Title : The Day with You
Genre : Family/Friendship
Pairing : Harem!Naru (Straight/Slash), OCNaruto (Brothership not romance), OCItachi (Friendship not romance), OCxOC.
Rated : T
Disclaimed : Naruto (c) Masashi Kishimoto
.
Summary : Sanzou Ienari tidak pernah menyangka kalau kehidupannya akan berubah. Bukan hanya karena Kyuubi membunuh kedua orang tuanya, tetapi ia harus berhadapan dengan seorang bayi yang ia tahu adalah anak dari seorang Hokage, dan juga berhadapan dengan arwah sang Hokage itu sendiri. OCNaru (Brothership not Romance)
.
2 Years Later
.
"Bagaimana keadaan Naruto Kakashi?"
Sandaime Hokage menatap pada ANBU yang baru saja selesai berpatroli melihat keadaan Naruto. Pemuda berambut spike putih itu tampak hanya membungkuk sebelum berdiri dan menatap sang Hokage Ketiga. Menghela nafas, ia cukup lega melihat kalau Naruto baik-baik saja dan sepertinya memiliki satu orang yang perduli padanya.
"Buruk dan baik," Sandaime tampak mengerutkan dahi keriputnya, "buruk, karena para pengurus bangunan tidak ada yang mau mengurusnya. Meletakkannya di ruangan yang berbeda dan juga dingin dari anak lainnya, dan membiarkannya diberikan susu dingin serta tidak menenangkannya saat ia menangis malam hari."
Sandaime tampak mengeratkan tangannya dan menghela nafas. Ia tahu akan menjadi seperti ini, semua yang diberikan Kakashi cukup buruk. Apa yang bisa menjadikan kabar selanjutnya menjadi cukup baik untuk didengar.
"Tetapi, sepertinya ada seseorang yang mengasuh dan menemani Naruto menggantikan mereka," dibalik topengnya tampak Kakashi tidak bisa tidak tersenyum. Meskipun usianya masih sangat muda, sepertinya anak laki-laki yang dilihatnya cukup bisa tahu bagaimana cara mengurus Naruto, "saat aku mengeceknya, ia bahkan mencoba untuk menidurkannya dan tampaknya ia juga yang mengganti diam-diam susu dingin yang diberikan pada Naruto."
"Siapa dia?"
"Kalau aku tidak salah ingat, Sanzou Ienari ia masuk akademi beberapa minggu yang lalu," jawab Kakashi tidak begitu yakin. Hei, pekerjaannya itu ia lakukan secara diam-diam, bagaimana mungkin ia bisa mengetahui siapa yang ada disana bukan, "kalau yang kuperhatikan, ia adalah anak yang sedikit tertutup tetapi ia anak yang baik."
...
"Mungkin aku harus bertemu dengannya..."
-oOo-
"AAAAAGH!" Mengacak rambut putihnya frustasi saat ia berada di dalam ruangan Naruto dengan membawa kertas dan tinta chakra. Naruto sendiri tampak berada di gendongannya sambil ia memegang gulungan kosong di depannya saat ini, "bagaimana mungkin aku bisa salah memasukkan formula pada fuin ini, aku sudah yakin kalau formula yang kutulis sama dengan yang kau ajarkan Minato-san."
"Kau harus mencermatinya benar-benar Ienari-kun, fuin untuk kertas peledak memang sangat mudah tetapi untuk tahap selanjutnya memang sedikit susah," jawab Minato yang tertawa sambil duduk bersila di hadapan Ienari dan Naruto yang mencoba untuk mengambil gulungan di tangan Ienari, "kalau kau sudah bisa membuat kertas peledak yang aktif tanpa menggunakan api, aku akan mengajarkan jenis fuin yang berbeda."
"Aku tidak sabar menunggunya." Dengan nada sarkasis tentu saja, Ienari hanya menghela nafas dan melihat kembali contoh fuin yang benar. Minato tidak bisa sama sekali menyentuh ataupun berbuat apapun, jadi ia hanya bisa menerangkannya dengan berbicara saja.
"Sanzou Ienari-kun?"
Menoleh saat mendengar namanya dipanggil, menemukan Hokage ketiga yang entah sejak kapan sudah berada di belakangnya. Wajahnya memucat dan dengan segera berdiri tentu saja sambil menggendong Naruto yang tadi berada di pangkuannya.
"Sa-Sandaime Hokage, selamat pagi!" Membungkuk dalam, bagaimana bisa Hiruzen Sarutobi tiba-tiba berada disini dan yang lebih penting tahu namanya, "a-ada apa anda kemari Hokage-sama?"
Walaupun sudah 'tinggal' bersama dengan Yondaime Hokage, tentu saja ia tidak bisa bersikap seperti itu bersama dengan Hokage lainnya. Ia baru pertama kali bertemu langsung dengan Sandaime Hokage dan itu cukup untuk membuatnya merasa sangat gugup.
"Hm? Hanya ingin melihat keadaan Naruto, lagipula ini adalah malam Natal," jawabnya sambil tersenyum dan mencoba untuk mendekat untuk melihat keadaan Naruto. Ia bisa melihat bagaimana bayi itu tampak sangat nyaman berada di gendongan anak itu. Sementara Ienari tampak sedikit terdiam mendengar itu.
...
"Ini malam natal?"
-oOo-
Duduk di salah satu kursi yang ada di taman bermain panti asuhan, Ienari masih menggendong Naruto yang tidak bisa tidur sedaritadi. Di sampingnya tampak Sandaime yang hanya diam dan tersenyum pada beberapa anak ataupun penduduk yang melewati mereka. Entah sadar atau tidak, beberapa orang tampak menatap tajam kearah Ienari atau lebih tepatnya Naruto.
"Bukankah mereka semua terlalu kejam menurutmu Ienari-kun?"
"Eh?" Menoleh pada sang Hokage yang tampak senyumannya memudar saat itu. Ienari tampak tidak mengerti perkataan sang Hokage.
"Apa yang kau fikirkan saat melihat Naruto?"
"Errr...bayi?" Minato yang berada di sampingnya tampak sweatdrop mendengarnya. Berpura-pura polos atau memang Ienari adalah orang yang polos, hanya dua itu yang ada di fikirannya.
"Kau tahu cerita tentang Kyuubi bukan?"
"Cerita bodoh yang mengatakan kalau Naruto adalah Kyuubi? Hah, yang benar saja," Ienari mendengus pelan sambil menatap Naruto yang ada di gendongannya, "anda tidak berfikir hal bodoh seperti itu bukan? Selama 2 bulan aku bersama dengannya, dan tidak pernah ada 'monster' yang disebut oleh para penduduk. Hanya Uzumaki Naruto..."
...
"Kenapa kau begitu yakin hingga tidak terpengaruh oleh omongan para penduduk?" Sarutobi Hiruzen tampak mencoba untuk mengetest apakah Ienari benar-benar tidak menganggap Naruto sebagai Kyuubi atau ia akan membalaskan dendam saat ada waktu yang tepat.
"Karena aku—"
"Jangan katakan Ienari-kun," suara Minato tampak terdengar olehnya seolah ia bisa membaca kalau Ienari akan mengatakan kalau ia berada di tempat itu malam itu dan mengetahui kalau Naruto adalah anak dari seorang Yondaime Hokage.
