Dengusan mengudara, Aomine Daiki melayangkan tatapan malasnya ke sembarang arah. Kepalanya tertopang pada kepalan tangan di atas lututnya yang menekuk. Gelas berisi soda di dekat kakinya terabaikan begitu saja. Suasana hatinya buruk, baru saja terkena hukuman dari wali kelas berisiknya karena melupakan tugasnya minggu lalu dan berakhir dikeluarkan dari kelas.
Seperti Aomine perduli saja.
Justru menjadi kesempatan bagus untuknya berleha-leha. Dan beginilah Aomine menikmati dua jam pelajaran dengan hukuman tidak boleh mengikuti kelas. Duduk bersandar di bangku sudut yang sedikit tersembunyi dekat halaman utama sekolah. Tepat bersisian dengan sebuah koridor panjang menuju gedung utara.
Kedua netra nilanya menelisir, mencoba mencari pemandangan menarik. Siapa tahu Haizaki Shougo tukang ribut sedang ditinju seniornya Nijimura Shuuzou karena berulah. Sudah rahasia umum. Aomine sendiri kadang gatal ingin meninju Haizaki yang tingkah membuat ulahnya juara seantero sekolah.
Itu hanya sekelumit kehidupan SMA, mau Akademi Teiko seelit apapun juga tetaplah sebuah sekolah.
Langkah dipacu rusuh terdengar di telinga. Menggulirkan pandang hanya untuk menemukan pemuda lusuh yang berlari menggerutu di sepanjang koridor terujung tempat kafetaria berada. Alis Aomine naik sekian mili, menyadari adanya guratan panik di wajah berpeluh si pemuda coklat juga bibirnya yang bergerak macam menyumpah serapahi seseorang.
Sumpah, tidak ada yang menarik. Aomine baru mau mengumpati pemandangan jelek barusan begitu kerlingannya menangkap tanda unik yang melekati seragam pemuda itu. Simbolik segitiga sama sisi dengan garis-garis horizontal yang membagi tinggi spasi ruang yang ada secara merata. Terletak tepat di saku kiri.
Tanda khusus siswa yang tergabung dalam kelas 'Permainan Kasta'. Benar-benar rahasia umum walau Aomine sendiri tak cukup acuh.
Ada senyuman asimetris yang timbul pada wajah Aomine. Diambilnya sebuah kartu remi yang sejak tadi hanya jadi bulan-bulanan sepatunya tanpa berniat benar mau diapakan. Toh hanya kesengajaan saja Aomine menemukannya. Ada sebuah ide jail tersentil di otaknya. Mengisi sedikit kebosanan sepertinya tak masalah.
"Oi!" Aomine berseru, tepat saat pemuda yang dikatakannya lusuh nyaris melewati punggungnya. Ada sentakan kejut yang berhasil Aomine tangkap dari gerakan gagapnya. "Kau mencari ini?" lanjutnya dengan dua jemari yang menjepit kartu dalam posisi terbalik menurut sudut pandang pemuda yang ditanyainya.
"AH!" Ada pekikan yang datang. Aomine malah menyeringai, dugaannya benar. Siklus permainan apalah itu dimulai. Derapan kilat sedetik sudah menjadikan pemuda itu berada di depannya. Aomine sampai berkedip menyadarinya. "I-itu… mi-milikmu?"
Aomine mengernyit heran. Ingin tertawa keras kemudian, mengetahui betapa pemuda di depannya ini menyedihkan. Melihat gelagatnya sudah dipastikan jelas olehnya bahwa pemuda ini penakut bahkan hanya untuk bicara lancar saja dia kesusahan. Bukan berarti Aomine tak peka bahwa nafas pemuda itu masih tersengal, tapi lihat tubuhnya yang bergetar hebat dengan kedua mata yang dinyalangkan kemana-mana.
"A-ano.."
"Tidak juga," Aomine menyelanya. "Aku tidak butuh benda tidak berguna ini."
Binaran polos yang mencerah tertangkap indera biru Aomine. Jadi memang benar rumor yang beredar kalau siswa dalam Permainan Kasta cenderung anomali jika permainan itu dimulai. Lihat saja betapa pemuda itu memperlihatkan kegembiraan begitu Aomine menyatakan kartu itu belum berpemilik. Padahal itu tak lebih dari selembar kartu remi saja.
Ide usilnya berkembang jadi lebih kurang ajar.
