.

.

AM I PERNICIOUS?

.

.

A CHANBAEK STORY, BELONGS TO ME! ITS REAL FROM MY MIND, I DON'T THINK ABOUT TO COPY THE OTHER STORY OR REMAKE THE STORY WITHOUT PERMISSION FROM THE BELONGER.

.

SO, TO ALL WHO READ THIS STORY! DON'T THINK TO COPY OR RE-WRITE OR RE-PUBLISH WITHOUT MY PERMISSION.

.

.

WARNING!

BOYS LOVE! CHEESY CONTENT MAYBE WILL MAKE YOU FEEL ILL.

BAEKHYUN X CHANYEOL

.

.

HAPPY READING!

.

.

Aku mengerti, ketika agensi menutup hubungan kami begitu rapat. Membatasi interaksi kami di setiap acara, tak memberi kami kebebasan ketika bergelut dengan dunia maya, bahkan memberi kami pengamanan ketat ketika kami berkencan.

Aku mengerti, di akhir. Saat semuanya dirasa telah hancur.

"Ini mungkin akan terasa lambat, tapi-"

Aku berdiri sebelum Chanyeol menyelesaikan kalimatnya. Tidak, tidak sedikitpun rasa marah pada orang yang sama hancurnya denganku. Penyesalan dan malu, beberapa hari lalu, sebelum berita itu tersebar dan menjadi perbincangan di belahan dunia, aku begitu menuntut banyak pada kekasihku, merengek, berteriak tak ingin hubungan ini terus bersembunyi.

"Ini sudah terungkap, pegang tanganku untuk menghadapi ini bersama."

Nyatanya pria tinggi itu tak kunjung menyerah padaku, dia tak memberiku kesempatan untuk menyendiri seolah seluruh kesedihanku harus diketahuinya, dia harus selalu andil merasakan apa yang ku rasa.

"Baek~" dia selalu memanggilku dengan lembut,

Chanyeol meraih kedua tanganku, membuat jemari kami bertaut erat. Ia memainkan cincin yang tersemat pada jariku seraya menatapnya binar, cincin yang dia beri untukku, cincin yang serupa dengan miliknya. Yang juga tersemat pada jarinya.

Senyuman itu menghimpit dadaku, membuatku semakin merasa bersalah atas apa yang telah kulakukan. Aku menyebabkan semua masalah ini, masalah yang begitu besar. Seolah tak memiliki jalan keluar yang dapat mengembalikan keadaan seperti semula. Aku seolah tak memiliki muka untuk menatap Chanyeol yang selalu bertingkah seolah apa yang mengganggu karir kami saat ini hanyalah masalah biasa yang memang seharusnya terjadi.

"C-chan—yeol."

Menyebut namanya saja kepayahan, terlalu berat oleh rasa sesal dan malu yang melingkupiku. Bibirku terlanjur bergetar sebelum aku berucap. Dan pria tinggi dengan hati malaikat ini membawaku kedalam pelukannya, memberikan usapan dan kalimat penenang. Aku terlalu malu untuk membalas kebaikannya.

"Menangislah, jangan ditahan." Ujar Chanyeol dengan penuh kelembutan.

Chanyeol meraih daguku, merapatkan pelukannya dan mengangkat wajahku yang sudah memerah dengan air mata menumpuk di pelupuk.

CUP

"Aku mencintaimu, menangislah. Ini memang resiko yang harus kita ambil, sayang. Menangislah."

Tatapannya begitu lembut, membawaku semakin rendah diri. Aku meremat pakaiannya ketika tangis tak dapat ditahan lagi, tanganku bergerak mendorong Chanyeol untuk menjauh, bersamaan dengan langkah mundur yang kuambil.

"A-a-aku—pantaskah—uh—"

"Kau pantas ada di sisiku, Baek. Justru aku yang ingin bertanya, pantaskah aku untukmu?" tuturnya lembut, mengambil langkah untuk mendekatiku.

Aku tak menjawab, lidahku begitu kelu walau hanya untuk sekecap kata. Sejujurnya, dari pertanyaannya sudah sangat jelas bahwa dia tak pantas untuk berada di sampingku, seorang yang penuntut dan kekanakan. Dia terlalu baik dan penyabar untuk seorang sepertiku yang memiliki sifat berlawanan dengannya.

"Jangan salahkan dirimu atas masalah ini, kita menghadapinya bersama, oke?"

Chanyeol kembali melangkah maju ketika aku mengambil langkah mundur, meraihku dalam pelukan. Rengkuhannya selalu membuatku tenang dan merasa kecil, lengannya yang berotot melingkar pada pundak memberikan usapan pada punggungku lembut.. Dia selalu membuatku nyaman dalam keadaan apapun, dan yang paling kusukai adalah dirinya yang selalu dapat mengerti dan meredam amarahku.