"Karena kau?"
"Karena aku tidak mudah percaya pada orang lain," tidak sepenuhnya salah, ia bukan orang yang begitu saja percaya pada apa yang orang lain katakan sebelum ia melihatnya sendiri, "lagipula kalau anda membiarkannya berkumpul dengan anak-anak lainnya, itu artinya anda juga percaya kalau Naruto bukan Kyuubi bukan Hokage-sama?"
Tersenyum, ia cukup puas dengan jawaban Ienari. Sandaime berdiri dan menepuk kepala Ienari pelan sebelum mengambil sesuatu dari balik jubahnya.
"Selamat natal Naruto-kun," memberikan sebuah boneka rubah berwarna orange yang entah bagaimana disembunyikan oleh Sarutobi sejak tadi. Naruto yang merasakan sesuatu yang lembut didekatkan padanya refleks memeluk boneka itu dengan erat, "dan ini untukmu Ienari-kun..."
Memberikan sebuah gulungan pada Ienari yang tampak membuat bocah itu sedikit terkejut dan menatap gulungan jutsu di tangannya.
"Beberapa jenis Fuinjutsu yang bisa kau pelajari, hanya sampai tingkat B," jawab Sarutobi yang mendapatkan informasi dari Kakashi kalau anak itu sedang berlatih fuinjutsu sendirian saat ia melihat Naruto bersama dengan Ienari, "kudengar kau tertarik dengan Fuinjutsu, dan aku memberikannya sebagai hadiah natal untukmu. Tentu saja aku tidak bisa memberikan Kinjutsu padamu..."
'Kinjutsu?'
"Jutsu terlarang, seperti Shiki Fuin yang kupakai untuk menyegel chakra Kyuubi," Ienari hanya mengangguk-angguk mendengar penjelasan dari Minato.
"Terima kasih Hokage-sama, aku benar-benar menyukai hadiah ini," jawabnya sambil tersenyum. Sarutobi hanya membalas senyumannya dan menepuk kepala Ienari dengan lembut dan berjalan menjauhinya.
"Baiklah, kalau begitu latihanmu akan lebih keras lagi Ienari-kun," Minato tampak bersemangat untuk mengajarkan Ienari fuin yang ada di dalam gulungan itu. Ienari hanya sweatdrop mendengarnya, tidak mengerti kenapa Minato benar-benar bersemangat dengan apa yang akan ia pelajari.
.
.
.
"Apakah anda sadar kalau aku baru berusia 5 tahun Minato-san?"
-2 Tahun Kemudian-
"'Nari-nii," suara yang tampak menyambutnya saat masuk ke dalam gedung panti asuhan membuatnya menoleh untuk menemukan anak berusia 2 tahun itu berjalan kearahnya. Segera memeluk kaki anak berusia 7 tahun itu dan tampak menoleh pada Ienari yang baru saja pulang dari akademik, "ayo bermain!"
"Setelah aku mengerjakan tugas rumahku oke, Naruto?" Menepuk kepala anak itu dan berjalan kearah kamar Naruto yang masih sama namun sudah berganti dari kasur bayi menjadi kasur biasa. Ia ingin pindah ke kamar Naruto, tetapi sang Matron melarangnya untuk pindah bersama dengan sang 'monster', "kenapa kau tidak bermain dengan yang lainnya?"
"Tidak boleh bermain," suara Naruto yang tidak terlalu jelas cukup membuat Ienari mendengarnya. Menoleh saat ia baru saja akan mengeluarkan alat tulisnya dan mengerjakan tugasnya.
"Keadaan Naruto semakin parah saat kau tidak ada," Ienari menatap Minato yang ada di samping Naruto. Menatap pada lengan Naruto entah karena apa. Namun Ienari segera menyadarinya, menarik Naruto dengan sangat lembut namun sepertinya anak itu tampak menyerengit. Menggulung pelan kaus hitam yang dipakai oleh Naruto dan menemukan lebam yang ada di lengannya.
"Naruto?"
"Na-Naru jatuh dari tangga dan terluka," jawab Naruto sambil tersenyum lebar, "tetapi sudah tidak sakit!"
"Seseorang mendorongnya dari tangga dan membuatnya terjatuh seperti itu," Ienari mendengar perkataan Minato dan hanya bisa menghela nafasnya. Sudah tentu itu yang terjadi, bukan satu kali kejadian ini terjadi—dan tentu ia lebih percaya pada Minato daripada Naruto.
"Kau tidak apa-apa 'Nari-nii?"
"Hm, tidak apa-apa—" melihat kearah lebam itu, perlahan menghilang hingga tidak meninggalkan bekas sama sekali bahkan tanda merah keunguan sekalipun.
...
"Baiklah, biarkan nii-sanmu ini mengerjakan tugas dan setelah itu aku akan membawamu jalan-jalan oke?" Naruto mengangguk senang dan duduk manis saat melihat Ienari mengerjakan pekerjaan rumahnya dengan cukup lancar. Minato sendiri hanya duduk dan terkadang memberitahu bagian yang salah atau bagaimana cara untuk menyelesaikan sebuah persoalan disana.
-oOo-
Menguap lebar, Ienari yang selesai dengan pekerjaan rumahnya itu merenggangkan tangannya dan menatap sekeliling. Jam menunjukkan pukul 4 sore, dua jam sudah ia mengerjakan pekerjaan rumah. Menoleh pada Minato yang tampak menaruh telunjuk di depan bibirnya sambil menunjuk pada Naruto.
Yang sedang tertidur.
Tentu saja, Naruto adalah anak yang aktif. Membuatnya menunggu 2 jam tanpa melakukan apapun hanya akan membuatnya bosan dan tertidur seperti sekarang. Baru saja akan memindahkan Naruto ke atas tempat tidurnya saat pintu kamarnya terbuka.
"Ienari?" Itachi tampak menoleh ke dalam ruangan dan menemukan pemuda itu tampak akan menggendong Naruto, "aku mendengar kalau kau berada di kamar ini. Makanya aku kemari," jawab Itachi yang masuk entah kenapa terlihat sedikit kepayahan.
"Aku baru selesai mengerjakan tugasku," menoleh pada 'sesuatu' yang membuat Itachi tidak nyaman. Seorang anak berusia kira-kira sama seperti Naruto itu memeluk erat kaki Itachi seperti seorang Koala. Berambut hitam dengan model rambut yang tampak seperti pantat ayam, "adikmu?"
Mengangguk.
"Sasuke lepaskan kakiku, aku tidak bisa bergerak," Itachi menghela nafas dan menatap adiknya yang menggelengkan kepalanya dan masih memeluk kaki Itachi. Ienari hanya tertawa melihat kedua bersaudara Uchiha itu sebelum suara yang tampak baru saja terdengar membuatnya menoleh.
"'Nari-nii?"
"Ah Naruto, maaf kalau aku membangunkanmu," Ienari benar-benar tidak enak mengetahui suara tawanya sedikit tidak terkendali hingga Naruto terbangun dari tempat tidurnya. Memiringkan kepalanya melihat Itachi dan Sasuke sebelum berlari ke belakang kaki Ienari.
"Siapa?"
