Forbidden
Cast :
Choi Siwon as Choi Siwon (Vampire Hunter)
Lee Hyukjae as Choi Hyukjae (Choi Siwon's little bro)
Lee Donghae as Lee Donghae (Vampire)
F(x) member as Donghae's personal maid
Rate : T
Warn : AU, Sho-Ai Typo(s), abal, OOC, non-EYD, dll
Disclaimer : Cast nya milik tuhan dan ceritanya milik saya
Author : Park Neul Rin
A/N : Buat yang nggak suka dan nggak mau baca, silakan meng-klik tanda silang yang ada di pojok kanan atas. Dan kalau terlanjur baca dan tiba-tiba anda merasa mual, sakit jantung, gangguan pernapasan dan penyakit lainnya, tolong jangan salahkan saya karena saya sudah memperingatkan.
~(*^*^*)~
Jauh di pinggir kota Seoul, terdapat sebuah kastil yang sangat mewah dan besar. Namun tak sembarang orang bisa melihat kastil itu. Hanya bangsa vampire dan vampire hunter yang memiliki darah vampire yang bisa melihat vampire itu. Kenapa? Karena kastil itu adalah kediaman seorang pemimpin vampire, yaitu kediaman seorang Lee Donghae.
Di pagi yang cerah ini, Donghae tengah berada di ruang utama kastilnya yang terletak di bagian pusat kastil. Matanya yang aslinya berwarna cokelat pekat berubah menjadi merah pekat, karena ia tengah mengawasi reinkarnasi Sir Alberro dan Lady Fiore yang tengah menikmati sarapan mereka. Reinkarnasi itu tak lain dan tak bukan adalah Choi Siwon dan Choi Hyukjae. Senyum tipis menghiasi wajah tampannya saat ia melihat betapa manisnya reinkarnasi kekasihnya.
"Hanya masalah waktu, dan akhirnya kita bisa bersatu lagi..." gumamnya. Ia tersenyum kecil dan perlahan, irisnya kembali menjadi cokelat pekat. Ia memejamkan kedua mata indahnya dan membayangkan sosok kekasihnya dulu. Dengan gaun selutut berwarna putih polos, rambut merah panjang dan iris karamel yang menatapnya penuh cinta dan kesucian. Sempurna, itulah Fiore a.k.a Hyukjae di matanya.
"Meski sekarang kau berbeda, kau masih tetap Fiore yang kucintai..." lirihnya seraya membuka kedua matanya. Ia sedikit terkejut saat melihat dua orang maidnya ada di hadapannya entah sejak kapan. Namun ia tak terlalu mempedulikan itu. Bagaimanapun juga, maidnya juga seorang vampire, sehingga tak aneh jika mereka bisa datang tiba-tiba tanpa ia sadari. Sebenarnya jika ia tidak terlalu fokus terhadap sesuatu, ia akan menyadari kedatangan maidnya.
"Ada apa Sulli?" tanya Donghae pada salah satu maid. Maid berseragam cokelat itu membungkuk di hadapan tuannya sekilas, lalu mengeluarkan sebotol red wine dari dalam apron putih yang ia kenakan.
"Ini red wine baru, mungkin tuan berkenan mencobanya," tawar Sulli. Donghae mengangguk dan matanya beralih ke arah seorang maid berseragam abu-abu. Sementara itu, Sulli menjentikkan jarinya dan muncullah sebuah gelas kristal. Lalu dengan cekatan, dituangkannya minuman berwarna kemerahan itu ke gelas tersebut.
"Kau sendiri ada apa Krystal?"
Maid berseragam abu-abu itu membungkuk sekilas dan mengeluarkan setelan jas berwarna biru tua, kemeja berwarna hitam dan dasi berwarna putih. Donghae mengangguk paham dan mengambil pakaian itu dari Krystal. Lalu dalam sekejap, pakaian yang ia kenakan berubah menjadi setelan jas yang diberikan Krystal dan pakaian yang tadi ia pakai, terlipat dengan rapi di tangannya. Diberikannya pakaian itu pada Krystal.