"Be-benarkah?" Aomine mengangguk saja. "Jadi benar itu BUKAN milikmu?" Kedipan heran datang. Wow, bahkan bicaranya jadi begitu lancar dan penuh tekanan. "Ma-maafkan aku…" meski berakhir menggelikan juga begitu si pelontar pertanyaan sadar.
"Ya, ini bukan milikku."
"Ja-err, begini … boleh aku … ehm-memintanya?"
Rupanya memelas, wajahnya sudah terlihat lusuh, berikut nadanya yang memohon walau ada selipan ragu. Sudah sewajarnya mendapatkan sebuah empati yang besar. Sayang, Aomine itu sejenis manusia anomali juga jadilah justru seringaian senang yang ada. Memberikan visual tampang ingin membuat ulah pula.
"Boleh saja." sahutan Aomine bergulir santai. Diberi helaan lega tak juga berhasil membenarkan otak Aomine yang terlanjur berencana sialan. "Tapi ada syaratnya."
Yah… memang bermain sebentar sepertinya tidak masalah.
.
.
.
Exclusive Game
by Rinfuka
Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
Caste Haven © Ogawa Chise
.
AkashixFurihata-AkaFuri's Fanfiction
.
Warning: AU-AR, Shounen-ai/BoysxBoys, kemungkinan OOC apalagi typos, dan tolong jangan memaksakan membaca jika tidak berkenan karena saya sudah memperingatkan.
.
.
Chapter 1
Opportunity
0~o~0
Furihata masih ingat salah satu makanan yang begitu enak. Makanan rumah buatan ibunya. Tidak terlampau mewah, terbilang sederhana malah. Sup tahu namanya. Berkuah kaldu kental dengan aroma khas yang enak, tekstur halus tahunya juga menggugah. Furihata selalu bersyukur bisa memakan itu, walau tidak setiap hari juga.
Hidupnya tak begitu berkecukupan, bisa makan tiga kali sehari saja sudah cukup. Furihata tak mengeluh, ia mensyukuri semuanya. Setidaknya hidup dalam limpahan kasih sayang begitu menyenangkan meski kondisi keuangan tak cukup memadai.
Memiliki seorang saudara yang kini sibuk bekerja membantu biaya sekolah. Seorang ayah yang telah berpulang dan keadaan ibunya yang kian menua mampu menjadikan Furihata lebih mandiri dari anak seusianya.
Menjadi pandai, memperoleh sebanyak mungkin prestasi membanggakan. Sekedar itu saja yang Furihata usahakan untuk membahagiakan keluarganya. Bagaimanapun ia sadar, usianya belum cukup guna memaksakan diri berfokus bekerja menghasilkan uang. Tidak ingin terlalu merepotkan kakak lelakinya, Furihata berusaha keras mengejar beasiswa. Memang benar ia tak cerdas dari lahirnya, setidaknya ia mau berusaha menjadi lebih cerdas dari anak-anak lainnya.
Waktunya habis untuk belajar, Furihata tidak menyesal. Bukti nyata dimana ia diterima di sebuah sekolah elit lewat jalur beasiswa penuh cukup membayar waktu bermainnya yang tersita. Menyadari posisi lebih dari apa pun Furihata berusaha tidak kebanyakan bertingkah. Cukup berlaku selayaknya anak seusia, menjadi patuh pada ibu dan kakaknya. Berusaha dengan caranya membantu dengan memperoleh prestasi.
Sesederhana itu saja kehidupannya.
Sayang, terkadang selalu saja ada satu dua hal yang lumayan mengoyak alur yang dibuat manusia. Mau sepandai apa pun dia, terlebih untuk Furihata yang hidup berusaha menjadi biasa saja.
Memang tidak ada yang janggal sejak Furihata dapat bersekolah di Akademi Teiko. Semuanya kurang lebih beriring dengan bayangannya. Termasuk soal lingkungan yang pasti memiliki sisi mendiskriminasi. Dimana pun, tidak hanya untuk sekolah elit yang juga menampung siswa beasiswa terlebih dengan latar belakang sosial yang berbeda, selalu saja ada pihak yang bertindak mengucilkan dan dikucilkan.
Furihata selalu mempersiapkan diri jika menjadi bagian terkucil begitu memasuki lingkungan baru nanti. Memang, tak terpungkiri bagaimana lirikan penuh arogansi meremehkan itu menuju dirinya. Berupaya tak perduli, Furihata tak pernah berusaha terlihat mencolok mata apalagi cari gara-gara jadilah masa sekolahnya setahun terakhir cukup tentram.
Tidak juga awalnya. Furihata ingat benar.
