Composer

Park Jimin x Min Yoongi

slight Taekook/Vkook

BTS and other characters are belong to God, themselves.

Indonesian!AU

Yaoi / boyxboy

Pattesiere!Jimin

Composer!Yoongi

.

.

.

Part 2

Pagi yang indah di paris. Burung -burung melantunkan sebuah melodi indah. Udaranya terasa sangat dingin walaupun matahari bersinar cerah. Sinar matahari mencoba mengintip dari celah Gorden jendela dikamar Jimin dan menyapa dirinya yang tengah bergelung di atas kasur.

Matanya pun terbuka perlahan. Ia menengokan kepalanya ke arah nakas di sampingnya dan melihat Jam yang ada di atas nakas.

'Masih jam 7 ' ujar Jimin dalam hati sembari bangun dari tempat tidurnya. Lalu ia berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri.

Hari ini hari Jumat, ia ingat 2 hari lagi harus menyelesaikann kue pesanan sang Model. Setelah selesai membersihkan diri , ia pun pergi ke arah dapur untuk membuat kopi.

Jimin berjalan ke arah ruang tengah apartemennya dan menyalakan TV. Mencari siaran yang menarik dan setelahnya ia melihat acara gossip. Tidak , Jimin tidak suka acara gossip. Ia hanya kadang merasa lucu saat menonton acara tersebut , dimana yang akhir-akhir ini hanya membicarakan pasangan selebritis yang bercerai atau berselingkuh. Untuk apa mereka mengikat janji suci ataupun berjanji untuk hidup bersama kalau pada akhirnya mereka berpisah pikirnya

Bosan dengan acara menonton tv dipagi hari , Jimin bangkit dari sofa berjalan menuju kamarnya. Beberapa menit kemudia ia keluar dengan menggunakan hoodie warna hitam dan celana training berwarna hitam. Ia pun melangkahkan kakinya keluar dari apartemennya.

'Lari pagi tidak buruk juga'

Ia berjalan menuruni tangga apartemennya dan langsung keluar jalan menuju sungai seine. Jalanan dipinggir sungai Seine cocok untuk lari pagi atau hanya sekedar berjalan-jalan menikmati pemandangan Menara Eiffel dari pinggir sungai Seine.

Jimin jogging sembari menikmati indahnya pemandangan dari pinggir sungai seine. Taman di pinggir sungai Seine masih sepi. Ia berhenti untuk merenggangkan otot-otot di badannya.

Matanya tak sengaja menangkap seseorang yang duduk di bangku taman seorang diri. Jimin kenal siapa orang itu. Ia pun berjalan mendekati orang itu.

Jimin duduk di samping orang tersebut. Rupanya orang tersebut sedang menggunakan earphone sambil menutup kedua matanya. Di pangkuan orang tersebut ada sebuah buku note balok dan sebuah pensil di tangannya.

Min Yoongi , pemuda yang kemarin ia temui nampak tak sadar bila ada orang yang duduk disebelahnya.

Jimin mengamati wajah pemuda tersebut. Hendak memanggil , tapi Yoongi kelihatan damai dalam tidurnya. Akhirnya setelah 5 menit hanya memandangi wajahnya, Jimin menarik salah satu earphone yang dikenakan pemuda itu.

Yoongi tersentak saat tiba-tiba ada yang menarik earphonenya. Ia membuka matanya dan menengok untuk melihat siapa pelaku yang telah mengganggu waktu damainya di pagi hari ini.

Matanya menangkap netra coklat kehitaman yang menyiratkn keteduhan didalamnya sedang menatapnya.

"Hai" sapa Jimin sambil tersenyum manis hingga matanya membentuk seperti bulan sabit.

Yoongi hanya diam , tidak menyapa balik Jimin.

"Kenapa kau ada disini sepagi ini?" tanya Jimin sambil mempertahankan senyumannya.

"Memangnya ada larangan untuk berada disini kapan pun yang kumau?" jawab Yoongi acuh lalu kembali menghadapkan mukanya kedepan dimana sungai seine mengalir tenang

Jimin menggelengkan kepalanya. Hening melanda keduanya. Jimin melihat ke arah sungai seine di depannya.

"kau suka menulis lagu ya?"

