannya memutuskan untuk kembali ke Lima, Fai tidak menganggapnya sebagai hal yang serius. Dengan mudah dia mengabaikan tatapan cemas Yuui saat di bandara. Sampai pesawat itu tinggal landas, Fai masih yakin pada ucapannya. Tapi begitu tinggal semalam di apartemen tanpa Yuui, baru dia diingatkan kembali akan alasan kecemasan saudaranya.
Akan alasan kenapa sejak kecil Yuui tidak pernah meninggalkannya.
Fai masih bisa bertahan di sore hari, ketika aktivitas sehari-hari masih berdengung di sekitarnya. Namun makin larut, lingkungan sekitarnya perlahan berubah sepi, terlepas dari fakta bahwa dia tinggal di Manhattan yang konon tidak pernah tidur. Di waktu seperti itulah kesunyian akan segera menyergapnya, mendenging kencang di telinganya dan menariknya ke dalam lembah memori yang tersimpan di dasar pikirannya. Potongan ingatan berkelebat cepat di kepalanya—kenangan manis, kesedihan, luka, kegembiraan—dan cepat atau lambat akan memenuhinya, menyumbat kerongkongan dan seluruh sistem tubuhnya.
Karena masalah ini, Fai tidak pernah bisa benar-benar sendiri. Yuui masih tidur sekamar dengannya bahkan hingga sekarang. Fai selalu memerlukan seseorang di sampingnya untuk mengalihkan perhatiannya dari serbuan memori atau menjadi tempat bercerita soal kilasan ingatan yang dilihatnya. Jika dibiarkan sendirian, dia akan meledak.
Dia kira setelah berhasil menemukan Kurogane, lintasan memori itu akan berhenti menyerbunya, tapi ternyata tidak. Alih-alih, jika sebelumnya memori yang bisa diingatnya terpusat di Kurogane dengan detil-detil memori lain yang kabur, kini memori-memori selain Kurogane turut menyerbunya. Kenangan sebelum dia bertemu Kurogane, tentang Valeria, tentang Ashura, tentang Sakura dan Syaoran...
Dinyalakannya televisi, radio, CD Player, dan apa pun yang bisa menghasilkan suara, tapi tidak berhasil. Memori-memori itu terus memberondongnya tanpa ampun. Baru ketika dia meraih ponselnya dan menelpon Yuui, turbulen pikirannya bisa sedikit mereda.
Sayangnya, meskipun Yuui selalu menjadi saudara yang suportif selama ini, tapi kini kedua tangannya sudah penuh dengan masalah Ashura. Satu-dua minggu, Yuui masih meladeninya dengan sabar setiap kali Fai menelpon tengah malam hanya untuk mengobrol. Tapi kemudian di minggu ketiga, Fai mendapat kabar bahwa keadaan ayah angkat mereka semakin parah hingga harus dirawat intensif di rumah sakit. Yuui semakin sibuk dan hanya bisa diajak bicara selama paling lama setengah jam.
Satu bulan berlalu dari kepergian saudaranya, mereka bertengkar hebat untuk pertama kalinya. Tepat di hari ulang tahun mereka.
Perkara awalnya sepele. Fai menelpon untuk mengucapkan selama ulang tahun pada saudaranya, tapi ternyata Yuui sedang sibuk mengurus penebusan obat Ashura dan hanya bisa menanggapinya sambil lalu. Sadar kembarannya sedang sibuk, Fai memutuskan untuk menelpon lagi nanti, tapi Yuui justru membentaknya.
"Fai, apa kamu sadar apa yang sedang terjadi sekarang?" desis Yuui dari seberang saluran.
Kemarahan dalam suara kembarannya mengagetkan Fai. "Yuui… aku tahu. Apa maksudmu?"
"Ashura sedang kritis, Fai, dan aku harus mengurusnya. Tolong pahami keadaanku."