Gedung barat, lantai ketiga, ujung koridor keempat. Satu kelas khusus yang setiap semesternya selalu terlihat mencolok mata dari sekian deretan kelas yang ada di Akademi Teiko.
Furihata tercenung melihat bagaimana pertama kalinya gurat-gurat gelisah siswa-siswa yang di awal terus menguarkan aura meremehkan untuknya tampak. Tepat ketika seorang wali kelas yang memperkenalkan diri bernama Imayoshi Shouichi menjelaskan singkat adanya sebuah permainan kecil di kelas mereka.
Imayoshi berkata permainan itu sederhana. Penentuan kasta namanya. Sebelum istirahat siang berakhir mereka harus menemukan sebuah kartu remi yang disembunyikan di lingkungan sekolah dan membawanya kembali ke kelas. Setiap kartu yang ditemukan akan menentukan urutan kasta siswa sesuai dengan angka yang ada berdasarkan susunan penguasa dalam permainan remi. Semakin tinggi angkanya maka semakin tinggi pula kasta mereka.
Yang tertinggi adalah Raja, diwaliki dengan kartu King. Dan yang terendah adalah Target diwakilkan dengan kartu Joker. Dimana seorang Raja dikatakan boleh menguasai seluruh isi kelas bagaimana pun perilakunya, sedangkan Joker merupakan target tindasan karena posisinya yang terbawah.
Dalam konteks dimana mereka yang berkuasa sudah tentu bisa bertindak seenaknya, menjadikan mereka berambisi mendapatkan kartu King.
Meski susunannya pasti berubah setiap semester begitu permainan tak masuk akal itu dimulai lagi. Setidaknya hal itu cukup menjadi kesempatan besar untuk menjadi penguasa di permainan selanjutnya. Cukup sebuah alasan, melihat betapa mengerikan tingkat penindasan yang para penguasa dapat lakukan.
Imayoshi bahkan menambahkan dengan inosennya bahwa pihak luar tidak ada sangkut pautnya dengan apapun yang terjadi dalam kelas ini kecuali masalah pembelajaran sekolah. Mau guru atau kepala sekolah sekalipun tidak mempunyai hak untuk mengganggu jalannya permainan kasta itu selama satu semester penuh.
Juga tidak ada persyaratan khusus selain mereka yang berada dalam kelas itu diwajibkan mengikuti permainan ini jika tak ingin menjadi target. Satu pengecualian lainnya untuk menjadi target selain menemukan kartu Joker.
Mengetahui adanya permainan aneh yang sejujurnya dapat juga menguntungkan tidak berarti menjadikan Furihata tidak membuat tanda tanya besar dalam kepala. Khusus untuk sebuah kelas yang rasanya jadi titik janggal pertama Akademi Teiko.
Tak dapat dicegah, Furihata melongo bodoh begitu saja. Menangkap jelas apa-apa saja yang dikatakan guru berkacamata yang senang sekali menyeringai itu membuatnya merasa sedang tidur siang dan bermimpi yang bukan-bukan.
Yang tentu saja tidak.
Tidak habis pikir bagaimana mungkin sekolah sebaik Akademi Teiko mencetuskan sebuah permainan yang ironisnya tak pantas disebut permainan untuk satu kelas mereka. Membiarkan sebuah bentuk kompetisi untuk menjadi penguasa lantas bersikap menindas mereka yang terbawah.
Furihata terlampau hanyut pada pemikirannya ketika kelasnya nyaris kosong. Berlari ribut saling sikut adu cepat. Telat menyadari bahwa dirinya menjadi yang terakhir meninggalkan kelas dengan bayangan ekor mata Imayoshi yang meliriknya.
Persis seperti yang dialaminya sekarang.
Mengutuk dan menyumpahi walinya yang bertampang memesona tapi berlidah bisa tak mungkin memperbaiki hari terbilang menyulitkan sejak pagi datang. Belum lagi kadar letihnya yang merangkak mencapai puncak karena tak sengaja berurusan dengan pemuda merah.
Sungguh, Furihata hanya ingin istirahat. Kepalanya sudah terlalu pening, tubuhnya juga sudah melemas. Tapi demi permainan sialan yang sekali dalam hitungan waktu hidupnya merupakan hal pertama yang dikutuknya Furihata harus menemukan satu saja kartu remi yang ditebar sepenjuru sekolah.
Bukan kartu target tentu saja. Kalau bisa.
Sumpah, tidak tahukah Imayoshi bahwa sekolah sebegitu luasnya untuk ditelusuri? Furihata sudah terlampau megap-megap menyusur setiap sudut tempat dengan mata menyelusur kemana-mana belum lagi refleknya yang beringsut sembunyi setiap kali melihat ada rekan sekelasnya yang bertambang galak tengah kesal melewatinya.
