The Eden's Calling
Chapter 2 : The firework prayer
Angin malam berhembus meniupi sebuah tirai yang tertata di samping kedua sisi jendela di kamar Noctis. Malam itu ia terjaga karena tiada hentinya memikirkan masalah yang ia dapati setiap hari, terutama hubungan keluarganya, juga kepergian sang bunda.
Tak!—Tak!—Tak!
Tiba-tiba terdengar sebuah suara yang berasal dari kaca jendela Noctis, seperti ada seseorang yang melempari kaca jendela kamarnya dengan kerikil. Dengan perasaan yang penuh dengan rasa penasaran, ia pun beranjak dari ranjangnya dan mendekati jendela, ia mebuka kedua kaca jendela besar yang berada di kamarnya,
"oiiiiiiiiiiiiii! Nooooooooct! Jangan murung saja! Ayo kita jalan-jalan! ada festival kembang api di taman Nautilus!"
Prompto berteriak memanggil Noctis agar dia bisa ikut menonton festival kembang api bersamanya, dan dua kawan lain nya.
"dengar, aku telah berlutut di depan yang mulia raja untuk meminta maaf, apa aku juga harus berlutut di hadapan mu untuk meminta maaf? Apa itu membuat mu mau bersemangat kembali dan berhenti menjadi pangeran kelam yang kerjanya berdiam diri di kamar selama 12 jam huh?!" ejek Prompto pada Noctis, seperti biasa, Noctis membalas dengan senyuman, kawan nya yang satu ini dapat mencerahkan keadaan hanya dengan ejekan nya saja,
"ayo pangeran Noctis gloomy Caelum haha!" Gladiolus mengejeknya juga sambil merangkul Prompto,
"aduh sakit bodoh!" keluh Prompto pada rangkulan Gladiolus yang terlalu kuat, lalu ia berusaha melepaskan rangkulan kawan nya yang bertubuh raksasa itu,
"hei, yang bodoh itu kau, dan semua tahu itu." Balas Gladiolus dangan santai,
Noctis menghela nafasnya lalu tersenyum pada kawan-kawannya yang menanti di luar. Noctis pun melompati jendela kamarnya dan mendarat di hadapan kawan-kawan nya,
"kita jadi pergi?" Tanya sang pangeran,
"WAHOOOW! Itu baru nama nya semangat! Ayooo! Gadis-gadis cantik, Aku datang!" seru Prompto yang bersemangat mengangkat kepalan tangan nya ke atas,
"rupanya itu yang dia incar selama ini?" ucap Ignis pasrah dengan ke-Playboy-an kawan nya,
"oh! Ayo lah kawan-kawan, gadis-gadis cantik akan me-refresh kembali kekelaman kalian~" ucap Prompto. Prompto pun mendadak merangkul Noctis,
"uhuh! Pangeran kita juga butuh me-refresh otaknya, ayo~ kita hapuskan kejengkelan~ lalala~" ucap Prompto dengan penuh semangat sambil menarik Noctis untuk ikut bersamanya,
"semangat sekali dia" ucap Gladiolus sambil berjalan berdampingan dengan Ignis mengikuti Prompto dan Noctis,
"selagi itu akan menghibur Noctis, mengapa tidak?" ucap Ignis,
"ya, mari nikmati saja festivalnya" Gladiolus pun tersenyum.
Hubungan yang kuat, akan menciptakan cinta yang tak kalah kuatnya juga.
Tak terasa, satu jam perjalanan menuju taman Nautilus di Lucis berakhir juga. Lucis memiliki kota yang amat luas, dan Nautilus terletak di ujung kota Lucis sehingga mereka membutuhkan waktu sekitar satu jam untuk meraih tempat tersebut. tak terlalu jauh memang, karena kastil Caelum berada tepat di tengah kota, tetapi waktu lah yang cepat berputar, membuat segalanya tak terasa telah terlewat jika tak melakukan apa-apa.
"huaaa! Indah sekali!" ucap Prompto yang terkesima menyaksikan beberapa lontaran kembang api yang menerangi gelapnya langit malam, Noctis, Ignis dan Gladiolus pun ikut menyaksikan nya.
