Warning : If you heading read this one first (My Ff) Please take your responsibility to leave a review then. Bashing, Criticism, Sarcasm di terima.

.

.

.

.

.

.

Kibum memasuki rumahnya dengan peluh yang membanjiri tubuhnya. Nafasnya masih terengah seusai lari pagi di sekitar kompleks tempat tinggalnya. Pemandangan menggiurkan seperti ini sudah tidak asing di rumahnya bersama pasangan hidupnya, di banding berlari di atas treadmill yang tak bisa merasakan segarnya udara pagi, Kibum selalu rutin bangun pagi buta untuk membasahi tubuhnya dengan keringat. Ia mengambil handuk kecil dan mengelap peluhnya di muka dan sekitar leher, mengalungkannya di lehernya seraya mengambil air putih kemasan di dalam lemari di atas dapurnya. Air dingin sulit di cerna tubuh maka dari itu Kibum tak pernah meminum air dingin. Kibum melepas kaosnya hingga ia kini bertelanjang dada lalu segera pergi ke kamar mandi di kamarnya bersama Kyuhyun. Ia sempat melirik jam dinding di kamarnya dan mendapati Kyuhyun sudah tidak ada di atas ranjang. Jam setengah tujuh pagi. Kyuhyun pasti sedang mandi. Ia kembali menutup kamarnya dan kembali menuju dapur. Ia melihat meja makan sebentar dan sudah ada kopi dan gula batunya di atas piring kecil di sana. Di piring lain terdapat roti tawar bersama selai cokelat dan susu untuk Kyuhyun. Kibum tersenyum. Meski Kyuhyun selalu tak acuh padanya, tetapi ia selalu menyediakan sarapan sederhana untuk mereka mengisi perut sebelum pergi bekerja.

Kibum keluar dari kamar mandi yang berada dekat dapur dengan mengenakan handuk putih yang hanya menutupi bagian bawahnya saja. Tubuh bagusnya terlihat masih di aliri oleh air mandinya yang jatuh dari helaian rambut hitamnya. Ia agak terkejut saat melihat punggung Kyuhyun yang sedang membuat sesuatu di dapur.

"Kyuhyun? Kau tidak sarapan terlebih dahulu? Apa kau sedang menungguku?" Kibum memeluk Kyuhyun dari belakang. Ia melihat apa yang sedang Kyuhyun lakukan melalui sela pundaknya. Kibum berharap bahwa Kyuhyun akan menjawab,'Ya, aku menunggumu. Mari kita sarapan bersama. Aku sedang membuat bekal untukmu.' Tetapi yang di terima Kibum hanyalah keheningan yang merasuk jiwa hingga ke sela-sela, meninggalkan luka. Namun, Kibum tetap memeluk Kyuhyun dari belakang. Meski tak ada penolakan dari Kyuhyun, Kibum masih berharap ia menerima afeksi yang Kyuhyun lupakan atau malah tak ada untuknya.

Kyuhyun menengok ke belakang dengan wajah datarnya. Kibum sudah tahu bekal itu di peruntukkan kepada siapa. Kibum tak akan meminta meski ia lah yang seharusnya menerima bekal yang Kyuhyun buat. Kibum tak menghiraukan tatapan tajam dari Kyuhyun. Ia mengecup leher Kyuhyun berniat untuk meninggalkan bekas merah juga di sana, tapi tak jadi. Ia mengerti Kyuhyun tak suka. Apalagi darinya yang adalah suami sahnya. Kibum memilih pergi melepaskan pelukan sepihaknya yang tak pernah Kyuhyun balas. Tanpa berucap apa-apa Kibum menaiki tangga menuju kamar mereka. Di tengah perjalanan, Kibum mencoba menarik napasnya yang terasa sesak. Sudah berkali-kali hal ini terjadi. Sudah beratus atau bahkan beribu yang jelas yang kesekian kalinya Kyuhyun tak mengacuhkannya. Kyuhyun selalu mendiamkannya seolah ia memiliki kesalahan yang tak termaafkan. Seolah mereka tak pernah memiliki kesempatan untuk berdamai dengan itu. Seolah hanya pihak Kibumlah yang harus di salahkan atas segalanya. Seolah tak ada kesempatan bagi Kibum untuk berada di sisi lain di hati Kyuhyun. Kibum terima jika Kyuhyun menyakitinya. Kibum terima jika Kyuhyun tak mengacuhkannya. Tapi Kibum jelas tak terima jika Kyuhyun pergi darinya. Apalagi bersama kakak kandungnya sendiri. Mereka tak boleh bersama. Tidak. Selama Kibum masih menghirup oksigen yang sama. Tidak, selama Kibum masih berada di bawah langit yang sama. Ia akan mempertahankan Kyuhyun meski dengan luka yang berdarah-darah berada di sisi Kyuhyun. Kyuhyun adalah cintanya. Meski Kyuhyun bukanlah tulang rusuknya yang hilang, Kyuhyun tetap mendapatkan tempat special di seluruh cintanya. Hanya itu alasan kenapa Kibum tetap bertahan meski ia lelah untuk menunggu balasan. Kibum mencintai Kyuhyun. Lebih dari apa pun.

