'Always Beside You'

Genre: Romance

Author: Zemma Ibam

A/N : Anneyong! Zemma imnida. Sebenarnya chap 2 udah Zemma publis tapi karena ada sedikit masalah, dengan sangat teramat sangat (Readers:duh ribet bgt sih loe, langsung aja napa!*plakk, Brukk Zem dilempari sendal satu karung sama readers* Zemma: mungutin tuh sandal terus jual ke tukang loak. Hahaha #tersenyum nista# iya, iya mian. lanjut!) Zem HAPUS *sedih sangat pada saat itu* sekarang Zem publis lagi, terus Zem perbaiki biar lebih bagus & enak dibaca para reders *readers; tetep aja jelek & bikin mata sakit*. Sudah lah bincang-bincangnya cukup sampai disini nanti kita sambung lagi. Ntar ceritanya gak jalan-jalan(?). sekarang mari kita bersiap untuk ke TKP(?)

Upss hampir ketinggalan, Mohon bantuannya ya, Zem kan masih newbie.^^

.

.

.

"Chullie, aku ingin ketika aku pergi nanti aku berada dalam pelukannya dan sambil menggenggam erat tangannya." Ucap Jungsu yang tak menyadari akan kehadiran sang namjachingu yang sedari tadi terus ia dan Heechul bicarakan.

Chapter 2

Kangin POV

Betapa terkejutnya aku ketika mendengar penuturan dari angel sekaligus namjachingu yang paling kucintai saat ini. Sebegitu ingin kah ia pergi meninggalkanku. Apa tidak ada harapan lagi untukku dan dia bersama lebih lama.

"Apa yang kau katakan Jungsu? Memangnya kau ingin pergi ke mana?" tanyaku pada Jungsu dengan nada dingin. Namun di balik nada dingin yang keluar dari mulutku terselip rasa sakit yang ku rasa.

End Kangin POV

.

.

Jungsu POV

Karena sedari tadi aku duduk sambil melihat ke arah luar jendela bersama Heechul yang sudah pasti kami membelakangi pintu masuk kamar. Sehingga kami tak menyadari dengan kehadiran Kangin saat ini.

Aku sungguh tak mengira jika ia akan secepat ini kembali ke kamarku. Oh, ayolah Park Jungsu, bukankah tadi ia sudah berjanji akan segera kemari setelah pemerisaan yang dilakukan Kahi selesai (di chap1).

Namun tak pernah terpikir olehku ia akan secepat ini berdiri dihadapanku dengan wajar datar yang hanya akan kulihat ketika ia marah. Selain itu ia juga bertanya dengan nada dingin yang langsung menusuk perasaanku.

Tak biasanya ia berbicara dengan nada dingin seperti ini padaku. Apa ia marah?

Walau sangat takut tapi aku tetap berusaha berbicara dengannya. "Kang-… kangin… se-.. sejak kapan kau disana?" tanyaku terbata, tentu saja karena aku sangat gugup dan takut melihat raut wajah dingin yang ditunjukkannya.

Normal POV

.

Kangin menatap Jungsu 'dalam' , ada kilat(?) marah, kecewa dan perasaan sakit dalam tatapan 'dalam' yang Kangin tunjukan. "Jangan balik bertanya Jungsu, jawab saja. Kau ingin pergi ke mana?" tanya Kangin masih dengan ekspresi dan nada yang dingin.

Jungsu yang mengetahui ada perasaan marah, kecewa dan rasa sakit dalam tatapan yang Kangin tunjukan hanya bisa menundukan kepalanya. Merasa bersalah, tentunya. Siapun pasti akan merasa bersalah telah mengucapkan yang Jungsu ucapkan tadi apalagi hal tersebut diketahui oleh kekasih hati kita. "It-… itu… ak-… aku.. aku hanya…" jawab Jungsu terbata dengan kepala menunduk, takut menatap mata Kangin.

