KAISOO
We Met in A Fire
Kitty!Soo, Firefighter!Kai
-.o0o.-
-.o0o.-
Happy Reading!
-.o0o.-
o0o
o0o
o0o
o0o
Tak ingin mencari alasan untuk membolos, Jongin masuk kerja setelah mengantar Kyungsoo pulang ke rumah. Sebelumnya Jongin sudah membelikan Kyungsoo beberapa stel pakaian dan juga makanan untuk dimakan Kyungsoo untuk malam hari selama ia masih bekerja. Terlebih karena pekerjaannya yang terkadang tak memiliki jam pulang yang pasti.
"Kyungsoo-ya, benar kau tak apa tinggal di rumah sendiri?"
Pandangan Kyungsoo jatuh ke ujung sweater yang ia pilin karena kebingungan. Ia ingin memantapkan diri agar berani dan mandiri seperti yang diajarkan mendiang nenek Do, tapi ia meragu. "A-aku tak apa, Jongin Hyung. Kyungsoo berani ditinggal sendiri," terpasang senyuman di wajah Kyungsoo tapi tak begitu juga dengan hatinya. Ia terus berdoa agar tak terjadi apa-apa. Karena ia sudah sangat merepotkan Jongin dan ia tak ingin menjadi beban.
"Baiklah kalau begitu. Aku percaya padamu." Jongin menundukkan badannya mengecup kening Kyungsoo. "Aku pamit dulu Kyungsoo-ya. Jika kau kedinginan, pergilah ke kamar dan nyalakan pemanas. Mengerti?" tangannya mengelus pipi Kyungsoo yang memerah.
"Aku akan mencoba bertukar shift pagi mulai besok. Kemungkinan nanti aku pulang pukul 9. Aku pamit dulu, ya." Jongin pergi berlalu meninggalkan Kyungsoo yang berdiri kaku di ruang tamu dengan sekotak bento ditangannya.
Ugh… Jongin Hyung sangat gentle. Jantung Kyungsoo berdebar-debar antara takut ditinggal sendiri dan efek setelah di kecup Jongin.
Masih berdiri terpaku menatap Jongin yang sudah hilang dibalik pintu, Kyungsoo bingung mau melakukan apa. Ekor hitamnya bergerak ke kanan dan kiri bukti ia sedang berpikir keras.
Saat membalik badan ia melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Sebuah televisi. Di dalam pikiran hybrid kucing itu telah merencanakan memakan bento yang berisi udang dan ikan tuna pilihannya sambil menonton acara di televisi.
Sepertinya itu ide yang menarik.
-.o0o.-
o0o
o0o
o0o
o0o
o0o
o0o
"Aku pulang!" Jongin terkekeh sendiri setelah mengucapkan salam. Terasa janggal dilidahnya mengucapkan salam lagi di rumah. Sudah sekian lama setelah paman meninggal ia sama sekali tak pernah memberi salam ketika memasuki rumah ataupun keluar rumah.
Karena sekarang ia tidak lagi tinggal sendiri, mungkin ia harus membiasakan diri untuk mengucapkan salam.
Menunggu beberapa saat, Jongin heran tak mendengar salam balasan. Dahinya berkerut bingung. Terdengar suara televisi tapi tak ada suara yang lain. Kakinya melangkah menuju ruang tamu, Jongin mengernyit melihat televisi yang menyala tanpa ada Kyungsoo yang menontonnya. Bento yang belum termakan habis tergeletak begitu saja diatas meja ruang tamu. Dahi Jongin semakin mengernyit bingung mencari keberadaan hybrid kucing itu.
"Kyungsoo-ya! Kyungsoo-ya? Kau dimana?!" Jongin melangkah lebih masuk ke dalam rumah.
Melewati dapur sepi, Kyungsoo pun tak berada di sana. Kakinya terus melangkah menuju kamar. "Kyungsoo-ya?"
Terdengar suara gemericik air di dalam kamar mandi. Jika Kyungsoo adalah manusia bisa, Jongin pasti mengira jika Kyungsoo sedang mandi. Tapi mengingat Kyungsoo adalah hybrid kucing dan tadi mandi siang saja ia terus menolak mandi, maka dalam kepala Jongin berpikiran lain. Ia bergegas membuka pintu kamar mandi yang untungnya tidak dikunci.
"Kyungsoo-ya?!"
Betapa terkejutnya Jongin melihat Kyungsoo yang diguyur shower yang terus mengalir. Tubuh mungil yang masih mengenakan pakaian lengkap seperti tadi siang kini basah kuyup. Tubuhnya menggigil dan pucat. Jongin langsung mematikan keran dan mengguncang tubuh dingin Kyungsoo. "Kyungsoo-ya. Sadarlah!"
