BROKEN

BTS fanfiction

Real Life

Cast: BTS and other

Pair: KookV, Jungkook X Taehyung

Warning: BL, Real Life

NB: karen real life berarti hubungan cinta sesama jenis masih dianggap tabu.

Previous

Suara perempuan menarik perhatian Taehyung dan Jungkook. Berambut panjang sepunggung diwarna cokelat dengan komposisi bagian akar dan tengah rambut lebih gelap dibanding ujung rambut. Tinggi, langsing, putih, dan satu kalimat kesimpulan yaitu cantik.

"Sampai jumpa Taehyung." Pamit Jungkook.

"Ya," Taehyung membalas singkat sebelum meneruskan kesibukannya memenuhi seluruh permintaan daftar belanja bulanan atau Seokjin akan memberinya ceramah.

BAB DUA

Jika ini bukan cinta

Bisakah kau mencari nama yang tepat

Untuk semua yang aku rasakan sekarang

Untuk semua yang terjadi di antara kita

"Kim Taehyung, putra Kim Si Hyuk pendeta yang sering diundang untuk acara kampus." Terang Sehun.

"Putra pendeta!" Jackson membalas dengan nada mengejek, sedangkan Jungkook memilih diam tak menanggapi. "Jungkook?!"

"Apa?"

"Apa kau sudah mengetahui siapa orang yang menabrakmu tadi? Sampai kau tak berkutik? Ayolah, dia hanya anak pendeta. Dia tidak akan bisa mengutukmu!"

"Jackson hentikan candaanmu, tidak sopan."

"Sejak kapan kau peduli sopan santun?!" ejek Jackson.

"Jangan bercanda dengan isu sensitif."

"Baiklah Tuan Jeon yang terhormat maafkan temanmu ini."

"Berhenti membuatku kesal Jackson."

"Jungkook kau pergi berkencan malam ini?" Sehun melempar pertanyaan untuk menghentikan mulut cerewet Jackson.

"Kurasa aku akan pergi, semua tugas kuliah minggu ini sudah aku selesaikan. Aku ingin bersenang-senang sedikit."

Jackson bersiul nyaring dan melengking sementara Sehun tertawa keras. "Jennie dia sangat cantik kau beruntung Kawan!" pekik Jackson lantas merangkul bahu Jungkook.

"Jangan lupa pengaman Jungkook." Sambung Sehun yang langsung mendapat jitakan cukup keras dari Jungkook. "Hei!" protes Sehun. "Aku tahu dengan jelas apa yang kau maksud dengan bersenang-senang!" sambung Sehun.

.

.

.

Jeon Jungkook seperti orang gila hari ini, mengendarai mobilnya seolah berada di alam mimpi dan ketika tersadar dia ada di depan apartemen kelas menengah. Apartemen tempat tinggal Kim Taehyung. Dan detik berikutnya Jungkook telah berada di depan pintu apartemen Taehyung, benar, dia mengikuti seorang Kim Taehyung setelah enam tahun berusaha keras melupakannya. Semua hancur dalam pertemuan singkat pagi tadi. Bodoh.

Antara sadar dan tidak tangan kanan Jungkook bergerak menekan bel di dekat pintu apartemen. Butuh satu menit hingga pintu apartemen terbuka menampakan sosok yang dia rindukan.

"Jungkook apa yang…,"

"Taehyung." Panggil Jungkook dengan tangan kanan menahan daun pintu apartemen yang belum tertutup sempurna. Ya, Taehyung berusaha menolak kedatangannya.

"Apa kabar?" Jungkook melempar pertanyan sebelum Taehyung menyelesaikan kalimatnya.

"Baik." Lirih Taehyung menjawab.

"Mungkin kita bisa keluar untuk membeli makanan kecil, setelah enam tahun apa kau tidak ingin berbicara denganku?"

Taehyung menggigit pipi bagian dalamnya, menatap wajah Jungkook dengan kebimbangan. Mereka seharusnya tidak bertemu. Dia seharusnya tidak bertemu lagi dengan Jungkook, seharusnya dia mencari tahu lebih banyak mengenai perusahaan baru yang menerima dirinya sebagai salah satu karyawan.