"lihat! Lihat! Ada rumah kaca!" seru Prompto yang berlari menuju pintu masuk antrian rumah kaca tersebut,
"rumah kaca? Hm, kedengaran nya menarik." ucap Gladiolus,
"yang benar saja, aku akan menunggu kalian di luar, masuk kedalam sana membuat kepala ku pusing, sudah cukup dengan menggunakan kaca mata ini yang tiap hari per sembilan jam telah membuat pening." Ujar Ignis, menyerah sebelum bertarung,
"kau payah sekali sih, ya sudah, ayo Noct! Ayo Glad!" ucap Prompto dengan semangat menarik tangan kedua sahabatnya memasuki antrian dan meninggalkan Ignis.
Beberapa saat setelah antrian mulai menipis, mereka pun akhirnya memasuki ruangan yang di penuhi cermin, berbagai bentuk cermin di letakkan di sekeliling ruangan, ada yang berbentuk melengkung, bergelombang dan miring, warna Navy blue menyelimuti seluruh bagian ruangan seolah ruangan tersebut berupa langit di malam hari, di hiasi kerlap kerlip aksesoris yang bergelantungan di atasnya, mebuat kesan 'langit malam yang berbintang' terasa jelas pada ruangan tersebut,
"wow! Liahat ini Glad! Aku terlihat gemuk sekali di sini!" ucap Prompto yang berkaca pada bayangan nya di sebuah cermin,
"tepatnya terlihat seperti seekor babi, haha" ucap Gladiolus yang menertawai teman nya,
"ah! Ayo lah! Rupa ku lebih tampan dari Scott Reneuve!" Jelas Prompto yang membandingkan penampilannya dengan penyanyi dari sebuah band hard rock yang terkenal di Lucis.
Noctis berjalan mendekati sebuah cermin oval berukirkan sayap malaikat yang menekuk kebawah, seolah-olah sayap itu melingkari cermin oval yang berada di hadapan nya,
"wow" ucap nya melihat ukiran yang amat indah melingkari cermin oval, tua dan berdebu itu, ia menatapi bayangan nya yang terpantul dari kaca tersebut. Bayangan yang di pantulkan oleh kaca itu terlihat kabur, 'mungkin karena kaca ini sudah usang' fikirnya, tiba-tiba saat ia menatapi bayangan di kaca tersebut, terlihatlah figure sesuatu, lama kelamaan semakin mendekat, dan,
"BOOO!"
Noctis terkejut, rupanya itu Prompto yang usil berusaha menakutinya dari belakang,
"tch! Apa-apan kau ini?!" Tanya Noctis kesal,
"hahaha! Lihat wajah kaget mu tadi!" Prompto tertawa bersama Gladiolus,
"Noct, kau benar-benar lucu!"
"ah! Hentikan!" ucap Noctis kesal sambil membalikan tubuhnya berjalan menuju pintu keluar,
"oh ayo lah Noct! Kita belum menelusuri semuanya kan?" tanya Prompto,
"ah, sudah lah, ayo ikuti dia." Ucap Gladiolus sambil berjalan meninggalkan rumah kaca tersebut.
Saat mereka berhasil meninggalkan rumah kaca tersebut, mereka mulai berjalan-jalan kembali menuju tempat lain, baru saja mereka melangkahkan kaki kearah sebuah tenda yang bertuliskan 'Circus', mereka di cegat oleh segerombolan gadis-gadis yang berteriak histeris karena melihat Noctis, sang pangeran yang rupanya berada di Nautilus, malam hari, tanpa di kawal bodyguard, yah walau Gladiolus sendiri berperan sebagai bodyguard.
"itu! Itu Noctis-sama!" teriak seorang gadis menunjuk kearah Noctis dan dua teman nya,
"aaa! Tidak mungkin!" ucap salah seorang gadis, menggila,
"ew, kelihatna nya kita harus pergi dari sini.." ucap Gladiolus kahwatir,
"wow, kau akan melewatkan perbincangan bersama gadis-gadis, Galdy?" ucap Prompto,
"uh, maksud ku… AYO PERGI!" sentak Galdiolus mengenggam tangan Noctis dan Prompto, ia berlari sekuat tenaga sementara gerombolan gadis-gadis mengejar mereka. Mereka berbelok, dan menjadikan tenda food court sebagai tempat persembunyian sementara,
"sepertinya-kita harus berpencar—" ucap Gladiolus dengan nafas yang terpatah-patah,
"Noct, pinjam jaket mu!" usul Gladiolus, "aku akan mengalihkan perhatian mereka, dan kau bersembunyi dimana pun itu, dan ingat, bersembunyi lah di daerah food court agar aku dan yang lain nya bisa menjemput mu, kami akan mencari Ignis, jangan sampai gadis-gadis itu tahu" usul Gladiolus, lalu ia memakaikan jacket Noctis pada Prompto, Gladiolus juga mengambil sebuah topi yang tergantung di tempat penjual aksesoris dan memakaikannya pada Prompto.
