Kau dapat merasakan daya tarik? Kau bisa merasakannya di antara kita? Mengambil alih melalui pikiran dan merasakannya.
.
.
.
"CAN YOU FEEL ME"
.
.
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
.
.
.
[Uchiha Sasuke & Uchiha Sakura]
[Slight SasoSaku]
.
.
.
Story © Hyuugadevit-Cherry
.
.
OOC, Typo(s),gaje ,bad fic, abal, plot rush, lebay, romantic, drama, etc.
.
.
If you Don't like, don't ever try to read
.
.
Enjoy Okey ^^
.
.
.
Suasana halte pagi ini lumayan berisik oleh para gadis. Hal ini diakibatkan adanya seorang pemuda yang tengah duduk dengan tenang di atas motor sportnya. Bagaimana tidak? pemuda itu sangat menarik perhatian. Rambutnya yang berwarna merah, paras yang tampan, tak lupa dengan kendaraan yang membuatnya semakin terlihat keren.
Pemuda itu menatap ke sekelilingnya. Ia tersenyum ramah pada orang- orang yang melihatnya. Hal ini justru semakin menambah kehebohan pagi ini.
Satu bus datang. Bus itu mengangkut banyak orang dan berhenti.
Menyadari seseorang yang sejak beberapa menit yang lalu ia tunggu turun dari bus tersebut, pemuda itu tersenyum sumringah.
Terlihat gadis berhelaian merah muda panjang, tak lupa wajahnya yang cantik menjadi pemandangan segar baginya. Ia lekas turun dari kendaraannya dan menghampiri gadis itu.
"Sakura" sapanya dengan nada tak sabar, terlihat sekali perasaan mendambanya.
"Sasori-kun" Sakura balas menyapa pemuda bernama Sasori.
Sasori Akasuna nama pemuda yang kini menggandeng tangan Sakura dan menuntunnya menuju motor sport. Mereka berdua menaiki motor tersebut dan setelah mengenakan helm, pemuda bernama Sasori itu mulai mengendarai motornya menuju sekolah yang mereka tuju.
"Kenapa aku harus menjemputmu di halte itu hm?" Tanya Sasori sedikit berteriak, suara jalanan pada pagi ini memang sangat ramai dengan kendaraan lain.
Gadis berhelaian merah itu merapatkan tubuhnya― melingkarkan tangannya di pinggang pemuda yang ia jadikan kekasihnya "Rumahku sangat jauh" balasnya "aku tak mau membuatmu kerepotan"
Sasori menggeleng- geleng kan kepalanya heran. Gadisnya ini benar- benar aneh. Ketika gadis lain mengajak kekasihnya berkunjung rumah mereka, lain hal nya dengan Sakura. Ia justru seperti menutup- nutupi mengenai keluarganya dan tidak begitu terbuka.
Setelah lima belas menit, mereka sampai di depan gerbang sekolah Sakura.
'Angsana Senior High School' itu adalah nama sekolah tempat Sakura menimba ilmu. Angsana Senior High School adalah sekolah khusus putri. Sedangkan Sasori sendiri menimba ilmu di sekolah khusus putra. Sekolah itu bernama 'Dongeon Senior High School'.
Jarak antara ASHS dan DSHS cukup dekat, hanya berbeda gerbang dan terpisah oleh benteng. Selain itu perlu kalian ingat, kedua sekolah itu terlihat sangat ketat. Tidak semua orang bisa masuk kedua sekolah tersebut dengan mudah.
Sakura turun dari motor. Ia membuka helmnya dan memberikannya pada pemuda yang kini menatapnya dengan senyum lembutnya.
Pemuda itu ikut turun dan berdiri di hadapannya. Ia meraih helaian merah muda gadisnya dan mencium helaian itu. Menyesap aroma cherry yang mengguar dari helaian gadisnya.
Siswi- siswi yang melihat pemandangan ini mulai berbisik- bisik. Beberapa diantara mereka terpekik melihat adegan romansa pagi. Sasori dan Sakura adalah pasangan terkenal di ASHS. Selain Sakura yang terkenal di ASHS, nama Sasori juga terkenal di sana.