Kepalanya nyaris menubruk jatuh jikalau tak ada seruan malas mengagetkan. Menoleh sontak, Furihata berjengkit kaget melihat sembulan kepala dengan rambut berwarna biru juga netra sewarna tengah meliriknya.
Fokusnya seketika beralih begitu melihat selipan kartu yang dikutuknya berulang kali sepanjang jalan tengah tersemat rapi diantara kedua jarinya. Suaranya santai berujar, "Kau mencari ini?"
Termagu dengan sorot penuh menitik kartu yang entah sengaja atau tidak, posisinya tak menunjukan jelas sisi angka–yang merupakan wakil dari kasta sialan untuk kelasnya.
"AH!" Furihata sadar baru saja memekik, itu reflek. "I-itu… mi-milikmu?" lanjutnya mengecilkan suara. Cukup mengerti sopan Furihata tahu suaranya tadi terlalu keras.
Pemuda itu mengernyit sekilas lantas terbahak entah mengapa. Furihata tak menyembunyikan raut bingungnya mendapati tingkah pemuda itu. Dari kilatan manik birunya Furihata bisa melihat sorot remeh darinya. Furihata meringis nyeri meski sudah biasa.
"A-ano…" karenanya Furihata memutuskan bicara duluan.
"Tidak juga," Ia menyela. "Aku tidak butuh benda tidak berguna ini."
Furihata kontak menegapkan tubuh. Berjalan secepat yang Furihata bisa untuk berdiri di hadapannya. Romannya mencerah, berdoa dalam hati semoga saja ini termasuk keberuntungan.
Kalau bisa.
"Be-benarkah?" ucapnya meragu, ingat kembali perdebatannya dengan si pemuda merah. Siapa tahu juga nasibnya nanti serupa. Furihata nyaris pasrah, sudah lelah. Tapi anggukan yang meresponnya cukup membuat Furihata merasa senang. "Jadi benar itu BUKAN milikmu?"
Oh… suaranya jadi begitu lancar dan penuh tekanan. Furihata sampai kaget, merasa tak enak lagi. "Ma-maafkan aku…"
"Ya, ini bukan milikku."
Ada deru semangat yang muncul. Furihata konstan berdoa dalam hati. Gugup juga takut keadaan nanti tak semudah yang terbayang. Mau bagaimana lagi, setidaknya Furihata berusaha bertanya. "Ja-err, begini… boleh aku… ehm-memintanya?"
"Boleh saja." sahutannya bergulir santai. Helaan lega Furihata mengudara. Sudah ingin berjingkrak senang karena setidaknya tubuhnya bisa beristirahat. Walau itu terlalu awal mengingat entah angka berapa yang ada pada kartu itu. "Tapi ada syaratnya."
Untaian kata lanjutan itu sukses membuat Furihata mematung kaku.
Ahh, jadi benar. Memang bukan keberuntungan semata.
Furihata meringis lagi. Mengurut dahi, berupaya mempersabar diri. Otaknya langsung bekerja membuat prediksi. Terlebih Furihata tak tahu jelas syarat macam apa yang melintas di otak pemuda dim ini. Apa pun dapat terjadi dan Furihata sudah hampir mati–dalam kiasan diksi.
"… syarat a-apa?" kendati demikian Furihata masih juga bicara. Mungkin saja tidak serumit apa pun yang barusan terlintas di otaknya. Sekedar membesarkan hati saja.
"Apa yang menurutmu pantas dijadikan pertukaran untuk selembar kertas yang dapat menjamin hidupmu satu semester ke depan?"
Furihata tercenung. Benar-benar tidak mungkin berjalan mudah demi melihat seringai yang terlukis di wajah pemuda rupawan. Justru hening yang ada. Furihata hanya sedang memikirkan berbagai kemungkinan.
"Oi, aku bisa memberikan ini pada yang lainnya jika kau tidak mau." Kerdikan bahu datang. Pemuda itu sudah menyelipkan si kartu sialan ke dalam saku seragamnya. "Kalau kau tak berniat memilikinya."
"Angka berapa?"
Ia menaikan sebelah alis. "Huh?"
"Kartu itu berangka berapa?"
Si pemuda terkekeh. "Buat dulu kesepakatan denganku, baru kuberitahu."
"Eh? Ke-kenapa begitu?"
