Act 02

###############

Atarashii Kami

Katekyou Hitman Reborn © Amano akira

Author: Koru-kun

Disclaimer: Katekyou hitman Reborn belongs with Amano Akira. Other products her belongs with someone outside there. This Fanfiction belongs with Koro-kun. I get no material profit by write this Fanfiction, so feel free to read.

Warning : AU, OC, OOC. Typos everywhere~~

Happy Reading(^.^)


Kegelapan ...

Itulah yang dirasakan oleh Sawada Tsunayoshi, berambut unik serta ukuran tubuh yang pendek untuk laki-laki seumurannya. Ia teringat bahwa dirinya sudah menerjunkan diri dari atap apartemen. Mengakhiri kehidupan sepihak seperti pecundang-pecundang lain yang menyerah akan kehidupannya.

Seharusnya tak butuh waktu lama baginya untuk sampai dasar dan berakhir dengan kematian yang ia rencanakan sebelumnya, meninggalkan dunia yang sudah tak ada gunannya untuk terus ditinggali.

Apa aku sudah mati?

Namun, akan aneh rasannya bila kau yakin sudah mati, tetapi dapat merasakan organ jantung maupun organ lainnya masih berfungsi normal. Bahkan, Tsuna dapat merasakan kalau dirinya masih bernafas.

Tsuna membuka kedua matanya perlahan, matahari sore menyinari angkasa hingga membuat langit berwarna merah kekuningan. Namun, tak hanya itu saja yang ditangkap oleh kedua matanya. Terdapat sosok bayi dengan pakaian bak Men in Black, menatap intens dirinya.

"Kau begitu menyedihkan untuk seukuran manusia." Ucap sosok tersebut dengan nada cempreng khas anak-anak. Namun memiliki arti kata yang cukup dalam.

Tsuna diam mematung. Kedua matannya fokus mengikuti pergerakan makhluk yang baru pertam kali ia temui itu.

Sosok tersebut meloncat dan mendarat tepat di atas tralis besi pembatas. Jika manusia normal melihatnya, pasti akan langsung panik mendapati seorang bayi berada di tempat berbahaya seperti itu.

Sayang bukannya Tsuna tidak normal, pemuda itu masih tertegun dengan apa yang dilihatnya sekarang. Beberapa detik yang lalu dia jatuh bebas di udara, kini ia disuguhkan dengan makhluk mirip bayi yang dapat berbicara dan berdiri dengan kedua kakinya.

"Kau berniat bunuh diri lagi?" ucap bayi itu mendapati Tsuna berjalan ke arah pagar pembatas, melakukan aksi seperti orang yang ingin bunuh diri. "Hah, padahal aku sudah susah-susah menyelamatkanmu. Tapi, kau sendiri malah seenaknya ingin membuang nyawamu lagi." lanjutnya.

"Siapa juga yang menyuruhmu untuk menyelamatkanku?" ucap Tsuna sarkasme tanpa tahu bila sosok itu tersenyum melihat apa yang akan dilakukan dirinya sekarang.

"Sayangnya itu perlu kulakukan. Lagipula untuk apa aku menjadi malaikat pribadi mu bila harus menyaksikan dirimu mati dengan cara yang sangat konyol."

"Heh .." respon Tsuna datar, tanpa sedikitpun menatap bayi yang kini sudah duduk dengan angkuhnya, bermain dengan makhluk kecil berwarna hijau yang menyerupai kadal di tangan kirinya.

Tsuna masih tetap menatap kosong jalanan dibawahnya. Orang-orang berjalan di sepanjang trotoar tanpa tahu bila diatasnya terdapat seorang remaja yang berniat bunuh diri.

"Aku tak tahu bualan apa yang kau ucapkan akanbou,"ucap Tsuna. "Tapi seharusnya kau membaiarkan aku jatuh tadi. Menghalangi keinginan orang lain bukanlah perbuatan yang baik."

Walau terdengar lucu, akanbou itu tidak tertawa mendengar ucapan Tsuna barusan.

Selang berikutnya, kedua sayap putih seperti merpati muncul tiba-tiba di balik punggungnya. Bayi itu kemudian terbang dengan anggunnya, melayang tepat di hadapan pemuda tanpa harapan tersebut.

"Saat kau terjatuh, kau bilang ingin bahagia bukan?"

"Aku tak mengatakan hal seperti itu."

"Ah memang kau tak mengatakannya," sosok itu pun mendekat dan menyentuh kening Tsuna dengan tangan kecilnya yang mungil. "…memang kau tak mengatakannya, tapi di dalam hatimu kau mengatakan ingin bebas dan bahagia."

Tsuna masih tetap memasang ekspresi dataranya, menyingkirkan tangan bayi yang mengaku sebagai malaikat dari keningnya. "Dengar ya akanbou," ucap tajam Tsuna. " Walaupun aku bilang seperti itupun, kau tak tahu apapun soal kehidupanku."

