Extraordinary Fairytale

By: Shinku Amakusa a.k.a Shia

Disc: Bleach is Tite Kubo's, not mine

Warning: OOC, AU, mistypo, etc, etc

.

.


.

Chapter 2 ~ Invitation

.

Tok! Tok!

Suara pintu mansion yang diketuk membuat Rukia menghentikan sementara kegiatannya mengepel lantai dan segera berjalan menuju pintu. Begitu ia membuka pintu, terlihat dua sosok cowok yang tingi dan besar. Yang satu berambut merah dan penuh tato, sedangkan yang satunya lebih besar lagi dengan rambut yang menutupi sebagian matanya dan kalung yang terlihat menghiasi lehernya.

"Apakah benar ini kediaman Lady Rangiku?" tanya pria yang lebih besar dan rambut agak ikal itu dengan suaranya yang rendah dan berat.

"Uh, oh, ya… benar. Maaf… ada perlu apa ya?" tanya Rukia heran.

"Ini." Pria itu menyodorkan tangannya.

"Apa ini?" tanya Rukia ketika melihat sebuah amplop putih yang disodorkan padanya.

"Undangan."

"Hah?"

"…."

"Eeerr… Dari?"

"Kerajaan."

"Siapa yang mengundang?"

"Sang raja."

Rukia memandang pria di depannya itu dengan kening berkerut. Pria di hadapannya ini benar-benar tidak bisa bicara, atau kosakatanya memang terbatas?

"Bye." Pria itu berbalik dan bersiap pergi.

"Eh? Tung, tunggu du—"

"Hei, Chad! Kau benar-benar mau pergi?" tanya pria berambut merah, memotong ucapan Rukia yang baru saja juga akan menghentikan pria yang dipanggil Chad itu.

"Kenapa, Renji?" tanya Chad.

"Haaah… Kau ini benar-benar pelit bicara ya? Bagaimana bisa kau terpilih menjadi seorang pengantar pesan sih? Mana ada pesan yang sampai kalau begini caranya?" keluh Renji sambil menghela nafas panjang dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tidak lama kemudian, pria bernama Renji itu menoleh memandang Rukia yang sedang memandang mereka dengan kening berkerut dan tatapan penuh tanya.

"Kalian berdua ini…"

"Maaf, maaf. Aku yang akan menjelaskan undangan itu." Renji tersenyum. "Isshin Kurosaki, Sang Raja dari kerajaan Karakura akan mengadakan pesta dansa di kerajaan. Ia mengundang para bangsawan di Karakura untuk menghadiri pesta ini, juga bangsawan-bangsawan dari kerajaan lain. Terutama para putri."

"Kenapa para putri?" tanya Rukia bingung.

"Karena ia ingin putra tunggalnya segera menemukan calon istri. Dengan kata lain, pesta ini diadakan demi Pangeran Ichigo."

Rukia mengangguk-angguk mengerti.

"Apakah ada yang ingin anda tanyakan, nona?" Renji masih memandangnya dengan senyum ramah.

"Oh, tidak. Tidak ada. Terima kasih." Rukia tersenyum balik dan mengibaskan tangannya.

"Kalau begitu, kami permisi dulu. Terima kasih atas perhatiannya." Renji membungkukan badannya dan berjalan pergi bersama Chad.

.


.

"Apa itu?" tanya Rangiku ketika ia melihat sesuatu di tangan Rukia.

"Oh, pembawa pesan dari kerajaan mengantarkan undangan ini. Ia bilang kalau raja Isshin akan mengadakan pesta dansa untuk putra tunggalnya malam ini."

"Apa? Berikan itu padaku!" Rangiku merebut amplop itu dengan kasar dari tangan Rukia.

"Putra tunggal Raja Isshin? Pangeran Ichigo?" tanya Tatsuki.

"Kyaaaa! Kurosaki-kun yang itu?" Orihime mulai heboh.

"Ya. Mereka bilang Pangeran akan mencari pasangannya di pesta itu." Rukia menambahkan informasi yang didapatkannya.

"Anak-anak! Ini kesempatan kalian!" Rangiku berbalik dan memandang kedua putrinya dengan tatapan berbinar-binar. "Kalian harus bisa mengambil hati sang pangeran dan membuatnya jatuh cinta pada kalian, atau salah satu dari kalian! Kalau kalian bisa menjadi putrinya, kita bisa pindah ke istana dan hidup mewah seperti dulu lagi!"

"Benar!" Tatsuki mengangguk setuju.

"Aaah… Aku benar-benar ingin menjadi putri pilihannya…" Orihime kembali berangan-angan di alam mimpinya dan tersenyum seperti orang yang terlalu bahagia membayangkan impiannya jadi kenyataan.

"Nah, nah… ayo bersiaplah, para putri! Kalian harus berdandan dan menyiapkan diri kalian sebaik-baiknya!" Rangiku tersenyum.

"Ya, ma!" Tatsuki dan Orihime menjawab bersamaan.

"Dan kau!" Rangiku menoleh ke arah Rukia yang sejak tadi hanya berdiri diam dan memperhatikan mereka. "Jangan berani-berani keluar dari rumah ataupun menghadiri pesta dansa. Lakukan saja pekerjaanmu dan jauh-jauh dari istana!"

