Pandora Hearts ©Jun Mochizuki
This fic © Aoife the Shadow
.
Warning: AU, OOC, typos, etc.
Enjoy
.
.
Chapter 2: Day 1
Perjuangan mendapatkan izin orang tua:
.
Alice dan Alyss
"Ma, kita boleh ikutan kemah, gak?" pinta Alyss pada waktu makan malam.
"Kapan?" tanya ibu Alice dan Alyss.
"Hari Jumat besok. Boleh ya, ma?" Alice merengek-rengek.
"Boleh lah, masa gak boleh? Mana formulirnya?"
Alice dan Alyss melakukan tos di bawah meja. Inilah gunanya punya orangtua mantan anggota pramuka.
.
Elliot dan Vanessa
"Bu, minggu depan boleh ikut perjusami, gak?" Vanessa meminta izin.
"Gak bayar, kan?"
"Gak kok bu. Biayanya ditanggung sekolah." kata Elliot.
"Asal gratis, kalian boleh ikut." kata ibu mereka.
Dasar orangtua matre.
.
Gil dan Vincent
"Pa, kita boleh ikut kemah, kan?" tanya Gil dengan puppy eyes.
"Gak boleh…" kata ayah mereka singkat sambil terus membaca koran.
"Pa, kalo gak boleh, ntar Vincent tusuk pake gunting, lho!" kata Vincent dengan senyuman manis tapi sadis miliknya.
Glek
"Bo…boleh…"
Orangtua sieun budak.
.
Oz dan Ada
"Woi, ortu kita kan gak ada? Gimana nih?" tanya Oz bingung.
"Apa kita palsuin aja, ya?"
"Tapi kan kata kak Glen gak boleh malsuin." Ada berusaha mencegah niat nista kakaknya.
"Kita minta tanda tangan Paman Oscar aja!" saran Ada
"Ide bagus!"
.
Jumat, hari H, 11:00 a.m.
Seluruh anggota pramuka Latowidge Junior High School sudah siap berangkat di lapangan. Tenda, tongkat dan barang-barang berat lainnya telah dimasukkan ke dalam sebuah mobil angkutan kota bercat hijau yang lazim disebut angkot. Yang dibawa oleh anak-anak hanya sebuah ransel kecil. Semua anak sudah memakai baju pramuka dari rumah.
"Semua barang sudah siap?"
"Siap!"
"Oke, semua masuk ke angkot. Angkot putra yang itu, putri yang ini!" perintah kak Glen.
"Oz!" panggil kak Jack kepada Oz yang baru saja mau naik angkot.
"Kenapa, kak?" tanya Oz.
"Kamu perginya bareng angkot barang, ya? Nih petanya!" kak Jack memerintahkan Oz dengan seenaknya.
"Yaelah, kak! Kenapa gak kakak sendiri aja? Nanti kalo nyasar gimana?" batin Oz. Tapi dia menuruti perintah kakaknya itu daripada kena marah. Kalo marah, kak Jack bisa jadi seseram kak Glen.
"Berangkat!"
.
"Gile, jalannya muter-muter!" pekik Lotti seperti anak kecil. Sementara anggota putri lain melihat kelakuan Lotti sambil ber-sweatdrop ria.
"Lotti, jangan kayak anak kecil, ah!" kata Echo.
"Tapi bener, jalannya muter-muter kan?" bela lotti.
"Iya juga sih…" gumam Echo.
"Angkot Oz mana, ya?" gumam Alice sambil memperhatikan jalan di belakang mereka. Angkot putra berada di depan mereka, jadi otomatis angkot barang seharusnya berada di belakang mereka.
"Ciee, Alice nyariin pacarnya nih!" ledek Alyss.
"Shut up you!" Alice mulai emosi.
"Mual…" kata Lily pelan sambil memegang perutnya. Wajahnya terlihat pucat pasi. Maklum, jalan yang mereka lalui berliku-liku, nanjak, dan rusak di sana-sini.
"Pa sopir, berapa lama lagi kita nyampe?" tanya Vanessa.
"Setengah jam lagi, de. Sabar, ya!" jawab sopir mereka.
"Mau muntah…" Lily semakin pucat ketika mendengar jawaban pa sopir.
"Woi, ada yang punya minyak kayu putih, gak?" tanya Ada yang prihatin melihat keadaan Lily.
"Nih!" Sharon mengulurkan minyak kayu putih miliknya.