Furihata mengacak helaian coklatnya kesal. Itu tidak adil, Furihata jelas sadar. Hasilnya tak mungkin seimbang jika kartu yang pemuda dim bawa itu bahkan tak memiliki angka tinggi dimana kastanya pasti lebih baik di kelas nanti. Belum lagi syarat yang Furihata yakini tak jauh-jauh dari dirinya yang diperbudak.
"Aku tidak bodoh dengan membiarkanmu mengetahui angkanya." Seringai menang itu ingin sekali Furihata hajar. "Kau pikir aku tidak tahu pikiran busukmu yang pasti bersikap tidak membutuhkan jika saja kartu ini berangka kecil. Jangan picik! Pertaruhan tidak akan seru jika begitu, kau tahu."
Jangan picik katanya? Pikiran busuk? Furihata mengerang murka. Yang licik di sini siapa sebenarnya?!
Furihata nyaris melarikan kakinya untuk menendang brutal pemuda kurang terang yang secara ajaib berhasil menyulut emosinya. Masa bodoh mau dia anak orang kaya sekali pun. Sumpah, Furihata sudah berusaha bersikap sebaik mungkin menghadapinya kendati fisiknya tengah menjerit minta istirahat yang sudah pasti membuat emosinya kian meluap-luap jika merasa sensitif sedikit saja.
Furihata mendengus keras. Berupaya menurunkan emosi berikut memperpanjang urat sabar. Wajahnya yang sempat berekspresi terhina melunak. Berucap kemudian. "Tolong… tidak bisakah kau memberikan itu padaku secara cuma-cuma?"
Ada perbedaan cukup besar di kala Furihata tengah dilanda kesal. Bicaranya selalu jauh lebih lancar seolah aura bernada intimidasi paling mutakhir pun tak mempengaruhi. Hal yang justru tidak disadari pemiliknya sendiri.
Yang justru disadari si lawan bicara. Ada sunggingan senyum miring di wajah setelahnya.
"Jangan membuatku tertawa." Berkata begitupun ia justru tertawa keras, mengejek pastinya. "Tidak ada yang gratis di dunia ini, tidak kau tahu itu?"
Satu tatapan lurus. Furihata jelas tahu. Mungkin kalimat itu lebih patut ditujukan untuk si penanya sendiri. Sayang, batas sabar Furihata itu berlebihan kadang.
"Iya, tentu saja." Furihata menjawab. Mengalihkan pandangannya yang seolah menerawang. "Sayangnya aku juga tidak punya apa-apa. Kau lihat sendiri, aku hanya siswa biasa di sini. Terlalu biasa malah." Perkataannya melirih di akhir.
Hanya sadar diri tak pula memaksakan diri. Sekedar mengakui.
Tentu saja pemuda itu tidak buta untuk melihat betapa lusuhnya Furihata. Keadaan seragamnya yang begitu biasa meski tetap bersih kecuali noda kecoklatan di bagian depannya. Yah, kejadiannya menubruk rerumputan demi sebuah kartu yang berakhir jadi perdebatan yang telak mengalahkannya tak mungkin Furihata koarkan kemana-mana.
"Uang bukan segalanya," decihan kesal yang tertangkap indera Furihata terasa ganjil. "Ada yang jauh lebih menyenangkan dari itu. Jadi, kau mau atau tidak?"
Furihata menggigit bibirnya. Memutar banyak skema kemungkinan di kepala.
Terlalu beresiko. Itu kesimpulan yang muncul di otaknya.
Dua kemungkinan yang ada berakibat pada dua kondisi berbeda. Bisa jadi menguntungkan, bisa jadi bencana.
Memang, itu wajar terlebih untuk menguji sebuah peruntungan. Tapi Furihata sudah terlampau nyaman berada dalam zona aman yang berusaha keras dibuatnya. Mengurangi resiko sebesar mungkin di sekolah ini adalah yang jadi niatannya sejak awal. Kalau bisa tak perlu mendapati masalah sampai kelulusan.
Itu saja.
Dan sekarang, keadaan ini jelas menjengkelkan. Memilih menuruti sebuah kesepakatan yang berujung pada dua cabang keadaan.
–Satu. Jika si kartu menunjuk angkat rendah–atau malah kartu target, siapa yang tahu kecuali si pemuda dim sendiri–Furihata yakin bukan hanya sekelas yang menjadikannya bulan-bulanan. Pemuda berambut biru itupun bisa jadi ikut memperbudaknya.