"Bisa aku dapatkan jawaban? Aku akan dapat kekuatan jika aku dapat itu." Ujar Chanyeol seraya menatapku penuh harap, menarik daguku lebih tinggi agar dapat menatapnya.

Aku melepas pelukan, mendorongnya menjauh dan menyembunyikan wajah. Kalimatnya selalu terdengar sedang menggodaku, aku merasa malu sendiri mendengarnya berucap.

"Hei, mau menghadapi ini?" tanya Chanyeol lagi, dia terkekeh.

Aku merutuk pada diri sendiri yang hanya dapat bersembunyi dibalik punggung kekasihku, bukannya menghadap pada publik dan melakukan sesuatu untuk masalah yang ku timbulkan. Aku selalu merasa kecil, Chanyeol yang mendominasi membuatku semakin merasa bersalah. Aku tahu dia juga tertekan, kami sama-sama mendapat tuntutan dari agensi untuk mengambil langkah, setidaknya satu kalimat untuk meredam wartawan, kami harus melakukannya. Tapi Chanyeol bersikeras padaku agar tetap berdiam diri dan membiarkannya mendapat lemparan kalimat tajam dari semua orang.

"Yasudah, peluk aku kalau begitu?" Chanyeol kembali berucap.

Seakan menjadi sugesti bagiku, aku maju dan merapatkan tubuhku dengannya. Menyandarkan kepalaku pada dadanya dan membiarkan tanganku merengkuh pinggangnya.

Chanyeol terkekeh, kemudian mengelus pucuk kepalaku dan memberikan usapan pada punggung. Dia meminta pelukan, tapi tetap saja dia mendominasi dan membuat diriku menjadi sebagai pihak yang dipeluknya. Sesak mengumpul bersamaan dengan rasa bersalah, membuat air mata menumpuk di pelupuk dan jatuh, menempel pada kaos yang Chanyeol pakai. Aku tak tahu diri, malah menangis di dada kekasihku yang lebih banyak mendapat tekanan karena melindungiku.

"Hiks, hiks, maafkan aku, hiks." Aku tak memiliki kata lain untuk diucap, isak tangis dan kata maaf tak cukup membuatku lega. Chanyeol terlalu banyak menangung beban, dia terlalu banyak berkorban. Dan diriku hanya seperti keledai dungu diatas masalah besar yang kubuat.

"Berhenti menyalahkan dirimu, aku tak menyukai itu." Ucap Chanyeol pelan, memberikan lagi usapan lembut pada punggungku dan membiarkan kaosnya semakin basah oleh air mataku.

Aku mengangkat kepalaku setelah beberapa saat, menatap Chanyeol yang masih saja mempertahankan senyumnya yang membuatku semakin merasa tak berguna saja. Dia mengangkat jemarinya dan mengusap pipi basahku dengan ibu jari, kembali mengeratkan pelukanku dan menekan kepalaku di dadanya. Bibirnya mengecupi pucuk kepalaku bertubi, kemudian menarik daguku untuk terangkat, membuat tatapan kami kembali beradu.

"Kkkkk, kau tampak lucu dengan wajah merah seperti itu. Seperti—stroberi yang selalu kau makan tiap pagi." Celutuk Chanyeol seraya menangkup kedua pipiku.

"Hk,"

Sisa segukan akibat tangisku membuat tawa Chanyeol meledak, aku mengatupkan bibir tanpa ingin ikut tertawa.

"Hk,"

Segukan itu datang lagi, menjadi cegukan usai menangis. Pria tinggi denga tawa lebar itu kembali tertawa kemudian mencuri satu kecupan pada bibirku dengan cepat.

"Jangan buataku menyerangmu! Berhenti bersikap menggemaskan!" ujarnya. Aku tak mengerti bagian mana yang menggemaskan, tapi dia mengeratkan kedua tangannya pada pipiku membuat bibirku terdorong kedepan, mirip seperti bibir bebek.

"A—khu—thidak!"

"Kkkkk, bicaralah yang benar." Ucap Chanyeol masih menangkup pipiku dengan keras.

Tangaku bergerk cepat menyingkirkan kedua tangan besarnya pada pipiku. Menatapnya nyalak ketika dia terbahak.

"Aku tidak!" ujarku menegaskan.

Dia mengangguk disela tawanya, kemudian mengecup pucuk kepalaku lama, nafasnya teratur menghirup aroma kepalaku yang beruntungnya sudah keramas.

Mengapa dia senang sekali mencium kepalaku?

"Aku selalu menyukai aroma rambutmu." Ucap Chanyeol seraya menyudahi kegiatan 'menghirup kepalaku'.

"Aku memakai shampoo yang sama denganmu, omong-omong." Balasku mengingatkan.

"Aku tahu, aku menyukai semua yang ada padamu."

Aku ingin mengutuk mengapa kekasihku semanis ini.

