The Fake Father

Chapter 2: Hukuman

Disclaimer: Punya Fujimaki Tadatoshi

Rated: M

Genre: Mature, Tragedy, angst

Pairing: AkaFEMKoro

Warning: GENDER BENDER, AU, mengandung typo tak terduga, OOC maybe, Multichap, LEMON, phedofil detected, no yaoi, dll

Summary:

Awalanya Tetsuya merasa menjadi manusia yang paling beruntung di dunia. Di usianya ke-14 tahun akhirnya ada seorang duda 28 tahun, tampan, dan kaya raya bersedia mengadopsinya . Ayah angkatnya itu begitu baik dan menyayangi Tetsuya sepenuh hati dan memberikan apapun yang Tetsuya inginkan. Tetsuya pun begitu menyayangi ayah angkatnya. Namun semua itu hanya berjalan 8 bulan saja. Dan selanjutnya pria yang dianganggap seperti ayah kandungnya sendiri bah malaikat yang telah memberi kebahagian yang begitu sempurna, malah berbalik menghancurkan semua harapan, impian, kebahagian, dan seluruh hidupnya.

ANAK DIBAWAH 18 Tahun HARAP JANGAN MEMBACA!

Don't Like, Don't Read!

Disebuah kamar remang-remang. Dimana cahaya matahari terhalang masuk oleh sebuah tirai bergradasi abu abu. Sumber cahaya hanya berasal dari sela-sela fentilasi berukuran kecil. Suasana suram lantas menguar begitu saja saat memasuki kamar yang hanya ada ranjang tidur berukuran queen size dan meja kayu yang sudah usang disebelah ranjang. Suasana kamar itu semakin diperparah dengan aura penuh bahaya dari sesosok pria bersurai merah. Air wajahnya menunjukan ketenangan, namun serat akan amarah yang terkendali dengan apik. Sorot manik heterokrom tersirat tajam seakan mampu menguliti objek sasaranya hingga ketulang.

Sedangkan si objek melangkah mundur dengan gelisah, berusaha menjauh dari sang pria dewasa itu. Keadaanya jauh dari baik-baik saja, seluruh tubuhnya gemetar hebat. Wajah manis yang biasanya hanya manampilakan ekspresi datar. Kini ia mampu menampilkan ekspresi yang luar biasa. Luar biasa takut. Luar biasa gelisah. Keringat dingin membanjiri pelipisnya. Ia menahan denyut jantungnya yang berpacu, namun itu hanya membuat bunyi denyut jantungnya semakin terdengar jelas olehnya.

" A-ayah Sei," panggilnya lirih hingga menyerupai cicitan.

Sedangkan pria yang dipanggil ayah tadi masih tetap dengan tatapan dingin yang menusuk. Pria dewasa itu malah melangkah maju mendekati si gadis muda.

"Su-sungguh ayah Sei, Kise buakn pacarku. Ka-kami tidak pacaran," Ungkap gadis berusia 14 tahun itu dengan suara gemetar.

"Tetapi bukankah kau menyukai si model pirang itu, sayang?" Si ayah menghentikan langkahnya.

Si gadis bersurai beby blue itu pun berhenti. Ia menelan salivanya kelu, saat mendengar perkataan ayahnya barusan. Serasa tenggorokanya dijepit dengan kuat. Seketika itu pula tubuhnya meremang. Perasan takut dan bersalah pun bercampur dan bergulat dalam hatinya.

"Ayah benci pembohong. Bukan itu saja, Tetsuya sudah melanggar perintah ayah—"

"Dan Tetsuya tahukan, kalau pemboong harus mendapat hukuman?" Tambahnya disertai senyum meremehkan pria berusia 28 tahun itu.

"Ampun ayah Sei, Tetsuya minta maaf. Jangan hukum Tetsuya." Tetsuya berlutut memohon pada Akashi dewasa.

Tetsuya merangkak mendekati ayah angkatnya, dan memeluk kakinya. Wajah manis Tetsuya sudah lembab akan air mata. Sungguh Tetsuya merasa sangat bersalah telah mengabaikan perintah ayah tercintanya. Ia merasa seperti anak durhaka terhadap ayahnya yang telah memberikan kasih sayang penuh kepada dirinya—sesuatu yang dulu sangat ia dambakan. Namun, kini ia telah membuat orang yang telah bersedia mengadopsinya itu kecewa. Dirinya memang anak tidak berguna, anak tidak tahu diri.