"Maaf aku tidak bisa. Aku ada sedikit urusan hari ini." Balas Taehyung diakhiri senyum tipis.

"Baiklah mungkin lain kali."

"Ya, mungkin lain kali." Balas Taehyung. "Lagipula kau sudah mengetahui dimana aku tinggal sekarang. Enam tahun waktu yang singkat dan kau sudah berubah menjadi orang hebat sementara aku hanya karyawan biasa." Taehyung tertawa pelan di akhir kalimat bermaksud menertawakan dirinya sendiri, tentang betapa payah dirinya.

Sementara bagi Jungkook dia begitu merindukan suara tawa itu. tawa yang selama enam tahun terakhir seringkali menghantui mimpinya, dan melintasi pikirannya. Kim Taehyung hanya tentang Taehyung.

"Selamat malam Taehyung."

"Selamat malam Jungkook." Bersamaan dengan senyum tipis yang Taehyung berikan terakhir kali maka tertutuplah pintu apartemen itu.

Meninggalkan Jungkook yang masih berdiri bak patung di depan pintu. Mereka begitu dekat sekarang, enam tahun sia-sia, dan sekarang Jungkook semakin menginginkan Taehyung tanpa tahu cara apa yang harus dia lakukan untuk mendapatkan Taehyung. Menarik napas dalam Jungkook tidak bisa menghentikan kenangan masa lalu yang kembali melintas di benaknya.

.

.

.

"Menunggu seseorang?"

Taehyung menoleh ke kanan kepada sumber suara yang mengajaknya bicara. "Hai Jungkook." Balas Taehyung dengan sedikit kecanggungan, Jungkook bukan temannya itulah yang membuat Taehyung tidak bisa bersikap santai di depan Jungkook.

"Hai, kau menunggu seseorang?" Jungkook mengulangi pertanyaan yang mungkin tidak didengar Taehyung tadi.

"Bukan seseorang kurasa." Balas Taehyung sebelum meluruskan pandangannya. "Menunggu hujan reda."

"Apa seluruh kelasmu untuk hari ini sudah selesai?"

"Ya." Taehyung menjawab singkat berharap percakapannya dengan Jungkook cepat berakhir.

"Aku ingin menawari bantuan."

"Apa?" Taehyung kembali menoleh menatap Jungkook, mempertanyakan tindakan Jungkook yang menurutnya benar-benar aneh.

"Pertama aku membawa mobil, kedua aku bersedia menghentikan mobilku di dekat tempat pemberhentian bus, ketiga aku turun dari mobil untuk menghampirimu. Apa itu belum cukup jelas? Aku menawarkan bantuan."

"Aku tidak memerhatikan."

"Mau menerima bantuanku?"

Dahi Taehyung berkerut dalam mengamati wajah Jungkook lekat, apa tidak berbahaya memercayai seorang Jeon Jungkook yang terkenal angkuh dan egois.

"Anggap saja sebagai permintaan maafku tempo hari karena perbuatan teman-temanku."

"Itu…," Taehyung masih ragu.

"Kurasa hujan akan lama berhenti, terserah kau mau menerima bantuanku atau terjebak di sini entah sampai kapan."

Taehyung diam untuk beberapa detik sebelum mengangguk, menerima tawaran bantuan Jungkook. "Baiklah, terimakasih sudah menawariku bantuan."

"Tidak masalah."

.

.

.

"Hai." Sapa Jungkook sembari melonggarkan dasi yang melingkari lehernya. Mendudukan tubuhnya dengan nyaman pada kursi kayu meja makan.

"Kuharap kau memiliki alasan bagus untuk membuatku datang ke tempat tinggalmu."

"Setidaknya keluargaku tidak akan bertanya tentang kekasihku." Canda Jungkook.

"Aku merasa lelah dengan sandiwaramu." Balas Irene pura-pura kesal.

"Kita sudah berjanji untuk saling bantu. Aku mengakui anakmu dan kau…,"

"Baiklah." Potong Irene. "Jelaskan sekarang, semuanya."

