~Darkness Dragon Emperor : Clash of Dragons~

Author : Rheinhart

Disclaimer : Masashi Kishimoto & Ichie Ishibumi

Warning : Godlike! Issei, Semi-Excelsior! Naru, Seraph! Issei, Non-Devil! Issei, OC, OOC

Pair : Naruto x Serafall x Ophis selalu! Issei x …

~Entah Kapan~

"Kau cukup kuat, Ezekiel."

Pria berambut hitam dengan ikat kepala biru itu memujinya, sementara Seraph itu hanya mampu menatap kesal kepada sang lawan dalam keadaan tengkurapnya.

Tempat ini tadinya adalah sebuah hutan yang lebat dengan pohon-pohonnya yang rindang, juga sebuah danau kecil yang tenang. Sekarang lingkungan sekitar telah berubah sepenuhnya menjadi replika dari Neraka yang sebenarnya. Kawah berbagai ukuran bertebaran di segala tempat, danau yang sudah kering airnya, pohon yang telah berubah menjadi arang, langit siang tertutup sempurna oleh awan tebal berwarna kelabu.

Safir dan ungu dengan pola kepingan es saling memandang.

Yang safir menyimpan dendam, sementara ungu merendahkan.

Sang Malaikat Terkuat mulai berdiri, si Dewa Naga merentangkan tangannya seolah menantang.

Melesat secepat yang dia bisa dengan enam pasang sayap merpati berwarna perak sebagai pendorong, mulai melancarkan sebuah tebasan dengan pedang cahaya sebagai senjata.

PRANK!

Pedang berhantaman dengan tangan yang beralirkan Dragonic Power hingga menjadi sekeras berlian. Malaikat dengan jubah berlapis emas yang telah koyak sebagian itu terbang keatas, namun sang Naga mengambil inisiatif untuk menyerang ketika dia melesat ke angkasa.

"Yami Ryūdama!"

Bola hitam keunguan sebesar kasti tercipta di tangan kanan yang terarah ke Malaikat bersurai pirang, lalu dilesatkan dengan kecepatan suara.

Malaikat yang telah berbalik dan memandang kebawah menciptakan sebuah lingkaran sihir yang mengeluarkan sebuah gagang pedang berlapis emas permata, tanpa segan ditariknya pedang tersebut hingga tampaklah sebilah pedang bermata dua dengan ukiran indah terpahat pada bilahnya.

"Caliburn!"

JRASH!

Perlu tenaga ekstra untuk membelah bola secepat suara itu hingga menjadi dua dengan tebasan vertikal, Ezekiel terdiam beberapa saat dan membiarkan Ryūdama yang terbagi dua itu melwati kepalanya di sisi kiri dan kanan, dan meledak ratusan meter di hidrosfer.

DUARRRRRR

Awan mendung seketika diusir oleh dua buah gelombang kejut oleh ledakan kembar, seketika sinar matahari menerangi tempat tersebut setelah awan pergi. Rambut pirang acak-acakan itu bergoyang hebat begitu gelombang kejut dibelakangnya telah sampai di tempat ia berada, namun sedikitpun tubuhnya tak berubah ketinggiannya di angkasa.

"Pedang yang bagus!"

Gadis cebol berambut hijau memuji dari kejauhan, suara cemprengnya sampai di telinga Ezekiel walau samar. Malaikat itu tak mengindahkan pujian dari Azure Dragon, Lyl, dan lebih memilih untuk berfokus kepada sosok Darkness Dragon yang saat ini sedang bersidekap angkuh.

"Mari kita akhiri ini, Draco!" tegasnya, kedua tangannya memegang erat gagang Caliburn. Sang Dewa Naga hanya memberi senyum miring, namun dia menanggapi ucapan Ezekiel dengan sebuah tekanan energi yang mampu membuat Great Red sekalipun menjadi waspada.

"Aku, perlambang akan sisi kegelapan."

Darkness Dragon mulai merapalkan mantra [Full Force] miliknya. Kedua bola mata safir Malaikat itu menajam begitu aura ungu berkobar dahsyat disekitar raga lawan.

"Makhluk 'gagal' yang diciptakan oleh Tuhan dengan ketidakseimbangan."

"Sang Pembantai yang bersembunyi dibalik bayangan."

"Sang 'Mimpi' memujaku, sang 'Tidakterbatas' menjunjung tinggi."

"Dewa dari segala Naga dan tak terkalahkan."