"Ok, ayo Prompt, kita alihkan perhatian mereka"
"ow, okay… pertemuan dengan gadis-gadis? Hahaha!" ucap Prompto lalu ia dan Gladiolus pun berlari meninggalkan Noctis.
Noctis pun berjalan-jalan di sekitar food court, berfikir dimana ia harus bersembunyi, 'rasanya bosan sekali' fikirnya. Beberapa menit telah berlalu, ia masih berjalan-jalan karena kebingungan, tiba-tiba sesuatu mengalihkan perhatian nya,
"ayo lah Serah! Kau pasti bisa menangkap ikan itu!" ucap seorang pria berambut pirang dan berbadan besar, kekar.
Rasanya ia tak aneh melihat pria yang mendampingi seorang perempuan manis berambut merah muda yang tersenyum menikmati moment-moment bersama bagai sepasang kekasih itu, 'tunggu, aku ingat dia. Pelaku pemusnahan document negara' fikirnya, pria besar yang di sebut-sebut sebagai-
"Snow, ambilah bagian mu kalau kau tak mau kehabisan" ucap seorang wanita berambut merah muda, namun wanita ini bukan lah wanita yang di dampinginya melainkan wanita yang telah memukul wajah Noctis saat kejadian itu.
'nenek sihir itu?! Yang benar saja?!' fikir Noctis saat melihat figure nya berdiri di belakang Snow yang sedang asyik mendampingi Serah menangkapi ikan-ikan kecil.
"aww kak! Tidak kah kau bisa menyisakan kue itu untuk ku? Aku masih mau menemani Serah menangkapi ikan-ikan mungil ini untuk nya."
"…..baik lah, terserah kau saja." Jawab Lightning menghembuskan nafasnya, tiba-tiba ia menyadari kedua bola mata biru tua menatapi nya sejak tadi, ia pun berbalik menatap dengan mata berwarna aqua miliknya. Keduanya saling bertemu, saling menatap satu sama lain, lambat laun, Lightning pun sadar dan menghampiri pemilik bola mata biru tua yang menatapi nya tadi,
"sedang apa kau di sini?" Tanya nya dingin,
Noctis tersentak, tersadar dari tatapan nya yang menghanyutkan, "tch! Tak ku sangka aku bisa bertemu dengan mu di sini, hari yang sangat menyebalkan." ejek Noctis,
"hmp, mencoba berlari dari gerombolan maniac? Sepertinya kau menjadi pusat perhatian dalam media ya pangeran katak?" balas Lightning, ia pun menyilang kedua tangan nya,
"tch! Apa pun itu bukan urusan mu!" jawab Noctis dengan lantang,
"hmp" Lightning tersenyum seakan senyuman nya menyepelekan Noctis, Noctis menatapnya tajam.
"AYO AYO! COBALAH PERMAINAN DUCK SHOOTER! SIAPA PUN YANG BERHASIL MENEMBAK SELURUH BEBEK AKAN MENDAPATKAN HADIAH! AYO! AYO COBA!"
Teriakan seseorang mempromosikan permainan nya yang berada di balik konter tenda yang bertuliskan 'Duck shooter' mengalihkan perhatian mereka berdua setelah sekian lama menatap satu sama lain dengan pandangan sinis. Pemilik konter tersebut mengangkat figura Gundam SD yang memancing pandangan Noctis, 'GUNDAM SD! Yang benar saja! seri yang langka. Aku harus mendapatkan nya'. Noctis pun berjalan mendekati konter tersebut dan berkata,
"kalahkan aku dalam game ini jika kau bisa!"
"hmp, menantang ku?" dengan percaya diri, Lightning berjalan menuju konter dan berhenti di samping Noctis, ia pun mengambil senapan angin yang berada di depan nya. Lightning telah di latih selama empat tahun berturut-turut dalam pasukan Guardian Corps, mana mungkin ia menolak sebuah tantangan yang juga adalah keahlian nya,
"ayo kita mulai permainan nya"
Mereka berdua pun bersiap dengan senapan yang mereka genggam, pemilik konter tersebut pun memberikan aba-aba pada mereka,
"bersedia, siap, MULAI!"
