A/N: On with the story~


Guilty Gear + Blazblue © Arc System Works

Bullet Confrontation © Viero D. Eclipse

Pairing: Sol Badguy x Ragna the Bloodedge

Genre: Drama/Romance

Rated: T

Warning: Crossover AU with some canon trivia, Shounen-Ai, Cursing of doom! OOC (I hope not!)

Don't like? Don't read!


Read my own lips...
I'm the last to go...
Finally it's time...
Oh hell, I'm gone!– (Boss Ragna's Theme – Black Onslaught)


-Chapter 1-

The Mask Does Not Laugh

"Kau terlambat lima belas menit, Project Officer. Sungguh sebuah kerja yang sangat bagus."

"..."

Mungkin... bungkam menjadi pilihan yang tepat di kala itu. Ragna tampak masa bodoh dengan sindiran menohok yang tertuju pada dirinya.

.

.

Derap langkah kaki itu terhentak cepat. Tajam, seolah menyiratkan emosi yang kini melimpah ruah. Dengan batas kesabaran yang tersisa, Ragna terus melangkah maju untuk menyongsong entitas yang paling ia kutuk di dunia ini. Tepat di hadapannya, terlihat sebuah meja yang menjadi alas bersandarnya kedua kaki sang Project Manager. Puluhan lembar berkas dokumen tampak berserahkan di lantai. Tak diacuhkan sama sekali. Bagi Ragna, panorama itu sudah biasa.

Langit akan runtuh jikalau sang Project Manager merapikan ruangannya sendiri.

Terdengar dramatis. Mungkin saja begitu. Tapi itulah fakta. Tak ada yang bisa disangkal lagi.

Sol Badguy bukanlah seorang pemuda yang begitu peka dengan sekitarnya. Justru sebaliknya. Ia dikenal begitu kasar, galak dan berego tinggi. Meski tidak setempramental dan seimpulsif Ragna, namun tetap saja merupakan keputusan yang salah jikalau kau mencoba untuk mengikis habis batas kesabaran sang Project Manager ini. Sol begitu jenius. Dan tak ada yang lebih mengerikan selain hanya menatap orang jenius yang sedang marah.

Dan Ragna tak takut dengan siapapun.

Jika eksistensi Sol Badguy sangat ditakuti semua orang, maka pemuda heterochromic itu tak akan gentar menghadapinya.

"Aku sudah kehilangan banyak waktu hanya untuk menemui orang brengsek sepertimu. Aku bahkan berusaha memenuhi semua tugas yang kau berikan padaku tepat sebelum deadline. Apa semua itu masih belum cukup untukmu, hah!"

Ragna mengepalkan kedua tangannya tatkala protesnya tak digubris Sol sama sekali. Project Manager itu hanya terdiam sembari melirik lembaran pamflet yang sudah Ragna letakkan di atas mejanya dengan begitu kasar.

Frase yang mengejutkan lantas terucap dari bibirnya.

"Kuning? Sejak kapan aku menyuruhmu membuat pamflet dengan background kuning seperti itu? Seminar yang akan diselenggarakan oleh Sector Seven dua minggu lagi memiliki tema yang cukup konservatif. Seharusnya kau memilih warna biru sebagai latarnya."

"A-Apa!" Heterochromic membelalak. Rasa syok menghunus tajam. Sol pun lantas menatap sang Project Officer dengan pandangan yang begitu dingin.

"Revisi ulang pamflet ini. Konsepnya begitu buruk. Visualisasinya tak jelas. Variasi warnanya sangat tidak menarik. Tata bahasa berantakan. Jenis font yang kau gunakan juga tak memiliki standar baca yang layak sama sekali. Font script tidak cocok untuk dipakai sebagai body-text. Kau hanya akan membuat semua orang yang membaca pamflet ini menjadi sakit mata."

DEG!

Butuh beberapa detik bagi Ragna untuk dapat mencerna segenap kritikan itu. Ada sensasi panas yang terasa di telinganya. Seolah terbakar. Seolah tertikam. Ucapan Sol sungguh terkesan begitu keji. Kali ini Project Manager itu benar-benar sangat keterlaluan. Apakah ia tak merasa terbebani dengan tindakannya sendiri?

