Okay, okay… waktunya continue xD

Degel: kenapa judulnya The Ice Roses Prince, Kaga? Rose kan identik sama Albafica, bukan aku.

Kaga: eh, Ice Roses Prince terbentuk saat saia sedang menelusuri mbah google tentang bermacam-macam bunga mawar xD ak- #plak (reader: kebanyakan ceramah lu!)

Oke lanjutkan xD

The Ice Roses Prince

'Degel itu cuma belum bisa beradaptasi saja sudah dikatakan sebagai 'Pangeran Es' jahat sekali kan?' Kardia masih mendumal melangkahkan kakinya menuju perpustakaan tempat favoritnya dan juga dimana ia bertemu dengan Degel.

Sesampainya di perpustakaan, betapa terklejutnya ia saat melihat hal yang tak mungkin terjadi dimusim seperti ini. Hal yang dikatakan teman-teman mungkin benar, tapi.

"Degel… Degel kau disini?" Kardia mencari sahabatnya ditengah rak-rak buku yang diselimuti oleh es yang membeku itu.

Tak ada jawaban, "Degel! Degel…! Jawab aku! Degel kau dimana?" panik karena tak mendengar jawaban bahkan sedikitpun suara dari sahabatnya.

"Ada apa?" tanya seseorang dengan suara familiar dari belakang.

Dengan segera Kardia menolehkan kepalanya dan menemukan Degel berada dibelakangnya, kelihatannya ia baru saja datang, "kau… kau tak apa-apa? Tidak terluka kan?" tanya Kardia menggenggam bahu Degel dengan erat.

Degel sedikit meringgis saat merasakan tangan besar Kardia yang hampir meremukkan bahu kecilnya, "sakit Kardia… aku tidak apa-apa, justru aku ingin bertanya. Apa yang terjadi dengan tempat ini?" tanya Degel menatap sekeliling yang terselumuti es.

"Oh, maaf… aku sendiri juga tidak tahu. Saat aku sampai tempat ini sudah seperti ini, aku juga tidak mengerti kenapa. Ini kan musim panas," jawab Kardia, matanya ikut mengamati sekelilingnya.

'Apa dengan begini, rumor itu menjadi kenyataan? Rumor tentang Degel sang Ice Prince?' Kardia mendumal dalam hati, antara tak percaya dengan apa yang dia lihat sekarang, juga rasa ibanya pada Degel.

Terlihat Degel menundukkan kepalanya, dipeluknya erat buku yang berada di tangannya.

Sejak hari itu semakin marak saja rumor tentang Degel 'The Ice Prine'.

"Itu pasti dia, perbuatannya,"

"Iya, si Pangeran Es sudah bergerak dan bangun"

Seluruh kata-kata itu dilontarkan pada pemuda kelahiran Rusia ini, sejak kejadian sebagian rak buku perpustakaan membeku tanpa sebab akibat dan bahkan dimusim panas seperti ini.

Kadia sedikit miris melihat Degel yang semakin hari semakin dikucilkan ini, padahal setahu dia, Degel itu orang yang sangat baik. Bahkan saat Kardia malah datang merusuh acara membaca degel dipojokan perpustakaan.

Kaga: kasihan ayah… *geleng-gelengkepala

Degel: Kaga! Kau minta aku bekukan beneran ya pake freezing coffin? *deathglare

Kaga: waaah! Jangan, kaburrrr! *kaburbawakompi

"Degel, kau tidak apa-apa?" tanya Kardia menatap sahabatnya yang selalu dihujani tatapan-tatapan tak mengenakkan dari seluruh penghuni sekolah.

Degel seakan tak mau menatap Kardia, ia memalingkan wajahnya, "sudah… kau jangan dekat-dekat aku lagi. Nanti kau bisa kena imbas juga," ujarnya lalu bergegas pergi meninggalkan Kadia.

"Degel! Hoi Degel!" tak mampu menahan Degel, "cih!" Kardia pun melesat mengejar Degel, ia juga mengerti apa yang dirasakan oleh Degel sekarang, tatapan-tatapan itu memang membuatnya tak nyaman juga.

Setelah berlari cukup lama akhirnya langkah kakinya berhenti diperpustakaan yang bahkan sekarang tak pernah tersentuh lagi oleh murid-murid sekolah itu. Masih melekat es-es yang menyelimuti sebagian rak-rak buku besar.

"Kau tak perlu lari kan? Biarkan saja mereka, mereka kan tidak tahu seberapa baiknya kau. Mereka hanya mengatakannya karena iri padamu," Kardia sedikit mengatur napasnya karena berlari tadi saat mengejar Degel.

"Iri padaku? Apa yang mereka irikan dari orang sepertiku? 'Ice Prince' cocok buat orang sepertiku. Dan lagi ada kejadian itu, lengkap sudah prediksi orang-orang padaku," suara lirih Degel terdengar, pria dengan surai hijau toska ini terlihat lebih lemah dari biasanya.

"Degel… kau itu pintar, berbakat. Pasti banyak yang iri padamu, karena itu janganlah dengarkan mereka, biarkan saja mereka bicara sesukanya. Kalau memang kau tak berbuat sesuatu yang buruk, kenapa harus lari?" Kardia mendekati Degel perlahan.

"Jangan mendekat!" sentak Degel tiba-tiba, membuat Kardia harus menghentikan langkahnya karena terkejut.

"Kumohon jangan, diamlah. Aku… aku tak mau membuatmu ikut dijauhi oleh teman-teman yang lainnya… aku memang sudah sendiri sejak awal, sekarang pun seharusnya sendiri," Degel sempat terisak pelan, Kardia tahu, bulir-bulir air mata sudah mengalir di pipinya yang mulus dan putih.