–Dua. Andaikata keberuntungan masih begitu menyayangi nasibnya, meski hari ini sungguh tak bisa dikatakan hari menyenangkan dengan menunjukan kartu berangka tinggi. Sungguh, Furihata tak berharap muluk dengan mendapati itu kartu King, kecil kemungkinan dirinya jadi target penindasan rekan sekelas.
Yang jadi masalah hanya satu. Persyaratan yang diajukan pemuda biru itu nanti. Furihata belum berani bertanya sebelum memikirkan benar segala resikonya. Dan kini kepalanya makin dilanda pening berkepanjangan.
"Menunggumu bicara membuatku mengantuk." Uapan bersuara besar membuyarkan Furihata yang termenung. "Tinggal jawab mau atau tidak, kau membuatnya terlihat rumit."
Furihata menatap sangsi. "Tolong jangan berkata begitu. Ini sulit untukku pribadi. Tekanan dari permainan sialan ini … kau yang tidak termasuk di dalamnya mana mungkin mengerti."
Pemuda itu tak merespon. Melihat dari tingkahnya yang tenang dan berfokus penuh sudah cukup menunjukan bahwa ucapan Furihata didengar.
"Maaf.., aku tidak bermaksud."
Ada gugup yang muncul. Furihata melukis senyum ganjil, menyadari pembicaraannya barusan tidak perlu dibawa ke permukaan. Siapa yang tahu kalau tiba-tiba pemuda di hadapannya itu justru menghajarnya karena berkata kurang sopan–untuk ukuran anak tidak terima alasan misalnya–apalagi wajahnya yang di rasa pantas jadi preman sekolah.
Dan lagi, siapa juga yang sudi perduli pada nasib anak beasiswa sepertinya di lingkungan serba berkecukupan begini?
Denting nyaring terdengar sepenjuru sekolah. Tanda istirahat siang berkumandang. Furihata yang semula ingin kembali buka suara demi menyelamatkan dirinya dari kemungkinan kena bogem mentah justru mematung.
Matanya membola. Mulutnya menganga. Waktunya nyaris habis.
"Wah… kau kehabisan waktu." Senyuman miring terlukis, Furihata miris. Jemari itu mengambil kembali kartu yang terselip di sakunya. Dengan posisi yang tak juga menguntungkan Furihata untuk melihat angkanya. "Sekali lagi. Kau mau atau tidak?"
Furihata tahu waktu berpacu. Karena itu tubuhnya sontak membungkuk. Rutukannya menggaung lugu. "Terima kasih atas tawaranmu, aku menolak. Masih sedikit waktu sebelum seluruh rekan-rekanku masuk ke kelas jadi aku akan mencoba mencarinya lagi."
"Jadi itu keputusanmu? Baiklah." responnya cepat, terkesan tak ambil perduli. Meski sorot bulatan biru itu belum beranjak dari fokusnya ke pemuda kuyu. "Ya terserahlah… aku Aomine Daiki. Sampai bertemu lagi di lain waktu kalau begitu." imbuhnya seraya melangkah menjauh sambil mengibaskan tangan. "Semoga kondisimu tak selusuh seperti sekarang Furihata Kouki."
Deraian tawa pecah. Furihata hanya melongo. Darimana pemuda dim–Aomine itu tahu namanya?
Yang terpenting, bukan itu keadaan gentingnya.
.
.
.
Lagi-lagi Furihata harus berlari mengejar waktu. Terkadang Furihata bingung harus bersyukur atau sebaliknya. Mendapati kondisi tubuhnya yang meski sudah diambang batas masih sanggup dipaksa sedemikian rupa membuat Furihata ingin tertawa keras saking mirisnya. Ahh, mungkin ini kelebihannya.
Satu tolehan ke kanan rupanya bisa juga berakibat fatal ketika kondisi koridor sedang banyak orang. Sebuah tubrukan keras menerpanya. Furihata mengaduh kecil begitu sadar tubuhnya sudah jatuh terduduk.
Dahinya nyeri luar biasa terlebih lagi pantatnya. Tidak ingat adanya pilar menghadang tapi sudah jatuh karena menabrak. Furihata ingin menghilang saking malunya. Lagipula ini menarik perhatian.
"Hieee~ maibou-chin terjatuh."
Furihata yang semula mengatupkan mata sambil mengusap dahinya yang berdenyut sakit kini mengerjapkan mata. Nyaris menjerit melihat sesosok tubuh besar menjulang, mengira itu titan. Salah menduga. Ternyata bukan pilar yang ditabraknya tapi manusia, meski sempat diragukan juga.
