Disclaimer: I own nothing but the story

SIAPA YANG MINTA LANJUT—oke, enjoy~


"Chanyeol,"

"Apa?"

"Kau serius akan memakai itu?"

"Apa salahnya dengan topi, masker dan kacamata—"

"Tentu saja salah! Kau malah terlihat mencolok! Taruh lagi benda-benda itu di lemarimu dan kembali ke sini dalam satu menit."

"Hah? Tidak mau, nanti orang-orang mengenali aku."

"Tidak mungkin. Biar kuingatkan kalau kau belum pernah menggelar book signing, Loey-nim."

"Oh ya… kau benar."

Bukankah cara berpikirnya terlalu dangkal?


.

.

.

Up and Down Like A Rollercoaster

Chanbaek pairing

WARN: Sho-ai, BL, Yaoi

Sorry for typo(s)

.

.

.


"Hei, Baekhyun."

"Hm?"

Chanyeol menahan diri untuk berdecak, "Nengok dulu sebentar."

Yang lebih muda melihat label harga di atas kemasan, "Hmmm daging babi atau sapi saja, ya?"

Chanyeol menghela napas kasar. "Hoi, ini masalah krusial!" ia berbisik namun penuh nafsu sehingga berakhiran tanda seru.

Baekhyun menoleh dengan malas, "Apa? Kau lupa membawa dompet?"

"Bukan itu," Chanyeol melirik ke sekitar lagi dengan wajah was-was lalu mencondongkan tubuh ke depan selagi tangannya bertahan pada troli, mencapai Baekhyun di sebrangnya, "bukankah tatapan orang-orang mengarah pada kita? Kau yakin mereka tidak mengenaliku?"

Baekhyun berbalik lagi untuk mengambil daging sapi. Chanyeol akhirnya berdecak kesal karena diabaikan. Ia menepuk punggung Baekhyun empat kali dengan tak sabaran.

"Ini serius. Ini bisa jadi masalah besar. Jangan bersikap acuh begitu. Oh tidak, lihat Ibu-Ibu di sana sedang merumpi. Ah, pegawai yang satu itu tidak berhenti menatapku—hei, sekumpulan gadis itu mulai berbisik-bisik. Ya Tuhan ini bencana."

Baekhyun menoleh dan mendapati wajah Chanyeol yang menderita. Ia bingung harus tertawa atau mengomel karena sikap paranoid itu. Opsi pertama karena Chanyeol terlihat konyol. Opsi kedua karena pemikiran Chanyeol sungguh dangkal.

"Mau tahu kenapa mereka tidak berhenti menatap kita?"

Chanyeol mengangguk berkali-kali seperti miniatur Goofy di lemari kacanya.

Baekhyun tersenyum manis pada Chanyeol yang menatapnya penuh harap minta ditolong. Lalu tangannya terulur, "Makanya kubilang lepas ini!" untuk menarik masker yang dikenakan si penulis.

Chanyeol panik, menutup wajah dengan telapak tangan, "Ini memalukan, ini memalukan, ini memalukan—" ia bergumam tanpa henti.

Baekhyun merotasikan mata, "Kau seperti perampok kalau terlalu tertutup begitu. Lagipula mukamu tidak kriminal-kriminal amat, kok."

Chanyeol membuka celah jari untuk memelototi editornya, "Jadi maksudmu mukaku ada sedikit kriminalitasnya begitu? Memangnya aku penjahat apa?"

Baekhyun memutar telunjuk di dagu, "Hmmm bisa jadi. Penjahat kelamin, hehe." cengirnya tanpa dosa.

"Mati saja sana." Chanyeol menyumpah. "Ah tunggu, kalau begitu kau jadi korbannya. Kan kita sedang belanja bersama." Entah kenapa menunjukkan seringai sombong seolah ingin menang.

Baekhyun melongo sesaat lalu memalingkan wajah, "Shit, ironis sekali hidupku harus berakhir sebagai tawananmu."

Chanyeol masih belum menurunkan tangan yang menutupi sisi wajahnya. Menghalau pandangan orang-orang di sekitar mereka. Baekhyun melarikan pandangannya naik turun, dari puncak kepala sampai sepatu pria di hadapannya. Lalu ditatapnya lagi tepat di mata.

"Kalau mereka masih melihatmu, artinya…" kalimat sengaja digantung, Chanyeol sampai memasang wajah serius karena penasaran. Baekhyun berbalik untuk menuju lemari pendingin, "…kau tampan. Itu saja."

Chanyeol membeku di tempat. Tangannya perlahan turun kembali ke semula, wajahnya agak memerah. Bukan malu karena masih diperhatikan, tapi tersipu akibat pujian Baekhyun.

"Kenapa kau bilang terang-terangan, sih…" gerutu Chanyeol dengan pelan.

Ah, sempatkanlah melirik sebentar para wanita yang bergunjing di sana. Menahan napas dengan terkesiap karena pria tampan itu salah tingkah.

Ini sudah pukul sembilan pagi—lewat sepuluh menit sebenarnya—dan dua anak adam itu belum sarapan apa-apa kecuali roti tawar polos yang tersisa di dapur. Chanyeol menahan perutnya yang ingin berbunyi, sengaja menekan diri pada pegangan troli dengan nelangsa. Baekhyun berada di depannya, menimang potongan daging salmon yang terkemas rapi.