"Trims…" kata Lily lemas. Dia membuka tutup botol minyak kayu putih dan menghirupnya.
"Gimana nasib yang putra, ya?" gumam Alyss ketika dia melihat keadaan teman-teman seregunya itu.
"Jauh lebih ancur." timpal Vanessa.
"Woi, daripada ribut sendiri, mending kita ngegosip, yuk!" ajak Sharon. "Aku punya berita terbaru, lho!"
"Wow, berita apa?" tanya semuanya bersemangat. Bakhkan Lily langsung sembuh dari mabuknya ketika mendengar kata-kata Sharon.
"Gini lho, tau kan si A udah jadian sama si B?" Sharon, sang ratu gosip, mulai membuka topik.
"Si B yang ketua OSIS?" tanya Ada tidak percaya.
"Yaiyalah, yang mana lagi?" jawab Vanessa tidak sabar. "Terus, terus?"
"Nah, gini lho. Jadi si A itu…."
Dan siksaan perjalanan pun terlupakan karena gosip-gosipan ter-hot saat ini.
.
.
12.00 p.m.
Akhirnya, setelah setengah jam bergosip ria, mereka semua sampai di lokasi perkemahan.
"Anak-anak, kitab sudah sampai!" kata pak sopir.
"ASYIK!" sorak semua orang. Mereka berdelapan pun berdesak-desakan ingin segera keluar dari angkot itu. Bisa dibayangkan bagaimana kacaunya suasana saat itu.
"Wow!" pekik Sharon ketika akhirnya dia keluar dari angkot penuh sesak itu.
Mereka semua berada di atas sebuah bukit. Banyak pohon yang tertanam di situ. Di antara pepohonan, terdapat beberapa pondok kecil yang tertata rapi. Bukit itu terbagi dalam beberapa undakan. Setiap undakan dihubungkan oleh tangga.
"Kita mau kemah atau mau nginep, nih?" tanya Ada bingung.
"Moga aja nginep!" kata Vanessa penuh harap.
"Sebenernya niat gak sih jadi pramuka?" tanya Alyss.
"Woi, putri, putra! Kumpul di sini!" teriak kak Glen dari sebuah pondok. Mereka semua, termasuk yang putra, segera berlari menuju tempat kak Glen berada.
"Baris dua banjar!" perintah kak Glen. Mereka semua segera melakukan perintah pembina mereka. Regu Mawar segera berbaris rapi dengan Alyss di barisan paling depan dan Sharon selaku wakil ketua regu di belakang. Sementara regu Kelinci…
"Woi, Reo! Jangan baris di belakang! Baris di depan!" teriak Fang kepada Reo yang menjabat sebagai wakil ketua regu. Reo yang sudah berdiri manis di barisan belakang terpaksa pindah ke barisan paling depan.
"Oz belum datang?" tanya kak Glen.
"Belum, kak!" jawab semua anak serempak.
"Jangan-jangan nyasar lagi? Kamu!" kak Glen menunjuk Break, "Telpon Oz!"
"Siap, kak!" Break merogoh saku celana pramukanya, kemudian mengeluarkan HP-nya. Setelah mencari-cari di daftar kontak miliknya, Break akhirnya menekan nomor Oz.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif." suara operator terdengar dari HP Break yang sengaja di -loud speaker.
"Ga aktif, kak!" Break melaporkan.
"Kakak kan memang hobi gonta-ganti nomor. Biar saya yang menelpon, kak!" Ada mengeluarkan HP miliknya. Dia langsung menekan tombol 3 untuk speed dial.
"Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi." suara operator juga terdengar dari HP Ada.
"Jack, coba cari angkot barang itu! Kayaknya mereka nyasar." kali ini kak Glen menyuruh rekannya yang sedang duduk-duduk santai di atas motornya. Kak Jack memang sengaja membawa motor.
"Siap, bos!" kak Jack langsung menjalankan motornya untuk mencari angkot nyasar itu.
"Berarti, barang-barang kita juga nyasar, dong?" tanya Doug.
"Untung kita bawa makan siang. Kalo engga, gak kebayang deh." Kata Alyss.
"Ya sudah, kalian boleh istirahat dulu. Makan bekal kalian, setelah itu kalian boleh keliling-keliling."
"Siap, kak!"
.
01.00 p.m.