Ia tak pernah mau memahami perasaan Ragna.

Ia tak pernah mau memahami betapa sulitnya posisi pemuda itu saat ini.

Sungguh egois.

BRAAAKK!

"Dengarkan aku, Brengsek! Ini sudah ketujuh kalinya kurevisi pamflet sialan ini! Dan kau selalu saja menyalahkan hasil kinerjaku! Hei, lihatlah! Aku ini hanya seorang mahasiswa Cookery-Culinary! Bukan seorang desainer grafis yang bisa kau suruh membuat pamflet seenaknya! Yang kutahu hanyalah memasak! Aku tak paham dengan komputer sama sekali! Butuh waktu berhari-hari bagiku untuk bisa mempelajari beberapa software desain agar aku bisa membuatkanmu sebuah pamflet! Dan kini, apa balasannya? kau selalu saja menyalahkanku! Tidak bisakah kau menghargaiku sekali saja, hah!"

Frustasi.

Jujur saja, Ragna sudah mencapai batas akhirnya. Ia sudah lelah dengan segenap kritikan Sol. Semenjak ia resmi bergabung dalam Sector Seven, Project Manager itu tak pernah menghargai kerja kerasnya. Memuji pun tak pernah. Yang bisa ia lakukan hanyalah menyalahkan dan menyalahkan Ragna saja. Semakin hari, rasa sakit itu kian terasa di hati. Sudah tak ada toleransi yang tersisa. Ragna semakin tak sudi untuk sekedar memberikan maaf.

Luka hati itu sudah terlanjur menganga. Begitu dalam.

Meja yang tergebrak keras, seiring dengan untaian frase resistensi yang terucap dari mulut Ragna, sejatinya membuat Sol menyadari satu hal. Spekulasinya tak salah. Ragna sungguh tak jauh berbeda dengan para mantan Project Officer yang lainnya. Mereka semua tak sanggup mengimbangi Sol. Mereka semua tak sanggup memahami jalan pemikiran Sol. Mereka hanya memikirkan kenyamanan belaka. Tak acuh dengan kemajuan organisasi itu sendiri.

Sungguh sayang sekali.

Padahal ia sedikit menanamkan ekspektasi lebih terhadap Ragna.

Tapi semua itu tak ada gunanya.

Tanpa ekspresi yang berarti, Project Manager itu lantas beranjak dari kursinya. Melangkahkan diri menuju pintu tanpa mengumbar basa-basi. Kedua mata Ragna membelalak, tak percaya dengan apa yang sudah ia pandang.

Sol mengabaikannya. Lagi.

Pemuda itu selalu mengabaikannya.

Eksistensinya tak pernah dipandang berarti.

"Mengapa kau selalu saja memperlakukanku seperti ini?"

Retoris.

Pertanyaan yang mengalun lirih di mulut Ragna itu bersifat retoris. Hanya dengan diam, mungkin Sol sudah mampu membuat Ragna paham akan sebuah jawaban yang ia cari. Namun kali ini, sang Project Manager memilih tindakan yang berbeda. Ia menghentikan langkah untuk sesaat. Kedua matanya memandang lurus ke arah daun pintu. Kontradiksi dengan Ragna yang menatap lurus ke arah yang berlawanan.

Sebuah jawaban terucap.

Bersamaan dengan berlalunya Sol.

Bersamaan dengan bungkamnya Ragna.

"Jika kau masih belum mampu untuk mengemban tugas sebagai seorang Project Officer di dalam organisasi ini, maka jangan pernah mengharapkan perlakuan yang baik dariku."


~SxR~


"Yang Sol lakukan adalah semata-mata demi kemajuan Sector Seven. Aku harap, kau bisa bersabar dengan semua ini, Bloodedge."

Sebuah jawaban yang sama.

Sebenci-bencinya Ragna mendengar itu, ia tak akan pernah bisa membuat Ky turut melakukan resistensi terhadap Sol.

Sang Presiden Sector Seven itu bukannya tak tegas ataupun gentar dengan permasalahan ini. Hanya saja, ia memiliki sudut pandang yang berbeda. Pemuda berambut pirang itu memiliki alasan logis, mengapa ia tidak membenarkan justifikasi negatif Ragna terhadap Sol meskipun ia tahu bahwa fakta parsialnya memanglah seperti itu.

