Desclaimer : Masashi Kishimoto
5 day with stranger
c
c
c
"Terimakasi ya sudah datang Naruto... Maaf aku malah merepotkanmu, aku tidak bisa titipkan Sakura pada siapapun selain padamu" Kushina menerima sebuah matel tebal dari adik iparnya.
"Tidak masalah Kushina-nee... Kapanpun kau perlu, aku akan datang untuk membantumu... Jangan sungkan ya!" Jawab pemuda tampan yang masih berdiri di depan sofa.
"Syukurlah kalau begitu, aku mengandalkanmu. Kau memang sangat baik adik ipar..." Kushina mempersilahkan Naruto untuk duduk sejenak. Keramahan Kushina pada Naruto tak berubah semenjak terakhir kali mereka bertemu. Dan tentu Naruto masih merasa nyaman dengan keramah-tamahan mantan kakak iparnya ini.
Naruto berpikir, kakak laki-lakinya sungguh bodoh sampai mau meninggalkan wanita sebaik Kushina. Keputusan Minato yang memilih berpisah dari Kushina masih membuat Naruto heran, hanya karena kecemburuan yang belum tentu kebenarannya, Minato malah dengan mantap meminta pisah dengan Kushina.
Kakak Naruto, memang termasuk tipikal orang yang mudah termakan hasutan orang lain. Hanya karena rumor yang ia dengar tentang, Kushina yang katanya 'berselingkuh' dengan teman sekantornya. Minato jadi gelap mata dan menyulut pertengkaran hebat dengan Kushina.
Akhirnya karena keduanya berpegang teguh pada prinsip dan ego masing-masing, perceraian'pun menjadi jawabannya. Agar mereka bisa hidup dengan tenang dijalannya masing-masing.
Padahal jika dipikir-pikir, pernikahan kakak laki-lakinya itu terhitung sangat awet dan harmonis. Tapi apalah daya karena ada rumor 'orang ketiga' diantara keduanya. Perpisahan tidak bisa dielakkan. Naruto sendiri tidak mau ambil pusing lagi dengan urusan orang dewasa ini. Yang ia tau, ketika Minato atau Kushina memerlukan bantuanya maka Naruto wajib ada, untuk menolong mereka berdua sebagai adik ipar yang baik.
Remaja itu nampak kedinginan setelah tiba di kediaman Kushina. Ujung hidungnya yang mancung bahkan kelihatan memerah seperti hudung badut. Tak salah bila Naruto sampai menggigil begitu, sebab Kushina meminta Naruto untuk datang ke rumahnya tepat pukul 3 dini hari.
Kushina memang gila karena menyuruh Naruto bertamu ke rumahnya, ditengah-tengah waktu subuh begini. Tapi Naruto tidak bisa menolak permintaan kakak iparnya, yang meminta dirinya untuk menemani Sakura saat ibunya akan pergi ke Shibuya selama kurang lebih 6 hari lamanya.
Saat Naruto duduk di sofa, Kushina menawarinya minuman hangat dan tentu pemuda itu tidak menolak tawaran baik dari Kushina.
Naruto memang memerlukan sesuatu yang hangat untuk menghentikan gemeretuk giginya sehabis ditusuk oleh angin subuh yang nakal.
"Tunggu sebentar ya Naruto... Akan aku buatkan susu coklat panas dulu untukmu"
"Baiklah Nee-san.. Tapi minumannya jangan terlalu manis ya" Ucapnya dibarengi senyuman khas yang sangat manis.
"Iya.. iya..."
Sembil menunggu minuman hasil karya Kushina jadi, Naruto duduk santai diatas sofa. Sesekali ia mengatupkan tangannya didepan bibir, meniup dan menggosok secara perlahan kedua telapak tanganya untuk mendapatkan kehangatan.
"Sial dingin sekali..." Desis Naruto.
"Hai-hai... Ini minumlah dulu, maaf kalau aku membuatkanmu susu coklat milik Sakura... Aku tidak berani membuatkanmu kopi" Kushina menaruh segelas penuh susu coklat dihadapan Naruto.
"Tidak masalah.. Terimakasi ya Nee-san ini saja sudah cukup kok" Dengan cepat Naruto menyesap minuman yang Kushina buat.
"Hehe... Itu susu pertumbuhan, Sakura sangat terobsesi untuk tumbuh lebih tinggi" Sahut Kushina dengan sedikit cengengesan.
"Iya... Aku tau Nee-san, pasti karena turnamen itu. Sakura selalu terlihat bersemangat di sekolah"
"Sakura itu gadis yang tidak bisa diam..." Lanjut Kushina.
