Kumpulan drabble dengan latar (mungkin) ngacak.
Enjoy!
.
.
.
1. Akur
Libur lebaran sudah mencapai penghujung. Dua hari lagi, Sakura harus kembali ke pondok dan melaksanakan tugasnya sebagai pengajar. Ia agak bersyukur karena Sasuke hanya pulang ke pondok di waktu-waktu tertentu—yang artinya, Sakura tidak perlu takut untuk bertemu dengannya dalam waktu dekat. Perasaan Sakura masih campur aduk selepas lamaran tempo hari.
Sakura masih belum bisa percaya kalau semua ini adalah kenyataan. Bagaimana kalau Sasuke kecewa begitu tahu keseluruhan tentangnya? Bagaimana kalau Sasuke berubah pikiran setelah lebih dekat dengannya?
Sakura mendengus. Kalau begini terus, yang ada dia malah jadi memikirkan yang tidak perlu. Jadi, ia putuskan untuk meraih ponselnya dan menelepon Sasuke.
Mereka harus bicara.
["Assalamualaikum?"]
Sakura meneguk ludahnya. Mendengar suara khas Si Mas Ganteng Kalem... seketika ia merasa gugup. "W-wa'alaikumsalam."
["Ada apa ya, Ukhti?"]
"A-ah! Aku mengganggu Akhi, tidak?" Kalau tidak salah ingat, Sasuke sudah mulai bekerja kan?
["Ana tak akan pernah merasa terganggu olehmu, ya habibah(wahai sayangku)."]
Kalau ini dunia anime, Sakura yakin wajahnya sudah sangat merah dan mengepulkan asap.
"Idih, gombal!" Sakura mengerucutkan bibirnya ketika mendengar tawa Sasuke di seberang sambungan. "Aku mau jujur pada akhi..."
["Hmm...? Jujur apa? Kalau soal hobimu terkait animasi Jepang itu, ana sudah tahu."]
Sakura tersedak ludahnya. "B-bagaimana bisa?!"
["Anti lupa? Sumber informasi ana itu Dek Ino. Dia sudah menceritakan segalanya. Bahkan memberi tahu ana kalau semasa jadi santri, anti sering menyelinap keluar hanya untuk mampir di festival jejepangan."]
Sakura tertawa nelangsa. Kalau Ino sampai menceritakan itu, ia yakin semua aibnya sudah diketahui oleh Sasuke.
Menuliskan nama Ino di Death Note bakalan mempan gak ya?
["Tak usah dipikirkan. Ana rela diduakan—diratuskan mungkin, ya?—dengan karakter 2D asalkan anti tetap jaga hati untuk ana."] Sakura bisa membayangkan senyum tipis Si Mas Ganteng Kalem di seberang sana. ["Ana lanjut bekerja dulu, ya. Assalamualaikum."]
Sambungan diputus sebelum Sakura sempat menjawab salam. Gadis itu menangis terharu.
...Kalau husbando 2D dan 3D akur itu memang sesuatu banget, ya.
.
.
.
2. Ketika Mereka Tahu
"Mbak, tadi dicariin ibu mertua."
"Mbak, ditunggu ibu mertua di pondok utama."
"Mbakyu, nanti anaknya mau mondok di sini atau dikirim ke Turki seperti ayahnya?"
"Mbak, kalau Mas Sasuke mau poligami, ajak aku ya!"
"Tahu gak, Mbak? Tadi Kiai Madara curhat ke santri ikhwan, katanya pengen cepet nimang anak cucunya."
"Minggu kemarin Ummu Mikoto juga bilang pengen cepet punya cucu, katanya."
"Hati-hati, Mbak. Biasanya yang pendiam semacam Mas Sasuke kalau 'main' jadi ganas."
Duh, Gusti. Tolong kuatkan Sakura agar tidak menggampar semua santrinya pakai kitab kuning kesayangannya.
Haruskah Sakura meminta Kiai Madara menambahkan "hafal qur'an 30 juz dan tafsiran beserta 1000 hadits" sebagai syarat kelulusan santri?
.
.
.
3. Roti Sobek
Terkadang, jika Sakura tidak bisa tidur, ia akan keluar dari kamar asrama. Berbekal jaket dan ponsel beserta earphone, Sakura jalan tanpa alas kaki ke taman pondok. Kemudian, Sakura duduk di bawah pohon sembari mendengar audio quran diputar. Seperti malam ini.
