Love Me, That's Enough

Author : myflowerlady3

Cast : Yunho, Jaejoong and others

Pairing : Main!YunJae

Genre : Romance, Drama –

Rating : T

Disclaimer : This story is purely MINE, jika ada kesamaan dalam beberapa scene mungkin itu hanya pure coincidence ^^

Warning! This is boyxboy story, don't force yourself to read if you aren't into it ^^ AU! Typo(s)!

Chap 2

[Flashback]

Dua namja berbalut jas hitam tengah menyantap makan siangnya dengan tenang-ani- sebenarnya hanya satu yang menyantapnya dengan tenang, namja yang satu lagi menyantapnya seperti ia belum makan selama satu bulan.

" Bisakah kau memakannya dengan tenang? Apakah kau belum pernah memakan makanan seperti ini? Apakah ummamu- "

" Oh shut up Jae! Kau tahu kan aku makan seperti ini! Mengapa kau selalu berlagak seperti kau baru mengenalku, " namja jangkung itu mengernyit heran pada sahabatnya itu. " Kau seperti ahjumma saja. " lanjutnya yang diiringi dengan tawa khasnya.

" Yah! Kau juga tahu kan aku seperti ini, aku tidak akan pernah bisa berhenti berkomentar setiap kali melihatmu makan. Dan lagi aku bukan ahjumma! " namja berparas cantik itu mencoba untuk menjewer kuping namja di depannya tetapi sayangnya tidak berhasil.

" Hahahaha, ara ara. " kata namja jangkung bernama Changmin itu sambil menatap sahabatnya yang sedang meminum jus strawberrynya.

" Mwo? Mengapa kau melihatku seperti itu? Apakah kau mulai jatuh cinta padaku? " tanya Jaejoong dengan wajah yang terlihat sedikit ngeri.

" Apa kau gila? " Changmin balas bertanya yang langsung dibalas oleh sebuah pukulan di kepala.

" Lalu ada apa? Ah, ah, aku sudah tahu. Kau mau menanyakan ada apa sebenarnya denganku kan? " Jaejoong langsung menebak apa yang ada dipikiran Changmin.

" You got me! So, ayo ceritakan! " pinta Changmin dengan wajah seriusnya.

" Kenapa serius sekali, " ujar Jaejoong sambil tertawa. Tertawanya langsung terhenti ketika melihat Changmin yang masih menatapnya dengan wajah serius.

" Ara~~~ Changminie, aku akan menceritakannya, " Jaejoong membuang napasnya kasar lalu melanjutkan, " Appa, ia akan menikahkanku dengan salah satu pekerjanya. Dan kau tahu, orang itu bukanlah salah satu pegawai appa di hotelnya, melainkan kuli bangunan yang sedang menyelesaikan proyek hotel baru appa. "

" Kau serius? " tanya Changmin dengan ekspresi tidak percaya.

" Apa aku terlihat seperti aku sedang berbohong? " bukannya menjawab Jaejoong malah balik bertanya pada Changmin.

" Bukan, tapi bagaimana bisa? " Changmin masih belum percaya dengan apa yang dia dengar.

Jaejoong mulai menceritakan kronologisnya, Changmin hanya mengangguk mendengarkan cerita Jaejoong. Ia tidak percaya Kim Ahjussi akan menikahkan anak satu-satunya itu dengan seorang kuli bangunan! Memang tidak ada salahnya, tapi hanya saja keluarga Jaejoong adalah keluarga yang cukup terpandang. Bagaimana bisa Mr. Kim menjodohkan anaknya itu hanya dengan seorang kuli bangunan.

" Siapa namanya? Apa kau pernah bertemu dengannya? Apa kau mengenalnya? " tanya Changmin seraya mengambil minumannya.

" Jung Yunho. Eum, aku pernah bertemu dengannya saat dia mengantarkan barang-barang appa yang tertinggal kemarin. Aku tidak mengenalnya, hanya saja appa selalu bercerita tentangnya setiap ia pulang dari kunjungannya ke proyek, " jawab Jaejoong dengan wajah yang sedikit ditekuk.