"Ya." Balas Jungkook kemudian duduk di hadapan Irene, sahabat baiknya.

"Ada masalah di perusahaan? Atau di keluargamu?" Jungkook menggeleng pelan. "Minum, buat dirimu santai, dan ceritakan semuanya. Aku siap mendengarkan seperti biasa."

Jungkook tersenyum tangan kanannya meraih gagang gelas kristal, menghirup aroma anggur di dalam gelas. "Dom Romane Conti." Ujar Jungkook.

"Ya, sebenarnya aku ingin menyimpan anggur itu sampai akhir tahun, tapi kurasa kau sedang butuh hiburan sekarang." Irene menyajikan satu gelas anggur lain untuk dirinya sendiri untuk kemudian duduk di sisi kanan tubuh Jungkook.

"Terimakasih, kau sahabat terbaikku."

"Hmm." Irene menggumam kemudian diam seperti yang dia janjikan pada Jungkook.

"Kim Taehyung."

"Kau bermimpi lagi?"

"Tidak. Kami bertemu. Kami benar-benar bertemu, dia menjadi salah satu karyawan baru di perusahaanku."

"Apa kau tidak memeriksa semua berkas calon karyawanmu?" Irene melempar pertanyaan setelah berhasil merendam keterkejutannya.

"Tidak, aku tidak punya waktu untuk hal seperti itu."

"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya? Memecatnya?"

"Tidak." Balas Jungkook, menatap kedua mata Irene. Sahabatnya, yang selalu ada untuknya, sahabat yang mengetahui seluruh rahasianya. "Aku tidak bisa melakukannya, aku takut." Jungkook menjilat cepat bibir bawahnya yang terasa kering. "Aku takut—aku semakin menginginkannya. Dan aku tahu Taehyung tidak akan pernah memilih untuk bersamaku."

"Dulu aku bisa mengatakan dengan mudah jika perasaanmu terhadap Taehyung merupakan sebuah fase. Sekarang, setelah enam tahun dan kau masih mencintainya, lalu kau tidak pernah tertarik kepada laki-laki dan perempuan lain kecuali Taehyung. Aku tidak tahu harus memberi jawaban apa Jeon Jungkook." Irene melempar tatapan penuh iba kepada Jungkook.

"Kurasa aku akan melakukan berbagai cara untuk menghindari Taehyung."

"Tapi hari ini kau menyapanya dan bahkan membuntutinya." Kening Irene berkerut dalam.

"Ya." Balas Jungkook diselingi anggukan lemah.

"Kau yakin bisa terus menghindarinya?"

"Aku akan bekerja di cabang Kanada."

"Melarikan diri lagi?"

"Ada saran yang lebih baik?"

Irene menarik napas dalam. "Kau, bisakah kau menemui keluargamu dan mengatakan pada mereka kau mencintai Kim Taehyung, kau tidak akan menikahi seorang wanita, tidak akan pernah, kau menderita selama ini karena Taehyung, katakan semuanya."

"A—apa?" usulan Irene membuat Jungkook terperanjat.

"Jungkook kau membunuh dirimu sendiri secara perlahan. Katakan dengan sejujurnya dan keluargamu akan membantu keluar dari masalah."

"Mereka akan membenciku."

"Jika mereka benar-benar menentang perasaanmu katakan pada mereka untuk berhenti berharap kau akan membawa pulang seorang perempuan dan menikahinya."

"Aku membawamu pulang."

Irene tertawa pelan. "Percayalah kedua orangtuamu, mereka tahu kau sedang berdusta ketika membawaku pulang. Jangan meremehkan firasat orangtua terutama ibumu."

Jungkook menenggak habis seluruh Wine di dalam gelas.

"Berhenti menyiksa dirimu sendiri dan katakan semuanya, apa kau perlu bantuan?"

"Selanjutnya apa yang harus aku lakukan? Mengatakan perasaanku pada Taehyung?"

"Apa kau takut mendapat penolakan untuk kedua kalinya?" Jungkook tertawa hambar. "Kau tahu Jungkook dari semua cerita yang kau bagi denganku, Taehyung sama menderitanya denganmu. Dia mencintaimu tapi dia tidak mungkin bersamamu."