Papan-papan bergambarkan bebek pun bermunculan, mereka berdua menarik pelatuk dari senjata tersebut, Lightning menembaki papan-papan tersebut dengan cepat dan cekatan, Noctis pun tak kalah gesitnya menembaki papan-papan tersebut yang tiap detiknya bermunculan di arah yang berbeda. 'cih! Sial aku tertinggal banyak olehnya' fikir Noctis, Lightning semakin percaya diri dengan kesuksesan nya yang lebih banyak memecahkan rekor dari pada Noctis, senyuman kepuasan telah tergambar pada bibirnya ia berfikir permainan ini akan ia menangkan. Lalu bebek berwarna silver pun muncul, 'ini target terakhir aku harus mendapatkan nya' ucap Lightning dalam hatinya,
Dooor-
"huh?!"
Namun sayang, bebek berwarna silver itu telah di dapatkan oleh Noctis,
"haha! aku yang menang!" ucap Noctis dengan optimis,
"tch!" keluh Lightning yang jengkel,
"selamat tuan! Anda pemenangnya karena telah menembak bebek berhadiah, jadi aku akan memberikan kau hadiah, terimalah" pemilik konter tersebut memberikan Noctis sebuah bungkusan berwarna ungu di balutkan dengan pita merah muda. Dengan tidak sabar, Noctis pun membuka bungkusan itu, berharap isinya adalah gundam SD yang ia inginkan. namun sayang nya, yang ia dapat bukan lah figura gundam SD, namun sebuah sapu tangan berwarna ungu dengan corak kupu-kupu berwarna merah muda,
"a-apa ini?!" ucap Noctis kecewa sambil mengangkat saputangan nya, Lightning pun menutupi bibirnya menahan tawa,
"tak ku sangka, seorang pangeran punya sisi feminine juga ya, fufufu." Ucap Lightning yang masih menahan tawa. 'tch! Sial mengapa aku tak mendapatkan gundam SD nya?! Malah mendapatkan sapu tangan yang aneh ini! Arg aku tak punya sisi feminine! Dasar bodoh!' gerutu Noctis dari dalam fikiran nya. Ia pun membalikan badan nya dari Lightning,
"warna kupu-kupunya sama dengan warna rambutmu-" Ia melemparkan nya ke belakang, Lightning pun refleks menangkapnya,
"barang kali kau membutuhkan nya, simpanlah." ucap Noctis yang melambaikan tangan nya dengan cool meninggalkan Lightning, Lightning pun menatapi nya berjalan menjauh, tiba-tiba seseorang menegurnya dengan sebuah siulan,
"wow, sunshine, rupanya dia yang sedang dekat dengan mu huh?" ejek Fang,
"dia hanya anak bermasalah, jangan mudah menyangka." Jawab Lightning dingin sambil menyilangkan kedua tangan nya.
"hooo~ mencoba melarikan diri dari kenyataan?" ejek Fang kembali,
Lightning pun pergi meninggalkan tempat tadi "ayo Fang, aku harus mencari Serah dan Snow".
Air yang mengaliri sebuah batu, lama-kelamaan akan mengikis kerasnya batu tersebut, tak jauh beda dengan perasaan, kebencian dapat luluh juka di balaskan oleh cinta dan ketulusan.
Telah lama Noctis berjalan mengitari hampir seluruh taman, Nautilus memang taman yang amat luas dibandingkan taman lain di negara tetangga. Kaki nya pun merasa kelelahan, dia berhenti dan duduk sejenak di sebuah kursi taman, di lihatnya banyak sekali orang-orang berlalu-lalang, di sana ada sepasang kekasih sedang berbincang-bincang mengenai masa depan mereka kelak, ia juga melihat segerombolan anak laki-laki berlarian, ia tersenyum melihat kondisi sekitarnya, namun senyumnya mendadak berubah ketika ia melihat seorang ayah yang menuntun anak nya, 'mereka terlihat bahagia' fikirnya sambil meletakkan senyum yang penuh kesedihan di wajahnya. Mendadak ia teringat kembali masa-masa saat ia kecil, ia selalu berpergian bersama dengan ayahnya, berbagi moment bersama, ia pun masih ingat dengan kejadian saat ia tersesat di sebuah kebun binatang, ayahnya rela mengerahkan seluruh Royal Guard hanya untuk mencari Noctis. Saat ia menemukan Noctis, ayahnya menangis sambil memeluknya erat, sungguh hubungan keluarga yang indah, namun sayang hubungan mereka menjadi kaku dan dingin saat Noctis beranjak dewasa, ayah nya menekankan ia untuk terus menjadi pribadi yang dewasa dan bijak, bagai mana pun Noctis tetap tak mau menjadi copy-an ayahnya dan hidup di bawah bayangan ayahnya, menurutnya itu sangat jauh dari sifatnya. Ia ingin menjadi dirinya sendiri, ingin menjadi yang terbaik tanpa menjadi copy-an ayahnya dan sukses dengan jalannya sendiri.