"Ah, dia adalah temanku, namanya adalah Uchiha Itachi dan adiknya Uchiha Sasuke," Ienari memperkenalkan keduanya yang tampak menatap sang bocah yang masih bersembunyi di belakang pemuda itu, "perkenalkan dirimu Naruto."
"Tetapi, nanti Naru akan dipukul lagi," jawab Naruto sambil menatap dengan tatapan protes. Keempatnya (plus arwah Hokage keempat) tampak menatap Naruto sedikit terdiam sebelum Ienari menghela nafas sambil menepuk kepala Naruto. Tidak ada yang bisa menyalahkan karena apa yang ia dapatkan bahkan sebelum usianya 1 tahun.
"Namaku Sasuke," suara itu membuat Ienari, Itachi, dan Naruto menoleh untuk menemukan bocah Uchiha yang paling muda itu sudah melepaskan dekapan kakinya pada Itachi dan mengulurkan tangannya di depan Naruto.
"Naruto..." Tidak membalas uluran tangannya namun menatapnya dengan takut-takut. Ienari menatap Itachi yang mengangguk, mengerti kalau Itachi mengatakan Sasuke tidak pernah mengetahui apa yang dilakukan penduduk desa pada Naruto.
"Bagaimana kalau kita bermain saja? Aku sudah berjanji padamu bukan Naruto," Ienari menoleh pada Naruto yang mengangguk tetapi sedikit tidak menyetujui usulan Ienari untuk mengajak orang lain selain dirinya. Karena terakhir kali ada anak lainnya yang bermain, mereka memukuli dan semua orang tidak sama sekali memperdulikannya.
"Ayolah Naruto, Itachi dan Sasuke adalah orang yang baik, mereka tidak akan memukulmu," Ienari mengacak rambut Naruto yang hanya cemberut dan mengangguk pelan.
-oOo-
Itachi dan juga Ienari berada di jalanan Konoha bersama dengan Naruto dan Sasuke di samping mereka. Mereka hanya berjalan-jalan untuk melihat sekeliling mereka, lagipula bagaimanapun Ienari tidak bisa terlalu jauh dari Naruto kalau berada di luar bangunan Panti Asuhan. Naruto tampak terlihat sedikit terbiasa berbicata dengan Sasuke yang selalu mengajaknya berbicara dan bertanya macam-macam.
"Eh, jadi kau juga akan mengambil test gennin tahun ini? Bukankah kau baru masuk tahun kemarin?" Ienari menatap Itachi yang hanya mengangguk. Ienari sendiri sebenarnya juga akan ikut ujian Gennin tahun ini dengan rekomendasi dari Sandaime. Walaupun ia tidak yakin apakah rekomendasi itu adalah hal yang tepat atau hanya mempermalukan Sandaime saja.
"Ya, kau juga begitu bukan?"
"Entahlah," mengangkat bahunya dan menghela nafas. Ia bukan orang yang percaya diri, "ninjutsu hampir dibawah rata-rata begitu juga dengan Taijutsu. Hanya pengendalian chakra dan juga Genjutsu yang hanya berada didalam rata-rata dan tidak ada keistimewaan."
"Seseorang dengan pengetahuan Fuinjutsu yang bahkan seharusnya tidak dengan resmi dipelajari—mendapatkan gulungan jutsu dari Sandaime Hokage. Apakah kau harus membuat dirimu serendah itu?" Itachi tampak tersenyum tipis membuat yang bersangkutan tampak membulatkan matanya.
"Tidak, aku hanya mengatakan yang sebenarnya—" jawabnya sambil memalingkan wajahnya yang sedikit memerah, "apakah kau tidak apa-apa menyetujui Sasuke adikmu bermain dengan Naruto?"
"Ada masalah?"
"Kau tahu apa yang dilihat para penduduk tentang Naruto bukan—" menggaruk leher belakangnya, ia sendiri tidak suka saat mengatakan hal ini. Tetapi kalau seperti itu bukankah Sasuke bisa dijauhi juga atau bahkan dimarahi oleh kedua orang tua mereka.
"Aku tidak perduli dengan kedua orang tuaku, asalkan aku melihat Sasuke aman-aman saja, aku akan membiarkannya—" Itachi melihat Sasuke yang masih mencoba untuk mengajaknya bermain, "—lagipula bukankah kau sendiri tidak apa-apa menemaninya selama 2 tahun. Kalau ia adalah monster sehebat apapun kau ia pasti akan mengalahkanmu."
"Hah, kau tidak akan percaya apa saja yang kualami yang sebenarnya tidak bisa kujelaskan dengan akal sehat," jawabnya sambil menyenderkan badan di tiang ayunan. Menoleh saat melihat Sasuke dan Naruto yang berlari kearah mereka.
"Tachi-nii/'Nari-nii, ayo bermain ayunan!" jawab keduanya bebarengan dan saat itu mereka saling bertatapan dan baik Itachi maupun Ienari bersumpah kalau mereka melihat kilatan di mata keduanya, "jangan mengikutiku dobe/teme!"
…
"Pff—ada apa dengan kalian?" Ienari tampak tertawa sementara Itachi tampak menghela nafas sambil tersenyum tipis. Mereka tampaknya cukup cepat berteman baik dan bahkan sudah seperti ingin bersaing satu sama lainnya, "baiklah, ayo bermain ayunan…"
Tampak memegang kedua bahu Naruto dan membawa anak itu ke atas ayunan. Minato tampak hanya tersenyum—tidak apa-apa kalau Naruto memiliki sedikit teman asalkan mereka bisa menerima dirinya apa adanya. Ia hanya berharap Sasuke termasuk dalam teman Naruto itu.
-oOo-
"Lebih tinggi nii-san!" Suara Naruto tampak terdengar begitu juga dengan Sasuke. Tertawa saat Itachi dan juga Ienari mencoba untuk mendorong ayunan mereka hingga terayun begitu saja semakin tinggi. Tetapi tentu saja ia harus mengingat kalau Naruto adalah anak berusia 2 tahun. Terlalu tinggi bisa berbahaya.
"Lihat dobe, ayunan Itachi-nii-san lebih tinggi daripada Ienari-nii," Naruto menoleh pada Sasuke dengan tatapan kesal dan hanya mengembungkan pipi kecilnya saja.
"Nii-san, ayo lebih tinggi!" Menoleh ke belakang, tidak mau kalah dengan Sasuke—itu yang ada difikirannya. Tetapi tentu saja Ienari tampak tidak mau mengambil resiko kalau sampai Naruto terjatuh. Ia bisa diterror habis-habisan oleh mantan Hokage yang ada di sampingnya sekarang.
"Kau bisa jatuh Naruto."
"Tidak—Sasu saja bisa lebih tinggi, tentu saja Naru juga bisa!" Masih protes dengan wajah yang cemberut yang sebenarnya sangat lucu untuk dilihat. Entah kenapa wajah Itachi maupun Sasuke tampak memerah dan membuat Itachi menghentikan ayunannya.
"Mau aku yang ayunkan Naruto? Ienari memang tidak memiliki tenaga yang kuat hanya untuk mengayunkanmu," jawab Itachi dengan nada meremehkan. Dan sekali lagi, Sasuke tampak tidak sama sekali protes kakaknya akan mengayunkan seseorang selain dia—dan itu tidak biasa.
...