"Kelak, akan kutuntun dunia menuju kegelapan abadi!"

"Akulah, Darkness Dragon yang menguasai segalanya dari dunia!"

"Mystical Dragonoid!"

"ROOOAAAGGGHHHHHHHHHH!"

Jika saja area ini tidak dipasangi kekkai oleh ribuan Malaikat, sudah pasti dunia terguncang hebat karena salah satu 'pilar'nya yang menunjukkan wujud aslinya.

Sirna sudah wujud pria bersurai hitam dengan pakaian layaknya warga biasa. Rambutnya menjadi abu-abu, baju sederhana tergantikan dengan armor full-plate naga berwarna hitam tanpa corak yang melindungi sekujur badan dengan pedang hitam tergenggam di tangan. Mata ungunya berpendar terang dibalik helm hitam legam yang terdapat sehelai bulu merak yang anehnya berwarna merah darah. Sebuah mahkota transparan berwarna ungu berpendar redup dan melayang-layang diatas kepalanya, itu adalah [Mahkota Naga], hanya Draco pemiliknya.

Inilah [Mystical Dragonoid] yang konon katanya dapat membuat Naga Dewa lainnya terlihat seperti anak kecil. Kekkai yang dibuat oleh ribuan Malaikat mulai retak karena tak kuasa menahan tekanan yang meledak-ledak didalamnya. Satu-satunya Naga yang tidak akan pernah bisa Samael curi kekuatannya.

Semua yang ada dalam wilayah kekkai berubah menjadi sarat akan energi mematikan yang mampu membuat Lucifer sekalipun pingsan di tempat. Mata safir itu mengarah kepada gadis loli berambut hijau yang terlindungi oleh kekkai ungu yang dibuat langsung oleh Draco supaya kekasihnya tidak sedikitpun terkena dampak dari terror kekuatannya, sungguh perhatian.

"Majulah."

"Kalau begitu…"

Ezekiel melepaskan genggamannya pada Caliburn, yang secara ajaib menjadi melayang-layang didepan penggunanya, tangan kanan Malaikat muda itu terangkat tinggi-tinggi ke angkasa.

"Aku juga akan serius."

"Atas restu-Nya…"

"True Form : Perfect Paladin of Seraph!"

Sang Seraph kesebelas mengeluarkan wujud aslinya.

~Clash of Dragons~

~Kelas 2-B~

"True Form : Perfect~"

Duaghh!

"Hyodou-kun! Kau tidur lagi waktu jamku?"

Selepas sebuah kapur melesat dan bersarang di kepala coklatnya, sensei perokok itu melontarkan sebuah pertanyaan retorik sambil menggelengkan kepala pelan. Dia adalah Azuma-sensei, pengajar mata pelajaran matematika.

"Maaf, Azuma-sensei," ucapnya pelan sambil menggaruk belakang kepala yang tak gatal, disambut dengan gelengan seluruh kelas, terkecuali si kuning yang saat ini…

"Sensei! Naruto juga tidur juga!"

Telat, Hyodou Issei sudah mengatakannya juga, bahkan sampai menunjuk-nunjuk Naruto. Satu kelas sweatdrop karena kejadian maling teriak maling ini.

Duagh!

"Ittei!"

Lemparan kedua mengenai kepala telak, bahkan sang empunya hingga mengaduh kesakitan. Kali ini sang pelaku pengaduan – Issei- mengalihkan kepalanya ke jendela, pura-pura tak tahu apa-apa.

"Na-ru-to-kun."

Dan, Naruto hanya bisa berkeringat dingin ketika sensei-nya memangil namanya dengan nada terputus-putus dan seringai layaknya penjagal maut.

'Bukan urusanku.'

Ting Tong Ting Tong

Beruntungnya, bel istirahat berbunyi untuk menyelamatkan Naruto dari mautnya.

"Baiklah kalau begitu, sampai bertemu di pertemuan selanjutnya, anak-anak."

Lalu kelas bubar. Semua siswa maupun siswi keluar dari penjara masa muda itu dan berhamburan menuju ke kantin ataupun menemui teman mereka, hingga hanya tersisa beberapa makhluk hidup di dalam kelas yang menjadi sepi tersebut.

Hyodou Issei.

Manusia pertama yang kekuatannya sendiri melebihi [Sacred Gear] yang bersarang di tubuhnya.