"Tau darimana?" Yoongi menoleh cepat.

Jimin menunjuk kertas yang berisi not balok di paha Yoongi.

"oh"

Jimin memejamkan matanya menikmati udara sepoi-sepoi yang dingin. Udara musim gugur di pagi hari tidak main-main dinginnya. Merasa hampir membeku , Jimin menengok ke arah Yoongi yang hanya diam melihat sungai Seine.

"Mau membeli minuman hangat bersama?" Tanya Jimin ke arah Yoongi

"apa kau selalu mengajak orang asing untuk minum bersama?" tanya Yoongi risih

"haish.. Mana ada orang asing tapi sudah tau nama satu sama lain. Ayolah , aku yang traktir. Aku tahu cafe yang menjual minuman hangat yang enak disekitar sini."

Jimin menarik tangan Yoongi untuk ikut dengannya. "He-hei lepaskan tangan ku! atau aku akan teriak?!" kata Yoongi namun tidak di gubris oleh Jimin. Akhirnya Yoongi hanya pasrah di tarik oleh Jimin dibawa entah kemana.

Mereka memasuki sebuah cafe dengan dekorasi kayu namun nyaman untuk sekedar nongkrong. Mereka memilih duduk di dekat jendela yang dengan pemandangan menara eiffel.

"Jimin hyung? tumben pagi-pagi begini datang kemari? tidak kerja?" Seorang pemuda manis datang menghampiri meja yang ditempati Jimin dan Yoongi

"Ah.. Jungkook-ie. Hari ini kebetulan aku libur .. Aku ingin menunjukan cafemu kepada seorang teman " Jimin melirik ke arah Yoongi hanya terdiam sedari tadi.

Jungkook menengok ke arah Yoongi. 'wah imutnya' kata Jungkook dalam hati.

"Namaku Jeon Jungkook . Panggil saja Jungkook. aku temannya Jimin hyung, sekaligus pemilik cafe ini." Jungkook menjulurkan tangannya ke arah Yoongi sambil tersenyum manis untuk berjabat tangan.

Yoongi menyambut tangannya. "Min Yoongi" jawab Yoongi singkat

"Min Yoongi? sepertinya aku pernah dengar.. apa jangan-jangan kau adik dari Min Chaerin, si model itu?" tanya Jungkook ragu

Yoongi bingung akan menjawab apa. Padahal selama ini ia tidak diketahui banyak orang. Hanya kakak dan adiknya saja yang dikenal kebanyakan orang.

"err..iya?"

"Woah ! Serius?!" Jimin menatap Yoongi dengan mata berbinar-binar

Yoongi menghela napas dan diam tidak menjawab. Selamat tinggal pada ketenangan hidupnya setelah ini.

"Pantas saja wajahmu mirip dengannya.. daebak!" ujar Jimin tanpa henti.

Yoongi menatap tajam Jimin. Jimin pun langsung berdeham gugup.

"Ah.. aku ingin memesan kopi seperti biasa ya, kook-ie . Jangan terlalu banyak gula. Tambahkan sedikit saja creamnya . Dan 1 croissant. Kau ingin memesan apa , Yoongi-ssi?" Jimin menengok ke arah Yoongi yang ada di depannya

Yoongi bingung ingin memesan apa. Buat apa memesan kalau dia sendiri tak bisa merasakan apa-apa pada makanan.

Baru saja Yoongi akan menjawab , Jimin tiba-tiba memesankan sesuatu untuknya "1 cheesecake dan 1 hot chocolate untuk dia "

Yoongi mendengus, buat apa dia bertanya kalau dia yang memesankan.

Jungkook mengangguk dan langsung menuju ke arah dapur.

"Jadi kau selama ini adik dari si model terkenal , Min Chaerin.. Yoongi-ssi?" tanya Jimin langsung kepada Yoongi .

Yoongi hanya bergumam bosan.

"Hei bocah, panggil aku hyung. Kau terlihat lebih muda dariku , dan aku juga kakak dari Min Jennie. Kau tau pasti siapa dia."

Jimin tercengang. Ini kalimat terpanjang yang diucapkan Yoongi kepada dirinya semenjak pertemuan pertama mereka.

Hening melanda keduanya. Masing-masing sibuk dengan pikirannya.