Empat persimpangan tampak berada di kepala Ienari saat ia menghentikan ayunannya. Menoleh dengan senyuman di wajahnya namun tampak kedutan itu terlihat jelas.
"Apa maksudmu, aku bisa mengayunkan Naruto lebih tinggi—minimal darimu," jawabnya menatap kearah Itachi yang membalas senyumannya dengan senyuman datar dan setipis mungkin.
"Buktikan?"
"Baiklah," Ienari yang tampaknya kesal tidak menyadari saat Itachi memberikan tanda 'peace' diam-diam sambil menoleh pada Naruto yang nyengir melihat Itachi sukses membujuk Ienari. Tidak butuh waktu lama untuknya mendorong ayunan Naruto dan membuatnya sama tinggi dengan Sasuke.
'Ienari, kalau Naruto sampai jatuh aku akan menambah jatah latihanmu tanpa ampun~' glek! Ia lupa dengan ayah protektif yang ada di sebelahnya. Tentu saja ia harus tetap berhati-hati kalau saja Naruto benar-benar terjatuh. Kalau tidak, hidupnya benar-benar akan kacau.
"Apa yang kalian laku—" suara itu tampak berada tepat di belakang mereka saat Itachi dan Ienari masih mendorong kedua bocah itu dengan sangat tinggi dan satu pukulan telak mengenai kepala mereka, "—kan!"
Itachi mengelak sedikit, namun Ienari terkena pukulan telak. Tersungur sejenak sebelum mengaduh sambil memegangi kepalanya yang berdenyut. Ayunan tampak sedikit demi sedikit melambat dan membuat kedua bocah tampak turun untuk melihat siapa yang memukul kedua orang anak laki-laki yang mendorong mereka.
"Haru, apa yang kau lakukan!" Seorang anak perempuan yang berambut hitam dikepang satu di belakang tampak menatap mereka dengan tatapan kesal. Tangannya tersilangkan di depan dada sambil melihat mereka berdua.
"Kau fikir tidak berbahaya mengayunkan anak kecil dengan tinggi seperti itu—bisa-bisa ia terjatuh bagaimana?!"
'Aku setuju denganmu Haru-san,' Minato tampak mengangguk-angguk meskipun ia tidak pernah bertemu dengan anak itu. Ienari hanya sweatdrop dibuatnya. Menggaruk leher belakangnya sambil menghentikan permainan itu, Itachi sendiri juga tampak hanya diam sambil menepuk punggung Sasuke.
"Siapa dia 'nari-nii?"
"Hm? Ia adalah Haru teman satu akademik kami," jawab Ienari sambil memperkenalkan gadis itu pada kedua bocah di belakangnya. Anak perempuan itu menoleh pada kedua anak kecil di belakang kedua pemuda itu.
"Wah, siapa mereka? Oh, kalau dia sepertinya adikmu Itachi? Lalu siapa bocah satu lagi?" Haru menunjuk pada Sasuke sebelum menunjuk pada Naruto disampingnya.
"Uzumaki Naruto, salam kenal Haru-nee!"
"Aww~ kau sangat lucu, apakah ini adikmu Ienari?" Haru memeluk Naruto yang tampak meronta karena pelukan darinya. Ienari tampak sweatdrop melihatnya, dan hanya menggeleng pelan.
"Bukan, tetapi ia berasal dari panti asuhan yang sama denganku," jawabnya sambil tersenyum dan menghela nafas. Syukurlah saat Naruto memperkenalkan diri sepertinya ia tidak mempermasalahkannya sama sekali.
"Ia mirip dengan mantan guru mendiang kakakku."
"Huh?"
"Itu, guru Jounnin dari Rin-nee-san. Mendiang Hokage keempat," jawab Haru sambil menatap mata biru Naruto. Baik Ienari maupun Minato tampak membulatkan matanya. Saling bertatapan sambil Ienari berbicara dengan nada berbisik.
'Anda tidak pernah mengatakan kalau ia adalah adik dari mantan muridmu Minato-san!' Menatap Minato yang juga bingung sebenarnya. Ia tidak pernah menanyakan tentang keluarga dari muridnya secara langsung terutama Rin. Ia mengenal ayah Kakashi Sakumo Hatake karena ia salah satu yang menganggap Sakumo bukanlah seorang sampah. Bahkan ia hanya mengetahui kalau Obito adalah keponakan dari Fugaku tanpa tahu siapa orang tuanya.
'Aku juga tidak pernah mengetahuinya Ienari.' Ienari hanya menghela nafas mendengarnya. Minato terkadang tidak menunjukkan sikap sebagai seorang Hokage, namun mungkin itu yang membuatnya disenangi oleh semua warga Konoha.
"Tidak mungkin kalau Naruto adalah anak dari Yondaime Hokage bukan," tertawa sambil melepaskan pelukannya, melihat kearah Naruto dan mengusap wajahnya. Ienari hanya tertawa datar, tidak mungkin ia mengatakan kalau hal itu benar, "kalau sampai benar, aku hanya tidak bisa berfikir kenapa Yondaime Hokage meninggalkan anaknya sendirian."
...
GROWL...
Suara itu terdengar membuat mereka menoleh pada kedua bocah itu.
"Lapar nii-san," Naruto menarik pakaian Ienari. Merogoh kantungnya melihat uang yang ia terima dari Sandaime untuk urusan Naruto. Kalau makan di panti asuhan mereka akan menjatahi Naruto dengan makanan yang sangat sedikit.
"Baiklah, bagaimana kalau kita makan diluar saja?"
"Ichiraku Ramen?" Haru tampak menatap kearah Ienari dengan tatapan berbinar. Naruto memiringkan kepalanya dan bingung, ia tidak pernah memakan masakan selain yang disediakan oleh panti asuhan dan juga yang disediakan oleh Ienari dari luar.
'AAAAH!' Terkejut saat mendengar Minato berteriak, Ienari menoleh dan menatapnya penuh tanya, 'de-dengan wujud seperti ini aku tidak akan bisa mencicipi Ichiraku Ramen, tidak!'
'Bahkan anda tidak bisa merasa lapar lagi bukan Minato-san,' tampak sweatdrop mendengar bagaimana perkataan dari Minato itu. Ia pernah mendengar kalau tempat itu sangat digemari semua orang, tetapi ia sendiri juga belum pernah merasakannya, "baiklah, ayo kita makan disana..."
"Kau yang traktir!" Haru menggandeng kedua tangan Itachi dan Ienari dan menarik mereka berdua. Tentu saja Itachi dan Ienari tidak melupakan keadaan Naruto dan juga Sasuke yang segera mereka tarik tangannya.
"Tunggu, bukan berarti aku akan mentraktir kalian bukan! Ya, Matte!" Ienari mencoba untuk melepaskan, menjelaskan namun sepertinya sia-sia. Oke, dompetnya akan benar-benar kosong setelah ini.
-oOo-
"Uwaaa, ini benar-benar enak!" Semuanya tampak berada di Ichiraku Ramen, menyantap makanan mereka bersama-sama. Naruto benar-benar menyukai makanan yang ada di depannya, dan Ienari tidak pernah melihat Naruto makan sebanyak itu. Semoga saja tidak menjadi Ramen Maniak seperti hantu yang sedang memojok di luar stand karena tidak bisa memakan ramen itu.