"ayah! Ayah! Kembang api harapan nya akan segera mulai! Ayo kita lihat! Ayo!" seru anak tersebut yang kegirangan menggandeng lengan ayahnya, menariknya agar ikut bersamanya. 'kembang api harapan?' Tanya Noctis dalam hatinya, ia tak pernah mendengar kembang api harapan sebelumnya, dengan rasa penuh penasaran, ia pun mengikuti ke dua anak dan ayah tersebut menuju sebuah halaman luas yang diselimuti oleh rumput hijau dan berbagai macam bunga tertanam di sekitarnya. 'taman yang indah' fikir Noctis yang melihati sekitarnya. Ia pun melanjutkan perjalanan nya hingga berhenti di depan sebuah papan berbentuk unik dengan rangkaian bunga di sekitarnya. 'legenda permohonan kembang api', ia pun melanjutkan membaca tulisan yang tertulis pada papan tersebut,
"Legenda permohonan kembang api
1000 tahun yang lalu, saat sebelum dunia ini di ciptakan, nenek moyang kita yang berada di dunia pertama yang tuhan ciptakan juga mengadakan sebuah perayaan kembang api tiap tahunya. mereka menyalakan ribuan kembang api pada malam hari, dan saat kembang api harapan yang dinyalakan pada tengah malam, mereka selalu berdo'a. konon do'a kita selalu terkabul saat kita berdo'a pada kembang api harapan yang dinyalakan pada tengah malam."
'unik sekali' fikir Noctis pada legenda tersebut,
"AYO! Acaranya sudah mulai!" teriak seorang pria mengajak tiga orang teman nya yang lain untuk ikut menyaksikan kembang api harapan, kembang api itu pun di lontarkan. pandangan Noctis pun mengarah pada kembang api tersebut, Warna biru muda menerangi gelapnya malam, kembang api tersebut berbentuk tak biasa seperti kembang api lain nya, bentuknya menyerupai wajah seorang wanita yang abstrak namun indah di pandang, fikiran Noctis pun tertuju pada figure seseorang, 'Etro' fikirnya, cahaya kembang api yang indah menghiasi langit berbintang , menambah keindahan langit yang seolah-olah memberikan kesan 'elegan', Noctis amat terkesima melihatnya.
"kau tahu Lex? Tahun kemarin aku telah memohon pada kembang api harapan." Ucap seorang pria bertubuh besar dengan kulit cokelatnya memakai setelan pakaian Casual pada kawan nya yang berada di samping nya,
"apa yang kau pinta?" Tanya kawannya,
"aku awalnya merasa muak dengan pertengkaran aku dan istriku yang tiada ujungnya, lalu aku pun meminta agar Melany mau berdamai dengan ku. Dan pada akhirnya do'a ku terkabulkan." Jawab pria tersebut sambil tersenyum bangga,
"aku turut berbahagia, jagalah hubungan mu dengan istri mu itu Carl. Jangan sia-sia kan dia." Ucap teman nya sambil tersenyum, perbincangan tersebut mengalihkan perhatian Noctis. 'permohonan nya sungguh-sungguh terkabul? Jadi ini bukan sembarang legenda?' ucap Noctis dalam hatinya. Noctis pun menatap langit yang di hiasi warna-warna indah dari kembang api harapan, 'Etro, apa aku salah jika aku meminta kau untuk mengambil kembali kekuatan yang telah kau berikan pada ku? Aku tak bisa menerimanya, kekuatan ini, aku tak bisa melihat kematian orang lagi… tolong hentikan lah' Noctis pun mulai memejamkan kedua matanya 'juga ayah… aku ingin pertengkaran diantara kami terhentikan' ucap Noctis, berdo'a dalam hatinya berharap sebuah keajaiban menghampiri dan mengubah hidupnya menjadi lebih baik.
Cinta akan selalu membekas bagai goresan dalam album memori.