Duakh!

"Akhh!" pekik Tetsuya.

Tubuhnya terhempas menabrak piggiran ranjang kayu dengan lumayan keras. Tetsuya merintih memegangi punggunya. Setengah shock dengan apa yang baru saja ayahnya lakukan padanya. Sesaat setelah menendang anak gadisnya, Akashi Seijuurou berjongkok didepan anaknya. Dan tiba-tiba si surai merah itu mencengkram kedua pipi Tetsuya dengan kuat. Manik beriris gold-scarletnya berkilat tajam menyiratkan amarah yang begitu besar. Wajah tampanya berubah menjadi sangat dingin.

"Bagaiman rasanya, sayang?!" Seijuurou mendekati wajah ayu anaknya sembari menyesapi aroma vanilla yang menguar dari tubuhnya.

Liquid sudah terkumpul siap tumpah dari sudut manik baby-blue yang senada dengan surai lurus sebahunya. Cengkraman kuat dari tangan kekar Seijuurou itu makin menambah penderitaan Tetsuya. Rasa sakitnya tidak main-main.

"Ang—hun… ayah, akh!" Tetsuya memohon belas kasih dari ayahnya.

Tetsuya membelakan mata bulatnya lebar, saat tiba-tiba Seijuurou mencium bibirnya. Tidak, ini bukan ciuman biasa. Seijuurou melumat bibir lembut anaknya dengan penuh nafsu. Tetsuya yang sadar akan perbuatan ayahnya segera mendorona-dorong dada bidang ayahnya yang terbalut kemeja hitam lengkap dengan dasi warna senada. Namun tentu saja tenaga Tetsuya tidak mampu menandingi tenaga Seijuurou yang jauh lebih kuat darinya. Dorongan itu berubah menjadi pukulan bertubi-tubi saat Seijuurou semakin berutal melumat bibir selembut marshmellow dan semanis krim vanilla itu. Merasa terganggu dengan ulah anaknya, Seijuurou terpaksa mengakhiri ciuman panas mereka. Ia lalu menahan kedua pergelangan tangan Tetsuya di pinggiran ranjang.

"Ayah ingin Tetsuya menjadi anak manis. Jangan pernah menentang ayah!" Perintah Seijuurou mutlak. Seijuurou mendekatkan wajahnya ke Tetsuya. Namun Tetsuya segera memalingkan wajahnya.

"Jadi begitu. Tetsuya mau menjadi anak bandel, hm?" Bisik Seijuurou seduktif.

Bukan itu saja Seijuurou memainkan lidahnya di daun telinga anak angkatnya. Tetsuya mengedikkan bahunya dan berusaha menjauh. Namun percuma tanganya ditahan dan kakinya dihimpit oleh kedua paha ayahnya.

"Ku mohon jangan lakukan ini ayah," Tetsuya kembali memelas.

"Sayangnya ayah menolak…" Disesapinya paras manis Tetsuya.

"Ayah sudah tidak sabar ingin mencicipi tubuh anak gadisku yang manis ini," Tambahnya disertai seringai mengerikan.

Ayahnya sudah gila.

Ini tidak benar, pikir Tetsuya.

Tetsuya meronta hebat. Ia menggerakan seluruh tubuhnya. Apapun itu, dirinya harus melepaskan diri dari ayahnya sekarang juga.

"Lepaskan Tetsuya, ayah. Tetsuya tidah mau diperkosa Huaa!…" Tangis Tetsuya pecah seketika.

Rasa takut kembali menghinggapi Tetsuya.

"Bagus, sayang! Ekspresimu semakin manis jika seperti itu."

Melihat Tetsuya yang tengah menagis membuat nafsu Seijuurou semakin menggebu-gebu—tidak sabar untuk segera menikmati tubuh anaknya.

Seijuurou menarik pergelangan tangan kanan Tetsuya ke arah miliknya yang sudah 'bangun'. Dibimbingnya tangan Tetsuya untuk mengelus-elus 'kebanggaanya'. Tetsuya merasakan sesuatu seperti gundukan daging yang keras dan hangat. Namun, Tetsuya masih tidak mengerti apa yang sedang ayahnya lakukan.