Kelopak Kyungsoo perlahan membuka, tapi hanya segaris tipis. Kesadarannya mulai menipis hingga kesulitan untuk berucap, "Hyu-hyung… a-api—"
Hanya dua kata itu saja yang Kyungsoo ucapkan, setelah itu Kyungsoo jatuh tak sadarkan diri.
-.o0o.-
o0o
o0o
o0o
o0o
o0o
o0o
"Sepertinya dia mengalami trauma, Jongin-ah."
Tak ada jalan lain selain manggil dokter. Jongin meminta tolong Yixing untuk datang ke apartemen untuk memeriksa keadaan Kyungsoo yang kini sudah tertidur lelap di ranjang. Pria berkulit tan itu dengan telaten mengganti pakaian Kyungsoo yang basah dengan pakaian baru yang tadi dibelinya. Sebuah piyama abu dengan gambar kucing hitam yang Kyungsoo pilih sendiri. Melihat antusias Kyungsoo yang terlihat begitu menyukai piyama itu, dengan senang hati Jongin membelikannya.
"Aku menyesal meninggalkannya sendirian." Jongin yang duduk ditepi ranjang, tangannya mengelus dahi Kyungsoo yang terasa hangat.
"Kau tidak usah masuk kerja dulu saja," saran Yixing.
"Tapi Hyung aku—"
"Sekali-kali kau istirahatlah, Jongin-ah. Semenjak bergabung dengan tim, kau sama sekali belum mengambil cutimu. Kau terlalu serius bekerja."
Jongin termenung. Semua yang dikatakan pria berdarah China memang benar. Tak seharipun Jongin mengambil jatah cutinya. Pria itu juga bingung jika cuti ia akan melakukan apa.
Jika di hari libur saja ia gunakan hanya untuk tidur, esok paginya tubuhnya merasa kaku. Ia hobi tidur tapi jika berlebih tak bagus juga untuk kelenturan ototnya. Lebih baik masuk kerja dan berkumpul dengan yang lain sebagai pilihan terbaik Jongin.
Dari pada sendirian dirumah.
"Jika kau setuju untuk cuti, biar aku saja yang sampaikan kepada atasan. Kau jaga saja Kyungsoo." Yixing menuliskan sesuatu di kertas note putih, menyobek lembar pertama dan menyerahkannya kepada Jongin. "Dan ini… ada resep obat penenang untuk Kyungsoo, belilah di apotek sekarang sebelum ia terbangun dan aku sementara yang akan menjaganya,"
Jongin meraih kertas itu, "Terima kasih, Hyung."
"Sudah sana cepat pergilah."
"Iya, aku titip Kyungsoo sebentar, Hyung." Jongin mengambil jaket dan dompetnya lalu berlari pergi.
Melihat kepergian Jongin, Yixing hanya bisa menghela napas semoga hybrid kucing itu bangun setelah Jongin pulang atau semua akan kacau.
-.o0o.-
o0o
o0o
o0o
o0o
o0o
o0o
o0o
Hal inilah yang Yixing maksudkan kenapa Kyungsoo seharusnya bangun setelah Jongin pulang. Hybrid kucing itu berteriak histeris begitu melihatnya. Sosok bertelinga kucing itu mencengkeram selimut erat disertai isak tangis.
"Kyungsoo, tenanglah. Kau pasti merasa pusing, kan?"
Kyungsoo menganggukkan kepalanya.
"Kau ingat aku? Aku seorang dokter kenalan Jongin. Kemarin kita bertemu di klinik dan aku kemari untuk—"
"Jongin Hyung dimana? Hiks… Kyungsoo ingin Jongin Hyung."
Yixing berusaha mendekati Kyungsoo yang tengah menangis sesenggukan. Saat ia hendak menyentuh bahu Kyungsoo untuk menengangkan, belum menempel saja ekor hitam Kyungsoo menepis tangannya.
"Kyungsoo ingin Jongin hyuuuung! Pergi!" ulang Kyungsoo beserta teriakannya.
Untuk kedua kalinya Yixing merasa gagal sebagai seorang dokter karena menangani pasien yang sama. Dokter yang seharusnya bisa menenangkan pasiennya, kini malah membuat pasiennya menangis histeris. Jelas saja Yixing bingung harus melakukan apa, terlebih karena Kyungsoo adalah pasien hybrid pertamanya.
Jumlah populasi hybrid di Korea Selatan masih minim, bahkan tak ada seper-sepuluh total jumlah penduduk lokal.
"Aku tak akan menyakitimu, Kyungsoo. Jongin sedang membeli obat untukmu. Tenang dan tunggulah."
"Kyungsoo takut… Kyungsoo ingin dipeluk Jongin Hyung… hiks…"
Yixing mendudukkan dirinya di kursi samping ranjang dengan tangannya memijat keningnya.
"Aku pulang!"
Keduanya tersentak mendengar teriakan dari luar kamar. Dengan mata berbinarnya Kyungsoo menyibak selimut menuruni ranjang. Baru satu langkah ia melangkah, tubuhnya sudah oleng.