"Baekhyun, kenapa harus salmon? Kau tahu itu ikan mahal dan kesejahteraan dompetku dipertaruhkan di sini."

Baekhyun berakhir menaruh dua-duanya dalam troli lalu tersenyum seolah itu bukan masalah besar. Tangannya dilipat di ujung troli, membuat mereka berhadapan. "Tenang, makanan ini akan jatuh ke perutmu juga. Tinggal duduk anteng dan aku akan memasaknya."

Chanyeol memutar mata, "Kalau itu memang makananku, seharusnya biarkan aku memilih apa menunya."

"Karena aku juga makan, aku berhak menentukan menunya. Kita patungan, aku akan membayar juga karena bahan-bahan ini untuk seminggu ke depan." balas Baekhyun sambil mengedipkan satu mata lalu berbalik untuk memimpin jalan kembali.

Ya, kau dan mulut pintarmu.

Chanyeol tertinggal empat langkah lalu berseru kaget, "Jadi kau akan makan di tempatku terus, begitu?!"

Baekhyun tidak menjawab dan berbelok ke tempat sayuran segar. Ah, anak itu masih suka seenaknya. Chanyeol mendorong troli cepat-cepat. Ia melirik benda warna-warni yang dipegang Baekhyun, seolah menghina bahan makanan itu. Chanyeol bukan orang yang membenci sayuran, tapi jika sedang tidak ingin, lagaknya sudah seperti karnivora—tidak tertarik sama sekali. Ia menggelengkan kepala, memfokuskan diri menatap punggung Baekhyun. Ada rasa penasaran yang muncul sedari awal memasuki supermarket.

Ia berdeham lalu melirik ke arah lain, "Ehm… sejak kapan kau bisa memasak?" fase basa-basi diluncurkan.

Benar saja. Baekhyun langsung menoleh padanya seperti yang diprediksikan. Beruntung ia sudah memalingkan wajah terlebih dahulu, melihat keranjang buah-buahan di dekat lemari pendingin. Ditatap seperti itu oleh Baekhyun membuatnya gugup.

Baekhyun kembali menatap jajaran sayuran, "Aku kan sudah dua puluh enam, sudah tinggal terpisah dengan orang tua. Bisa jadi bencana kalau tidak bisa memasak." tangannya bergerak menaruh wortel, "Makanan dari luar tidak sehat untuk dompet, junk food juga bisa membuatku menjadi babi."

Disebut seperti itu, Chanyeol jadi memerhatikan tubuh Baekhyun lamat-lamat. Tiga hari terlewat dan dia baru menyadari bahwa mantan pacarnya itu ternyata—Ya Tuhan, memiliki bentuk tubuh yang aduhai. Pikirannya terlalu sibuk dengan keterkejutan reuni tak terencana saat itu hingga tak menotis perubahan apa-apa.

Style Baekhyun lebih dewasa dibandingkan yang dulu. Bahkan rambutnya sudah kembali pada warna hitam. Lelaki yang lebih muda darinya itu memakai kemeja lengan pendek kebesaran berwarna putih-kuning, menyembunyikan lekuk pinggang dan lingkar pinggulnya.

Ah sialan, kenapa tidak diumbar saja dengan kaos ngepas—tunggu, Park Chanyeol kau barusan berpikir apa!

Ia menampar pelan pipinya, menyadarkan diri dari sisi kotornya. Sepertinya ia perlu disucikan karena hampir membayangkan yang tidak pantas. Ia melirik lagi diam-diam, kali ini Baekhyun sedang berjinjit mengambil sesuatu di rak tinggi. Nah ini dia. Kesampingkan dulu tubuh atasnya, paha berisi itu terlihat jelas dibalut jeans hitam.

Argh, perasaan dulu Byun Baekhyun tidak seseksi ini?!

Sepuluh tahun yang lalu dia lebih menggemaskan—juga fierce. Mata anak anjing yang polos dipadukan dengan warna rambut magentadan jaket bisbol, kesan kekanakan tapi berani. Lalu sekarang…

Seseorang tolong katupkan rahang bawah Chanyeol yang jatuh sebelum liurnya menetes menjijikan.

"Sekalian membeli kudapan tidak apa-apa, kan? Aku juga mau ambil susu dan cola." ujar Baekhyun tiba-tiba. Chanyeol merapikan wajahnya supaya lebih sedap dipandang lalu mengangguk kaku. Ia mendorong troli lalu menyadari benda itu sudah lebih berat—

Tunggu sebentar.

Chanyeol menunduk, sejak kapan isi trolinya jadi macam-macam begini?!

Sibuk melamun tadi, ia seperti orang linglung yang mengekori Baekhyun kemana-mana. Belanjaan mereka tahu-tahu sudah dipenuhi berbagai macam snack. Bahunya bergidik menghitung satu-satu bungkusan itu. Dompetnya bisa dalam masalah.

Kalau snacknya sebanyak ini, kenapa Baekhyun bisa menjaga tubuhnya tetap ramping begitu?!

Ia mengembalikan beberapa makanan ringan ke tempat semula lalu menyusul Baekhyun. Berdoa di setiap langkahnya semoga editor itu tidak sadar ada yang berkurang dari troli. Brand kopi favorit menarik perhatiannya. Kafein bisa jadi teman begadang. Ia baru selesai menaruh tiga botol kopi original ketika Baekhyun mendekat.