"Aku paham—"
"Tidak, kamu tidak paham. Ashura sedang membutuhkan perhatian penuh dariku, Fai. Apa kamu tahu bagaimana keadaan di sini setiap malam? Kalau bukan mengurusi darah, aku mengurusi muntah! Atau aku harus mengurusi erangan kesakitan, atau tabung cairan yang menipis, atau mengantarnya ke kamar kecil, atau apalah! Yang jelas, kalau kamu paham bagaimana keadaanku, kamu akan sadar kalau aku tidak bisa menemanimu bicara sampai kamu tidur."
Fai menggigit bibirnya. "Kamu, kan, bisa bilang baik-baik kalau sedang tidak bisa diganggu! Kalau memang kamu kerepotan, aku bisa pulang ke Lima dan membantu!"
Di seberang, Yuui tertawa sinis. "Lalu apa? Kamu mau meninggalkan kuliahmu dan kita berdua sama-sama jadi pekerja kasar tamatan SMA? Aku menyuruhmu tetap di sana karena harus ada salah satu dari kita yang bertahan memenuhi keinginan Ashura, Fai. Ingat apa yang dia minta? Dia ingin kita bisa mandiri dan sukses. Aku sudah memutuskan drop-out, kamu tidak boleh."
"Drop-out? Bukannya kamu… transfer?"
"Aku tidak bisa mengurus Ashura dengan tetap melanjutkan studi. Jadi aku memutuskan untuk drop-out." Yuui terdiam cukup lama sebelum kembali bicara. "Harus ada yang bertahan di antara kita, Fai, dan itu adalah kamu."
Tubuhnya membeku seketika. Kelebatan memori kembali menyerbunya—menara yang begitu tinggi, salju yang terus turun, dirinya ada di dasar dan kembarannya di puncak, teriakan saudaranya dari puncak menara yang terbawa angin dan salju abadi, mayat-mayat yang ditumpuknya untuk bisa mencapai saudaranya, teriakan amarahnya atas nasib, pilihan yang mewujud sebagai sesosok laki-laki dengan simbol kelelawar di pakaiannya, dan tubuh saudaranya yang terjatuh, lalu darah—
Fai berteriak.
Dia tidak tahu berapa lama dirinya berteriak histeris di dalam kamarnya sendiri. Ketika tenggorokannya tercekat, baru dia bisa mendengar suara panggilan lemah Yuui yang bercampur isakan.
"Fai… Fai… maaf… aku tidak bermaksud—oh, Fai…" terdengar lagi suara isakan. "Aku melimpahkan kekesalanku ke kamu. Aku takut, Fai… Ashura… dia terus memuntahkan darah setiap hari… kata dokter… empat bulan… Fai… maafkan aku..."
Ashura memuntahkan darah. Monster di Celes. Ashura yang pada akhirnya mati karenanya.
"Fai… Fai, katakan sesuatu. Fai. Aku minta maaf. Aku takut."
Udara tersumbat di tenggorokannya. Dunia yang tertutup. Darah. Kurogane. Kurogane. Kurogane.
Suara Yuui tidak terdengar lagi ketika Fai berlari menembus jalanan gelap Manhattan, menuju tempat terakhir yang bisa membuatnya melupakan masa lalu.
.
.
.
"Fai!"
Fai terkesiap, udara menerobos masuk ke dalam paru-parunya secara menyakitkan. Pandangannya mengabur, seolah tengah berada di dalam air meskipun tubuhnya tidak terasa basah, hanya wajahnya. Tapi bahkan dari pandangan kabur itu dia bisa menangkap semburat merah mata yang dikenalnya.
Dikerjapkannya matanya, lalu sosok Kurogane muncul jelas di hadapannya.
"Kuro—"
"Hei, hei, napas yang benar dulu baru bicara." Dia merasakan tangan besar Kurogane menekan lembut dadanya, mengusapnya pelan dalam ritme yang menenangkan. Diturutinya saran itu. Setelah beberapa kali mengisi paru-parunya dengan udara, dia mendengar desahan lega Kurogane.