Pemandangan ini sudah tidak aneh bagi mereka, tapi tetap saja mereka selalu berkomentar dan terpekik melihat adegan tersebut.
"Hentikan ini Sasori-kun mereka akan mulai bergosip lagi" kata Sakura sedikit menarik rambutnya. Sedang Sasori terkekeh geli.
"Mereka hanya iri" jawabnya acuh.
"Hei, kalian pikir gerbang ini tempat untuk bermesra- mesraan" teriak Temari― salah satu sahabat Sakura. Di belakangnya tiga gadis lain mengikutinya. Tenten, Karin dan Sara, mereka adalah sahabat Sakura.
Sasori tersenyum "Mereka sudah datang, sebaiknya aku berangkat" ucapnya. Sebelum benar- benar pergi, Sasori memeluk Sakura dan mengecup jidat lebar Sakura sayang.
Sedang ke empat gadis lainnya yang benar- benar menyaksikan hal itu langsung menutup matanya. Hei, ini adalah sarapan kalian setiap hari kan?
Sasuke memasuki gerbang 'Dongeon Senior High School' . Ia melangkah kan kakinya menuju kelasnya. Menjadi salah satu murid dengan pesona yang luar biasa, juga otak yang cerdas membuatnya terkenal di DSHS atau pun ASHS.
"Teme" panggil Naruto― salah satu teman dekatnya. Ia tidak pernah benar- benar dekat dengan orang lain sebenarnya. Ia bisa dekat dengan Naruto pun karena pemuda pirang itu yang terlebih dahulu mendekatinya.
"Aku dengar hari ini para sensei akan mengadakan rapat pleno" ujarnya menggebu- gebu.
Sasuke mengerutkan keningnya. Apa maksudnya?
"Pemilik yayasan mempunyai kebijakan lain" Sasuke menduduki bangkunya "Pilihannya adalah sekolah ini di bubarkan atau ya kau tahu lah"
DSHS memang terkenal dan masuk sekolah ini juga ketat. Tapi, jaman sekarang telah berubah. Banyak siswa yang mencari sekolah yang di dalamnya terdapat siswi juga. Bukan hanya itu, di Jepang― tepatnya Konoha, bahwa jumlah perempuan kini lebih mendominasi dari pada laki- laki.
Hal ini tentu saja menjadi dilema untuk DSHS. Apakah mereka akan gulung tikar saja? Tidak. Tidak. Mereka harus memiliki solusi yang baik. Sasuke tidak mau berpindah- pindah sekolah. Ia sangat buruk dalam hal bersosialisasi.
Pemuda dengan tiga tanda pada masing- masing pipinya itu mulai mengoceh kembali―
"Ehh, ehh, ku dengar kau berkencan lagi dengan salah satu siswa ASHS" Naruto kembali bertanya "Apakah itu benar ehh?"
"Hn" jawab Sasuke cuek.
"Kin Yoshioda kah?" Sasuke tidak menjawabnya.
Pemuda itu hanya menyeringai.
Siapapun gadis yang ia inginkan selalu ia dapatkan. Dan hubungan yang ia jalin tentu saja memiliki maksudnya sendiri. Baik dengan Azula, Yugao, Guren, Hinata, Matsuri, serta sederet nama gadis terkenal di ASHS yang ia jadikan pacar. Dan sekarang adalah Kin.
Pemuda berambut emo ini memiliki kriteria tersendiri dalam menentukan gadis yang pantas untuk menjadi kekasihnya. Seorang gadis dengan rambut gelap, terkenal dan tidak banyak bicara. Jangan tanya paras mereka. Tentu saja harus cantik.
Namun, ia memiliki satu rahasia. Rahasia yang hanya ia dan para gadis itu ketahui.
Sakura tidak tahu bahwa di tahun ketiganya ini, ia akan mendapatkan masalah. Ia memang terkenal bukan hanya dari fisik, tapi juga dari prestasi. Saat ia belajar, Shizune-sensei memanggilnya.
Jangan lupakan bahwa Shizune- sensei adalah guru bagian konseling. Guru yang menangani anak- anak yang bermasalah.