" Jung Yunho? Sepertinya aku pernah mengenalnya, tapi aku tidak ingat " Changmin terlihat masih berusaha untuk mengingatnya.

" Mungkin Jung Yunho yang kau kenal bukan Jung Yunho yang akan menjadi suamiku nanti, " kata Jaejoong dengan bibir yang dikerucutkan. Hey, siapa sangka seorang GM dan smoker itu bisa mengerucutkan bibirnya.

" AH! " teriak Changmin yang langsung mendapatkan sebuah pukulan di kepala oleh Jaejoong.

" Wae? Mengapa kau berteriak hah? " Jaejoong memandang Changmin aneh.

" Jung Yunho, seorang kuli bangunan, hahaha aku ingat. Dia adalah temannya temanku, " ujar Changmin sambil tersenyum lebar.

" Kau tahu dia orang yang seperti apa? Mungkin saja temanmu itu pernah bercerita tentangnya, " Changmin tertawa melihat muka penasarannya Jaejoong.

" Ne, bukan pernah, tapi setiap kali kita bertemu pasti dia menceritakan Jung Yunho itu. "

" Kalau begitu ayo ceritakan! " pinta Jaejoong sedikit memaksa.

" Yang aku ingat hanyalah dia adalah lulusan terbaik di universitasnya, ummanya adalah seorang pelacur dan appanya adalah penjudi dan pemabuk " Changmin mengecilkan suaranya saat mengatakan itu.

" Omo, lalu? " tanya Jaejoong dengan wajah tak percaya.

" Em, kalau tidak salah akhirnya dia melarikan diri dengan adiknya, dan ah! Kalau tidak salah adiknya itu mempunyai penyakit ginjal atau jantung, aku lupa. Itu pun kalau tidak salah, " Jaejoong mengangguk-anggukan kepalanya.

Jaejoong tidak percaya, Jung Yunho itu memiliki gelar S1 tetapi sekarang pekerjaannya hanya sebagai kuli? Latar belakang orang tuanya pun terdengar sangat err- mengerikan. Apakah appa yakin akan menikahkannya denganku, pikir Jaejoong. Adiknya terkena penyakit keras, apakah namja itu mampu membayar pengobatan adiknya. Jaejoong terus berpikir tanpa sadar Changmin terus memperhatikannya.

" Apa yang kau pikirkan? " suara Changmin membuat Jaejoong kembali ke alam sadarnya.

" Ani, hidupnya sangat menyedihkan. Tetapi setiap appa menceritakan tentangnya appa terlihat sangat bangga, aku jadi penasaran dia orang seperti appa. " Changmin terlihat sedang berpikir sambil menatap wajah Jaejoong.

" Mengapa kau tidak mencoba untuk menerima permintaan Kim Ahjussi? Kau belum tahu kan alasannya? Lagipula kau tidak pernah sekali saja menuruti perintah orang tuamu semenjak kau beranjak dewasa dan menurutku sekaranglah saatnya. Orang tuanya memang terlihat mengerikan tetapi sepertinya dia orang yang sangat baik. Mana mungkin temanku itu berteman dengan orang jahat. " Jaejoong mengangguk setuju dengan ucapan Changmin, " Dan biar ku beritahu satu fakta tentangmu, kau adalah orang yang senang membantu orang Jae-ah. Mungkin saja setelah Kim Ahjussi menikahkannya denganmu beliau akan membantu meringankan hidup Jung Yunho itu dan mungkin kau juga bisa membantu meringankannya, seperti mempekerjakannya di salah satu hotel Kim Ahjussi atau bagaimanapun caranya. Sama saja seperti kau membantunya bukan? " Jaejoong terdiam menyerapi kalimat Changmin.

" Akan kupikirkan, " jawab Jaejoong pelan.