"Ya, selamat malam. CUP" ujarku tak ingin kegelian lebih lama lagi. Chanyeol akan terus berucap manis hingga aku minta sebuah pelukan untuk ia topang karena kakiku terasa meleleh akibat kalimat manisnya.

"Aku bersyukur aku tinggi." Celutuk Chanyeol, aku tahu dia tinggi dan membuatku harus berjinjit untuk mencuri satu kecupan pada bibirnya.

"Kau tinggal memintaku untuk menciummu daripada-"

"Aku lebih suka jinjit atau melompat, itu lebih singkat dan aman!" potongku cepat, berlari ke kamar dan membungkus tubuhku dengan selimut, menyalakan penghangat ruangan dan bersiap untuk mengarungi dunia mimpi.

Aku setidaknya mendapat jam tenang tanpa berpikir mengenai masalah yang ku timbulkan, bukan aku ingin menghindar atau menjadi semakin tak tahu diri, aku ingin terpejam dan merasa ringan. Tapi nyatanya mimpi yang menghampiri tidurku sama buruknya dengan keadaan dimana mataku terbuka.

.

.

.

Aku terbangun pukul empat dini hari ketika merasa berat, tangan Chanyeol ada di dadaku, dia tidur dengan dengkuran halus menerpa pucuk kepalaku.

Geliat tak nyaman yang kulakukan membangunkannya, setitik merasa beralah karena itu. Dia kemudian membuat sebuah perbincangan ringan dengan suara seraknya, tak satupun dia menyinggung masalah yang ku sebabkan, wajah lelahnya memintaku untuk tidur kembali karena ini terlalu pagi untuk bangun.

Kantuk memang tak lepas, membuatku semakin mudah kembali mengarungi mimpi. Hangatnya tubuh Chanyeol yang mendekapku membuatku merasa terlindungi, nyaman melingkupi. Elusan halus pada punggungku juga membuatku terpejam dengan cepat.

.

.

"Hyung! Hyung!"

Sehun membuatku terganggu, dia berada di ambang pintu dengan celana jeans tanpa atasan dan handuk tersampir pada bahunya. Dia menarik selimutku, menepuk pipi dengan rusuh membuatku mengerang tak suka.

"Sehuuuu~~nnn"

"Aku mau ambil bajuku yang kemarin Chanyeol hyung pinjam." Ujar Sehun, aku menunjuk lemari sebelah kiri, menarik selimut dan kembali mencoba mengarungi alam bawah sadarku.

"Yaishh, setidaknya mandi dan sarapan!" Sehun kembali menarik selimut, menyalakan lampu utama kamar dan melompat pada ranjang.

"Masih terlalu-"

Kalimat terhenti seketika ketika jam weker di nakas menunjukkan pukul sebelas, ini sudah terlalu siang dan kamar masih sangat gelap. Pantas saja, gorden tertutup rapat tak memberikan celah untuk setitik cahaya yang akan membangunkanku pagi hari.

"Chanyeol?" tanyaku pada Sehun yang kini merapikan bajunya.

"Dia ada jadwal." Jawab Sehun cepat lalu dan berjalan keluar setelahnya.

Chanyeol tak mengatakan apapun soal jadwalnya hari ini, dan kurasa dia sengaja menutup gorden yang biasanya dibiarkan terbuka agar kami bangun ketika hari mulai cerah. Dia pergi, tanpa membangunkanku dan tetap memilih untuk menyelesaikan masalah yang kusebabkan sendiri.

Aku meraih ponsel, banyak panggilan dari nomor yang tak dikenal dan ribuan pesan menenggelamkan pesan dari orang-orang terdekatku, melihat banyak komentar dan berita tentang hubunganku dan Chanyeol yang tak ada redupnya diperbincangkan, komentar jahat dan dukungan memenuhi akun media sosial dan portal berita.

'Park Chanyeol menghadiri presscon hari ini tanpa pendampingnya'

Bahasan itu menjadi berita teratas, menampilkan wajah Chanyeol yang telah dipoles dan tubuhnya yang dibalut dengan pakaian formal, berdesakan dengan guard dan wartawan. Dia melakukan presscon sendiri, tanpa sumber masalah. Orang-orang hanya tahu hubungan kami, tanpa tahu akar terbongkarnya hal ini siapa. Ini membuatku semakin merasa tak tahu diri saja.

"Alangkah baiknya jika kau menaruh ponselmu."

Minseok hyung datang dengan segelas susu stroberi di tangannya, memberikan itu padaku. Aku menerimanya dengan baik, menyesap sediit kemudian menaruhnya di nakas, Minseok hyung duduk di samping ranjang dengan posisi menghadapku, mengambil alih ponselku dan mematikannya.

"Chanyeol hanya tak ingin membuatmu dalam bahaya."