"Kau tahu ini apa sayang?"

Tetsuya yang masih tidak mengerti hanya memandang bingung ayahnya.

"Ini adalah kemaluan Pria. Namanya penis, sayang."

Tetsuya teringat beberapa minggu yang lalu ia sudah mempelajari bab biologi tentang organ tubuh manusia, termasuk organ vital. Tapi Tetsuya tidak menyangka organ vital pria dewasa itu bisa sebesar ini. Tersadar dari otaknya yang mulai berpikir yang aneh-aneh. Tetsuya segera menarik tanganya, namun langsung ditahan oleh Seijuurou untuk tetap mengelu-elus gundukan besar miliknya. Spontan Tetsuya meninju gundukan itu dengan tangan kirinya yang lengah dari cengkraman Seijuurou.

"Arghhh!"

Seketika Seijuuuro tumbang dan melepaskan kungkungnnya terhadap Tetsuya. Si surai beby blue itu tidak membuang kesempatan. Ia segera berlari menuju satu satunya pintu di kamar itu.

Sial!

Celakanya pintu itu terkunci. Tetsuya menoleh ke arah Seijuurou yang masih berguling-guling merintih kesakitan sembari memegangi area vitalnya. Tetsuya kembali berlari menuju jendela dan menyibak tirai jendela, berharap ia dapat keluar dari ruangan yang tidak lebih baik dari sarang iblis. Namun sial, jendelanya dipasangi teralis besi. Tetsuya terkejut saat tangan kekar ayahnya sudah menangkap kedua tanganya. Lalu ayahnya membuka baju seragam sekolahnya dengan paksa, hingga bajunya robek. Tidak tinggal diam, Tetsuya terus melakukan perlawanan. Meski pada akhirnya ia tetap tak sanggup melawan kekuatan ayahnya.

Seijuurou mengangkat pergelangan tangan Tetsuya ke atas kepalanya.

"Dasar anak nakal!" desis Seijuurou.

Kemudian Seijuurou menarik dasinya, lalu diikatnya pergelangan tangan Tetsuya ke sela-sela trails jendela. Namun sedikit sulit karena Tetsuya terus meronta tidak mau diam.

'Plakk!'

Seijuurou menampar pipi mulus Tetsuya dengan cukup kuat. Air mata Tetsuya kembali tumpah menahan perih di pipi kanannya. Selesai mengikat tangan Tetsuya, ia mengelus lembut bekas tamparanya di pipi Tetsuya yang memerah memar.

"Sudah ayah bilang Tetsuya tidak boleh melawan, tapi sayangnya Tetsuya keras kepala. Karena itu, Tetsuya harus dihukum!" Seijuurou mengangkat sudut bibirnya.

"A-ampun ayah. Tetsuya minta maaf."

Seijuurou mengacuhkan cicitan anak gadisnya itu. Ia sibuk melecuti pakaian Tetsuya. Dirobeknya semua kain yang masih membungkus tubuh Tetsuya dengan pisau curter yang ia bawa sebelum memasuki kamar tersebut.

"Kalau Tetsuya tidak mau terluka, sebaiknya jangan banyak bergerak!" Titah Seijuurou.

Tetsuya hanya diam, menuruti perintah Seijuurou. Lebih tepatnya hanya itulah yang bisa Tetsuya lakukan sekarang. Tenaganya sudah terkuras sia-sia tadi, namun inilah kenyataan yang didapatinya.

Manik heterokrom Seijuurou meneliti tubuh Tetsuya dari atas ke bawah. Menikmati suguhan pemandangan yang begitu menakjubkan. Ia memandangi lekat-lekat tubuh putih nyaris menyerupai susu dan mulus tanpa cacat yang sangat menggoda birahinya. Usia Tetsuya memang baru 14 tahun. Namun tubuhnya sangat indah sebagai remaja ditambah parasnya yang manis. Meski putingnya tidak terlalu besar, namun justru menurut Seijuurou itu terlihat menggemaskan. Jangan salahkan dia, jika Seijuurou lebih tertarik dengan tubuh gadis balia, dibanding perempuan dewasa. Bukankah kecantikan dan kemolekan tubuh Tetsuya terlihat sangat alami dan juga menggemaskan untuk segera disantap?.