"Kau benar Nee-san, Sakura memang orang yang tidak bisa diam... Oh iya, ngomong-ngomong jam berapa kakak ipar akan berangkat?" Tanya Naruto.
"Hmm... Harusnya sih, taksi yang aku pesan sudah tiba sekarang" Kushina melirik jam tangannya. Wanita beranak satu itu sebenarnya sudah siap untuk berangkat ke Shibuya.
Kushina sengaja memilih berangkat ke Shibuya saat masih subuh untuk menghindari macet. Dan memang ia ingin tiba di Shibuya tepat pukul 6 pagi. Salahkan saja acara kantornya yang katanya akan dimulai saat matahari baru menyembul. Jadi jam 6 pagi rasanya waktu yang pas untuk sampai disana.
"Biar aku bantu untuk membawa tasmu kakak ipar" Kushina melarang Naruto untuk membantunya ketika sebuah klakson berbunyi dari arah luar rumah.
"Tidak usah, aku hanya membawa dua ransel... Kalau begitu aku berangkat dulu, Naruto aku titip rumah ini dan Sakura padamu ya... Dan aku juga sudah siapkan uang bekal untuk kalian berdua di laci dekat kulkas. Jangan boros ya!!! Sampai jumpaaaa!!!" Kushina benar-benar pergi dengan menenteng dua tas ransel yang mengembang besar karena diisi terlalu penuh.
Naruto tak sampai hati hanya melihat kakak iparnya menggotong tas tersebut. Akhirnya Naruto memaksa untuk membantu, dan Kushina mempersilahkannya.
"Terimakasih Naruto"
"Sama-sama Nee-san"
Blam!...
Pintu taksipun tertutup.
"Sampai jumpa... Oh iya Naruto! Aku hampir lupa tolong nanti kau bangunkan Sakura jam 6 pagi ya. Lalu langsung suruh dia untuk mencuci semua pakaian kotornya, karena aku menghukumnya untuk mencuci dan membersihkan seisi rumah" Kushina berpesan melalui kaca dalam mobil sebelum ia berangkat.
"Ok! Akan aku beritahu dia nanti.. Hati-hati dijalan..."
Brummmmmm!...
Mobil taksi pun melaju meninggalkan areal komplek perumahan. Naruto memeluk tubuhnya sendiri, ia lupa jika dirinya tidak memakai jaket saat keluar rumah. Dan sekarang tubuhnya kedinginan.
Dengan langkah seribu yang cepat. Naruto lantas memasuki rumah milik kakak iparnya lalu mengunci pintunya dari dalam.
Naruto bernapas lega. Ia segera menghidupkan pemanas ruangan yang ada. Naruto sudah hafal betul setiap sudut rumah milik Kushina, karena dulu saat kakaknya masih menjadi suami sah dari Kushina. Naruto sempat tinggal selama setahun dirumah ini. Karena itulah juga, Naruto cukup akrab dengan Kushina dan Sakura.
"Hm... Foto ini masih di pajang juga?" Karena merasa iseng, Naruto melangkah ke arah lemari tv, di samping tv terdapat hiasan foto-foto pemilik rumah dan salah satu dari foto-foto itu sukses menarik perhatiannya.
Senyum simpul lelaki tampan itu mulai terpatri dengan jelas. "Apa aku terlihat selucu itu?" Gumamnya pada diri sendiri.
Karena di foto yang ia lihat itu terdapat gambar dirinya dan Sakura saat masih berusia 5 tahun, yang sedang menaiki komidi putar (permainan kuda-kudaan yng berputar) di pasar malam, wajah Sakura terlihat senang sambil menatap kedua orang tuanya yang sedang mengambil gambar dirinya. Lain halnya dengan Naruto yang ikut naik komidi putar sambil menangis bombai, karena ia sangat takut pada sensasi naik-turun dari mainan komidi putar itu.
"Hmm baiklah..." Selesai bernostalgia. Naruto memilih untuk membenahkan seluruh barang bawaannya. Ia diberikan mandat untuk menginap di sini, selama kurang lebih 5 atau 6 hari oleh Kushina selagi wanita itu melakukan perjalanan bisnisnya, bersama teman-teman kantornya.
Kushina sendiri memberikan fasilitas kamar pribadi untuk Naruto, tempatnyan sih berada tepat di sebelah kamar putrinya. Kamar itu memang sempat menjadi kamar milik Naruto saat remaja itu tinggal bersama kakak laki-lakinya di rumah ini.
Sesampainya di kamar, Naruto cukup terkejut. Seluruh barang yang ada di kamarnya ternyata ditutupi oleh kain putih. Mungkin maksudnya agar barang-barang yang memang dibiarkan ada di sana. Tidak sampai tertutup langsung oleh debu.