Bukan itu yang ingin ku dengar,

"Hyung, kenapa semua tak menjauhiku? Ini semua salahku, comeback tak mendapat respon baik dan—mungkin banyak penggemar yang meninggalkan kalian karenaku. Aku-"

"Mereka tetap berada di sisi kami. Kau, Chanyeol, dan semuanya, mereka tetap mendukung dan memberi kekuatan untuk tetap berdiri. Mereka memang terkejut dan memberikan respon yang meledak, tapi nyatanya mereka tetap memberikan dukungan. Boleh saja comeback kita minggu lalu tidak se-sukses kemarin-kemarin, sekarang mereka kembali dengan dukungan yang mereka beri. Saling menguatkan satu sama lain dan mengerti, mereka menyayangi-"

"Aku tidak, aku mungkin-"

"Hey! Hey! Sekarang, lebih baik kau mandi dan sarapan, oke?" Minseok memegang bahuku, memberi tepukan kemudian, mereka terlalu baik untukku.

.

.

.

Aku tak berniat untuk keluar, terlalu malu untuk bertatap muka dengan sisa member yang mungkin tak memiliki jadwal. Minseok hyung mengatakan padaku untuk tetap berpikir positif sekalipun aku banyak menerima banyak komentar jahat, mempercayaiku bahwa diriku tentu dapat bersikap dewasa dalam menyikapi respon beragam yang diposting di sosial media.

Sakit hati tetap saja ada, aku tak melakukan apapun selain berbaring dibalik selimut dengan ponsel yang kutaruh di bawah bantal, tanpa niat untuk membuka dan bermain lagi dengan internet. Waktu kosong kuhabiskan dengan berbaring, semakin merasa tak berguna ketika waktu berjalan dengan lambat menunggu wajah tertekan Chanyeol kembali pada ruangan ini.

Sehun sesekali menghampiri, mencoba mengajakku berbincang ringan dan bermain game. Dia membawa laptopnya, memperlihatkan bahwa dirinya menang dari penggemar kemarin yang mengalahkan mereka.

"Hun~a, bisa biarkan aku sendiri?"

Aku mengatakannya dengan pelan, melukai hati kecil si termuda. Membiarkan Sehun mengangguk pelan dan melangkah gontai keluar, dia berpesan padaku untuk tidak mendengarkan orang jahat sebelum dia menutup pintu.

..

..

Author's side

Baekhyun merasa dirinya membutuhkan kegiatan yang dapat mengalihkannya dari rasa sesak yang terus menumpuk, benaknya dipenuhi rasa bersalah yang tak kunjung berakhir. Dia menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, menatap sekelilingnya yang terasa kosong, dia tak tahu harus apa jika Chanyeol datang.

Kakinya bergerak melangkah, mengambil handuk kemudian masuk ke kamar mandi, menyiram tubuhnya dengan air dingin tanpa melepas pakaiannya. Cukup lama, buku-buku jarinya memucat seiring dengan dirinya yang merosot jatuh bersama isakan pelan. Baekhyun melepas pakaiannya, membersihkan dirinya di atas kucuran air yang ia biarkan dalam suhu rendah.

Baekhyun mencuci wajahnya, melihat pantulan dirinya di cermin. Dia tak terlihat segar sama sekali walau usai mandi air dingin. Baekhyun melangkah keluar, terkekeh pada dirinya sendiri yang terlihat menyedihkan dan tak berguna.

"Mandi air dingin, eh?"

Kepalanya terangkat, handuk kecil mengusak rambutnya dengan lembut, menghalangi pandangannya.

"Kau baru mencuci rambutmu kemarin, kenapa keramas lagi?" tanya Chanyeol, masih mengusak rambutku pelan.

Baekhyun menunduk, merasa malu pada si wajah lelah yang selalu ditutupi oleh senyuman lima jari itu. Dia merasa bersalah, dia merasa bersalah, di merasakannya hingga sesaknya tak berujung.

Chanyeol meraih tangannya, melihat jemarinya yang terlihat mengerut karena terlalu lama mandi. Kemudian pria tinggi itu meniupnya, menggosok tangannya dan menangkupnya, memberi kehangatan pada pria yang lebih kecil.

"Jangan biarkan dirimu kedinginan, huh."

Chanyeol memegang bahunya, kemudian berbalik untuk mengambil pakaian Baekhyun di lemarinya, tapi tangan mengerut itu menahan pakaiannya. Masih dengan kepala tertunduk, dia menarik Chanyeol semakin mendekat tanpa mengatakan apapun.

Tangan besar milik Chanyeol bergerak mengangkat dagu untuk melihat wajah pucat kekasihnya, meringis ketika melihat Baekhyun telah berurai air mata. Bibir tipisnya terkatup menahan isakan, Chanyeol tahu dia merasa bersalah.

"Peluk aku." Lirih Baekhyun pelan.