"Benar bukan, sudah kukatakan kalau Ramen disini paling enak!" Haru menghabiskan 3 mangkuk ramennya, sementara Itachi baru memulai mangkuk keduanya. Naruto juga sudah menghabiskan 3 mangkuk dan Sasuke sama seperti kakaknya, "kau tidak tambah lagi Ienari?"
"Tidaaak, aku baru saja makan tadi—" tertawa sambil melihat dompet miliknya itu dengan wajah memelas. Menghela nafas, ia tidak mungkin meminta pada Sandaime lagi walaupun untuk keperluan Naruto—ia harus menabung uang dari hasil kerja sambilannya nanti saat menjadi Gennin, 'rasanya enak sih, tetapi bisa-bisa uang dari Sandaime-sama akan habis langsung...'
TUK!
Suara piring yang diletakkan di dekatnya membuatnya menoleh untuk menemukan sepiring Miso Ramen panas. Menoleh pada sang penjual Teuchi, Ienari tampak bingung karena ia tidak memesan apapun setelah mangkuk pertamanya habis.
"Bonus untukmu, dan kuberikan diskon untuk ramen yang kalian makan ini," jawab Teuchi santai membuat semuanya mengerutkan alisnya, "karena Naruto-kun mengingatkanku pada dua pelanggan setiaku!"
"Eh?"
'Aku bisa menebak salah satunya,' melirik pada Minato yang tampak baru masuk lagi, mungkin satunya adalah istri dari Minato Yondaime. Kalau Naruto mengingatkannya dengan dua orang, tentu saja selain Yondaime Hokage satu lagi ada kemungkinan ibunya. Yah, sudahlah—dengan begini uang bulanannya masih bisa diselamatkan.
"Kalau begitu aku boleh pesan lagi paman?!" Haru mengangkat tangannya yang memegang sumpit.
"Oi! Siapa yang memperbolehkanmu!"
-oOo-
"Kenyangnya—terima kasih atas traktiranmu Ienari," Haru tampak tertawa dan menepuk punggung Ienari yang tampak lesu namun mengangguk.
"Terima kasih diterima," jawabnya dengan nada sarkasis malah membuat semuanya tertawa. Sedang mengobrol bersama tampak Naruto yang menarik celana Ienari dan bersembunyi di belakangnya. Bahkan menghentikan pembicaraan mereka.
"Ada apa Naruto?"
"O—orang-orang disini seram," Ienari menoleh dan menyadari kalau memang orang-orang Konoha menatap mereka dengan tatapan tajam. Atau lebih tepatnya menatap Naruto dengan tajam. Ah, karena dikelilingi orang seperti Itachi, Sasuke, Haru, dan juga Teuchi ia jadi lupa bagaimana perlakuan orang-orang desa.
"Apa yang mereka lakukan…"
"Naruto tidak disukai oleh orang-orang desa," Itachi mencoba untuk membisikkan pada Haru untuk tidak didengar oleh Naruto, "itulah sebabnya ia jarang keluar dari bangunan karena ia selalu diincar oleh orang-orang desa."
"Hah, apa yang membuat mereka bisa membenci anak semanis—HMPH!" suara Haru yang tiba-tiba membesar membuat Itachi menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Melihat jarak Itachi sangat dekat, gadis itu tampak wajahnya memerah padam, 't—terlalu dekat!'
"Jangan sampai Naruto mendengarnya…" Haru hanya mengangguk, hanya ingin Itachi sedikit menjauh darinya sebelum ia pingsan karena jarak yang 'cukup' dekat itu. Ienari tampak menatap keduanya sambil menghela nafas—tampak—
'Sepertinya ada yang cemburu~' membulatkan matanya saat Minato muncul dan tiba-tiba saja berbicara seperti itu yang membuatnya menjauh sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangan.
'A—aku tidak cemburu!'
'Kau masih terlalu cepat untuk membohongiku Ienari,' Minato tersenyum dan menatap wajah merah Ienari yang masih belum menghilang. Ia menggaruk kepala belakangnya dan hanya diam tidak mengatakan apapun.
'Hmph, ia menyukai Itachi—untuk apa aku berharap,' jawabnya sambil mendengus. Minato menoleh pada Itachi, lalu Ienari, dan juga Haru. Tersenyum saat menyadari kesamaan dari mereka bertiga dengan mantan timnya.
'Kau terlalu pengecut untuk mencoba, dan kau hanya bisa menunjukkan rasa cemburu.'
"A—aku tidak cemburu!" suaranya tiba-tiba saja muncul begitu saja dengan volume yang cukup keras. Itachi, Haru, Sasuke, dan juga Naruto tampak menoleh pada Ienari dengan wajah bingung, "e—ehehehe, sebaiknya kita pergi ke taman lagi saja. Disana lebih aman."
Walaupun masih bingung, pada akhirnya mereka hanya memikirkan bagaimana caranya untuk mencari tempat aman untuk Naruto dan mereka hanya mengangguk. Ienari hanya menghela nafas sementara Minato tertawa melihatnya membuatnya memasang tatapan tajam kearah mantan Hokage yang sudah ia anggap sebagai ayahnya itu.
Minato sendiri tampak hanya tersenyum dan kembali mengawasi sekelilingnya. Menoleh saat menemukan seseorang yang menatap dengan tatapan tajam kearah mereka sambil membawa sebuah kunai. Ia tahu siapa target orang itu.
"Ienari, awas!" Merespon teriakan dari Minato membuat Ienari segera mendekap Naruto dan mencoba untuk melindunginya. Itachi yang tampaknya terlambat menyadarinya segera mendekap Sasuke juga dan menoleh kearah asal kunai itu berada. Orang itu sudah pergi dan dengan segera menoleh pada Ienari dengan kunai yang menancap pada bahu belakangnya di sebelah kiri.
"Ienari-nii/Ienari!"
"Ow, ow, ow—" memegangi bahunya yang berdarah, mencoba mencabut kunai itu dengan segera. Haru, Itachi, dan Sasuke tampak mendekat dan mencoba untuk memeriksa keadaannya.
"Apakah kau tidak apa-apa Ienari?"
"Ya mungkin—" memegangi bahunya, masih mengeluarkan darah karena kunai itu tampak cukup dalam mengenainya. Namun sepertinya ada yang lainnya yang membuatnya merasakan keadaan yang aneh, "—kenapa… pandanganku menjadi berputar ya…"
"I—Ienari!" Haru mencoba untuk melihat keadaan Ienari sebelum tiba-tiba tubuh Ienari tampak limbung dengan wajah memucat dan peluh membasahi wajahnya. Bukan karena cuaca tentunya—demi tuhan ini musim gugur dan cuaca terasa sejuk bahkan dingin.
Itachi tampak mencoba menenangkan Sasuke dan juga Naruto sebelum melihat pada kunai yang dilempar begitu saja oleh Ienari. Tampak sisa sedikit cairan yang berada dikunai itu.
…
"Racun?"
.
.
.
"APA?!"
Ienari's POV
"Kita memang bukan dari keluarga klan, tetapi ayah dan ibu ingin kau memiliki nama di dunia shinobi," aku mendengar suara tou-san dan kata-kata yang selalu diucapkannya setiap melihatku. Hidup sebagai keluarga shinobi tanpa klan itu mungkin sudah biasa, tetapi bagi ayah dan ibuku—tidak berklan itu artinya harus memiliki posisi tinggi di dunia shinobi.