Akhirnya setelah menunggu kira-kira satu jam, angkot barang yang ditunggu-tunggu datang. Mereka segera mengerubungi angkot itu. Pintu depan bagian kiri terbuka dan Oz meloncat keluar.
"Nyasar ke mana, Oz?" tanya Elliot penasaran.
"Gak tau. Salahin kak Jack karena ngasih peta gak jelas kayak gini!" Oz mengacungkan peta yang tadi di berikan kak Jack kepadanya.
Gil mengambil peta itu dari tangan Oz. "Ini mah pramuka bener aja gak bisa baca!" katanya sambil ber-sweatdrop ria karena peta yang diberikan kak Jack seperti gambaran anak kecil.
"Anak-anak, jangan cuma ngobrol aja! Cepet turunin barang-barang kalian! Lihat, yang putri sudah mulai menurunkan barang-barang mereka!" kak Glen berteriak sambil menunjuk anggota regu mawar yang sedang menurunkan barang-barang mereka.
"Siap, kak!"
Setelah sekitar lima menit menurunkan barang-barang mereka, mereka kembali berbaris rapi. Kak Glen memberikan instruksi di depan mereka.
"Sekarang kalian dirikan tenda masing-masing. Tenda regu putri di sana, tenda regu putra di sana!" Kak Glen menunjuk sebuah tempat untuk regu putri yang berada di undakan di bawah villa. Dua undakan di bawah tenda regu putri adalah tempat regu putra akan mendirikan tenda mereka.
"Setelah itu, kita akan mengadakan upacara pembukaan. Regu Kelinci, kalian akan menjadi petugas. Silahkan tentukan siapa yang akan menjadi pemimpin upacara dan pembaca dasa darma. Waktu kalian satu jam untuk mendirikan dan merapihkan tenda. Balik kanan bubar, jalan!"
Setelah menghormat dan bubar, semua orang pergi mengambil tenda regu masing-masing beserta pasak, tiang, tali dan peralatan lainnya untuk mendirikan tenda. Kemudian mereka mulai memasang tenda di tempat yang telah ditentukan.
"Ada, tolong tegakin tiangnya!"
"Udah ditegakin dari tadi, Alyss!"
"Vincent, talinya dipasang ke pasak, bukan di gunting!"
"Oh, dipasang toh?" Sebuah jitakan indah dari sang kakak pun mendarat di kepala Vincent.
"Pasaknya mana lagi?"
"Nih!"
"Garamnya tebarin di sekeliling tenda!" perintah Alyss setelah tenda regu mereka berdiri.
"Bentar, garamnya lagi di cari!" Lotti mengacak-acak perlengkapan regu mereka untuk mencari garam.
"Perwakilan masing-masing regu, menghadap saya sekarang juga!" kak Glen berteriak memberi perintah ketika mereka sedang sibuk-sibuknya. Sharon dan Gil segera dikirim untuk menghadap kak Glen.
"Beres!" pekik Lily setelah dia selesai menaburkan garam di sekeliling tenda mereka.
"Sekarang, ayo masukin barang!" kata Vanessa.
"Echo, kamu tidur di pinggir deket pintu, ya?" Alice memerintahkan Echo dengan seenaknya. "Ntar aku tidur di sebelah kamu!"
"I…iya deh…" kata Echo pasrah.
"Tuhan, selamatkan aku nanti malam!" doa Echo dalam hati. Bagaimana tidak,tempat di sebelah pintu tenda adalah tempat tidur yang paling tidak mengenakkan, karena tempat itu adalah tempat paling dingin dan paling berpotensi terkena serangan binatang yang tidak diinginkan. Di tambah Alice yang tidurnya terkenal lasak berada di sampingnya.
"Echo, Lily, tolong buat kaki tiga untuk lampu badai, ya?" pinta Alyss. Mereka berdua mengangguk dan keluar untuk membuat kaki tiga.
"Yang putra sudah selesai, ya?" gumam Lily ketika dia melihat perkembangan tenda milik putra.
"Kayaknya sih udah." Echo berhenti sejenak dari kegiatannya dan memandang ke arah tenda putra.
"Beres!" kata Lily setelah mereka menyelesaikan kaki tiga mereka. Echo segera membuat simpul rantai dari tali yang tersisa untuk menggantung lampu.
"Ke dalam, yuk?" ajak Echo. Lily mengangguk dan mereka berdua kembali masuk ke dalam tenda.