Yixing yang berada di seberang ranjang belum sempat memegangi Kyungsoo dan—
Bruk.
Kucing hybrid itu langsung jatuh ke lantai.
Kejadian ini tepat bersamaan dengan Jongin yang baru saja membuka pintu kamar, tapi si ketua pemadam kebakaran itu sigap berlari mendekati Kyungsoo. Bahkan Yixing pun kalah cepat.
Pria bermata sipit itu hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat Jongin yang telah mengangkat Kyungsoo. Sedangkan kucing itu langsung melingkarkan tangannya pada leher Kai dan mengusak-usakkan wajahnya. Jongin hanya terkekeh dengan sikap Kyungsoo.
"Apakah tadi sakit?"
Kyungsoo menggelengkan kepala, "Mata Kyungsoo terasa berputar, Hyung."
"Kau demam, rebahan di ranjang dulu, ya. Hyung sudah membelikanmu bubur kuah ikan dan setelah itu minum obat. Kau mau?"
"Mauuu… tapi Kyungsoo ingin di peluk Jongin Hyung."
Beberapa menit menunggu dengan sabar, Yixing mulai bosan. Ia berdeham mencari perhatian dari kedua pasangan yang sedang ber-lovey-dovey, "Jongin-ah, aku pamit pulang. Mulailah mencari alasannya dan segera hubungi aku." Tak menunggu jawaban Jongin, Yixing langsung mengambil jas putihnya yg tersampir di kursi tempat yang tadi ia duduk dan berlalu pergi.
Jongin yang menatap sahabatnya itu dengan alis terangkat, tapi perhatiannya teralihkan saat Kyungsoo memegang rahangnya meminta perhatian. Senyuman Jongin langsung terangkat. Biarlah hari ini ia memanjakan Kyungsoo terlebih dahulu dan besok mulai mengintrogasi si mungil.
-.o0o.-
o0o
o0o
o0o
o0o
o0o
o0o
o0o
"Hyung tidak pergi bekerja?" Kyungsoo duduk bersandar pada kepala ranjang membuka mulutnya agar sesendok bubur hangat yang disuapkan Jongin masuk ke dalam mulutnya . Sebenarnya hybrid itu bosan dari kemarin malam hanya makan bubur, tapi karena Jongin yang menyuapkan bubur itu ia menjadi sangat bersemangat. Sayang sekali bento tadi belum sempat ia makan.
"Aku akan dirumah… menunggumu hingga kau sembuh. Tenang saja." pagi ini Jongin menyetujui saran Yixing untuk mengambil cuti. Tidak ada salahnya ia mengambil cuti yang menumpuk dan beristirahat sejenak sembari menemani Kyungsoo.
Karena sekarang ia tak sendiri.
"Maaf jika Kyungsoo selalu merepotkan, Jongin Hyung." mata bulat Kyungsoo mulai berkaca-kaca. Bahkan ia kesulitan menelan bubur yang sudah masuk ke dalam mulutnya. Ia tak enak dengan Jongin yang melakukan semua untuknya. Kyungsoo juga tak bisa membayangkan bagaimana jika Jongin terlalu lelah menghadapinya lalu akan mengusirnya keluar, apalagi ia belum mempunyai collar dari Jongin. Tak ada satu alasan terikat antara hybrid dan manusia, kapan saja bisa terlepas dengan mudah.
Melihat Kyungsoo yang menunduk tak mau meneruskan makan, Jongin menurunkan tangan kanan yang hendak menyuapi Kyungsoo lagi. "Angkat kepalamu, Kyungsoo-ya."
Kyungsoo mengigit bibirnya menahan isak tangis, kepalanya perlahan mendongak menatap sosok dewasa yang berada di hadapannya.
Jongin yang tak tahu perkara apa yang memberatkan pikiran Kyungsoo. Dalam hati ia bergumam, mengapa Kyungsoo begitu menggemaskan dengan mata bulat berkaca-kacanya dan bibir tebal nan sintal melengkung kebawah, apalagi dengan telinga kucing hitamnya. Boleh tidak ia memeluknya?
Jongin tersentak sadar dari lamunan gilanya, ia menggelengkan kepalanya kencang hingga membuat Kyungsoo mengeryit kebingungan karena gelengan kepala Jongin membuatnya berpikiran jika pria itu menolak pemikiran buruknya.
Jongin yang sudah sadar sepenuhnya menghela napas, meletakkan mangkuk bubur ke nakas di samping ranjang yang terbuat dari kayu yang di cat putih.
Pupil mata Kyungsoo membesar merasakan belaian lembut pada surai hitamnya, kemudian kelopak matanya terpejam dan mendengkur menerima kenyamanan yang Jongin berikan. Sebagai seorang yang masih memiliki jiwa kucing, ia sangat menyukai perlakuan manusia jika mengelus pucuk kepalanya. Kelopak matanya kembali terbuka saat mendengar kekehan lembut Jongin.