Melihat raut bingung itu, Chanyeol was-was kalau Baekhyun akan mengintrogasi kemana menghilangnya jejak beberapa bungkus snack.

Dahinya berkerut, "Kopi lagi? Tadi bukannya sudah mengambil yang sachet?"

Puja kerang ajaib. Baekhyun membahas kopi, YESH!

Chanyeol berdeham pelan untuk menetralkan suara yang ingin bersorak, "Ehem, tujuh puluh persen tubuh manusia terdiri dari air. Untuk kasusku itu kopi, jadi ini dibutuhkan." jawabnya seadanya.

Baekhyun memicingkan mata, "Terserah kau, sih. Tapi sebagai pengawas, biar kuingatkan kalau kesehatan itu penting. Jadi persediaan kopi ini untuk satu bulan, oke?"

Chanyeol melipat tangan di atas pegangan troli dengan ekspresi kontra, "Satu bulan itu terlalu lama."

Baekhyun ikut bersedekap, "Kalau begitu taruh lagi kopi seduh itu dan sisakan botolan saja untuk seminggu."

"Yang benar saja? Tanpa kopi, aku bisa ketiduran. Kalau naskahku tidak selesai-selesai, kau mau bertanggung jawab?" sergapnya seolah mengancam.

Baekhyun mengangkat dagu, "Ketergantungan itu tidak bagus, minimalisir lah dari sekarang. Riset membuktikan, kebanyakan orang mendapati ide-ide bermunculan saat melewati tengah malam. Kau kan bisa tidur siang lalu begadang sampai pagi, itu lebih baik." ucapnya menyantumkan fakta supaya lebih teoritis.

Chanyeol baru membuka mulut ketika suara anak kecil menyerobot terlebih dahulu.

"Mama, lihat! Kakak tinggi itu diceramahi pacarnya!" telunjuk mungil menuding Chanyeol. Wajah tak berdosa menoleh pada seorang wanita di sampingnya, "kalau aku tidur siang juga, apa aku boleh begadang sampai pagi? Oh apa aku juga boleh mengganti susu dengan kopi?"

"Hush, tidak sopan menunjuk orang seperti itu. Dan tidak, Jaemin tidak boleh begadang apa lagi minum kopi. Kopi itu pahit seperti obat." Ibunya menakut-nakuti.

"Tapi tadi Kakak cantik itu bilang tidak apa-apa." bahu Baekhyun berjengit pelan mendengarnya. "Kakak yang tinggi itu juga bilang tujuh puluh persen tubuh manusia terdiri dari—"

"Untuk orang dewasa. Jaemin tunggu sepuluh tahun lagi, ya?" telinga Chanyeol bagai menegak mendengar jumlah tahunnya, sepertinya dia sensitif dengan angka sepuluh.

Si anak kecil menyerah, "Uhh… baiklah."

"Ayo mengantri ke kasir, jangan mengganggu rumah tangga orang lain."

Lalu Ibu dan anak itu melangkah pergi. Menyisakan dua objek pembicaraan mereka yang membatu. Keheningan merayap sampai tiga menit.

"… Aku harus berhati-hati saat bicara." Celetuk Baekhyun kemudian.

Chanyeol merasa sama malunya. "Ya. Melihat sekitar dulu untuk memastikan tidak ada otak polos yang tercemar." Ini ditujukan pada anak kecil.

Mereka berdua menggerut leher dengan canggung, merasa bersalah. Juga merasa gagal menjadi orang dewasa yang baik dan benar. Jangan dicontoh, ya.

Perasaan mengganjal didominasi malu karena dituduh pasangan yang sudah berumah tangga. Ah, mulut Ibu-Ibu memang kadang suka asal ceplos. Buah jatuh tak jauh dari pohonnya—anaknya pun menganggap mereka sepasang kekasih. Tapi kalau diperhatikan memang menjurus ke sana, sih. Belanja berdua, membeli barang pokok kehidupan, sudah pasti orang lain menganggap mereka pasangan yang baru menikah.

Padahal bisa saja presepsi mereka jatuh pada kemungkinan teman sekamar.

Chanyeol menunduk semakin dalam karena udara tiba-tiba terasa panas. Baekhyun menyadari pria itu tak kunjung mengangkat wajah, maka ia memutuskan mengajak terlebih dahulu.

"Ayo bayar ini, aku lapar." Baekhyun memimpin jalan lagi.

Chanyeol cepat-cepat meraih pergelangan tangan editornya. Baekhyun menoleh dengan bingung. Chanyeol membersihkan kerongkongan dengan gugup.

"Anu… jangan dulu, nanti di kasir bertemu lagi."

Baekhyun tertawa garing sebagai tanggapan. Mereka berkeliling lagi sebentar hanya untuk mengulur waktu. Dirasa cukup, area kasir menjadi tujuan akhir mereka. Chanyeol membantu Baekhyun mengeluarkan barang-barang dari troli agar dijumlah harganya.

Ketika tumpukan di dalam troli semakin menipis, tiba-tiba Baekhyun mencekal tangan Chanyeol.

"Tunggu sebentar,"

"Apa?"

"Sepertinya… ada yang kurang."