"Aku tahu kok." Ucap sang malaikat singkat jelas nan padat.

Tsuna sedikit terkejut, Tampaknya sosok imut itu berhasil membuat Tsuna sedikit terpancing.

"Apa maksud—"

Tsuna terpeleset sebelum menyelesaikan perkataannya. Kini serasa seperti de javu, Tsuna perlahan jatuh ke bawah. jika awalnya ia sudah siap mati, kini ada sebersit perasaan ragu. Bahkan ketika ia menatap akanbou yang semakin mengecil dari pandagannnya, dirinya mengucapkan sesautu yang tak pernah terpikirkan dalam benaknnya

"Aku ..., tak ingin mati ..."

"Baiklah jika itu yang kau mau." Ucap malaikat itu seekan mendengar suara cicitan Tsuna.

Tiba-tiba saja waktu berhenti begitu saja. Tsuna yang sudah menutup mata siap mendapatkan rasa sakit yang berujung kematian, kini perlahan-lahan membuka kedua indra penglihatannya.

Ia mendapati tubuhnya melayang di atas tanah walau hanya setinggi beberapa centi. Tak hanya itu saja, ia juga melihat orang-orang sekitarnya berhenti bergerak, bahkan ia sempat juga melihat orang yang sedang muntah di sudut jalan dengan kondisi dimana muntahannya mengambang di udara. Keadaan tersebut seperti sebuah putaran film yang sengaja di pause.

"A-apa yang terjadi?" ucap Tsuna mendapati keanahan yang terjadi padannya.

"Aku menghentikan waktu" ucap akanbou yang kini sudah ada di sampingnya. "Bagi kami para malaikat, menghentikan waktu adalah pekerjaan amat sangat mudah kau tahu."

"Ja-jadi kau benar-benar malaikat?"

"Heh seberapa bodohnya kau dame-Tsuna?" ejek akanbou yang seenaknya menambahkan kata dame tersebut.

Ia kembali membenarkan posisi topi fedora hitamnya yang sedikit melenceng tertiup angin. "Dan lagi kenapa justru sekarang ekspresi kagetmu keluar? Kau memang sungguh manusia yang unik Sawada Tsunayoshi."

"Uruse!" sentak Tsuna. "Daripada itu, apa yang kau maksud dengan tahu segala hal tentang diriku?"

Akanbou itu terbang menjuh meninggalkan Tsuna yang kini sedang memandangnya tajam. Bayi bersayap tersebut menghampiri seorang anak kecil yang sedang asyik menikmati lolipop yang nampak diberikan oleh ibunya. Karena waktu berhenti, tentu saja gerakan anak itu juga ikut terhenti ketika lidahnya sedang asyik menjilat jajanan manis yang sangat dibenci oleh para dokter gigi diseluruh dunia.

Dengan tanpa dosa, Akanbou tersebut mengambil lolipop dari anak kecil itu dan langsung memasukan ke mulutnya. Tsuna hanya berpikir apa yang akan terjadi bila anak itu tahu bahwa permennya tiba-tiba saja menghilang.

"Sebaiknya kita pergi ke tempat lain."

"Eh tunggu apa mak—"

Sayangnya belum sempat Tsuna memprotes, ketika akanbou itu menghentikan jarinnya, mereka berdua telah lenyap dalam percikan cahaya. Dan detik berikutnya waktu yang terhenti tersebut kini telah kembali normal seperti biasa.

Dan seperti dugaan Tsuna, anak malang itu menangis ketika tiba-tiba saja permen yang ia jilat raib tanpa bekas.

.

ψAtarashii Kamiψ←

.

Kini Sasagawa Kyoko sibuk dengan urusan dapur sambil menunggu sang kakak pulang dari kegiatan klub tinju di sekolahnya. Kesibukan orang tuanya membuat Kyoko harus terampil mengurus rumah semisal memasak ataupun mencuci pakaian, mengingat abangnya sedikit ceroboh bila mengurus hal-hal seperti itu.

Memang agak menyedihkan bila harus ditinggal orang tua bekerja di luar negeri. Sang ayah yang sibuk dengan penelitiannya ataupun sang ibu yang sibuk dengan pekerjaannya sebagai seorang disainer.

Namun Kyoko paham, bahwa kedua orang tua mereka berkerja keras demi dirinya dan abangnya juga. Lagipula Kyoko sudah cukup senang dengan kehidupannya sekarang. Menjadi siswa di sekolah elit, memiliki sahabat seperti Hana yang selalu ada bila dia butuh teman mengobrol ataupun sang Kakak yang selalu melindunginya bila ada yang usil dengannya.

Kini ia sedang sibuk memasak daging yang akan diolah sebagai humberger. Sambil mendengarkan musik dari Ipod-nya, Kyoko bolak balik dapur ruang makan menaruh alat-alat serta hidangan untuk makan malam nanti. Ketika melihat semua sudah prefect dimatannya, Kyoko mengambil remote tv dan mencari-cari progam yang sekirannya dapat mengusir kebosanannya sambil menunggu sang kakak pulang.

