Dalam hening kedua, mata itu masih saling beradu pandang. Terus berlanjut sampai salah satu dari mereka memilih memutuskan kontak dan lebih memilih melanjutkan kegiatan membaca. Tak berselang lama Luhan merasakan pundaknya di tepuk, lalu ia menoleh. Baekhyun. Segera ia melepaskan earphone nya dan meletakkannya di meja.
"Maaf, membuatmu menunggu lama. Tadi ada sedikit kendala hehe" Cengir Baekhyun.
Luhan hanya mengangguk. "Park Seonsaengnim, masih belum datang?" Tanya Baekhyun seraya duduk di samping Luhan. Luhan menggeleng tanpa mengalihkan pandangannya dari bukunya. Baekhyun hanya mengangguk tanda mengerti. Merasa sudah tidak ada pertanyaan yang dilontarkan Baekhyun, Luhan kembali melanjutkan membaca novelnya, sedangkan Baekhyun entah sejak kapan ditelinganya sudah bertengger manis sebuah earphone dan ia bersenandung kecil.
Tak berapa lama pintu ruang kesenian terbuka dan nampaklah Park Seonsaengnim berdiri dengan keadaan –bisa dibilang– berantakan. Maksudnya bukan berantakan dalam artian sesungguhnya. Berantakan dalam artian dahi berkeringat dan napas yang terengah-engah. Sepertinya ia habis berlari pikir Luhan. Setelah selesai menetralkan napasnya, Park Seonsaengnim segera merapikan dasinya dan melangkah masuk kedalam.
"Maaf, saya terlambat tadi ada sedikit masalah" Ujar Park Seonsaengnim kalem. "Baiklah mari kita mulai kelasnya" Lanjutnya.
…o0o…
Park Seonsaengnim melirik arlojinya, kemudian…
"Baiklah, pelajaran kita akhiri sampai disini" Setelah Park Seonsaengnim mengatakan itu, bel pun berbunyi. Semua siswa maupun siswi yang ada diruang kesenian segera merapikan perlengkapannya dan kembali ke kelas hanya sekedar untuk mengambil tas lalu segera pulang.
Setelah mengambil tasnya, Baekhyun dan Luhan berjalan beriringan menyusuri koridor. Kebetulan saat itu koridor dalam keadaan ramai.
"Lu, sepertinya aku tidak bisa pulang bersamamu" Ujar Baekhyun. Luhan menoleh dengan kening yang berkerut.
"Memangnya kenapa" Tanya Luhan kemudian.
"Aku ingin menjenguk nenek ku" Mendengar jawaban Baekhyun, Luhan hanya ber'oh' ria.
Baekhyun menghela napas pelan, lalu menolehkan kepanya menghadap Luhan.
"Serius Lu! Apa kau tak apa pulang sendiri?" Baekhyun menampilkan wajah khawatirnya.
"Hei! Aku sudah dewasa Baek!" Ujar Luhan, dengan bibir melengkung lucu.
"Hahaha okey-okey" Tawa Baekhyun.
Tak terasa obrolan mereka tetap berlanjut hingga mereka sampai ke pintu gerbang.
"Baiklah aku harus pergi sekarang" Ujar Baekhyun dengan tangan menunjuk kearah mobil hitam yang terparkir didepan gerbang. Luhan menolehkan pandangannya mengikuti arah tangan Baekhyun menunjuk. Setelah melihat mobil yang ditunjuk Baekhyun, Luhan mengangguk pelan. Kemudian menolehkan kepalanya menghadap Baekhyun seraya tersenyum.
"Baiklah. Sampai jumpa" Ujar Luhan seraya melambaikan tangannya. Melihat Baekhyun membalas lambaian tangannya. Luhan segera membalikkan badannya, berjalan menuju halte.