Rupanya selagi mereka berdua sedang membuat kaki tiga, yang lain sudah merapihkan tenda. Barang-barang milik mereka semua dikumpulkan di ujung lain tenda. Sementara matras-matras sudah digelar. Sleeping bag milik mereka semua juga sudah disusun sesuai dengan tempat mereka akan tidur.
"Kalian kerjanya cepet juga, ya?" puji Lily.
"Siapa dulu dong, pinru-nya!" kata Alyss narsis.
"Woi, bukain pintunya dong!" terdengar suara Sharon dari luar. Vanessa yang kebetulan berada di dekat pintu segera membuka pintu tenda mereka. Sharon masuk dan menjatuhkan barang-barang yang dibawanya.
"Apa tuh?" tanya Lotti.
"Kaos kegiatan. Namanya udah dibordir, jadi gak bisa dituker." jelas Sharon.
Mereka semua segera berkerumun di sekitar Sharon sementara dia membagikan kaos-kaos itu ke teman seregunya. Setelah kaos-kaos itu selesai dibagikan, muncullah protes-protes dari mereka.
"Masa aku dapet yang ukuran M? Mana muat?" Lily marah-marah ketika melihat ukuran kaosnya.
"Aku, dapet yang M?" kata Lotti tidak percaya. Seharusnya dia dappat ukuran L.
"Kalo mau protes, protes ke kak Miranda, sana!" kata Sharon. Kak Miranda adalah pembina putri di sekolah mereka. Karena ada rapat di kwarcabkota mereka, kak Miranda dan kak Reim, salah satu pembina mereka juga, baru bisa datang besok.
"Syukurlah, cukup!" kata Ada.
"Semua, siap-siap! Upacara pembukaan akan segera dimulai!" suara kak Jack terdengar.
"Ayo semuanya, siap-siap!" kata Alyss.
*Mari kita skip upacara pembukaannya*
15.00 p.m. Materi pertama: Kolonel Tongkat
"Hadap serong kanan, grak!" komando kak Glen.
"Satu…dua…tiga…empat!" kak Jack memberikan aba-aba komando agar mereka semua kompak.
"Braaakkk" suara ujung tongkat pramuka yang menghantam rumput terdengar ketika kak Jack mengatakan "Empat".
"Balik kanan, grak! Satu…dua…tiga…empat!". "Braaaak" seluruhnya melakukan komando itu dengan kompak.
"Hadap serong kiri, grak!" kali ini kak Glen tidak memberikan aba-aba.
"Vincent, kecepetan! Ada, terlalu lambat!" kak Jack memberi peringatan kepada mereka yang terlalu cepat atau lambat.
"Jalan di tempat, grak!" kak Glen kembali memberi komando.
"Kiri…kiri…kiri kanan kiri…kiri"
"Langkah tegap maju, jalan!" komando kak Glen lagi. Seluruhnya segera melangkah dengan kaki dihentakkan.
"Berhenti, grak! Echo, terlalu cepat!"
"Rencang depan, grak!" kali ini kak Jack yang memberi perintah. "Satu..dua…tiga…empat…lima! Oke! Tegak, grak!"
"Istirahat di tempat, grak! Satu…dua!" kak Glen kembali mengambil alih.
"Hormat, grak!" kak Jack untuk menguji konsentrasi anak-anak. Sebagian besar dari mereka berhasil menghindar dari jebakan kak Jack. Tapi Sharon, Alice, Fang, Elliot dan Gil termakan jebakan itu.
"Siap, ulangi!" mereka semua kecuali lima orang yang tadi disebutkan berubah posisi menjadi siap dan kembali istirahat. Sementara Sharon, Alice, Fang, Elliot dan Gil sudah melakukan gerakan hormat.
"Yang salah, bending tiga kali!" mereka berlima akhirnya melakukan bending dengan pasrah.
"Siap, grak! Hadap kanan, grak! Maju, jalan! Haluan kiri, grak!" kedua pembina mereka terus mengeluarkan rentetan komando.
"Kakak, kita bukan paskibra!" pekik beberapa orang dalam hati mereka.
"Istirahat merdeka, laksanakan!" akhirnya setelah sekitar setengah jam melakukan baris-berbaris tanpa henti, kak Glen memberikan komando istirahat merdeka.
"Siap, terima kasih!" mereka semua langsung duduk dan menumpukan tongkat mereka di bahu kanan.