"Aku tidak membela Sol. Jujur saja, sebenarnya aku kurang setuju dengan metode yang ia gunakan untuk menaungi para Project Officer di Sector Seven. Namun, mengingat bagaimana wataknya, mungkin perlakuannya itu merupakan satu-satunya cara yang tepat untuk mencari Project Officer yang benar-benar mau memajukan Sector Seven. Aku tidak mengatakan bahwa kinerjamu buruk, Bloodedge. Tapi jika kau bisa mengubah pandangan Sol terhadapmu, maka itu akan jauh lebih baik daripada kau harus berlutut kalah dan melarikan diri dari situasi ini."

Ragna terdiam sejenak menyelami penjelasan itu. Secara tak langsung, Ky telah memaparkan sisi lain dari seorang Sol Badguy. Project Manager itu bersikap dingin bukan tanpa alasan. Memang, watak aslinya seperti itu. Namun di saat yang sama, kepribadian dan ego tinggi itu akan menjadi sebuah benteng penguji bagi setiap orang yang ingin menjadi pengurus dari Sector Seven.

Sungguh tipe orang dengan idealisme tinggi.

Dan dengan jalan pemikiran yang seperti itu...

Sol sungguh pantas menjadi sosok seorang pemimpin.

"Seharusnya, yang menduduki jabatan sebagai Presiden Sector Seven saat ini adalah Sol. Bukan aku."

"A-Apa?" Ky hanya tersenyum tatkala menatap kontur syok di paras Ragna. Sungguhlah wajar jika pemuda itu bereaksi demikian. Karena ia belum mengetahui dakta yang sesungguhnya.

"Sebelum menjadi Project Manager seperti sekarang ini, dulu Sol sempat menduduki jabatan sebagai Presiden Sector Seven. Dan masa-masa kejayaan Sector Seven adalah hasil dari jerih payah Sol. Aku yang hanya menjabat sebagai anggota biasa di kala itu, hanya dapat berdecak kagum menatap idealismenya. Konsep pemikirannya begitu matang dan bijaksana. Orang yang layak untuk memimpin organisasi ini, mungkin hanyalah Sol saja."

Sungguh sulit untuk memercayai penjelasan itu. Ragna tak pernah mengira bahwa Sol merupakan entitas terpenting dalam organisasi yang ia tangani. Kejeniusan yang terpatri di dalam pemuda brunet itu seolah tertutupi dengan jabatan Project Manager yang ia emban saat ini.

"Jika memang ia dulu adalah Presiden Sector Seven, lalu... mengapa sekarang ia justru menjabat sebagai Project Manager?"

"Jenuh. Mungkin itu adalah alasannya," Ky menghela napas pasrah. Ia pun lantas berbalik membelakangi Ragna.

"Selain itu, dengan menurunnya kualitas Project Officer dan juga managemen dari Sector Seven, maka ia putuskan untuk menyerahkan jabatan Presiden padaku, selagi ia mencoba untuk memperbaiki sistem managemen yang ada di dalam Sector Seven. Semua ini semata-mata ia lakukan hanya untuk organisasi. Tak ada yang lain," pungkasnya singkat.

Ragna bertopang dagu. Tak ada gunanya ia meragukan cerita Ky. Karena yang terpapar saat ini adalah fakta dan kejujuran. Dan dengan segenap kebenaran itu, dedikasi Sol untuk Sector Seven pun semakin tergambar nyata. Pemuda brunet itu tidak seburuk yang ia kira. Ia merupakan orang yang sangat bertanggung jawab.

Dan dedikasi Ragna... mungkin tak akan bisa mengimbangi Sol.

Karena memang, Ragna tak terlalu peduli dengan Sector Seven. Sejak awal, organisasi itu bukanlah prioritasnya. Namun, melihat kesungguhan dari para pengurus membuatnya tersadar akan nilai penting dari sebuah 'tim'. Ia tak mungkin lari begitu saja dari sebuah komitmen meskipun ia membenci komitmen itu sekalipun. Karena komitmen adalah perwujudan dari sebuah tanggung jawab dan kepercayaan.