Luhan meronggoh sakunya dan mengeluarkan earphone nya lalu memasangkannya di telinganya. Saat sedang berjalan tenang matanya menangkap bayangan bis yang mulai menjauh. Bis yang akan membawanya pulang. Segera ia berlari mengejar bis tersebut. Namun terlambat! Bis nya sudah melaju menjauh darinya.
Luhan berhenti berlari, ia menghela napas lelah. Sia-sia saja ia berlari kencang pikirnya. Segera Luhan berjalan pelan kembali ke halte. Saat sampai halte ia segera melihat jadwal bis berikutnya. Ia menghela napas untuk yang kesekian kalinya, ia duduk diam dikursi halte. Bis berikutnya datang pada jam 19.30 KST. Sedangkan sekarang masih jam 18.55 KST itu artinya ia harus menunggu kurang lebih 30menit lagi.
"Apa aku harus menunggu lagi? Ini sudah lama sekali" Gerutu Luhan. Sekali lagi ia melirik arloji nya, pukul 19.15 KST. Ia meronggoh sakunya, mengeluarkan ponselnya ternyata ada banyak pesan dari ibunya. Segera ia balas pesan-pesan itu sebelum ibunya bertambah khawatir. Setelah mengetikkan pesan untuk ibunya Luhan kembali menatap jalan yang sepi di depannya.
Bosan hanya memperhatikan jalanan yang sepi kepalanya mulai menoleh ke kanan dan kiri berharap menemukan bis yang akan membawanya pulang. Lalu netranya menangkap sebuah motor sport mendekat kearah halte lalu berhenti tepat didepannya. Luhan yang melihat itu hanya terdiam dengan raut wajah bingung. Sampai sang pengendara membuka helm yang ia pakai, wajah luhan berubah terkejut. Bukankah pemuda ini yang menatap ku diruang kesenian? Pikir Luhan.
"Sedang apa sunbae disini?" Tanyanya.
"Ahh.. aku sedang menunggu bis" Ujar Luhan gugup.
"Sepertinya bisnya akan terlambat, bagaimana jika aku antar? Lagipula hari sudah malam tidak baik seorang perempuan pulang sendirian"
Luhan menggigit bibirnya pelan –begitulah jika ia sedang dalam pose berpikir- sampai satu desahan keluar dari bibirnya.
"Baiklah, tapi apa tidak merepotkanmu?" Tanya Luhan.
"Tidak. Kalau begitu naiklah" Tawar pemuda tadi. Dengan ragu Luhan mulai melangkahkan kakinya kearah motor pemuda tadi dan segera menaikinya dengan perlahan.
"Tolong pegangan sunbae aku tidak menjamin akan membawanya dengan pelan" Ujarnya.
Luhan hanya mengangguk. Awalnya hanya genggaman kecil di jaket pemuda itu, tapi seiring dengan kecepatan laju motor yang semakin cepat tangan Luhan sudah berganti alih menjadi memeluk pemuda tadi.
…o0o…
"Terima Kasih sudah mengantarku pulang, maaf merepotkanmu" Ujar Luhan seraya tersenyum manis.
"No Problem, lagi pula aku juga hanya sekedar lewat dan melihat sunbae di pemberhentian bis tadi"
"Okey, sepertinya aku harus kembali hari sudah semakin malam" Lanjutnya. Luhan yang mendengarnya hanya mengangguk pelan. Pemuda tersebut segera menyalakan motornya dan tidak lupa memaki helmnya. Belum sempat dirinya menjalankan motornya Luhan kembali memanggilnya.
" Hei, siapa Namamu?"
TBC
Huahhhhh terima kasih untuk yang sudah review di chap satu, maaf aku gak bias bales satu-satu hehe^^ responnya juga bagus-bagus. Sempet aku mikir di chap ini aku bakalan buat kalian semua bingung. Tapi pemikiran itu hilang entah kemana –gak penting- semoga gak ngecewain ya…
Udah ya cuap-cuap nya.
Last tolong tinggalkan jejak