Namun, tetap saja acara sore begitu membosankan jika tidak pada hari –hari weekand, selalu saja dipenuhi oleh drama picisan ataupun talkshow yang sama sekali tak menarik. Jam menunjukan pukul Tujuh sore, masih dua jam lagi bila ingin menonton anime malam yang selalu dipenuhi hal-hal berbau echi walau tak semuannya mengandung unsur tersebut.

Dan sebagai rahasia kecil yang author bagikan untuk readers. Kyoko yang dikenal sebagai wanita kelem polos nan pintar, ternyata memiliki kepribadian lain, yaitu seorang Otaku dengan taraf level yang cukup tinggi. Bahkan Kyoko bukanlah sembarangan Otaku, dia juga seorang Fujoshi tingkat akut yang sudah dikenal sebagai master doujinshi di dunia maya dengan inisial Puni-Chan. Untung saja kakaknya sedikit bodoh jadi Kyoko dapat membohonginya mengenai hobi yang ia tekuni itu.

"TADAIMA!" seru seseorang kelewat keras yang mungkin dapat memecahkan kaca jendela dari arah pintu masuk.

"Ah Okaeri Onii-chan!"

Sasagawa Ryohei, dengan rambut cepak putih serta plaster di hidung yang selalu menemani kemanpun pemuda itu pergi, kini sedang tersenyum menampilkan gigi putihnya yang mungkin saja bisa membuat berberapa wanita diluar sana sedikit tergila-gila. Kyoko tentu saja membalas cengiran kakaknya tersebut. Walau dengan cara yang lebih layak , selayaknya seorang wanita memberikan senyuman.

"Bagaimana dengan kegiatan klub nya Onii-chan?"

"TO THE EXTREME!" ucap Ryohei dengan semangat api membera seperti biasa. Untung saja kyoko tipe cewek yang kalem, jadi bisa menerima perilaku kakaknya yang terkadang melewati batas kewajaran dalam hal semangat. "AKU TAK MENYANGKA DI HARI PERTAMA SUDAH ADA 15 PENDAFTAR. BENAR – BENAR EXTREME!"

"Apa boleh buat kan?" ucap kyoko. "Habisnya tahun lalu Onii-chan berhasil mempertahankan kemenangan di ajang boxing tingkat nasioanal, dan lagi tahun ini onii-chan juga dijago-jagokan untuk mejadi juara satu lagi."

"HOH! AKU TAK BERPIKIR HINGGA SEJAUH ITU, ADIKKU MEMANG HEBAT !" ucap Ryohei sambil mengacak rambut coklat adiknya dan tentu saja sang adik yang tak suka diperlakukan seperti anak kecil lantas menggembungkan pipinya, menunjukan protes apa yang dilakukan kakaknya.

"Mou hentikan onii-chan aku bukan anak sd lagi!" ucap Kyoko sedikit kesal, walaupun sebenarnya ia sendiri cukup senang jika diperlakukan seperti itu.

Orang tua yang jarang di rumah hingga membuat sang gadis dengan marga sasagawa itu sedikit kurang mendapatkan kasih sayang. Namun syukurlah dia punya kakak yang benar-benar perhatian seperti Ryohei.

"Ha ha, sampai kapanpun Kyoko akan tetap menjadi adik kecilku yang manis!"

Setelah menyuruh Ryouhei mandi terlebih dahulu sebelum makan malam, Kyoko kembali ke ruang makan menyiapkan nasi ke dalam mangkuk untuk dirinya dan sang kakak tentunnya. Sambil menunggu sang kakak selesai mandi, Kyoko sengaja mengecek berberapa nontifikasi yang muncul di layar hp miliknya.

Tak sampai 30 menit Ryouhei sudah selesai dengan rutinitas mandinya. Mereka berdua pun segera menikmati makan malam yang sederhana namun tetap meriah di mata mereka.

"Kyoko kudengar kau ditunjukan sebagai ketua kelas ya!" ucap Ryohei. "KAU BENAR-BENAR WANITA YANG EXTREME!"

"Mou onii-chan, jangan banyak bicara ketika makan, coba tuh lihat banyak nasi yang berceceran," ucap Kyoko yang kini sedang membersihkan sisa nasi yang berjatuhan. "Onii-chan seperti anak kecil saja."

"Ha ha ha, gomen gomen!"

"Mou…" ucap Kyoko. " Bisa-bisa kakak tak punya istri di masa depan jika kelakukannya seperti itu."

"Ya..., kalaupun tak ada istri, asalkan ada Kyoko di sampingku tak ada masalah buatku. Toh hubungan Incest tak dilarang di Jepang kan!"

Kyoko yang mendengar ucapan Ryouhei barusan, sontak wajahnya merona malu bagai kepeting rebus. Tentu saja mana ada perempuan yang tidak malu jika mendengar ucapan seperti itu.