Kibum mematut dirinya di depan cermin. Tampilannya sudah rapi dengan jas kantornya. Ia segera menyusul ke bawah dan menghabiskan kopi yang sudah mendingin. Sedingin rumah ini seperti hanya ia saja yang tinggal di dalamnya. Kibum menyapu pandangannya ke sekeliling rumah, pendengarannya di pasang lekat-lekat. Tak ada suara orang yang beraktivitas. Ia juga tak melihat Kyuhyunnya.

"Sudah pergi." Mendesah dengan keras kemudian. Segera setelah Kibum menghabiskan kopi dan rotinya, ia membawa peralatan makannya ke dapur. Meninggalkan semuanya di tempat cucian piring. Jika sempat, ia akan mencucinya nanti sepulang kerja. Ia memang tidak memiliki pembantu rumah tangga, Kyuhyun pernah bilang ia tak menyukai orang asing berada di rumah -Secara implisit, ia juga menunjuk pada Kibum-. Maka dari itu, mereka berdualah yang membersihkan rumah.

.

Siang itu Kibum pergi makan siang bersama kliennya di sebuah kafe yang sudah mereka tentukan. Kliennya ini adalah seorang wanita cantik pewaris perusahaan yang berada di China. Wanita itu mengenakan pakaian kekurangan bahan yang memamerkan bentuk tubuhnya. Mereka segera menduduki tempat yang sudah di pesan. Belum saja Kibum menduduki bangkunya, di tengah-tengah ruangan di antara meja itu, Kibum seketika mendongakkan kepalanya ke atas dan memejamkan matanya. Wajahnya mengeras. Setelah matanya terbuka, mata itu memerah. Menahan amarah sekaligus terluka. Di sana, di depan umum, di situasi yang ramai, Kibum melihat dengan jelas siapa yang tengah berciuman. Meski jarak mereka di halangi oleh sebuah meja. Siwon dan Kyuhyun tengah memagut bibir satu sama lain. Tak menghiraukan atau memang tak memiliki urat malu, di hadapan banyak orang mereka seolah hanya memiliki dunia mereka berdua.

Kibum tak bisa membiarkan mereka begitu saja. Tak ingin hanya diam saja. Cukup sudah hubungan mereka yang menyayat luka baru untuk Kibum. Kibum tak ingin dirinya sia-sia belaka. Menutup telinga dan menutup mata pura-pura tak mendengar dan melihat dengan kelakuan dua saudara sedarah ini yang salah satunya adalah pemilik hatinya selama ini.

Kibum melangkah dengan terburu ke arah dua saudara itu, "Tuan Kim. Tuan Kim! Anda mau pergi kemana? Tuan Kim!" Suara wanita keturunan China itu tak ia hiraukan. Yang menjadi fokusnya saat ini hanyalah Kyuhyun. Setelah tiba di hadapan mereka berdua yang tak menyadari aura Kibum, Kibum segera menarik kerah kemeja Siwon dan memukul wajahnya. Dua kali, tiga kali, hingga kejadiannya begitu cepat. Kyuhyun menarik pundak Kibum yang tengah memukuli Siwon, lalu gantian melayangkan satu pukulan ke wajah Kibum. Sangat keras mengingat Kyuhyun juga laki-laki, "Kenapa..."

"Kaulah yang kenapa!" Kyuhyun berteriak hingga terengah. Suasana kafe semakin ramai melihat kejadian seperti ini.

"Kau istriku. Kyuhyun!" Kibum berteriak padanya. Kyuhyun terkesiap, ini pertama kalinya Kibum berteriak padanya sejak ia mengenal Kibum. Kibum memegangi bekas pukulan Kyuhyun. Ia merasakan sesuatu mengalir ke arah dagunya. Darah. Bibirnya sobek. Kibum tersenyum miris.

"Kau lah yang hadir di antara kami brengsek." Siwon menyahut. Tapi ia tak membalas pukulan Kibum. Ia masih sadar mereka sedang berada dimana saat ini.

Kibum segera menarik Kyuhyun pergi dari sana, "Ms. Song, saya mohon maaf atas kejadian ini. Sebaiknya kita tunda dulu meeting kita." Kibum membungkuk ke arah kliennya yang berdiri kaku saat di depannya. Setelah Kibum berlalu bersama Kyuhyun yang memberontak di dalam genggamannya, seseorang di sana tersenyum. Entah apa arti senyum dari orang itu.

.

.

.

.

.

.

TBC.

Fi keasyikan baca manga sampe lupa nulis ff. Mangap ya nunggunya kelamaan. Ff lain fi usahain buat nulis.

Rnr please^^ makasih..

Yg udh terlanjur buka n baca, sempetin ngisi kotak ripiu donk... Fi akan sangat bahagia menerima respon dari kalian^^ See ya in the next ff or chapter.