"Cuma perasaanmu. Ayolah cepat, ada antrian di belakang kita. Juga aku ingin segera pulang." Tangan Chanyeol meraih bawang bombay tapi Baekhyun menampar lengannya sampai pegangan terlepas.

"Pukulan itu untuk apa, Byun Baekhyun?!" tanya Chanyeol penuh kekesalan sambil mengusap-usap kulitnya yang membekas kemerahan. Ia mengangkat wajah—seketika dihujam tatapan membunuh Baekhyun plus senyum manis yang seolah berkata, masih mau melihat dunia apa tidak. Oh sial, ia tahu pembicaraan selanjutnya akan mengarah kemana.

"Kudapannya kok sedikit sekali, ya…"

Chanyeol menelan batu liur susah payah.

"…sisanya dikemanakan, Park Chanyeol?"

Gerakan mengusap semakin menjadi karena gugup. Lengannya justru bertambah merah karena itu. Matanya melirik kemana-mana. "Uhm… rindu habitatnya? Jadi mereka kembali ke rumah untuk berkumpul bersama anggota keluarga yang—"

"Kenapa dikembalikan?!" suara Baekhyun meninggi tiba-tiba.

Menjauhkan kepala adalah refleks pertamanya, menyelamatkan alat pendengaran yang berdengung dadakan. Chanyeol seharusnya tahu, lelaki pendek itu sebenarnya tidak banyak berubah. Membuat Baekhyun marah sama saja dengan melompat ke kolam buaya.

"Jumlahnya terlalu banyak, Baekhyun. Aku tidak mungkin menghabiskannya sendirian."

"Kau kira aku tidak mau memakannya juga?"

"Ah, ya! Kulkasku di apartemen pasti kepenuhan kalau aku menampungnya."

"Kulkasmu ya kulkasku juga!"

"Anu… mas, masalah rumah tangganya ditunda dulu. Ini jadi dibayar, kan?"

Déjà vu.

Mereka berdua mendadak bungkam. Saling menatap dengan bibir merapat lalu melirik sekitar dengan kikuk. Dua orang yang mengantri di belakang Chanyeol kelihatan tersenyum geli sementara mbak-mbak kasir masih tersenyum profesional—tidak tahu saja keadaan hatinya bagaimana. Siapa tahu menjerit-jerit karena melihat pasangan imut di depan mata tengah bertengkar. Apalagi yang tinggi malah kalah debat dari satunya.

Great. Mereka tidak belajar dari pengalaman.

"Ah iya, jadi kok." lirih Baekhyun lalu menata barang-barang yang tersisa di troli.

Chanyeol menggerut leher karena malu. Membuat catatan mental supaya ia lebih peka dengan tempat sekitar. Tiba-tiba bahunya dicolek dari belakang. Ia menoleh untuk mendapati seorang gadis yang berbinar menatapnya.

"Kakak yang tabah, ya. Biasanya suami itu harus nurut sama istri."

Ya Tuhan, Chanyeol mau mati saja.

.


...


.

"Tidak, tidak. Kau lihat di sini? Kalimat terakhir ini merusak paragraf yang sudah bagus. Coba ganti dengan sesuatu yang lebih simple."

Chanyeol menekan backspace sampai kalimat yang dianggap buruk itu lenyap. Baekhyun memegangi sandaran kursi si penulis dengan punggung yang masih membungkuk, matanya terfokus pada monitor.

"Kalau kujadikan percakapan langsung, bagaimana?" tanya Chanyeol selagi tangannya mengetik beberapa kata.

Kedua mata Baekhyun memicing, mengamati lebih lama sampai kalimat baru selesai. Ia menepuk bahu Chanyeol dengan puas setelahnya. "Itu bagus."

Chanyeol kembali berhenti mengetik usai membubuhkan titik. Ia bersandar dengan tangan bertumpu di atas paha. "Oke, sekarang aku bingung apa lagi yang dibicarakan mereka. Astra sudah menjelaskan keadaan, mengatakan semua baik-baik saja agar Raya bisa beristirahat. Mira dan Alex juga sudah dijemput dari tempat persembunyian. Apa yang kurang, ya…?"

Baekhyun mengetuk-ngetuk sandaran, "Ah, bukankah besoknya hari ulang tahun Astra? Kau bisa tulis adegan saat Raya mengucapkannya. Hanya sebentar lalu ia kehilangan kesadaran lagi."

Chanyeol menelengkan kepala, ikut berpikir. "Kau benar." Ia menyetujui.

Baekhyun mendadak tersenyum miring, "Timingnya juga menguntungkan, bab ini berada dalam sudut pandang Astra. Buat dia bersedih karena Raya kepayahan berbicara."

Chanyeol melirik dengan sudut matanya, "Licik… kau mau membuatnya jadi telenovela, ya?" ia tidak terima karena cerita ini bergenre action-fantasy.

Apa jangan-jangan Baekhyun punya dendam tersendiri terhadap pria yang memimpin hubungan, ya? Hmmm, mencurigakan.

Baekhyun menarik napas, "Itu situasinya, Chanyeol. Raya satu-satunya yang terkena dampak paling besar setelah pertarungan. Meskipun kaumnya menang, dia butuh waktu lama untuk memulihkan diri. Lukanya bukan fisik, tapi kekuatan dalam dirinya yang pudar. Lagipula kan nanggung kalau tidak diberi sedikit romansa lagi, posisinya sudah pas dengan Astra memangku kepala Raya."