Kyoko terkadang ingin sekali merutuki nasibnya mempunyai seorang kakak yang bodoh, sehingga tak tahu bahwa apa yang diucapkannya bisa membuat salah paham orang lain.

"Ja-jangan bercanda onii-chan."

"Aku serius kok. Bahkan malam inipun aku siap melepaskan keperjakaanku demi mu wahai imotou ku yang kawai." Kini Kyoko benar-benar salah tingkah. Walau ia sangat suka adegan Incest, bukan berarti ia mau melakukanny secara realita di kehidupannya.

"ONII-CHAN!"

"Ha ha ha, bercanda kok."

Kyoko hanya cemberut, meneruskan makan malamnya tanpa menatap kakaknya yang terkadang sangat menyebalkan. Ryohei berusaha mengembalikan suasana yang ceria, namun salahkan sifat Kyoko yang keras kepala jadi butuh suatu cara jitu agar sang adik mau kembali ke kondisi semula.

"Baik-baik kakak menyerah. Apa yang harus kakak lakukan untuk mengembalikan wajah ceria adiknya kembali."

"Berikan aku 15.000 Yen dan aku memaafkan kakak." ucap Kyoko tanpa basa-basi.

"HEH? UNTUK APA UANG SEBANYAK ITU!" ucap Ryohei tak menyangka permintaan adiknya kali ini. biasanya Kyoko hanya akan meminta uang paling banyak 5000 yen.

"Ada game terbaru serta berberapa manga yang keluar minggu ini jadi di akhir pekan aku berencana dengan Hana ke akihabara" ucap Kyoko. "Tapi kalau kakak tidak mau kasih, aku tak akan buatkan makan malam untuk kakak selama sebulan!" sambungnya yang kini cuek bebek menghabiskan makanannya tanpa memperdulikan kakaknya yang syok mendengar ancaman adiknya.

"Heh kok gitu sih?"

"Mau atau tidak?"

"Baik-baik kakak akan berikan." Akhirnya Ryohei terpaksa menuruti perkataan sang adik, daripada harus tak bisa makan masakan Kyoko selama sebulan, mending ia menuruti saja permintaannya. "Tapi ada syaratnya!"

Kyoko yang sudah senangnya bukan main langsung terdiam begitu mendengar ucapan terakhir yang dilontarkan kakaknya itu. "Syarat?"

"Kau harus cium pipi kakak, baru aku kasih uanganya."

Wajah Kyoko tentu kembali memerah mendengar syarat yang diajukan oleh kakaknya. Walaupun hanya ciuman pipi, tetap saja sangat memalukan mengingat umur mereka yang sudah bukan dikatakan anak-anak.

Kyoko yang ingin menolak namun Ryohei yang nampakanya akan tahu jawaban yang dilontarkan sang adik kembali mengeluarkan jurus rahasianya yang hanya bisa membuat Kyoko betekuk lutut dihadapannya.

"Kalau tidak, aku akan beritahu Hana kalau kau seorang fujoshi dan semua koleksi komikmu akan kakak sita sampai kau lulus" ancam Ryohei. "Tapi kalau kau mau mencium pipi kakak, akan ada bonus 5000 Yen nantinya."

"Eh?"

Ryouhei menyeringai. "Walau aku gag tahu Fujoshi itu apa… aku yakin kalau Hana akan terkejut setengah mati bila tahu hobimu itu."

"Kakak curang." boleh saja kakanya tak tahu menau soal Fujoshi. Tapi, bila Hana sampai mendengar fakta akan dirinya yang seorang Fujoshi akut, Kyoko berani bertaruh masa depannya tidak akan ceria lagi.

"Ayolah kyoko kan hanya ciuman dipipi, toh dulu waktu sd kau sering cium pipi kakak kan" ucap Ryohei jahil. "bahkan aku ingat dulu kau pernah bilang akan menjadi pengantin kakak dimasa depan"

"ONI-CHAN!"

"Cium atau tidak sama sekali?" kini Ryohei sudah mempersiapkan pipinya karena dia tahu Kyoko tak akan menolak permintaannya.

"Mou! Hanya pipi dan 20000 yen harus ada!" Ryohei hanya mengaggukan kepalanya. Kyoko yang sedikit berat hati lantas berjalan menuju ke tempat kakaknya duduk. Dalam sekian detik ia mencium pipi kakaknya itu. Ryohei yang senangnya bukan main lagsnung mengeluarkan semagat EXTREME miliknya. Sedangkan Kyoko kembali duduk tenang menghabiskan sisa dagingnya sambil menahan rasa malunya.

"YOSH BESOK AKU AKAN LEBIH EXSTREME!"

"Mou, hari ini aku benar-benar kena skak mat."

.

ψAtarashii Kamiψ←

.