Entah bagaimana dia sudah ada di apartemen Kurogane, setengah berbaring di atas kasur dengan tangan laki-laki itu menyangga punggung dan dadanya.
"Kamu ini kenapa, sih?" gerutu Kurogane. "Sebulan menghilang terus sekarang tiba-tiba waktu aku pulang kamu sudah ada di atas kasurku, muka biru dan tersengal kayak mau mati. Aku sudah nyaris telepon 911, tahu."
Fai mencoba mengembangkan seberkas senyum yang pasti kelihatan tidak meyakinkan, karena sebagai balasannya Kurogane justru menggeleng pasrah sambil terus mengusap punggungnya. Mereka diam dalam posisi seperti itu selama beberapa saat sampai detak jantung dan aliran napasnya kembali normal, lalu Kurogane beranjak ke pantry dan membuatkannya susu hangat.
"Mau menginap?" tawar Kurogane, nadanya ringan dan tidak menuntut.
Fai mengangguk.
Televisi dinyalakan di saluran berita seperti biasa, tapi kemudian Kurogane melemparkan remote-nya ke atas kasur. Fai tersenyum dan mengambil remote itu, tapi tidak mengubah salurannya. Kurogane selalu taat pada saluran berita dan tidak pernah mengizinkan Fai mengubah saluran. Kalau sampai remote itu diberikan padanya, Fai sadar itu salah satu cara Kurogane menghibur dirinya, dengan mengizinkannya mengubah saluran semaunya.
Alih-alih menonton televisi, matanya lebih memilih untuk mengikuti semua gerakan Kurogane di sekitar apartemen: mengeluarkan berkas-berkas yang dibawa dari kantor, menyalakan laptop seraya melepasi sepatu dan jaket, menghangatkan makanan yang dibelinya di luar dengan gerutuan pelan soal hanya membeli satu porsi karena tidak mengira Fai akan datang, masuk ke kamar mandi dan keluar dengan kelihatan segar bersamaan dengan bunyi 'ping' terdengar dari microwave, berganti pakaian dan melemparkan baju ganti Fai yang tertinggal di apartemen ke atas kasur, lalu menyuruhnya mandi sementara dia sendiri duduk di meja kerjanya, memerhatikan layar laptopnya dengan serius sambil sesekali mengigit bakpao.
Fai tidak beranjak dari tempatnya, Kurogane tidak protes. Laki-laki itu hanya terus mengingatkan beberapa hal sesekali—kalau mau makan ada ramen instan di lemari, tidur saja duluan karena dia masih banyak pekerjaan, dan jangan lupa mandi sebelum tidur—tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.
"Kamu sedang sibuk?" tanya Fai ketika melihat dokumen di meja kerja Kurogane seakan menggandakan diri dari yang terakhir dia lihat. Klipingan koran juga makin berjejal di papan tempel, ditambah dengan benang merah yang kini dihubungkan dari satu artikel ke artikel lain.
"Aku sedang dapat jatah bikin artikel investigasi."
"Sebulanan ini?"
"Hmm. Pulang ke Austin dua minggu kemarin buat urusan kerjaan."
"Dan kamu bilang aku yang menghilang sebulan."
Kurogane menyeringai. "Apa, nih? Kamu marah karena aku tugas luar?"
"Kamu, kan, setidaknya bisa kirim pesan kalau mau pergi."
"Aku coba telepon tiap malam buat kasih tahu, tapi teleponmu selalu sibuk. Jelas kamu yang menghilang."
Fai menggigit bibir. Dia selalu menelpon Yuui tiap malam karena tidak mengira Kurogane akan menelepon. Selama tujuh bulan perkenalan mereka, walau sudah saling bertukar nomor ponsel, Kurogane tidak pernah sekali pun mengiriminya pesan atau menelponnya.
"Kirim pesan, kan, bisa."