Tubuh baru – atau lebih tepatnya reinkarnasi - dari Paladin Seraphim, Ezekiel. Malaikat yang mampu bertarung imbang melawan Darkness Dragon dalam mode [Mystical Dragonoid] selama satu jam penuh sebelum akhirnya tumbang, namun masih selamat.

"Ini… membosankan," ucapnya, diiringi dengan sebuah uapan dari mulutnya. Pemuda itu merasa kebosanan, namun malas untuk menjalin dialog dengan beberapa orang yang masih tinggal di kelas. Dia bisa saja berbicara dengan Ddraig yang saat ini sedang menghuni tubuhnya, tapi tidak dilakukan karena itu adalah hal yang merepotkan.

Pada umumnya, Naga adalah makhluk dengan harga diri tinggi, terutama jika dia memiliki gelar yang cukup tinggi seperti [Heavenly Dragons], dan Ddraig sombongnya selangit.

Kryuuuk~

Oke, perutnya keroncongan dan butuh diisi. Beranjak dari tempat duduknya, dia berjalan kemudian dan meninggalkan kelasnya. Berjalan di lorong dan kadang bersisihan dengan beberapa orang popular seperti Toujo Koneko si adik kelas, Yuuto Kiba si bocah tampan, hingga Himejima Akeno si dada super.

Manik coklatnya yang tampak tidak bersahabat dan dingin itu terus mengarah ke depan, tak sedikitpun menghiraukan gadis-gadis yang kadang mencuri-curi pandang kepadanya. Sekian lama hidup sendirian tanpa kawan, membuatnya dingin kepada lingkungan sekitar.

Hyodou Issei yang dikenal akademi penuh godaan dan maksiat bernama Kuoh Academy adalah sosok irit kata dengan mata sedingin es, susah didekati, pribadi cerdas – walau masih berada jauh dari Naruto yang memang terlahir jenius -, juga banyak hal lainnya yang membuat dia dijuluki lone wolf.

~Kantin~

Ramai.

Luas.

Banyak gadisnya.

Membeli sebuah tiket makanan dari mesinnya, lalu berjalan menuju antran pengambilan makanan tanpa sepatah kata yang diucapkan. Antreannya tidak terlalu banyak, jadi tak butuh waktu yang lama baginya untuk mendapatkan seporsi udon biasa.

'Mana meja yang kosong?' batinnya sambil celingukan ke kanan dan kiri, itu memakan waktu yang singkat karena kebetulan terdapat meja yang baru saja ditinggalkan oleh beberapa murid.

"Ittadakimasu."

Lalu bersiap untuk memasukkan adonan tepung tersebut ke dalam mulut, dan sialnya ada seseorang yang duduk di meja yang sama dengannya hingga membuat kegiatan santapnya harus dihentikan sejenak untuk mengetahui siapa gerangan orang di depannya.

"Gremory-senpai," ucapnya seperlunya, sosok yang disebut namanya hanya tersenyum simpul, kemudian memulai menyantap seporsi katsudon.

"Ittadakimasu!"

Dalam kegiatan bersantap yang dilakukan Issei, ada saja beberapa siswa ataupun siswi yang histeris di belakangnya, dahinya sedikit berkedut karena ketenangan yang gagal didapatkan.

"Beruntung sekali si Hyodou itu!"

"Ah, sial! Aku juga mau duduk satu tempat dengan Rias-senpai!"

"Kyaaa! Rias-oneesama duduk dengan Hyodou-senpai!"

'Berisik, kampret! Ditambah lagi aura iblis ini membuat nafsu makanku lenyap!'

Kegiatan menyantap makanannya menjadi dua kali lebih cepat dan dia pergi dengan segera setelahnya.

"Sampai jumpa, Gremory-senpai."

Dan beranjak pergi. Meninggalkan si Gremory yang melemparkan sebuah senyuman kearahnya.

'Itukah sang Sekiryuutei? Sungguh menarik.'

.

"Bagus. Karena aura bodohmu, identitasku sebagai Sekiryuutei ketahuan," gumamnya, walaupun dia tahu Naga Merah yang satu itu tidak akan membalas ucapannya karena saat ini sedang tertidur. Kedua kakinya terus melangkah di pinggir trotoar dengan satu tujuan pasti ; rumah. Kelas telah usai seperempat jam yang lalu, dan diperlukan waktu setengah jam berjalan kaki untuk menuju ke tempat dia tinggal.