Oke, ayah dan ibuku memang seorang ANBU yang menurut semua orang adalah orang-orang yang hebat di dunia Shinobi. Namun tentu saja keduanya tidak sama sekali puas dengan hasil itu. Mereka menginginkanku untuk lebih dari mereka. Lalu, aku harus jadi apa? Sannin, Hokage, Daimyou?
Bermimpi saja lah.
Seberapapun mereka mencoba untuk melatihku, bahkan sejak usiaku 2 tahun—dengan berbagai pengetahuan, aku bukan boneka yang bisa digerakkan mereka untuk tujuan mereka. Namun apa yang bisa kulakukan, karena keberadaanku hanyalah berarti saat kedua orang tuaku bangga padaku.
"Aku tidak yakin kalau ia akan menjadi anak yang kita inginkan..."
...
"Ia adalah anak yang lemah, bahkan chakranya sangat lemah dan tidak normal."
Ah, kenapa dulu aku tidak mengerti—kenapa kedua orang tuaku memutuskan untuk tidak menjagaku, kenapa mereka membiarkanku sendirian. Mereka sudah menyerah padaku, tidak lagi memperhatikanku karena mereka fikir aku tidak akan bisa menjadi apa yang mereka inginkan. Orang lemah hanya akan menjadi sendirian—tidak ada yang menginginkannya.
.
.
.
Ya, selama aku lemah—aku akan sendirian...
End of POV
Haru, Itachi, Naruto, dan Sasuke tampak menunggu di koridor rumah sakit hingga seorang ninja medis yang memeriksa keadaan Ienari. Naruto yang pada awalnya tertidur tampak membuka matanya saat Itachi menepuk kepalanya lembut.
"Bagaimana keadaannya?"
"Beruntung racunnya masih sempat dikeluarkan sebelum menyebar, tetapi ia akan merasa lemas selama beberapa hari," Haru tampak menghela nafas dan lega karena keadaan Ienari tidaklah buruk.
"Haru-nee, bisakah Naru melihat 'Nari-nii?" Naruto yang berada di samping Haru tampak menarik ujung pakaian Haru yang menatapnya.
"Bisakah?" Haru menoleh pada ninja medis itu sebelum ia tersenyum dan mengangguk.
"Sebentar lagi ia akan sadar, tetapi jangan ribut di kamarnya oke?" jawabnya sambil membuka pintu kamar dan membiarkan keempat orang pengunjung itu tampak masuk dan melihat kearah Ienari yang terbaring itu, "saya tinggalkan dulu."
"Ow—" suara itu membuat semuanya segera mendekati sumber suara. Ienari mencoba untuk bangkit dan memegangi kepalanya yang terasa pusing. Bahkan tidak memperdulikan sakit di bahunya lagi, "dimana ini?"
"Ienari-nii!" Naruto segera berlari dan memeluk Ienari membuat yang bersangkutan tampak segera terjatuh ke belakang kembali dalam keadaan berbaring.
"Duh!" Tersentak saat merasakan lukanya terkena benturan cukup keras. Tampak panik Naruto segera menjauh sementara Ienari mengaduh pelan sambil memegangi bahunya yang terluka, "ah orang itu benar-benar brengsek!"
'Gunakan bahasa yang baik Ienari.' Minato tampak cemas melihat Ienari namun tampak hanya berdiri di sampingnya yang berbaring saja. Ienari hanya menggerutu sebelum menoleh kearah sekelilingnya dimana Naruto dan juga yang lainnya menatapnya tanpa berkedip.
"Ada apa?"
"Kau sudah membuat orang lain cemas bodoh!" Haru memukul kepala Ienari dengan tenaga yang dibilang dikurangi namun tetap saja membuat kepalanya benjol. Mengaduh kembali sambil mengusap kepalanya, "kau tidak sadar kalau kau bisa saja mati karena ada racun di kunai itu!"
"Racun?" Tampak membulatkan matanya, hanya mengangguk dan menghela nafas. Ienari mengacak rambutnya dan mencoba untuk menggerakkan lengan kirinya, "aku tidak apa-apa bukan? Racun seperti itu tidak akan membunuhku."
"Itu karena Itachi membawamu dengan cepat kemari, bakka!"
...
"Sasuke, kau bisa mengajak Naruto keluar sebentar? Uhh... Belikan kami minum saja," tanya Itachi sambil memberikan sejumlah uang. Ia hanya ingin membicarakan sesuatu saat ada Naruto ataupun Sasuke. Naruto tidak sempat protes saat Sasuke menariknya keluar meninggalkan ketiga calon Gennin itu.
"Jadi, bisa kalian ceritakan sebenarnya kenapa para penduduk membenci Naruto?"
-oOo-
"Kan sudah dibilang kalau ia terluka bukan karena kau," Sasuke menatap Naruto yang hanya menunduk sedih saja. Tidak butuh waktu lama untuknya membeli minuman di dekat sana. Bahkan bisa saja lebih cepat kalau saja para penduduk tidak menatap Naruto dengan tatapan benci, "mungkin saja salah sasaran atau memang yang diincar Ienari-nii..."
"Bisa saja bukan..." Masuk cemberut, menatap Naruto—Sasuke hanya menaikkan tangannya dan memukul kepala Naruto cukup keras hingga anak itu mengaduh sakit, "kau cari gara-gara teme!"
"Mukamu jelek kalau seperti itu," jawabnya sambil menyilangkan kedua tangannya di belakang kepala dan memalingkan wajahnya tidak mendengarkan protesan dari anak itu, "lebih baik daripada aku beginikan."
Dengan segera mencubit kedua pipi Naruto dan menariknya hingga terlihat seperti tersenyum.
"Baik-baik, aku tidak akan cemberut lagi! Lepaskan teme!"
"Dasar dobe," menghela nafas dan sampai di depan kamar Ienari. Membuka perlahan dan akan masuk ke dalam kamar.
"Jadi benar kalau para penduduk mengincar Naruto? Begitu juga dengan kunai itu?" Suara Haru tampak terdengar membuat Sasuke menghentikan langkah dan juga gerakannya, "pemikiran mereka terlalu bodoh! Mereka menganggap Naruto itu monster hingga banyak yang mengincarnya."
"Bukan hanya satu serangan ini, Sandaime-sama tidak pernah menyuruh Naruto untuk makan makanan diluar karena banyak orang mencoba meracuninya," memegang bahunya dan menghela nafas, "kalau tadi aku terlambat satu detik saja, tentu yang terkena lemparan itu adalah Naruto..."
'Ienari—' suara Minato sekali lagi mengalihkan perhatiannya untuk melihat Sasuke yang memegang ganggang pintu yang terbuka sedikit dengan Naruto di belakangnya. Mata mereka membulat mendengar semua itu—tidak perlu untuk mereka menunggu hingga usia mereka dewasa untuk mengetahui apa arti dari percakapan ketiga calon gennin itu.
"Jadi benar karena Naru Ienari-nii terluka?"
"Ti-tidak, kau salah paham Naruto," tampak panik karena mengetahui kalau Naruto mendengarnya. Namun sepertinya pembicaraan tentang Naruto memiliki Kyuubi di tubuhnya tidak ia dengar. Kalau sampai ketahuan Sandaime Hokage, ia bisa kena hukuman, "aku melakukannya karena tidak mungkin untukku membiarkanmu terluka bukan?"