"Mengapa kau sangat menggemaskan?" sudah berulang kali Jongin memujinya seperti itu, tapi Kyungsoo sama sekali tak merasa bosan. Jongin mencubit pipi Kyungsoo dan mengusapnya. "Kau sama sekali tak merepotkan dan aku sama sekali tidak direpotkan. Lagi pula aku ingin menghabiskan waktu dengan kucing manis sepertimu." Percayalah jika bersama dengan Kyungsoo, jiwa merayu Jongin langsung melejit mengalahkan seorang playboy kawakan.
Sebuah kedipan mata dari Jongin membuat pipi Kyungsoo merona bertabur serbuk merah. Sudah lama ia menyadari jika ia menyukai pemilik barunya. Bukan rasa suka biasa tapi juga rasa memiliki satu sama lain dengan berselimut perasaan cinta.
"Apakah kau mau melanjutkan sarapanmu?"
Kyungsoo mengangguk. Keduanya tak saling berucap hingga setelah suapan terakhir.
"Nah, sekarang waktunya minum obat."
Setiap perkataan yang keluar dari bibir Jongin selalu Kyungsoo lakukan. Ia termasuk jenis kucing patuh yang mudah disayangi, jika keduanya sudah saling cocok.
Kini keduanya berbaring di ranjang saling berhadapan. Kyungsoo menyentuh punggung tangan Jongin yang sedang mengelus pipinya. "Jongin Hyung?"
Semula pandangan Kyungsoo menatap piyama Jongin, kini mendongak terpaku dengan mata teduh pemilik barunya. "Kyungsoo sangaaat menyayangi Jongin Hyung~." Ini masih pukul sembilan pagi dan Kyungsoo memberikan senyuman lebih cerah daripada sinar matahari diluar. Ditambah dengan lengkungan berbentuk hati dibibir tebal itu.
Tak tahan dengan sikap manis Kyungsoo yang menggemaskan, Jongin memeluk erat hybrid itu dan membenamkannya dalam dadanya.
"Selamat ulang tahun." suara lirih Kyungsoo tenggelam dalam pelukan.
"Eh?" Jongin membeku. Tak ia sangka jika Kyungsoo mengingatnya. Jongin tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya. "Terima kasih, Kyungsoo-ya." Selama beberapa menit Jongin mempertahankan posisinya.
"Jongin Hyung ingin kado apa dari Kyungsoo?"
Sejenak Jongin berpikir, "Hmm… cepatlah sembuh dan temani aku jalan-jalan seperti janji kita kemarin." Jongin sedikit menjauhkan tubuhnya agar bisa mensejajarkan pandangan menatap paras manis Kyungsoo.
"Ky-kyungsoo sudah sembuh Hyung… sekarang saja."
"Tapi mengapa wajahmu masih merah?"
Kyungsoo menundukkan kepala, tentu saja wajahnya memerah saat wajah orang yang disukainya berada dalam jarak kurang dari sepulu senti darinya.
Melihat Kyungsoo yang menyembunyikan wajahnya, Jongin teringat akan kejadian kemarin. "Kyungsoo-ya sebaiknya kau tidur terlebih dulu dan nanti sore baru kita jalan-jalan. Bagaimana?" Jongin melihat Kyungsoo mengangguk di dadanya. Ia meraih dagu si mungil agar menatapnya.
"Kemarin mengapa kau bersembunyi dalam kamar mandi?"
Ada rasa nyeri saat Kyungsoo menatapnya dengan pandangan sendu, "Kyungsoo ta-takut api, Hyung."
Jongin mengernyit, setahunya kemarin tak ada api dirumahnya. "Di mana apinya?"
Kyungsoo mengerucutkan bibirnya, "Di televisi. Ada api di film kartun Aang… pangeran Zuko tampan, tapi apinya sangat menakutkan." Kyungsoo mengusak wajahnya pada dada Jongin mencari perlindungan dari bayangan menakutkannya.
Ingin Jongin tertawa, tapi ia lebih memilih menggigit bibir menahan. Untung saja Kyungsoo tak melihat ekpresinya. Yang benar saja. Kyungsoo takut pada api di film animasi? Dan ia tadi memuji Zuko tampan? Entah mengapa ada perasaan tak suka di hati Jongin. "Itukan hanya kartu, Kyungsoo-ya."
"Apinya besar membakar semua desa Hyung! Itu menakutkan!" Kyungsoo bersikeras dengan apa yang ia tonton kemarin itu menakutkan dan menjabarkan semua kejadian ditontonnya. Jongin menganggukkan kepala berusaha memakluminya. Ia menepuk punggung Kyungsoo berusaha menenangkan. "Baiklah. Baiklah. Jika kau tak suka, besok lagi pindah saluran yang lain saja... jangan seperti kemarin ya. Paham?"