Seijuurou merasakan celananya semakin sesak. Ia melepas ikat pinggangnya dan menanggalkan kemejanya, kemudian dilemparnya asal-asalan. Melihat tubuh Seijuurou half –naked dengan otot-otot kekar membuat kadar ferromon Tetsuya meningkat. Menyebabkan munculnya semburat merah di pipi Tetsuya. Tetsuya buru-buru menundukan wajahnya karena takut melihat tatapan lapar Seijuurou.

Kemudian Seijuurou memeluk tubuh anaknya itu. Dan menggesek-gesekan tubuh atletisya dengan tubuh Tetsuya. Seijuurou memejamkan matanya menikmati rangsangan yang ia dapatkan dari gundukan menggemaskan milik Tetsuya pada dada bidang miliknya. Tetsuya hanya pasrah menangis dalam diam menerima perlakuan bejat ayah angkatnya itu. Bibir Tetsuya kembali dikunci oleh Seijuurou. Seijuurou kembali menyatukan bibirnya dengan bibit Tetsuya. Dilumatnya dengan kasar dan menuntut. Menerobos pertahanan Tetsuya dengan mudah. Lalu menginvasi rongga hangat itu dengan brutal. Tetsuya menggerak-gerakan kepalanya kiri-kanan berusaha menghentikan permainan lidah yang didominasi Seijuurou. Namun kepalanya ditahan tangan Seijuurou yang bebas. Tetsuya masih melakukan perlawanan. Ia menggerak-gerakan seluruh tubuhnya . Selain itu, Tetsuya mulai kehabisan pasokan oksigan. Akan tetapi, Seijuurou malah semakin memperdalam ciuman mereka. Semakin lama Seijuurou semakin bernafsu melumati bibir anaknya yang seperti candu baginya. Seijuurou mentrasfer salivanya disela-sela ciuman untuk ditelan oleh anaknya. Tetsuya hanya bisa pasrah menelan saliva ayahnya dengan terselip rasa jijik. Berbanding terbalik dengan Seijuuro yang tampak menikmati pergulatan lidah mereka. Tetsuya justru nyaris mencapai batas. Paru-parunya sudah sesak. Secara tiba-tiba Tetsuya menggigit bibir bawah ayahnya dengan sangat kuat hingga berdarah.

"Arghh… anak sialan!"

Seijuurou memekik memegangi bibirnya yang berdarah karna ulah Tetsuya. Spontan Seijuurou menjauh dari tubuh Tetsuya. Menahan perih bibir bawahnya. Saat itulah Seijuurou melihat ikat pinggangnya. Ditariknya sudut bibirnya, kemudian menatap tubuh Tetsuya— pandanganya serat sinyal bahaya. Tetsuya segera mengerti maksud Seijuurou dan kembali meronta-ronta.

"Lepaskan aku BERENGSEK! cepat lepaskan aku dasar BAJINGAN!"

Tetsuya kalap. Ia melemparkan serapah dengan emosi yang meluap-luap. Tetsuya sudah tidak sudi memanggil Seijuurou dengan sebutan 'ayah' lagi.

Ulah Tetsuya tentu saja semakin menyulutkan amarah Seijuurou.

"Coba katakana lagi Tetsuya!"

Didekatinya tubuh Tetsuya dengan ikat pinggang di tanganya. Matanya berkilat penuh amarah. Raut wajahnya mengeras.

Tubuh Tetsuya lagi-lagi gemetar dengan perasaan takut serta was-was. Sedikit menyesali ulahnya yang telah menyulutkan emosi Seijuurou lebih besar lagi.

'Cletakk!'

"Akhh!" Tetsuya menjerit sekuatnya.

Ia merasakan perih di perut hingga pinggangnya.

'Cletakk!'

"Akhh..! hiks…hiks—sakit…"

Tetsuya mulai terisak saat pahanya kini yang menjadi sasaran cambukan Seijuurou.

"Kau tahu apa yang harus kau lakukan, sayang!" Ujar Seijuurou santai. Wajah stoicknya kembali tenang dengan sebuah seringai dibibirnya.

'Cletakk!'

Lagi-lagi pahanya menjadi sasaran cambukan.

"Hiks… hiks… hentikan sakit sekali!"

'Cletakk!'

"Arghhhhh!"

Sudah cukup!.