"Tetapi—"
"Kalau Haru-nee tahu kau akan terluka, Haru-nee akan melakukannya juga, kalau yang akan terluka Sasuke-kun pasti kami juga akan melakukan itu," Naruto tampak menatap Haru masih dengan wajah cemberut yang malah membuat Haru merasa gemas dan ingin mencubit kedua pipi anak itu, "tenang saja, toh Ienari-kun tidak keberatan melakukan itu."
Naruto menoleh pada Ienari yang tampak tersenyum dan mengangguk.
...
"Ya sudah."
-oOo-
"Sudah kubilang kau akan lulus," Itachi melihat Ienari yang mengikatkan hitai atenya di lengan kiri. Hanya tertawa dan menggaruk kepala belakangnya. Satu minggu berlalu, ujian Gennin sudah dilaksanakan dan baik Itachi, Haru, ataupun Ienari lulus dengan mudahnya. Haru sendiri tampak sudah bersama dengan Itachi dan hanya tertawa melihat Ienari salah tingkah.
"Yang terendah di nilai Ninjutsu dari yang lulus, tidak bisa dibanggakan," jawabnya menggaruk kepalanya lagi.
"Yang tertinggi di ujian menulis cukup membanggakan," jawab Itachi sambil menghela nafas dan sekali lagi membuat Haru tertawa dan wajah Ienari yang memerah. Tentu saja, ia tidak pernah kesusahan untuk mengikuti ujian tertulis karena semua yang ia hafalkan di buku. Tetapi tetap saja.
"Jangan repot-repot memujiku 'Tuan dengan nilai rata-rata tertinggi'," jawabnya sambil menyilangkan tangannya dan mengangguk-angguk. Itachi hanya diam dengan empat persimpangan di atas kepalanya. Haru yang melihat mereka berdua hanya menghela nafas dan memukul kedua kepala Ienari dan Itachi.
"Jangan bertengkar!"
"Tidak bisakah kalau kau tidak memukul kami terus Haru?" Mengaduh pelan dan mengusap kepalanya. Menatap ke depannya saat melihat Naruto dan Sasuke yang berlari kearah mereka. Memeluk kaki Ienari, dan dengan segera menepuk kepala anak berusia 2 tahun itu, "hei Naru, bagaimana hari ini—puas bermain dengan Sasuke?"
"Uhm! Dan tahu tidak Nari-nii, Naru sudah bisa pergi ke tempat Sasuke sendirian!" Ienari tampak sedikit terkejut dan menatap Sasuke. Menyadari sebuah perban ada di tangan Naruto membuatnya sedikit panik.
'Hanya jatuh dari pohon tempatnya kabur,' suara Minato membuatnya menghela nafas. Ia benar-benar cemas dengan Naruto saat ia tidak berada di sekelilingnya.
"Nari-nii lulus ujian?"
"Kami bertiga Naru-chan!" Haru menarik kedua temannya itu dan tersenyum. Naruto dan Sasuke tampak senang mendengar itu, "oke, untuk merayakannya tentu saja siapa yang mau ramen?"
"Naru!"
"Lagi? Kau bisa gendut kalau kau terlalu banyak makan ramen Haru," menghela nafas dan mendapatkan tatapan tajam dari Haru. Minato hanya tertawa pelan melihat jujurnya Ienari.
"Seharusnya kau tidak mengatakan itu pada seorang gadis bakka!"
-oOo-
"Eh, Nari-nii akan pindah dari panti asuhan?!" Naruto yang tampak berada di panti asuhan melihat kearah Ienari. Yah, usianya memang baru 7 tahun, tetapi itu cukup tua untuk berada di panti asuhan. Lagipula ia sudah bisa mencari uang sendiri dari misi saat di kelompok Gennin nanti.
"Hanya pindah di dekat sini, aku bisa mengunjungimu setiap hari," jawab Ienari sambil menepuk kepala Naruto yang masih tidak terima. Anak-anak maupun pengurus di panti asuhan tidak pernah baik padanya, hanya Ienari, Itachi, Haru, dan juga Sasuke yang baik padanya, "hm, jangan pasang wajah seperti itu."
"Tetapi—"
"Kau tidak perlu bergantung terus, bagaimana kau bisa menjadi shinobi yang kuat bukan," Ienari menghela nafas dan menggaruk kepala belakangnya. Yah, sebenarnya Minato juga setuju dengan itu, karena itu bisa membuat Naruto mandiri, "aku akan tahu kalau kau membutuhkanku atau tidak."
'Lagipula guruku juga bersama denganmu Naruto,' jawabnya sambil menggaruk dagunya dan menatap Minato yang menatap anaknya. Sandaime juga mencarikan apartment yang terdekat dari panti asuhan dengan jaminan yang cukup bagus dan aman.
...
"Baiklah, tetapi Nari-nii harus janji akan mengunjungiku kalau bisa!"
"Tentu saja, kau adikku satu-satunya—kau tidak perlu menyuruhku melakukan itu," Ienari tampak memeluk erat Naruto dan mengacak rambutnya. Naruto hanya tersenyum lebar dan membalas pelukannya. Ienari hanya menghela nafas, sebenarnya tidak ingin meninggalkannya sendirian namun Naruto tidak boleh terlalu bergantung padanya.
"Kalau ada apa-apa, kau bisa mengatakannya padaku..."
"Ya!"
-oOo-
Hanya butuh beberapa hari untuknya pindah dari panti asuhan, dan meninggalkan Naruto di panti asuhan. Sampai terakhirpun sebenarnya ia masih berat untuk meninggalkan anak itu, dan Naruto sendiri juga tidak ingin ditinggalkan oleh pemuda yang sudah ia anggap sebagai kakaknya itu.
"Pada akhirnya kau ditinggalkan lagi bukan?" Baru saja Ienari bejalan pergi dari tempat itu saat sang Mantor berbicara seperti itu di samping Naruto. Anak berusia 2 tahun itu tampak membulatkan matanya dan menatap kearah sang mantor, "monster sepertimu memang tidak perlu memiliki seseorang. Kau hanya akan melukainya. Aku berani bertaruh kalau ia tidak akan kembali melihatmu."
"Nari-nii sudah berjanji padaku, ia pasti akan kembali!"
"Hmph, kita lihat saja nanti—" dan sang mantor tampak berbalik tidak perduli dengan apa yang dirasakan oleh Naruto setelah ia mengatakan hal seperti itu. Sementara Naruto sendiri tampak hanya menggigit bibir bawahnya, memikirkan apakah yang dikatakan sang mantor benar atau salah.
-oOo-
"Ah, akhirnya misi selesai juga—" Haru tampak merenggangkan kedua tangannya dan berjalan bersama dua anggota tim genninnya—Itachi dan Ienari. Ya, mereka yang merupakan lulusan yang termuda dimasukkan dalam satu kelompok gennin. Ienari dan Haru masuk 2 tahun yang lalu, sementara Itachi masuk 1 tahun yang lalu, "aku bertaruh besok akan ada misi pencarian Tora lagi..."