Tsuna menatap sebal akanbou yang kini sedang asyik menikmati lolipop curian sambil memainkan lonceng kuil dengan seenaknya. Untungnya kuil dalam keadaan kosong, sehingga ia tak perlu repot-repot menjelaskan pada para pendeta. Lagipula dia sanksi jika ada yang percaya bahwa ada seroang malaikat dalam wujud bayi kini sedang asyik memainkan lonceng kuil.

"Oi akanbou!"

"..."

"Oi akanbou kau dengar tidak!"

"Berisik dame-Tsuna! Kau tak tahu kalau aku sedang berdoa?"

"Cih, memangnya ada yang berdoa sambil bermain lonceng seperti itu?"

Tsuna mendecih kesal melihat perilaku malaikat itu. kini kedua mata karamelnya melihat sekeliling kuil tersebut. Entah kenapa dirinya sangat familiar dengan kuil ini, ia merasa pernah mengunjungi entah kapan.

"Apa kau tak mengingatnya dame-Tsuna?"

"Eh?"

"Dulu kau sering pergi ke sini bersama ibumu Sawada Nana. Menghabiskan waktu seharian menikmati festival yang diadakan di kuil ini." jelas Malaikat itu.

Tsuna diam membisu, kini sebuah memori terlintas di dalam kepalannya, sebuah memori dimana dirinya yang masih kecil tersenyum ceria meggandeng tangan yang tak lain milik ibunya itu.

"Tapi semua berubah ketika ibumu meninggal akibat kecelakaan mobil yang ia kemudikan. Kaupun terpaksa dirawat oleh kakak dari ibumu karena Sawada Nana sudah bercerai dengan Sawada Iemitsu ketika kau berumur 5 tahun. Awalnya kau hidup bahagia dengan keluarga bibimu. Tapi ketika kau menginjak bangku SMP semua berubah. Mereka memperlakukanmu seperti budak. Tak pernah memberikanmu makanan secara layak. Bahkan kau selalu dibully oleh kedua saudara sepupumu. Namun masih ada berberapa orang-orang yang peduli denganmu, misalkan wanita bernama Binachi. Dia selalu memberikanmu makan, mendengarkan semua keluh kesahmu. Tapi perlahan-lahan kau berpikir bahwa dunia ini membusuk dan kau memilih untuk bunuh diri"

Penjelasan panjang lebar malaikat itu sukses membuat Tsuna terpanah. Tak ada satupun penjelasan yang mengada-ada, semua disampaikan sesuai dengan Tsuna alami selama Ini.

"Si-siapa kau sebenarnya?"

"Hah dame yang menyusahkan. Bukankah sudah kukatakan aku adalah malaikat yang selalu mengawasi kehiupanmu" ucapnya. "Namaku Reborn. Salah satu dari tujuh malaikat tertinggi yang dijuluki sebagai Arcobaleno dan tugasku adalah membuat kebahagian untuk dirimu."

"Arcobaleno? Kebahagian katamu?"

"Un, akan kuberikan kebahagian yang sudah lama tak pernah kau dapatkkan."

Tsuna mendengus dan tertawa mendengar ucapan Reborn. Ia pun sampai memengang perutnya seakan baru mendengar sebuah lelucon yang amat lucu. Reborn sendiri tetap memandang pemuda di depannya dengan tatapan datar.

"Kau bilang akan memberikan kabahagian?" ejek Tsuna. "ASAL KAU TAHU. AKU SUDAH MUAK DENGAN DUNIA INI! CINTA DAN KEBAHAGIAN HANYALAH SEBUAH DONGENG ANAK KECIL. SEMUANYA HANYALAH KEPALSUAN. MANUSIA HIDUP DENGAN KEPALSUAN. BAHKAN BILA KAU MENGAKU SEBAGAI MALAIKAT UNTUK APA KEBERADAANMU SELAMA INI HA! KAU BILANG KALAU KAU MALAIKAT YANG BERTUGAS MEMBERIKAN KEBAHAGIAN UNTUKKU. TAPI KENAPA SELAMA INI AKU SELALU MENDERITA!?"

Nafas Tsuna menggebu, sudah lama ia tak berteriak seperti itu. Reborn pun kembali menikamti lolipop nya seakan curhatan Tsuna yang barusan bukanlah sesuatu yang penting.

"Memang selama ini aku hanya mengawasimu" ucap Reborn. "Tapi memang itulah tugas yang diberikan oleh-Nya. Yaitu mengawasi kandidat Tuhan yang baru sampai waktunya tiba."

"…Dari-Nya? Kandidat Tuhan yang baru? omong kosong apa lagi ini?" kini Tsuna sudah muak dengan perkataan malaikat bernama Reborn yang mulai terdengar tidak masuk akal.

Reborn pun menjetikan jari jemarinya dan kemudian munculah sebuah box kecil berwarna hitam puith yang diselimuti api berwarna hitam. Box itupun terbuka dansebuah bola seukuran bola ping-pong bercahaya biru laut muncul dengan sinar yang sedikit menyilaukan.