"Tuan, ini wine anda," ucap Sulli sambil menyerahkan gelas kristal itu pada Donghae. Donghae meneguk habis minuman beralkohol berwarna merah itu dan mencengkeram erat gelas kristal itu hingga pecah. Sulli hanya menghela napas melihat entah gelas kristal keberapa yang dipecahkan oleh tuannya.
"Luna," panggilnya lirih. Krystal dan Sulli membungkuk sekilas dan membuka jalan. Dalam sekejap, seorang maid berseragam hitam datang dengan membawa sebuah cermin berbentuk lonjong di hadapannya. Ia berlutut di depan Donghae dan memberikan cermin berbentuk lonjong itu pada Donghae. Donghae menyentuh cermin itu, dan muncul di dalam cermin itu dua orang yeoja yang tengah bertarung. Yeoja yang memiliki rambut pirang panjang berhenti melawan yeoja berambut pendek di hadapannya dan menghadap Donghae.
"Victoria di sini," ucap yeoja itu. Donghae tersenyum meremehkan dan menatap tajam yeoja berambut panjang di hadapannya.
"Bagaimana perkembangan Amber?" tanya Donghae. Victoria melempar tiga buah pisau belati ke arah yeoja berambut pendek a.k.a Amber. Secepat kilat, yeoja tomboy itu menghindarinya.
"Seperti yang anda lihat...ada perkembangan sedikit. Namun masih belum mencapai level Al-"
"Siwon,"
"-ah, ya. Siwon maksud saya," lanjut Victoria. Donghae menghela napasnya dan memijat dahinya.
"Kau akan membantunya 'kan?"
Victoria mengangguk.
"Tentu saja. Sehebat apapun Amber, sulit jika ia harus menyamai level Choi Siwon dalam waktu 6 hari,"
"Meski kau harus mengorbankan nyawamu?"
"Apapun untuk tuan,"
Donghae tersenyum mendengar jawaban Victoria. Beberapa detik kemudian, cermin itu kembali menjadi cermin biasa. Donghae mengembalikan cermin itu pada Luna. Lalu, Luna menyimpan cermin itu di balik apron putihnya. Donghae menghela napasnya dan berdiri dari singgasananya.
"Ada berita apa?" tanya Donghae entah pada siapa. Matanya menatap keluar kastil, dimana sinar mentari yang menurutnya sangat mengganggu itu melimpah. Mengerti sinyal yang diberi Donghae, Krystal dan Sulli pergi dari ruangan itu. Meninggalkan Donghae dan Luna berdua di ruangan itu.
"Dua vampire kita berhasil dimusnahkan oleh Choi Siwon," jelas Luna. Donghae terkekeh dan memasukkan kedua tangannya di kantung celana.
"Dua vampire yang dikirim untuk menemaniku semalam? Yah...mereka menjadikan tubuh mereka sebagai tameng untuk melindungiku dari serangan Siwon. Padahal serangan itu sudah jelas bisa kuhindari. Mungkin hanya akan membuatku lecet," kekeh Donghae. Ia lalu berbalik dan mengelus wajah Luna.
"Wajahmu terlihat pucat. Begitu pula Krystal dan Sulli. Kalian tidak minum darah? Bukannya Victoria dan Amber selalu memburu hewan untuk dihisap darahnya untuk kalian berlima?" tanya Donghae dengan wajah datar. Namun, Luna mengerti bahwa Donghae khawatir dengan keadaan mereka. Bagaimanapun juga, mereka berlima adalah teman sekaligus pengasuh Donghae sejak kecil.
"Bukankah kami pernah berkata pada tuan? Kami tidak akan minum darah sebelum tuan minum," jawab Luna. Donghae menggeleng dan menghela napasnya berat.
"Kalian ini keras kepala sekali. Tapi jangan khawatir, aku yakin kali ini kita bisa mendapatkan Hyukjae..." lirih Donghae yakin. Luna membungkuk dan pergi dari hadapan Donghae, meninggalkannya sendirian dalam ruangan gelap itu.