"Pa-paham, Hyung."
"Kau sudah merasa mengantuk?"
"Iya, Hyung."
Obatnya mulai bekerja. "Istirahatlah dan nanti sore jika suhu tubuhmu sudah normal, ayo kita jalan-jalan merayakan ulang tahunku." Jongin terperangah melihat ekpresi terkejut Kyungsoo yang menatapnya.
"Janji, Hyung?"
Jongin mengangguk.
"Wah!" Kyungsoo kembali memeluk tubuh Jongin. "Baik, Kyungsoo akan tidur sekarang. Selamat pagi, Hyung!"
Suara kekehan mengiringi Kyungsoo yang tengah memejamkan mata, terlarut dalam mimpi indahnya yang sudah terlebih dahulu mengkhayalkan kencan berdua dengan Jongin.
Senyum lembut masih terpulas di wajah tampan Jongin. Baru kali ini ada yang tidur, mengucapkan selamat pagi. Jongin semakin gemas dengan teman barunya. Ia mengelus ujung telinga kucing Kyungsoo yang berbentuk segitiga. Bulu hitamnya sangat lembut, Jongin mengaguminya dan senang menyentuhnya. Namun melihat Kyungsoo yang bergerak tak nyaman, membuat ia menghentikan usapan dan kembali terkekeh.
Drrtt… Drrrttt…
Jongin melirik ponselnya yang berada di nakas. Walaupun kesusahan mengambil ponsel itu karena Kyungsoo erat memeluknya, tapi akhirnya berhasil juga.
From: Yixing Hyung.
Apa alasannya?
Membaca pesan singkat Yixing, Jongin mengernyit. Otaknya sedikit susah mencerna karena kadar kemanisan Kyungsoo mengontaminasi aliran darah menuju otaknya pagi ini.
Apa alasan Kyungsoo kemarin?
Satu lagi pesan dari Yixing mencerahkan pirikan Jongin. Ia membalas pesan itu sesuai dengan apa yang dikatakan Kyungsoo dan sukses membuatnya menerima spam emoticon stiker tertawa terbahak. Sejenak Jongin tertegun menerima pesan panjang.
Cobalah bantu dia untuk melihat api terlebih dulu, Jongin-ah. Perlahan saja, jangan kau paksa. Jika dia memang kesulitan, kita baru melangkah ke tahap pengobatan yang lebih intensif.
Dan Jongin bingung harus mulai dari mana.
-.o0o.-
o0o
o0o
o0o
o0o
Udara dingin di sore hari mengiring Jongin dan Kyungsoo berjalan bergandengan tangan menyusuri pusat keramaian kota Seoul. Sesuai janji yang Jongin ucapkan, mereka berdua menghabiskan hari ulang tahun dengan berjalan-jalan di pusat Ibu Kota Korea Selatan.
Kedua sosok yang jarang berjalan-jalan itu tertawa senang melihat pemandangan alam yang mengagumkan. Mulai dari mengunjungi Istana Changdeok sampai ke Namsan Seoul Tower. Tak lupa keduanya mengabadikan momen mereka. Sudah ada puluhan foto Kyungsoo di dalam ponsel Jongin yang tak diketahui si objek. Mana bisa Jongin melewatkan wajah menggemaskan Kyungsoo dengan ekspresi mata bulat terpesonanya saat melihat sesuatu yang menarik perhatian. Ekor kucingnya bergerak riang turut mengungkapkan perasaan bahagianya dan Jongin bangga bisa membuat Kyungsoo memasang wajah bahagia itu.
Baru pertama kali ini Jongin benar-benar senang menghabiskan hari ulang tahunnya. Momen paling membahagiakan dalam hidupnya ditemani sosok baru yang akan terus menemani harinya.
Jongin menoleh ke kanan menatap Kyungsoo yang sedang memakan es krim cokelat. Kini mereka sedang berjalan di daerah Myeongdong. Deretan ruko sudah melambai ingin mereka kunjungi.
"Jongin Hyung, kita mau kemana?" Kyungsoo menarik tangan kanannya.
"Kita akan membeli pakaian untukmu."
Kelopak mata Kyungsoo mengerjap, "Pakaian lagi? Untuk Kyungsoo?"
Jongin menganggukkan kepala, tangan kanannya reflek melingkar di pinggang Kyungsoo ketika melihat ada orang yang seperti akan menubruknya.
Kyungsoo terkejut dan ek krim yang masih sisa setengah jatuh di jalan. Mereka berhenti berjalan sejenak. "Kau tak apa Kyungsoo-ya?"
"Es krim Kyungsoo jatuh, Hyung." Kyungsoo mulai murung.