Tetsuya sudah tidak sanggup lagi.

Rasanya terlalu perih.

"Ampun ayah Sei, ampuni Tetsuya hiks… Tetsuya tidak akan mengulanginya lagi. Ku mohon hentikan, ini sakit sekali hiks… hiks…"

Pada akhirnya Tetsuya merintih memohon ampun pada sang Akashi dewasa yang kini tersenyum puas. Kemudian Seijuurou melempar ikat pinggangnya ke sembarang arah. Seijuurou kembali tersenyum, senang melihat empat guratan memar hasil karyanya barusan di tubuh sang anak gadisnya.

"Tetsuya tenang saja. Ayah akan menunjukan surga dunia kepadamu," Bisik Seijuurou seduktif.

Seijuurou melepaskan ikatan dasi di tangan Tetsuya. Selanjutnya ia menggendong tubuh Tetsuya ke atas ranjang. Tetsuya tidak melawan sedikitpun. Bahkan saat Seijuurou mengikat kembali kedua tanganya di tiang kepala ranjang Tetsuya tetap pasrah. Tubuhnya terlalu lemas untuk melakukan perlawanan. Yang toh hanya akan sia-sia saja. Tangan Seijuurou mulai menelurusi lekukan tubuh Tetsuya. Luka bekas cambukannya tadi pun tak luput dari sentuhanya. Tetsuya merintih menahan perih saat tangan dingin Seijuurou menyentuh, bahkan dengan sengaja Seijuurou menekan luka di pahanya. Cukup puas menikmati ekspresi kesakitan Tetsuya. Tanganya beralih pada dua gundukan menggemaskan milik Tetsuya. Diremas-remasnya dengan gemas puting mungil nan imut milik Tetsuya.

Ukuran yang cukup pas sesuai dengan tubuh Tetsuya, batin Seijuurou.

Lidah Seijuurou pun tak mau tinggal diam. Lidahnya menelusuri lekuk wajah hingga jenjang leher Tetsuya. Menjilati dan meninggalkan jejak basah disetiap yang dilalui daging lunaknya. Kemudian melumat, menghisap, dan sesekali menggigit kulit mulus Tetsuya. Meninggalkan jejak kemerahan yang cukup banyak di area leher Tetsuya.

"Nghh…" Lenguhan lolos begitu saja dari bibir mungil Tetsuya.

Jujur saja Tetsuya mulai menikmati permainan lidah Seijuurou di atas tubuhnya.

Setelah puas menghiasi leher hingga bahu Tetsuya. Bibirnya turun menyerang puting Tetsuya yang sudah memerah karna ulah tanganya. Yang sedari tadi memainkan puting imut Tetsuya. Seijuurou menyedot dan melumat puting Tetsuya penuh nafsu secara bergantian. Layaknya bayi-besar-yang tengah kelaparan.

"Shh—ah..!" Tetsuya mendesah tidak sanggup menahan nikmat permainan lidah nakal Seijuurou.

Sensasi aneh ini membuat Tetsuya serasa seperti melayang.

"Nghh… ah-ayahh!"

Tetsuya benci ini, dimana ia tidak bisa menggontrol suara-suara aneh yang keluar begitu saja dari bibirnya.

Namun tidak bohong, jika Tetsuya mulai menikmatinya saat ayahnya menghisapi putingnya dengan penuh nafsu. Tangan Seijuurou yang menganggur, perlahan turun ke daerah kewanitaan Tetsuya. Dan lalu menggrayangi daerah lembab dan hangat itu. Seijuurou menyeringai saat menemukan gumpalan kecil yang ia cari. Tetsuya merasakan tubuhnya seperti tersengat-sengat saat Seijuurou memainkan gumpalan daging kecil miliknya itu.

"Nghhh—ahh… geli yah—shhh…"

Tubuh Tetsuya menggeliat-geliat dengan sendirinya. Rangsangan yang diberikan Seijuurou pada tubuhnya membuatnya serasa melayang-layang.

'Ini Sangat nikmat' batin Tetsuya.

"Terus sebut nama ayah anakku!" dikecupnya pipi Tetsuya.

"Bagaimana rasanya sayang, hm?"