"Hanya apa PARK JUNGSU?" tanya kangin dengan nada yang lebih tinggi sontak membuat Jungsu terkejut dibuatnya.

"Kangin, tenanglah!" suruh pria cina yang kita ketahui bernama Tan Hangeng berusaha menenangkan sepupunya Kangin.

"Tapi hyung."

Hangeng menepuk punggung Kangin untuk menenangkan Kangin—walau sedikit. "Sudahlah, ini rumah sakit. Kendalikan emosimu, bukankah sudah kukatakan diluar tadi. Kalau kau sudah tenang baru kita akan masuk. Tapi jika seperti ini lebih baik kita keluar saja lagi." Kata Hangeng tegas.

"Aissshh." Gerutu Kangin menjauh dari Hangeng lalu duduk disofa yang ada di ruangan tersebut bersama Heechul yang entah sejak kapan duduk disana. Sementara Jungsu hanya menundukan kepalanya karena merasa bersalah dengan ucapanya tadi.

Cukup lama hening melanda keempat umat manusia yang sedang berada di dalam kamar rawat salah satu rumah sakit. Tak ada yang berniat untuk memulai membuka suara. Kangin sibuk dengan buku yang sedang dibacanya sambil mendengarkan lagu melalui earphone yang terpasang di telinganya. Hangeng menikmati pemandangan luar rumah sakit yang memang bagus dari jendela kamar. Sedangkan Heechul, jangan ditanya. Tentu dia sedang bermesraan(?) dengan kaca dan beberapa alat kecantikan lainnya. Sementara Jungsu hanya berdiam diri, menyesali ucapannya tadi. Yang sempat membuat kekasih hatinya marah dan kecewa padanya.

Brak!

Suara pintu kamar yang dibuka paksa oleh seseorang yang sontak membuat semua manusia yang ada di ruangan menoleh ke arah asal suara. "Dokter Han, gawat!" ucap seorang suster yang tiba-tiba membuka kamar rawat Jungsu dengan tergesa.

"Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Hangeng binggung.

Sejenak, suster tadi mengatur napasnya. "Kondisi Leeteuk-sshi menurun. Anda harus cepat ke kamarnya dokter Han!" balas suster tadi.

"Ne, aku akan segera ke sana!" suruh Hangeng pada suster tadi untuk pergi terlebih dulu menuju kamar pasien yang dia sebutkan tadi. Mendengar perintah dari Hangeng, suster tadi mengangguk lalu pergi menuju kamar pasien yang membutuhkan pertolongan Hangeng tadi.

Setelah sang suster pergi menghilang dari hadapannya, Hangeng berbalik dan menatap kepada tiga orang lain yang ada diruangan itu. "Baiklah, kalian bertiga kembalilah besikap biasa jangan seperti ini anggap tidak pernah terjadi apa-apa tadi. Kalian mengerti!" kata Hangeng.

"Ne" seru Kangin, Jungsu, dan Heechul bersamaan setelah tadi hening melanda mereka.

"Aku harus pergi sekarang, ada pasien yang sedang membutuhkanku" setelah berujar Hangeng pun beranjak pergi. Tiga orang lainnya a.k.a Kangin, Jungsu, dan Heechul menganggukan kepalanya mengiyakan ucapan Hangeng tadi. Namun saat tepat di depan pintu ia tertabrak dengan dua orang sosok namja kembar yang tampan dan manis.

Bruk!

Karena menabrak dua orang namja kembar jadilah Hangeng jatuh dan tubuhnya mencium lantai kamar rumah sakit yang dingin.

"Aaauuuwww…" Hangeng meringis kesakitan saat tubuhnya mencium lantai.

"HYUNG!"pekik kedua namja kembar tadi bersamaan ketika melihat Hangeng jatuh di lantai lalu menolong Hangeng berdiri dari jatuhnya.

"Hyung, gwenchana?" tanya si kembar kompak.