Jongin mengulurkan tangan mengusak pucuk kepala Kyungsoo, "Sudah tak apa, nanti saat kita pulang mampir mini market dan Hyung janji akan membelikan es krim satu ember besar untuk persediaan di rumah. Bagaimana?"
Mendengar kata es krim yang Jongin lontarkan, binar keceriaan memenuhi mata bulat Kyungsoo, "Benarkah Hyung?"
Jongin mengangguk mantap.
Senyum merakah dan bunga imajiner bertaburan di sekitar Kyungsoo, "Terima kasih, Jongin Hyung!" Kyungsoo mendorong tubuhnya memeluk sosok tinggi dihadapannya.
Mereka berdua kembali berjalan menuju sebuah toko yang menjual berbagai pernik hybrid. Sekilas toko itu seperti toko pakaian pada umumnya, tapi begitu sudah masuk kedalam mereka di sambut oleh hybrid anjing yang ramah.
Sewaktu Kyungsoo terlelap, Jongin mencari informasi toko perlengkapan hybrid lewat internet dan toko yang mereka kunjungi sekarang adalah pusatnya.
Jongin tak bosan melihat binar kekaguman Kyungsoo menatap pakaian yang terpajang di etalase dan bagian dalam toko. Hybrid itu juga tersenyum saat menyadari sejenisnya yang sedang berbelanja bersama pemiliknya. Sudah lama ia tak melihat teman sesama hybrid sebanyak ini. Memang tak terlalu banyak. Mungkin sekitar sepuluhan hybrid yang ada disini tapi Kyungsoo merasa senang hingga senyum tak lekang dari wajahnya. Bahkan ia sendirian mengelilingi toko dan meninggalkan Jongin yang berjalan ke pusat informasi.
Seperti kata Jongin yang membebaskannya memilih pakaian yang ia sukai, tak sadar Kyungsoo sudah memenuhi tangannya dengan tumpukan pakaian. Puas dengan semua paikaian yang ia pilih, pandangannya kembali menyusuri toko. Mata bulatnya berbinar melihat banyak topi yang terpajang dan langkah kaki mendekat kearahnya. "Waaahh~"
"Mau pilih yang mana Kyungsoo-ya?"
Kyungsoo tersentak melihat keberadaan Jongin di belakangnya. Tak merasa bersalah, Jongin terkekeh mengambil semua pakaian yang tersampir ditangan mungil Kyungsoo dan membawanya. "Kau kucing hitam yang menyukai warna hitam ya. Kau mau topi hitam itu juga?" Jongin hanya memaklumi melihat pakaian yang Kyungsoo pilih hampir semuanya berwarna hitam.
Kyungsoo mengangguk bersemangat.
Dengan senang hati Jongin mengambil topi yang diinginkan Kyungsoo, "Apakah ada yang kau perlukan lagi?"
Kini Kyungsoo menggeleng. Raut puas tergambar diparas manisnya.
"Kalau begitu ayo kita cari makan!"
Satu hari ditanggal 14 Januari mereka berdua habiskan seefektif mungkin berdua. Meskipun tak ada lilin dan kue, tapi ia menerima kado kebersamaan yang sungguh berharga.
Jongin memilih makan di fastfood terdekat. Ia sengaja tak membeli cake untuk mengantisipasi agar Kyungsoo tak teringat dengan kebakaran kemarin. "Ayo dimakan, Kyungsoo-ya. Ayam adalah makanan kesukaanku," Jongin memperkenalkan restoran ayam langganannya.
"Tak baik jika selalu makan fast food, Hyung."
Alis Jongin terangkat setelah mendengar perkataan Kyungsoo. "Aku tak bisa memasak, Kyungsoo-ya. Harap maklum jika aku sering memesan ayam, ya."
Kyungsoo menggelengkan kepala. "Bagaimana jika mulai besok pagi Kyungsoo yang memasak?"
"Kau bisa memasak?"
"Kyungsoo sangat suka memasak, Hyung! Sangat sangat saaaaangat suka." dengan bangga Kyungsoo menceritakan keahlian memasaknya.
"Kalau begitu, bagaimana jika setelah ini kita belanja bulanan?" Jongin sangat menikmati pemandangan si mungil yang tertarik dengan usulnya. Mengabaikan tadi Kyungsoo sempat protes dengan fast food, kucing itu lahap memakan paha ayam hingga hanya bersisi tulang.
"Ayo, Hyung kita belanja~"
Tak pernah Jongin berpikir jika Kyungsoo sangat suka berbelanja. "Aku melupakan sesuatu."
"Apa itu, Hyung?"
Jongin merogoh sakunya mengambil kotak persegi panjang seukuran ponsel, "Sewaktu kau sibuk memilih pakaian, aku membeli ini." Ia mengulurkan kotak itu dan menyerahkannya pada Kyungsoo.