"Pesan yang kutinggalkan saja nggak kamu baca." Kurogane menunjuk ke arah nakas di samping tempat tidur. Di sana, di samping jam weker, tergeletak sebuah kertas polos yang terlipat tertutup, tak tersentuh.
Fai meraih kertas itu dan membaca isinya: 'Ada tugas luar 2 minggu. Kalau mau menginap jangan lupa rapikan rumah dan kunci pintu waktu pulang. Kutelepon jam 8 malam. -K'
Perlahan dilipatnya kembali kertas itu dan dengan hati-hati dimasukkannya ke saku jaket. Seringai Kurogane yang masih terpasang di bibir meski matanya tetap serius menatap layar membuat wajah Fai terasa memanas.
"Kuro-sama curang," bisik Fai.
"Hmm?"
"Kubilang, kamu punya tepung dan telur, tidak?"
"Buat apa?"
Fai tersenyum. "Hari ini ulang tahunku."
Kurogane seketika berhenti memelototi laptopnya.
.
.
.
Hanya ada empat panekuk cokelat untuk perayaan ulang tahun kedua puluh Fai. Dia sendiri yang membuatnya; dia ingat resepnya dari salah satu catatan resep yang Yuui tempelkan di kulkas. "Resep-resep yang gampang dibuat," jelas Yuui begitu memulai kebiasaannya menempelkan catatan resep di kulkas. "Supaya Fai bisa memasak untuk dirinya sendiri kalau aku tidak ada." Kurogane tiba-tiba keluar begitu Fai mengatakan kalau dia akan membuat kue sederhana, dan setengah jam kemudian kembali dengan dua lusin lilin ulang tahun. Fai tidak tahu harus bagaimana menghadapi perhatian tidak terduga ini.
Mereka berdebat cukup sengit soal berapa banyak lilin yang harus ditancapkan dan akhirnya sepakat menjejalkan dua puluh lilin di atas panekuk—lima di setiap kue—lalu mematikan lampu. Fai meniup semua lilinnya hingga mereka berdua berada dalam kegelapan samar. Cahaya lampu jalan menyusup malu-malu ke dalam ruangan, menandai garis wajah Kurogane yang menatap lurus padanya. Tidak ada ucapan selamat ulang tahun. Hanya tangan Kurogane yang perlahan menarik tubuhnya mendekat dan ciuman intim di bibirnya yang mengatakan semua yang ingin didengarnya.
Dalam kegelapan dan kehangatan tubuh Kurogane, Fai bercerita. Pertama tentang Ashura, lalu tentang pertengkarannya dengan Yuui, dan terakhir tentang kondisinya yang membuat Kurogane menemukannya seperti 'mau mati'. Kurogane tidak memotong maupun bertanya; dia terus diam dan mendengarkan, jemarinya mengusap pinggang Fai sesekali untuk memberi tanda bahwa dia mendengarkan dan membiarkan Fai menyelesaikan ceritanya dengan kemampuannya sendiri.
Lampu kembali dinyalakan ketika Fai sudah menghapus kering air matanya. Mereka menghabiskan panekuk sambil duduk bersamping-sampingan; reporter di televisi menyiarkan tentang krisis di negara-negara timur tengah.
"Kamu tahu, Kuro-chan," ujar Fai tiba-tiba, memecah kesunyian di antara mereka. "Mungkin aku memang orang dengan gangguan jiwa seperti katamu dulu..."
Mata merah mengerling padanya, menunggu.
"Mungkin semua ingatan tentang kehidupan lalu ini hanya ilusi. Mungkin aku benar-benar baru pertama kali bertemu denganmu di kafe itu dan membayangkan kalau aku sudah mengenalmu sejak lama."
"Tapi aku, di sini, bukan ilusi."
Fai mengangguk. Matanya kembali terasa panas.
"Tapi kamu bukan ilusi."
.
.
.
Kalau sebulan lalu Kurogane hanya menawarkan, kini dia memaksa Fai tinggal bersamanya selama Yuui belum kembali. Setelah empat panekuk itu habis, Kurogane mengantar Fai kembali ke apartemennya untuk berkemas dan mengabari kembarannya.