Ini baru setengah perjalanan pulang. Taman yang sudah tak terpakai lagi itu adalah penanda baginya untuk mengetahui sudah sejauh mana dia berjalan. Taman ini letaknya sama jauhnya, baik dari rumah maupun sekolah, tepat diantara keduanya.

'Tch. Kenapa aku harus dibuntuti oleh dua Iblis itu?'

Dia berbatin dan sempat berhenti sejenak, lalu duduk di salah satu bangku yang ada di taman tersebut. Dia tidak akan pergi ke rumahnya sekarang, setidaknya untuk saat ini.

'Bisa gawat jika mereka tahu ada Gabriel di rumahku.'

Sementara di lain tempat, dua orang gadis dengan surai merah dan hitam bersembunyi dibalik pepohonan serta semak belukar sedang menunggu dengan sabar. Mengawasi sang target yang saat ini duduk santai di bangku taman dengan penuh tanda tanya di kepala keduanya.

"Ne, buchou. Apa yang dia lakukan?" Dia berbisik pelan kepada si gadis merah, namun dia hanya mendapatkan sebuah gelengan pelan.

"Entahlah, Akeno. Apakah mungkin dia tahu kalau kita membuntutinya?"

Akeno hanya menggelen pelan, kemudian menjawab dengan pelan.

"Tak mungkin ada manusia yang bisa mengetahui keberadaan kita dalam jarak sejauh ini."

Di tempat semula, Issei hanya sweatdrop ria dengan kebodohan dua Iblis betina itu. Dia masih berada di tempat semula, hingga muncul lagi satu makhluk kampret yang berniat untuk mengusik ketenangannya.

Tap

Tap

Tap

Tidak se-seksi Gabriel.

Dadanya juga tidak sebesar Gabriel.

Sayapnya tidak sebanyak Gabriel.

Gadis itu juga tidak secantik Gabriel.

Dan Issei bingung mengapa menggunakan Gabriel yang notabene gadis tercantik di surga dijadikan pembanding dengan Malaikat Hina yang pangkatnya tidak seberapa seperti yang ada didepannya. Baiklah, setidaknya gadis berambut hitam itu terlihat cukup menarik dengan balutan baju sensualnya.

"Hei, manusia."

'Iya, manusia disini.'

"Sebelumnya, aku ingin meminta maaf karena harus membunuhmu."

'Iya, aku terima permintaan maafmu. Cepatlah bunuh aku kalau kau bisa.'

"Matilah!"

'Iya, aku akan mati. Jadi pergilah segera.'

Sayap hitam Malaikat Jatuh itu mengepak, lalu sosok gadis itu dengan cepatnya melesat menuju kearahnya dengan berbekal sebuah tombak dari cahaya sebagai alat penyerang.

Tap

Semua mata yang melihat ini hanya dapat membulat untuk memperlihatkan keterkejutannya, Issei dengan hanya berbekal jari telunjuk dan ibu jari, ujung tombak dari cahaya itu langsung dapat dihentikan. Issei hanya menguap bosan, dia saat ini masih terduduk santai di bangku dengan tangan kanan masih lurus kesamping dengan santaina, sementara tangan kirinya terangkat guna menghentikan laju tombak.

"Sudah selesai?" tanya Issei, gadis itu sepertinya masih terkejut.

'Kesempatan emas!'

Duagh!

"Kyaaa!"

Bregh!

Issei menjegal kaki gadis itu hingga ambrek ke tanah! Tak lupa tombak cahaya yang telah berpindah kepemilikan saat ini tengah terhunus di leher gadis itu dengan dekatnya.

"Jika tak ingin mati, jangan bergerak," ucap Issei datar, sang gadis yang telah menciut nyalinya hanya dapat menatap Issei dengan takut. Detik selanjutnya, wajah datar itu tergantikan oleh wajah mesum dan seringai kemenangan.

Tangan kanan yang sedaritadi sibuk berleha-leha sekarang mulai menunjukkan aksinya.

Gyuut

"Kyaa! A-apa yang kau lakukan?!"

Gadis itu memprotes tindakan Issei, yang tiba-tiba saja meremas payudaranya dengan tangan kanan. Issei hanya memasang seringainya.

Gyuut

"I-engh! Itu sensitif-ah!"

Gyuuut

Gyuut

"Aah! L-lepaskan tangan hinamu dari dadaku-engh!"