Mata bulat hybrid itu membola dengan mulut terbuka. Hati-hati Kyungsoo menyentuh kotak itu dan membukanya. Sebuah collar hitam dengan lebar sekitar 1,5 cm yang mempunyai garis silver ditengah terhubung dengan permata berbentuk tapak kaki kucing kecil beserta nama Kyungsoo disana. "Ini untuk Kyungsoo, Hyung?"
"Iya." Jongin menikmati ekspresi terkagum Kyungsoo melihat collar barunya. "Kau menyukainya?"
Tak menjawab pertanyaan Jongin, Kyungsoo melompat dari kursinya, melangkah menuju pria pemberi collar. "Pasangkan, Hyung! Pasangkan dileher Kyungsoo~" Kyungsoo mendudukkan diri dipangkuan Jongin tak menyadari para pelanggan restoran turut gemas dengan sikapnya.
Jongin mengusap pipi Kyungsoo lembut terlebih dahulu lalu meraih collar hitam itu. Ia melingkarkan tangannya mengaitkan sisi pojok collar satu sama lain, "Sudah. Sangat pas sekali." Manik cokelat gelapnya mengamati leher putih Kyungsoo yang telah terpasang collar pemberiannya. Ukurannya sangat pas dan terlihat cocok dikenakan oleh Kyungsoo. "Kau sangat manis," puji Jongin.
"Terima kasih, Jongin Hyung." Kyungsoo menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher dan mencium aroma tubuh yang maskulin milik Jongin. Ia sangat bahagia sudah terikat sah. Menepis semua pemikiran buruk yang terbersit dalam pikirannya karena ia sudah menjadi milik Kim Jongin.
Paham dengan kebahagiaan Kyungsoo, Jongin tersenyum kepada para pelanggan lain memohon maklum.
-.o0o.-
o0o
o0o
o0o
o0o
o0o
Tak pernah Jongin sangka jika memiliki hybrid dirumah akan sangat menyenangkan seperti yang ia rasakan selama dua bulan ini. Ia tak menyayangkan Kyungsoo datang terlambat di kehidupannya. Karena pasti sebuah rencana kehidupan selalu berjalan pas sesuai dengan porsinya masing-masing.
Waktu pertama jongin mempekenalkan dapurnya, ada binar kebahagiaan dimata bulat hybrid itu dan juga ekor kucingnya berayun bersemangat. Namun, begitu melihat nyala api kompor, kucing itu berteriak kencang, melarikan diri dikamar mandi. Mengguyurkan shower membasahi tubuhnya. Untung saja Jongin cepat menghentikannya.
Kyungsoo masih ketakutan jika melihat bara api, bahkan Jongin sampai mengganti kompor gasnya menjadi kompor listrik sehingga Kyungsoo bisa melakukan hobi memasaknya. Semua Jongin lakukan agar ia bisa melihat gurat kebahagiaan Kyungsoo. Tak pernah Jongin mengelak jika ada suatu perasaan tumbuh dihatinya kian hari selama ia tinggal berdua dengan Kyungsoo.
Pagi hari saling membangunkan, sarapan dan makan malam bersama, bercerita keseharian mereka, hingga tidur di atas ranjang yang sama dalam posisi berpelukan.
Perlahan Jongin membantu Kyungsoo menghilangkan rasa traumanya terhadap api. Bahkan pria itu membawa Kyungsoo ke tempat pelatihan pemadam kebakaran pada saat ia menjadi ketua tim yang melatih anggota pemadam kebakaran baru. Tentu saja kucing itu sangat histeris waktu pertama kalinya melihat ruangan simulasi yang dipenuhi kobaran api, ia sampai mencakar lengan kekar Jongin hingga berdarah. Namun, begitu ia melihat darah yang mengalir, Kyungsoo merasa bersalah. Hybrid itu berjalan mendekati Jongin dan menjilati luka cakarannya. Sejak kejadian itu, Kyungsoo mempunyai kemauan untuk maju sendiri. Tanpa teduga ia mulai bisa mengakrabkan diri dengan Yixing dan tak jarang ia konsultasi tentang traumanya.
Terhitung dari hari itu Kyungsoo melatih traumanya sendiri sekaligus menjadi asisten Jongin di camp pelatihan. Kyungsoo lebih memilih ikut ke camp daripada dirumah selama satu bulan tanpa Jongin. Ia memaksakan dirinya sendiri karena Jongin, tapi paksaan itu menyenangkan untuknya apalagi ia bebas bermanja pada Jongin ketika waktu istirahat. Mereka menghabiskan waktu di tenda berdua yang selalu terdengar suarah terkekeh geli karena Jongin sangat gemar menggelitiki tubuh sensitif Kyungsoo.
-.o0o.-
o0o
o0o
o0o
o0o
o0o
"Kau sudah tak takut lagi, Kyungsoo-ya?" senyuman lebar dari Kyungsoo menjawab pertanyaan Jongin. Kucing hitam itu sekarang sungguh berani dan tangguh sehingga masuk dalam tim pemadam kebakaran dengan status tetap menjadi asisten Jongin. Pendengaran kucingnya yang tajam membantunya mencari suara minta tolong seseorang yang terjebak dalam kolam api.