"Ne" jawab Hangeng singkat dan langsung pergi meninggalkan kamar Jungsu menuju kamar pasien yang sedang membutuhkan dirinya tanpa menghiraukan si kembar yang kesal dengannya.

"YACK, HYUNG. MAU KEMANA KAU? KAMI BARU SAJA DATANG KENAPA KAU LANGSUNG PERGI EOH." Teriak si kembar bersamaan yang membuat tiga orang lain yang ada di kamar secara spontan langsung menutup kedua telinga mereka.

"Yack… yack.. kalian berdua hentikan, jangan berteriak lagi. Kalian ingin membuat seluruh pasien yang ada dirumah sakit ini menjadi tuli eoh dan setelah itu kalian diseret keluar dari sini secara tak elit. kalian mau. Dasar cerewet?" seru Heechul kesal karena teriakan si kembar membuatnya terkejut dan melakukan kesalah dalam merias wajah cantiknya.

"Ne mianhae hyung, kami kan cerewet karena tertular darimu hyung." jawab salah satu dari si kembar yang terlihat lebih pendek dan lebih manis dari satunya dengan tampang polos sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal dan dengan sangat teramat(?) mendapat deatglare dari Heechul.

"Memangnya kenapa Hangeng hyung terlihat terburu-buru sekali?" sela salah satu dari si kembar yang terlihat lebih tinggi.

Kangin yang mulai terusik dengan keributan si kembar dan Heeechul, melapaskan earphone yang dipakainya. "Ada pasien yang sedang membutuhkan dirinya. Lalu mau apa kalian kemari?" tanya Kangin yang sedang duduk disamping Heechul.

Si kembar mengerucutkan bibir mereka, tidak suka dengan ucapan Kangin tadi. "Memangnya kenapa kami tak boleh kemari? Kami kan hanya ingin menjenguk Jungsu hyung."

"Tapi kalian berdua itu berisik. Hyung kalian saja sudah cukup membuat kamar ini berisik apa lagi ditambah dengan kalian berdua. Bisa-bisa kita semua diseret keluar karena keributan yang kalian 'trio cerewet' buat" tunjuk Kangin pada sikembar dan Heechul yang tentu saja mendapat deatglare gratis dari mereka

Oh iya author lupa menjelaskan siapa si kembar. Si kembar adalah adik dari Kim Heechul. Yang lebih tinggi dan tampan berstatus sebagai kakak karena dia beberapa detik lebih dulu dilahirkan oleh ibunya. Sedangkan yang lebih pendek dan lebih manis juga tidak kalah tampan dari kembarannya bersatus sebagai adik sekaligus magnae dari Heechul karena dia terakhir yang dilahirkan ibunya.

"Sudah lah hentikan!" seru Jungsu.

"Apa yang kalian bawa?" tanya Jungsu pada si kembar untuk mengalihkan perhatian Heechul dan si kembar yang men'deatglare' Kangin. Mereka yang merasa di panggil namanya oleh Jungsu berhenti men'deatglare' Kangin lalu menghampiri Jungsu dan melupakan ucapan Kangin tadi.

"Ah~ ini hyung. Aku membelikan kau coklat kesukaanmu!" ucap satu dari si kembar yang berstatus sebagai kakak sambil tersenyum memperlihatkan lesung dipipinya yang sama seperti milik Jungsu lalu memberikan coklat yang ia beli tadi.

"Kalau aku membelikanmu bunga yang berwarna putih ini hyung. Aku tak tau kau suka bunga apa, tapi aku tau kau suka warna putih, jadi aku belikan kau bunga apa saja yang penting putih." Ujar salah satu dari si kembar yang berstatus sebagai adik sekaligus magnae dengan senyuman khas yang membuatnya terlihat lebih imut, manis dan tampan sembari menyerahkan bunga yang ia beli kepada Jungsu.

"Yack… Kalau ada bunga kuburan yang berwarna putih, apa akan kau ambil lalu kau berikan pada Jungsu hyung. eoh?" tanya salah satu dari si kembar yang memiliki lesung di pipinya pada saudara kembarnya sendiri.