~(*^*^*)~
Hyukjae melangkah turun dari mobil hyung nya dan berjalan pelan menuju kampusnya. Tak jauh di hadapannya, berdiri kokoh gedung utama dari Pai Chai university, sekolah tempatnya mengampu pendidikan. Meski usia Hyukjae baru akan menginjak 17, ia sudah bisa menginjakkan kakinya di universitas itu dan kini, ia sudah menginjak semester 2. Beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang berlalu lalang menyapanya dengan ramah. Hyukjae membalas sapaan mereka dengan ramah pula.
"Hey, Hyukjae. Keluargamu vampire hunter 'kan? Sebenarnya, vampire hunter itu apa? Dan bukankah vampire hanyalah mitos belaka?" tanya salah seorang namja dengan wajah penasaran. Dua yeoja dan tiga namja yang berada di belakang namja itu juga mengangguk penasaran. Hyukjae tertawa ringan menanggapi pertanyaan mereka. Ia sudah terlalu sering mendapat pertanyaan seperti itu.
"Ne, keluargaku adalah vampire hunter. Vampire hunter adalah semacam perkumpulan orang yang memiliki kelebihan tertentu yang ingin membasmi vampire. Dan keluargaku adalah salah satunya. Aku sendiri tak terlalu mengerti bagaimana vampire hunter bekerja. Hyung dulu pernah menjelaskan padaku bahwa dalam satu keluarga, tidak semua anggota keluarga menjadi vampire hunter, contohnya aku. Mereka yang menjadi vampire hunter adalah mereka yang memiliki darah setengah vampire. Sedangkan aku hanyalah manusia biasa," jelas Hyukjae diakhiri tawa kecil.
"Memiliki darah setengah vampire? Bagaimana bisa? Dan kenapa kau hanya manusia biasa?" tanya salah satu yeoja. Hyukjae terdiam sebentar dan tampak berpikir.
"Molla. Menurut yang dulu orang tuaku ceritakan, leluhurku adalah seorang vampire yang jatuh cinta pada manusia. Lalu mereka menikah dan memiliki 2 anak. Sang kakak adalah manusia setengah vampire, sedangkan sang adik adalah manusia biasa. Tapi selanjutnya, setiap anak yang lahir akan selalu menjadi setengah vampire. Manusia biasa hanya lahir di keluarga kami setiap 800 tahun sekali. Dan mereka bilang...manusia biasa yang terlahir dalam keluarga kami sangat spesial, sehingga harus benar-benar dilindungi. Meski aku tak terlalu mengerti apa maksud dari spesial itu," jelas Hyukjae—bergumam di bagian akhir.
"Lalu? Apakah vampire benar-benar ada?" tanya yeoja yang lain.
"Hyung ku bilang, vampire memang benar ada. Namun manusia biasa tak dapat melihat mereka, karena mereka memasang semacam pelindung di sekitar tubuh mereka sehingga manusia biasa tidak bisa melihat mereka. Namun berbeda dengan manusia setengah vampire, mereka bisa merasakan aura tubuh vampire, mencium aroma darah yang melekat pada tubuh mereka, bahkan mereka bisa menebak gender vampire itu!" lanjut Hyukjae diakhiri tawa kecil.
"Umm, hyungmu manusia setengah vampire?"
Hyukjae mengangguk.
"Apa dia juga meminum darah seperti vampire di cerita-cerita?"
"Aniyo, tapi dia minum red wine," jawab Hyukjae. Enam orang yang adi mengerubungi Hyukjae mengangguk mengerti dan berjalan menuju kelas mereka masing-masing saat terdengar bel berbunyi. Hyukjae menghela napas dan berlari menuju kelasnya yang masih cukup jauh.
Kriet
Hyukjae membuka pintu kelasnya dan...terkejut. Tak ada satu orangpun di kelasnya, tak seorangpun kecuali seorang namja brunette tampan dengan mata cokelat pekat. Namja itu mengenakan setelan jas berwarna biru tua, kemeja berwarna hitam dan dasi berwarna putih. Dan wajah orang itu...
Deg
Deg
Deg
Jantung Hyukjae berdetak kencang saat tatapan mereka bertemu. Perasaan aneh menyerang dadanya. Perasaan kaget, takut, sedih, senang dan...rindu bercampur aduk. Entahlah, Hyukjae ingin mengalihkan pandangannya namun...mata orang itu seakan menghipnotisnya untuk tetap menatap.