Chanyeol tak berpikir lagi untuk mengikuti apa yang Baekhyun katakan, maju selangkah dan menarik tubuh yang hanya terbalut handuk itu pada pelukannya. Baekhyun terisak cukup keras di dadanya, menumpahkan semua kesedihannya yang tertahan sejak kemarin-kemarin. Hati kekasihnya terlalu lembut untuk disakiti, dia sangat menyayangkan respon negatif orang-orang, tapi dia berkaca diri juga, dia juga menyakiti banyak orang di luar sana. Berhubungan sembunyi-sembunyi hanya untuk melindungi karirnya.

Lama mereka berpelukan, tangan Chanyeol mengelus punggung lembut yang tak berselimut apapun. Dia melepas pelukan setelah dirasa Baekhyun cukup tenang.

"Pakai bajumu, nanti masuk angin." Lirih Chanyeol pelan, dia menuntun Baekhyun untuk duduk di pinggiran ranjang kemudian mengambil pakaian untuk Baekhyun pakai.

Dia terkekeh ketika melihat pria kecil itu berpakaian seraya terisak, tangis yang tadi masih menyisakan isakan. Tawanya meledak ketika kekasihnya salah mengancingkan baju, menjadi bentuk tak beraturan dan tak rapi dipandang. Baekhyun semakin menangis di tempatnya, menarik pakaiannya lepas dengan gusar.

"Huwaaa! Jangan beri aku piyama seperti ini! Hiks, hiks." Baekhyun merutuk, mendudukan dirinya di lantai dan memeluk lututnya. Mengerut ketika Chanyeol mendekatinya, menyentuh bahunya dan memberinya usapan pada bahu. Baekhyun tak bisa diam di tempatnya, dia kesal namun malu juga. Tangis merupakan jalan termudah menumpahkan emosinya, namun membuatnya gusar sampai-sampai kancing pun dia tak tahu cara melepasnya. Tangannya terus menarik piyamanya, membuat Chanyeol berusaha menahan tawanya ketika ia membantu Baekhyun yang menyalahkan piyamanya.

"Kkkk, sini aku bantu." Chanyeol mengangkat tubuhnya dan mendudukkannya di ranjang, membenarkan kancing pakaiannya dengan telaten. Dia memberikan satu kecupan setelah usai dengan pekerjaannya.

"Hiks, jangan menciumku." Cicit Baekhyun pelan, Chanyeol hanya mengangkat bahunya acuh kemudian berdiri, mengganti atasannya dengan kaos.

"Aku akan menyiapkan makan malam untuk member dan dirimu, mau ikut denganku?" tanya Chanyeol, tapi Baekhyun hanya menggelang pelan sebagai jawaban. Ia masih merasa malu jika harus berhadapan dengan kawan kerjanya.

"Kenapa , hmm?" Dia tak tahu Chanyeol tak mengerti atau bertingkah seolah tak mengerti apapun. Dia selalu bertanya dengan hati-hati, membuat Baekhyun menjawab dengan pelan. Tapi kali ini dia tak mendapatkan apapun, tetap pada Baekhyun yang menutup mulut, menolak memberinya alasan.

"Yasudah, tunggu disini ya."

Baekhyun tak memberikan respon, beringsut menutup dirinya lagi dengan selimut dan menghabiskan waktu dengan banyak pikiran buruk yang ia buat sendiri. Menunggu kekasihnya kembali, dia menjadikan dirinya semakin tak berguna. Karena nyatanya dia mengandalkan Chanyeol bahkan ketika dia baru selesai dengan press conference nya.

.

.

.

BH's pov.

"Baekhyunee, bangun sayang. "

"Baekhyunee~"

Aku membuka mata, menyadari Chanyeol tengah mengelus pelan pucuk kepalaku dengan lembut. Aku tak tahu sejak kapan aku tertidur.

"Hey, ketiduran eo?"

Aku hanya tersenyum, Chanyeol membantuku untuk duduk walau sebenarnya dia tak perlu melakukan itu. Dia memberiku makan malam yang enak, memperhatikanku makan dengan lahap di ranjang membuatku malu sendiri.

"Habiskan." Ucap Chanyeol ketika aku mulai menaruh sendokku, masih ada setengah nasi di mangkuk dan beberapa lauk pauk.

Aku menatapnya lama, memberikan kode bahwa aku sudah tak ingin makan. Semakin aku menyuapkan nasi, semakin sesak juga yang kurasa. Aku semakin merasa tak berguna, terlebih melihat Chanyeol tengah tersenyum melihatku makan. Dia seperti idiot, aku tak menyukainya.

"Tidak, Baekhyun. Habiskan makananmu!"

Aku mengangguk pada akhirnya, kembali melahap makananku hingga tak bersisa. Chanyeol memberiku minuman, kemudian segelas susu untuk penutup.

"Tidak!" tolakku, aku menolak segelas susu yang ia berikan padaku.