"Mungkin!" jawab kembarannya singkat dengan tampang polosnya.

"Aish, dasar kau ini!" ucap si kembar yang memiliki lesung di pipinya seraya memukul kepala kembarannya.

"Aaauuuwwww … Appo hyung." Namja yang kepalnya dipukul meringis kesakitan sambil mengelus-elus kepalanya yang dijitak tadi.

"Sudahlah kalian berdua hentikan. Kau jangan memukul kepala adikmu lagi. Kasihan dia." Kata Jungsu lembut, melerai pertengkaran yang terjadi diantara si kembar. Pertengkaran yang tak akan ada ujungnya jika terus berlanjut.

"Ne hyung, mian …. My Dongsaeng~mian." Ucap sang kakak sambil mengelus kepala adiknya yang ia pukul tadi.

"Ya sudah kalau begitu. Gomawo. Kalian memang dongsaeng yang baik, manis serta tampan. Andai aku memiliki adik seperti kalian berdua." Ucap Jungsu.

"Tentu hyung. Memangnya ada yang lebih baik, manis serta tampan selain kami." Kata sang magnae dengan percaya diri.

"Jungsu. Sebaiknya kau jangan terlalu memuji si kembar ini. Nanti kau akan menyesal!" sela Heechul menghentikan sejenak kegiatan bermesarannya(?) dengan kaca yang sempat terhenti tadi..

"Memangnya kenapa Heechul hyung? Seharusnya kau bangga mempunyai adik seperti kami yang manis, baik dan tampan serta selalu dipuji orang." Kata satu dari si kembar yang berstatus sebagai kakak dan yang memiliki lesung dipipinya dengan nada lumayan keras.

"Sudah ku peringatkan tadi. Jangan berteriak, ini rumah sakit!" kata Kangin.

"Ne, mian hyung. Aku lupa."

"Iya, apa yang dikatakan hyung benar. Ahh~, kau pasti cemburu kan Heechul hyung karena sekarang banyak orang yang lebih sering memuji kami dari pada kau." Ujar si magnae dengan polosnya yang tentu saja langsung mendapat deatglare dari Heechul. Sepertinya Heechul sangat senang men'dearglare' orang hari ini.

Heechul yang mendengar ucapan dari magne nya tadi langsung menghentikan kegiatannya. "Diam kau. Kau ingin ku pukul. eoh?" kata Heechul kesal yang mulai bangkit(?) dari duduknya.

Kangin yang mengetahui jika Heechul akan berubah wujud jika marah, langsung menahan Heechul agar tidak hilang kendali dan menyerang mangne nya sendiri."Chullie, tenanglah. Ingat ini rumah sakit." Ucap Kangin.

"Iya betul, diamlah kau. Lihatlah sekarang kau sudah membangunkan nenek sihir yang sedang tidur." Kata namja berlesung pipi sambil menggelengkan kepalanya.

"KALIAN BERDUA!" marah Heechul kepada kedua adik kembarnya.

"KABUR!" ucap si kembar yang berlari keluar kamar rawat Jungsu untuk menghindari amarah dari sang hyung, Heechul.

"YACK… JANGAN KABUR KALIAN." Kata Heechul marah.

Kangin masih menahan tubuh Heechul yang berniat ingin memukul kedua adik kembarnya. Namun sepertinya sia-sia, karena amarah Heechul sudah diubun-ubun. "Chullie, tenanglah jang-" ucapan Kangin yang terpotong Heechul.

"DIAM KAU RACCON! LEPASKAN AKU. AKU INGIN MENGHAJAR MEREKA. DAN JANGAN PANGGIL AKU CHULLIE. YANG BOLEH MEMANGGIL KU CHULLIE HANYA 'HANGENG' SEORANG. TERDENGAR JELEK KETIKA KAU YANG MENYEBUTKANNYA." Marah Heechul pada Kangin. Melepaskan tubuhnya dari Kangin yang menahannya tadi. Lalu segera keluar kamar Jungsu untuk menyusul si kembar, meninggalkan Kangin dan Jungsu yang shock karena melihat kemarahan Heechul tadi.