"Shh… terus ayah Sei enak-ahh…"

Tetsuya merasa dirinya seperti mabuk, ia hampir lupa bahwa dirinya tengah di gauli ayahnya. Tetsuya sebenarnya tidak benar benar lupa. Tetapi siapa peduli saat kau merasakan sentuhan yang terasa sangat nikmat dan mampu membuatmu melayang seperti ini.

"Dengar Tetsuya sayang, Tetsuya itu milik ayah. Dan hanya ayah yang boleh menikmati tubuh Tetsuya, kau mengerti?!" bisik Seijuurou seduktif. Tetsuya hanya menganguk patuh. Walau pun sebenarnya ucapan ayahnya hanya seperti hembusan angin baginya. Pikiran Tetsuya hanya terfokus pada kenikmatan dari setiap sentuhan lihai Seijuurou. Sedangkan logikanya menguap entah kemana.

"Ayah Tetsuya mau pipis~," entah sengaja atau tidak nada suara Tetsuya terdengar manja.

"Keluarkan saja sayang!" titah Seijuurou lembut.

Sedangkan bibirnya kembali menghisap puting Tetsuya lagi.

"Tapi nanti bau."

"Tidak apa-apa, keluarkan saja," Seijuurou lalu melumat bibir Tetsuya-lagi.

"Shh—ahh!" Desah Tetsuya saat mencapai puncak kenikmatanya dan seketika itu tubuhnya pun melemas.

"Akhh—sakit ayah!" Tubuh Tetsuya tersentak saat jari telunjuk Seijuurou memasuki lubang kewanitaanya secara tiba-tiba. Mata bulat Tetsuya terbelak ketika Seijuurou mengerakan jarinya keluar-masuk dengan cepat.

"Mhh..!" Tetsuya menjerit dalam ciuman Seijuurou ketika Seijuurou menambah dua jari lagi sekaligus.

Tetsuya merintih kesakitan karena Seijuurou menggerakan jarinya dengan sangat kasar. Air mata Tetsuya kembali mengalir. Seijuurou melepaskan pagutan bibir mereka yang menyisakan jejak saliva berceceran di area pipi, bibir, hingga dagu Tetsuya. Dan tidak lupa pula mengeluarkan ketiga jarinya dari vagina Tetsuya.

Tetsuya menghela nafas lega saat Seijuurou beranjak turun dari ranjang. Ia pikir jika Seijuurou telah berhenti mempermainkan tubuhnya. Namun ia salah, kini Seijuurou telah naik kembali dengan keadan full-naked. lalu ia deduk didepan kewanitaan Tetsuya. Dan mengangkat kedua kaki Tetsuya ke atas pinggangnya. Dengan begitu kewanitaan Tetsuya terbuka lebar. Tetsuya mendelik saat kejantanan besar dan panjang ayahnya telah berdiri tegak tepat di depan kewanitaanya. Tetsuya langsung meronta-ronta lagi. Menendang dan menggulingkan tubuhnya kiri-kanan saat ayahnya menggesek-gesekan kejantananya ke area vital miliknya. Tetsuya tidak peduli lagi dengan rasa sakit bekas cambukan tadi dan perihnya pergalangan tangannya yang tengah diikat dengan kuat. Tetsuya terus berusaha melawan agar hal yang paling ia takutkan tidak terjadi. Seijuurou menahan paha Tetsuya agar tetap tebuka lebar untuk memudahkanya memasuki kejantananya ke liang sempit itu. Tubuh Tetsuya seketika menegang ketika Seijuurou mendorong batang besar milikya memasuki liang Tetsuya secara perlahan.

"Akhh! Sakit ayaahh!" Tetsuya menjerit sekuatnya saat merasakan kejantanan ayahnya telah merobek sesuatu didalam vaginanya.

"Sakit-Ah! Hentikan… HUAAAA!" Tetsuya menangis sejadi-jadinya saat Seijuurou melesakan batangnya yang besar dan panjang dalam sekali hentakan kuat.

Namun tidak semuanya bisa masuk sempurna. Umur Tetsuya memang terlalu belia untuk melakukan hal ini. Dan 'miliknya' terlalu besar dan panjang tidak sesuai dengan kapasitas liang milik Tetsuya. Yang belum mampu menampung seluruh kejantananya dengan sempurna. Seijuurou sengaja diam sejenak. Ia tengah menikmati liang sempit dan hangat milik anaknya yang sudah tidak gadis lagi. Serta menikmati sensasi memerawani anaknya sendiri. Tangisan Tetsuya yang meraung-raung justru terdengar merdu baginya. Membuat gairah birahi Seijuurou semakin terbakar.