"Baik, anak-anak. Materi kolonel tongkat cukup sampai di sini. Kemampuan PBB kalian sudah meningkat, kakak harap kalian bisa mempertahankan pencapaian kalian. Pertahankan gelar kolonel tongkat terbaik yang dimenangkan oleh kakak-kakak kelas kalian!" kak Glen memberikan ceramah singkat.
"Setelah ini kalian boleh beristirahat. Kalau ada yang mau mengisi SKU, kakak ada di Villa. Jangan lupa kalian masak untuk makan malam. Materi organisasi akan diberikan oleh kepala sekolah pada pukul tujuh nanti. Istirahat merdeka, selesai!"
"Siap, terimakasih!" kedua regu segera berdiri kembali.
"Tanpa penghormatan, balik kanan bubar, jalan!"
.
16.00 – 19.00 p.m. Istirahat dan Pengisian SKU
"Lily, mandi yuk!" ajak Lotti.
"Kakak duluan aja! Lily mau ngisi SKU dulu." Lily meninggalkan tenda untuk menuju villa.
"Rajin amat tuh anak…" gumam Lotti.
"Lotti, mau mandi?" tanya Echo. Lotti mengangguk.
"Tumben Echo gak ngisi SKU? Biasanya yang paling rajin ngisi SKU kan Echo?" tanya Lotti bingung.
"Udah gak ada yang bisa diisi lagi. Yuk, nanti keburu antri sama yang putra!" Echo menarik Lotti menuju kamar mandi yang berada di villa. Kamar mandi di situ hanya ada dua, jadi kalau mau mandi harus cepat-cepat.
"Itu anak dewa amat?" kata Alyss yang kebetulan mendengarkan percakapan Lotti dengan Echo.
"Vanessa, Sharon, tunggu! Aku juga mau ngisi SKU!" Ada mengejar Vanessa dan Sharon yang sudah pergi duluan.
"Alice, mau ngisi SKU apa mandi?" tanya Alyss.
"Kalo ngisi SKU sekarang pasti lama. Mending mandi dulu, deh." Jawab Alice.
"Bareng yuk?"
"Hayu!"
.
Pengisi SKU: Lily
Penguji: kak Glen
"Jadi, tolong jelaskan kenapa siluet tunas kelapa dijadikan lambang untuk Pramuka Indonesia?" tanya kak Glen.
"Karena tunas kelapa itu bermanfaat, mulai dari batoknya, sabutnya, hingga daunnya, seperti pramuka yang bermanfaat bagi Indonesia. Selain itu, tunas kelapa juga bisa tumbuh di mana saja, seperti pramuka yang bisa beradaptasi di manapun mereka berada." jawab Lily mantap.
"Selain itu?" tanya kak Glen lagi.
"Akar tunas kelapa itu kuat, ini berarti kalau pramuka berpegang kepada dasar-dasar yang kuat."
"Kalau tunas kelapa yang tumbuh menjulang tinggi itu melambangkan apa?" tanya kak Glen tajam.
"Errrr… itu karena…" Lily kebingungan menjawabnya. Kak Glen mengembalikan SKU milik Lily.
"Coba lagi lain kali." katanya datar.
Gatot alias gagal total.
Pengisi SKU: Oz
Penguji: Kak Jack
"Jadi Oz, kau pernah berkemah lebih dari lima hari?" tanya kak Jack untuk memastikan.
"Pernah kak. Bukannya pas jamcab kita kemah tujuh hari?" Oz mengingatkan.
"Oke." tanpa ragu lagi kak Jack menanda tangani poin berkemah di SKU milik Oz. "Mana lagi yang mau ditanda tangan?"
Pengisi SKU: Break
Penguji: Kak Glen
"Beneran kamu punya tabungan, Break?" tanya kak Glen tidak percaya.
"Iya, kak. Ini buku tabungannya!" Break mengeluarkan buku tabungannya. Glen mengecek buku tabungan itu.
"Oke." Glen menandatangani SKU milik Break.
.
.
19.30 p.m. Materi kedua: Keorganisasian
"Jadi, organisasi itu diperlukan karena…." Kepala sekolah masih meneruskan ocehannya sementara kepala anak-anak sudah terangguk-angguk karena mengantuk.