"Jungsu …" panggil Kangin pelan karena masih syok.

"Ne …" balas Jungsu pelan yang tak kalah shock dengan Kangin.

"Di mana kau bertemu mahluk seperti Heechul hyung, lalu bagaimana bisa kau berteman begitu lama dengannya." Kata Kangin masih terdiam ditempat ia berdiri tadi sambil menatap pintu yang digunakan si kembar dan Heechul untuk keluar tadi.

"Molla." Jawab Jungsu yang ikut menatap pintu seperti yang dilakukan Kangin.

"Dan bagaimana caranya Heechul hyung dan Hangeng hyung bisa bersama seperti sekarang ini." Tanya Kangin lagi.

"Entah… uhuk… uhuk…" balas Jungsu terbatuk yang membuat darah keluar dari mulutnya.

Kangin berbalik dan menatap Jungsu yang terbatuk. Mata sipit Kangin sontak terbelalak melihat begitu banyak darah yang keluar dari mulut Jungsu bersamaan dengan batuk. "Aigoo Jungsu gwenchana?" tanya Kangin khawatir melihat banyak darah yang keluar dari mulut Jungsu.

"Gwen.. cha..na… Kangin-ah ….. hehehe …... uhuk…uhuk…." Walau sulit Jungsu berusaha tertawa namun tetap diiringi batuk.

"Apa yang kau katakan Angel. Bagaimana mungkin kau baik-baik saja jika banyak darah yang keluar dari mulutmu. Tetaplah disini aku akan memanggil Kahi sebentar." Kata Kangin langsung berlari keluar kamar Jungsu untuk mencari Kahi.

Tak beberapa lama Kangin pergi ia datang kembali dengan seorang dokter muda, cantik, dan baik. Yang kita semua ketahui bernama Kahi.

"Jungsu!" teriak Kangin berlari masuk dan langsung menghampiri ranjang dimana Jungsu berbaring lemah di atasnya.

"Jungsu-shhi." Teriak Kahi yang berlari di belakang Kangin dan langsung memeriksa kondisi Jungsu. (duh, kok jadi adegan lari-larian di rumah sakit sih *plakk, Zem payah*)

"Bagaimana Kahi?" tanya Kangin khawatir pada Kahi.

"Bisakah kau tinggalkan kami." Kata Kahi masih tetap memeriksa Jungsu tanpa menoleh dan menjawab pertanyaan Kangin.

"Tap- … Tapi Kahi."

"Kangin." Kata Kahi yang menatap 'dalam' ke arah mata Kangin untuk meyakinkannya.

"Ne." kata Kangin pelan akhirnya, dengan berat hati ia mulai beranjak pergi dengan mata yang terus menatap kearah ranjang dimana Jungsu berbaring dan sedang diperiksa oleh Kahi.

…o0o…

Saat ini Kangin sedang menunggu dengan cemas. Sedari tadi dia terus saja bermondar-mandir ria(?) di depan pintu kamar rawat Jungsu sambil sesekali melihat kedalam kamar melalui kamar kecil yang ada di pintu kamar.

Setelah cukup lama menunggu dengan cemas akhirnya Kahi keluar.

"Bagaimana Kahi?" tanya Kangin tak sabar.

"Gwenchana. Jungsu sudah tak apa." Kata Kahi.

"Syukurlah jika begitu. Aku ingin masuk untuk melihat Jungsu!" kata Kangin ingin masuk kedalam untuk melihat keadaan Angel tercintanya namun dicegah oleh Kahi.

"Kangin tunggu. Sebaiknya kau jangan masuk dulu!" seru Kahi yang mencegah Kangin agar tak masuk ke dalam.