"…kau benar lagi."

Baekhyun tersenyum penuh kemenangan. Chanyeol tak ambil pusing dengan ekspresi mengejek itu. Ia memutuskan untuk menulis apa yang ada di dalam kepalanya sesuai arahan.

"Astra…"

Suaranya terdengar lebih lembut kali ini. Aku bergumam pelan sebagai respon. Takut jika bibirku gemetar untuk menjawabnya. Melihatnya selemah ini membuat dadaku berdenyut sakit. Untuk yang ketiga kalinya, aku tidak bisa melindunginya. Aku menahan tangannya agar tetap di pipiku. Aku tidak ingin dia melepaskannya.

"..selamat ulang tahun."

Tidak. Aku tidak menerima hal ini.

"Tidak." aku menggeleng putus asa, "Kau seharusnya mengatakan hal itu besok, Raya."

Kedua matanya yang bersinar redup akhirnya terpejam, senyum tulusnya masih tertinggal. Perlahan tangannya di pipiku terasa melemas, pertahananku hampir hancur.

"Aku takut… tidak bisa mengatakannya padamu besok."

Aku bersyukur dalam hati ia masih bertahan. Aku meletakkan tangannya kembali ke samping tubuhnya, berusaha membuatnya lebih nyaman. "Kalau begitu berjanji satu hal padaku." Tenggorokanku tercekat, "Kau bisa beristirahat sekarang, tapi kumohon, berjanjilah selama apa pun itu, kau harus membuka matamu lagi."

Ia mengangguk pelan sekali lalu napasnya mulai teratur. Aku mengabaikan pegal yang menjalar di leher, masih mempertahankan posisi menunduk untuk melihat wajahnya yang tenang. Aku mulai berpikir ia akhirnya jatuh tidur dalam waktu yang tidak diketahui siapa pun. Tangan kiriku bergerak menyentuh rambut terurainya yang kini berwarna hitam keseluruhan.

"…jangan melepaskan tanganku."

Mendengar suara lirih itu membuatku mengeratkan tautan tangan kami. "Tentu. Aku tidak akan melepaskannya lagi."

Kali ini benar-benar tidak ada balasan. Baik secara verbal maupun sentuhan fisik. Tersisa tanganku yang masih menggenggam dengan erat secara sepihak.

Aku mengangkat wajah, melihat semua teman-temanku jatuh tidur karena kelelahan. Ketika berpaling ke samping, langit oranye terbentang luas. Angin sore menerpa wajahku, meloloskan setitik bening yang menumpuk di mataku.

Aku tidak menghapusnya.

"Oke, cukup. Itu membuatku bersedih." Interupsi Baekhyun membuatnya berhenti mengetik.

Chanyeol merasakan bahunya lebih ringan, Baekhyun tidak lagi menumpu tangannya di sana. Ia sedikit mendongak dan mendapati Baekhyun berdiri tegak di sampingnya.

"Heeeh, tadi siapa yang minta scene begini?" ucapnya main-main, sengaja memojokkan.

"Tapi kau membuat Raya menderita juga." bibir Baekhyun agak melengkung ke bawah, "Aku kan tersentuh waktu dia minta tangannya tidak dilepas. Bayangkan saja, dia tahu tidak akan bisa melihat Astra dalam waktu dekat. Dia tahu saat itu juga akan sendirian."

Chanyeol agak tersentak melihat ekspresi si editor. Saraf otaknya yang paling ujung terasa seperti tersengat kecil. "Memangnya setragis itu? Raya masih hidup kok."

Suara Baekhyun melirih, persis bisikan, "Kau memang tidak pernah tahu rasanya tidak bisa mempertahankan apa yang diinginkan…"

Lipatan di dahi Chanyeol bertambah. Ia kebingungan.

"Lupakan." Baekhyun mengibaskan tangan, "Lagipula kau berniat membuat mereka memiliki akhir yang bahagia, kan? Kapan Raya sadar dari pemulihannya?"

"Mungkin satu bulan?"

"Rasanya seperti sinetron saja jika ditime-skip seperti itu." cibir Baekhyun.

Chanyeol berdecak lalu menyanggah, "Pikiranmu kurang tajam. Satu bulan itu bisa kujabarkan banyak hal. Seperti perbaikan Ibu kota yang hancur, si kembar Mira-Alex yang berbaikan, Silena menjadi Ratu kerajaan—"

"Tidak terlalu banyak? Yakin bisa selesai dalam seminggu?" sela Baekhyun.

"Biar kupikirkan lagi…" lalu ia tenggelam dalam konsentrasi.

"Omong-omong tentang ulang tahun… kau sudah mau mencapai dua puluh delapan, ya?"

Ia terkesiap. Seketika mengangkat wajah, tapi Baekhyun memfokuskan semua perhatiannya pada layar monitor. Tidak menggubris tatapan terkejut dari Chanyeol. Atau lebih tepatnya memang sengaja.

"… Kau ingat?" nyaris tercekat.

Baekhyun mengotak-atik mouse. Jika saja Chanyeol memperhatikan layar, lelaki yang lebih muda itu hanya mengscroll naik-turun pada tulisannya. Baekhyun sedang mengalihkan kegugupan. "Dua puluh tujuh November, kan?"

