Untuk yang berbaik hati me-Review fict dari ide sesat ini, odes kasih hadiah cipokan dehh. Satu satu yaa~. Janga rebutan. Hehehehe :*

Terimakasih buat Mii-chanchan2, GaemSJ,Hanazono Yuri,Manda Vvidenarint,Guest, Undhot,Sakura Uchiha Stivani,Dewazz,MimaMukun,Ongkitang,UchiHaruno Misaki, PinkSaku,en Anka-chan.

Map apdetan kali ini rada dikit. Next dipanjangin deh. Masalahnya odes banyak utang. UPDATE ASAP :d

TERIMAKASIH DUKUNGAN KALIAN!

Yang niatnya buruk sih mending jauh-jauh deh. #BacaDoaKutukanBarengHidan

.

.

.

Step Father

(2)

SasuSaku *slight SakuPain, SasuMebuki

Naruto belong to MK

M for Lemon (?) and Verbal Abuse

Family, Hurt/Comfort

#Warning : AU, OC, OOC, Thypo, D.L.D.R! tidak dianjurkan dibaca oleh yang belom punya Katepeh. Dosa ditanggung masing2. Nyalahin Author? *siap2 manggil Ki Kugumoh buat nyantet orgnya*

:Dv

#BiniPertamaCanon Uchiha Itachi

odes.

-00000-

Sasuke menarik lengan Sakura sedikit kuat hingga tubuh gadis berhelai merah muda itu terangkat dan menjauh dari tubuh pemuda dengan piercing yang memenuhi tubuh atletisnya tersebut.

Sakura langsung menyentak marah tangan pemuda tampan dengan helaian raven mencuat yang sebentar lagi akan menyandang status sebagai Ayah Tirinya itu dengan kasar. Seolah sentuhan pemuda itu adalah kotoran yang menyentuh kulit mulusnya.

"Apa yang kau lakukan di tempat umum seperti ini, Sakura! Apa kau tidak memiliki rasa malu?" Nyalang Sasuke dengan tatapan marah. Melakukan kegiatan "soft foreplay" di tempat umum seperti ini, dengan masih mengenakan seragam sekolah membuat Sasuke merasa malu dengan tingkah laku calon putri tirinya tersebut.

"Apa urusanmu ?!" Bentak gadis itu tak mau kalah. Emeraldnya menghujam kasar ke arah pemuda asing yang menjadi kekasih sang Ibu tersebut. Pemuda ini seenaknya mengganggu keasyikannya dengan sang kekasih yang tengah bermesraan.

"Kau tidak pantas melakukannya di tempat umum seperti ini, Sakura!" Tegas Sasuke sambil menarik kembali tangan gadis merah muda itu. Sakura tampak memberontak. Sementara Pain yang sejak tadi diam, langsung mengambil langkah dengan memisahkan keduanya.

Tangan Pain melepaskan tangan Sasuke yang menggenggam tangan kekasihnya. Dengan raut santai namun manik diamond yang mulai terlihat marah, pemuda dengan tubuh penuh tindikan itu menjadi dinding pemisah diantara keduanya.

"Siapa kau ini ?" Tanya Pain dengan nada menantang. Manik diamond nya menatap tajam tepat di manik onyx pemuda raven yang tetap terlihat tenang serupa patung dewa dalam lukisan tersebut.

"Aku Ayah Tiri nya..." jawab Sasuke. Lantang dan juga tegas.

Pain terdiam. Begitu juga Sakura. Wajahnya memerah menahan amarah. Pemuda itu... telah lancang dan seenaknya sendiri memperkenalkan diri sebagai Ayah tiri nya.

Lalu dengan satu langkah cepat, Sasuke menarik tangan gadis merah muda itu dan setengah menyeret paksa untuk mengikutinya, pulang ke rumah.

-0000000-

Sakura tak pernah semurka ini pada siapapun sebelumnya! Bahkan pada orang yang selalu mencemoohnya di sekolah karena berasal dari keluarga yang "tidak lengkap" dengan seorang Ibu yang dikenal sebagai "penggoda para pria", Sakur tak pernah merasa semarah ini. Meski gadis itu juga tak akan menolak jika harus menyumpal mulut busuk mereka dengan granat sekalipun.

Kakinya menghentak lantai. Langkahnya terburu, juga sedikit gusar. Dia berjalan menuju kamar utama sang Ibu yang berada di lantai 3 rumah mereka yang bak istana tersebut. Dia hendak memprotes kelakuan kekasih Ibu nya tersebut yang telah lancang mengakui diri sebagai Ayah tirinya. Meski tak lama lagi memang status itu akan melekat pada pemuda tampan bungsi keluarga Uchiha tersebut

Namun belum sempat Sakura membuka pintu secara paksa, dari dalam kamar terdengar lenguhan manja yang disertai dengan desahan desahan erotis yang membuat telinganya memerah.

"Ngghhh.. sayang. Ayo lebih cepat! Lebih dalam! Lebih keras! Aahhh.. aahhh..." suara manja sang Ibu terdengar begitu jelas dan nyata. Suara jeritan kecil yang menandakan kenikmatan saling bersahutan, melengkapi desahan serta erangan yang lolos dari bibir mereka.

"Aaahhh.. aaahhh..." Suara itu... membuat hati Sakura hancur dalam sekejap. Ibunya sejak dulu tak pernah berubah. Selalu saja bercinta dengan kekasih-kekasihnya tanpa peduli pada perasaannya. Sejak awal, sang Ibu selalu menganggap putri semata wayangnya hanya boneka pelengkap istana megah mereka.

Tak bisakah sang Ibu sedikit saja mengerti perasaan Sakura? Gadis itu tak meminta gelimang harta dan kemewahan. Dia hanya ingin tangan sang ibu yang dulu selalu mendekapnya penuh cinta kembali memeluknya seperti bertahun tahun yang lalu.

Tanpa sadar, airmata gadis itu menetes. Meski ini bukan yang pertama kali dia menyaksikan sang Ibu bercinta dengan kekasihnya, namun hal ini selalu saja menyakitkan bagi gadis berhelai merah muda tersebut.

Dan dengan langkah kaku, Sakura pun meninggalkan kamar Ibundanya...

-00000000-

"Persiapan pernikahanmu berjalan lancar kan?" Tanya seorang pria paruh baya pada wanita cantik yang kini berada dalam pelukannya. Tubuh keduanya telanjang bulat tanpa sehelai benangpun menutupi keduanya. Sang wanita yang masih terlihat cantik meski sudah tak lagi muda itu memeluk manja sang pria sambil mengangguk sebagai jawaban.

"Tentu... semua berjalan sesuai rencana.. "Jawab sang wanita cantik dengan helaian merah muda itu sambil mengeratkan pelukannya.

"Bagus.. tentu kau tidak lupa perjanjian kita kan?!" Tanya sang pria paruh baya dengan onyx kelam seperti jurang tanpa dasar itu sambil mencubit mesra puting dada kiri yang wanita dengan gemas. Membuat wanitanya kembali melenguh manja.

"Tenang saja. Aku tidak akan menyentuh putra bungsumu, Fugaku.."

Sang pria yang terlihat puas dengan jawaban wanitanya kembali mengambil posisi seperti singa yang hendak menerkam mangsanya.

"Ayoo kita mulai ronde selanjutnya, Sayangku…!" Ajakan yang langsung disambut dengan kikikan manja dari sang wanita.

TO BE CONTINUE~