Kangin menatap penuh tanya kepada Kahi. "Wae?"

"Jungsu sedang istirahat, jadi jangan kau ganggu dia dulu."

Kangin yang masih sedikit tidak rela dengan saran yang diberikan oleh Kahi masih bersikeras untuk menolak. "Tapi Kahi."

Kahi yang merasakan ada keraguan pada Kangin, berusaha memberikan keyakinan kepada Kangin. "Ayolah Kangin!"

"Baiklah." balas kangin singkat akhirnya mengalah pada Kahi. Untuk sedikit menghibur Kangin yang masih terlihat sangat mengkhawatirkan Jungsu, Kahi mengajak Kangin pergi menjauh dari kamar rawat Jungsu.

"Kangin!" panggil Kahi setelah berjalan menjauh dari kamar rawat Jungsu bersama Kangin.

"Hm?" balas Kangin yang berjalan mengikuti Kahi disebelahnya.

"Lebih baik kau kembali ke rumahmu. Lihatlah tampilan berantakanmu saat ini. Kau tak malu jika orang lain melihat salah satu dari penerus dari KIM Corp memiliki tampilan berantakan seperti sekarang. Aku janji jika terjadi sesuatu dengan Jungsu aku akan langsung menghubungimu!" ujar Kahi panjang lebar, kasihan melihat tampilan berantakan Kangin saat ini sembari menupuk punggung sahabatnya.

Entah untuk berapa kali hari ini Kangin menolak saran yang diberikan oleh Kahi "Tapi Kahi."

"Kenapa kau ini senang sekali menolak ucapanku. Sedari tadi kau selalu menolak ucapanku dan terus berkata 'tapi… tapi… dan tapi' aku bosan mendengarnya." Kata Kahi menghentikan langahnya sejenak lalu berjalan kembali.

Kahi melanjutkan langkahnya yang terhenti sejenak tadi. "Lagi pula bukankah sejak beberapa hari kau ada disini. Tenanglah masih ada aku disini yang akan menjaganya. Apa kau tak percaya denganku?" Tambah Kahi berusaha meyakinkan sahabatnya ini.

Setelah cukup lama memikirkan apa yang di ucapkan Kahi tadi, Kangin menganggukkan kepalanya tanda menyetujui dengan ucapan Kahi tadi.

"Ne. gomawo Kahi." Kata Kangin. Benar apa yang dikatakan Kahi tadi. Sejak beberapa hari yang lalu dia memang belum kembali ke rumahnya. Kangin terus berada di samping Jungsu untuk menjaganya.

"Ne."

"Tolong jaga dia Kahi!" pinta Kangin.

"Ne, tanpa kau suruh pun aku akan menjaganya. Karena Jungsu adalah pasien ku." Kata Kahi.

"Kalau begitu aku pulang. Anyeong." Kata Kangin berbalik menuju lift yang tak jauh dirinya dan Kahi berdiri.

"Ne, tidurlah dengan nyenyak!" suruh Kahi dengan senyuman manis yang tersungging di bibir seksi miliknya membuatnya terlihat lebih cantik.

Kangin balas tersenyum dan mengangguk pada Kahi lalu masuk ke dalam lift yang sudah terbuka.

…o0o…

"Kangin!" panggil seseorang kepada Kangin ketika masuk dan melewati ruang tamu rumahnya.

"Hn." Balas Kangin malas.

Kangin POV

Setelah pulang dari rumah sakit aku menjalankan mobilku menuju rumah. Tubuhku terasa sangat lelah karena sudah beberapa hari aku di rumah sakit untuk menemani My Angel, Jungsu.

Aku binggung, dengan keadaanku yang sangat lelah seperti sekarang ini. Entah bagaimana aku masih bisa mengendarai mobil dan selamat sampai di rumah.

Setelah sampai di rumah aku langsung memarkirkan mobil ku sembarang dan masuk ke dalam rumah menuju kamar yang sangat aku rindukan.