Ia mengira- ngira, apa ia melakukan suatu kesalahan? Apa ia berbuat jahat? Apa tadi pagi ada sensei yang melihat kekasihnya yang memeluk dan mencium jidatnya di depan gerbang?
Tapi ia tidak merasa melakukan kesalahan. Kejadian tadi pagi dengan kekasihnya adalah hal wajar kan? Lagi pula, jika memang ia di panggil karena masalah itu― kenapa tidak sejak kelas satu saja? Saat pertama kali ia dan Sasori menjalin hubungan.
Gadis itu menggeleng kan kepalanya. Jangan berpikiran yang aneh- aneh Sakura, mungkin saja Shizune- sensei ada perlu lain dengan mu.
Setelah mengetuk pintu dan mendengar kata 'masuk', Sakura segera memasuki ruangan. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah Shizune- sensei yang tersenyum ke arahnya.
"Ikutlah dengan ku Sakura- chan" tanpa bertanya lagi Sakura lekas mengikuti senseinya.
Saat ini Sakura dan Shizune sedang perjalanan menuju DSHS. Sakura merasa semakin takut jika salah satu dugaannya tadi mengenai sasaran. Karena DSHS adalah tempat pemuda yang menjadi pacarnya sekolah.
Berbagai macam pikiran negatif menghinggapinya. Bagaimana jika ia dipaksa untuk mempraktek kan adegan tadi pagi di depan para sensei? Bagaimana jika ia dan pacarnya dikawinkan secara paksa?
Sakura bergidik ngeri.
Ia menekuk wajah serta menggigit bibirnya untuk mengurangi rasa gugupnya. Kedua tangannya saling bertautan, saling meremas satu sama lain.
Bibirnya kini komat- kamit, berdo'a semoga Kami-sama menyelamatkannya dari berbagai drama yang ada di pikirannya.
Shizune yang menyadari kegelisahaan Sakura tersenyum dan mulai membuka suara― "Kau tidak bertanya untuk apa kita kemari?"
― Mereka telah sampai di DSHS dan berjalan memasuki kawasan ruangan- ruangan kelas.
Gadis berhelaian merah muda itu menoleh "U- untuk apa kita kemari sensei? Apa aku melakukan kesalahan?" Tanyanya sedikit gusar.
Para siswa DSHS yang melihat gadis berhelaian merah muda dengan wajah serta penampilan yang luar biasa mulai berbaris melihat dan mulai mengeluarkan kata- kata menggoda. Sakura sendiri tetap menunduk kan kepalanya, berjalan mengikuti sensei nya dan menunggu jawabannya.
"Kau akan tahu nanti"Tuh kan tidak ada jawaban! Shizune hanya terkekeh melihat Sakura dan tingkah para pemuda yang terus menggoda Sakura.
Haus akan wanita ehh?
Setelah berjalan melewati aula, Shizune dan Sakura memasuki satu ruangan yang lumayan besar. Ini adalah ruangan rapat. Pikir Sakura.
Seorang pria yang seumuran dengan Shizune menghampiri mereka berdua dan mempersilahkan kedua perempuan ini untuk duduk.
Mereka berdua menduduki tempat duduk yang telah di sediakan.
"Terimakasih sudah mau menghadiri rapat yang beberapa menit lagi akan dilaksanakan" ucap pria bernama Kakashi dengan rambut yang keabuan.
"Hari ini kita akan mengadakan rapat besar- besaran" pria berambut keabuan itu memulainya "Sekolah kami kekurangan murid dan kepala sekolah kami sepakat akan menyatukan ASHS dan DSHS"
Shizune mengangguk kan kepalanya "Aku sudah mendengarnya dari kepala sekolah" suara ketukan tangannya pada meja menjadi pengiring dalam pembicaraan ini "dan kedatangan kami memang untuk itu"
Kakashi tersenyum.
Mata hitamnya kini teralih pada gadis berhelaian merah muda dengan mata emerlad yang mampu menghipnotis siapapun untuk tunduk pada pesonanya.
"Ini gadis yang akan mewakili?" Tanyanya.
"Ya, dia adalah siswi terbaik di kelas ASHS"
"Menarik" ia tersenyum samar "kecantikannya sungguh natural" puji Kakashi.