"Ini baik untukmu, Baek."

"A-a-aku akan gendut, aku sudah makan banyak. Susu akan membuatku gendut, aku harus diet." Ucapku pelan, mencoba terdengar normal bagi Chanyeol. Tapi dirinya terlalu peka untuk seorang yang dia kenal lama. Chanyeol duduk di samping ranjang dan menatapku, dia meraih tanganku dan menuntun untuk menggenggam gelas susunya.

"Minum ini, ya? Setidaknya biarkan dirimu makan dan minum apa yang kamu mau saat ini. Hanya saat ini, setelahnya tak apa." Chanyeol berkata penuh kelembutan, aku seharusnya tahu diri karena aku sudah banyak merepotkannya.

Gelas susu itu berada di hadapanku, menempel tepat di bibir. Aku meminumnya, menghabiskan susu stroberi yang memang kusukai sejak dulu. Chanyeol terkekeh, menyesap sisa susu di sudut bibirku dengan bibirnya. Dia menahan tengkukku, membiarkan dirinya berpindah pada bibir atas dan menyesapnya cukup lama.

"Nghhh~"

Aku menjauh, melihat Chanyeol yang perlahan membuka matanya. Tangannya mengelus pucuk kepalaku dengan pelan kemudian berdiri.

"Terima kasih telah menghabiskan makan malammu, gosok gigi dan tidurlah!"

Dia bahkan berterima kasih hanya karena aku menghabiskan makan malamku. Seharusnya aku yang mengatakan itu.

Chanyeol melangkah keluar, terdengar dia berbincang dengan beberapa member diselingi tawa ringan juga. Aku hanya dapat berdiam diri disini, menyembunyikan diri bersama rasa bersalah yang terus menggunung. Semakin tak punya muka untuk berhadapan dengan mereka yang ku hancurkan kariernya dalam sekejap.

Tepat setelah aku gosok gigi dan mencuci wajahku, Chanyeol datang bersama Jongin dengan ponsel di masing-masing tangan. Aku hanya dapat memberikan senyum ketika mata kami bertubrukan. Tahu betul keadaan menjadi canggung karena tingkahku juga.

"Hyung-"

"Apa mau bermain game?" tanyaku, mencoba untuk mencairkan suasana.

"Hu-um." Jawab Jongin, Chanyeol terkekeh dia meraih pundak Jongin dan menuntun kami duduk melingkar di ranjang.

Permainan menjadi sangat seru di menit 10 ketika kami mulai menyerang, memberi banyak tembakan pada musuh dan menjadi begitu rusuh dengan ponsel masing-masing. Jongin dan Chanyeol sesekali berteriak untuk meminta diselamatkan.

"Hyung! Beri aku darah! Beri aku darah!" pekik Jongin kacau. Aku terkekeh, segera memberikan bantuan pada Jongin dengan memberikan darah untuknya.

"Owww, terima kasiiiihhh~~"

Kami terlarut dalam permainan, sesekali aku memperhatikan kedua pria tinggi ini. Mereka tampak senang, hanya dengan hal sederhana ini mereka dapat melupakan masalah besar yang mengancam eksistensi mereka.

Tawa Chanyeol yang menggelegar dan pekikan senang Jongin ketika dia berhasil membunuh musuh. Aku tersenyum melihatnya, mereka terlalu baik setelah apa yang kulakukan sebelumnya.

"Baek-"

Aku menoleh, mengangkat alisku dan menatap Jongin dan Chanyeol yang tampak speechless bergantian.

"Kenapa hyung diam saja ketika ada yang menembakimu?" tanya Jongin pelan.

Aku melihat ponselku, menyadari bahwa aku telah kalah tanpa kusadari. Bukannya mengikuti permainan, aku malah melamun. Membuat mereka mau tak mau melanjutkan permainan berdua. Mereka tampak kecewa, tapi Jongin memakiku untuk mencairkan suasana.

"Noob! Noob!"

"Tidak! Aku-"

"Hyung! Noob!"

Jongin menatapku jahil, badannya lebih mendekat padaku kemudian menggelitikku. Chanyeol juga malah membantu Jongin, membuatku tertawa kegelian. Aku mengulat abstrak mencoba menghentikan mereka.

"Andwe! Hahahah, hk! Andwe"

"Hehehe, Noob!" Jongin menjauh, aku memelototinya. Dan Chanyeol berpindah menjadi berpihak padaku, membuat Jongin bergidik ngeri kemudian berlari keluar kamar ketika aku menginjakkan kaki pada lantai, bersiap untuk baik menyiksanya.

Chanyeol tertawa, Jongin membanting pintu ketakutan. Dia kemudian meraih pundakku, membawa kami berbaring berdampingan. Dia membawa dirinya untuk menghadapku, memiringkan posisi berbaringku agar kami benar-benar berhadapan.