"Karena kepercayaannya."

"Ya. Kau orang yang pemberani Jungkook, kau bisa melakukan berbagai cara untuk mendapatkan keinginanmu, tapi kenapa kau lemah soal Kim Taehyung?"

"Karena Taehyung tidak akan melakukan apa-apa, dia akan memilih menderita seorang diri dibanding melakukan tindakan yang akan membuatnya bahagia. Karena Taehyung akan diam di tempat ketika aku memilih berlari penuh luka untuk menghampirinya."

"Kau takut." Balas Irene singkat.

"Ya, aku takut." Kali ini Jungkook menjawab sembari menatap kedua mata bulat Irene. "Aku takut menyeret Taehyung ke dalam dosa besar."

"Karena itu buatlah keputusan secepat mungkin, jangan mengulur waktu karena kau dan Taehyung akan semakin menderita. Katakan dengan jelas di depan Taehyung dan pada dirimu sendiri, kau ingin mendapatkan Taehyung, kau ingin melepaskan Taehyung, dan menerima semua takdirmu."

"Entahlah Irene. Entahlah." Gumam Jungkook kemudian memenuhi gelasnya dengan anggur yang baru.

.

.

.

Taehyung menarik napas dalam-dalam, Jeon Jungkook. Ia mengutuki kehadiran laki-laki itu di dalam kehidupannya. Menelan ludah kasar, Taehyung membuka lebar-lebar jendela apartemen tempat tinggalnya. Tinggal di lantai tiga, tidak banyak memberinya pemandangan leluasa. Tidak masalah, toh Taehyung hanya membutuhkan udara segar.

Taehyung melangkah pelan menuju balkon dengan bertelanjang kaki. Berulang kali ia gigiti bibir bawahnya. Dadanya penuh sesak dan berulang kali pandangannya mengabur karena genangan air mata. Dari milyaran manusi di bumi mengapa ia harus bertemu dengan Jeon Jungkook, dari milyaran manusia di bumi, yang Taehyung yakin jumlah perempuan lebih banyak dibanding jumlah laki-laki, mengapa dirinya harus jatuh hati kepada Jeon Jungkook. Mengapa harus seorang laki-laki.

Menarik napas dalam-dalam, Taehyung menangkupkan kedua telapak tangannya, menautkan jari jemari, memejamkan kedua matanya. Diselingi semilir hembusan angin malam, suara lirih Taehyung menggumamkan permintaan tulusnya.

"Tuhan hentikan perasaan ini, kau menjamin aku untuk masuk Surga maka hilangkan semua rintangan yang akan membuatku berpaling dari jalanmu."

Taehyung membuka kedua kelopak matanya, mengamati gedung-gedung tinggi di hadapannya. "Semua akan baik-baik saja Kim Taehyung, kau akan baik-baik saja. Tuhan akan menjagamu."

Lamunan Taehyung buyar ketika ia dengar dering ponselnya. Taehyung bergegas meninggalkan balkon. Melangkah memasuki ruang serbaguna, ia biarkan pintu penghubung balkon tetap terbuka. Panggilan dari sang Ayah. Menahan senyum, karena rasa bahagia Taehyung tidak menunggu lagi untuk menjawab panggilan dari orang yang dia sayangi itu.

"Selamat malam Ayah."

"Selamat malam, bagaimana kabarmu hari ini?"

"Aku baik-baik saja."

"Kau menikmati pekerjaan dan lingkungan kerja barumu?"

Pertanyaan itu membuat pikiran Taehyung melayang kepada Jungkook. "Ya, aku menikmatinya."

"Kau terdengar tidak tulus, Nak."

Taehyung menghembuskan napas berat. "Sebenarnya—ada sedikit masalah Ayah. Aku sedang mencari tempat kerja lain, tidak masalah jika gajinya lebih kecil. Aku merasa tidak cocok dengan tempatku bekerja sekarang."

"Apa kau tidak akan melibatkan dirimu dalam masalah?"

"Sebelum tanda tangan kontrak, aku akan aman. Sudah malam Ayah, sebaiknya Ayah istirahat."