"A- arigatou" ungkap Sakura; tak lupa ia memberikan senyum terbaiknya.
"Aaa― sebentar lagi kau akan bertemu dengan teman mu sebagai perwakilan kami" mendengar pembicaraan ini rasanya Sakura ingin kabur saja.
Meski semua dugaan awal yang ia pikirkan salah, tetap saja. Jika Sasori yang jadi perwakilan sekolah ini― ia akan lebih banyak menghabiskan lagi waktu dengan pemuda itu.
Dan ia akan merasa terbatasi. Ini menyebalkan!
Ini adalah jam pertama di DSHS. Sasuke selalu memasang mode seriusnya dalam belajar. Ia memperhatikan berbagai penjelasan dari Asuma-sensei yang kini berdiri di depan kelas― menjelaskan materi mengenai geometri.
Menurutnya tidak ada yang sulit, semua mata pelajaran kelas tiga hanya mengulang. Dan Sasuke sudah menguasainya sejak awal.
―TUK TUK TUK
Ketukan pada pintu kelas membuat Asuma-sensei menghentikan penjelasannya. Ia menghampiri salah satu sensei yang tengah piket.
"Sasuke Uchiha" Asuma-sensei mulai memanggil "kau dipanggil Kakashi di ruagan rapat. Sekarang juga!"
Sasuke bangkit dari duduknya. Ia bertanya- tanya untuk apa ia dipanggil. Tapi ia tidak terlalu peduli. Pemuda bermata onyx ini merasa tidak pernah melakukan kesalahan.
Ia memperkirakan mungkin ia dipanggil untuk mengikuti olimpiade yang akan diselenggarakan beberapa bulan lagi. Tapi, ia berada di tingkat akhir? Harusnya yang lebih muda diberikan kesempatan bukan? Atau mungkin ia akan ditawari beasiswa untuk masuk universitas?
Ah, masa bodoh! Apapun itu pastinya sesuatu yang menguntungkan ku.
Percaya diri seorang Uchiha memang setinggi langit. Tapi sesungguhnya mereka juga memiliki kelemahan yang tidak semua orang tahu.
Ia terus berjalan melewati koridor- koridor yang akan menghubungkannya dengan ruangan Kakashi berada.
Setelah beberapa langkah lagi Sasuke sampai menuju pintu ruang rapat―
DHEG DHEG
―Sasuke merasakan dadanya berdetak tak karuan.
Sial! Ada apa ini? Kenapa tiba- tiba berdetak lebih cepat dari biasanya? Seolah ia telah berlari berpuluh- puluh kilo meter tanpa henti.
Ia juga merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya. Sesuatu yang sungguh ia tidak mengerti.
Setelah mengetuk pintu dan mendengar kata 'masuk'― Sasuke segera membuka pintu tersebut.
―CKLEK
Saat ia memasuki ruangan― ia melihat Kakashi- sensei bersama dua orang perempuan.
Mendengar pintu terbuka, Kakashi lekas menoleh. Melihat murid yang sejak tadi ia tunggu datang― pria yang memiliki karang di dagunya itu tersenyum sampai kedua matanya menyipit.
Seorang perempuan seumuran dengan senseinya juga tersenyum lebar melihat kedatangan Sasuke.
Sedang seorang gadis berhelaian merah muda itu menunduk kan kepalanya. Salah satu tangannya memegang kerah bajunya.
Ada apa ini? Kenapa? Kenapa ?
Pemuda Uchiha ini terus bertanya- tanya pada dirinya sendiri. Ia juga seolah ingin melakukan hal yang sama dengan gadis itu ― mencengkram kuat- kuat dadanya. Tapi, harga dirinya terlampau tinggi untuk melakukan hal itu.
Mungkinah gadis itu merasakan sesuatu yang sama?
Ia berjalan kembali, menghampiri ketiga orang yang kini tengah duduk. Kedua orang dewasa itu berdiri dan wanita yang seumuran sensei nya memperkenalkan dirinya dengan nama Shizune seorang sensei di ASHS.
"Sakura, berdirilah dan perkenalkan dirimu dengan pemuda ini" perintah Shizune.