Adalah tindakan seorang pengecut jika ia menyalahi komitmen itu.

Dan Ragna sungguh membenci seorang pengecut.

"Aku tak akan mengundurkan diri dari organisasi ini."

"Bloodedge..." Frase itu mengejutkan Ky. Ragna hanya menghunusnya dengan simpulan senyum tipis. Keputusannya sudah bulat.

"Aku bukanlah tipe orang yang terlalu peduli dengan aturan organisasi dan semacamnya. Namun, akan kutunjukkan konstribusiku dengan caraku sendiri. Dan akan kubuktikan pada si brengsek itu bahwa aku layak menjadi seorang Project Officer. Dengan begitu, mungkin ia bisa memberi perlakuan yang layak padaku. Aku pasti akan membantu kalian semua. Jangan khawatir."

Sebuah determinasi yang sangat kuat.

Ky memejamkan mata. Ia dapat melihat satu potensi besar yang ada di dalam diri Ragna. Junior itu menyimpan banyak kejutan yang tak terduga. Mungkin hanya dia...

Hanya dia yang bisa melapukkan kerasnya hati seorang Sol Badguy.

"Berjuanglah, Bloodedge. Tunjukkan bahwa kau mampu. Dukungan dan doaku akan selalu menyertaimu."

Dan Ky pun optimis. Bahwa Ragna pasti bisa melakukannya.


~SxR~


"Untuk apa kau datang kemari lagi? Apa kau ingin mengundurkan diri?"

"Tidak. Aku hanya ingin menyerahkan revisi pamflet yang kau minta."

"Apa?"

Sol sedikit terperanjat tatkala berlembar-lembar pamflet biru tampak diletakkan di atas mejanya. Dengan optimisme tinggi, Ragna menanti respon lanjutan. Project Manager itu tampak memperhatikan pamfletnya dengan seksama. Dan jika memang lagi-lagi Ragna menerima kritikan...

Maka pemuda itu akan berusaha menerimanya dengan lapang dada.

"Aku penuhi semua saranmu. Warna background yang kugunakan kali ini adalah biru. Aku memberikan sedikit sapuan gradasi berwarna merah di bagian ujungnya untuk menambahkan kesan 'berani'. Body-text yang kugunakan kali ini adalah tipe sans serif. Mengingat standar bacanya cukup tinggi dan bersahabat. Untuk rangkaian diksi persuasif yang ada di dalam pamflet... adik perempuankulah yang banyak membantuku untuk membuatnya. Ia sangat ahli di bidang sastra."

Rangkaian penjelasan itu tetap tak mampu membuat logika Sol percaya dengan betapa indahnya pamflet buatan Ragna. Pamflet itu sepuluh kali lipat lebih baik daripada sebelumnya. Nyaris mendekati sempurna. Dari berbagai efek yang digunakan di dalam latar pamflet, Sol dapat melihat bahwa Ragna sungguh sangat bekerja keras.

Pasti merupakan tantangan yang berat bagi mahasiswa Cookery-Culinary itu untuk mempelajari berbagai teknik desain komputer hanya dalam waktu sesingkat ini.

Namun, semua ini hanya membuat Sol semakin menaruh sebuah tanda tanya besar.

Sejatinya...

Apa motivasi terbesar Ragna untuk tetap bertahan di dalam Sector Seven?

"Kau mungkin bertanya-tanya, mengapa aku masih saja mau bekerja di bawah naunganmu. Setelah apa yang kau lakukan, akan wajar jikalau aku memutuskan untuk mengundurkan diri dari sini. Tapi tidak. Aku tidak akan pernah mengundurkan diri."

"Apa?" ucapan Ragna membuat Sol terbelalak. Seakan tersentak dengan hal itu, sang Project Manager yang dapat bungkam di saat pengakuan lanjutan terlontar dari mulut juniornya.

Sebuah pengakuan yang tak pernah Sol sangka sebelumnya.

"Aku tak akan mengundurkan diri sampai kau mau mengakuiku sebagai seorang Project Officer. Aku akan membuatmu berhenti merendahkanku. Dan aku yakin bahwa suatu saat nanti... kau pasti akan mau menerimaku Sol Badguy. Aku akan membuatmu 'membutuhkan eksistensiku'."