"Ayah hanya bisa berdoa yang terbaik untukmu, jaga kesehatanmu, jangan lupa berdoa."

"Aku tahu, selamat malam Ayah."

"Selamat malam. Ayah mencintaimu."

"Aku juga."

Panggilan berakhir, namun Taehyung masih menempelkan ponselnya pada telinga kanan seolah ayahnya mendengarkan semua yang ia katakana sekarang.

"Maafkan aku Ayah, jika aku tidak pergi aku akan mengecewakanmu. Apa Ayah tahu putra yang sangat kau banggakan mencintai seorang laki-laki? Apa Ayah tahu putra yang sangat kau banggakan akan terbakar habis di Neraka."

Taehyung menurunkan ponsel di tangannya, kepala tertunduk. Dan seperti biasa ketika dia mengingat semua nasib malangnya. Ia hanya bisa menangis. Menangis tanpa daya. Dan malam itu Taehyung tidur di atas lantai keras dengan pintu balkon terbuka, meringkuk tanpa ada niatan untuk pergi ke ranjang yang lebih nyaman.

.

.

.

"Kau jelek sekali!" pekik Bambam setelah melihat sekilas wajah Taehyung. "Apa yang terjadi?"

"Kurang tidur." Balas Taehyung. "Dimana yang lainnya?"

"Yang lain? Maksudmu Jongdae hyung dan Mark hyung?"

"Ya, mereka berdua memang siapa lagi. Hanya kalian bertiga yang aku kenal."

"Mereka melihat divisi tempat mereka bekerja nanti, dengan senior tentu saja."

"Hmm." Taehyung bergumam malas sebelum menguap. Dia benar-benar kelelahan setelah tidur dengan cara tidak nyaman tadi malam.

"Aku akan bekerja di bagian kreatif, Mark hyung dan Jongdae hyung bekerja di bagian pemasaran, dan kau bekerja pada bagian yang paling membosankan."

Taehyung tahu jika Bambam bermaksud mengejek, tapi untuk sekarang dia sama sekali tidak peduli. Toh, dia akan cepat angkat kaki dari perusahaan ini.

"Kau tahu pekerjaan bagian administrasi kan? Duduk berjam-jam di belakang komputer menyebalkan…,"

Kalimat Bambam seolah tertelan bumi ketika Jungkook melintas. Semua orang membungkuk hormat atau sekedar menurunkan pandangan, semua orang kecuali Taehyung. Sebaliknya, Taehyung memilih membuang muka dan berjalan pergi.

"Hai kau!" Jungkook sangat membenci orang yang tidak menaruh hormat kepadanya. Di perusahaan dialah sang pemimpin. "Kau yang berjalan, berhenti sekarang juga!" kalimat Jungkook membuat semua pekerja yang ada di sekitarnya bungkam.

Taehyung tidak peduli dia terus melangkah pergi. Namun, seseorang menahan bahu kanannya lalu menyentak tubuhnya cukup kuat. Dia berputar dan berhadapan langsung dengan Jeon Jungkook.

Segala amarah Jungkook tertelan setelah dia tahu siapa yang memilih untuk mengacuhkan keberadaannya. Benar, Jeon Jungkook tidak melihat dengan teliti siapa orang yang berani mengacuhkannya tadi. Ketika berhadapan dengan kedua mata cokelat Kim Taehyung. Jungkook seolah lumpuh.

"Maaf." Gumam Taehyung.

Jungkook menurunkan tangan kirinya. "Bagian Administrasi ada di lantai tiga, kau salah jalan."

"Saya pergi ke kamar kecil sebentar untuk merapikan kemeja. Sekali lagi maafkan saya Tuan Jeon Jungkook, saya tergesa-gesa dan tidak menyadari kehadiran Anda."

"Pergilah." Putus Jungkook sebelum melangkah pergi.

TBC

Terimakasih untuk semua yang sudah bersedia membaca cerita ini, terimakasih review kalian jiichan o3o, jjkkth4,Y BigProb, 7D, GaemGyu92, autumnChoi, Leonpie, Kyunie. See ya Next….