"E-eh?! Ma-maaf … maafkan aku…" lantas meracau sendiri melihat mimik sedih yang dibalut sorotan sayu yang malas. Yang secara ajaib Furihata simpulkan tidak cocok dengan perawakan tubuhnya. "A-aku … ti-tidak ... sengaja, sungguh!"
Katupan tangan, rupa memelas. Sumpah, Furihata harus lebih bersabar menghadapi kejadian tak terduga. Takut-takut melirik sosok pemuda tinggi yang tidak merespon ungkapan maafnya. Takut setengah mati terkena pukulan, apalagi keadaannya sedang mendesak.
Satu gurat kesal berikut sorot manik ungunya yang mengerling Furihata bagai mencincang. Belum lagi penampilannya yang begitu fantastis dengan rambut sebahu berwarna ungu. Furihata sampai gemetar, tapi merasa janggal juga.
"Tapi itu maibou-chin terakhir~" justru rajukan yang datang.
Ternyata benar rasa janggalnya.
Tidak tahu harus tertawa atau menangis Furihata tak lebih dari mengukir senyuman bingung. Berwajah sebegitu mengerikan tak begitu berdampak jika ucapan yang lolos dari bibirnya justru bernada merajuk.
"Eh? Begitu?" Bingung harus bagaimana, sekalipun Furihata merasa tak enak tapi sepertinya bukan telak dirinya yang salah di sini. "Jadi … ma-mau … bagaimana?"
"Maibou-chin~"
Tidak ada sahutan. Sekedar rajukan yang membuat Furihata ingin tertawa hambar. Melihat tingkah aneh pemuda yang justru berjongkok meratapi sedih makanan ringan yang kini berserak sekitar kaki cukup mendapati respon Furihata yang berkedip lugu.
Tolehan dengan bibirnya yang mengerucut. Juga sorot lavendernya yang sendu lantas menggurat wajah memelas kembali si raksasa ungu berucap pelan. "Nanti aku kelaparan, maibou-chin sudah tidak boleh di makan jika sudah terjatuh. Begitu kata Aka-chin."
Furihata sweatdrop. Perasaannya saja atau memang kesan bicara pemuda bongsor itu macam anak TK yang menurut pada mama tercinta?
Tolong, Furihata tidak mengerti lagi. Baru selesai urusannya dengan pemuda yang menawarkan kesepakatan berkedok memanfaatkan kini Furihata sudah harus berhadapan dengan pemuda bongsor seumuran yang justru tingkahnya longsor ke tingkah anak seusia enam tahunan.
Hahaha … biarkan Furihata tertawa miris saja.
"Oh! Bagaimana jika membeli makanan ringan lainnya?" tawar Furihata seraya tersenyum canggung demi melihat aneka tatapan yang mengarah pada mereka berdua.
Tidak enak hati membuat pemuda itu bersedih juga mungkin kelaparan. Dan terlebih lagi berwajah sedih serupa dengan korban busung lapar. Sumpah, bohong besar.
"Benarkah?" binaran antusias, Furihata dihipnotis untuk mengangguk. "Ayo kalau begitu!"
Terlambat sadar hal krusial Furihata sudah kepalang diseret menuju kafetaria.
.
.
.
Bunyi benturan keras dahi dengan meja tak mengurangi bising yang timbul sepenjuru ruang. Suara timpang tindih tak menjadikan Furihata sudi perduli pada kondisi dahinya yang kini memar karena baru saja dibenturkan sembarangan ke permukaan meja.
Terlalu letih, itu saja. Kelopaknya sudah menurun sempurna. Nafasnya masih sesekali tersengal juga keringatnya yang masih membulir di sekitar pelipis. Tak ingin ambil pusing Furihata hanya ingin mengistirahatkan diri.
Terima kasih sekali lagi pada hari melelahkan ini.
Pula tidak ingin mengurusi sekian hal yang terjadi, Furihata tak sudi berpikir berlebih. Sekedar ingin membiarkan jiwanya menenang selagi bisa, selagi ada kesempatan. Tak berlangsung sampai satu hari juga, Furihata sadar benar.
Kembali ke kelas dengan tenaga terkuras, hasil yang tak sesuai ekspetasi awal–meski tak muluk juga, dan konsekuensi yang pasti datang. Furihata sudah pasrah.
Toh menikmati waktu tenang selagi mampu tak mungkin Furihata biarkan berlalu sia-sia. Karena setelah ini harinya pasti jauh berbeda, mempersiapkan mental sebaik baja saja yang Furihata usahakan. Tawaan miris mengilu ulu hatinya.