Kyungsoo menyamankan duduknya bersandar pada tubuh Jongin yang berada dibelakangnya dengan pandangan lurus menatap layar datar televisi.
"Kau sudah tak takut menonton Avatar?" tanya Jongin berserta kekehen tapi berakhir dengan teriakan karena Kyungsoo mencubitnya.
"Jongin Hyung diam! Zuko sangat tampan saat mengendalikan api. Lihat itu!"
Jongin mendengus dan berdecak. Setelah Kyungsoo sembuh dari traumanya entah mengapa dia malah jadi kesal karena Kyungsoo gemar sekali menonton film Avatar terlebih melihat si Pangeran negara api itu. Bahkan minggu kemarin saat mereka berbelanja, kucing itu merengek meminta dibelikan action figure Zuko. Walaupun kesal, mau tak mau ia membelikan action figure –sialan itu- dan tak terduga ia mendapat berkah sebuah kecupan manis dari Kyungsoo yang membuat wajah Jongin bersinar dua puluh empat jam.
"Kau lebih suka Zuko atau aku?" entah mengapa Jongin sama sekali tak sadar jika pertanyaannya itu kekanakan.
Lima detik keheningan dengan latar belakang Sokka yang bertengkar Katara. Kyungsoo menarik tubuhnya beranjak dari sofa, lalu berbalik mengadap Jongin yang juga menatapnya dengan wajah cemberut. Empat bulan tinggal bersama seolah membalikkan sifat mereka. Kini Jongin lebih manja daripada Kyungsoo dan untungnya hybrid kucing itu pengertian.
Jongin mengerjap saat Kyungsoo menduduki paha dan menghadapnya. Tangan Kyungsoo yang lembut menyentuh pipinya, "Kyungsoo sayang dengan Jongin Hyung. Sangat sayang dan jangan ragukan itu, Hyung."
Desiran menyenangkan di jantung Jongin membuat sudut bibirnya terangkat. Ia mengutuk dirinya sendiri yang bersikap kekanakan karena terlena dengan Kyungsoo. "Maafkan Jongin, Kyungsoo-ya." Jongin melingkarkan tangannya pada punggung Kyungsoo.
Hybrid itu terkikik mendengar ucapan Jongin yang meniru cara pengucapannya.
"Kalau begitu Kyungsoo apakah mau menjadi pacar Jongin?"
Masih tengan tawa lepas, tapi sedetik kemudian ia membatu setelah mencerna pertanyaan Jongin. "Jongin Hyung mau jadi pacar Kyungsoo?" tanya Kyungsoo bingung.
"Mengapa kau membalik pertanyaanku?" Jongin mencubit pipi tembam Kyungsoo gemas. "Jadi, Kyungsoo mau atau tidak? Karena aku sungguh-sungguh," Jongin menghentikan ucapannya. Mendekatkan bibirnya ke telinga kiri Kyungsoo dan berbisik dengan suara dalamnya ,"Aku sungguh mencintaimu."
Sontak peredaran darah Kyungsoo berhenti dipipi menimbulkan bias kemerahan menghiasi paras manisnya. Desiran suara berat Jongin membuat bulu kuduknya berdiri sampai ia kesulitan untuk membuka bibir, membalas pengakuan cinta itu. Kyungsoo membalasnya denga anggukan dan memeluk melingkarkan tangannya pada leher Jongin. "Kyungsoo juga mencintai Jongin Hyung."
Keduanya saling berpelukan erat menyalurkan perasaan mereka. "Bolehkah Kyungsoo mencium Jongin Hyung?" lirih Kyungsoo. Sedetik kemudian Jongin mendorong kepala Kyungsoo dan mengecup bibirnya. "Tanpa bertanya pun, aku akan menciummu duluan." ia memberi seringai miring tampan yang mampu mempercepat detak jantung Kyungsoo.
"Lagi, Hyung." jemari Kyungsoo memainkan kancing kemeja Jongin sambil menatap malu-malu.
"Dengan senang hati aku akan menuruti kemauan kekasihku." Jongin langsung merebahkan tubuh Kyungsoo pada sofa dan menghujaninya dengan ciuman.
"Jongin Hyung, terima kasih sudah menyelamatkan Kyungsoo." ujar Kyungsoo saat Jongin mengecup pipinya. Pipinya terangkat, tersenyum geli ketika Jongin mengusap hidung mereka. "Akulah yang beruntung mendapatkamu, Kyungsoo-ya."
.
-.o0o.-
END
-.o0o.-
o0o
o0o
o0o
o0o
o0o
Ada satu chapter lagi tentang epilog dan ratenya naik hehehe