Karena keadaan ruang tamu yang sedikit gelap dan tubuhku yang sangat lelah. Sehingga aku tidak menyadari seseorang yang sedang duduk di sofa ruang tamu. Seandainya ia tak memanggilku mungkin aku tak akan menyadari keberadaannya.

Cukup lama aku mengenali siapa namja yang memiliki suara seperti ini. Aku sangat mengenal suara ini. Apa mungkin ia sudah kembali ke Seoul. Karena penasaran aku menghentikan langkahku dan melihat seseorang yang sedang duduk di sofa.

Ternyata dugaan ku tak salah, dia memang sudah kembali. Sejak kapan dia kembali ke Seoul setelah kurang lebih dua tahun belakangan ini dia tinggal di Canada. Jika ia merindukan kami ia akan menyuruh kami ke Canada atau ia yang kembali ke Seoul.

Seorang namja berkepala besar, bermata sipit namun tak sesipit mataku, berpipi sedikit tembem, bertampang sedikit pabo merupakan kakak kandungku. Yang bernama lengkap Kim Jong Woon, namun dia lebih suka di panggil Yesung.

Sama sepertiku yang lebih senang dipanggil Kangin dari pada Young Woon.

End kangin POV

.

.

Normal POV

"Apa yang kau lakukan disini hyung?" tanya Kangin.

"Mwo? Beginikah sambutanmu untuk kedatangan ku dari Canada?" tanya Yesung pada adiknya.

Kangin beranjak dari tempatnya berdiri dan duduk di sofa berhadapan dengan Yesung. "Lalu kau ingin bagaimana Hyung, kau ingin aku menyambutmu dengan heboh sama ketika orang-orang menyambut hari ulang tahun negara eoh? Jangan mimpi karena aku sangat lelah saat ini." Kata Kangin malas.

"Aish kau ini, setidaknya sambutlah aku lebih hangat dan lebih lembut lagi. Bukan seperti ini." Kata Yesung sedikit kesal.

Kangin memejamkan matanya sejenak. "Mian hyung. Tapi aku benar-benar lelah."

"Hn, kau memang terlihat lelah dan sangat berantakan." Kata Yesung yang menyadari kondisi berantakan adiknya.

"Apa kau sudah makan?" tanya Yesung.

"Belum hyung." Balas Kangin singkat.

Yesung menganggukan kepala besar miliknya *plakk digampar Clouds* "Mandilah dulu, aku akan siapkan kau makanan untuk kau makan. Lagi pula sudah cukup lama kita tidak makan bersama." Kata Yesung.

"Salahmu, kenapa kau memilih tinggal di Canada." Kata Kangin masih memejamkan matanya.

"Aku tinggal disana untuk mengurus perusahaan appa. Sudahlah cepat mandi sana!" suruh Yesung.

"Ne." Jawab Kangin singkat, berdiri dari duduknya dan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya untuk mandi.

"Racoon, jangan mandi terlalu lama!" kata Yesung, berdiri menuju dapur untuk menyiapkan makanan untuk adiknya, Kangin.

"Hmm." Balas Kangin melanjutkan langkahnya menaiki tangga.

Setelah cukup lama mandi akhirnya Kangin turun dan duduk di meja makan. Tubuhnya sudah tak tak terlalu lelah lagi setelah mandi tadi.

"Kau masak apa hyung?" tanya Kangin setelah duduk di kursi meja makan.

"Aku hanya memasak nasi goreng saja." Kata Yesung yang sudah sedari tadi duduk di meja makan menunggu Kangin.

Kangin tau jika hyung nya ini tidak bisa memasak. Tapi kenapa sekarang dia bisa memasak. "Sejak kapan kau bisa memasak hyung?" tanya Kangin.