Namun, kali ini, ia tidak fokus sepenuhnya pada lantunan ayat suci yang ditangkap oleh telinga. Baru mendengarkan setengah dari juz 27, ponselnya dihampiri panggilan masuk.
Incoming call : "Husbando 3D"...
Klik.
"Assalamualaikum..."
["Wa'alaikumsalam. Ana tidak mengganggu tidur anti, kan?"]
"Nggak, kok, Akhi." Sakura tersenyum geli begitu mendengar hembusan napas lega dari Sasuke di seberang.
["Aa... Syukurlah. Ana sudah sampai di Bandung jam 3 sore tadi. Maaf baru mengabari."]
Sakura hanya tersenyum. Kebetulan minggu ini Sasuke ada proyek di Bandung. Sakura yang menawarkan agar Sasuke menginap di rumahnya. Yaa... Sekalian PDKT dengan orangtuanya. Hoho. Tadi ibunya sudah mengabari bahwa 'calon mantu tampan'-nya sudah sampai di rumah.
"Ibu gak ngapa-ngapain akhi, kan?"
["Tidak. Hanya membawa ana berkeliling dan memperlihatkan sesuatu yang menarik."]
Sakura mengernyit. "Sesuatu...yang menarik?"
["Album foto keluarga. Anti sewaktu kecil menggemaskan sekali, ya."]
Sakura merasakan wajahnya memanas. "Namanya juga anak kecil, Mas."
["Haha. Eh, tapi ada yang lebih menarik, lho!"] Sakura curiga. Suara Sasuke mulai terdengar jahil. ["...Ana mengintip kamar anti!"]
Sakura melotot horror. Saking kagetnya, gadis itu bahkan reflek berdiri. "NGAPAIN?!"
["Mengonfirmasi laporan Dek Ino, dong. Kamar anti 'warna-warni' ya. Ana juga lihat daki—err apa ya?—dakimura—"]
"Dakimakura," ralat Sakura. Entah wajahnya sudah semerah apa.
["Nah iya, itu! Sekarang ana mengerti apa yang Dek Ino maksud kalau anti ini doyan roti sobek."]
Siapapun, tolong. Sakura ingin mengubur dirinya hidup-hidup. Dia malu sekali.
["Yakin belum siap juga? Ana juga punya roti sobek, lho. Daripada yang KW, lebih baik yang asli dan—"]
Sakura membuka case ponselnya, lalu mencabut baterai benda elektronik itu. Setelah mengantonginya, Sakura berlari ke mesjid dan mengambil air wudhu. Shalat malam ia lakukan, 11 rakaat banyaknya. Istigfar terus ia lantunkan dalam hati setelahnya.
"Apa...yang baru saja kupikirkan?"
Melamunkan husbando 2D mah tidak ada apa-apanya. Kalau roti sobek asli, punya calon suaminya sendiri pula...
Kamera sebelah mana? Sakura mau melambaikan tangannya.
Kokoronya nggak kuat, bro.
.
.
.
4. Aku atau Tomat?
"Sak... Kalau disuruh memilih antara Kagami dan Mas Sasuke, kamu pilih yang mana?"
Sakura menatap Ino datar. "Ngaco ya, kamu! Jelas Mas Sasuke lah!"
"Serius, itu?" Sasuke bertanya, mengedipkan sebelah matanya—usil. "Ana kira, ana bakal kalah sama tokoh yang ada di dakimura itu."
"Dakimakura." Sakura memutar bola matanya. "Akhi sendiri... pilih aku atau tomat?"
"..."
"...Dek Ino, Dek Hinata, temani Sakura ya. Mas mau ke belakang dulu."
Hening.
"...JAHAT! MASA AKU KALAH SAMA TOMAT?!"
.
.
.
5. Kode
Ada undangan.
"Eh, Nak Sakura. Antar Ummu ke undangan pernikahan si B yuk! Sakura ingat si B kan? Padahal baru keluar tahun ini, sudah mau berumah tangga lagi, haha."
.
Seangkot dengan ibu muda.
"Ummu gemas kalau lihat anak kecil. Jadi ingin menggendongnya."
.
Belanja baju lebaran.