[ END OF FLASHBACK ]

````````````````````````````` LOVE ME THAT'S ENOUGH`````````````````````````

" Berikan alasan mengapa aku harus menikah dengannya, appa "

" Ck, Kim Jaejoong apa kau tidak tahu caranya mengetuk pintu? " namja paruh baya itu terlihat jengah dengan kelakuan anaknya.

" Annyeonghaseyo Jaejoong-ssi, " sapa Yunho ramah.

" Hmm " jawab Jaejoong malas sambil melangkah menghampiri appanya.

" Ada apa? " tanya Mr. Kim sambil melihat anaknya yang sudah duduk di sampingnya menggantikan Yunho.

" Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja anakmu ini ingin menjengukmu, " jawab Jaejoong.

" Aku tahu, tapi kenapa harus membanting pintu seperti itu hm? " tanya Mr. Kim seraya mengelus lembut rambut Jaejoong.

" Ma-maaf Presdir Kim, mungkin sebaiknya saya pergi-"

" Jangan! Ambilah kursi itu dan duduk di sampingku! " perintah Jaejoong sambil menunjuk kursi yang ada di dekat kulkas kecil.

" Ah-ah, ne " Yunho menurut saja perintah namja cantik itu.

Mr. Kim menatap Jaejoong dan Yunho bergantian, tidak terasa senyum terukir di bibirnya.

" Ada yang ingin kau tanyakan Jaejoong-ah? " tanya Mr. Kim dengan senyum hangat yang terukir di bibirnya.

" Eum, pertanyaan yang tadi. Apa alasan appa menikahkanku dengannya? " tanya Jaejoong.

" Appa, appa merasa sudah tua. Appa ingin melihat anak appa berada di tangan yang benar sebelum appa pergi " ucapan Mr. Kim membuat Jaejoong mendecih pelan.

" Kau adalah anak yang hebat, anak yang baik hati, tapi kau anak yang dingin dan tertutup. Appa terkadang tidak tahu apa yang kau inginkan. Appa merasa sudah saatnya kau memiliki pasangan hidup, dan appa tahu siapa yang pantas denganmu, yaitu namja yang berada di sampingmu. " Yunho dan Jaejoong diam setelah mendengarkan penuturan Mr. Kim.

Jaejoong merasa selama ini dia bukanlah tipe anak yang dekat dengan appanya, dia memang sudah sukses, tapi Jaejoong adalah anak yang tidak pernah mau menerima masukan dari orang tuanya. Jaejoong berpikir apakah ini sudah saatnya dia menurut pada appanya, seperti apa yang dikatakan Changmin sebelumnya.

" Maaf Presdir Kim, belum tentu saya adalah namja yang pantas untuk Jaejoong-ssi. Saya hanya seorang kuli bangunan, tidak pantas jika disandingkan dengan seorang general manager. Masih banyak orang di luar sana yang pantas- "

" Aku mau. Aku mau menikah dengannya, appa " potong Jaejoong. Yunho dan Mr. Kim menatapnya tak percaya.

" Kau serius? " tanya Mr. Kim meyakinkan.

" Ne, pernikahan bukanlah hal yang harus dipermainkan. " jawab Jaejoong mantap.

Mr. Kim tertawa senang, akhirnya- untuk pertama kalinya Jaejoong mau menuruti keinginannya. Mr. Kim memang tidak tahu sebenarnya apa alasan Jaejoong mau menerima perjodohan ini, tapi ia sungguh senang dengan jawaban Jaejoong.

" Baiklah, kau berkenalan dulu lah dengan Yunho. Jja! Sana! Appa tidak apa-apa di sini, sebentar lagi mungkin ummamu akan datang. " senyum terpancar di wajah Mr. Kim. Sepertinya senyum itu enggan meninggalkan wajahnya.

Yunho masih tidak percaya dengan jawaban Jaejoong, mengapa dia mau-maunya denganku, pikirnya.

" Baiklah, kalau begitu kami pamit appa " Mr. Kim tersenyum meng-iyakan.

" Sa-saya pamit Presdir Kim, "

" Ne, jaga anakku baik-baik " Yunho hanya tersenyum menjawabnya.

````````````````````````````` LOVE ME THAT'S ENOUGH`````````````````````````

Keheningan menemani dua namja yang terlihat canggung. Jaejoong dan Yunho berjalan menuju parkiran untuk mengambil mobil Jaejoong.