"Ini adalah 'kehendak Tuhan'. Dengan ini kau akan mendapatkan kekuatan yang dibutuhkan untuk menjalankan apa-apa yang diperlukan unutuk menjadi Tuhan yang sesungguhnya."

"Kekuatan untuk menjadi Tuhan?"

"ehm, anggap saja dengan ini kau telah memiliki hampir 20% kekauatan yang dimiliki oleh Tuhan yang sebenarnya." Ucap reborn. " Walau 20% tapi kekuatannya tak boleh dianggap remeh lo. Kau bisa mengubah perasaan orang terhadapmu dan mengontrol pikiran orang lain. Hebat bukan?"

Tsuna tak berkomentar apapun. Matanya seolah telah terhipnotis oleh benda berwarna biru laut tersebut. Entah ada sesuatu daya magnet sehingga membuat Tsuna ingin memilikinya. Tapi ia segara buang jauh-jauh pikirannya itu.

tidak, ini hanyalah tipuan, tak ada hal seperti itu di dunia ini. dan apalagii perkataannya itu ? menjadi Tuhan? Memangnya Tuhan itu suatu pekerjaan yang dengan mudahnya bisa digantikan?. batin Tsuna.

"Jadi bagaimana Sawada Tsunayshi?" tawar Reborn. "apa kau berminat dengan kekuatan ini dan menjadi kandidat Tuhan yag baru?"

Tsuna berpikir sejenak sebelum ia memberikan jawaban dari pertanyaan yang diberikan oleh makhluk dihadapannya itu. yah untuk semnetara turuti saja perkataannya

"Berikan benda itu, akan kupirkan begitu aku sadah mencobanya"

Reborn tersenyum mendengar ucapan pemuda berambut coklat itu. "Yah, aku tahu kau memang belum percaya seratus persen, tapi aku jamin suatu saat kau akan benar-benar menginginkan posisi Tuhan tersebut."

Tsuna hanya memutar matanya bosan. "Terserah kau saja. Tunjukan bagaimana aku menggunakan kehendak atau apalah itu namanya."

Tanpa menunggu aba-aba. Malaikat berpakian ala mafia itu langsung saja memasukan paksa bola biru itu ke dalam mulut Tsuna. Tsuna terkejut bukan main, ketika benda asing itu memaksa masuk ke dalam kerongkannya.

Ia ingin memuntahkannya namun sayangnya malikat berwujud bayi itu malah memaksa agar bola itu tertelan sempurna, dan lucunya sang arcobaleno tersenyum evil seakan menikmati perbuatan yang ia lakukan.

"Beres, lebih cepat daripada dugaanku"

"BERES APANYA! KAU INGIN MEMBUNUHKU!"

"Itu lebih baik daripada aku memasukannya dari lubang pantatmu"

Tsuna menyetuh lehernya yang sakit. Ia menatap malaikat chibi Reborn dengan tatapan membunuh. Ia sudah bersumpah akan mencari cara untuk memberikan hadiah kematian amat pedih. Sedangkan yang ditatap hanya senyum-senyum tanpa dosa dan sesekali terbang terbalik seolah-olah mengejek pemuda coklat tersebut.

"Nah sekarang tinggal tunggu efeknya."

"apa maksud—"

Detik berikutnya sebuah lingkaran merah tipis terbentuk di sekeliling leher pemuda burnet tersebut. Tak hanya itu saja itu sebuah cincin hitam muncul secara tiba-tiba di ibu jari tangan kanannya.

"A-apan ini!?" pekik Tsuna. "Bagaimana aku bisa bertemu orang-orang bila ada benda seperti ini di leherku!"

"Itulah adalah tanda bahwa kau pemangang "Kebijakan Tuhan" yang menandakan kau adalah kandidiat Tuhan yang baru" terang reborn. "Dan lagi, kau tak perlu khawatir karena hanya orang-orang yang dipilih menjadi kandidatlah yang bisa melihat simbol merah serta cincin yang kau kenakan itu.

"Orang lain? Jadi masih ada kandidat lain di dunia ini?"

"Soal itu akan kujelaskan nanti" ucap Reborn yang kini sudah duduk di kepala tsuna tanpa meminta persetujuan dari pemilik kepala itu. "Daripada itu kenapa kau tak mencoba mencari tahu kebenaran tentang kematian ibumu itu?"

"Apa maksudmu?"

"Ara kau belum tahu?" ucap reborn dengan ekspresi terkejut yang dibuat-buat. "ibumu meninggal karena dibunuh oleh paman dan bibimu lo."

Mata tsuna langsung mebelalak kaget begitu mendengar ucapan Reborn barusan. Terbesit berebrapa memori di dalam otaknya dimana sosok Sawada Nana tersenyum, membuatkan bento untuk dirinya, menenami dirinya ketika dia sedang sakit, dan memori-meroi indah lainnya. Namun sedetik kemudian, bagaikan foto yang dibakar. Sosok Nana perlahan memudar digantikan kebakaran besar serta sebuah batu nisan bertuliskan Sawada Nana.