Rukia menghela nafas pelan.

"Ya, aku mengerti."

.


.

Di suatu tempat di istana Karakura…

.

"Kau benar-benar serius mengadakan pesta dansa?" jerit Ichigo frustrasi.

"Tentu saja! Aku kan selalu menepati kata-kataku!" Isshin tersenyum bangga.

"Dan apa-apaan ini? Jangan bilang kalau kau juga berpihak pada orang tua aneh ini, Yuzu!" Ichigo menggeram begitu Yuzu menyentuh punggungnya.

"Mouu… Jangan terlalu banyak protes, Ichi-nii… Susah sekali mengukur ukuranmu kalau kau bergerak terus. Kalau begini, aku tidak bisa menyiapkan tuxedo istimewa untukmu nanti malam!" Yuzu meletakkan kedua tangannya di pinggang dan menggembungkan pipinya kesal ke arah Ichigo.

"Aku sudah bilang sebelumnya, kan? Lebih baik serahkan saja pada penjahit yang biasanya untuk membuat tuxedo Ichi-nii. Ini semua sia-sia." Karin menghela nafas.

"Tapi, tapi… Setidaknya aku ingin membantunya dalam pesta kali ini. Aku juga ingin berperan dalam usaha Ichi-nii mencari calon istrinya! Akhirnya, Ichi-nii benar-benar serius akan mencari calon istri!" Yuzu tersenyum.

"Hah, apapun yang kau lakukan, dia akan tetap terlihat konyol."

"Karin!" Ichigo menggeram kesal.

"Maa, maa… Jangan marah-marah terus dong, Ichigo. Calon istrimu tidak akan suka dengan kerutan jelek di wajahmu itu dan aku juga tidak mau cucuku mewarisi kerutan jelek yang konyol itu!" Isshin tertawa.

"Hentikan pembicaraan tentang cucu itu! Kau bicara seolah-olah aku akan menikah besok!"

"Oh, memang. Dan tidak akan lama lagi." Isshin tersenyum jahil.

"Heh, aku tidak akan pernah menikah dengan orang yang tidak benar-benar aku suka."

"Tenang saja! Kau akan segera menemukannya!"

"Tidak semudah membalik telapak tangan, baka oyaji."

"Aku tahu. Tapi, kalau kau benar-benar menemukan seseorang yang membuatmu merasa nyaman, berjanjilah kalau kau akan segera memberitahuku apapun yang terjadi. Mengerti?"

"Ya, yaa…" Ichigo memutar matanya malas dan berbalik untuk berjalan pergi. Ia benar-benar tidak peduli dengan apapun yang Isshin katakan.

"Ichi-nii! Aku belum selesai mengukurmu!" Yuzu mengejarnya sambil membawa peralatan-peralatannya.

'Malam ini benar-benar akan menjadi malam yang panjang…'

.

Tbc

.


.

AN: Gimanaa? Updatenya bener-bener cepet kaaaann? Hahahahaha... XD Aku sengaja update agak cepet soalnya minggu ini aku bakal banyak ulangan dan nggak tahu bakalan sempet update chapter 3 atau nggak. Jadi, anggap aja ini untuk menebus keterlambatan update yang akan datang. Wkwkwkwkwk... :p Daaannn... chapter yang biasa lagi… hahahaha… Maaf, maaf. Aku janji akan mulai dengan yang tidak biasa di chapter berikutnya! Sabar ya? Aku janji kok! Hehehe… Maaf lagi karena ceritanya masih agak geje dan ichiruki-nya belum muncul. Semoga alurnya nggak kecepetan ya? Aku berusaha supaya ada humornya, tapi yang ada malah jadi garing. Aduh… maaf… maaf… *mojok*

Huff… yang versi indo ternyata lebih 'padat' daripada yang inggris. Hahahaha! Memang lebih gampang ngarang pakai bahasa sendiri. Wkwkwkwk… Oh ya, makasih banget buat yang udah review di chapter 1! Thank you very much! Setiap review bener-bener bikin aku semakin semangat nulis! So, keep reviewing, okay?

Aku baru lihat ending 26nya Bleach anime. Aduuhhh... sedih banget rasanya ngeliat ichiruki pisahhh! Kubooooo! We want ichirukiii! Give back our Rukia to Ichigoooo! Nggak tega ngeliat Ichigo tanpa Rukia! Ngenes banget tu cowok... hahaha... *jadi curcol*

Mohon maaf atas segala kekurangan yang ada di atas, mistypo, OOC, geje-geje yang lain, alur nggak jelas, bla bla bla dst dll dsj dkk. Kalau ada yang kurang berkenan tolong kasih tahu aku lewat review atau PM. I'll try to fix it and improve! Kritik saran diterima dengan senang hati! Oke okee?

Di chapter berikutnya bakal muncul sang peri! Ayo tebak siapa! *nggak boleh nyontek ato ngintip di fic yang inggris lhoo!* Daaan… bagaimana reaksi Rukia terhadap kedatangan sang peri? Stay tune, guys! Ja matta!