Bunyi lirih tertangkap inderanya. Perutnya dilanda nyeri. Furihata tersenyum mafhum, lupa belum memasok nutrisi. Lagipula sudah krisis, dihabisi si manusia titan ungu untuk membeli snak ganti rugi.
Usapan wajah sesekali.
"Eh, Furi-chan?" Mengusahakan senyum teruntuk manusia sekelas yang sudi menyadari presensinya, Furihata membuka sedikit matanya. "Kau terlihat pucat, persis zombie. Apa kartumu jelek?"
Kadang menyumpahi Takao Kazunari yang berkata seenaknya tidak pelak memperbaiki kondisi. Karenanya Furihata hanya bergumam sekilas sebelum mengatupkan mata kembali. Melambaikan tangan sekilas pertanda dirinya baik meski bebunyian nyaring dari perutnya kian menjadi.
Takao tergelak prihatin. "Istirahatlah~~ kalau bisa besok tidak usah masuk dulu saja." Tepukan ringan mendarat di mejanya. "Persiapkan diri saja, kau pasti bisa menang juara maraton jika ikut pekan olahraga akhir semester nanti. Percaya saja."
Furihata terkekeh saja. Tahu benar maksud baik Takao yang memberi wejangan sebagai mantan 'target' sialan. Seperti yang seharusnya hanya dengan melihat kondisi lusuh tak bertenaga terlebih kedatangan Furihata yang bukannya menyerahkan kartu pada wali kelas mereka justru langsung menubruk kursinya di belakang dan membaringkan kepala, Takao sudah menduga hasil yang di dapat rekan coklatnya.
Membiarkan Furihata melepaskan lelah hingga berlayar ke alam mimpi–yang didoakan baik oleh Takao pribadi–pemuda bersurai hitam itu melenggang keluar kelas. Meninggalkan jejak prihatinnya pada bisikan semangat untuk Furihata.
Manik hitam keabuan Takao mengerling sudut merah brilian yang tak sengaja tertangkap. Lantas timbul kernyitan pada dahinya, merasa asing pada pemuda yang tengah berjalan berlainan arah dengannya. Justru menambah tingkah herannya karena memasuki teritori kelas mereka yang nyaris terisolasi dari siswa Teiko lainnya. Langkahnya sontak terhenti, membalik tubuh untuk melihat sebentar si murid asing barusan yang begitu leluasa tengah berbincang dengan Imayoshi.
Jeda panjang tanpa hal mencurigakan. Takao sudah mengerdikan bahu tidak ingin perduli sebelum timbul rasa penasaran tinggi tak kala seringai Imayoshi justru melebar seusai mereka berbincang.
Bunyi hening mengisi kekosongan waktu yang Takao gunakan untuk membenarkan otaknya yang dirasa berspekulasi macam-macam ketika celetukan seringan angin terlontar berikut tudingan telunjuk yang mengarah bebas pada rekan coklatnya yang baru saja terlelap tenang.
"Kartu ini harus jadi miliknya." tangan lainnya menyerahkan sebuah kartu pada wali tampan mereka. Kerlingan penuh makna tak luput dari mata Takao yang mampu melihat lebih jelas dari kebanyakan orang. "Bisa 'kan Sensei?"
Imayoshi terangguk mengerti dengan senyum–seringai menurut Takao. Bergumam boleh yang tidak lagi jadi perhatian si pemuda belah tengah. Takao menyunggingkan senyum prihatin lebih tulus dari sebelumnya sembari berdoa sepenuh hati demi kelangsungan hidup rekannya.
"Semoga kau baik-baik saja, Furi-chan."
.
.
.
a/n:
Halooo~~ akhirnya saya dapat ide juga, hahaha. Derita ketika WB melanda itu kampret kuadrat, kerja lama cuma buat dapet satu paragraph sementara draft fic tertimbun dramatis X"DD #nangis dan voila~~ ini akhirnya kelar juga, hahaha~
Duh, makasih banyak buat yang minta ini lanjut padahal saya cuma berniat iseng X"DD. Hohoho, insipirasi yang datang dari Caste Haven itu sih asli karena saya suka sama ini manga yang beneran hahahaha tapi ampuun baru kebaca smpe chap 6 doank XD #slap
Maaf sekali tidak bisa membalas satu demi satu review dengar kadar koneksi yang naik turun tapi sumpah saya seneng bacanya, serasa jadi nutrisi. Dan terima kasih juga buat yang ngefav, follow fic ini (~^0^)~
Bersedia review lagi? ^^
Sankyuu,
_rinfu