" Jaejoong-ssi, sebaiknya anda pulang. Saya tahu sebenarnya anda tidak mau- "

" Ani, aku mau. Kau bisa menyetir? Jja, ini kuncinya " lagi-lagi Jaejoong memotong ucapan Yunho.

" N-ne, " Yunho mengambil kunci mobil Jaejoong dan segera masuk ke dalam mobil.

Lagi, hening, tidak ada yang berbicara. Tapi sebenarnya mereka sedang sibuk dengan pikiran masing-masing.

" Ceritakan semua tentangmu, " pinta Jaejoong menghilangkan keheningan yang melanda sejak tadi.

" Ne? Tidak ada yang spesial yang harus saya ceritakan, " Yunho tertawa pelan.

" Apapun, kau akan menjadi suamiku nanti. Aku harus tahu semua tentangmu "

Yunho tidak bisa mengelak dan mulai menceritakan semua tentangnya, tentang latar belakangnya-sama seperti apa yang Changmin ceritakan, hobinya, makanan favoritnya, tidak lupa tanggal lahirnya, dan terkahir tentang adiknya yang ternyata memiliki penyakit ginjal.

" Siapa nama adikmu? " tanya Jaejoong yang sedari tadi hanya mendengarkan Yunho bercerita.

" Junsu, Jung Junsu " Yunho tersenyum manis sambil melirik Jaejoong.

" Maaf tapi, dari mana kau bisa membayar cuci darahnya? Penderita penyakit ginjal harus cuci darah kan? " sebenarnya Jaejoong tidak enak untuk menanyakan hal ini. Tapi ia sangat penasaran.

" Tidak apa-apa, saya membayarnya dari hasil gaji saya yang dikumpulkan. "

Jawaban Yunho membuat Jaejoong kaget, gaji seorang kuli kan tidak seberapa.

" Tapi bagaimana bisa? Maksudku-" Jaejoong terlihat bingung untuk menanyakannya.

" Seperti kau tahu, gajiku tidak besar. Jadi Junsu hanya bisa cuci darah jika uangku sudah terkumpul. "

" Omo, " Jaejoong menatap Yunho tidak percaya. Penderita ginjal haruslah rutin mencuci darah, tapi ini-.

" Saya juga tidak tahu harus bagaimana, Junsu membutuhkan donor. Kalaupun donornya sudah ada saya belum siap secara finansial, tetapi saya tidak akan pernah menyerah. Jika Junsu tidak selamat, saya tidak akan pernah memaafkan diri saya. " ucapan Yunho sangat tegas. Jaejoong terkagum melihatnya.

Jaejoong diam, ia hanya diam sambil menatap jalan di depannya. Benar, tidak mungkin jika appa begitu mengagumi seorang kuli bangunan yang biasa saja. Tapi jika appa tahu tentang Yunho, mengapa ia tidak membantu adiknya Yunho.

" Yunho, " panggil Jaejoong.

" Ne, Jaejoong-ssi " jawab Yunho sambil tersenyum dan menengok ke arah Jaejoong sekilas.

" Ani-ani, jangan panggil aku seformal itu. Jangan memanggilku dengan embel-embel 'ssi' dan berhenti menggunakan 'saya' dan 'anda'. " ucapan Jaejoong membuat Yunho tertawa mendengarnya.

" Ya, baiklah. Ada apa, Jaejoong-ah? " tanya Yunho yang diiringi tawa.

" Mengapa kau tertawa? Tsk aneh- ah, aku ingin bertanya. Apakah appa tidak tahu soal adikmu? "

" Ne, beliau tidak mengetahuinya. Saya- ah aku tidak pernah menceritakannya. " Jaejoong menatap jalanan yang macet di depannya.

" Wae? Jika kau menceritakannya mungkin appa bisa membantu, " Yunho tersenyum mendengarnya.

" Aku bukan siapa-siapa Jaejoong-ah, aku hanya mengenal appamu dan kita saling bertukar cerita selebihnya kami hanyalah bos dan pekerjanya. "

Jaejoong diam, tidak membalas apapun. Jaejoong yakin dengan keputusannya, Yunho terlihat tulus mengatakan setiap ucapannya dari awal. Jaejoong pernah sempat berpikir bahwa Yunho hanya menginginkan uang appanya, tapi ternyata tidak.