"Ini dia pesanan nya" Jungkook menaruh minuman dan kue pesanan di meja mereka.

Jimin meminum kopinya terlebih dahulu. Ia melirik Yoongi yang tidak menyentuh kue ataupun minumannya sama sekali. "Hei , cobalah makan. Kue disini tak kalah enak dengan toko kue di tempat ku bekerja. Tidak usah takut bayar, aku yang traktir kan" ujar Jimin tersenyum

Yoongi bergeming di tempat duduknya. Jimin menghela napas pelan.

Jimin mengambil kue cheesecake yang ada dihadapan Yoongi dengan sendok lalu memposisikan sendok yang berisi kue itu di depan mulut Yoongi.

Yoongi kaget akan tindakan Jimin yang tiba-tiba itu. Yoongi mendorong tangan Jimin menjauh.

Jimin mendekatkan lagi sendok yang berisi kue itu ke arah Yoongi. Yoongi hendak mendorong lagi namun tangannya ditahan oleh sebelah tangan Jimin yang bebas.

"Coba lah. Makan sesuap kue tidak akan membuat mu mati , hyung" Ucap Jimin cepat.

Kata-kata langsung membuat Yoongi terdiam. Ia melihat Jimin dengan senyum teduhnya yang entah kenapa membuat Yoongi nyaman.

'Oh tidak.." Yoongi merasakan detak jantungnya berdetak 2x lebih cepat. Ia juga merasakan kalau wajahnya mulai memanas.

Cepat-cepat ia melepaskan tangan Jimin dan berdeham pelan menyembunyikan ke gugupannya.

"Ba-baiklah akan kumakan.. dan... bisakah kau hentikan senyum bodohmu itu? Apa tidak capek tersenyum terus? " Ujar Yoongi sambil menyuapkan cheesecake ke mulutnya. Hambar...

Jimin tersenyum lega , "Tersenyum itu sehat dan dapat membawa aura positif bagi orang lain , hyung. Cobalah sesekali hyung senyum . Pasti akan sangat manis."

Yoongi hanya mendengus. Manis ? Enak saja. Dia itu swag , batin Yoongi.

"Jadi , bisakah hyung ceritakan tentang diri hyung? aku penasaran" Ia menatap Yoongi dengan penasaran.

Yoongi mengernyitkan dahinya. Sebenarnya ia agak risih ketika ditanya tentang dirinya.

"apa yang kau mau tau dariku ,bocah?"

"mm.. aku mau tau semuanya dan bisakah hyung tidak memanggil 'bocah'? aku sudah berumur 25 tahun!" Ujar Jimin sembari menatap tajam Yoongi. Yoongi hanya mendengus , 'bocah' batinnya.

"ya seperti yang tadi teman mu bilang, aku adik dari sang model terkenal itu dan kakak dari seorang penyanyi terkenal." jawab Yoongi acuh sambil memainkan kue dihadapannya dengan sendok. "Dan bagaimana kau tahu aku orang korea saat kita pertama bertemu?" tanya Yoongi lanjut

Jimin menatap mata Yoongi lurus , "Aku menggunakan insting." Yoongi bohong kalau ia tidak terpana dengan mata Jimin. "Oh ya , Kenapa hyung tidak dikenal banyak orang yang padahal bersaudara dengan Min Chaerin-ssi dan Min Jennie-ssi? Coba ceritakan lagi tentang dirimu, hyung." Jimin menopang dagunya dengan kedua telapak tangan yang ada di kedua sisi pipinya sembari menunggu Yoongi melanjutkan ceritanya.

Yoongi hanya diam tidak menjawab dan memalingkan mukanya ke arah luar jendela. Entah apa yang sedang ia pikirkan.

Jimin juga diam sembari memperhatikan wajah Yoongi bak dewi. Lekuk badannya juga proposional untuk ukuran lelaki atau bahkan lebih proposional dari perempuan tulen . Tiba-tiba saja ia merasakan jantungnya berdebar cepat.

Jimin berdeham pelan

"hei .. apa kau sudah punya pacar , hyung?" tanya Jimin tiba-tiba. Jimin melihat muka Yoongi menegang sekilas namun kembali normal lagi

"tidak." jawab Yoongi singkat. Jimin hanya mengangguk mengerti ,"kenapa?tidak ada niat untuk mencarinya?" lanjutnya.