"Sejak aku tinggal di Canada, karena aku hanya tinggal sendiri disana aku belajar memasak. Selain itu ada sekretaris ku yang bernama Kim Ryeowook dia pandai memasak. Dia banyak mengajariku tentang masakan. Jadilah sekarang aku bisa memasak, yeah walaupun sedikit." Kata Yesung.

Kangin menggangguk. "Apa ini tak beracun hyung?" kata Kangin.

"Tentu saja tidak pabo." Kata Yesung kesal memukul kepala Kangin.

"Awww.. appo hyung." Kata Kangin meringis.

"Salahmu kenapa mengatai masakan ku beracun. Sudahlah cepatlah makan." Kata Yesung lalu melahap nasi goreng buatanya sendiri.

Kangin penasaran dengan masakan hyung-nya itu pun langsung melahap makan yang memang sengaja dibuat untuknya. "Em~… Masakan mu lumayan enak hyung." Puji Kangin, merasa cukup puas dengan masakan buatan Yesung.

Yesung menghentikan makannya. "Kangin" panggil Yesung.

"Em, wae hyung?"

"Apa yang terjadi dengan dirimu selama aku di Canada. Kenapa kau terlihat sangat lelah dan berantakan ketika pulang tadi. Bahkan kau tidak menyadari keberadaan ku, memangnya kau darimana?" tanya Yesung.

"Tak ada yang terjadi denganku, gwechana hyung. Aku hanya dari rumah sakit tadi." Kata Kangin.

"Oh~.. baguslah jika kau baik-baik saja. Mwo? Rumah sakit. Apa yang kau lakukan disana eoh?" Kata Yesung terkejut.

Kangin menghentikan makanya dan menatap hyung sudah lama tidak dilihatnya. "Aku menemani Jungsu, hyung." Jawab Kangin.

Yesung yang menyadari ada perubahan raut wajah Kangin ketika menjawab pertanyaan nya tadi mulai cemas. 'Apa yang terjadi dengan Jungsu hyung sehingga Jungsu hyung harus berada di rumah sakit. Memangnya Jungsu hyung sakit parah.' Itulah yang ada dalam pikiran Yesung saat ini.

"Apa yang terjadi sehingga Jungsu hyung harus di rawat di rumah sakit?" tanya Yesung penasaran.

Kangin menghentikan makannya lagi. Entah mengapa napsu makannya mendadak hilang jika ada hal yang menyangkut tentang Jungsu. Kangin menatap Yesung, jadilah sekarang mereka saling menatap satu sama lain. Kangin menghela napas panjang lalu menjawab.

"Jungsu terinfeksi kanker darah stadium akhir, hyung."

_TBC_

HWAaa ~ ~ eottokhae? :O

Ahihi, gak seru lagi ya-.-

Gak apa-apa deh, kasih respon aja.

Penasaran sama si kembar diatas, di tebak dong? *plakk* hehe …

Fyuhh *ngelap keringat*, seperti yg sdh Zem sebutkan diatas tadi kalo chap 2 ini udh prnh Zem publis tapi Zem hapus. Terus pas Zem mau publis Chap 1 & 2 nya LAGI. Ada aja kendalanya seperti: salah satu temen Zem di Super X~TWO ada meninggal(semoga amal ibadahmu di terima di sisi-NYA, amin. Selamanya kau tetap bagian dari Super X~TWO, EVI RIANA RIZQI),

Terus sekolah mengadakan UTS, yang sekarang laptop Zem lagi sakit yg membuat Zem gak bsa ngepublis FF. terpaksa Zem publisnya di warnet.

Awalnya Zem pengen Jungsu kena penyakit usus sama kaya Zem. Kalo Zem kena infeksi usus tapi kalo Jungsu kena kanker usus (readers: Gak ada yang tanya kamu kena sakit apa Zemma. Plakk* digampar readers). Tapi gak jadi.

Sepertinya dichap ini Zem banyak ngomongnya ya, mian, mian, mian, mian *bungkukin badan*

Mau tau chapter selanjutnya? Silahkan tunggu :D