"Huaaa… sakit ayah!. Tetsuya benci ayah! Huaaa..!"

Tetsuya menangis meraung-raung sejadinya. Hancur sudah hatinya, hancur tubuhnya, hancur masa depanya, dan hancur seluruh kehidupanya ditangan ayah angkatnya. Perasaan sakitnya saat ini tidak bisa digambarkan dengan kata kata.

Tetsuya telah hancur.

Hancur sehancur-hancurnya.

Betapa tega ayah yang ia sayangi merengut kegadisanya yang artinnya merengut kebahagiaannya juga. Kebahagiaan yang ia dapat dari orang yang sama dengan orang yang kini telah menghancurkan hidup Tetsuya juga.

Seijuurou mencabut kejantannanya dan memperhatikan darah kental yang mengalir kelaur dari vagina Tetsuya serta darah yang menempel di kejantananya. Ia tersenyum bangga. Akhirnya keinginanya tercapai juga. Manik beda warnanya beralih menatap wajah Tetsuya yang tengah menangis. Terlihat wajahya menahan sakit yang teramat sangat.

Wajah Tetsuya kembali meringis saat benda laknat ayahnya itu kembali mengoyak liangnya. Seijuurou memejamkan matanya menikmati saat kejantananya dijepit lubang ketat dan hangat milik Tetsuya. Seijuurou mulai menggerakan batang kemaluanya keluar-masuk dengan cepat dan bertenaga.

"Tubuhmu sangat nikmat sayang shh…" racau Seijuurou.

"Nghh.. Sa-sakit-ahh… Hentikan-Ahh!" Tubuh Tetsuya tersentak-sentak naik-turun mengikuti gerakan Seijuurou.

'plakk!'

Seijuurou menampar pipi mulus Tetsuya.

"Panggil nama ayah, Tetsuya!" Perintah Seijuurou mutlak.

Kedua tangan Seijuurou bertumpu disisi kepala Tetsuya agar anaknya itu hanya melihat kearahnya.

Tidak sudi.

Tetsuya sudah tidak sudi memanggil bajingan itu dengan sebutan ayah lagi.

Merasa anaknya itu tidak mau menurutinya. Seijuurou lalu menjambak surai baby-blue itu dengan kuat.

"Akhh!" Tetsuya kembali menjerit disela tangisanya.

Sedangkan tusukan penis Seijuurou didalam tubuh Tetsuya semakin brutal.

"Ayah tidak akan mau melepaskanmu sampai kau menurut, Tetsuya!" Mata Seijuurou berkilat tajam.

Namun Tetsuya tetap keras kepala. Ia enggan menuruti perintah ayahnya. Bahkan ia mengunci bibirnya rapat-rapat dengan menggigit bibir bawahnya. Supaya bibirnya tidak mengeluarkan suara desahan lagi.

Seijuurou semakin geram.

"Arghh!" Tetsuya memekik keras ketika si Akashi dewasa itu menggigit putingnya dengan cukup kuat.

"Akhh—ampun ayah, ampun!" pada akhirnya Tetsuya terpaksa menyerah.

"Bagus seperti itu sayang shh…Ah!" Wajah Seijuurou menampilkan seringai mautnya.

"Hiks…sakit ayah. Sudah cukup hikss…"

Seijuurou tidak peduli dengan rintihan Tetsuya. Ia terus mengerakan miliknya. Menusuk-nusuk liang Tetsuya dengan cepat dan kuat.

"Shhh—Tetsuyahhh!" Desah Seijuurou saat cairan semennya tumpah di dalam tubuh Tetsuya.

"Jangan! Jangan disitu KYAA!" Tubuh Tetsuya melemas saat cairan semen ayahnya telah berenang didalam rahimnya-hal yang paling Tetsuya takuti.

Tampaknya Seijuurou masih belum puas menyetubuhi anaknya yang manis ini, ia masih ingin 'melakukanya' lagi.

Seijuurou menyapukan ujung penisnya ke bibir Tetsuya. Ketika sisa cairan putih kental bercampur dengan darah itu menempel ke indra perasanya, Tetsuya nyaris muntah.