Aku menatapnya cukup lama, menyelami wajah tampan yang kelelahan itu. Suasananya berbanding terbalik dengan menit sebelumnya ketika Jongin disini.

"Apa aku akan terus seperti ini?" tanyaku pelan, menaruh tanganku di dada bidang yang berdetak cepat itu.

"Tidak sayang, maafkan aku."

"Aku semakin merasa tak berguna ketika kau minta maaf, Yeol." Ungkapku, dia mengukir senyum pahit. Meraih kepalaku untuk bersandar di dadanya.

"Aku tak ingin kau terluka." Lirih Chanyeol, mengeratkan pelukannya padaku.

Sejenak hening, aku tak dapat melihat Chanyeol dnegan dekapannya yang seperti ini. Dia tak membiarkanku lepas dari pelukannya. Dadanya kemudian mengembang, dia menarik nafas dalam kemudian melepasnya perlahan.

"Ada apa?" tanyaku, dia terasa cukup tertekan.

"Berjanjilah untuk tetap dalam genggamanku ketika pers ke dua."

"Apa aku akan menghadiri pers?"

"Ya, dua hari lagi. Berjanjilah, oke?" Chanyeol mengangkat wajahku untuk menghadap pada wajahnya, menuntut sebuah janji yang tak dapat ku mengerti.

"Kenapa?" Aku yakin dia menyimpan sesuatu dibalik perjanjian ini.

"Hanya berjanjilah dulu, aku akan memberitahumu setelahnya." Jawab Chanyeol, aku mengangguk kemudian. Melihat Chanyeol kembal menarik nafas berat dan membuangnya kasar.

"Agensi mendapat surat ancaman, mereka ingin melukaimu di pers pertama. Itulah mengapa kau tak dibangunkan tadi pagi. Pasti kau memaksa jika bangun."

Aku terdiam, mereka ingin melukaiku. Aku memang pantas dibenci dan mendapat perlakuan buruk semua orang, aku yang menjadi akar masalahnya.

"Baekhyun, jangan berpikir buruk tentang apapun. Kumohon, ini hanya akan terjadi sementara, beberapa dari mereka hanya masih kaget dengan apa yang tersebar."

Aku masih diam, tak berniat menanggapi Chanyeol. Mereka benar-benar membenciku, akankah lebih baik jika aku hengkang?

"Apa aku akan hadir di pers ke dua?" tanyaku lagi memastikan. Dia mengangguk, kemudian mengecup pipiku singkat.

.

.

.

.

Menjadi hal paling menegangkan bagiku, penata rias kini sibuk memoles wajahku, manager menceramahiku tentang apa saja yang harus kulakukan nanti, pertanyaan apa yang harus ku jawab dan yang tak perlu ku jawab. Chanyeol berada di sampingku, tangan kami bertaut tanpa ingin lepas.

"Apa aku boleh mengatakan aku akan keluar?"

Jaewon hyung diam, kalimatnya terhenti mendadak mendengar pertanyaanku. Dia menatapku kaget, namun masih bingung dengan apa yang aku maksudkan.

"Ke-lu-ar apa?" tanyanya memastikan.

"Keluar, aku ingin berhenti." Jawabku pelan. Chanyeol mengehempas tautan tangan kami, menyingkirkan penata rias yang memoles wajahnya dan berdiri dnegan cepat. Dia menatapku marah, hidungnya kembang kempis dengan wajah memerah.

"Jangan berpikir sejauh itu, kau tak begitu mendapat respon buruk, oke? Chanyeol, duduklah kembali." Jaewon hyung tampak salah tingkah, dia mencoba untuk menenangkan Chanyeol yang tempak amat marah dengan kalimatku.

"Berita ini tak sepenuhnya mendapat respon buruk, sungguh. Orang-orang mulai membuka matanya untuk kalian, menerima apa yang kalian putuskan. Banyak dari mereka yang sudah menyagka ini, agensi juga tidak mengalami peurunan saham yang drastic. Uh! Maksudnya, saham anjlok di awal, tapi dengan tindakan Chanyeol yang akan membawamu di pers kedua, saham kembali naik. Pokoknya saham hampir mendekati normal, jangan lakukan apapun yang fatal oke? Agensi tidak memberikan tuntutan apapun pada kalian, hanya meminta kalian untuk menyelesaikan semuanya. Keluar bukan jalan terbaik, kau hanya akan dibuat miskin oleh agensi dengan denda yang besar jika itu terjadi."

Jaewon memegang bahuku, memberi ceramah lagi dan sesekali melirik pada Chanyeol yang kini duduk di tempatnya kembali.

Ini bukan tentang uang, tak masalah dengan aku yang miskin karena denda. Selama karir teman-temanku berada dalam garis aman setelahnya, aku tak apa.

"2 minutes left!" seorang kru berseru.