"B-Bohong! Itu semua bohong!" wajah kedua paman bibinya seketika menghantuinya. Wajah bak iblis yang penuh dengan kejahatan.

"Itu semua kebenaran Dame-Tsuna" ucap Reborn tanpa memperdulikan kondisi tsuna yang masih syok. "Aku sudah bilangkan selama ini aku selalu mengawasimu"

"Kenapa ... kenapa selama ini ... ini pasti sebuah kebohongan."

"Kalau kau tak percaya gunakan saja kekuatan kuasa Tuhan mu itu"

"Kekuatanku?"

"Aku sudah bilangkan walau hanya 20% tapi itu sudah cukup untuk mengontrol orang lain dan mengendalikan mereka sesuka hati."

Tsuna memandang cincing hitam yang melakat manis di ibu jarinya. Tiba-tiba saja ada rasa aneh yang memenuhi dirinya. Sontak tubuhnya pun lenyap ditelan cahaya. Sama seketika dirinya dibawa Reborn ke kuil ini.

"Heh, langsung menggunakan teleport, padahal aku belum mengatakan bahwa ia bisa melakukannya" ucap Reborn. Sawada Tsunayoshi memang orang yang manarik."

.

ψAtarashii Kamiψ←

.

"Hah bosannya. Acara tv sekarang benar-benar tak bermutu" ucap kesal wanita berambut pendek sebahu dengan rokok yang masih menyala di mulutnya.

Wanita itupun mengambil beer yang ada di meja dengan maksud menghilangkan dahaga di kerongkongannya. Namun gerakannya terhenti begitu menyadari sosok yang kini sudah ada di belakangnya menatapa penuh dengan kebecian.

"T-Tsuna! Apa yang kau lakukan? Kau membuat bibi terkejut."

Tsuna tak memperdulikan perkataan bibinya dan mengarahkan cincin yang ia kenakan kebibinya yang masih memandang heran keponakannya tersebut.

"Eh ... apa?" ucap sang bibi yang tak mengerti maksud Tsuna.

"Katakan kebenarannya padaku! Mulai sekarang kau adalah bawahanku Sakura Otsuka!" titah Tsuna. Dalam hitungan detik sebuah pancaran api muncul berpendar di sekeliling cincin milik Tsuna dan berikutnya api itu melesat bagai peluru menembus dada Sakura.

Sakura langsung membelalakan matanya ketika Api itu menembus masuk. Namun, berikutnya pandangannya berubuah bagaikan wanita rendahan yang siap menjual keperawannanya demi memndapatkan selembar uang ribuan yen.

"Ah..., Tsuna maaf, selama ini bibi membuatmu menderita" Ucap sakura dengan nada menggoda di tiap perkatannya belum lagi air mata yang terkesan seperti dibuat-buat. " Hukumlah budakmu yang kotor ini! akan kuberikan apapun agar Tsuna-sama puas" sambungnya yang kini bersiap mencium pibi Tsuna.

Tsuna menjauhkah tubuh bibinya dengan tangan gematar, ia menatap bibinya itu dengan pandangan yang paling dingin miliknya. "Apa benar kau yang telah membunuh ibuku. Merekayasa kematiannya sehingga polisi menyatakan kalau ibuku mati karena kecelakaan."

Sontak Sakura langsung mundur. Dengan ekspresi takut serta menjambak rambutnya selayaknya orang stres, ia pun menangis dan berterik bagai orang gla. "ITU SEMUA IDE GILA SUAMIKU! DIALAH YANG MEMAKSAKU UNTUK MELAKUKAN ITU SEMUA. DIA MENYURUHKU AGAR AKU MEMBUNUH ADIK KU SENDIRI!"

Tsuna syok. Ia benar-benar syok. Ia tak menyangka bahwa paman dan bibinya menyimpan rahasia sebusuk ini. dan parahanya dia tak tahu apa-apa walau sudah hidup tiga tahun bersama kedua iblis itu.

"Ada apa ribut-ribut begini?" ucap pria gendut yang masuk ke dalam ruangan itu. " Ah tsuna kau sudah pulang rupannya?" ucapnya sambi meamdang Tsuna serta Sakura yang masih terduduk dilantai. Begitu melihat sang suami masuk Sakura melotot tajam dan mengacungkan jarinya menunjuk pria yang bernama Shu Otsuka

"DIALAH YANG TELAH MENGHASUTKU! IBLIS ITU BILANG BAWA JIKA AKU MEMBUNUH ADIKU MAKA SEMUA HARTA KEKAYAANNYA AKAN JADI MILIKU. TENTU SAJA KAMI HARUS MENAGODOPSIMU AGAR BISA MENADAPATAKAN HARTA ITU!"

"Apa kau bilang!"

"KUA MENYABTOTASE MOBIL NANA AGARA REMNYA TAK BERFUNGSI!"