Yuui menangis saat Fai menelponnya. Rupanya kembarannya itu sudah hampir menelepon polisi untuk mengecek keadaannya. Namun dia langsung setuju saat Fai mengumumkan kalau dia akan tinggal bersama pacarnya.
"Boleh aku bicara dengan pacarmu? Aku ingin berterima kasih."
"Dan mengancam?"
Yuui tertawa. "Hanya memperingatkan, Fai, agar dia tidak macam-macam dengan setengah jiwaku tersayang."
Fai teringat komentar Yuui soal melupakan Kurogane dan sejenak merasa ragu, tapi tidak mungkin dia terus menyembunyikan Kurogane dari Yuui. Kembarannya, lebih dari siapa pun, berhak tahu tentang Kurogane. Jadi, diserahkannya telepon pada Kurogane yang tengah memerhatikan deretan pigura berisi foto-fotonya dan Yuui serta keluarganya di Lima. Fai nyaris tertawa saat Kurogane mengira sambungan terputus setelah dia menyebutkan namanya. Yuui pasti hampir pingsan di seberang sambungan begitu mendengar nama pacar kembarannya selama ini.
Ketika telepon kembali ke Fai, Yuui nyaris berteriak histeris.
"Fai—!"
Segera diputusnya sambungan telepon itu sebelum Yuui meminta penjelasan soal Kurogane dan menceramahinya panjang-lebar. Dari sofa, Kurogane memandangnya aneh.
"Kurasa kembaranmu nggak menyukaiku."
Fai terkekeh pelan lalu mencium lehernya. "Bagus. Berarti Kuro-wan hanya milikku."
Mereka memutuskan untuk tidak menaiki kereta subway dan memilih menyusuri jalanan Seventh Avenue, berjalan cepat bersama arus lalu-lintas pejalan kaki yang menyesaki jalanan. Kurogane mengayunkan kakinya tanpa susah-payah, tubuh meliuk dan mendesak secara otomatis, seolah dia bisa menyusuri jalan ini bahkan dengan mata tertutup. Fai membayangkan setiap hari beginilah cara laki-laki itu mencari berita: tangan terjejal ke dalam saku celana dan memasang tampang serius, mata merahnya yang tajam memerhatikan sekeliling dengan seksama.
"Kalau kamu terus ngelihatin aku dan bukannya jalanan, nanti bisa kesandung," gerutu Kurogane tanpa menoleh. Fai tersenyum dan mengaitkan tangannya di lengan Kurogane.
"Habis ini pertama kalinya kita kencan."
"Kita cuma jalan kaki pulang ke apartemenku," balas Kurogane datar.
"Kalau begitu, ajak aku kencan," ujar Fai kemudian. Napasnya sedikit memburu karena berusaha menjajari langkah Kurogane yang lebar.
Kurogane memutar bola matanya. "Memang mau kencan ke mana?"
"Ke mana saja. Nonton film, makan malam romantis, atau duduk-duduk di Central Park juga boleh. Aku bersedia bayar bagianku."
"Tipikal ABG," dengus Kurogane.
"Memang kencan yang bukan tipikal ABG bagaimana?"
Menyeringai nakal, Kurogane merangkul bahunya dan berbisik rendah di telinganya, "Kencan orang dewasa itu di atas kasur, di balik selimut. Semalaman."
"Kuro-mesum," gerutu Fai pelan.
Di luar dugaan, Kurogane tertawa, tawa yang begitu lepas hingga kepalanya tersentak ke belakang, dan Fai terpesona melihatnya. Laki-laki itu belum pernah tertawa saat bersamanya, apalagi karena nama panggilan yang biasanya hanya menghadirkan rengutan sebal di wajah tegasnya. Kurogane kemudian mengacak rambutnya sayang sebelum kembali merangkulnya.
"Kalau sudah selesai dengan liputan investigasi ini, kita pergi kencan."