Chanyeol mengangguk tanpa suara.

Baekhyun menghela napas lalu berjalan keluar ruangan, "Ayo makan siang dulu, ini sudah jam tiga." Lalu punggungnya menghilang di balik pintu.

Chanyeol memastikan dokumennya tersimpan lalu membiarkan komputernya dalam mode sleep. Ia membereskan dua kaleng soda kosong, melemparnya ke tempat sampah di samping meja. Langkahnya menyusul ke dapur. Baru melewati pintu, ia sadar gemerisik dari luar jendela. Hujan tengah mengguyur deras.

Baekhyun sedang memanaskan sup ikan dan menyendok nasi ke dalam mangkuk. Jadi Chanyeol menata meja makan dengan gelas. Setelah itu ia menunggu Baekhyun selesai dengan pekerjaannya. Melihat tangannya bergerak cekatan, ia jadi ingat masih punya banyak pertanyaan. Seperti tentang hal-hal berbeda yang dicapai Baekhyun.

"Baekhyun, omong-omong sejak kapan kau tertarik menyunting naskah?" tanyanya tiba-tiba.

Baekhyun mematikan kompor, mengaduk sup dengan sendok bulat. "Seingatku, setelah lulus SMA langsung mengambil jurusan sastra. Aku lupa waktu spesifiknya."

"Kukira kau tidak suka membaca buku. Bukankah dulu kau lebih suka berbuat onar?"

Baekhyun memenuhi mangkuk dengan sup. "Yang kau ingat cuma keburukanku saja, ya?" sarkasnya dengan lirikan tajam.

Chanyeol haha-hehe tidak jelas. Mendadak jadi tidak enak.

Baekhyun membawa lauk bersamanya ke meja makan. Ia menahan diri untuk meraih sumpit yang sudah disediakan untuk melanjutkan, "Sebelum putus denganmu juga aku sudah tertarik pada karya tulis kok."

Chanyeol menghentak sendok pada mangkuk dengan refleks. Ia berdehem gugup, merasa sensitif dengan masa lalu.

"Kau sendiri sejak kapan jadi manusia goa seperti ini?"

Kali ini sumpitnya tersenggol sampai hampir jatuh dari ujung meja kayu. Fak, serangan balasan. Chanyeol mengangkat wajah, "Bisakah kalimatnya diperhalus?" rasanya ia lebih dari tersindir.

Baekhyun mengaduk-aduk nasinya yang dicampur kuah sup. "Kau memang ketus dari dulu, tapi punya banyak teman. Jadi… aku kaget saja kau yang sekarang memilih hidup terisolasi. Kenapa tiba-tiba paranoid setiap bertemu orang asing?"

Nah ini. Salah satu topik yang paling anti untuk dibahas. Chanyeol memutuskan untuk menyuap makanan banyak-banyak sampai mulutnya penuh supaya tidak perlu menjawab. Masa bodoh dengan rasa—oooh! Ini enak sekali. Seingatnya rasa masakan Baekhyun dulu sama dengan racun.

Baekhyun mendesak, "Sejak kapan kau suka mengurung diri di rumah?"

Chanyeol mengunyah dadu-dadu wortel dengan lambat, seolah menghayati, meresapi sampai ke seratnya. Dalam hati menghitung setiap kunyahan.

"Aku melihat gitar lama di samping rak buku. Apa masih sering dimainkan?"

"…kadang-kadang."

Baekhyun menahan diri untuk menghujat. Kesal karena pertanyaan diganti baru pria itu mau menjawab. Ia menyuap potongan daging salmon dan memakannya tak sabaran. Karena suasana mendadak hening, tidak satu pun dari mereka berminat memulai percakapan lagi.

Ketika selesai, Baekhyun lebih dulu bangkit membawa piring kotor ke wastafel. "Kau lanjutkan saja pekerjaanmu, biar aku yang membersihkannya."

Chanyeol bergumam menyetujui. Langkahnya diseret kembali ke ruang kerja. Pintu ditutup rapat. Komputer tidak langsung dinyalakan, ia memilih bersandar dan memejamkan mata. Suara hujan yang mengetuk-ngetuk kaca jendela memenuhi pendengaran, membuatnya agak rileks.

Belum dua menit raganya bersantai, ada suara lain yang menginterupsi. Menggelegar berasal dari langit. Bahunya terlonjak karena terkejut, baru saja membuka mata selagi tubuhnya dibawa menegak lalu mendadak gelap.

"Petir sialan, kenapa harus padam sekarang?!"

Chanyeol menyumpahi fenomena langit seolah itu adalah sumber perkara padamnya listrik. Ia tidak melihat secercah cahaya apapun, artinya bukan hanya gedung apartemen ini saja yang gelap gulita. Tangannya meraba pinggiran meja kerja lalu berdiri perlahan.

"Hei, Baekhyun! Kau baik-baik saja di sana?"

Suaranya bergema di ruangan itu, yakin bahwa si editor pasti bisa mendengarnya. Tapi lama menunggu, ia tidak kunjung mendapat jawaban. Dengan decakan malas ia berjalan pelan-pelan menuju arah pintu yang dibayangkan dalam kepala. Dalam hati bersyukur karena tidak tersandung apa-apa di ruangan berantakan—oh benar, Baekhyun yang membersihkan lantainya.