Jika dari awal Yunho hanya ingin uang appanya, mungkin Junsu sudah di operasi sekarang.

" Kita mau ke mana? Aku mengikuti saja, " tanya Yunho membuyarkan lamunan Jaejoong.

" Kita makan saja, sebentar lagi makan malam bukan? " Yunho terlihat ragu dengan ajakan Jaejoong, tapi akhirnya dia setuju.

" Maaf jika aku lancang, tapi- kalau bisa sebelum pukul delapan aku harus ada di rumah "

Jaejoong menatap Yunho heran, hanya meminta untuk tidak pulang malam saja harus sesopan itu? Apakah wajahnya semenyeramkan itu? Pikir Jaejoong.

" Biasa saja, kau tidak lancang. Hahaha, kau ini aneh sekali " Yunho menatap Jaejoong yang sedang tertawa. Namja di sampingnya ini terlihat sangat cantik saat tertawa.

" Kau cantik saat sedang tertawa, "

DEG

Ucapan Yunho membuat Jaejoong membantu seketika. Ia paling benci mendengar orang memanggilnya cantik, tapi mengapa jantungnya berdebar tidak karuan sekarang.

" Gomawo, " hah! Dia malah berterimaksih sekarang, benar-benar di luar dugaan.

" Sampai ~~~ "

Yunho segera memarkirkan mobil Jaejoong di tempat yang sudah di sediakan. Mereka hanya makan di restoran yang sederhana. Karena Jaejoong tidak tahu harus makan di mana, jadi ia meminta Yunho untuk membawanya ke mana saja asal makanan itu enak.

Yunho dan Jaejoong menghabiskan waktunya untuk berbincang, Yunho tidak menyangka Jaejoong tidaklah seseram seperti saat mereka bertemu pertama kali. Yunho bahkan mengatakannya pada Jaejoong bahwa ia takut saat melihat Jaejoong pertama kali dan Jaejoong hanya tertawa mendengarnya.

" Jaejoong-ah, kau pulanglah sendiri, maaf bukannya aku tidak mau mengatarkan tapi aku takut Junsu belum makan, " ujar Yunho sambil mengantarkan Jaejoong ke mobilnya.

" Ya sudah, aku antarkan kau ke rumahmu, " ajak Jaejoong.

" Tidak, ini sudah malam. Sebaiknya kau pulang, terimakasih banyak ne! Junsu pasti senang kalu belikan makanan ini, " kata Yunho sambil tersenyum hangat pada Jaejoong.

" N-ne, " wajah Jaejoong tiba-tiba memerah melihat senyum hangat Yunho.

" Masuklah, hati-hati di jalan "

" Eum, kau juga hati-hati " Jaejoong segera memasuki mobilnya, ia tidak percaya dengan apa yang ia ucapkan. Ckckck.

Yunho tesenyum melihat kelakuan Jaejoong, dia mendapatkan satu pelajaran. Janganlah langsung mengambil kesimpulan jika kau belum mengenalnya lebih jauh.

TBC

Thanks to : farla 23 – yoyojiji – exindira - – Guest – DahsyatNyaff – dyororo - meirah.1111 – Guest – aprilyarahmadani - lanarava6223 . Thank you so much for RnR guys o/ ~~~

A/N : Chapter 2 ~ done \o/ maaf kalau jalan ceritanya jadi ngalor ngidul hehehe. Thanks a lot buat review, fav, 'n follownya juga. Aku gak nyangka bakal segitu yang review T.T

Aku gak akan buat Jaejoongnya jahat di sini soalnya emang gak planning buat dia kaya gitu, dia cuma dingin aja kok. Dan fyi, dia being cold ke orang-orang tertentu jadi ketauan kan kenapa dia bisa sedikit nerima Yunho ^^ buat yang nanya bakal mpreg or nggak, aku masih pikir – pikir dulu 8D Last RnR dong ~~~ kritik dan saran yang sopan sangat diterima!