Hening.

Dua heterochromic itu menatap tajam, seolah ingin menggoyahkan kerasnya hati Sol dengan penuh determinasi. Ragna tak main-main dengan ucapannya. Ia tak akan pernah berhenti sampai tujuannya benar-benar tercapai. Ia percaya bahwa Sol kelak akan menerima kehadirannya.

Dan ia percaya bahwa kelak... Sol pasti akan sangat membutuhkannya.

Sungguh ajaib.

Pemuda brunet menyebalkan itu bisa menjadi pillar motivasi tertingginya. Ragna sendiri sungguh tak paham, mengapa semua itu bisa terjadi. Entah mengapa... mengharapkan pengakuan dari seorang Sol Badguy, seolah menjadi suatu prioritas khusus tersendiri di dalam hidupnya. Gumpalan obsesi, gejolak perasaan dan rasa ketertarikan itu...

Sejatinya berasal darimana?

Tersenyum.

Simpulan senyum ambigu lantas terlukis di paras Sol. Ragna mengerutkan dahi menatap itu. Sang Project Manager sepertinya sangat tertarik dengan tantangan juniornya. Selama ini, tak ada satupun orang yang berani mengguratkan tantangan seperti itu terhadap Sol. Dan baru kali ini...

Ada seseorang yang berhasil membuat Sol merasa... 'tertarik'.

"Ragna the Bloodedge..."

"H-Huh?" sebutir keringat tampak mengalir di samping kening Ragna tatkala Sol terus menatapnya sembari tersenyum. Ah, tidak. Kali ini senyuman itu berubah menjadi seringai. Sebuah seringai licik. Ini sungguh buruk. Ragna menelan ludahnya. Dan ia pun semakin cemas tatkala Sol mulai berucap.

"Apa yang membuatmu begitu tertarik dengan 'pengakuanku'? Apakah sebuah penilaian dariku begitu istimewa dan sangat berharga bagimu?"

"H-Hah!" paras Ragna kontan memerah. Frase yang diguratkan Sol seolah mengesankan bahwa Ragna sangat memuja Sol. Dan menatap geliat salah tingkah Ragna membuat Project Manager itu tertawa.

"D-Diam!"

Marah. Marah. Marah dan... malu.

Pemuda heterochromic itu benar-benar seakan mati kutu. Digigitnya bibir bawah itu sembari menunduk. Ragna semakin jengkel. Selain menyebalkan, ternyata Project Managernya itu juga sedikit memiliki rasa 'narsis'. Benar-benar memuakkan. Dengan kepalan tangan yang begitu erat, Ragna hanya dapat menggertak dengan suara yang cukup melengking.

"T-Tutup mulutmu! Jangan kau pikir bahwa aku menyukaimu! A-Aku membencimu! AKU MEMBENCIMU, BRENGSEK! GRAAAHHH! KAU MENYEBALKAN!"

"Ahahahahaha!"

Sungguh percuma.

Sol tak takut dengan gertakan itu dan justru semakin tertawa. Meskipun ia tak terlalu peka dengan keadaan seseorang, itu bukan berarti ia tak bisa membaca gerak-gerik seseorang. Membaca buku-buku psikologi merupakan hal yang akan dilakukan Sol untuk mengisi waktu luangnya. Jadi, wajar saja jika ia sangat paham dengan mekanisme persepsi Ragna.

Dari warna merah yang tak kunjung pudar di paras Ragna, Sol dapat menganalisa bahwa juniornya itu begitu malu dan sangat marah. Dan entah mengapa, ia begitu senang melihat tingkah aneh dari Project Officernya itu. Pemuda berambut putih itu terlihat lucu. Dan tak bisa dipungkiri juga bahwa Ragna terlihat begitu... manis.

Sepertinya...

Menggoda Ragna dan membuatnya malu akan menjadi hobi terbaru Sol untuk saat ini.

Oh, God... poor you, Ragna.

TBC


A/N: Hahahaha... Romancenya belum terlalu kental. I know! But don't worry. Next chapter, I'll make sure to show some hints between them. This is Drama/Romance anyway.

Thanks for reading! :)