Seijuurou kembali melumat bibir Tetsuya dengan penuh nafsu sembari melepaskan ikatan dasi pada tangan Tetsuya. Seijuurou yakin kalau anaknya itu tidak akan mampu memberi perlawanan lagi.

Benar saja saat Seijuurou kembali memasukan kejantanannya ke dalam liang Tetsuya lagi, Tetsuya hanya meringis pasrah. Tubuh Tetsuya diangkat dan di dudukan di atas pangkuan ayahnya. Sedangkan posisi itu sama sekali tidak menguntungkan bagi Tetsuya. Kejantanan Seijuurou yang tertancap di dalam tubuh Tetsuya, layaknya tombak yang menusuknya hingga ia merasakan nyeri yang luar biasa. Seijuurou menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Dan menggerakan pinggulnya. Tanganya meremas bongkahan kenyal bokong Tetsuya dengan gemas. Seijuurou melumat lagi bibir manis anaknya.

"Mmmh—mhh…" Lenguhan Tetsuya teredam dalam ciuman panas yang dimotori Seijuurou. Tubuh Tetsuya tergoncang naik-turun. Seijuurou memompa tubuh Tetsuya dengan tempo yang cepat dan bertenaga. Tidak ada kelembutan dalam persetubuhan ini.

Jangan pikir Tetsuya menikmatinya. Tetsuya sama sekali tidak merasakan kenikmatan sedikitpun, selain rasa sakit dan perih di tubuh bagian bawahnya. Ditambah lagi dengan luka memar cambukan tadi yang semakin terasa sakit saat tubuhnya terus bergerak-gerak. Diperparah tusukan kejantanan Seijuurou didalam tubuhnya yang semakin cepat.

"Ayah ampun-nhh… Tetsuya sudah tidak kuathh!" Tetsuya berusaha memohon pada ayahnya.

Tentu saja ayahnya mengacuhkanya. Ayahnya sedang kesetanan sekarang, menikmati tubuh Tetsuya yang memabukan baginya.

Keadaan Tetsuya sudah sangat mengenaskan. Rambut baby-blue sebahunya yang lurus, kini terlihat sangat kusut dan acak-acakkan. Sorot matanya terlihat layu. Bercak saliva dan air mata berceceran diseluruh wajahnya yang memerah. Keadaan Tetsuya tampak semakin menyedihkan. Tapi menggairahkan bagi Seijuurou.

Seijuurou terus menggerakan 'miliknya' di dalam tubuh Tetsuya. Meskipun Tetsuya terus merintih kesakitan dan memohon pada ayahnya itu untuk berhenti. Tusukan kejantanan Seijuurou semakin lama semakin mengila. Tubuh Tetsuya terlonjak hebat, mengikuti sodokan kejantanan Seijuurou. Padahal tubuh Tetsuya sudah sangat lemas. Hingga Tetsuya perlahan menjauh dari kesadaranya. Dan akhirnya Tetsuya pingsan dalam kungkungan Seijuurou.

Sedangkan Seijuurou tidak perduli jika anaknya sudah pingsan. Seijuurou masih terus menggauli tubuh anaknya yang sudah tak berdaya itu. Entah sampai berapa kali Seijuurou klimaks. Bahkan Seijuurou tidak sadar jika malam telah tiba. Hingga akhirnya Seijuurou kelelahan sendiri.

TBC

Le SeiKa notes:

Akhirnya chap 2 selsai juga fyuuhhh….*lapkeringet

Dan Seika baru sadar jika diriku ternyata sangat maso*glundungan.

Seika mau curhat tentang ilham fic ini yang bermula dari temen aku yang ngasih fanart Phedo-Aka dan Chibi-Kuro R-18. Tapi sayangnya pictnya keformat sama fileku yang lain. Sedihlah pokoknya kalo di ceritain*eh?

Seika minta bantuanya melalui kritik dan saran kalian di kotak review dibawah ini. Saya terima semua jenis krisar kalian mau pedes, asam, asin, pait, atau manis dengan lapang dada. Apa lagi yang mau ngasih krisar tentang EYD, gaya bahasa, dan sejenisnya. Bininya Akashi ini masih newbie soalnya*puppyeyes*reader gumoh*

See u next time. Staytoon with me ^.^/