"Aku belum berterima kasih tentang itu…" gumamnya pelan baru tersadar. Oh bahkan kau tidak berterima kasih atas makanan yang sangat lezat itu.

Ia berhasil memegang badan pintu lalu beseru lagi, "Baekhyun! Kau mendengarku?"

Gemuruh terdengar lagi menyusul ucapannya. Langit sedang mengamuk seperti gadis masa pms. Pandangannya mulai terbiasa dengan cahaya minim karena dinding kaca di ruang utama selalu dibuka tirainya.

"A-Aku baik,"

Kepalanya mencari sumber suara lirih itu. Ia berjalan menyusuri dinding, menuju letak dapur yang diingatnya. "Bisa kau bicara lagi, Baekhyun?" ia bertanya ketika yakin sedang berdiri di area itu.

Langit berkerlip marah, memainkan cahaya dari petir sehingga menerangi dapur sepersekian detik. Chanyeol menangkap figur editornya tengah bersandar di pintu kulkas dengan wajah terbenam di lutut. Rasa lega menyeruak, kakinya berjalan cepat menghampiri.

"Kau membuatku panik, kukira kenapa-kenapa." Ia memborong keluhan sambil berjongkok di sampingnya.

Baekhyun tidak mengatakan apa-apa, masih bertahan di posisinya. Chanyeol mengernyit bingung. Apa Baekhyun baru saja melihat hantu? Atau bertemu tikus? Atau dihampiri kecoa terbang? Atau lebih parah lagi—belum mematikan keran air?!

Tapi Chanyeol yakin ia tidak mendengar kucuran dari wastafelnya.

"Hei," panggilnya lembut, "kau tidak apa-apa?"

Baekhyun menggeleng pelan, membuat cicitan tak jelas yang sama sekali tidak tertangkap oleh telinga Chanyeol. Padahal telinganya sudah lebar. Ia merubah posisi untuk duduk bersila dan mengamati gerak-gerik editornya.

Kepalanya mendekat pada sosok itu, "Huh? Kau mengatakan sesuatu?"

"…b-boleh aku memegang tanganmu?"

Mata memicing, Chanyeol tidak menyadari suara terbata itu. "Kenapa? Kau habis melihat hantu? Apartemenku tidak angker, lho."

Tangannya yang bertumpu di depan kaki menyilang tahu-tahu dicengkram Baekhyun. Chanyeol berjengit kaget, hampir bergeser dari posisinya. Tangan itu terasa basah di permukaan kulitnya.

"Baekhyun, tanganmu masih basah. Kau belum selesai mencuci piring ya tadi? Ini ada sabunnya tidak?" mendadak Chanyeol menjadi orang higienis. Tidak mau disentuh dengan tangan licin dan lengket bekas pembersih noda. Halah.

Baekhyun lagi-lagi bungkam. Chanyeol dibuat gregetan. Ini anak kenapa?!

Petir menggema di luar sana dan Chanyeol harus mengalami serangan kaget untuk yang kesekian kali. Lalu sesuatu mengalihkan perhatiannya. Baru sadar tangan itu tidak licin, tidak pula lengket. Chanyeol mulai menebak jika itu bukan basah karena air keran melainkan keringat dingin. Didukung betapa kuat cengkraman Baekhyun pada punggung tangannya usai kilatan petir. Chanyeol berusaha mengulurkan tangan yang bebas, berniat mengangkat kepala yang menunduk itu. Ia penasaran dan mulai khawatir.

"…kumohon jangan lepaskan tanganku."

Rasanya déjà vu.

Suara melirih itu menyayat hati. Tangannya terhenti beberapa senti di atas kepala Baekhyun. Ia menelan ludah dengan gugup lalu mengumpulkan keberanian untuk mengeluarkan kata-kata menenangkan.

"Aku tidak akan pernah melepaskannya lagi."

Kalimat dari tokoh karangannya, Astra, terlintas di balik mata. Itu bermakna dalam. Terlihat jelas dari kata 'lagi' diakhirnya. Yang artinya tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Mendadak hatinya tercubit tanpa alasan.

"Ya. Kau bisa menggenggam tanganku sampai tenang."

Kalimat seratus persen berbeda terlontar selagi bibir bawahnya digigit. Ia tidak bisa mengikuti dengan sama persis. Ia merasa tidak pantas untuk mengatakannya. Kenapa ia bisa lupa kalau Baekhyun takut dengan petir? Padahal itu hal penting yang selalu diingatnya dulu.

Ada keheningan menyesakkan bagi Chanyeol selama satu menit. Baekhyun juga masih menyembunyikan wajahnya di kedua lutut. Ia jadi iba.

"Kau bisa berdiri?" ia bertanya.

Baekhyun menggumam lagi. Terdengar seperti kumur-kumur baginya. Jadi ia merendahkan leher untuk mendekatkan telinga.

"Bisa diulangi?"

"P-Piringnya… belum dicuci."

Chanyeol berdecak keras. Dikiranya ada apa. "Dasar, tidak usah dipikirkan."

Baekhyun mengangguk samar. Chanyeol membantunya berdiri tanpa melepaskan tautan tangan. Bermaksud pindah ke ruang utama. Namun Baekhyun melangkah terlalu pendek dan lambat, seolah ada pecahan kaca berserakan di lantai yang dilarang untuk terinjak. Seharusnya Chanyeol merasa direpotkan karena hal itu, tapi yang keluar dari mulutnya hanya;

"Pegangan padaku."