"Fiore," ucap namja itu dengan suara yang khas.
Deg
Jantung Hyukjae seakan berhenti berdetak saat ia mendengar namja itu memanggil sebuah nama. Nama yang...sangat familiar di telinganya. Nama yang sering terdengar oleh indra pendengarannya. Nama yang sering terucap oleh bibir tipis seseorang yang selalu muncul dalam mimpinya. Nama yang selalu...menghantuinya dalam mimpi...
"A—ahh..."
Hyukjae tak tau harus menjawab apa. Lidahnya kelu. Namja itu tersenyum dengan aneh—licik dan manis di saat bersamaan. Ia kemudian berjalan mendekati Hyukjae dan berbisik,
"Sebentar lagi, kita akan bersatu..."
Dan semuanya menjadi gelap.
~(*^*^*)~
Seorang namja brunette bermata cokelat pekat berjalan dengan malas ke dalam hutan. Bosan, ia merasa bosan. Ia bosan dengan segala kegiatannya sebagai penerus generasi vampire. Belajar ini dan itu, perjodohan, pesta, meeting dan sebagainya. Melelahkan. Terkadang ia berharap untuk dilahirkan sebagai orang biasa atau minimal sekedar bangsawan. Ia lelah menjadi pangeran.
"Hey?"
Namja itu berbalik dan mendapati seorang yeoja yang berumur tak beda jauh dengannya tersenyum manis dan melambai ke arahnya. Yeoja itu memakai gaun selutut berwarna putih polos, berambut merah panjang dan beriris karamel. Cantik sekali.
"Namaku Fiore. Di rumah aku biasa dipanggil Lady Fiore," ucap yeoja itu ramah.
"...kau manusia ya?" tanya namja itu acuh tak acuh. Fiore mengerjapkan matanya, lalu tersenyum manis dan memeluk namja itu. Mata namja itu membulat saat merasakan tangan mungil Fiore melingkar di pinggangnya.
"Hey, kau-"
"Yep, aku manusia. Kau vampire 'kan? Siapa namamu?" tanya Fiore ceria. Namja itu bisa merasakan wajahnya memerah.
"N-namaku...A-aiden Lee..." ucapnya dengan wajah merah padam.
"Aiden? Nama yang bagus, cocok untukmu!" ucap Fiore semangat. Senyum manis menghiasi wajah manisnya.
Deg
Deg
Deg
Jantung Aiden berdetak kencang. Dan detik itu juga ia mempercayai sesuatu yang sangat sulit dipercaya baginya.
Love at first sight
Dan ia menginginkan Fiore hanya untuk dirinya.
"Fiore, maukah kau ikut denganku ke suatu tempat?"
Dan Fiore dengan polosnya mengikuti Aiden.
~(*^*^*)~
Gasp
Hyukjae membuka matanya dan terbangun begitu saja. Ia bisa merasakan wajahnya basah oleh air mata. Mimpinya tadi...benar-benar...membuatnya merasa rindu. Seakan kejadian itu benar-benar pernah terjadi pada dirinya.
"Kau sudah sadar? Apa kau baik-baik saja?" tanya seseorang dengan nada khawatir. Ia melihat ke sampingnya dan melihat Kim Junsu, sahabatnya, menatapnya penuh khawatir. Hyukjae melihat sekelilingnya dan menyadari bahwa ia berada di ruang kesehatan. Hyukjae menghela napasnya dan mengusap air matanya, lalu mengangguk.
"Kenapa aku bisa ada di sini Su-ie?" tanya Hyukjae.
"Tadi, salah seorang di kelasmu berkata bahwa setelah kau memasuki kelas, tiba-tiba kau pingsan. Kenapa kau bisa pingsan?" tanya Junsu. Hyukjae terdiam sebentar, sebelum memejamkan matanya dan menghela napas.