Akhirnya, karena bosan dan mereka dilarang ngobrol, Vincent iseng mengeluarkan HP miliknya. Setelah membuka sebuah aplikasi internet, Vincent mengetik sebuah alamat jejaring sosial yang sedang digandrungi kaum muda, Twitter!
.
.
VincentTheReaper
Hoammm, ngantuk nih, ceramahnya kepanjangan.
OzuVGanteng
RT VincentTheReaper Hoammm, ngantuk nih, ceramahnya kepanjangan.
GilCatHater
RT VincentTheReaper Hoammm, ngantuk nih, ceramahnya kepanjangan.
dgbskrvll
RT VincentTheReaper Hoammm, ngantuk nih, ceramahnya kepanjangan.
ElliCatLover
RT VincentTheReaper Hoammm, ngantuk nih, ceramahnya kepanjangan.
BreakCandyAddict
RT VincentTheReaper Hoammm, ngantuk nih, ceramahnya kepanjangan.
VincentTheReaper
OzuVGanteng GilCatHater dgbskrvll ElliCatLover BreakCandyAddict eh pada parah ya main twitter -_-
dgbskrvll
Siapa duluan yang main, heh? RT VincentTheReaper : OzuVGanteng GilCatHater dgbskrvll ElliCatLover BreakCandyAddict eh pada parah ya main twitter -_-
OzuVGanteng
ElliCatLover kapan mau nembak Ada? Dia udah putus, lho!
GilCatHater
Iya, ntar keburu di ambil orang lho. RT OzuVGanteng: ElliCatLover kapan mau nembak Ada? Dia udah putus, lho!
ElliCatLover
OzuVGanteng GilCatHater shut up! Siapa lagi yang suka sama cat lover itu?
BreakCandyAddict
Lu sendiri cat lover RT ElliCatLover: OzuVGanteng GilCatHater shut up! Siapa lagi yang suka sama cat lover itu?
dgbskrvll
RT BreakCandyAddict Lu sendiri cat lover RT ElliCatLover: OzuVGanteng GilCatHater shut up! Siapa lagi yang suka sama cat lover itu?
VincentTheReaper
RT BreakCandyAddict Lu sendiri cat lover RT ElliCatLover: OzuVGanteng GilCatHater shut up! Siapa lagi yang suka sama cat lover itu?
ElliCatLover
Bukan gue yang ngasih nama! RT BreakCandyAddict Lu sendiri cat lover RT ElliCatLover: OzuVGanteng GilCatHater shut up! Siapa lagi yang suka sama cat lover itu?
Glen88
VincentTheReaper BreakCandyAddict ElliCatLover GilCatHater dgbskrvll OzuVGanteng Eh, bukannya ngedengerin malah pada twitteran! Selesai materi, jangan keluar dulu!
.
Elliot, Oz, Doug, Vincent, Gil dan Break menatap terpaku mention yang ditujukan kepada mereka. Kemudian mereka menatap kak Glen yang juga sedang memegang HP di depan mereka. Kak Glen tampak sedang men-death glare mereka berenam. Pikiran mereka berenam sama, "Sejak kapan kak Glen nge-follow kita?"
Die us
.
21.00 p.m. Waktu tidur
"Jadi, sejak saat itu, anak perempuan itu terus menghantui jalan kecil itu. Banyak yang bilang kalau mereka pernah melihat hantu anak perempuan ketika mereka melintas di jalan itu pada malam hari." Kata Lotti dengan suara seram. Senter disorotkan dari bawah wajahnya, menambah seram suasana.
"Hiiiiii" pekik anggota regu Mawar yang lain.
"Udah ah, jangan cerita hantu lagi!" kata Sharon sambil gemetar ketakutan di bawah sleeping bag-nya. Tapi semuanya mengabaikan permintaan Sharon.
"Ada yang punya cerita serem lagi?" tanya Lotti.
"Aku punya!" Alyss mengacungkan tangannya. "Lotti, pinjam senternya!" Lotti menyerahkan senter miliknya.
"Ini kisah nyata, lho! Dulu, ada tiga orang remaja yang ingin menginap di puncak. Karena pada saat itu sedang liburan tahun baru, jadi villa-villa yang biasanya disewakan sudah penuh semua. Akhirnya, mereka menemukan sebuah villa yang kosong. Ketika mencari pemilik villa itu, mereka malah bertemu seorang kakek-kakek tua…" Alyss mulai bercerita.
"Gak denger, gak denger!" Sharon menutup telinganya dengan kedua telapak tangannya.