Tak terasa telah berjam-jam Noctis berada di taman Nautilus, terlalu banyak kejadian-kejadian yang tidak akan ia laupakan hari ini, juga kembang api harapan tersebut. Tiba-tiba angin dingin berhembus melewati Noctis dan orang-orang di Nautilus, menciptakan sentuhan dingin pada kulitnya, tetesan air pun berjatuhan membasahi tanah berumput, lambat laun tetesan air tersebut menciptakan rintik-rintik hujan, semakin lama semakin melebat, seluruh orang yang berada di taman Nautilus berlarian mencari tempat berteduh, Noctis pun berlari menuju sebuah tenda untuk menghindari air hujan, namun terlambat sudah, seluruh pakaiannya terguyur air hujan, Dari ujung rambut sampai kakinya basah kuyup. 'sial, di sini hujan deras, dan kemana Prompto, Gladiolus dan Ignis?' keluh Noctis pada dirinya, ia pun merogoh saku celananya untuk mencari ponsel miliknya, berniat tuk menghubungi kawan-kawan tuk menjemputnya, namun sayang apa yang dia dapati hanyalah kantung celana yang kosong. 'arg! Aku lupa! Ponsel ku berada dalam kantung jacket ku yang di pakai Prompto!'.
"Phew! Trimakasih banyak Ignis! Kau datang tepat pada waktunya! Aku sungguh kewalahan menangani fangirls ku!" seru Prompto yang meletakan kedua tangan nya di belakang kepala dan bersandar pada jok mobil yang di kendarai Ignis,
"ya, ya walau akhirnya kau kena marah para gadis-gadis karena sudah menipu mereka" ucap Gladiolus dengan pasrah,
"walau begitu aku senang kok di gerumuni gadis-gadis cantik! Walau sesunggunya mereka mengejar Noct, tapi tak apa~ aku masih punya banyak fans~ haha! Lain kali kita lakukan lagi ya!" ucap Prompto dengan girang walau dia sudah kelelahan, Gladiolus hanya menepuk keningnya.
"ngomong-ngomong soal Noctis… kemana dia?" Tanya Ignis yang masih mengendarai mobil di tengah guyuran hujan lebat. Mendadak Ignis mengerem, yang lain nya terdiam sontak,
"NOCT! TERTINGGAL DI TAMAN NAUTILUS!"
"haduh! Kacau ini kacau! Kenapa ia tak menelfon sih?!" ucap Prompto panik,
"bagaimana mau menelfon! Noct biasanya meletakan ponselnya pada jacket dan jacketnya sedang kau pakai dasar bodoh!" ucap Gladiolus panik juga,
"bisa kah kalian tenang?! Aku sedang putar arah!" ucap Ignis yang mulai naik darah.
Mereka pun kembali pergi menuju Nautilus untuk menjemput Noctis yang tertinggal.
Angin yang berhembus menambah kedinginan yang menyelimuti seluruh tubuh Noctis, pakaian dan rambut yang basah, akhir yang sempurna yang ia dapatkan. Telah berjam-jam ia menanti, tetapi hujan tak lekas berhenti, ia terus mengeluh dalam hatinya. Sampai di saat ia melihat Ignis, Prompto dan Gladiolus berlari memakai payung hitam mereka, 'datang juga mereka' ucap Noctis pada dirinya sambil memasang wajah kesal,
"kemana saja kalian?" Tanya Noctis dengan dingin,
"hehe, ma-maaf kami-kami di kejar fangirls jadi lupa menjemput mu", ucap Prompto sambil tertawa ragu,
"ah, sudah lah, ayo kita pulang, kau butuh mengganti pakaian mu, Noct." Ucap Ignis yang membenarkan kaca matanya. Mreka pun berjalan menuju mobil mereka dan berkendara pulang menuju Caelum manor.
A/N : ooooooooooookaaaaaaaay! Thanks to AkiraRayMundo for the VERY FIRST review, fave dan follow lol kumplit sekali! Saya menghabiskan 2 hari untuk melanjutkan chapter 2 ini, pekerjaan membunuh imajinasi, dan sudah 1 bulan tidak membuat fanart atau pun men design OC OC saya yang kali ini entah bagaimana kabarnya, untung saja tak ada deadline haha! jadi bebas-bebas saja saya. Saya kebetulan sedang bermain Assassin's Creed Rogue, ceritanya bagus, namun terlalu banyak komplikasi yang membuat otak saya pusing tujuh keliling. dan tidak ketinggalan pula perbincangan semalam dengan Kichikuri61, "ada AQ*A ouji-sama?" LOL itu sangat menginspirasi Gracias amico mio! X"D dan terimakasih pada para pengunjung yang meluangkan waktunya membaca fanfiction saya, terimakasih terimakasih. Don't forget to R&R.