Gyuut

Issei terus meremas gadis itu! Sang gadis hanya mendesah keenakan dan air mata mulai mengalir dari netra! Sementara kedua Iblis yang jadi mata-mata telah jatuh rahangnya melihat aksi bejad nan nista dari pemuda yang dikira dingin tanpa nafsu dan hasrat.

Setelah kejadian remas-meremas dada.

"Sampai jumpa lain kali!" ucap Issei kegirangan, tangan kanannya melambai-lambai kepada sang Malaikat Jatuh yang saat ini sedang terbang menjauh dengan wajah memerah dan air mata yang senantiasa mengalir.

"A-aku tidak akan melupakan ini, MANUSIAAAAAA! Aku balas itu lain kali-hiks hiks!"

'Wow, sekejam itukah aku hingga dia sampai menangis? Terserah, salah sendiri mau cari gara-gara denganku,' batinnya tak peduli, tangan kirinya saat ini sibuk bermain-main dengan tombak cahaya yang saat ini telah menjadi miliknya.

Ia akan beranjak pergi, tubuhnya berbalik dan kakinya mulai melangkah dengan tombak cahaya yang dimain-mainkan di depannya. Namun, dia saat ini sedang sial karena tanpa diketahuinya, kakinya menginjak sebuah kulit pisang dan diapun terpeleset kedepan dengan tombak yang sedang dalam posisi strategis untuk menusuk.

'Kampret! KUSOOOOOOOOOOOOOOOO!'

Jleb

Perutnya tertusuk oleh [Light Spear] yang dia jadikan mainan, darahnya meluber keluar dari tempat dimana tombak cahaya itu mendarat. Inikah yang namanya senjata makan tuan ataupun karma? Issei telah mencobanya sendiri. Sepertinya pemuda itu akan bermalam disini karena tubuhnya akan kaku seperti mayat dan baru akan sembuh sepenuhnya di keesokan hari.

'Aku tidak akan mati dengan tombak itu…'

'Namun yang aku khawatirkan adalah kedua Iblis itu!'

Tepat seperti dugaannya, lingkaran sihir berwarna merah tercipta beberapa meter didepannya. Keringat mulai membasahi wajah pemuda itu, dia sudah tahu kemungkinan terburuk apa yang akan terjadi nantinya.

'Gabriel!'

Dia harus cepat memanggil bantuan sebelum semuanya terlambat!

'Gabrieeeelllll! TOLONG AKUUUUUU!'

Tidak ada respon dari orang yang numpang di rumahnya! Dia harus mencari bantuan lainnya!

'Michael? Raphael? Ramiel?! Metatron! S-siapa saja! Selamatkan akuuuuuuuu! Ada Iblis mau main budak-budakan!'

'DASAR PENGKHIANAT! AWAS SAJA KALIAN NANTI! AAARGGHHHHH!' Issei frustasi dengan nasibnya.

"Kalau kau mati, aku akan mengambilmu."

Itu suara Rias, Issei menangis bombay dalam posisi tengkurapnya.

Brath!

Sepasang sayap kelelawar terbuka dengan lebarnya, seolah menunjukkan kepada siapapun bahwa dia adalah sosok yang tinggi.

'Aku belum mati, bahlul! Juga, jangan pamerkan sayapmu kepadaku!'

"Kau akan… menyerahkan hidupmu untukku."

'KUSOOOOOOOOOOOOOOOO!'

Dan, diapun direinkarnasi menjadi Iblis di hari itu juga. Seharusnya reinkarnasi tidak dapat dilakukan karena Issei masih hidup dan bahkan berkemauan kuat untuk menolaknya, tetapi takdir berkata lain dan memperpanjang daftar misteri Evil Pieces yang terjadi di saat ini.

Ezekiel has joined to Gremory party!

~Keesokan harinya, hiks!~

"Ezekiel. Buka! Aku minta maaf karena telat menyelamatkanmu…"

"Tidak! Aku telah menjadi Iblis!"

"Eze-"

"TIDAK! Pergi kau, Gabriel!"

Dan gadis pirang itu hanya dapat mengurut dahinya pelan melihat sifat dari Ezekiel di tubuh barunya. Ia memilih untuk menyerah dan berhenti mengetuk pintu kamar Hyodou Issei dan beranjak ke dapur.

Dia adalah Gabriel, satu dari empat Archangel yang saat ini sedang bebas tugas. Satu dari beberapa Seraph yang ingatannya tidak dihapuskan mengenai peristiwa Heavens Fall ataupun eksistensi Ezekiel, dimana tujuh surga berhasil diremukkan dan terbunuhnya Malaikat itu oleh Darkness Dragon.