"Kau sendiri melajang bukan? tanyakan itu pada dirimu sendiri. Jangan ikut campur dalam urusan orang." ucap Yoongi cepat. Jangan sampai teringat masa lalu , batin Yoongi.

Jimin menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Gugup saat Yoongi berkata sarkastik.

"Aku hanya menunggu orang yang tepat saja. Namun sepertinya aku sudah menemukannya.." jawab Jimin, sebenarnya tidak yakin dengan apa yang diucapkannya barusan.

Paling hanya cinta monyet, batin Yoongi.

"Kau mau tau siapa orangnya?" tanya Jimin sambil menatap netra Yoongi dalam garis lurus.

"Tidak."

Hening melanda keduanya. Jimin berdeham memecah kesunyian.

"Jadi, kue disini enak kan?" Jimin basa-basi

Yoongi hanya bergumam.

"Kenapa di toko kue tempatku bekerja kau tidak pernah memakan sesuap pun ? apa tidak enak?"

Jimin sudah 2x bertanya tentang hal itu.

Menghela napas kasar,"Kakak ku yang merekomendasikan toko kue mu. Padahal aku sendiri tidak bisa mengecap rasa apa pun dari makanan." Yoongi menutup mulutnya cepat. Dasar mulut sialan,batin Yoongi.

Jimin terdiam, "Apa?tidak bisa mengecap rasa makanan? kenapa bisa ? apa itu bawaan dari lahir? memangnya ada penyakit yang seperti itu?" tanya Jimin tanpa henti, penasaran.

Yoongi memijat pangkal hidungnya. Pemuda didepannya itu berisik sekali.

"Ini akibat kecelakaan. Dan bisakah kau berhenti bertanya? suaramu membuatku pusing"

Jimin menggelengkan kepala,"Aku tidak akan berhenti bertanya sebelum kau menceritakan semuanya hingga kau bisa jadi seperti sekarang ini"

apa-apaan bocah ini , batin Yoongi lelah

"Aku kecelakaan 2 tahun yang lalu akibat hal bodoh. Hal bodoh itu tak lain adalah berhubungan dengan cinta-cintaan. Makanya , kau hati-hati kalau sedang jatuh cinta, jangan sampai seperti aku atau semacamnya. Aku hanya menasehatkan saja." ucap Yoongi panjang

Jimin diam , Lalu tiba-tiba ia memegang tangan Yoongi yang ada diatas meja . "Apa kau dikhianati oleh seseorang?"

Yoongi menarik tangan nya cepat. "a-apa yang kau lakukan?"

"sudah kuduga. Kau dikhianati kan? dan kau trauma sampai-sampai penyakit itu muncul , benar kan?"

Yoongi terdiam, ia bukan di khianati. Ia hanya takut menyatakan perasaannya dan ketakutannya itu membawa petaka bagi dirinya.

"Hei hyung." panggil Jimin, menarik perhatian Yoongi untuk ke dirinya. "Bagaimana kalau aku membantu mu menyembuhkan trauma mu itu?"

Yoongi mengernyitkan dahinya, tidak mengerti kemana arah pembicaraan itu. Jimin menatap netra Yoongi lurus.

Hening , lalu selanjutnya adalah dimana ucapan yang keluar dari mulut seorang Park Jimin mampu memporak porandakan dunia seorang Min Yoongi

"Jadilah kekasihku"

Sumpah, kalau ada lubang sumur di dekat Yoongi, ia akan dengan senang hati menjatuhkan diri dan membusuk didalamnya.


a/n:

Chapt 2 sudah apdet..

bosen kah?:(

saya ngetik 4 hari nonstop:') /lebay

dan sbnrnya chapter2 selanjutnya sudah saya ketik ~ cuman gak ada waktu buat nge publishnya TT

oya , thank you buat yang review dan nge fav.. tanpa kalian saya bukan apa2:')

mmm.. maaf juga kalau saya pake kihyun buat masalalu nya si Yoongi... saya kira dia bukan uke atau sejenisnya... saya asal piliih soalnya... maaf ya:')

btw mind to review and fav?:)