Kardia terkekeh, "aku dijauhi teman-teman? Aku juga sejak awal memang sudah sendiri, mereka saja yang seenaknya mendekat. Dan sekarang mereka menjauh lagi atas keinginan mereka, biarkan saja lah," jawab Kardia dengan entengnya.

Perlahan Degel menolehkan kepalanya dan menatap Kardia yang tersenyum polos padanya dengan cengirannya yang khas.

"Aku… aku mengerti, terima kasih, Kardia," Degel sedikit tersenyum dan Kardia dapat melihatnya dengan jelas, Kardia merasa senang dapat melihat senyum Degel.

Tapi tak semudah itu, kejadian itu masih melekat diingatan para siswa lainnya yang menganggap Degel adalah seorang penyihir es yang mampu membekukan seseorang. Bahkan kali ini bukan hanya dijauhi lagi, tapi juga diintimidasi oleh siswa lainnya.

Kaga: kasihan… *geleng-gelengkepala

Degel: kau yang membuatku seperti itu kan Kaga!

Kaga: eh? Ettooo… hehehehe ^^"

Tapi Kardia senantiasa menemani Degel agar lelaki tampan itu tidak kesepian diruang perpustakaan yang sempit, kecil, pengap dan lembab itu, yang sewaktu-waktu bisa membuatnya berlumut(?).

Sampai hari itu.

Entah kenapa kali ini Kardia sedikit melebihi semangat '45 yang selama ini dia keluarkan (author: biasanya juga gitu =_="), dia berlari menuju perpustakaan favoritnya dan menemukan sosok Degel yang seperti bukan Degel berbalut pakaian putih tipis, disekelilingnya serpihan-serpihan es menari-nari.

"De…gel…" Kardia terperangah. Ia tak paham apa yang ia lihat, juga tak ingin mempercayainya, ia tak mau menganggap temannya itu benar-benar Pangeran Es.

Perlahan Degel menolehkan kepalanya dan menatap Kardia dengan tatapan tak percaya, tak percaya bahwa ia akan datang secepat itu. Lalu seperti mengabaikan perasaannya pada Kardia, Degel tersenyum menyeringai.

"Halo Kardia…" ucapnya dengan senyum menyeringai yang bahkan tidak pernah dan tak mungkin ia lihat pada seorang Degel.

Kardia sedikit merinding, "a…apa yang terjadi padamu? Degel!" Kardia menghampiri Degel menggenggam erat bahunya, namun kedua tangan Kardia justru membeku oleh suhu dingin yang teramat rendah.

"Jangan mendekatiku, Kardia… hubungan kita hanya sampai disini…" suara dingin yang datar juga hawa dingin yang menusuk dirasakan oleh tubuh dan hati Kardia.

Kardia meringgis, saat hawa dingin yang menyelimuti tangannya mulai menghilang, "jangan pergi Degel! Jangan lari Degel!" ia kembali meraih tangan Degel dan menggenggamnya, alhasil tangannya kembali membeku.

"Kita berbeda Kardia… tapi aku senang bisa bertemu denganmu… aku senang bisa mengenal manusia yang baik sepertimu," suara Degel semakin menghilang diikuti dengan tubuhnya yang semakin memudar, "kalau waktu mengizinkan, kita pasti bertemu lagi," akhirnya suara bahkan tubuh Degel menghilang sepenuhnya.

Meninggalkan Kardia yang jatuh pingsan dengan hawa dingin teramat rendah disekitarnya.

Degel menghilang, rumor itupun menghilang bak tak pernah ada bersama dengan orang yang dirumorkan.

Setahun berlalu, acara lulus-lulusan akademi pun diselenggarakan. Kardia dan beberapa temannya merayakan kelulusan mereka. Kardia memang sudah terlihat tak memikirkan Degel lagi, tapi ia merasa ada sesuatu yang kurang saat ini.

Sampai, adiknya Milo datang untuk memberikan selamat pada kakaknya dengan membawa seorang teman bersurai merah panjang dan lurus. Kardia sempat salah mengira itu adalah Degel, karena perawakannya yang benar-benar mirip Degel bagai pinang dibelah dua.

Tapi Kardia sadar, auranya berbeda dari milik Degel yang lebih dingin bagaikan es batu, es batu? Ya benar, makanya ia dijuluki Pangeran Es.

"Heh, Kardia… selamat ya! Aku juga akan masuk ke akademi ini," Milo menepuk bahu Kardia yang dibarengi dengan senyum singkat pemuda mirip Degel itu.

"Ahahaha, semangatlah," Kardia menepuk kepala adik kesayangannya. "Kau juga ya," lalu melirik pemuda fotocopian Degel itu dengan senyum.

"Aku selalu semangat kan, begitu juga dengan Camus," Milo menyebut nama pemuda copian Degel itu dengan nama Camus.

'Jadi namanya Camus ya? Mirip sekali dengan es batu itu,' batinnya bergumam, lalu sedikit terkekeh mengingat masa lalunya bersama Degel sang Pangeran Es.

T.B.C

Kaga: oke, ini dia chapter kedua The Ice Roses Prince, inti ceritanya belum keluar… bersabar ya ^^"

Degel: ya ampuuunn, kau benar-benar membuatku bak setan es, anak durhaka!

Kaga: yaaaa, ettooo. Makanya ayah tuh lebih kelihatan kayak setan es sih. Hehehe ^^"

Ah sudahlah, minta repiuw ya, jangan lupa xD