Tidak ada nada memerintah, hanya sebuah permintaan yang membutuhkan izin dari lawan bicaranya. Kemudian ia memastikan Baekhyun menggelayuti lengannya cukup kuat untuk berjalan cepat menuju sofa.

Usai mendudukan diri dengan nyaman, keheningan merayap lagi. Hujan tak kunjung mereda sehingga Chanyeol tidak bisa memprediksi kapan lampu akan menyala. Cahaya di ruang tengah lebih mendukung dibandingkan area dapur. Ia bisa melihat jelas Baekhyun yang melipat kaki di sampingnya. Entah kenapa Chanyeol tersenyum tipis. Lelaki mungil itu tidak berubah, masih meringkuk ketakutan setiap petir menggelegar. Satu hal yang berubah hanyalah sikapnya yang ragu bergantung pada Chanyeol untuk meredakan phobianya.

Bahu editornya terlihat gemetar pelan ketika gemuruh terdengar lagi. Chanyeol jadi tidak tahan. Persetan jika dengan ini ia dianggap lancang.

Tangannya bergerak untuk mendekap Baekhyun, membawa lelaki itu bersandar pada bahunya. Tubuh Baekhyun terasa sangat kaku, mungkin ketakutannya belum reda. Perlahan diusapnya punggung itu sampai rileks.

"Tenang saja, Baekhyun. Kalau kau mau tidur, lakukan saja."

Napas Baekhyun yang mulai teratur menyentuh lehernya. Rambut hitam halus menggelitik dagunya, tapi Chanyeol sebisa mungkin bertahan lebih lama. Hanya dalam hitungan menit Baekhyun akhirnya bersandar sepenuhnya pada Chanyeol.

Pria tinggi itu menghembuskan napas lega dan gelisah diwaktu yang sama. Ia memalingkan wajah ke samping. Posisi ini sungguh canggung baginya. Tapi ia tidak bisa diam saja melihat Baekhyun gemetar seperti tadi. Hatinya mencelos. Suara kecil dalam dirinya berteriak untuk memeluk lelaki itu seperti dulu.

Ia tidak mengerti. Rasanya tidak masuk akal. Sudah sepuluh tahun sejak terakhir kalinya bersama Baekhyun. Dia seharusnya sudah terbiasa. Ia seharusnya bisa bersikap tak peduli.

Jantungnya tidak pantas berdetak terlalu kencang. Ia tidak pantas mengharapkan Baekhyun mau bergantung padanya. Tidak pantas mengharapkan Baekhyun berada di pelukannya seperti sekarang.

Rambut hitam di bawah dagunya benar-benar mengundang untuk disentuh. Ia menunduk, menelusupkan wajahnya, menghirup wangi yang memanjakan inderanya. Ia tidak sadar ketika membubuhkan satu ciuman di sana.

Otaknya terus memborbardir motorik untuk tidak menyentuh, berseru padanya agar tidak terlalu dekat. Tapi hatinya terasa menyenangkan.

Bukankah ia begitu dangkal karena tidak bisa menahan diri?

.

.

.

.

.

.

"Chanyeol… aku takut… petirnya tidak mau berhenti. Kumohon jangan lepaskan tanganku."

"Tenanglah, Baekhyunie. Aku tidak akan pernah melepaskannya."

"Kapan hujannya reda? Aku benci situasi ini."

"Tidak tahu."

"Ish, jawabannya singkat sekali, sih."

Rambut magenta diusap sayang, kecupan mendarat di dahi yang lebih muda cukup lama. Jantungnya berdegup kencang, hampir mengalahkan derasnya hujan.

"Kalau begitu fokus saja padaku. Hanya lihat aku—"

Genggaman mengerat di bawah sana.

"—dan jangan berpaling dariku."

.

.

.

.

.

.

Tapi yang berpaling pertama kali adalah Chanyeol.

.

.

.

.


tbc


a/n: anjir kenapa jadi drama part akhirnya, hampura /bow

yg udah fav follow sider review, yg minta lanjut, yg mendukung sukses ujian, yg kirim kisbay sini saya muah balik wkwk

Big thanks to you all~

nura0929, Aisyahre, hunniehan, Guest, joruri, n3208007, kickykeklikler(penname kamu susah AllahuakbarxD), xxyoungsoulxx, almaepark, kahi19, Cocoa Pie, channyeolbaek, gomdori, yellobaek, Pcyrealwife, Park2711, Chanyeoltidakmesum, gia, Chanbaekishalal, Yui Hisoka, Monster Danau Toba, myut, Nisa273, AnggiLee, Real ayd

mohon maaf kalau ada kesalahan nama atau terlewat

Dan untuk Aisyahre, bukan, ini bukan true story sumpah beneran demi chanbaek (..loh?) ada mantan satu juga saya berharap nggak ketemu dia lagi hnngg /malah curhat/. Yang atas kan udah lucu-lucu jadi yang bawah gentian dibawa turun. Biar kayak diangkut rollercoaster hehe. Kalian mau kapan di up chapter tiganya? (asek sok nawarin)

Terima kasih sudah membaca~!