Pasca Heavens Fall, terjadi penghapusan ingatan masal yang dilakukan oleh Tuhan, hingga membuat peristiwa tersebut seperti tidak pernah terjadi. Hanya ada belasan Seraph yang telah kembali dihidupkan saja yang diberitahu mengenai peristiwa yang menewaskan seluruh Malaikat di Surga, walaupun semuanya dihidupkan kembali dan surge kembali seperti semula, sih.

Pada peristiwa itu, satu-satunya korban jiwa yang tidak dihidupkan adalah Ezekiel. Dia sedang dalam keadaan koma setelah bertarung habis-habisan dengan Draco beberapa tahun yang lalu dan tidak pernah menunjukkan tanda-tanda akan sadar dalam waktu dekat.

Lalu seribu tahun kemudian, ulala! Ezekiel direinkarnasi menjadi seorang manusia bernama Hyodou Issei.

Nah, sekarang dia sedang tinggal bersama dengan pemuda itu, beruntung kemarin identitasnya tidak diketahui oleh kelompok Gremory karena saat itu Gabriel sedang berada di Surga untuk menghadiri pertemuan dengan Seraph lain. Dan saat ini sibuk dengan nasi goreng yang dia buat khusus untuk Issei, dia membolos sekolah dan semenjak tadi pagi belum makan sedikitpun.

Dua puluh menit kemudian, jadilah sepiring nasi goreng dengan telur dadar sebagai lauk dan sayur-sayuran yang menghiasinya. Ditaruhnya piring tersebut diatas nampan yang terdapat segelas susu untuk diberikan kepada Issei, sebelum…

"G-Gabrieel! Kemari!"

"Ha'i! Tunggu sebentar!"

Tak ingin menghabiskan waktu lebih lama dalam keadaan membatu, dia bergegas menuju ke kamar Issei berada, dengan sebuah nampan berisi nasi goreng dan segelas susu diatasnya.

Ketika kamar yang terletak di lantai dua itu dia putar kenopnya dan ia dorong pintu tersebut, cahaya perak yang menyilaukan mata bersinar terang dengan Issei sebagai pusatnya. Safir gadis itu membola, nampannya bergoncang ketika mendapati sosok didepannya bukan lagi pemuda bersurai coklat, melainkan pirang dengan mata safir dan enam pasang sayap perak berada di punggungnya.

"E-Ezekiel?!"

"Hebat bukan…?"

"Bukannya mengubahku menjadi Iblis, malah Evil Pieces itu mengembalikan kekuatanku sampai seperti ini…"

Issei mengantungkan kata-katanya.

"Ini Evil Pieces atau Brave Saints, sih? Terserah."

Ketika sayap perak tersebut kembali hilang, Issei telah kembali ke wujud semula. Tanpa setitikpun kekuatan Demonic Power yang mengalir di raga.

"Inikah yang dimaksud Ayah bahwa Dia akan menjaga kemurnianku hingga hari akhir datang?" tanya Issei yang tentu saja tidak dijawab oleh Gabriel yang saat ini masih terkagum-kagum dan belum kembali dari kesadarannya.

Hari itu, adalah pertama kalinya Evil Pieces gagal mereinkarnasi seseorang menjadi Iblis dan malah mengembalikan kekuatan penuh dari sosok Issei. Tetapi masalahnya, apa yang akan si rambut merah itu lakukan jika mengetahui pionnya adalah seorang Malaikat?! Gah! Pikiran Issei kacau sendiri, lebih baik dia pikirkan itu di esok hari.

Mungkin.

TBC

Yooo, makhluk nista sekalian! Mau tahu kenapa aku kgk apdet? Jawabannya simple, aku lagi kena WB dan seret inspirasi :"v mana laptop utama ane rusak pula layarnya! Mungkin ane akan kembali lagi waktu 30 April, tepat di hari ultah ane sendiri.

"Hahahahahahaha! Aku kembali jadi Malaikat, hahahahahaha!"

"Heh, tunggu. Memang bisa menjadi Malaikat jika direinkarnasi menjadi Iblis?"

"Hei! Kekuatanku memang kembali, namun bukan berarti efek direinkarnasi menjadi Iblis tidak ada!"

"Itu artinya... aku tetap saja jadi Iblis."

"Kulit pisang kampret!"

Bye~~

Rheinhart : Istighfar banyak-banyak!