"Lanjut, Lyss!" kata Ada bersemangat. Dia memang paling semangat ketika mendengar cerita hantu.
"Nah, ternyata kakek itu adalah pemilik villa itu. Akhirnya, mereka menyewa villa itu, tapi kakek itu bilang agar mereka membayarnya nanti ketika mereka akan pulang. Awalnya, mereka menikmati villa itu. Kemudian, pada malam hari, mereka membakar jagung dan bermain gitar di halaman belakang."
"Tiba-tiba, salah seorang dari mereka melihat seseorang berdiri di bawah lampu taman. Dia berteriak dan ketika yang lain melihat, ternyata orang itu adalah perempuan berambut hitam panjang yang menutupi wajahnya dan memakai baju putih panjang. Mereka semua menjerit dan berlari ketakutan ke dalam villa."
Semuanya terdiam mendengar cerita Alyss. Bahkan, Sharon juga ikut mendengarkan.
"Kejadian itu terulang setiap malam. Bahkan, ketika mereka tidur, sering terdengar suara-suara aneh. Pada malam ketiga, salah satu dari mereka ingin pergi ke kamar kecil. Dia pergi sendiri. Ketika di sedang berada di dalam kamar kecil, tiba-tiba lampu kamar kecil mati dan pintunya terkunci dari luar. Dia berteriak-teriak memanggil temannya. Tiba-tiba, ada sesuatu yang jatuh di atas kepalanya. Dia kembali berteriak. Teriakannya membangunkan teman-temannya, dan akhirnya mereka berhasil mengeluarkannya dari kamar mandi."
"Pada pagi harinya, mereka memutuskan untuk pergi dari villa itu dan mencari villa lain. Mereka menemukan villa lain dan menginap di sana selama beberapa hari. Pada akhir minggu, mereka kembali ke villa tersebut karena mereka belum membayar. Tapi, apa yang mereka temukan?"
Semuanya menyimak dengan seksama, menebak-nebak apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Villa itu hilang! Sama sekali tidak ada tanda-tanda pernah berdiri sebuah villa di situ, yang ada hanya sebuah bangunan tua! Dan di dalam bangunan tua itu, terdapat beberapa makam belanda!"
Semuanya terpaku, rasa takut mulai merayapi hati mereka. Alyss mematikan senternya, sehingga tenda hanya diterangi oleh sinar lampu gantung kecil yang digantung di tiang tenda.
"BAAAAAAAAAA" tiba-tiba jendela tenda yang tadinya tertutup dibuka dan sinar senter disorotkan ke dalam.
"KYAAAAA!" seluruh anggota regu Mawar berteriak ketakutan dan berlindung di bawah selimut atau sleeping bag mereka.
"Hahaha, anak putri penakut!" terdengar suara tawa puas dari luar.
"REO! FANG!" ketakutan mereka berganti menjadi kemarahan ketika mereka menyadari siapa yang menjahili mereka. Rupanya Reo dan Fang, anggota regu Kelinci yang berhasil lolos dari hukuman kak Glen, yang menjahili mereka.
"Bweee!" Reo menjulurkan lidahnya kepada mereka selagi dia dan Fang berlari ke tenda mereka. Tak ayal lagi, mereka berdua menjadi target kejar-kejaran seluruh anggota regu Mawar.
"Anak-anak! TIDUR!" kak Glen berteriak dengan marah dari arah villa.
"I…iya, kak!"
TBC
A/N:
Maaf karena telat update! Aoife bingung mau nulis apa di chapter ini! Maaf juga kalau ceritanya lebih terpusat kepada regu putrid. Soalnya Aooife gak tau apa yang terjadi di regu putra..
Yo, sebagian dari cerita di atas ditulis berdasarkan pengalaman Aoife ketika kemah. Misalnya angkot nyasar, dijahilin oleh anak putra, sama pengisian SKU. Dan kalau masih pada bingung sama setting tempatnya, anggap aja tempat kemah mereka kayak sawah-sawah yang ada di pegunungan, kan banyak undakannya. Tapi, padinya diganti sama rumput. Villa ada di undakan pertama, tenda putri ada di undakan kedua, undakan ketiga dipakai buat upacara, terus undakan keempat untuk tenda putra.
Next chapter key word: jalan-jalan, semaphor, outbond!
Jangan lupa yang baik hati, RnR ya!
See ya!