"Eh, Nak Sakura, lihat! Baju bayinya lucu ya! Bunga-bunga begitu..."
.
Saat keluarga Kiai Madara kumplit di pondok utama.
"Ada yang kurang, ya."
"Abi? Nanti kita ziarah bareng-bareng, Ummi."
"Bukan itu, Itachi! Rumah ini kurang tawa anak kecil!"
"Di pangkuanmu itu apa, Ummi? Anak Akhi Itachi tidak dianggap?"
"Ini cuma satu. Belum cukup ribut."
"Suruh Akhi buat kesebelasan, Ummi."
"Sepuluh dari Itachi, satu dari Sasuke ya."
.
Sehabis pelajaran Tarikhul Islam.
"Salman Al-Farisi itu luar biasa sabarnya. Dia juga gigih dalam mencari kebenaran islam. Kalau aja Ummu punya cucu laki-laki sepertinya..."
Iya, Ummi, ngerti. Yang kebelet punya cucu.
...Tapi gak ngomong di depan santri juga, dong!
.
.
.
6. Cemburu
"Sakura—"
"—Sebentar, Mas. Lagi chatting bareng Oppa Zen."
"Sakura...?"
"INI DI KAMAR LAGI TELEPONAN SAMA OPPA JUMIN!"
"Kamu kelihatannya seneng banget, habibah?"
"Hahaha... Ini nih, Si Luciel ngelawak mulu."
"Sakura? Kamu kenapa?"
"...Sedih, Mas. Gak bisa nolong Saeran."
"Uwaaaa! I loph yu, Yoosung!"
"Sama Mas engg—"
"—MY SWEETHEART!"
"...Mas Sasuke lihat ponselku, enggak?"
"Di ruang kerja. Semalam Mas pinjam."
"Oh...oke."
"...MAS?! KENAPA MYSTIC MESSENGERKU DI-UNINSTALL?! NO..., OPPA!"
.
.
.
7. Jahat
Nonton anime bersama.
"Mas gak suka yang pake kacamata itu."
"Tsukishima...? Kenapa?"
"Dia kasar sekali ke temannya sendiri."
"Meski dia kecewa pada kakaknya, bukan berarti dia harus begi—"
"—Mas jahat!"
"...eh?"
"Tsukishima gak maksud kaya gitu! Karena dia banyak nyarkas dan bikin orang kesel, bukan berarti dia kasar! Dia cuma gak tahu cara menyampaikan pikirannya secara normal!"
"...Hiks."
"MasyaAllah... Iya, iya... Mas minta maaf, ya? Cupcup. Sudah, jangan menangis!"
.
.
.
8. Gombal
"Kalau diberi kesempatan untuk memilih, ana gak mau bersama anti sampai mati."
"E-eh? KENAPA?!"
"Ana maunya bersama sampai di syurga nanti."
"...Aku padamu, Mas."
.
.
.
9. Kzl
"Aku kesel sama Kakek Madara."
"Lho, kenapa?"
"Masa tadi Kakek nanya gini, 'Sebenarnya saya masih penasaran. Kamu ngapain cucu saya sampai bisa jatuh hati begitu?'." Sakura mengerucutkan bibirnya kesal.
Sasuke tertawa geli, menarik Sakura ke dalam dekapannya. "Iya sih. Sebenernya kamu pake pelet apa?"
Sakura mendengus kesal. "Ih, Mas mah suka gitu!" Dia mencubit keras pipi Sasuke.
"Eh, kesel mana sama Mas?"
"Mas ditanya aneh-aneh sama Nenek?" Sakura mengernyit bingung saat Sasuke mengangguk. "Kapan?"
"Waktu mau lamaran pertama. Kata Nenek, 'Kamu yakin kamu ini lebih hebat dari Usui Takumi?'. Temen rumahmu juga menanyakan hal yang sama. Memang wajib sekali untuk mengalahkan si Usui ini agar bisa mendapatkanmu?"
"Ya, memang." Sakura tertawa.
"Jadi... Mas sudah mengalahkan Usui, nih?"
"Jangan ngimpi, Mas. Usui itu Husbando Legend."
"...Kok Mas kesal, ya."
"Hahaha!"
.
.
.
END
Baca sequelnya juga ya! See ya!
Sekian terimagaji.
Salam Petok,
Chic White
(Your Possible!Chic-ken*roosting*)