"Kenapa banyak sekali guard?" tanyaku, ini terlalu banyak bagiku. Guard ada di setiap sudut ruangan.

Tubuhku seakan tak boleh tersentuh bahkan oleh kru yang aku kenal sekalipun. Mereka juga hanya dapat menyapa lewat tatapan dan lembaian tangan sesaat. Ini terlalu berlebihan bagiku.

Chanyeol menutup mulutnya, berjalan lurus tanpa menoleh namun dengan tangan yang tak melepaskan genggamannya dari tanganku. Dia mungkin marah, rasanya kau semakin tak tahu diri saja.

"Chanyeol, maafkan aku." Lirihku pelan, mengehentikan langkahku membuat semuanya ikut berhenti. Aku menunduk ketika Chanyeol menoleh padaku.

Sejenak kami hening, tak ada yang mulai bicara. Tapi kemudian Chanyeol kembali melanjutkan langkahnya untuk masuk ke ruangan tempat dimana kami akan konferensi pers.

Dia benar-benar marah, aku hanya dapat diam. Semakin tegang ketika pintu terbuka dengan lebar, guard yang berada di sekitar kami juga semakin banyak membuat sesak. Pertanyaan-pertanyaan dari banyak wartawan yang hadir membuatku terpojok, mereka memiliki banyak pertanyaan yang menusuk. Aku tak bisa membayangkan bagaimana Chanyeol menghadapi ini sendiri di pers pertama. Beberapa pertanyaan kujawab dengan lugas, mengiyakan kami yang menyembunyikan hubungan yang sebenarnya belum lumrah di negara ini.

Sebagian pertanyaan Chanyeol jawab, menghalau pertanyaan yang menyudutkanku, membuat seolah dirinya yang bersalah. Dia banyak mengungkapkan soal dirinya yang tertarik padaku di awal, menjadi pihak yang mengawali cinta kami, dia melakukannya. Membuat dirinya bersalah, terpojokkan, namun dia menerimanya dengan santai.

Mungkin tidak dengan isi hatinya.

Konferensi pers terasa lama bagiku, kami keluar setelah usai. Chanyeol masih mendiamiku, keringat dingin yang sejak tadi keluar diusap dengan tisu, terlihat kerepotan menyamai langkah kami karena mereka perempuan.

Jalan yang dipimpin oleh tiga guard membuatku kegerahan, genggaman Chanyeol yang kunjung lepas juga sedikit membuat kerepotan. Kakiku berkali-kali tersandung oleh kaki sendiri karena cukup merepotkan berjalan dengan guard di sekeliling.

"Sir, walkie talkie saya tertinggal di kamar mandi." Salah satu guard terdepan berhenti, membuat kami juga berhenti.

Dia membungkukkan badanya pada Chanyeol, dia kemudian berjalan ke tempat sebelumnya ketika mendapat izin dari Chanyeol.

Aku semakin mengeratkan genggamanku ketika rasa sakit menjalar pada pinggang, kemudian menghampiri perutku membuat rasa sakitnya semakin luas. Mungkin itu pisau, dicabut kembali membuat aku mengerang keras. Kesakitan ketiga adalah dadaku, semua orang memekik. Disana lah aku tumbang, sakitnya tak tertahankan hingga aku tak dapat melakukan apapun, amat sulit untuk mengeluarkan isakan. Air mata berlomba untuk meluncur, membasahi pipiku.

Keributan memenuhi telinga, bercampur dengan kesakitan dan rintihan pelan. Tubuhku tak sampai terbentur lantai, guard lain dan Chanyeol menahan tubuhku. Satu tangan yang menahan tubuhku agar tak jatuh menekan luka pada pinggangku, membuatnya semakin sakit saja. Pukulan dan pekikan terdengar ricuh, beberapa guard otomatis membuat formasi melindungi kami. Satu dua guard memberikan pertolongan pertama. Aku menarik nafas dalam, sakitnya tak tertahankan.

Aku melihat Chanyeol bicara padaku, mendengar racauan paniknya. Dia memelukku, ada kekacauan di sampingnya, mereka menangkap pelaku yang memberiku dua tusukan dan satu goresan panjang di dada. Seorang guard yang mengatakan dia meninggalkan walkie talkienya.

Chanyeol berkali-kali menepuk pipiku, dia bicara padaku.

"Tetaplah sadar!"

Tapi aku tidak.

.

.

.

Whew, gimana?

Kukira ini bakan oneshot, tapi ternyata lebih panjang. Pikiran mulai bercabang buat lanjutin ini bakal kayak gimana di chapter depan.

Maafin aku yang selalu nyadar banyak typo setelah di publish. Aku buat cerita ini di sekolah, edit juga di sekolah di sela-sela finishing novel, jadi kurang 'bener' benerinnya. So, I've done edited this story. Read well and re-read buat yang udah baca duluan. Wkwkkw.

Selamat berlibur semuanya!