Mendengar namanya dipanggil, Sakura yang tengah menunduk dan merasakan debaran jantungnya mencoba menyampingkan perasaan yang terus seolah menyiksanya.
Ia mulai berdiri.
Ketika ia mengangkat wajahnya― pemandangan yang ia lihat adalah seorang pemuda dengan mata onyx yang tajam dan rambutnya yang mencuat.
Saat kedua mata mereka bersibobrok― debaran itupun semakin cepat. Kedua manusia ini merasakannya.
― DHEG DHEG
Kami-sama, mereka benar- benar merasakan aliran yang mereka rasa aneh dalam diri mereka.
Saat merasa debaran itu semakin menggila dan mata yang semakin menyedot perhatiannya― Sakura lekas menggenggam kembali baju bagian dadanya.
"Berjabat tanganlah" perintah Kakashi yang mulai bosan dengan saling tatapnya kedua anak manusia ini.
Perlahan tapi pasti― mereka berdua saling mengulurkan tangan mereka dan berjabat tangan.
―DHEG
Debaran itu semakin kuat. Sasuke merasakan aliran listrik yang menariknya. Seolah pikirannya di ambil alih, ia merasa tak ingin melepaskan tangan yang kini ia genggam.
Sasuke melihat gadis merah muda itu kembali mencengkram dadanya. Apa yang terjadi? Apakah ia juga merasakannya? Tapi―kenapa?
"Sasuke Uchiha"
"Sakura Haruno"
Kemudian mereka berdua melepaskan jabatan tangan mereka, yang entah mengapa mereka berdua merasa sesak dan tak suka.
Sial! Perasaan apa ini?
"Sakura kau baik- baik saja?" Tanya Shizune-sensei.
Gadis itu menggeleng "Tidak" Sungguh Sakura tak dapat menyembunyikan lagi perasaannya "aku tidak baik- baik saja, sensei" jawabnya jujur.
Sasuke melebarkan matanya seperkian detik. Saat gadis lain merasakan sesuatu yang aneh― mereka cenderung akan menutupi perasaan mereka. Sedang gadis itu justru mengatakan yang sesungguhnya?
Benar- benar― kejujurannya membuat sesuatu dalam diriku menggebu hanya untuk suatu hal yang biasa seperti ini? Ini benar- benar gila!
"Baiklah, kalian bisa duduk" kata Kakashi "sebentar lagi akan dimulai rapatnya, Haruno-chan ini minum mu"
"Aku rasa kau tegang untuk rapat ini. Tenang saja, ini hanya sebentar" ucap Shizune menenangkan siswinya.
Sakura hanya bisa mengangguk pasrah.
Bukan. Bukan itu!
Pada akhirnya mereka berdua harus menahan suatu perasaan yang mereka tidak pahami untuk waktu yang lama dan ― hey, kau tahu? Ini sangat melelahkan!
Kami-sama, apa ini? Kenapa seolah aku sangat mengenalnya? Kenapa aku merasakan daya tarik di antara kami? Pikiran dan perasaan ini sangat aneh bagiku.
.
.
.
.
.
―TBC―
A/N:
Ehehe ini ko aneh ya ? Aneh ga sih minna-san? Chap kemarin ada kesalahan, jadi umur Sakura sama Sasuke itu sekitar 17 tahunan :D gomen gomen T.T Btw, apakah minna-san pernah merasakan hal yang sama seperti SasuSaku disini? Pertama kali ketemu tapi udah bisa menarik perhatian kita seutuhnya? Membuat jantung kita berdetak 'tidak normal'?
Semoga Minna-san bisa merasakan feel yang berusaha dhe-chan sampaikan yaa ^^
Sankyuu buat Fav, foll dan berbagai bentuk dukungan yang minna-san berikan .. dhe-chan bahagia dan semangat lanjutkan fic ini ^^
.
Special thank's for:
Sofi asat, uchiha Nazura, Respitasari, DeShadyLady, xolovnanr, zarachan, Laifa, desyparamitha26, rimaku, DaunIlalangKuning.
.
Sorry for typo and miss typo T.T sekali lagi― Arigatou gozaimashu and See u yaa ^^