Tsuna kembali mengingat kejadian itu. kejadian dimana ketika ia kembali ke rumahnya karena bentou buatan ibunya tertinggal. Namun belum sempat tsuna membuka pintu pagar rumahnya. Sebuah ledakan dahsyat terjadi tak jauh dari samping rumahnya. Sebuah ledakan yang berasal dari mobil. Sebuah mobil yang amat sangat dikenal oleh Tsuna.

"DASAR KAU WANITA BANGSAT! BERANINYA KAU MEMBOCORKAN SEMUNYA." Kini Shu memukul istrinya hingga Sakura terjauh di lantai. Tak hanya itu saja Shu bahkan mencekik Sakura hingga wanita itu memberontak kasar mencoba melepaskan cekikan suaminya.

"Busuk ... Kalian semua busuk ..."

Tsuna menegapal tangannya kuat-kuat. Ia tak bisa lagi memendam amarah yang sudah ia pendam sejak dari tadi, dengan air mata yang perlahan keluar, Tsuna menatap kedua paman dan bibinya itu dengan pandangan seakan mereka ada seonggok sampah yang harusnya sudah binasa sejak awal.

"HARUSNYA KALIANLAH YANG MATI! IBUKU TAK PERLU MATI DEMI NAFSU BUSUK YANG KALIAN MILIKI!"

Sakura kembali menangis histeris begitu mendengar teriakan Tsuna. Seakan dirinya adalah budak yang gagal demi memusakan hasrat Tuannya. Dengan segera ia mendorong Shu dan berlari ke arah dapur. Begitu menemukan benda yang ia cari, Sakura langsung mensukan pisau daging tepat kea rah jantungnya.

""JLEBB""

Baik Tsuna maupun Shu tekejut melihat aksi Sakura yang merobek dadanya hingga darah segar keluar dengan derasnya. Dengan pisau yang masih menancap sakura langsung tumbang tak berdaya ke lantai.

"Sa-sampai melukan hal seperti itu?" Tsuna tak kuasa menahan keterkejutannya. Ia tak menyangka bibinya akan melakukan hal seperti itu.

"Itulah kekuatan pengendalian orang lain" ucap Reborn yang tiba –tiba saja sudah berada di samping Tsuna. "Dia melakukannya itu demi kau yang sudah dinggap sebagai majikannanya. Dan diirinya sendiri hanyalah seorang budak yang pantas mati karena membuat majikannya menderita."

Sebegini mudahkah manusia itu mati?

.

Dia mati semuanya mati

.

"Bagaimana hebat bukan? Kekuatan kehendak Tuhan itu benar-benar hebatkan" Ucap Reborn dengan santainya tanpa ada beban.

Tsuna meremas dadanya dengan kuat. Dengan nafas yang terngah-engah dan keringat deras bercucuran. Tsuna berusaha menguatkan kedua kakiknya untuk berdiri. Ia memandang atap putih diatasnya. Dengan air mata yang menetes keluar ia teringat dengan ucapan yang selalu Nana sampaikan kepadannya sebelum tidur.

Carilah kebahiagan di dunia ini Tsu-kun. Bila tak ada kebahagaian itu. buatlah dunia ini menjadi bahagia dengan kedua tanganmu

"Selama ini aku salah…" ucap Tsuna dengan air mata yang mengalir di kedua pelupuk matannya. "Harusnya aku mencari kebahagian. Bukannya berusaha untuk mati agar terbebas dari semua beban yang ada."

Reborn diam memandang Tsuna. Senyum terkuir di wajahnya. Ia terus melihat Tsuna yang perlahan dipenuhi oleh kobaran Api yang amat kuat. sudah kuduga dia memang pantas menduuki posisi tersebut

"Aku akan mencipatkan kebahagian, bila kebagaian itu tak ada maka…"

Tsuna menatap Reborn di sampingnya. Dengan kedua mata yang memancarkan semangat baru seakan telah mendapakan motivasi baru. Perlahhan cincin yang ia pakai menyemburkan api yang jauh lebih berkilau dari api yang kini memenuhi tubuhnya itu.

"…Maka aku akan menjadi Tuhan dan menciptakan kebagian di dunia ini!"

Reborn menarik topi fedoranya hingga tak terlihat eksprisi apa yang kini ia pancarkan. "Sudah diputuskan rupanya dame-Tsuna?"

"Ya!"

"Bailkah" Ucap Reborn mengepakan sayap malaikatnya. "Namaku Reborn Salah satu Tujuh Arcobaleno yang menjaga Cahaya Dunia. Memilihmu, Sawada Tsunayoshi menjadi Kandidiat Tuhan di bawah bimbinganku"[]


Hai2 ini merupakan revisi dari chapter 02 yang sebelumnya penuh dengan typo dan kesalahan lainya. Namun, bukan berarti semuanya sudah jauh lebih baik. Author tetap mengharapkan komentar para readers untuk kesuksesan fict ini kedepannya.

Thanks sudah mengikuti Atarshii Kami hingga sekarang. Chaou!