Dan terpaksalah Naruto harus membersihkan kamarnya dulu sebelum menempatinya.
ccc
Skip
ccc
Kurang lebih selama 20 menit, akhirnya Naruto selesai membenahi bawaannya dan menata ulang kamar lamanya.
"Rupanya masih jam setengah lima pagi"
Sambil berdecak pinggang didepan cermin. Naruto melipat lengan bajunya yang panjang sampai sebatas siku. Melakukan kegiatan bersih-bersih di saat subuh ternyata mampu memancing sedikit keringat untuk keluar dari pori-pori tubuhnya. Tapi, hal itu tidak sampai bisa membuat dirinya merasa terlalu gerah.
"Apa Sakura masih tidur ya?" Tanyanya pada diri sendiri.
Akhirnya Naruto terhenyak. Ia mengingat adanya satu makhluk lain yang juga tinggal dirumah ini.
"Akan aku pastikan dulu..." Naruto beranjak lagi.
Naruto lalu melangkah menuju ke kamar keponakan kecilnya, yang rupanya hanya terpaut usia lebih muda satu tahun darinya.
Usia Sakura saat ini masih 17 tahun dan gadis itu masih kelas 1 sma. Sedangkan Naruto, ia baru berusia 18 tahun jalan. Parahnya lagi baik Sakura maupun Naruto, mereka bersekolah di tempat yang sama.
Naruto lahir satu tahun sebelum kakak laki-lakinya menikah, yah bisa dibilang kedua orang tua Minato kebobolan saat bermain di atas ranjang, dan terciptalah Naruto kecil kedunia.
Karena ketidaksengajaan itulah, Naruto mendapat limpahan kasih sayang penuh dari kedua orang tuanya. Selepas Minato menikah dengan Kushina dan memilih untuk meninggalkan rumah aslinya.
Ceklekkk!... Grekekkk!...
Naruto menggembungkan pipinya cukup gemas. Pintu kamar Sakura masih terkunci. Tapi setelah ia menunduk, Naruto jadi malu sendiri. Rupanya ia tak melihat sebuah kunci yang bergelantungan bebas pada knop pintu itu.
"Dasar..." Desisnya dongkol setelah menyadari ketidakpekaannya.
Ceklek... krieeettttt...
Pintu pun sukses terbuka!
"Kenapa desain kamar ini dibuat sangat imut dan feminim?? Padahal pemiliknya terlihat semakin bertambah tomboy setiap hari..." Naruto bermonolog cukup pelan. Takut bila si pemilik kamar mengetahui keberadaanya.
"Ahhhh..." Naruto berdiri didekat ranjang sambil mendesah.
Lalu ia menunduk begitu sangat rendah, guna meneliti wajah Sakura yang masih tertidur pulas dengan posisi berbaring ke samping. Tepat menghadap ke arah Naruto yang masih berdiri.
"Ishh... Sejak kapan dia terlihat cantik saat tidur? Mataku pasti sudah rabun!" Cukup lama Naruto menunduk melihat wajah teduh Sakura yang tertidur.
Karena tak terima dengan kenyataan Sakura yang terlihat cantik saat tidur. Narut'pun lantas berjongkok, dengan pandangan yang masih terpaku penuh menatap wajah gadis itu.
"Bukan cantik! Tapi dia imut..." Koreksinya setelah kedua kornea sapphire itu memicing tajam saat melihat wajah keponakannya yang polos plus lugu ketika tidur.
"Nah, baiklah..." Akhirnya Naruto berdiri menyudahi aksi menatap wajah tidur keponakannya yang sudah lama tidak ia lihat. Naruto lalu melirik jam kecil di atas nakas.
"Sial sekarang masih jam lima pagi!~" Dengusnya agak sedikit gusar. Rasa kantuk mulai menyerang tapi Naruto masih bisa menahannya. Sepertinya jika Naruto melanjutkan tidurnya di kamar, hal itu akan bisa memulihkan staminanya.
Dengan sedikit senyuman, Naruto lantas berbalik hendak ingin meninggalkan kamar Sakura. Tapi setelah 3 langkah maju. Naruto tiba-tiba berhenti, dan berbalik lagi ke belakang. Ia menatap ranjang yang ditempati oleh dengan tatapan penasaran.
"Kelihatannya akan menyenangkan... Aku masih punya banyak waktu, kkkkkk~..." Seringai nakal tiba-tiba tercetak jelas di wajahnya. Entah apa yang ada di pikiran Naruto saat ini. Tapi yang jelas orang lain pasti akan segera paham dengan gelagat mencurigakan dari remaja sintal itu.
ccc
jangan lupa... lupa jangan...