"Tidak akan mengagetkan," Itachi menghela nafas dan menatap kearah Ienari yang tampak hanya diam sedaritadi, "oi, kau tidak apa-apa?"
"Hah, oh tidak—ya sudah aku hari ini sudah berjanji menemui Naruto setelah misi ini," menggaruk kepalanya, namun baik Itachi maupun Haru menemukan hal yang aneh saat melihat wajah pucat Ienari. Terlebih Itachi yang mengenalnya lebih lama, tanda-tanda itu adalah dimana Ienari sedang tidak sehat, "ya sudah, sampai jumpa besok!"
"Tunggu Ienari!" Haru baru saja akan berbalik saat Ienari berlari ke belakang mereka untuk menemukan pemuda itu sudah tumbang dengan cepat di belakang mereka, "h-hei, Ienari!"
Haru berlari kearah Ienari begitu juga dengan Itachi yang segera mencoba memeriksa keadaannya. Tampak memegang erat dadanya dan nafasnya tampak memburu serta seolah merasa kesakitan. Kenapa ia bisa lupa, selama 2 tahun penyakit miliknya tidak pernah kambuh dan itu membuat Ienari merasa cukup kuat untuk tidak beristirahat dan memaksakan dirinya.
'Aku sudah berjanji pada Naruto untuk datang...' Masih mencoba untuk sadar dan bergerak, Haru dan Itachi menahannya karena melihat kondisi tubuhnya dan ia tidak memliki tenaga untuk melawan sebelum matanya terasa semakin berat dan berat—hingga kegelapan menyelimuti tubuhnya.
"Ienari!"
-oOo-
Di panti asuhan itu, tampak seorang anak laki-laki berambut kuning yang menunggu di depan gedung panti asuhan. Terus menunggu meskipun langit tampak semakin gelap dan malam semakin larut—mengharapkan sosok yang tersenyum padanya dan tidak berbuat jahat padanya.
"Sudah kukatakan ia tidak akan datang lagi bukan?" Sang mantor tampak menatap anak laki-laki yang menundukkan kepalanya dan meremas ujung pakaiannya mendengar hal itu. Kecewa? Ya. Marah? Tentu saja. Tetapi kenapa 'nii-san'nya tidak datang saat ia sudah berjanji akan datang menemuinya.
.
.
.
"'Nari-nii..."
To be Continue
Ga ada ide judul buat chapter ini =_=a maaf kalau chapter ini judulnya ga kreatif...
BTW saya publish double loh, jadi silahkan klik next dan akan ditemukan chapter 3 :D
Satu dan OC terakhir Haru, adik dari Rin—yah, me mau bikin slight ItaxOC yang romance. Tapi cuma sebentar sampe pembantaian klan Uchiha kok :D hanya sebentar, jadi ga romance Itachi sampe akhir karena saya mau pairingin Itachi sama karakter canon bukan OC :/
Tentu masalah dia adik Rin adalah buatanku bukanlah Canon Story.
Jadi, apa yang akan terjadi setelah Naruto menemukan kalau Ienari tidak datang setelah ia berjanji, tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada 'kakak'nya itu. Silahkan di klik next chapter :D
.
Dan ini Biodata OC :
Nama : Nohara Haru (kalau ga salah nama keluarganya Rin itu Nohara di canonnya :D)
Umur : 7 tahun
Birthday : 10 November
Sifat : penyuka anak kecil (bahkan lebih daripada Ienari), tomboy, sedikit emosional, setia kawan.
Element : Suiton
Penampilan : berambut pendek hingga se bahu (referensi TYL! Miura Haru dari Katekyo Hitman Reborn) dengan warna hitam, mata cokelat, tidak ada tanda di pipinya seperti milik Rin, namun cara berpakaiannya mirip dengan Rin.
Kelebihan : memiliki talent seperti kakaknya yakni ninja medis, setia kawan.
Kekurangan : Emosional, tomboy, tidak begitu menguasai Taijutsu.
Bookmark :
Genjutsu : 5/10
Ninjutsu : 7/10
Taijutsu : 4/10
Medic Nin : 8/10
Relasi :
Nohara Rin (Big Sister)
Sanzou Ienari (Rekan 1 tim Gennin)
Uchiha Itachi (Rekan 1 tim Gennin)
.
Mungkin ada para reader yang tidak menyukai penggunaan OC, tetapi jika anda membaca saya mohon untuk tidak flame ^^ saya malah berharap anda bisa mengkritik Original Character saya agar terlihat apakah berlebihan atau tidak.
.
Review anda sangat berarti untuk saya :)
.
Q&A
.
Namikaze Uzumaki Hendrix Ngawi (ga dong, tapi MoTOS memang saya lagi stuck u_u)
Lizzy Park (makasih, ini sudah dan double update ^^)
Syn.6661 (iya, tapi saya ga bakal lupain yang lain kok, ini malah cerita selingan :') )
Earl Grey Bernvoureth (di canon juga disembunyiin kok sama Hokage ketiga :D dan sepertinya untuk sekarang dia ga nyadar :/ Main Characternya tetep :D tapi tambah peran Minato dan juga Ienari :D dan tentu, dan saat Minato ketemu Naruto, chakranya bakal kelepas dan dia ga bakal gentayangan (lol) lagi xD)
Pidaucy (waaa makasih ya X| Tenang aja, saya ga bikin OC buat di pairingin meskipun nanti ada slightnya. Saya akan membuat OC berperan tanpa mengurangi jatah canon :'|)
L0n3lY BoY (makasih ya :') Mary Sue dan Gary Stue itu karakter maha sempurna, ga ada kelemahan dan semuanya terlihat hebat hingga sebenarnya mengganggu jalan cerita. Misalkan seorang gadis dengan wajah cantik dan juga kekuatan yang kuat hingga para canonpun tidak ada satupun yang bisa mengalahkannya.
Nah, bedanya Mary Sue dan Gary Stue, Mary Sue itu sebutan untuk karakter cewenya, sementara Gary Stue untuk karakter cowonya :) iya nih, butuh inspirasi di MoTOS untuk misi di Nami no Kuni, kalau ada ide bisa di bicarain di PM :D
Fuinjutsu itu teknik penyegelan, Minato dibilang sebagai Fuinjutsu Master, Jiraiya juga :D jadi yang bikin-bikin formula kaya Shiki Fuin atau Hakke Fuin. Hiraishin juga pakai Fuin sebagai tandanya :D)
Nasyaangelica (makanya saya ga kebayang gimana Naruto pas usia gini ga ada yang nemenin selain Sandaime sama para ANBU dibenci sama orang-orang u_u)
Danie . Bies (makasih ^^)
Namikaze Kevin (makasih :D maaf saya Stuck di cerita itu T_T saya mau cari inspirasi dulu. Maaf ya (_ _) )
AN Narra (te-terlalu memuji \\\ tapi saya senang kalau anda senang :) )
Koga-san (iya, yang me lihat sedikit dari author indo yang menggunakan OC selain untuk anak dari canon saat cerita next gen. Untuk forgetable memories sudah update kemarin ya, dan 2 hari lagi insya allah update :) sementara Memory of the Otherself lagi cari inspirasi u.u)
Aoi san (makasih ^^)
Guest (tapi OCnya ga bakal lebih hebat dari canon kok :) saya cuma bikin sebagai family-figure untuk Naruto)