"Aku...hanya merasa sedikit pusing. Tak ada apa-apa," jawab Hyukjae diakhiri senyum lemah. Junsu mengangguk dan mengusap rambut Hyukjae. Meski Hyukjae mengatakan bahwa ia baik-baik saja, tetap saja Junsu merasa khawatir dengan keadaan sahabatnya yang satu itu.
"Aku sudah menghubungi hyung mu beberapa menit lalu. Kurasa ia sedang dalam perja-"
Brak
Sebelum Junsu menyelesaikan kalimatnya, pintu ruang kesehatan dibuka dengan kasar. Pelakunya tak lain dan tak bukan adalah Choi Siwon, hyung dari Choi Hyukjae. Hyukjae mengangkat kepalanya dan melihat hyung nya penuh dengan keringat dan...beberapa luka.
"H-hyung..." panggil Hyukjae lirih. Mata Siwon berkilat kesal melihat keadaan Hyukjae. Ia terlihat sangat...lemah.
Krek
"H-hyung, hentikan! Hyung bisa merusak pintu itu!"
Siwon melepas cengkeramannya terhadap pintu. Ia lalu berbalik dan berjalan keluar ruang kesehatan.
"Jaga Hyukjae. Jangan sampai ada orang asing yang berani mendekatinya," perintah Siwon dengan nada berbahaya. Junsu hanya bisa mengangguk menuruti perintah Siwon. Brother complex? Ya, itulah Siwon di mata Junsu.
~(*^*^*)~
"Ssshhh..." ringis Donghae. Kini, ia berada di pinggir hutan, tak jauh dari kastilnya. Bahu kanannya mengalirkan begitu banyak darah, jasnya sobek dan sudah ia buang entah kemana. Luka itu ia dapatkan dari Siwon. Beberapa waktu yang lalu, tiba-tiba saja Siwon menyerangnya. Untunglah ia bisa menangkis serangan Siwon, meski serangan tersebut melukai bahu kanannya.
"Sial kau Choi Siwon. Aku hanya ingin bertemu dengannya, sama sekali tak ada maksud untuk membuatnya pingsan..." geram Donghae. Ia bersandar di bawah pohon dan memejamkan matana, menunggu Victoria dan Krystal datang menjemputnya. Ia merasa terlalu malas dan lelah untuk kembali ke kastil sendiri.
Srak
Donghae membuka kedua kelopak matanya dan melirik tajam ke arah kanan. Tak ada apapun, namun ia mengerti bahwa Siwon ada di dekatnya lebih tepatnya, di bagian kanan.
"Mau apalagi kau?" tanya Donghae malas.
"Kau...berani sekali kau mendekati Hyukjae. Kau bahkan membuatnya ketakutan! Tiada ampun bagimu!" geram Siwon. Ia melempar lima pisau belatinya ke arah yang berbeda. Namun pisau belati itu memiliki sasaran yang pasti, yaitu Donghae.
"Ck..." decak Donghae. Bukannya menghindar, ia justru kembali memejamkan matanya.
Trang
Lima pisau belati Siwon terjatuh sebelum sempat menyentuh Donghae. Semua pisau belati itu terjatuh dalam jarak yang sama, yaitu 5 meter dari Donghae. Siwon mendecih kesal saat melihat seorang vampire berpakaian maid berwarna abu-abu berjalan dengan ringannya mendekati Donghae. Di belakangnya, berdiri seorang vampire yeoja berambut pirang panjang dengan cheongsam berwarna hitam selutut.
"Sialan..." kesal Siwon. Mendengar ucapan kesal Siwon, Donghae melirik lawannya dan tersenyum licik. Krystal dan Victoria membantu Donghae berdiri, lalu tubuh ketiganya menjadi asap dan mereka menghilang.
"Adiós, Choi Siwon," ucap Donghae sebelum menghilang dari hadapan Siwon.
TBC
Special thank's ^^
|Arit291|leehyunseok99|Thania Lee|Jung En-Yeon|Tania3424|myfishychovy|Lee Eun Jae|Fitri Jewel Hyukkie|de'yellow|myhyukkiesmile|Kartika2412|Lee Eun In|sweetyhaehyuk|Kamiyama Kaoru|nurul. |lee haehyukkie|
